06 February 2008

Dufan untuk orang Sabar

Tak ada warga Jakarta yang tak tahu Dufan. Dunia Fantasi. Di sinilah warga Jakarta dan sekitarnya menghabiskan waktu weekend-nya bersama keluarga, selain ke Taman Mini atau Monas. Dufan masuk dalam kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol. Sejarahnya begitu panjang. Kawasan itu sudah berdiri sejak abad ke 17. Kala itu, Gubernur Hindia Belanda, Valckenier memiliki rumah peristirahatan yang indah di tepi pantai. Waktu terus berjalan, dan kawasan ini pun berubah menjadi arena wisata yang indah.

Namun, sejarahnya seperti jatuh bangun. Saat perang dunia kedua meletus, disusul perang kemerdekaan, Ancol terlupakan. Kawasan ini kembali jadi rawa yang kotor, kumuh dan sepi. Apalagi ketika air pasang Sungai Ciliwung meluap ke berbagai tempat. Jadilah Ancol seperti kubang. “Tempat ini dulunya sering dikenal sebagai tempat jin buang anak,” kata Maskun Iskandar, pengajar di LPDS Jakarta.

Kondisi Ancol berubah saat Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menyulap Ancol menjadi kawasan wisata yang bertaraf internasional. Di mulai dengan pembangunan Teater Mobil pada Tahun 1970, seterusnya pembangunan lapangan golf dan hotel. Berbagai fasilitas permainan dibangun untuk memenuhi keinginan warga Kota.

Anda jangan membayangkan dapat menikmati berbagai fasilitas itu dengan mudah. Saat pertama kali masuk, anda langsung jengkel. Aneka macam permainan menjanjikan kesenangan sesaat terlihat di depan mata. Keberadaannya begitu menggoda. Kita dibuat terpana dan lalu ingin mencobanya.

Eit…! Tunggu dulu. Anda tak bisa segampang itu menikmati aneka permaianan itu. Seperti yang lainnya, anda mesti antri di loket pembelian tiket masuk Dufan. Antriannya bisa beberapa meter dan sesak. Jika tak sabar, Dufan sama sekali bukan untuk anda. Anda dipersilahkan keluar dan mencari hiburan lain, seperti di sekitar Ancol.

Selesai! Belum. Anda dihadapkan pada antrian kedua. Di loket masuk. Di sini tak begitu parah. Karena ada beberapa pintu yang bisa dilalui. Anda akan diberi cap di tangan, sebagai bukti anda sudah memegang tiket masuk. Tak sedikit pula, khususnya para ABG yang ingin diberi cap di leher dan dahi. Hah!

Oya, harga tiket juga tak murah. Hari biasa, anda mesti membayar Rp. 70 Ribu. Tapi, sampai tanggal 15 Desember ini, pihak Manajemen Dufan memberlakukan kebijakan tiket murah cuma Rp 35 Ribu. Dengan membayar Rp 35 Ribu anda bisa menikmati berbagai fasilitas yang ada di Dufan. Anda bisa mengelilingi area Dufan, menikmati berbagai permainan seperti: Wahana Halilintar, Arung Jeram, Burung Bempur, Riam Luncur Niagara-gara dan lain-lain.

Kebijakan tiket murah tentu saja disambut gembira oleh rakyat kecil. Sebut saja Gustaf, misalnya. Ia sehari-hari berprofesi pedangan asongan “mainan anak-anak.” Kepada kami yang mengunjungi Dufan, Gustaf mengaku bahwa meski berjualan di sekitar Ancol, tapi tak pernah menikmati berbagai permainan di dalamnya. Padahal, dia sangat tahu tentang Dufan. “Baru hari ini saya bisa memenuhi keinginan anak-anak menikmati Dufan. Meski harus melupakan beli beras.” Soalnya, kata Gustaf, uang yang seharusnya digunakan untuk beli beras, dia gunakan untuk beli tiket ke Dufan untuk anak-anaknya.

Tak hanya itu, di Dufan juga terdapat berbagai fasilitas umum seperti PPPK, Musalla, Telepon Umum, Penerangan, Restoran, Toilet dan Panggung Terbuka. Bagi yang senang memburu barang-barang antic, bisa mendapatkannya di Toko Cenderamata. Anda bisa mendapatkan berbagai asesoris antic seperti anting-anting, boneka mungil, ukiran dari kayu dan gantungan kunci. Harganya juga bervariasi, tergantung barangnya.

Hal yang menjengkelkan justru saat anda ingin benar-benar menikmati berbagai sensasi yang ditawarkan itu. Bayangkan saja, anda mesti menunggu lama bahkan sampai 2 jam. Setelah itu pun anda tak dapat menikmati permaianan itu sepenuhnya. Artinya, penantian anda 2 jam tak sebanding dengan kenikmatan yang anda peroleh. Seperti pada permainan Wahana Halilintar, permainan rel berputar sepanjang 240 meter. Sekali jalan hanya sekitar 150 detik.

“Udah ah, malas nunggu lama-lama. Kita ke tempat lain aja, yuk!” ujar seorang gadis ABG kepada teman-temannya yang sudah sejam lebih menunggu antrian pembelian tiket di area wahana halilintar.

Bagi anda yang senang dengan aroma pantai, bisa keluar dari areal Dufan. Anda bisa ke Pantai Ancol. Di sini ada juga fasilitas hiburan yang murah, tapi tak kalah menariknya di bandingkan dengan di Dufan. Dengan membayar Rp 5000,- anda bisa menikmati wisata laut dengan perahu. Ombaknya begitu kencang. Anda dijamin senang.

Tapi hati-hati, karena pemilik perahu layar ini sering bikin ulah. Jika anda sudah setuju bayar Rp 5000,- tapi begitu sudah berada di tengah laut, negosiasinya bisa diubah lagi. Dengan alasan menawarkan pemandangan yang lebih menarik, harga yang tadi sudah disepakati bisa naik lagi.

Muhammad Ali, misalnya, dia begitu mencak-mencak. Pasalnya begitu di tengah laut, si pengemudi perahu mencoba menaikkan harga dari Rp 5000 menjadi Rp 10.000 dengan menawarkan rute lebih jauh lagi. “Balik perahunya, Pak. Balik, Pak. Tadi kesepakatan kita tak seperti itu,” ucap Ali dengan mimik wajah marah. Untung saja, si pemilik perahu itu tak ngotot. Sehingga tak ada insiden atau dakwa-dakwi yang tak perlu. Ali dan kawan-kawan terus berlayar. Dengan membayar 5000, kita sudah menikmati wisata laut Ancol. []

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak