Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

August 10, 2012

Pernah dengar hadiah Pulitzer, kan? Itu loh, hadiah paling bergensi untuk kategori jurnalisme. Tak ada wartawan yang menolak dihadiahi Pulitzer. Inilah pencapaian tertinggi wartawan di Amerika. Nah, sekarang kita akan mencoba mengenal lebih dekat sosok wartawan yang sangat dihormati seluruh penjuru dunia. Tapi, ada yang tahu belum, kisah awal dia terjun pertama kali dalam dunia soal tulis-menulis berita ini? Yuk, kita simak saja kisah ini. Awalnya, kisah ini diceritakan sekilas oleh seorang guru saya, Maskun Iskandar, saat pelatihan Jurnalistik di LPDS Jakarta pada akhir 2006 silam. Kisah ini dia tulis dalam buku terbitan LPDS, Panduan Jurnalistik Praktis (2009).

Joseph Pulitzer/pulitzer.org 

Suatu hari, seusai perang, pria kelahiran Makó, Hungaria 10 April 1847 ini menghadap redaktur KoranWestliche Post di St. Louis, Missouri. Umur Pulitzer ketika itu baru 21 tahun. Meski dia pernah menjadi tentara, tapi perawakannya kurus dan jangkung. Sama sekali bukan tubuh ideal seorang tentara. Dia duduk dengan tangan gemetaran sambil memegang lutut. Di hadapan redaktur yang akan mengujinya sebagai wartawan, ia terlihat bodoh dan kaku.

“Tadi malam ada pencurian di toko buku Roslein. Coba kamu pergi ke sana! Cari cerita yang menarik dari orang yang bernama Peters. Kamu jangan cari sendiri,enggak bakalan bisa,” kata Redakturnya.

Tanpa bertanya apa-apa lagi, Pulitzer segera meluncur. Saat tiba di lokasi, Pulitzer dihadapkan pada kerumunan orang, sebagian dari mereka memakai pakaian bagus, dagu terangkat, angkuh seperti burung merak, membawa buku catatan dan potlot (bukan bolpoin karena bolpoin baru ditemukan 20 tahun kemudian, 1888). Mereka pasti wartawan, pikirnya. Pulitzer pun mencoba menanyakan yang mana orang bernama Peters, seperti petunjuk redakturnya. Sial, tak seorang pun sudi meladeni pertanyaan Pulitzer.

Peters sendiri adalah koordinator para wartawan. Waktu itu di St Louis, polisi hana memberi informasi kepada Peters. Dan Peters yang kemudian mendistribusikan informasi dari polisi tersebut kepada wartawan. [Coba kalau suatu informasi di-mark-up atau dikorupsi?]

Ketika Peters keluar dari toko buku setelah mewawancarai polisi, para wartawan yang dilihat Pulitzer segera mengerubunginya. “Tak banyak informasi yang kita peroleh pagi ini,” kata Peters. “Perampokan terjadi pagi tadi sebelum pak Roslein sampai di tokonya ini. Kunci pintu dibuka paksa. Peti besi dibongkar. Uang 175 dollar lenyap. Pak Roslein mencurigai seorang yang mondar-mandir tengah malam di depan toko ini. Orangnya tinggi, berambut kuning keemaasan, di pelipisnya ada cacat luka. Polisi juga mencurigai orang itu. Sudah kalian catat?” Peters mengakhirnya info yang didapatnya.

“Cuma itu Peters?” tanya wartawan.
“Ya, cuma itu.”

Para wartawan pun kemudian pulang. Sebagai wartawan baru, Pulitzer jelas bingung. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Jika pulang, dia belum cukup dapat informasi, jika pun bertahan dia masih bingung harus melakukan apalagi. Soalnya, sang Redaktur tidak memberi pengarahan apa yang harus dilakukan oleh seorang wartawan (maklum masih magang). Pulitzer jelas heran dengan ulah para wartawan terhormat itu yang langsung pulang begitu dapat sedikit informasi. Bagi Pulitzer keterangan yang diberikan Peters banyak yang tidak jelas. Ia pun segera menghampiri Peters, dan dengan sangat sopan mencoba mencari informasi tambahan.

“Maaf tuan Peters, saya Joseph Pulitzer dari harian Westliche Post. Baru hari ini saya bekerja. Boleh saya bertanya, mengapa polisi mencurigai orang yang berambut kuning keemasan?”

Peters seperti tersadar dari mimpi mendapat pertanyaan itu. “Mengapa? Ya…ya…ya… mengapa. Tadi sama sekali tak terpikir oleh saya untuk bertanya mengapa? Begini saja, kamu langsung tanya sendiri pada polisi, tuh mumpung dia masih ada di dalam toko,” saran Peters.

Pulitzer bergegas masuk. Karena saking tergesa-gesanya, Pulitzer nyaris saja menabrak polisi gendut yang berdiri di balik pintu.

“Buka matamu!” bentak polisi itu. “Baca enggak tulisan di luar bahwa toko ini ditutup! Ini perintah polisi: Keluar! Kamu haru keluar!”

“Maaf pak polisi. Saya Pulitzer, Joseph Pulitzer, wartawan baru dari Westliche Post. Saya...” Pulitzer tercekat, tak bisa melanjutkan kalimatnya.

“Aku baru saja memberi keterangan pada Peters. Tanya saja sama dia, kecuali kalau kamu mau tahu cara menuliskan namaku, nih baca: BACKUS. B-a-c-k-u-s. Jelas? Sekarang kamu keluar!”

Pria yang meniti karir sebagai tentara di Kerajaan Austria ini kelabakan. Untung saja pemilik toko datang menghampiri polisi. Rupanya dia mendengar percakapan tadi. Lalu berkata pada polisi. “Pak, pemuda ini saya kenal. Ia sering datang ke toko ini. Kalau bapak tidak keberatan, berilah kesempatan baginya. Ini hari pertama dia bekerja sebagai wartawan. Jadi, harap maklum kalau…”

“Ya…ya…ya…cukup! Sekarang kamu, Tuan wartawan! Apa yang ingin kamu tanyakan?”

“Terima kasih. Saya ingin tahu jam berapa persisnya pencurian itu terjadi.”
“Ya, enggak bisa persisnya, dong! Emang aku melihat pencurian itu terjadi! Tapi kira-kira pukul 6 pagi. Soalnya, waktu Pak Roslein tiba di sini pukul 7 gembok pintu sudah kedapatan dirusak. Pukul 5 ada satpam lewat melihat gembok masih utuh.”

“Yang buka pintu,” kata Pulitzer, “mestinya, John, pembantu Pak Roslein, apakah Pak polisi sudah menanyai John…”

Polisi itu kemudian bertanya sama Pak Roslein, “Apa Bapak punya pembantu?”
“Iya, Pak!” jawab Roslein. “John Eggers namanya. Hari ini dia tidak masuk. Kemarin minta izin tidak masuk kerja, katanya tidak enak badan.

“Pak,” kata polisi kepada Roslein. “Kenapa tadi bapak tidak bilang punya pembantu?”
“Maaf, pak polisi. Saya kira itu tidak penting. Lagi pula dia itu sakit.”
“Apakah John tahu nomor kode peti besi?”
“Oh, ya! Saya beri tahu dia. Dia itu merangkap kasir. Orangnya jujur…”
“Saya berani bertaruh,” kata polisi. “Pencurinya pasti si John. Dia sekarang sudah pergi kea rah barat naik kereta api yang pukul 7 pagi. Besok akan saya tangkap…”

Pulitzer tidak menunggu keterangan polisi selesai. Ia segera menyewa kereta kuda ke stasiun kereta api (saat itu belum zamanya mobil). Dia bertanya-tanya kepada orang-orang di stasiun, apakah mereka melihat John. Pulitzer menceritakan ciri-ciri John. Beberapa orang menyatakan bahwa mereka memang melihat pria dengan ciri-ciri seperti disebut Pulitzer. Setelah itu Pulitzer kembali ke kantor dan membuat berita kasus pencurian uang itu setengah kolom.

Esoknya, pak Redaktur Westliche Post, Koran yang berbahasa Jerman, itu mencak-mencak. Ia memarahi Pulitzer habis-habisan. “Mengapa kamu tidak ikuti kata-kata saya? Bukankah kemarin saya bilang, cukup kamu temui Peters. Tidak usah bertingkah macam-macam. Nih, akibatnya! Koran kita jadi bahan tertawaan. Berita yang kamu buat beda dengan Koran-koran lain. Semua mengatakan pencurinya orang kurus, rambut kuning keemasan…Eh, kamu tulis  yang lain. Tahu nggak, ini bisa mengacaukan pekerjaan polisi. Merusak reputasi Koran kita…”

Pulitzer diam saja. Dia tak berani membantah, maklum wartawan magang.

Redaktur penanggung jawab halaman kemudian mengadukan kelakuan Pulitzer kepada atasannya. Sang atasan membaca sepintas semua kroang yang memuat berita pencurian itu. “Wah, kamu ternyata telah membuat kesalahan yang buruk sekali. Ini bagaimana ceritanya, kok, bisa sampai begini?” tanya atasan Koran itu kepada Pulitzer.

Saat Pulitzer sedang bercerita, tiba-tiba terdengar suara menyela dari arah pintu. “Anak ini benar. Baru saja saya bertemu dengan pemilik toko buku. Ia mengatakan bahwa pencurinya telah ditangkap dan mengaku terus terang kepada polisi. Pencurinya, ya, si John, seperti yang ditulis di Koran kita. Saya kira besok Westliche bisa memuat cerita bagaimana wartawan kita membantu polisi menangkap pencuri.”

Maka wajar, jika namanya ditabalkan pada penghargaan bergengsi di bidang jurnalis, Pulitzer Prize. Penghargaan ini selain diberikan untuk pencapaian tertinggi dalam jurnalisme, juga diberikan dalam bidang sastra dan gubahan musik. Penghargaan tahunan ini pertama kali diadakan pada 4 Juni 1917, dan sejak beberapa waktu lalu, diumumkan setiap bulan April.

Penerima penghargaan ini dipilih oleh sebuah dewan independen yang secara resmi diatur oleh Columbia University Graduate School of Journalism (Sekolah Jurnalisme Universitas Columbia) di Amerika Serikat. []

August 7, 2012

Banyak orang bercita-cita menjadi penulis. Tapi banyak dari mereka yang kemudian menyerah, karena selalu gagal menjadi penulis yang baik. Memang, untuk menjadi penulis, diperlukan bakat. Namun, bakat juga bukan faktor penentu, melainkan latihan terus-menerus yang membuat seseorang bisa menjadi penulis.

Untuk menjadi penulis narasi, pertama-tama kita harus menguasai konsep dasar yang lazim digunakan para jurnalis dalam mencari dan meliput suatu peristiwa. Seperti kita tahu, dalam jurnalistik, kita mengenal konsep dasar penulisan berita yaitu 5W+1 H atau What (apa), Who (siapa), Where (di mana), When (kapan), Why (mengapa), dan How (bagaimana). Jika semua unsur itu sudah dimiliki, tugas kita adalah menemukan dan memastikan jalan cerita, yang dibangun dengan konsep 5W+1 H tersebut.

Karenanya, mutlak, sang jurnalis harus senantiasa punya rasa ingin tahu yang besar tentang banyak hal dan senantiasa kritis-skeptis. Hal ini juga bukan mutlak harus dipunyai wartawan, melainkan juga oleh orang-orang yang ingin menjadi penulis, terutama penulis narasi.

Apakah tulisan narasi itu? Apakah dia sama dengan tulisan in-dept (laporan mendalam). Pengetahuan yang saya peroleh dari guru saya dalam pelatihan, menyebutkan tulisan narasi lebih dalam dari in-depth reporting, yaitu tak hanya melaporkan seseorang melakukan apa, tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu.

“Ada karakter, ada drama, ada babak, ada adegan, ada konflik,” kata guru saya.

Apakah penulis narasi perlu menguasai dan memanfaatkan unsur 5W+1 H? Iya, mutlak harus. Karena tulisan narasi itu harus benar-benar berdasarkan fakta. Tak boleh hasil rekayasa apalagi karangan penulis. Ingat, unsur 5 W+ 1 H dalam tulisan narasi merupakan pengembangan dari unsur dasar jurnalistik. Guru menulis dari Poynter Institute, Florida, Roy Peter Clark, mengembangkan konsep 5 W+1 H sebagai  berikut:

Katanya, dalam tulisan narasi, What berubah menjadi plot/alur (peristiwa), Who menjadi karakter, Where menjadi setting/adegan, When menjadi kronologi, Why menjadi motivasi/motif, dan How menjadi narasi. Nah, rumus 5 W + 1 H tetap dipakai, bukan?

Tulisan narasi atau narrative journalism bermula dari kegusaran Tom Wolfe, wartawan yang pernah bekerja untuk The Washington Post, New York Herald Tribune, Springfield Union. Dia menerbitkan buku antologi The New Journalisme. Di Indonesia, narrative journalism diterjemahkan sebagai Jurnalisme sastrawi. Namun, guru saya, Janet Steele tidak begitu suka dengan terjemahan ini. Dia lebih senang menyebutkan narrative journalism.

Meski disebut jurnalisme sastrawi, namun jurnalisme narasi ini bukan laporan fiksi. Dalam tulisan narasi, sastra hanya diadopsi cuma untuk unsur gaya. Fakta tetap jadi bahan maha penting. Fakta tetap menjadi sangat suci untuk dikotori.

Agar bisa menjadi penulis narasi, kita mutlak harus memiliki
kemampuan seorang wartawan (dalam mencari data dan fakta) dicampur dengan kemampuan novelis (urusan gaya).

Ada empat (4) unsur tulisan narasi. Yaitu:
Dalam bertutur menggunakan adegan per adegan (scene by scene contruction). Gaya bertutur di sini mirip seperti susunan skenario film, tanpa banyak penjelasan dari penulis. Melalui adegan, pembaca memahami perubahan cerita dengan sendirinya, tanpa harus dijelaskan.


Immersion Reporting (Reportase menyeluruh). Artinya, penciptaan dialog terutama kutipan yang ekspresif/mengungkapkan. Ini bisa dilakukan dengan ketekunan mencatat kata-kata berbagai narasumber. Dari dialog, pembaca tahu apa yang terjadi, bagaimana kejadiannya. Bahkan bisa menilai narasumber dari cara dia bicara: Bagaimana karakternya, sikap dan pemikirannya.


Menggunakan sudut pandang orang ketiga (Third Person Point of Views). Dalam tulisan narasi, memiliki banyak perspektif, termasuk dari sang penulis. Dengan alat ini jurnalis tidak hanya menjadi si pelapor. Ia bisa menjadi orang di sekitar tokoh, pembaca diajak masuk dalam cerita. Pembaca seakan berada di tiap keinginan, tiap pikiran dan pengalaman. Kata “SAYA” dipakai untuk mengikat cerita serta untuk akses ke sumber.


Mencatat dengan detail status kehidupan karakter/tokoh: bisa gaya hidup, kebiasaan, cara bicara, karakter, pakaian, dekorasi rumah, termasuk pandangan-pandangan si karakter.


Intinya, sebagai jurnalis kita harus mewawancarai dia, segala pikiran dan segala emosinya, sepanjang berhubungan dengannya. Bagaimana dengan pemilihan tokoh? Jelas, tokoh itu haruslah menarik, karena memiliki banyak kekurangan/tidak sempurna, kemudian terlibat konflik, dan konflik mengubah dirinya menjadi orang baru.

Nah, bagaimana? Yuk kita memulai menulis narasi dengan mempraktekkan tips di atas. Semoga bermanfaat.

July 10, 2012


Awalnya, posting ini hanya berbentuk penggalan tweet saya. Namun, takut ide yang muncul tersebut hilang tak tahu rimba, tak ada salahnya saya kutip kembali di blog ini. Saya yakin, pembaca punya tips dan triks yang lebih menarik lagi. Saya senang sekali jika pembaca bersedia membaginya di kolom komentar.

Ini beberapa tips dari saya, dan sudah saya praktikkan. Tips ini memang berdasarkan pengalaman yang saya alami sendiri. Tapi jangan salah paham dulu. Saya bukan penulis hebat dan terkenal karena sudah menghasilkan ribuan tulisan dan ratusan judul buku. Saya hanya masih belajar. Dan posting ini juga bagiandari proses pembelajaran. Yuk kita sama-sama belajar tips berikut:

1. Ingat! Menulis paragraf pertama yang menyentak minat pembaca dan menghipnotis redaktur itu memang sulit. Tapi, jika tantangan pertama ini bisa dilewati, yakinlah kita mampu menulis kalimat-kalimat dahsyat berikutnya. Jadi, saat anda menulis, satu hal yang perlu anda lakukan: Selesaikan!

2. Untuk menemukan kalimat pembuka yang bagus dan membuat redaktur media seperti terbang ke awan memang tidak gampang. Karena itu kita perlu merenung sejenak dan fokus pada sasaran (tujuan) tulisan yang ingin kita capai!

3. Ketika memulai menulis, saya sudah punya bayangan ke media mana tulisan itu akan saya kirim. Menentukan sasaran media ini penting, karena akan berpengaruh pada gaya kita dalam menulis. Ingat! Beberapa media punya segmen dan style tulisan yang berbeda-beda. Kita harus jeli, karena jika tidak menjadi sia-sialah tulisan yang kita kirim: tak dimuat!

4. Jangan jadikan menulis itu sebagai beban pribadi! Ini bahaya, karena anda akan terus dihantui perasaan bersalah jika tulisan tidak kunjung selesai. Jadi, perlakukan kegiatan menulis itu sebagai kebutuhan, karena anda selalu butuh, dan nikmati setiap pengalaman menulis yang anda dapatkan. Semakin anda menikmati, menulis itu menjadi sarana anda berpetualang dengan ide-ide kreatif anda. Hingga pada saatnya, anda akan merasa sakit jika dalam sehari saja tidak menulis apapun.

5. Menulis itu adalah pekerjaan yang dilakukan dalam suasana santai meski tema yang kita tulis kadang-kadang cukup serius. Jadi, sering-seringlah berkontemplasi. Ini penting untuk memberi warna dan gaya pada tulisan kita. Suatu saat orang-orang akan mengenal karakter tulisan anda, meski anda menggunakan nama samaran.

6. Ini pengalaman saya. Dalam kondisi terbaik, saya bisa menyelesaikan tulisan dalam hitungan jam, tapi ketika giliran angin-anginan, tiga hari kadang-kadang satu tulisan tidak siap-siap. Karena itu, penting mempertahankan stamina. Jikaperlu, anda sesekali harus pergi menyendiri, bisa ke pantai, ke perkampungan, atau ke tempat yang asing. Karena ini akan mengembalikan kesegaran pikiran anda.

7. Penyakit saya: jika satu tulisan dibiarkan tak selesai, maka tulisan itu tak akan selesai lagi. Akibatnya, banyak tulisan di laptop saya kadang hanya berisi beberapa paragraf saja. Tapi, jangan pernah hapus tulisan sepotong itu, karena suatu saat anda akan memerlukannya.

8. Yang tahu tulisan kita bagus atau tidak itu bukan editor! Tapi kita sendiri, sang pemilik tulisan. Karena saat menulis kita tahu mana kalimat asal-asalan atau ide sampah! Jadi, jangan pernah menyalahkan editor jika tulisan anda tidak dimuat. Belajarlah menulis yang baik, periksa setiap bagian kecil kesalahan, apakah itu kalimat yang tak nyambung, logika bahasa yang salah atau ejaan salah ketik.

9. Pesan saya: bacalah kembali baik-baik tulisan yang sudah anda selesaikan. Jika perlu mintalah pacar anda, teman anda atau orang-orang yang anda anggap teliti untuk membacanya. Ingat, kita sering sulit menemukan kesalahan pada tulisan sendiri, karena kita membacanya secara cepat.

10. Penulis yang baik itu adalah juga seorang penulis ulang yang baik. Jangan pernah lakukan kesalahan dengan tidak membaca dan memperbaiki tulisan yang sudah anda buat. Jika sejak awal kita sudah teliti, yakinlah makin hari tulisan kita makin minim kesalahan. Ingat, kadang-kadang redaktur tidak mau memuat tulisan bukan karena tidak layak, tapi mereka malas jika harus mengedit kesalahan kata (ejaan) dari awal sampai akhir.

Mudah-mudahan beberapa pengalaman ini bisa membuat kita dapat belajar menjadi penulis yang baik. Sebab, banyak penulis yang sekarang hebat-hebat itu, pastilah mereka banyak belajar dari kesalahan penulis sebelum mereka. Jadi, mari kita belajar bersama-sama sehingga semua kita menjadi penulis yang baik!

posting ini awalnya berupa penggalan tweet melalui account @almubarak <---follow ya. 

May 14, 2011

Mengapa kita harus menulis? Bagi saya ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Hingga kini saya tak tahu untuk apa saya menulis? Apakah semata-mata ekspresi kebebasan, merawat ingatan, mengharapkan popularitas, uang, atau sekedar hobi?


March 26, 2011

Paypal. Pegiat bisnis dunia maya pasti sudah akrab dengan ‘Paypal’. Paypal merupakan situs pembayaran online yang sedang naik daun dan populer bagi pelaku bisnis dunia maya.