14 September 2015

Pendidikan dan Pembentukan Karakter Anak Didik

Tujuan pendidikan tidak semata-mata berurusan bagaimana meningkatkan kualitas kecerdasan anak didik, mampu menjawab soal-soal ujian nasional atau ahli di setiap mata pelajaran sekolah. Melalui pendidikan pula, kita perlu melahirkan generasi yang memiliki karakter, kepribadian dan sikap mental yang kuat. Singkatnya, pembentukan akhlak peserta didik juga tak kalah pentingnya dibanding menghasilkan generasi cerdas dan berkualitas.

Ke depan, pemerintah dan guru tak hanya menuntut peserta didik untuk menjadi anak cerdas, meraih rangking satu serta mampu menjawab soal ujian dengan benar. Pemerintah dan guru juga tak membebani siswa untuk semata giat belajar agar memperoleh hasil Ujian Nasional tertinggi. Sudah saatnya kita memikirkan pendidikan karakter dan akhlak anak-anak. Sebab, anak yang cerdas dan pintar belum tentu punya karakter dan kepribadian yang baik. Anak yang cerdas dan pintar belum tentu punya akhlak mulia. Mereka perlu dididik dan dibentuk sejak kecil, melalui pendidikan karakter dan juga dengan kearifan lokal. Dengan demikian, kita boleh berbangga jika kelak mampu melahirkan generasi hebat!

Pendidikan karakter
Bicara pendidikan karakter, saya pikir, perlu dimulai sejak pendidikan usia dini. Usia antara 4-6 tahun adalah masa-masa ketika mereka mulai belajar apapun dari lingkungan atau apa yang dilihatnya. Di usia tersebut, mereka dapat diarahkan untuk menjadi dan belajar apa saja. Keberadaan orang tua dan pendidik, sangat membantu mereka dalam hal pembentukan karakter dan mental.

Hal inilah menjadi dasar kenapa pemerintah dan lembaga penyelenggara pendidikan mulai menganggap penting Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan pendidikan Tingkat Kanak-kanak (TK). Anak-anak perlu pemandu dan sosok panutan. Tak dapat kita bayangkan, bagaimana jadinya masa depan mereka jika sejak mulai mengenal lingkungan, mereka menyerap hal-hal negatif yang kemudian mempengaruhi perilaku mereka.

Mengenai betapa pentingnya pembentukan karakter anak usia dini tersebut, seorang pendidik dan ahli konseling keluarga, Dorothy Law Nolte, Ph.D, menulis sebuah puisi bagus, “Children Learn What They Live” (Anak-anak belajar dari kehidupannya). Puisi tersebut sudah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan selalu dikutip di setiap pembicaraan tentang pendidikan karakter anak.

Bahkan, para guru yang punya mental pendidik (ingat, tak semua guru adalah pendidik), saya yakin pernah membaca dan sangat paham dengan puisi Nolte tersebut. Para mahasiswa yang belajar di jurusan keguruan pun sering memperoleh puisi ini dari para dosennya. Sebab, mereka dididik menjadi guru dan pendidik, dan harus mengerti bagaimana mendidik dan mengajari anak-anak sejak mulai di tingkatan pendidikan paling kecil.

Biar menjadi pengetahuan bersama, saya ingin kutip utuh puisi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr Jalaluddin Rahmat (baca Islam Aktual; Refleksi-sosial Seorang Cendekiawan Muslim, Mizan, Cet X, 1998). Inilah bunyinya:

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan


Membaca puisi tersebut, kita tak lagi terkejut mendengar kasus banyak anak sekolah terlibat tawuran, mencontek jawaban, gemar berkelahi, tak menghormati guru dan sebagainya. Jawabannya, karena begitulah mereka dibesarkan. Tak ada anak didik yang salah, melainkan para gurulah yang salah mendidik mereka. Masih ingat pepatah, “kalau guru kencing berdiri, maka anak-anak kencing sambil berlari.”

Karena itu sangat penting menciptakan lingkungan masyarakat yang ramah terhadap pendidikan karakter anak-anak. Bayangkan, bagaimana jadinya anak-anak jika masyarakat di lingkungan mereka tinggal saling mencela, hidup bermusuhan, saling menghina dan mencemooh satu-sama lain dan sebagainya. Maka generasi yang dihasilkan masyarakat tersebut tak jauh-jauh dari generasi gemar memaki, gemar berkelahi, dan rendah diri.

Kearifan lokal
Salah satu cara membentuk karakter dan akhlak siswa yang paling penting adalah kita mengadopsi kembali kearifan lokal Aceh. Kearifan lokal bisa digunakan sebagai medium pendidikan. Hal ini sudah lama dipraktikkan oleh orang-orang tua kita di kampung, tetapi jarang mendapat tempat dalam ruang sekolah. Boleh jadi, karena para guru sudah dididik dengan metode moderen, sehingga tak menganggap penting kearifan lokal dan juga ajaran agama.

Aceh melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh (UUPA) sebenarnya memuat tentang pentingnya pendidikan karakter yang disesuaikan dengan karakteristik daerah dan juga ajaran Islam, agama yang dianut oleh mayoritas rakyat Aceh. Pasal 215 Ayat 1 (BAB XXX tentang Pendidikan) menyebutkan, “Pendidikan yang diselenggarakan di Aceh merupakan satu kesatuan dengan sistem pendidikan nasional yang disesuaikan dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat setempat.”

Selanjutnya, diperkuat lagi di Pasal 216 Ayat 1, “Setiap penduduk Aceh berhak mendapat pendidikan yang bermutu dan Islami sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi” dan Ayat 2, “Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diselenggarakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai Islam, budaya, dan kemajemukan bangsa.”

Jadi, pembentukan karakter dan akhlak siswa sebenarnya tak semata-mata menjadi kewajiban guru/pendidikan melainkan juga masyarakat dan pemerintah. Para guru/pendidik memberikan pendidikan karakter dan akhlak di dalam ruang dan lingkungan sekolah, masyarakat melalui penyelenggaraan pendidikan usia dini dan lingkungan sosial, sementara pemerintah melalui kebijakan pendidikan.

Bagi kita di Aceh, dengan mengadopsi kembali kearifan lokal, kita sebenarnya sedang menyiapkan para generasi hebat, yang tak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tapi juga punya karakter dan akhlak yang baik. Coba perhatikan, bagaimana orang Aceh mengajari anak-anak mereka untuk menjadi pribadi yang jujur. Mereka dididik dengan pengetahuan agama yang kuat, bahwa mengambil hak orang lain itu dosa dan harus dipotong tangan.

Kejujuran anak-anak yang tak mau mengaku mencuri diancam dengan cara memasukkan tangan ke dalam kuali minyak sedang mendidih. Menurut orang tua, jika mereka benar-benar tidak mencuri maka minyak panas tersebut tak jadi panas saat tangan dicelupkan. Tapi, jika mereka mencuri, maka minyak tersebut akan mengelupaskan kulit dan daging mereka.

Untuk melatih anak-anak gemar memberi dan bersedekah, orang tua mengutip pepatah lama Aceh bahwa, “ureueng kriet juwiet ate, soe nyang kriet bagah mate (orang pelit itu hatinya lemah, siapa yang pelit cepat mati)”. Inilah salah satu senjata kenapa orang Aceh dulu gemar bersedekah dan membantu orang lain. Untuk contoh, bagaimana orang Aceh bahu-membahu membantu menyumbangkan padi, beras dan telur untuk membeli pesawat saat Indonesia baru merdeka atau ketika Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1997. Bantuan orang Aceh untuk etnis Rohingya yang terdampar di Aceh juga tak terlepas dari adanya pendidikan karakter bahwa “ureueng kriet bagah mate”.

Sementara untuk mendidik anak-anak tidak merokok saat kecil, orang tua menakuti mereka dengan mengatakan bahwa siapa pun yang merokok, nantinya saat sunnah rasul kulit ujung (maaf) penis mereka tak mempan dipotong dengan gunting, melainkan harus pakai gergaji. Dengan pendidikan karakter seperti itu, hampir tak ada anak-anak yang berani mencoba-coba merokok. Jika pun ada satu-dua yang merokok, mereka lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi dan jauh dari pemukiman penduduk.

Di atas segalanya, para pendidik, masyarakat dan pemerintah Aceh perlu menggali lagi kearifan lokal Aceh sebagai salah satu alat pendidikan karakter anak didik. Dengan demikian, tak ada lagi lulusan sekolah/perguruan tinggi yang jadi koruptor ketika berkuasa. Saya pikir, di usia 3 tahun pemerintahannya, Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf (Zikir) perlu memperhatikan hal ini. Semoga. []

Artikel Terkait