Saturday, January 31, 2015

Boleh Tak Merdeka Asal Bermartabat!

Bicara tentang Aceh terasa hambar kalau tak melibatkan sosok Teungku Hasan di Tiro, nama yang begitu menggemparkan Aceh (dan Indonesia) suatu masa. Ya, dia adalah ideolog Aceh Merdeka paling populer, mungkin melebihi gurunya, Teungku Muhammad Daud Beureu’eh. Terlepas bagaimana sosok dia di mata orang, dia tetaplah orang yang memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah Aceh. Apa yang terjadi di Aceh hari-hari ini tak terlepas dari peran dia. Pengikut-pengikutnya yang kini memegang tampuk pemerintahan di Aceh merupakan kader-kader yang dulunya bersama-sama berjuang bersama dia maupun yang terpengaruh dengan perjuangannya.

Orang boleh saja memiliki pandangan negatif tentang sosok Hasan Tiro, meski banyak dari mereka mengagumi konsistensi dan pengorbanan dia, terutama dalam mewujudkan mimpi Aceh Merdeka. Sampai ajal menjemputnya, sosok yang pernah dianggap ‘pembual’ oleh Jakarta (dan oleh orang-orang yang tidak senang dengan perjuangannya) ini tak mampu mewujudkan mimpi yang dulu begitu sering dia sampaikan ke pengikutnya: di hutan, di pengasingan, maupun dalam karya-karya yang sempat kita baca sampai hari ini.

Saya sendiri sudah sejak lama mengakrabi karya-karya dia seperti Price of Freedom, Perkara dan Alasan, Aceh bak Mata Donya, Masa Depan Dunia Melayu dan lain-lain. Tulisan-tulisan itu plus pidato-pidato yang dulu begitu sering diputar dalam ceramah-ceramah Aceh Merdeka secara terbatas, kita seperti diajak untuk ikut serta berjuang bersama-sama dalam barisannya. Sekali pun saya tak pernah berjumpa secara langsung dengan penulis Demokrasi untuk Indonesia ini, saya bisa merasakan bagaimana berpengaruhnya dia bagi masyarakat Aceh, termasuk yang tak mendukungnya sekali pun.

Bahkan, kalau mau bicara jujur, orang yang menyebutnya pembual sekali pun, hari-hari ini begitu menikmati hasil perjuangan dia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ya, memang seorang tokoh selalu dan selalu memiliki sisi yang berbeda. Secara sempit, orang-orang memandang seorang tokoh dengan dua sudut berbeda: menganggapnya pahlawan, dan tak sedikit juga yang menganggapnya pecundang bahkan pembual, seperti yang kita saksikan hari-hari ini di Aceh. Kita pun menjadi sulit membedakan mana pahlawan dan mana pecundang, karena mereka selalu hadir secara bersamaan. Bahkan orang yang menyebut Hasan Tiro seorang pembual pun kini menyadari bualannya keliru.

Tapi, terlepas apapun pandangan orang, Hasan Tiro telah meletakkan fondasi kokoh bagi Aceh, sekali pun dia merumuskannya hingga selesai. Kenapa? Seandainya Aceh jadi merdeka, kita pasti akan bertengkar satu sama lain tentang bentuk negara, lagu kebangsaan atau pun sistem pemerintahan, persis seperti debat soal bendera yang tak selesai-selesai. Namun, kita tak boleh kehilangan harapan, sebab para pengikutnya yang kini memegang tampuk pemerintahan di Aceh dan di kabupaten kota punya beban berat mewujudkan Aceh yang bermartabat, sekali pun tak merdeka. Sebab, sudah cukup banyak pengorbanan rakyat Aceh untuk sebuah mimpi merdeka. Rakyat Aceh hanya ingin memastikan, bagaimana nasib tujuh neudeuk/meuneumat bansa Aceh yang dulu begitu sering kita dengar dalam ceramah-ceramah Aceh Merdeka maupun dalam buku-buku Hasan Tiro yang sempat kita baca.

Pemimpin-pemimpin di Aceh, saya kira, jangan lagi menargetkan sesuatu yang muluk-muluk apalagi sampai menginginkan Aceh seperti Singapura, Hongkong, Swedia atau negara Skandinavia lain yang selama ini menjadi tempat bermukin para pengikut Hasan Tiro. Karena, kalau ingin realistis, dengan mewujudkan tujuh meuneumat bansa Aceh seperti pernah digariskan Hasan Tiro saja sudah lebih dari cukup. Jika mereka lupa dengan tujuh meuneumat itu, saya ingin mengingatkan lagi. Saya maklumi, masing-masing kita punya ingatan pendek sehingga muda lupa, tapi selalu ada dokumen yang tercatat rapi. Kita hanya perlu membukanya lagi.

Inilah Tujuh Neuduk/Meuneumat Bansa Aceh
1. Peudong Deelat Allah
2. Peuseulamat bansa Aceh donja akhirat
3. Peudong Adat bak Poeteumeureuhom, Hukom bak Sjiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Panglima, Bintara dan Laksamana
4. Seutot rauh indatu
5. Peu-ek bendera jang meutanoh mirah bintang buleuen di teungoh/ Peu-ek bendera bintang buleun meutanoh mirah
6. Han tateurimong peurintah seulaen bansa droe teuh bansa Atjeh
7. Peugoet hubungan lua Neugara lagee ka geupeugoet le endatu awai.

Saya percaya, jika tujuh meuneumat itu benar-benar dapat diwujudkan di Aceh, maka Aceh akan kembali memperoleh martabat sekali pun Aceh tak merdeka. Sebab, dengan meuneumat itu pula sebenarnya Aceh sudah benar-benar berdaulat. Tapi, siapa yang peduli dengan meuneumat usang itu ketika uang dengan derasnya mengalir ke Aceh. Maka benarlah kata kawan saya, “merdeka ka ie raya ba.” []

Catatan:
Neuduek/Meuneumat: Ideologi/Pegangan

Tuesday, January 27, 2015

Nelayan Kampung Jawa dan Doa Kematian

Belakangan, saya rutin menghabiskan waktu berjam-jam melihat orang tarik pukat dan para pemancing di pantai Kampung Jawa, Kutaraja, Banda Aceh. Ada kesenangan melihat tingkah polah mereka. Sesekali saya mengabadikan momen tarik pukat dan para pemancing itu dengan kamera handphone (maklum bukan photographer). Pikiran saya seperti terbuka, layaknya hamparan lautan luas yang terhidang di hadapan saya.

Seringnya saya menyambangi pantai Kampung Jawa itu, saya pun jadi hafal seperti apa tingkah polah para nelayan maupun pemancing yang sering mencari ikan di sana. Para nelayan, misalnya, di sela mengisi kekosongan waktu, mereka kerap bermain batu domino di rangkang yang mereka buat untuk berteduh. Saya yakin, mereka secara sengaja menyiapkan batu domino untuk mereka bermain demi mengusir suntuk. Sebab, tak selalu ada kawanan ikan terkurung dalam pukat mereka, sekali pun mereka sudah menunggu kawanan ikan itu di tengah terik matahari yang membakar kulit. Dapat dibayangkan betapa lelahnya mereka.

Ketika menyambangi rangkang tempat mereka biasanya berteduh, saya dapati sosok yang rata-rata memang dapat dibilang berumur (untuk tidak menyebut sudah tua). Tapi, jangan ragukan kekuatan fisik mereka. Tubuh mereka berotot dengan warna kulit hitam legam terbakar terik matahari. Dari tampilan fisik saja, kita langsung sepakat kalau mereka adalah pribadi-pribadi kuat. Hanya dua-tiga orang saja yang masih tergolong muda. Tapi, umur tak menghalangi mereka saling bercanda, dan kadang-kadang di luar batas kewajaran. Mereka memang tak begitu peduli wibawa atau tata krama, karena hubungan mereka sudah selayaknya sebuah keluarga. Mereka pun sering berbicara satu sama lain dengan volume suara besar dan cenderung kasar, khas masyarakat pesisir.

Di atas rangkang, empat lelaki berumur, duduk melingkar, mengelilingi papan tebal seluas meja di cafe. Di atas papan itu, batu domino tersusun rapi, mengikuti angka serupa yang tercetak di atasnya. Saya lihat, ada dua nelayan memasang tali besar (tali kapal) di leher mereka yang diikat beberapa barang bekas, seperti pelampung, botol aqua dan jaring bekas seukuran jambul pengantin wanita. Mereka tidak sedang bermain sandiwara, melainkan begitulah hukuman karena kalah bermain. Semakin sering mereka kalah, jumlah tali yang melingkari leher mereka makin banyak plus barang bekas yang diikat di tali itu. Mereka pun sering mengejek satu sama lain. Para pengunjung yang menyambangi rangkang itu sering tak dapat menahan senyum mereka. Benar-benar hiburan gratis di tengah terik matahari.

Hari itu, saya lupa persisnya hari apa, saya memilih duduk di rangkang itu, bukan di warkop di ujung persimpangan jalan. Saya ingin menikmati canda-canda mereka, sekaligus melihat bagaimana mereka memastikan keberadaan kawanan ikan di lautan.

“Itu, burung camar mendekat. Mereka menukik ke air menangkap ikan,” teriak lelaki hitam legam berusia 55 tahun. Di kalangan mereka, lelaki yang dipanggil ayah itu berposisi pawang.

Para nelayan pun memandang ke tengah lautan, mengikuti arah telunjuk sang pawang.

“Ya, ada beberapa kawanan ikan. Mungkin ada ikan besar,” sahut salah satu di antara mereka yang berpakaian tentara.

Sekali pun bukan kali itu saja saya melihat orang tarik pukat, tapi saya sendiri masih bingung bagaimana mereka memastikan ada kawanan ikan di dalam air bergelombang. Memang, keberadaan camar menjadi salah satu petunjuk bahwa di lokasi itu ada ikannya. Kalau burung camar silih berganti menukik ke air menangkap ikan, itu sudah cukup menjelaskan bahwa ikan-ikan sedang berkumpul dalam jumlah banyak (kawanan).

Namun, tingkah polah camar bukan satu-satunya petunjuk keberadaan ikan. Para nelayan itu juga menggunakan perubahan air laut di lokasi yang ada ikannya. Warnanya berubah menghitam dan berbeda dengan warna air di sekitarnya. Pasalnya, kata mereka, jika ada kawanan ikan warna air berubah mengikuti warna sisik ikan. Kalau warna kulit ikan kuning, airnya berubah menguning, begitu kalau sisik ikan berwarna putih perak maka ada kilauan di dalam air yang berbeda dengan kilauan karena pantulan cahaya matahari atau gelombang laut.

Jika petunjuk-petunjuk itu terlihat, mereka pun mulai bersiap-siap dekat perahu. Kita pun akan mendengar teriakan kelompok nelayan saling memanggil temannya agar merapat. Para nelayan yang asik bermain domino atau minum kopi di warkop, akan berlarian ke arah boat dan siap-siap mendorongnya ke dalam air. Dua atau tiga orang kemudian loncat ke dalam perahu dan mengayuhnya mengurung kawanan ikan yang terlihat tadi. Kalau tiba-tiba kawanan ikan itu menghilang, mereka memilih berhenti sejenak dan menunggu informasi dari nelayan yang ada di darat. Begitulah mereka bermain ‘petak-umpet’ dengan ikan. Banyak yang sukses dengan hasil tangkapan melimpah-ruah, tapi tak jarang pula mereka mendapati pukat kosong karena tak ada ikan yang ‘nyangkut’.

Hari itu, kebetulan saya mengajak Fauzan Matang, seorang developer website cum blogger melihat aktivitas para nelayan di Kampung Jawa. Fauzan senang bukan kepalang. Dia seperti baru melihat pemandangan aneh dan lucu dalam hidupnya. Maklum, kepada pawang yang berada di rangkang itu, Fauzan mengaku sudah setahun tak pergi ke laut. Saya sendiri meragukan keterangan Fauzan. Ketika pawang dan beberapa nelayan sibuk menunjuk-nunjuk ke tengah laut, mengabarkan bahwa ada kawanan ikan, Fauzan tercengang tak percaya.

“Bagaimana mereka tahu ada ikan di dalam air? Saya kok tak bisa melihatnya?” Fauzan penasaran. Saya yang berada di samping Fauzan memberi tahu, bahwa jika ada kawanan camar yang mendekat dan menukik ke dalam air, itu tandanya sedang ada kawanan ikan.

Sang pawang yang duduk di pojok rangkang juga mencoba memberi tahu Fauzan, bahwa kalau ada kawanan ikan, warna air menjadi hitam atau mengikuti warna sisik ikan. Dia pun menunjuk ke tengah laut. Tapi, lelaki Matang berkaca-mata itu mengaku tak bisa melihatnya. “Kok tidak kelihatan ada ikannya?” Fauzan bersikap lugu.

“Kalau tidak bisa melihat, coba ambil ikan dan letakkan persis di depan mata, pasti kelihatan,” kata pawang sambil berlalu. Ada senyum mengembang dari wajahnya. Kami pun tertawa. Sebuah tawa yang tak dipaksa. Hehehe.

Saking asiknya melihat para nelayan bercengkrama sesama dan ikan hasil tangkapan, hari itu, saya jadi telat menyambangi warung kopi langganan. Online di warkop dan melihat orang tarik pukat memang hobi sampingan saya belakangan ini. Hari-hari saya terasa kosong kalau tidak sempat mengakses internet untuk satu jam saja.

Setelah memarkir sepmor, seperti biasa, saya mencari posisi duduk yang membelakangi dinding. Dalam hal online saya harus sedikit menjaga privacy. Selama online, saya tak selamanya cuma membalas tweet yang masuk, karena sesekali kalau suntuk saya membuka youtube dan nonton lagu. Tidak semua lagu dengan video klip sopan yang saya buka. Sering pula saya menonton lagu barat, kadang-kadang ada klip erotisnya. Pun begitu, saya juga senang menonton video klip lagu jadul. Dengan membelakangi dinding, saya berharap dapat menghindari tuduhan orang kalau saya 'gagal move on' karena masih saja menyukai lagu jadul semisal Asmara Novia Kolopaking atau Gambaran Cinta Inka Christie.

Saya yakin, kalian pasti menduga alasan itu cuma karangan saya belaka. Hati kecil kalian pasti mengatakan kalau saya sengaja memilih meja di sudut yang membelakangi dinding karena ingin menonton film esek-esek. Iya, kan? Hehehe, dasar piktor memang kalian. Tapi, jujur saya akui, saya duduk sengaja membelakangi dinding agar orang-orang tidak tahu apa yang sedang saya tulis. Kalau ada yang coba mengintip takutnya saya tak lagi fokus menulis. Selain itu, saya tak nyaman kalau misal ada intel melayu lewat saat saya menulis sesuatu yang kritis, atau orang-orang yang berseberangan pandangan dengan saya. Biarlah di dunia nyata saya jadi orang misterius, meski di dunia maya saya termasuk paling terbuka.

Jadi, setiba di warung kawasan Peunayong itu, saya langsung menuju kursi tempat biasa saya duduk yang kebetulan sedang kosong. Lega rasanya mendapati meja yang boleh dibilang sudah hak pakai saya. Tak jauh dari situ, di dekat meja sudut itu, saya lihat ada beberapa anak muda, seperti biasanya. Mereka asik menonton Youtube dan sebagian lagi ada yang bermain game. Mereka sudah terlalu sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan bermain game sepakbola.
Tapi, beberapa menit setelah saya membuka macbook, sayup-sayup saya mendengar obrolan mereka yang layak dibilang cang-panah itu, menyinggung soal Megawati, Surya Paloh dan Jokowi. Apa gerangan? Oh, rupanya sambil melihat rekan-rekannya bermain game, sebagian dari mereka lagi diskusi politik. Saya tangkap, mereka lagi kesal sama Megawati, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Pasalnya, menurut mereka, Mega terlalu mencampuri pemerintahan Jokowi, termasuk soal penetapan Budi Gunawan sebagai Calon Kapolri.

“Jokowi akan lebih aman dan bebas mewujudkan program-program pro rakyat kalau tidak ada Mega atau Paloh. Entah kapan dua orang ini mendapat surat dari Malaikat Izrail,” ucap lelaki kurus berambut gondrong, sambil tak lepas jari-jarinya dari layar smartphone besutan pabrik asal Korea.

“Chop, mana boleh berdoa tidak baik untuk orang. Kalau pun Tuhan mencabut nyawa Mega dan Paloh, kita harus mendoakan agar Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka. Selain itu, kita harus bersyukur karena salah satu 'penyakit' di seputar Jokowi menghilang,” timpal lelaki tambun berkaca-mata dengan mimik serius.

Mau tak mau, saya harus menoleh ke arah mereka. Pikiran saya tiba-tiba dipenuhi awan gelap. Au ah!

Friday, December 26, 2014

Arah Pembangunan Aceh Pascatsunami

Saya yakin bahwa tak semua masyarakat Aceh tahu bahwa daerah mereka merupakan salah satu provinsi dengan penerimaan pemerintah perkapita tertinggi di Indonesia. Mereka juga tidak tahu bahwa Pemerintah Aceh plus Kabupaten/Kota menerima dana Rp25,5 triliun pada tahun 2013. Mereka bahkan tidak peduli jika sejak tahun 2008 hingga akhir 2013 lalu, daerah mereka menerima lebih dari Rp100 triliun dana. Mereka pun tak tertarik membicarakan keberadaan Aceh yang menduduki peringkat ke-5 terkaya dari sisi penerimaan pemerintah sebesar Rp5,5 juta, padahal penerimaan rata-rata daerah lain hanya sebesar Rp4,2 juta.

Apa pentingnya angka-angka di atas ketika dihadapkan pada kondisi terkini, terutama perkembangan ‘sosial’ yang terjadi di kantor Gubernur Aceh tiap musim meugang tiba atau saat menagih bantuan proposal seperti terjadi 2013 lalu? Bayangkan ratusan orang rela berdesak-desakan, ‘mengemis’ serta menunggu berjam-jam untuk mendapatkan ‘bantuan proposal’ dari Pemerintah Aceh. Entah siapa yang ‘memprovokasi’ masyarakat untuk menagih ‘dana’ dari Pemerintah Aceh, kita tidak tahu pasti. Tapi fenomena tersebut menunjukkan ada yang salah dari visi pembangunan Aceh selama ini. Jelas bukan, bahwa angka-angka di atas menjadi tak bermakna!

Aceh boleh saja kaya dengan mengelola dana yang cukup besar, terutama setelah tsunami dan damai tercipta. Namun, di balik dana yang besar itu justru melahirkan masyarakat yang ‘sakit’ (secara sosial). Kejadian di kantor Gubernur, misalnya (termasuk juga fenomena tiap menjelang Meugang, Idul Fitri, dan Idul Adha), menunjukkan gejala ‘sakit’ kini mengidap di sebagian besar masyarakat Aceh. Budaya royal dengan membagi-bagi uang, yang sebelumnya dilakukan politisi menjelang Pemilu, kini dilakoni oleh Pemerintah, sekalipun itu tak dapat disebut kebijakan. Budaya ini jelas membuat masyarakat jadi ‘manja’ serta membuat mereka lupa bekerja, karena uang begitu mudahnya didapat: cukup bawa KTP atau proposal, mereka sudah bisa membawa pulang uang jutaan rupiah.

Lalu, bagaimana kita harus menjawab andai ada orang iseng-iseng bertanya: apa yang sudah berubah setelah 9 tahun usia perdamaian Aceh dan 10 tahun tsunami berlalu? Saya sendiri, terus-terang, akan menggelengkan kepala. Padahal, sekilas, ini hanya pertanyaan sederhana yang tak membutuhkan waktu berjam-jam memikirkan jawabannya. Tapi, saya yakin tak mudah menjawab pertanyaan ini, terutama setelah dihadapkan pada sejumlah fenomena seperti di atas. Soalnya, ada beragam soal yang harus kita bedah, mulai dari aspek politik, ekonomi, hukum, sosial, kesehatan, pendidikan, sumber daya alam, infrastruktur dan sebagainya. Masing-masing aspek itu tak dapat diurai secara terpisah, melainkan saling terkait satu-sama lain.

Kita boleh saja mengatakan bahwa kebebasan dalam bidang politik sudah jauh lebih baik di banding sebelumnya, tetapi tetap saja meninggalkan banyak pertanyaan susulan. Kita juga boleh menyebutkan bahwa akses ekonomi sekarang ini lebih mudah, tapi kembali dihadapkan pada pertanyaan lain: akses oleh dan untuk siapa? Begitu juga soal hukum, sosial, kesehatan, pendidikan, dan seterusnya. Tak ada jawaban paripurna untuk pertanyaan di atas. Artinya, memang tak mudah menjawab apalagi sekadar mengatakan sudah banyak hal yang sudah berubah setelah usia perdamaian menginjak 9 tahun atau setelah 10 tahun tsunami berlalu. Sebab, fakta sering menunjukkan keadaan sebaliknya, bukan?

Tak percaya? Silakan simak analisis Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP) tentang hasil analisis belanja hibah/bansos Aceh tahun 2013, di mana ternyata belanja hibah/bansos yang bertujuan untuk pemerataan dan azas persamaan ekonomi termasuk untuk meredam potensi konflik, belum mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Aceh secara riil. Padahal, kata peneliti PECAPP Renaldi Safriansyah, belanja tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007, misalnya, dana hibah/bansos Aceh hanya Rp159 miliar dan menjadi Rp1,3 triliun pada tahun 2011.  Sementara Tahun 2013, kata dia, menjadi Rp1,8 triliun, tujuh kali lipat dibanding 2007.

Kita boleh saja mendebat hasil analisis tersebut, terutama membandingkan kondisi ekonomi masyarakat (khususnya di perkotaan) yang lebih menggeliat di banding sebelumnya. Belum lagi jika kita menggunakan tolak ukur daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi, jumlah kendaraan bermotor maupun kondisi warung kopi yang selalu penuh. Tapi, apakah benar demikian? Bukankah itu hanya ‘kemewahan’ yang cuma dinikmati segelintir orang saja.

Namun, tunggu dulu. Kita tak boleh mendasarkan penilaian hanya berdasarkan fenomena semata, yang kerap sering menyembunyikan keadaan sebenarnya. Sebab, dari data terbaru Badan Pusat Statistik Aceh per 2 Juli 2012, misalnya, tentu membuat kita terkejut. Bayangkan, penduduk miskin di Aceh mencapai 909.040 jiwa pada Maret 2012 (19,5 persen), meningkat dibandingkan data per Maret 2011 sejumlah 894 ribu jiwa (acehkita, 2/7). Artinya, pemerintahan Aceh yang lahir pasca-perdamaian (juga tsunami) ternyata belum mampu mengurangi angka kemiskinan secara signifikan.

Tak berlebihan, kalau peneliti PECAPP mengatakan, bahwa belanja hibah dan bantuan sosial yang terus meningkat sama sekali tak berpengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan (belanjapublikaceh.org). Angka kemiskinan di Aceh yang sebesar 19,5 persen (2012) itu ternyata menempatkan Aceh di peringkat kelima secara nasional, yang memiliki rata-rata sebesar 11,9 persen. Sementara di tahun sebelumnya (2011), peringkat kemiskinan Aceh berada di posisi keenam secara nasional. Mencengangkan, bukan?

Lebih memiriskan lagi, ternyata, selain upaya percepatan kesejahteraan yang masih jalan di tempat, kita juga dihadapkan pada masalah sosial yang tak kalah penting: jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa di Aceh juga tinggi. Data dari Dinas Kesehatan Aceh tahun 2012, misalnya, menunjukkan bahwa jumlah penduduk Aceh yang mengalami gangguan jiwa mencapai 14,1 persen (dihitung dari total jumlah golongan usia 15 tahun ke atas). Bahkan, angka gangguan jiwa di Aceh ini berada di atas rata-rata nasional, yang hanya 11,6 persen. Kita tidak tahu apakah ada hubungannya antara tingkat kesejahteraan masyarakat yang rendah, dengan peningkatan jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa. Untuk yang satu ini perlu penelitian yang lebih mendalam lagi.

Apa yang harus dilakukan Aceh?
Kondisi seperti disinggung di atas jelas menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera mendapat perhatian dari Pemerintahan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf. Sisa dua tahun lebih masa pemerintahan perlu ‘dihibahkan’ untuk menuntaskan masalah tersebut, terutama pengentasan kemiskinan, pelayanan kesehatan yang lebih baik serta menjamin terpenuhinya hak anak atas pendidikan. Ini sejalan dengan target Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals atau MDGs) yang musti dicapai pada tahun 2015, di mana pemerintah Indonesia ikut menandangani Deklarasi Milenium tersebut pada Pertemuan Puncak di New York tahun 2000 silam.

Dari delapan target MDGs: menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, pendidikan dasar untuk semua; kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan; penurunan angka kematian anak; meningkatkan kesehatan ibu; memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan, saya kira Aceh cukup menuntaskan empat tujuan saja (target minimal), yaitu penurunan angka kemiskinan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu serta pendidikan.

Dengan dana Aceh yang cukup besar, saya kira target tersebut tak sulit digapai, asal saja pemerintah melakukan semua upaya-upaya tersebut secara terukur serta terkonsep jelas. Budaya bagi-bagi uang seperti tiap musim meugang dan Idul Fitri tiba sudah selayaknya dihindari. Pemerintah perlu menghidupkan sektor produktif masyarakat dengan mengembangkan konsep ekonomi kerakyatan, termasuk membenahi infrastruktur yang masih buruk.

Sementara penurunan angka kematian bayi menjadi mendesak, setelah kita disodorkan fakta yang menohok kita semua bahwa angka kematian bayi di Aceh selama 2013 lalu mencapai 1.034 bayi, lebih tinggi di banding tahun 2012 yang hanya 985 bayi. Anehnya, kematian tersebut rata-rata disebabkan oleh kekurangan gizi, baik saat janin masih di dalam kandungan maupun ketika bayi masih di bawah satu tahun. Angka ini sebenarnya tak mengherankan, karena ternyata berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2010, sebanyak 23,7 persen anak Aceh mengalami gizi buruk dan kurang gizi.

Di atas segalanya, kita harus selalu saling mengingatkan, bahwa perdamaian Aceh tak diraih dengan modal kosong, melainkan melibatkan nyawa dan darah, ditambah dengan penderitaan akibat gempa dan tsunami. Kejadian-kejadian memilukan hati tersebut harus menjadi ‘cambuk’ memajukan Aceh menjadi lebih baik. Rasa-rasanya penderitaan masyarakat Aceh di masa lalu tak perlu ditambah lagi dengan kesalahan mengurus Aceh, dalam arti Pemerintah Aceh tak memiliki visi mewujudkan kesejahteraan secara menyeluruh untuk aneuk nanggroe Aceh ini. Jika itu terjadi, kita semua memiliki ‘saham’ yang tak kecil menghancurkan kembali Aceh kesekian kalinya.

Jadi, setelah 10 tahun tsunami berlalu, masih cukup banyak pekerjaan rumah yang mesti dibenahi, dan pemerintah tidak boleh berpangku tangan! Wassalam
Note: tulisan ini pernah memenangkan juara III lomba penulisan PECAPP

Thursday, December 18, 2014

Sabtu-Minggu, Baca Buku ‘Gratis’

Sebenarnya cukup banyak pengalaman unik dan menarik yang saya alami selama 2,5 tahun menjalani hidup di Jakarta. Kalau diceritakan satu per satu melalui tulisan singkat ini tentu tak bakal lengkap. Tapi, di antara cerita unik dan menarik itu, ada satu kejadian yang sampai sekarang masih membuat saya senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya.

Sewaktu di Jakarta, aktivitas yang paling banyak menyita waktu saya adalah membaca dan menulis. Saat itu saya benar-benar ingin melatih diri menjadi penulis produktif serta ingin memiliki wawasan luas. Keinginan ini sangat wajar, karena saya meninggalkan bangku kuliah saat duduk semester enam (sekali pun pada akhirnya saya bisa menyelesaikannya dan jadi sarjana). Jadi, waktu luang itu benar-benar saya manfaatkan dengan membaca buku, minimal saya tak ketinggalan dengan teman-teman saya yang masih kuliah.

Nah, tiap Sabtu-Minggu saya banyak menghabiskan waktu di toko buku, di antaranya di Gramedia Atriun Senen, Gramedia di Pondok Indah Mall, Gramedia di kawasan Blok M, atau di toko buku Pasaraya Manggarai. Hanya sesekali saya pilih Gramedia Matraman. Saya hafal di deretan mana buku politik-sosial, novel-fiksi atau buku-buku umum berada di toko-toko buku ini.

Di toko-toko buku inilah saya membaca novel atau kumpulan cerpen secara gratis. Biasanya, ada beberapa buku yang sampul kertasnya sudah dibuka. Buku itu saya baca sambil berdiri, tak boleh duduk di lantai atau bangku yang ada. Jika kedapatan duduk, petugas toko akan langsung menegur. Terus terang, saya tak sendiri dalam urusan membaca buku secara gratis ini. Karena banyak juga ABG yang berperilaku sama dengan saya.

Untuk buku kumpulan cerpen, biasanya saya tamatkan dengan sekali baca. Sementara untuk novel kategori tebal, saya memilih tak menamatkannya dalam sekali baca. Soalnya, tak kuat untuk berdiri berlama-lama. Biasanya saya balik lagi esok untuk menuntaskannya, dengan cara mencatat di handphone halaman yang sudah saya baca.

Jadwal saya mengunjungi toko buku mulai pukul 11.00 hingga pukul 16.00 sore. Siang hari, jika buku yang saya baca tidak tamat, saya memilih mencari makanan dulu, selesai makan baru saya balik lagi ke toko. Bagi saya, begitulah cara menyiasati kondisi kantong yang tak mendukung untuk membeli buku bagus.

Begitulah, saya pun sering berpindah-pindah toko buku. Tak enak juga tiap keluar tak pernah beli buku, padahal termasuk pengunjung yang sangat rajin. Itulah manfaat toko buku di kota-kota besar, kita bisa membaca tanpa harus membelinya. Itu pengalaman saya 5-6 tahun silam. Sekarang tidak tahu, apakah masih ada buku-buku yang dilepas sampulnya dan bebas dibaca. Karena sudah dua tahun tak ke Jakarta. []
Note: tulisan ini sudah pernah saya posting di Kompasiana, 17 Juni 2013

Tuesday, December 16, 2014

Munarman Pungo

Temanku, sebut saja namanya Pozan, pulang ke Takengon. Dia mengantar istrinya pulang kampung. Tak lama dia di sana, hanya dua hari saja. Saat kembali, sang istri berpesan, agar tak lupa menyiram bunga Adenium di rumah sekembali nanti.

“Bang, bunganya disiram ya, jangan sampai kering tuh bunga,” begitu kata istrinya.

Kembali ke Banda Aceh. Si temanku ini asik dengan kesibukan lain. Kerja kantoran, update blog, desain baju, desain spanduk dan baliho. Pokoknya desain segala desain lah. Dia pun lupa pada pesan istrinya.

Hingga suatu sore yang dingin itu, di sela-sela update blog, dia membuka facebook, mainan lamanya. Dia pun tertegun dan kaget. Apa pasal? Rupanya, hari itu, dari pagi hingga sore (bahkan malam), rata-rata status facebook teman-temannya soal siram-disiram-menyiram. Teman-temannya sedang berbicara soal aksi tak patut juru bicara Laskar Jihad, Munarman, SH. Dalam dialog di sebuah stasiun TV, Munarman yang pernah aktif di beberapa lembaga bantuan hukum itu menyiram muka sosiolog Universitas Indonesia (UI) Tamrin Amal Tomagola. Mereka berdebat sengit sebelum aksi siram itu terjadi.

“Itu bentuk visualisasi aksi premanisme.” Begitu komentar beberapa orang yang berkomentar di jejaring sosial menyusul aksi mantan aktivis itu.

Nah, status teman-temannya itu seperti ilham plus warning bagi Pozan. Gara-gara membaca kata siram, dia pun langsung teringat pada pesan istrinya untuk menyiram bunga. Dia pun bergegas melakukannya. Dia menyiram bunga dalam pot itu yang mulai kering-kerontang. Satu pekerja ringan tuntas sudah.

Cerita siram bunga itu muncul saat saya sampaikan bahwa saya mau menulis posting Munarman Pungo.

Oh ya, ada cerita lain yang mau saya ceritakan, sebenarnya. Begini ceritanya:

Di kota saya ada sebuah masjid yang ramai dikunjungi. Tiap sore, warga yang datang membludak, terutama pas weekend. Di depan masjid kebanggaan tersebut terdapat sebuah kolam. Anak-anak (bahkan orang dewasa) sering menghabiskan waktu bercengkrama dengan ikan mas. Tapi, sejak beberapa minggu terakhir, ada pemandangan aneh di sekitar kolam itu.

Dibilang aneh, karena tiap sore seorang remaja, berpakaian sedikit kumal, selalu kencing di kolam itu. Dia sama sekali tak risih dengan para pengunjung. Padahal, orang yang mengelilingi kolam itu sangat ramai. Dia cuek saja. Beberapa pengunjung pernah menegur si remaja itu, namun kelakuannya tak juga berubah. Pengunjung kemudian melaporkan kejadian aneh itu kepada petugas Satpam masjid. Remaja itu dipanggil dan dinasehati agar tak boleh kencing di kolam masjid. Toilet untuk pengunjung sudah tersedia di sebelah utara dan selatan masjid.

Bukannya mereda. Malah, tiap sore si remaja itu masih kencing di kolam. Sehingga kian meresahkan. Para orang tua makin takut jika anak-anaknya duduk terlalu dekat dengan si remaja itu. Takut terjadi sesuatu.

Satpam masjid juga sudah hilang kesabaran. Mereka berniat menangkapnya lagi. Tapi beberapa kali dicoba, remaja itu selalu bisa meloloskan diri dengan  meloncat pagar masjid. Hingga, Satpam mencari cara bagaimana menangkap si remaja. Mereka pun atur siasat. Kali ini tak boleh lagi remaja itu bisa meloloskan diri. Pengunjung pun diajak bekerja sama.

Tibalah pada hari strategi itu dilaksanakan. Seperti biasa, si remaja itu kencing di kolam masjid. Dia tak punya firasat apa-apa. Beberapa orang pengunjung seperti tak peduli lagi sama remaja itu. Sehingga si remaja ini tak merasa takut ditangkap seperti yang sudah-sudah. Beberapa pengunjung mendekat, duduk di dekat remaja itu. Mereka pura-pura memberi makan ikan mas di kolam. Begitu si remaja hendak kencing untuk kedua kali, pengunjung dari sisi satu lagi mendekat. Mereka sudah bersiap-siap menangkap. Remaja itu tak berkutik.

Satpam juga sudah ada di dekat mereka. Remaja itu dibawa ke pos Satpam dekat pintu masuk. Di sana, si remaja ini diinterogasi. Ditanya orang mana, tinggal di mana, siapa orang tuanya. Dia juga ditanya sekolah di mana, namanya siapa? Awalnya, pertanyaan itu tak satupun mau dijawabnya. Tetapi setelah didesak berkali-kali, di bawah ancaman, barulah dia mau buka suara. Dia ternyata mengalami gangguan jiwa.

“Nama saya Munarman, pak!” Jawab dia singkat. Orang-orang di pos Satpam itu pun saling berpandangan. Tak tahu harus bilang apa.

“Alahai Munarman Pungo!” umpat beberapa orang yang hadir. []

Sumber gambar di SINI

Sunday, December 14, 2014

BBM Pungo

BBM naik daun. Di mana-mana orang bicara soal kenaikan BBM (bahan bakar minyak). Tak kecuali di warung kopi di seputaran Ulee Kareng, Banda Aceh. Di warung kopi yang terkenal dengan tempat update (memperbaharui) fitnah itu, pembicaraan soal BBM cukup hangat dan fresh. Hal ini wajar, karena pengunjung warung ini rata-rata politisi, aktivis LSM, wartawan, kontraktor, pengacara dan orang-orang HTW lainnya. (HTW=han troh wa/tak sampai dipeluk).

Terjadilah pembicaraan lintas profesi.

Politisi: kenaikan harga BBM memang tak dapat dielak. Selama ini yang menikmati sumsidi BBM kan orang-orang kaya yang punya mobil mewah. Bayangkan biaya produksi BBM Premium itu sekitar Rp10.000, dan dijual Rp4.500 (di tempat eceran Rp5.000). Pemerintah memberikan subsidi Rp5.500 per liter. Nah, siapa yang menikmati subsidi paling banyak?

Tak ada yang menjawab. Masing-masing orang di warung itu asyik sendiri, ada yang pura-pura berhitung. Banyak juga yang lebih senang memelototi layar Blackberry (BB)-nya. Yang pura-pura berhitung, langsung menjawab. Orang ini ternyata aktif di sebuah LSM di Banda Aceh.

Aktivis LSM: Benar, memang subsidi itu lebih banyak dinikmati oleh orang kaya yang punya banyak mobil. Misalkan saja mereka mengisi tangki yang kapasitasnya 35 liter, berarti mereka menikmati subsidi Rp150.000 sekali isi. Bandingkan dengan pemilik sepeda motor, sekali isi 3 liter berarti mereka hanya menikmati subsidi Rp15.000 per sekali isi.

Diskusi sangat menarik sebenarnya. Tapi, fokus teman-teman yang mengerubungi meja itu pada layar BB masing-masing. Mereka kadang-kadang senyum sendiri, kadang tertawa lepas. Tak sedikit pula yang memasang wajah cemberut. Bisa jadi pesan yang dikirimnya tak mendapat balasan.

Lain lagi teman wartawan. Mereka tak terlalu memikirkan soal kenaikan BBM. Mereka lebih peduli pada nasib teman mereka di Jambi dan Pontianak yang terkena tembakan polisi saat membubarkan massa yang berunjuk-rasa menolak kenaikan BBM.

Wartawan: jurnalis yang bekerja di lapangan sangat minim perlindungan. Pihak kantor mereka tak menyediakan fasilitas yang bisa melindungi karyawannya dalam meliput di medan yang terlalu berisiko. Pemilik makin kapitalis, hanya memikirkan keuntungan semata. Mereka bukannya memikirkan kesejahteraan jurnalis, tapi asyik bikin Forum Pemred hanya mengampanyekan merek kondom Meoong! Tahi buah lah semua!

Si wartawan ini kebetulan hanya seorang koresponden yang bekerja untuk sebuah media di Jakarta. Wajar jika dia emosi. Tak hanya gaji yang kecil, tapi kadang-kadang laporan yang dikirim belum tentu mendapat prioritas untuk tayang, karena kantornya memilih big-news dengan dampak besar.

Hari makin sore. Pembicaraan makin tak jelas lagi juntrungannya. Masing-masing sibuk cang-panah sendiri. Tak tahu lagi, siapa mendengarkan siapa. Karena, meski berkelompok, ternyata topik yang dibicarakan di meja itu berbeda-beda. Pembicaraan sangat tergantung micro-phone siapa yang paling besar terdengar, maka omongan dialah yang paling dominan.

Si kontraktor yang dari tadi hanya asik dengan BB sendiri, tiba-tiba berjingkrak. Dia tertawa lebar. Rupanya, sebuah pesan broadcast (Blackberry Messenger/BBM) yang menjadi penyebabnya. Tak ingin tertawa sendiri, dia pun membaca keras-keras isi pesan yang baru diterimanya. Kali ini, yang lain tekun menyimak. Begini isi BBM-nya:

Sari mengadu pada Ibunya tentang hal buruk yang menimpanya.

Sari: (dalam kondisi ketakutan). Ibu, bapak kemana?

Ibu: ke luar kota. Ada apa tanya bapak?

Sari: (dengan nada pelan). Sari minta maaf bu, sepertinya Sari hamil.

Ibu: (setengah kaget). Apa..!!? Apa kamu bilang?

Sari: (gemetaran). Iya, saya hamil bu! Ini…(sambil mengelus-elus perut)

Ibu: Aaah…nggak mungkin. Kamu mungkin sakit. Istirahat saja, nanti sembuh sendiri.

Sari: Tapi akhir-akhir ini, saya sering muntah-muntah, bu!

Ibu: (rada cuek). Aah…mana ada, paling kamu masuk angin. Ke sana, gih beli minyak angin sana, biar cepat sembuh.

Sari: (tersedu)…hiks…hiks. Kenapa ibu tak percaya, saya sekarang tuh doyan makanan yang asam-asam, bu!

Ibu: (dengan kesal sambil teriak). Berhentilah kamu berkhayal SARIFUDDIN! Ibu tempeleng kamu nanti, baru tahu rasa. Bencong mana pula ada rahim. (Rupanya, Sarifuddin ini seorang waria. Dia lebih senang dipanggil Sari)

Semua yang duduk di meja itu tertawa lepas. Mereka pun sepakat untuk bubar. “Mudah-mudahan dana kompensasi Rp155 miliar untuk korban lumpur Lapindo biar nyasar ke Sarifuddin yang jauh di Aceh,” celetuk pengacara seperti menyindir Golkar yang setuju BBM naik. Suaranya cuku jelas. Sekali lagi mereka tertawa. Benar-benar BBM Pungo. [] 
Note: tulisan lama, awalnya diposting di acehpungo.com

Dewan Pungo

Dua hari sebelum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menggelar Sidang Paripurna tentang kenaikan BBM (Bukan Blackberry Messenger, red), beberapa anggota dewan terhormat yang pulang ke dapil buru-buru balik ke Jakarta. Mereka yang sedang membangun citra tak mau rusak gara-gara tak ikut sidang. Mereka pun cepat-cepat memesan tiket agar segera tiba di Jakarta.

Nah, ketika tiba di ruang tunggu pesawat. Si anggota dewan ini, sebutlah namanya Si Pulan (SP), bertemu dengan Apa Pungo (AP). Terjadilah percapakan seperti ini:

SP: Waduh, kenapa pesawatnya telat datang, ya?
AP: Bapak bicara dengan saya? (saking lugunya)
SP: Yah, dengan siapa lagi, kan cuma kamu yang duduk di samping saya.
AP: Hehe, bapak pintar dan kritis. Wah, pasti wakil rakyat, ya?
SP: Hehe juga. Kok tahu?
AP: Tahu donk, kan saya rakyat! Lagi pula, ada gambar pin kebanggaan DPR di kantong bapak.

Obrolan berhenti ketika terdengar pengumuman bahwa pesawat jurusan Jakarta sudah tiba dan kepada penumpang segera naik ke pesawat. Satu-per-satu calon penumpang itu bangkit dari tempat duduk. Ramai bukan main. Mungkin di antara mereka ada juga wakil rakyat, seperti Si Pulan itu. Mereka pun antri di pintu keluar ruang tunggu. Masing-masing pegang tikat di tangan. Tak ada yang diperlakukan istimewa. Semua harus antri, termasuk Si Pulan yang kebagian antrian agak ke belakang.

Tak lama, semua calon penumpang itu sudah keluar dari ruang tunggu dan menuju ke pesawat. Masing-masing menuju ke tempat duduk seperti tertera pada tiket. Si Pulan dengan tergopoh-gopoh menaiki tangga pesawat dari pintu belakang. Sampai di pesawat, di lorong itu sudah cukup banyak orang yang mencari tempat duduk. Si Pulan pun memilih duduk di kursi belakang.

“Duh, senang rasanya bisa beristirahat,” gumam dia dalam hati.

Saat berniat memejamkan mata, si Pramugari  datang menghampiri. Pasalnya, kursi yang diduduki Si Pulan itu jatah orang lain. Dengan sopan, si Pramugari meminta lihat tiket Si Pulan.

“Bapak, tempat duduk anda bukan di sini. Ini tempat duduk orang lain,” kata si Pramugari sembari menunjuk ke penumpang yang sedang kebingungan.

“Kenapa saya tak boleh duduk di sini? Saya kan memiliki tiket,” jawab Si Pulan seperti tak merasa bersalah.

“Tempat duduk Bapak ada di depan, di kelas Eksekutif,” si Pramugari memberi alasan sembari menunjukkan nomor kursi yang tertera di tiket.

Bapak itu marah-marah, tapi tak sampai memukuli si Pramugari dengan Koran yang dipegangnya. Sambil berdiri, dia mengomel bahwa si Pramugari tidak tahu siapa dirinya.

“Saya ini bukan Eksekutif. Saya Legislatif!” katanya sembari memperlihatkan lencana ke muka Pramugari yang tak habis pikir.

Dari jauh, Si Pungo, tersenyum sendiri melihat adegan itu. Dalam hatinya bergumam, “Dasar Dewan Pungo.” []
Note: tulisan ini awalnya diposting di blog acehpungo.com

Sunday, November 30, 2014

Bonus Demografi dan Kesiapan Kita

Dalam sejumlah kesempatan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok sering mengingatkan kita tentang bonus demografi. Awalnya, saya tak begitu memandang penting masalah ini, dan menganggap apa yang disampaikan Ahok itu klise. Tapi, karena terlalu sering disampaikan, saya pun mencoba cari tahu tentang bonus demografi, termasuk membuka buku lawas. Saya pun sadar, bahwa yang disampaikan itu bukan klise.

Saya pun setuju dengan pandangan Ahok yang menganggap penting masalah bonus demografi dan dampaknya bagi Indonesia. Sebab, jika tak pandai-pandai mempersiapkan diri, Indonesia akan mengalami masalah besar di masa-masa mendatang. Bonus demografi merupakan masalah serius yang perlu segera dipecahkan dan dicari solusi oleh Pemerintah sebelum semuanya terlambat.

Tulisan sederhana ini akan mencoba mengulas apa yang terjadi dengan Bonus Demografi? Apa dampaknya bagi Indonesia serta langkah apa yang harus dilakukan menghadapi bonus demografi?

Bonus Demografi dan Dampaknya
Saat ini, Indonesia memiliki jumlah penduduk 253,60 juta jiwa. Jumlah ini menempatkan Indonesia berada di posisi empat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, setelah Cina (1,3 miliar), India (1,2 miliar) dan Amerika (318 juta). Indonesia hanya berselisih sekitar 51 juta jiwa dengan jumlah penduduk Brazil yang berada di peringkat kelima (202 juta).

Dari 253 juta jumlah tersebut, Indonesia memiliki penduduk dengan usia produktif (penduduk berusia 15-64 tahun) sekitar 44,98 persen. Diperkirakan, jumlah penduduk usia produktif ini akan terus meningkat, hingga tahun 2025-2035, di mana Indonesia akan menikmati bonus demografi, yaitu jumlah penduduk usia produktif lebih besar dari jumlah penduduk nonproduktif.

Di satu sisi, besarnya jumlah penduduk usia produktif ini sebagai berkah dan potensi bagi pembangunan bangsa. Tapi, di sisi lain, jika tak pandai dikelola dan diantisipasi, kondisi ini justru menjadi musibah dan membawa dampak sosial yang lebih hebat. Karena, tingkat penduduk usia produktif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah, 44 per 100 penduduk produktif. Sementara kemampuan pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan juga masih rendah, belum lagi dari sisi kualitas penduduk usia produktif yang sangat buruk.

Dari data UNDP (2011) seperti dikutip situs BKKBN, rata-rata lama sekolah di Indonesia hanya 5,8 tahun, yang berarti rata-rata penduduk Indonesia tidak sampai menyelesaikan jenjang pendidikan SD. Kondisi ini cukup memiriskan hati, karena angkatan kerja di Indonesia masih didominasi oleh lulusan SD. Padahal pada 2015 nanti, kita akan menghadapi zona perdagangan bebas ASEAN (ASEAN Fre Trade Area- AFTA). Kondisi Indonesia tidak akan sama lagi seperti sekarang. Indonesia akan kebanjiran para pekerja dari luar negeri, yang tentu saja memiliki talenta dan ketrampilan yang jauh di atas rata-rata penduduk kita, yang kebanyakan didominasi lulusan SD itu. Tenaga kerja kita jelas tak akan siap bersaing dengan mereka yang memiliki skil di atas rata-rata.

Apalagi, seperti selama ini, tenaga kerja kita di luar negeri paling banter hanya jadi pembantu. Kita belum mampu menyediakan tenaga kerja yang profesional dan memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan negara setempat. Jadinya, kita hanya mampu ‘mengekspor’ pembantu. Hal ini pun masih menjadi masalah besar, karena sebagian mereka tak mendapatkan upah yang layak, serta banyak dari mereka diperlakukan secara tidak senonoh.

Sudah sepatutnya kita belajar pada nasib dinosaurus, yang sering kita tonton di film Jurasic Park. Dalam banyak literatur yang kita baca, dinosaurus pernah menguasai bumi ini. Lalu, kenapa bisa punah? Karena mereka lambat melakukan evolusi dan tak mampu beradaptasi ketika terjadi perubahan yang begitu cepat bahkan radikal. Akibatnya, mereka digantikan oleh makhluk yang lebih besar atau kecil, yang lebih gesit, lebih bisa beradaptasi, lebih mampu bertahan dan lebih inovatif.

grafik bonus demografi | net
Dalam waktu dekat, saat memasuki AFTA, kita tak menyiapkan diri dengan lebih baik, nasib kita juga akan sama seperti dinosaurus. Pasalnya, begitu masuk era perdagangan bebas itu, tak ada yang dapat kita lakukan kecuali harus bertahan, gesit, dan adaptif. Jika kita tak siap, maka bersiap-siaplah digilas oleh zaman yang kian berubah ini.

James Canton dalam bukunya The Extreme Future (2010) mengingatkan skenario runtuhnya sebuah bangsa. Katanya, sebuah bangsa akan runtuh dan hancur jika angka pengangguran melonjak secara tajam, terjadi chaos di beberapa sektor, banyak talenta berbakat hengkang ke luar negeri (brain-drain), rendahnya investasi di bidang riset dan pengembangan, kerjasama yang buruk antara dunia bisnis dan pemerintah, tidak adanya katalisator bagi penegakan demokrasi, pelarian modal ke luar negeri, rendahnya dukungan pendidikan, dan pertahanan yang lemah sehingga amat tergantung kekuatan asing (sekutu).

Apa yang harus dilakukan?
Menghadapi kondisi dan dampak dari bonus demografi di atas, muncul pertanyaan, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah?

1. Perbaiki sektor pendidikan
Pendidikan selalu menjadi sektor penting menghadapi perubahan zaman. Pemerintah perlu terus-menerus memperbaiki kurikulum pendidikan yang up to date terutama dengan memasukkan mata pelajaran sains terbaru di sekolah menengah dan kejuruan. Sehingga lulusan kita mampu bersaing dengan lulusan dari negara lain.

2. Perbanyak program insentif.
Pemerintah perlu memperbanyak program insentif baru untuk mendorong generasi muda menjadi ilmuwan, insinyur, wirausahawan yang melek teknologi. Dunia nantinya akan semakin canggih, jika kita tidak terus-menerus memperbaharui diri dengan pengetahuan terbaru, kita akan ketinggalan zaman. Pemerintah perlu memperhatikan kelompok muda seperti ini dengan memberikan penghargaan dan imbalan yang setimpal. Hal ini juga untuk menghindari larinya talenta-talenta muda kita ke negara lain yang lebih menghargai karya mereka.

3. Generasi inovatif dan bermental enterpreneur
Karena kita akan menghadapi perdagangan bebas, di mana dunia menjadi begitu sempit, maka yang perlu dilakukan adalah memperbanyak pengajaran di bidang inovasi dan menggalakkan mental enterpreneurship bagi setiap orang. Hal ini sangat mudah dilakukan karena generasi muda kita sangat menyukai inovasi. Mereka sudah mulai akrab dengan dunia enterpreneurship. Hal ini sangat gampang diketahui dengan menjamurnya situs e-comerse dan blog-blog yang menjajakan berbagai produk anak negeri. Yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan memperluas jangkauan internet hingga ke pelosok desa, yang hingga kini belum merata seluruhnya.

4. Perlunya perlindungan hak kekayaan intelektual
Kita akui cukup banyak produk dan hasil penelitian anak negeri yang bernilai pengetahuan tinggi. Pemerintah perlu melindunginya dengan mempermudah akses bagi pengurusan hak atas kekayaan intelektual, serta penegakan hukum secara tegas terhadap pencurian atas hak kekayaan intelektual ini.

5. Perkecil angka pemuda putus asa
Salah satu dampak dari bonus demografi adalah besarnya beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif terhadap kelompok usia tidak produktif. Jika pemerintah tak mensiasatinya dengan memperbanyak lapangan kerja, mereka-mereka ini akan berubah menjadi penduduk yang berputus asa: tidak punya kerja tetap, tidak kreatif serta bermasalah dengan keuangan. Pemerintah perlu membuka peluang dan kesempatan bagi mereka mengembangkan diri agar memiliki kebebasan finansial. Jika tidak, maka ini juga akan mendatangkan dampak sosial yang lebih serius: generasi yang berputus asa. Kalau kondisi ini yang terjadi, jelas mereka bukanlah generasi yang siap menghadapi masa depan yang lebih bebas.

Di atas segalanya, dalam menghadapi bonus demografi, pemerintah perlu memperbanyak program pelatihan dan memperluas akses pendidikan (termasuk untuk masyarakat kurang mampu) untuk menciptakan tenaga kerja bertalenta dan memiliki ketrampilan. Dengan demikian, kita bukan hanya menikmati berkah dari bonus demografi melainkan juga siap menghadapi dunia yang kian berubah!
Note: tulisan ini sudah diposting di Kompasiana pada 9 Oktober 2014

Tuesday, November 25, 2014

Winston Churchill dan Seorang Sopir Taxi

Kesuksesan bukan akhir, kegagalan bukan bencana - Winston Churchill.

Saya tidak ingat lagi di mana cerita berikut ini saya baca. Saya tidak tahu apakah cerita ini benar adanya atau hanya humor belaka. [kalau ada di antara pembaca yang tahu di mana cerita ini ditulis, saya mohon sudi kiranya membagi referensi tersebut dengan saya]. Tapi, itu sama sekali tak penting, karena pelajaran dari cerita ini saya kira yang penting direnungkan, bagaimana sosok paling populer di Inggris [juga dunia] sewaktu Perang Dunia II begitu rendah diri, dan mau bernegosiasi dengan seorang sopir. Saya pikir, beginilah seharusnya seorang pemimpin, tanpa membanggakan lakab jabatan demi memenuhi ambisinya.

Nama lengkapnya Winston Spencer Churchill. Pria flamboyant kelahiran 30 November 1874 di Istana Blenhiem, Oxfordshire, Inggris ini adalah pahlawan Inggris yang mengalahkan fasisme Eropa di Perang Dunia II. Sosok yang disapa Winnie oleh pengikutnya ini merupakan tokoh yang mengalahkan ambisi besar Hitler menguasai seluruh daratan Eropa. Namanya begitu dielu-elukan oleh rakyat Inggris. Pidato-pidatonya mampu membakar semangat massa untuk berperang mempertahankan tanah Inggris dari invasi tentara Hitler.

Suatu hari, dia keluar dari rumahnya. Dia hendak ke kantor untuk memberikan sebuah pidato. Pidato yang begitu ditunggu. Tapi kondisi saat itu lagi hujan. Dia tak yakin bakal tiba cepat di kantor. Seperti biasanya, selalu ada taxi yang lewat di jalan depan rumahnya, bahkan beberapa di antaranya sering mangkal tak jauh dari situ. Winston lebih sering menggunakan taxi untuk bepergian. Selain nyaman juga dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa diganggu dengan obrolan politik. Kesempatan di dalam taxi digunakan untuk membaca dan melupakan politik sejenak.

Winston menghampiri taxi yang berhenti tak jauh dari tempat tinggalnya. Wajahnya belum begitu familiar waktu itu, bisa jadi karena penampilannya yang sederhana. Sehingga tak ada kehebohan begitu dia mendekati sopir taxi. Si sopir pun tidak sadar bahwa yang mengajaknya bicara adalah Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill.

"Saya tidak mengantar penumpang hari ini," kata si Sopir seperti tahu keinginan Winnie.
"Saya butuh taxi untuk mengantar saya ke Street Downing," jawab Churchill.
"Saya sudah bilang tidak mengantar penumpang," si Sopir masih bersikap cuek.
"Kenapa?" Churchill penasaran.
"Sebentar lagi Winston Churchill akan menyampaikan pidato," jawabnya.
"Kita bisa mendengarnya di perjalanan," Churchill memberi saran.
"Tidak fokus kalau mendengar sambil mengendarai taxi," sopir mencoba berkilah.

Winston tak kehabisan akal. Tawar-menawar pun terjadi.

"Bagaimana kalau saya membayar dua kali lipat dari biasanya?"
"Hari ini, berapa pun mau anda bayar saya tak peduli. Saya tak mau kehilangan kesempatan mendengar pidato Winston Churchill," sopir masih mencoba menolak.
"Kalau saya bayar 20 Pound, bagaimana?" Churchill coba melipatgandakan bayaran.
"Tidak bisa," jawabnya singkat.

Si Sopir masih tetap pada pendiriannya, tidak mau mengantar. Dia masih menganggap lebih bagus mendengar pidato Churchill daripada mengantar penumpang. Tawar-menawar pun hampir gagal mencapai kesepakatan. Churchill bahkan hampir menyerah. Tapi karena dia buru-buru ingin tiba di tempat dia akan menyampaikan pidato, dia tak peduli berapa pun harus membayar ongkos taxi.

"Bagaimana kalau saya bayar 50 pound? Saya pikir ini bayaran paling besar yang anda terima dengan jarak sekian." Sekali lagi Churchill merayu si Sopir. Si sopir sempat berpikir sejenak. Ada senyum di wajahnya. Dia pun meminta Churchill bergegas masuk ke dalam taxinya.

"Persetan dengan pidato Winston Churchill! Saya tak bisa mendapatkan Pound hanya dengan mendengar pidatonya. Ayo kita berangkat!" Taxi pun melaju kencang. Churchill duduk terdiam di dalamnya.

Kisah hidup bangsawan Inggris ini sangat menarik ditelusuri. Pada 1895 dia pergi ke Perang Kuba dalam perjuangan melepaskan diri dari Spanyol. Ketika bertugas di Kuba, dia bekerja sebagai reporter untuk Harian London Graphic. Ya, dia memang menyukai dunia tulis menulis. Bahkan ketika kehilangan posisi di pemerintahan ketika partainya, Partai Konservatif kalah dia memilih kembali ke dunia tulis-menulis sembari memantau situasi Jerman di bawah Adolf Hitler. Dia mampu menyelesaikan menulis buku sejarah berjudul A History of the English-Speaking Peoples. Buku yang mengungkapkan banyak kisah di balik kehidupannya.

Winston Churchill | BBC
Melihat sepakterjangnya dalam "The Battle of Britain" tak berlebihan jika Majalah TIME dua kali menobatkannya sebagai tokoh tahun ini: tahun 1940 dan 1949. Pada 10 Mei ketika ditunjuk sebagai Perdana Menteri pemerintahan perang koalisi untuk pertama kalinya, dia menyatakan dengan optimis akan meraih kemenangan dalam setiap perang yang diikutinya. "Tak ada yang bisa kutawarkan kecuali darah, kerja keras, air mata, dan keringat," katanya dalam pidato pertamanya sebagai Perdana Menteri.

Dia pun memimpin perang melawan Jerman dengan mengandalkan pasukan Royal Air Force (RAF) yang dia bentuk pada 1935 untuk Perjuangan Inggris (The Battle of Britain). Sekali pun memiliki jumlah terbatas, pasukan berani mati RAF terus menerus menghujani Jerman dengan bom dan berhasil memaksa Hitler menunda "Operasi Sealion" atau invasi terhadap Inggris melalui laut.

"Dia benar-benar telah memberikan janjinya kepada negara: darah, kerja keras, air mata, keringat dan satu lagi: keberanian yang tak terhingga," tulis Majalah TIME ketika menobatkannya sebagai tokoh tahun 1940.

Dunia memang berhutang budi kepada sosok yang dinobatkan sebagai 'the Greatest Living Briton' oleh Ratu Elizabeth dan Parlemen Inggris, sebab "jika pasukan Inggris dan Winston tak meraih 'waktu terbaik' di bulan terakhir tahun 1940 melawan invasi Adolf Hitler, dunia akan menjadi berbeda.

Tapi, kita juga tak boleh melupakan sisi gelap Winston Churchill, terutama soal kebijakannya terhadap India, pengeboman di kota-kota Jerman dalam Perang Dunia II yang menewaskan ribuan rakyat tak berdosa, kudeta di Iran, kontribusinya terhadap pengembangan persenjataan nuklir serta dukungannya terhadap negara Israel.

Saya kembali teringat pada sosok ini saat menonton film Free Fall. Ada satu kata-kata dia dikutip film tersebut seperti saya kutip di awal tulisan: Kesuksesan bukan akhir, kegagalan bukan bencana. [diolah dari beberapa sumber]