write. read. share

Saturday, March 28, 2015

Ketika Ahmadi Terjebak Narkoba

Perceraian orang tua membuat sang anak kehilangan sentuhan kasih sayang. Dunia malam dan narkoba jadi pelampiasan.
Ahmadi (bukan nama sebenarnya) memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahnya, Usman (bukan nama sebenarnya), seorang Kepala Desa yang cukup dihormati di kampungnya. Sedangkan ibunya sering terlibat dalam kegiatan majelis taklim dan PKK. Keluarga besar ini memiliki lima orang anak, tiga cowok dan dua cewek.
Selain menjabat Kepala Desa, Usman memiliki usaha sampingan. Dia punya 3 hektar tambak dan beberapa petak sawah. Selain itu, juga memiliki 3 unit traktor. Jika musim tanam tiba, traktor miliknya sering menggarap sawah warga. Bagi warga kurang mampu, ada keringanan. Ongkos bajak sawah tersebut boleh dibayar saat panen tiba. Kebutuhan pupuk juga disediakan dan harus dibayar seusai panen.
Dua anak lelakinya yang sudah dewasa menikah. Mereka hidup bahagia dengan keluarga masing-masing. Begitu juga dengan anak perempuannya, menikah dengan seorang pemuda yang dikenal cukup saleh di kampungnya. Suami anak perempuannya memiliki tambak dan beberapa hektar sawah. Sejauh ini, kehidupan mereka rukun-rukun saja.
Petaka itu mulai muncul ketika sang Ayah menikah lagi dengan wanita lain. Awalnya, anak mereka menentang perkawinan tersebut. Mereka beralasan, sejauh ini hubungan orang tuanya rukun-rukun saja. Hidup mereka juga berkecukupan. Tapi protes anak-anaknya tersebut tak menghalangi niat sang Ayah untuk tetap beristri dua.
Sejak itu, kehidupan kehidupan mereka mulai kacau dan berantakan. Beberapa kali warga mendengar percekcokan di antara keluarga yang dulu sangat dihormati di kampung itu. Tapi, pertengkaran kecil itu tak sampai membuat perkawinan dengan istri pertama bubar. Mereka masih hidup bersama, sekalipun sang Ayah mulai sering pulang ke rumah istri muda.
Akibat perkawinan kedua Ayahnya, dua anaknya (satu cowok dan satu cewek) mulai merasakan berkurangnya perhatian sang Ayah untuk mereka. Jika dulu, semua kebutuhan sekolah dan uang jajan terpenuhi. Tapi kini uang jajan mulai berkurang. Kebutuhan dana untuk membeli keperluan sekolah, seperti buku, mulai tersendat-sendat. Malah, anak perempuannya meminta dibelikan satu unit sepeda motor untuk ke sekolah juga tak dipenuhi.. Hubungan anak dan sang Ayah menjadi renggang.
Anaknya yang cowok sudah mulai jarang menginap di rumah. Dia sering tidur di Meunasah atau di pos jaga. Bahkan dia mulai sering menginap di rumah teman sekolahnya. Pergaulan dia semakin luas. Apalagi, dia juga sering berkumpul dengan teman-teman bermain bola voli.
Di sinilah dia mulai berkenalan dengan ganja. Mereka sering menghisap ganja di rangkang tambak atau di pinggir sawah. Dia pun mulai sering bergaul dengan kalangan orang dewasa di kampungnya yang juga sering menghisap ganja. Awalnya hanya sekadar kumpul-kumpul. Lama-lama dia pun mulai mencoba narkoba jenis lain yang masuk ke kampungnya sejak dua tahun terakhir.
Awalnya, dia memperoleh ganja itu secara cuma-cuma. Apalagi dia sering diminta bantu membeli rokok. Belakangan, karena ketagihan, dia pun sudah mulai membeli sendiri. Tak ada lagi ganja gratis yang bisa dinikmati olehnya. Untung soal uang, dia tak bermasalah. Dia bisa minta sama orang tuanya. Jika pun tak dikasih, dia masih bisa mencuri padi yang disimpan di rumah.
Waktu minta uang sama orang tua, dia berdalih untuk bayar iuran bulanan sekolah, membayar uang di balai pengajian atau biaya untuk berlatih bola voli. Segala macam alasan digunakan saat meminta uang dari Ayahnya. Ada yang berhasil, tapi sering juga tak dikasih.
Sementara rumah tangga orang tuanya di ambang kehancuran. Ayah dan ibunya beberapa kali terlibat pertengkaran kecil dan besar. Rumah tangga yang harmonis, bahagia dan damai seperti dulu sudah tak ada lagi. Tak ada lagi suasana kekeluargaan di meja makan.
Kehidupan rumah tangga orang tuanya yang dibangun selama lebih 20 tahun itu berakhir sudah. Karena tak ada lagi titik temu, Ayah dan ibunya memilih berpisah. Mereka bercerai. Sejak itu, Ayahnya sudah jarang pulang. Lebih sering berada di rumah istri mudanya. Apalagi, dari istri muda itu, Ayahnya punya dua anak kecil.
Ibunya sudah sering sakit-sakitan. Dia hidup seperti orang kehilangan arah, dan jarang terlibat dalam kegiatan PKK atau majelis taklim. Karena sakitnya kian memburuk, dia jadi lebih sering beristirahat di rumah. Dari hari ke hari, kondisi tubuhnya melemah dan kehilangan gairah. Entah beban hidup yang kian berat atau kondisinya anaknya yang sudah tak terkontrol. Lama menderita sakit, sang ibu pun menghadap Allah.
Sejak ibunya meninggal, Ahmadi bukannya berubah. Padahal, semasa hidupnya, sang Ibulah yang sering menasehatinya agar kembali ke jalan yang benar, tidak menghisap ganja apalagi narkoba. Kini Ibunya telah tiada. Kehidupannya benar-benar kacau. Dia mulai membeli narkoba seperti sabu dan heroin. Kalau tidak ada uang, sesekali dia mencuri barang yang ada di rumah dan dijualnya. Yang penting bisa membeli barang haram itu.
Perubahan sikap mulai terlihat. Dia tak pernah lagi ikut pengajian. Bawaannya mudah marah, bahkan sering bicara sendiri. Hubungan dengan kakaknya juga tak lagi baik. Bahkan, dia beberapa kali terlibat pertengkaran kecil dengan suami kakaknya. Setiap hari ada saja kasus yang membuat hubungan mereka renggang. Mulai dari soal telat pulang, soal makanan hingga saling sindir. Suatu hari, dia ambil sepeda miliknya suami kakaknya. Karena tak minta izin, saat pulang dia disemprot oleh suami kakaknya. Suami kakaknya takut sepeda itu akan dijualnya seperti kejadian yang sudah-sudah. Nyaris saja mereka bertengkar kalau tak dilerai oleh tetangga. Karena marah, Ahmadi menghancurkan sepeda itu dengan cara memotong bannya serta membanting sepeda dengan keras hingga rusak parah.
Sementara adiknya, Nur, yang melanjutkan studi di sebuah akademi keperawatan juga sudah mulai jarang pulang ke rumah. Dia lebih sering menginap di tempat temannya di kota. Terakhir, dia menyewa kost sendiri di kota. Ini pula yang menjerumuskannya ke dunia malam. Awalnya, hanya nongkrong-nongkrong dengan teman-temannya di taman kota. Beberapa teman kampusnya sudah ada yang menggeluti kehidupan malam, seperti jadi wanita penghibur dan pemuas nafsu pria hidung belang. Alasannya macam-macam, seperti untuk mencukupi biaya kuliah, membeli pakaian atau gadget model terbaru.
Teman-teman kuliahnya juga sebagian sudah terlibat narkoba. Mereka awalnya hanya menemani Om-om mengisap narkoba di sebuah hotel. Lama-kelamaan, mereka pun jadi ikut-ikutan. Dari soal narkoba ini, si Nur, lalu terjebak dalam dunia esek-esek beraroma narkoba. Dia jadi lebih sering menginap di losmen ketimbang di kostnya. Biaya kuliah yang mahal serta ketergantungan pada barang haram itu membuatnya mengambil jalan pintas: menjual diri.
Orang di kampung tak ada yang tahu sepak-terjang anak Kepala Desa itu. Apalagi, tak ada tanda-tanda perubahan apapun pada dirinya. Hanya saja, fisiknya terus menyusut. Jika sebelumnya dia terlihat begitu sehat, maka sejak konsumsi narkoba serta terlibat sebagai wanita penghibur, daging di tubuhnya terus menyusut. Dia jadi sangat kurus.
Suatu hari, karena terlalu fly sehabis menghisap narkoba, dia tak menggunakan kondom ketika berhubungan dengan Om yang sering membooking. Akibatnya, hubungan badan itu berakibat fatal. Beberapa minggu kemudian dia merasa ada sesatu yang berubah di tubuhnya. Dia jadi telat haids. Bingung. Dia pun membeli alat tes kehamilan. Dia baru sadar bahwa di perutnya kini ada benih-benih janin. Dia hamil.
Tak hilang akal, dia ambil jalan pintas dengan menggugurkan kandungan itu pada seorang dukun anak di kecamatan lain. Sehingga tak ada seorang pun yang tahu bahwa dia pernah hamil. Anehnya, hal itu belum membuatnya sadar. Dia masih terjebak dalam dunia malam dan makin ketergantungan terhadap narkoba. Jika dulu, dia sering hisap bersama teman-temannya, kini kakaknya, Ahmadi, juga mulai ikut bergabung. Mereka saling berbagi barang haram itu.
Lama-lama, orang-orang di kampung mulai curiga. Apalagi, Ahmadi (kakanya) semakin sering bicara sendiri, teriak-teriak tengah malam. Di pos jaga dia kadang-kadang berlagak penceramah dan berceramah agama. Makin hari hidupnya semakin tak menentu. Dia seperti orang sakit. Orang seisi kampung tahu, dia memakai narkoba.
Ayahnya mulai sadar, bahwa anaknya terjebak dalam dunia hitam itu tak terlepas dari kurangnya kasih sayang. Dia tak ingin anaknya jadi orang gila benaran. Dia pun minta bantuan polisi untuk menangkap anaknya, apalagi membuat kegaduhan dalam sebuah rapat di Meunasah. Saat itulah dia ditangkap oleh polisi. Cuma semalam mendekam dalam sel Polsek, dia pun dibawa ke rumah sakit jiwa di Banda Aceh. Beruntung, dia belum gila benaran. Sehingga hanya dua minggu di rumah sakit jiwa itu, dia dijemput kembali oleh keluarganya. Dengan alasan berobat di pengobatan alternatif, dia dibawa ke sebuah pesantren. Selain bisa berobat, dia juga dapat memperdalam ilmu agama.
Berkat bantuan seorang Teungku, Ahmadi berangsung-angsur pulih dari penyakit gila yang dideritanya. Apalagi sejak di pesantren dia mulai jauh dari segala macam barang haram itu. Saat itulah dia sadar, bahwa narkoba hampir membuatnya gila permanen. Dia pun menyesal dan berniat memperbaiki keluarganya, terutama adiknya yang terlibat narkoba dan menjadi wanita malam.
Setahun setelah berada di pesantren, dia pulang ke kampung. Dia mulai mengontrol sepak-terjang adik perempuannya. Bahkan, suatu hari, dia dapati adiknya menghisap sabu di kamar rumah. Ahmadi marah dan memukul adik perempuannya itu. Dia baru berhenti setelah sang adik berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Sejak itu, kehidupan adiknya benar-benar berubah. Bahkan terakhir, dia menikah dengan pacarnya, tanpa mempersoalkan dia pernah hamil dan menggugurkan kandungannya.[]
Sumber: BNN Provinsi Aceh

Tuesday, March 10, 2015

Atjehpost, Kaum Kepentingan, dan Penari Telanjang

Kalau saya samakan Atjehpost.co dengan Sokrates, saya akan dicap mengada-ada. Kalau saya ibaratkan Atjehpost.co dengan penari telanjang, saya akan dicap kurang-ajar. Pilihan amannya, saya memilih menarik benang merahnya saja.

Sebagai pekerja media (lebih tepatnya blogger), saya terbilang terlambat tahu cerita ‘pamitnya’ atjehpost.co dari jagad persilatan media online di Aceh. Ketidaktahuan ini saya anggap wajar, karena atjehpost.co tak termasuk dalam situs berita yang wajib saya akses setiap hari. Saya lebih memilih Detiksport atau KompasTekno dan Twitter sebagai situs yang menggoda untuk saya buka tiap mengakses internet.

‘Pamitnya atjehpost.co’ saya tahu secara offline, dari cerita kawan-kawan saat pesta kuah beulangong di kawasan Angsa23. Awalnya setengah tak percaya. Bagaimana mungkin media yang sudah pernah mengumumkan tidak lagi terbit—kemudian kembali terbit—lagi-lagi membuat pengumuman serupa. Ini jelas tak masuk dalam akal sehat kita. Mengapa harakiri menjadi solusi terakhir bagi media online yang diklaim terbesar di Aceh ini terutama karena bermasalah dengan hukum?

Ada yang membuat saya lebih terkejut lagi. Seorang wartawan memberitahu saya, ada aparat Sat Reskrim bertanya padanya, kenapa para wartawan tidak demo atas masalah yang menimpa atjehpost, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya. “Biasanya, kalau terkait masalah media dan wartawan, kalian pasti akan langsung gelar demo. Tapi ini kenapa adem-adem saja?” kata si wartawan menirukan pertanyaan Sat Reskrim. Kawan saya ini memilih tak menjawab.

Di satu sisi kita prihatin dengan kasus yang menimpa atjehpost.co ini. Sebab ini akan jadi preseden buruk untuk media online lainnya. Para penguasa yang ingin membungkam media, cukup melaporkan media tersebut ke polisi, lalu media itu tutup dengan sendirinya. Setidaknya, kesan ini yang saya tangkap dari pesan yang ditulis awak atjehpost, “... kali ini atjehpost.co pamit untuk selamanya dari news portal online Aceh...”. Namun, di sisi lain, kita juga dapat belajar banyak hal dari masalah tersebut, terutama menjadi lebih dewasa, seperti ditulis dalam salam ‘pamit’ atjehpost, bahwa “perpisahan mungkin terdengar menakutkan, tetapi sebenarnya perpisahan akan mengajarkan banyak hal pada kita yang mengalaminya, bukan hanya tentang bagaimana menghargai keberadaan sesuatu sebelum hal tersebut menghilang melainkan juga tentang bagaimana menjadi dewasa.”

Jurnalisme itu tak semata-mata keahlian menulis dan mengolah berita serta berani menyiarkannya, karena jurnalisme juga menuntut kita berhati-hati memperlakukan informasi dan menggunakan sumber anonim dalam berita. Deborah Howell, redaktur Washington untuk jaringan suratkabar Newhouse, mengingatkan kita, bahwa dua aturan menggunakan sumber anonim. Pertama, jangan pernah menggunakan sumber anonim untuk memberi opini terhadap orang lain. Kedua, jangan pernah menggunakan sumber anonim sebagai kutipan pertama dalam tulisan. Inilah prinsip kehati-hatian yang perlu dipegang para wartawan dan jurnalis.

Kita akui, atjehpost memang tergolong berani terutama dalam menghajar Gubernur Zaini Abdullah, terlepas akurat-tidaknya pemberitaan mereka. Kita salut pada keberanian mereka untuk bersikap berbeda. Tapi, bagi saya ada pertanyaan yang belum terjawab. Apakah sikap atjehpost menyerang gubernur benar-benar berangkat dari keyakinan mereka sendiri (pilihan) atau yang mereka lakukan hanya menyuarakan kepentingan pihak lain? Bukan rahasia lagi, hubungan yang memburuk antara Gubenur Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakkir Manaf akhir-akhir ini berpengaruh besar pada sisi pemberitaan atjehpost, bahkan dalam beberapa kasus, pemberitaan atjehpost justru menambah runcing hubungan itu.

Ini sebenarnya lucu. Pasalnya, atjehpost merupakan media di balik suksesnya Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf menduduki tampuk kekuasaan di Aceh. Dalam kampanye Pilkada 2012 dan Pemilu 2014, kita hampir sulit mendapati berita yang menyerang Gubernur Zaini Abdullah secara vulgar. Malah, pemberitaan terkait mantan Menteri Luar Negeri GAM itu semuanya positif. Orang pun pasti bertanya-tanya, kenapa begitu cepat opini atjehpost terhadap Zaini berubah?

Mantan Gubernur Irwandi Yusuf dalam salah satu status facebook-nya sempat menyinggung soal kecenderungan pemberitaan atjehpost dalam menghajar gubernur Zaini. Irwandi mempertanyakan, kenapa atjehpost hampir tak pernah menyerang Mualem (Muzakkir Manaf). Cut Farah Meutia, juga pernah menyinggung hal serupa.

Kalau memang apa yang dilakukan awak atjehpost dalam menghajar zaini berangkat dari keyakinan mereka sendiri, menurut saya, lebih elok jika mereka memilih terus melawan dan mempertahankan apa yang mereka yakini benar itu sampai di ruang pengadilan. Jika nanti vonis hakim menyatakan mereka bersalah, mereka perlu tetap pada pendiriannya, seperti prinsip Socrates. Filsuf Yunani itu memilih meminum racun daripada mengubah pendirian. Kalau atjehpost memilih harakiri dalam kondisi begini, efek dramatisnya pasti luar biasa.

Kaum kepentingan
Kita hidup di zaman tsunami informasi. Informasi menyerbu kita melalui berbagai saluran. Belum selesai berita yang satu kita lahap, mata kita sudah melihat berita lain. Semua datang berbarengan, kita sampai tak sempat tarik nafas. Jika tak pandai-pandai, sungguh kita akan menjadi korban. Sebab, di zaman tsunami informasi begini, bukan perkara mudah membedakan antara fakta dan fitnah, antara berita dan iklan, serta antara yang benar-benar berita dengan sekadar hoax belaka.

Menjalani hidup dalam kondisi begitu, ada baiknya kita mendengar lagi peringatan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang mereka tulis dalam Blur, sehingga kita menjadi lebih berhati-hati. Sebab, tak selamanya informasi yang kita baca, kita lihat dan dengar adalah semata-mata informasi/berita, melainkan banyak di antaranya hanya informasi berkedok. Jangan-jangan yang kita sangka berita sebenarnya hanya propaganda, iklan terselubung, semata-mata hiburan atau informasi mentah yang belum terkonfirmasi dan wartawan/penulis cukup bersembunyi di bawah kalimat, “telepon tidak diangkat”, “pesan singkah tidak dibalas”, atau “handphonenya tidak aktif”, dan banyak lagi.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel mengingatkan kita untuk lebih mengenali konten seperti apa yang ingin kita lahap di era tsunami informasi begini, di tengah kultur media yang terbuka dan campur-aduk, karena “label informasi seringkali menipu ketimbang mencerahkan.”

Mereka mengindentifikasi, ada empat model jurnalisme yang sering kita temui belakangan ini. Pertama, jurnalisme verifikasi. Ini adalah model tradisional yang menempatkan nilai tertinggi pada akurasi dan konteks. Soal ini, kita harus belajar pada sosok Rick Meyer dari Los Angeles Times. Dia selalu memisahkan fakta dan wawancara ke dalam kertas kecil yang mirip kartu catatan dan mengaturnya di lantai. Inilah yang oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam Element of Journalism disebut sebagai contoh dari disiplin verifikasi.

Atau kita dapat belajar dari Tom French dari St. Petersburg Times. Pemenang hadih pulitzer 1999 untuk penulisan feature tentang orang yang mengidap HIV/AIDS ini dikenal dengan warna pencilnya yang berbeda-beda dalam memverifikasi fakta yang ada dalam setiap tulisannya. Sebelum menyerahkan tulisannya ke editor, Tom French mengambil salinan tercetak dan meneliti tulisan itu baris per baris dengan pencil berwarna, menorehkan tanda centang pada tiap fakta dan pernyataan di dalam tulisan. Ini akan mengingatkan dia untuk memeriksa ulang setiap fakta dan pernyataan.

Kedua, jurnalisme pernyataan. Ini model lebih baru yang meletakkan nilai tertinggi  pada kecepatan dan volume, dan karenanya cenderung jadi kanal informasi pasif.

Ketiga, jurnalisme pengukuhan. Ini sebuah media politik baru yang membangun loyalitas bukan pada akurasi, kelengkapan atau verifikasi melainkan mengafirmasi apa yang diyakini audiens, sehingga cenderung menjadi informasi menjemput bola demi tujuan itu.

Keempat, jurnalisme kaum kepentingan. Dalam model ini mencakup situs web atau karya, seringkali investigasi, yang biasanya didanai pihak khusus yang berkepentingan, dan bukan oleh institusi media, dan dikemas menyerupai media.

Cara menandai jurnalisme kaum kepentingan ini sangat gampang. Menurut Kovach dan Rosenstiel, dalam jurnalisme kaum kepentingan, berita yang disajikan bermuara satu titik atau kesimpulan sama yang diulang-ulang. “Jika semua beritanya mengatakan hal yang sama, maka berhati-hatilah,” kata Kovach mengingatkan.

Saat menulis posting ini, saya menyempatkan diri membaca berita atjehpost terkait Zaini Abdullah. Kesan yang saya tangkap, berita mereka bermuara pada satu titik: Zaini Abdullah diposisikan bersalah. Ini terlihat dalam beberapa berita, sekali pun menggunakan narasumber berbeda. Jangan-jangan, atjehpost belakangan ini sudah masuk dalam model jurnalisme kaum kepentingan! Saya berharap kesimpulan saya ini salah.

Penari telanjang
Pembaca atjehpost pasti kecewa saat mendapati portal kebanggaannya tak lagi terupdate dan memilih pamit untuk selamanya. Mereka yang termasuk dalam kategori pembaca berita-berita sensasional, pasti berharap atjehpost dapat muncul dalam nama lain. Ini sangat wajar, karena sebagai media yang pernah berhenti terbit dua kali, pasti suatu saat akan terbit lagi, mungkin dengan nama berbeda.

Saya terkesan dengan perumpamaan Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam The Element of Journalism tentang media yang mencerahkan dan media yang suka melebih-lebihkan serta kerap membuat sensasi. Mereka menyebutnya dengan prinsip Penari Telanjang dan Pemain Gitar.

Katanya, jika anda ingin menarik audiens, anda bisa pergi ke ujung jalan, copot pakaian, dan bertelanjanglah. Orang-orang pasti akan berbondong-bondong menonton aksi telanjang ini. Namun, lama-lama orang akan bosan, karena hanya melihat aksi itu-itu saja. Penarinya akan dicap orang tak bermoral atau kurang waras.

Bandingkan, misalnya, tulis Kovach, dengan orang yang bermain gitar. Pergi ke ujung jalan yang sama dan mainkan gitar. Awalnya mungkin yang mendengar anda tidak seberapa. Di hari pertama orang yang menonton pasti membuat anda kecewa, tapi di hari kedua pasti akan bertambah, ini juga sangat bergantung pada seberapa bagus anda memainkan gitar dan lagu-lagu yang anda bawakan. Jika anda bermain cantik dan lagu anda menarik, penonton akan semakin bertambah, tidak pernah berkurang. Kita juga tak perlu repot mencari penonton baru untuk menggantikan penonton yang bosan.

Diakui atau tidak, beberapa pemberitaan atjehpost lebih mirip prinsip penari telanjang, terutama terkait berita Gubernur Zaini Abdullah. Ini tak seluruhnya salah. Di era new media, banyak media online sudah ‘menuhankan’ trafik. Isi berita boleh biasa-biasa saja, tetapi judulnya harus menggoda. Trafik bagi media online kerap dikapitalisasi dengan perolehan dollar. Ah, sudah terlalu panjang saya mengoceh.

Sekali pun saya tak peduli dengan pemberitaan atjehpost, dan beberapa di antaranya tak sesuai dengan prinsip yang saya anut, sebagai blogger saya bersimpati kepada mereka. Seberat apapun masalah yang mereka hadapi, harakiri bukanlah solusi final.

Bacaan
1. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, Blur: Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi (Dewan Pers dan Pantau, 2012)
2. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, Sembilan Elemen Jurnalisme: Apa yang Seharusnya Diketahui Wartawan dan Diharapkan Publik (Pantau, 2006) 

Wednesday, March 4, 2015

Pentingnya Kesadaran Kebangsaan

Miris sekaligus malu. Dua kata ini cocok untuk menggambarkan betapa kecewanya kita terhadap apa yang terjadi di negeri ini beberapa bulan terakhir, terutama konflik terbuka Polri vs KPK. Miris karena kedua lembaga penegak hukum yang sama-sama memiliki kewajiban memberantas korupsi justru berseteru. Malu karena semua ini terjadi saat kita bersiap-siap menyongsong perubahan.

Andai para pendiri bangsa (founding fathers) hidup kembali dan menjadi saksi, mereka pasti akan menangis dan menjerit melihat apa yang sedang terjadi. Mereka akan sangat kecewa karena bangsa yang diperjuangkan dengan keringat dan darah ini belum sesuai dengan cita-cita mereka. Filosofi dan tujuan bernegara dibelokkan dan dibonsai.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Apakah karena jiwa kebangsaan kita sudah kering dan gagal memaknai kesadaran kebangsaan?

Semangat kebangsaan
Tiap tahun, bangsa ini tak pernah kurang dari 10 kali merenungi semangat dan pesan-pesan kebangsaan, dalam momen peringatan hari besar nasional. Kita selalu diingatkan tentang tujuan negara ini dibangun dan didirikan. Kita pun tak perlu lagi bertengkar bagaimana menerjemahkan tujuan bernegara itu, semuanya sudah tertulis di dalam konstitusi.

Di antara tujuan itu, misalnya, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Amanah para pendiri bangsa ini yang mesti kita wujudkan.

Amanah tersebut selalu diingatkan dalam setiap perayaan hari besar nasional. Dalam peringatan hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei, kita diajak merenungi kalau bangsa ini belum benar-benar bangkit apalagi mampu bersaing dengan bangsa lain. Sudah seharusnya kita berhenti menjadi benalu dan membebani bangsa ini dengan perilaku korup.

Melalui peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober, kita diingatkan bahwa kita satu bangsa. Nyatanya, elit justru gontok-gontokan seolah-olah bukan lagi sebagai satu bangsa. Rakyat Papua masih merasa anak tiri di Republik ini. Aceh juga belum benar-benar damai dalam arti sesungguhnya. Di banyak tempat masih muncul perasaan perbedaan perlakuan di antara sesama anak bangsa.

Bangsa ini tak pernah absen memperingati hari Pahlawan 10 November, namun kita sering kali gagal meneladani semangat kepahlawanan mereka yang sudah mengorbankan jiwa dan raga untuk berdirinya republik ini. Kita selalu saja terjebak dengan kepentingan jangka pendek, mementingkan kelompok, hidup bergelimang uang hasil korupsi, dan masih saja abai terhadap nasib anak bangsa.

Bangsa ini dengan rasa suka-cita luar biasa memperingati hari kemerdekaan tiap 17 Agustus, tapi gagal menangkap pesan kemerdekaan. Cita-cita kemerdekaan masih cukup jauh untuk dicapai. Padahal kita memiliki tanggung jawab untuk—meminjam ungkapan Anies Baswedan—“melunasi janji kemerdekaan.”

Kesadaran kebangsaan
Konflik yang terjadi antara Polri vs KPK hanya satu dari sekian banyak masalah kebangsaan, betapa sebagai bangsa kita gagal mewarisi semangat dari makna perayaan hari-hari besar nasional tersebut. Nilai-nilai luhur tersebut tak mampu merembesi dan memupuk kesadaran kebangsaan kita. Padahal, baik anggota Polri maupun KPK memiliki pengalaman dan semangat yang sama memaknai pesan-pesan kebangsaan melalui perayaan hari besar nasional.

Apa yang terjadi terhadap bangsa ini persis umpama ikan di air laut yang asin, tetapi tak pernah membuat rasa daging ikan menjadi asin. Sekali pun sudah hampir 70 tahun usia kemerdekaan, dan tak terhitung lagi bangsa ini memperingati setiap momen bersejarah, jiwa kebangsaan anak negeri masih kering. Kita sering kali lupa pada tujuan bernegara dan janji kemerdekaan sebagai pertanggungjawaban kita kepada para pejuang dan pendiri bangsa ini dan generasi mendatang.

Kenapa kesadaran berbangsa kita begitu rapuh? Karena kita lupa membumikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita hanya mampu menghafal secara fasih Pancasila dan preamble Undang-undang Dasar 1945, tapi tidak mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Akhirnya, secara perlahan-lahan kita menggiring bangsa ini ke jurang kehancuran, karena praktik korupsi dan pertikaian elit yang tak kunjung reda.

Kita ingin elit negeri ini merenungi kembali ajaran dari Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional. Di setiap momen peringatan hari Pendidikan Nasional, kita diingatkan agar jadi sosok yang mampu mendorong dari belakang (tut wuri handayani), mampu bersinergi membangun bersama masyarakat (ing madya mangun karso), dan selalu dapat memberi teladan (ing ngarso sung tulodho).

Namun, melihat konflik terbuka antara Polri vs KPK, yang terjadi justru kebalikannya. Sebagai sesama lembaga penegak hukum, lembaga-lembaga itu tak pernah saling mendorong dari belakang dan memperkuat satu-sama-lain; Polri dan KPK tak pernah dapat bersinergi dalam usaha penegakan hukum dan pemberantasan korupsi secara bersama-sama; dan lembaga-lembaga tersebut gagal memberi keteladanan bagi publik karena selalu bertengkar dalam urusan penegakan hukum.

Jangan berandai-andai dapat membangun masa depan negeri ini dengan menanam benci, dendam, dan saling menghancurkan. Saatnya kesadaran kebangsaan kita tumbuhkan. Kita tidak mengeramatkan lembaga seperti Polri, KPK atau penegak hukum lain dalam upaya pemberantasan korupsi. Satu lembaga tak pernah mampu mengemban amanah yang besar tersebut, dan lebih tak mampu lagi kalau antar lembaga itu saling sikut-sikutan. Mari semua berpikir demi kemaslahatan negeri ini.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini jadi bahan renungan bagi kita, untuk selalu menumbuhkan kesadaran kebangsaan. Jangan biarkan anak bangsa larut dalam galau dan risau. Keputusan Presiden Jokowi yang tak jadi melantik Budi Gunawan serta memberhentikan dua komisioner KPK menjadi awal yang baik mengharap keajaiban untuk negeri ini.

Atas alasan-alasan di atas, sudah seharusnya, kita bangsa Indonesia mensyukurinya. Bahwa, kita punya kesadaran kebangsaan yang tertanam kuat setiap merayakan momen bersejarah. Membumikan kesadaran kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebenarnya, itulah bentuk rasa syukur bangsa ini! []

Note: Tulisan ini diikutkan dalam Kompetisi Blog 'Catatan Cinta Kebangsaan' dengan tema 'Menyukuri Kebangsaan' yang dihelat Kebangsaan.org

Tuesday, February 17, 2015

Tips: Belajar Retorika dari Cicero

Sudah tak terhitung lagi, berapa kali saya menyampaikan pidato, memberi pelatihan atau berbicara di depan banyak orang. Namun, tetap saja ada tekanan yang saya rasakan saat menerima undangan memberi pelatihan. Saya selalu takut bahwa saya akan gagal dalam memberikan materi pelatihan. Ini sudah sering-kali saya alami, dan biasanya selalu berhasil saya lewati. Apa trik yang biasa saya lakukan?

Saya berlatih? Itu sudah pasti. Berlatih dapat meningkatkan kemampuan kita berbicara. Tapi biasanya yang saya lakukan adalah mempersiapkan diri memberi pidato pembuka atau menyampaikan materi untuk lima menit pertama. Saya biasanya mensiasatinya dengan sebuah cerita atau humor inspiratif. Pasalnya, jika waktu lima menit itu berhasil saya lewati, maka rasa percaya diri saya meningkat dan ujungnya penyampaian materi saya berakhir manis. Begitulah saya menguasai diri dan forum di mana saya memberikan ceramah atau pidato. Sederhana, bukan?

Apa yang saya rasakan ini sesuatu yang lumrah, bahkan pembicara berpengalaman sekali pun pernah mengalaminya. Dalam kajian retorika atau speech communication, hal ini disebut dengan kecemasan berkomunikasi (communication apprehension). Begitu mengalami kecemasan berkomunikasi, anda akan kehilangan kepercayaan diri dan menurunkan kredibilitas kita di mata audiens.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Retorika Modern (Februari, 2006) menyebutkan, untuk menyampaikan pidato yang lebih efektif, kita tidak hanya memerlukan kepercayaan diri dan kredibilitas, melainkan juga ketrampilan. Seorang penulis besar, cerita Kang Jalal, pernah diundang memberikan ceramah di depan mahasiswa. Di depan mimbar, dengan tenang dia memasang kacamata dan membuka makalahnya. Sesudah itu, ia terus-menerus membaca makalah. Ketika ia mengangkat kepalanya, sebagian besar hadirin sudah meninggalkan ruangan, tanpa sepengetahuan dia. “Penulis itu memiliki kepercayaan diri dan kredibilitas, tetapi tidak memiliki ketrampilan menyampaikan,” tulisnya. Menurutnya, ketrampilan berbicara akan kita dapatkan dengan berlatih terus-menerus.

Dulu, di zaman Romawi dan Yunani kuno, orang-orang yang ingin berlatih pidato atau retorika, biasanya mengasingkan diri ke gua, di pinggir laut atau di puncak gunung. Mereka berlatih berbicara dan melatih vocal dengan berbagai cara. Tak ada orang yang mendengarkan. Mereka dapat berbicara dengan bebas, mengatur irama dan kekuatan suara. Kalau hal ini dilakukan sekarang pasti akan dianggap gila. Kita bisa mensiasatinya dengan berlatih bicara di depan cermin [kalau mengganggu tetangga, juga akan dianggap orang gila].

Dewasa ini, sudah cukup banyak media untuk belajar berbicara dan retorika. Ada banyak lembaga pendidikan (sekolah) atau kursus yang fokus pada peningkatan kemampuan berbicara. Kita bisa belajar di sana. Kita pun bisa mempelajari gaya berbicara atau cara memberikan presentasi yang efektif di Youtube. Kita dapat mempelajari teknik berbicara Steve Jobs atau Larry King. Kita bisa meniru cara mereka menyampaikan pidato atau teknik mereka berbicara. Saya termasuk rutin membuka situs Youtube untuk belajar cara presentasi yang efektif atau bagaimana kita bersikap dan beraksi di atas panggung.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi tips bagaimana Marcus Tullius Cicero berlatih menjadi seorang orator yang dihormati di masa Romawi Kuno. Cicero ini dikenal sebagai ahli retorika terbaik yang pernah dimiliki Romawi, memiliki kemampuan di atas Quintus Hortensius Hortalus atau Julius Ceasar. Hortensius, misalnya, dikenal sebagai penganut aliran retorika terkemuka masa itu dengan menguasasi metode Asiatik: gaya rumit dan berbunga-bunga, penuh frase angkuh dan irama berdenting, penyampaiannya disertai dengan mengayun-ayunkan tubuh dan berjalan mondar-mandir. Dalam novel Imperium karya Robert Harris disebutkan, Cicero mencari semua guru Hortensius untuk mempelajari kiat-kiat retorika yang digunakan Maestro Menari itu, seperti Menippus dari Stratonikeia, Dionysius dari Magnesia, Aeschylus dari Knidos, Xenocles dari Adramyttium.

Setelah merasa cukup menguasai metode Asiatik, Cicero pun ingin belajar lebih mendalam lagi tentang retorika di sekolah Apollonius Molon. Dalam novel Imperium, disebutkan, Molon adalah seorang pengacara bertubuh gempal yang berasal dari Alabanda, kerap membela para terdakwa di pengadilan-pengadilan Romawi dan pernah diundang berbicara di senat dalam bahasa Yunani, dan kemudian memilih pensiun ke pulau Rhodus dengan membuka sekolah retorika.

Metode retorika yang diajarkan di sekolah milik Molon ini berbeda dengan metode Asiatik. Teori retorika Molon sederhana saja: jangan terlalu banyak bergerak, tegakkan kepala, jangan menyimpang dari inti pembicaraan, buat mereka tertawa, buat mereka menangis, dan setelah kau memperoleh simpati mereka, duduklah cepat-cepat. “Tak ada yang mengering lebih cepat daripada air mata,” kata Molon. [Imperium: 18]

Hal pertama yang dilakukan oleh Molon untuk meningkatkan kemampuan berbicara Cicero adalah memberikan asupan gizi makanan yang cukup: semangkuk telur rebus dengan saus ikan bilis, lalu sepotong daging merah bakar plus susu kambing. “Buluh lemah tak mungkin bisa menyuarakan nada yang perkasa,” kata Molon. Selanjutnya, Molon memberi latihan fisik untuk Cicero. Menurutnya, berbicara di dalam forum itu sebanding dengan berlomba lari.

Setelah semua selesai, barulah Molon mengajari teknik latihan berpidato sesungguhnya. Dia mengajak Cicero keluar dari halaman yang teduh, memasuki terik siang hari, dan menyuruhnya membacakan bacaan latihan sambil berjalan mendaki bukit terjal tanpa jeda. Latihan ini bagus untuk melatih memperkuat paru-paru. Dari teknik ini, Cicero mempelajari cara mengucapkan jumlah kata maksimum dalam satu tarikan nafas. “Atur nada penyampaianmu di rentang tengah, di situlah letak kekuatan. Jangan terlalu tinggi atau terlalu rendah,” begitu Molon mengajarkan.

Selanjutnya, Molon membawa Cicero ke pantai berkerikil, dengan mengatur jarak tujuh puluh meter (jangkauan maksimum suara manusia). Molon meminta Cicero berpidato melawan debur dan desis lautan. Menurut Molon, suara tersebut yang paling mendekati gumam tiga ribu orang di ruang terbuka atau dengung latar beberapa ratus orang yang bercakap-cakap dalam senat. “Bagaimana dengan isi pidatoku?” tanya Cicero. “Aku tak peduli soal isi. Ingat Demosthenes: ‘hanya ada tiga hal yang penting dalam oratoria. Penyampaian, penyampaian, dan sekali lagi penyampaian,’” jawabnya.

Lalu bagaimana dengan gagap? Menurut Molon, gagap tidak pernah mengganggu dirinya berbicara. “Sungguh kegagapan malah menambah daya tarik dan kesan jujur yang menguntungkan,” katanya. Demosthenes sendiri, kata Molon, bahkan sedikit cadel kalau berbicara, namun hal itu justru membuat pendengar akrab dengannya. “Yang membosankan hanyalah kesempurnaan,” jelasnya.

Begitulah, Cicero berlatih berpidato dan retorika. Di kemudian hari, Cicero dikenal sebagai ahli retorika. Kita pun bisa belajar teknik seperti yang dipelajari dari gurunya, Molon. Kemampuan bicara akan memberi banyak keuntungan untuk kita. Kita hanya cukup jago menulis, melainkan juga berbicara. Kedua kemampuan ini harus seimbang jika ingin menjadi pembicara dan penulis sukses. Sebab, keduanya saling terkait satu-sama lain. Jangan sampai kita bernasib seperti penulis besar seperti dalam contoh di atas yang gagal dalam penyampaian. Ini tentu memalukan.

Yang perlu kita lakukan hanya berlatih dan mengamalkan setiap pengetahuan baru yang kita peroleh. Berlatih terus-menerus membuat kita semakin matang dan bijaksana. Nabi sendiri dalam sebuah hadist pernah bersabda, Barang siapa mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan mengajarkan ia apa yang tidak ia ketahui. Mudah-mudahan posting sederhana ini menginspirasi kita semua. [dari berbagai sumber]

Friday, February 13, 2015

Mojok dan Sertifikat Nakalnya

Sudah cukup lama saya menulis di blog ini. Setidaknya, sudah lebih 600-an artikel saya posting di sini. Tulisan-tulisan tersebut ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang terlampau serius. Saya menulisnya di kala senang maupun di kala susah. Ada yang memenangkan lomba menulis, banyak juga yang tidak memenangkan apa-apa. Tapi ada banyak tulisan yang saya tulis bukan karena lomba, melainkan murni panggilan jiwa. Apapun keuntungan yang saya terima, semuanya saya anggap bonus.

Dan, pada tahun 2015 ini, blog JUMPUENG mendapat predikat 10 blog paling Mojok banget: sedikit nakal banyak akal. Saya bersyukur kalau tulisan-tulisan saya di blog ini bisa menginspirasi orang lain, karena untuk tujuan itulah saya menulis. Memang, tak selamanya tulisan kita mampu menginspirasi orang, karena ada juga tulisan-tulisan kita yang justru membuat orang marah. Kita harus selalu siap menerima apapun penilaian orang.

Banyak orang pasti bertanya-tanya, kenapa saya selalu konsisten menulis blog? Padahal, banyak orang mengeluh, menulis blog sama sekali tidak memiliki prospek dan terkesan hanya buang-buang waktu. Semua terpulang pada kita. Saya selalu percaya bahwa tak ada hal sia-sia jika kita mengerjakannya dengan segenap jiwa. Orang bijak pernah berkata, "kesuksesan sangat ditentukan oleh seberapa seriusnya kita melakukan sesuatu." Di luar itu, saya memang sudah sejak dulu senang menulis (apa saja), sekali pun saya tidak mendapatkan bayaran untuk itu. Ada kepuasan yang saya dapatkan begitu tulisan sudah mulai tayang di blog, di mana kepuasan itu tak bisa ditukar dengan uang. Saya pikir kepuasan itu hanya bisa dinikmati oleh para blogger yang sudah sampai pada taraf 'makrifat' [ini terlalu berlebihan mungkin]

Banyak blogger pemula ketika menggeluti dunia blogging memasang target muluk-muluk dengan menjadi blogger sukses dalam semalam. Apalagi, blogger sudah menjadi semacam profesi. Tapi, banyak dari blogger pemula itu berakhir kecewa, karena apa yang dibayangkan itu tak selalu sesuai dengan kenyataan. Memang banyak blogger sukses yang mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan juta rupiah dari hasil menulis blog, tapi tak sedikit pula yang tidak mendapatkan apa-apa. Semua sangat tergantung pada tujuan awal kita menulis blog. Saya sendiri belum boleh dibilang sebagai blogger sukses, karena belum mampu menghasilkan uang dari blog ini, kecuali uang recehan: dari iklan per klik atau hasil memenangkan lomba. Kalau dipikir-pikir, jumlah tersebut tak seberapa. Kalau tujuan awal saya menulis blog untuk mendapatkan uang, pasti saya sudah menyerah sekarang ketika mendapati fakta bahwa blog saya belum mampu menjadi tambang uang. Tapi, saya menulis blog semata-mata untuk merawat ingatan, dan blog menjadi tempat saya menyimpan pikiran-pikiran saya.

Kalau boleh jujur, sudah banyak keuntungan yang saya peroleh dari blog JUMPUENG ini: ada dalam bentuk uang, ada dalam bentuk barang. Dalam bentuk uang, misalnya, saya menerima pembayaran dari pemasangan iklan per klik, dari jobs review, dari uang hadiah lomba menulis. Dalam bentuk barang, misalnya, saya menerima gadget, baju dan buku. Tapi, di luar itu, ada sesuatu yang saya peroleh dan sama sekali tak bisa diukur dengan uang maupun barang. Apakah itu? Orang sering menyebutnya: personal branding. Saya selalu meyakini nama kita adalah sebuah merek. Baik-buruk nama kita sangat tergantung bagaimana kita melakukan pemasaran. Dan melalui blog inilah saya menjual nama saya. Inilah yang sudah saya dapatkan, sekali pun belum maksimal.

Oh ya, setelah blog JUMPUENG ini masuk dalam 10 besar blog paling MOJOK banget, saya menerima kiriman dua buku bagus: What the Dog Saw karya Malcolm Gladwell dan Mengantar dari Luar karya Puthut EA. Selain buku, saya juga dikirim sticker Mojok dan satu sertifikat. Saya senang bukan main. Sebelumnya saya tak begitu peduli dengan sertifikat. Tapi karena ada rencana ingin mendaftar beasiswa, saya jadi senang mengumpulkan sertifikat. Pasalnya, sertifikat atau penghargaan jadi semacam portofolio untuk menaikkan nilai-tambah kita. Saya begitu sedih mendapati diri saya tak punya penghargaan apapun, sekali pun sering menerima penghargaan dalam bentuk sertifikat.

Jadi, dengan kiriman sertifikat dari MOJOK.co, sebuah situs yang belakangan sangat digandrungi pembaca karena isinya menggelitik, nyeleneh dan usil atau sesuai tagline-nya: sedikit nakal banyak akal. Saya sampai berpikir, kalau nanti jadi memasukkan aplikasi beasiswa, saya akan memasukkan sertifikat dari MOJOK.co, sebagai sebuah penghargaan yang pernah saya terima. Tapi, sialnya, begitu saya memandang lagi sertifikat yang saya taruh di atas kulkas, saya terkejut bukan main. Pasalnya, sertifikat itu lahir prematur: tanggal yang tertera di sertifikat masih jauh, 27 Desember 2015. Padahal, penghargaan itu diberikan akhir 2014 atau awal 2015. Selain itu, tak seperti sertifikat lain yang ada tanda-tangan si pemberi, sertifikat yang diberikan oleh MOJOK.co tak ada tanda-tangan pemimpin redaksinya, sekali pun ada namanya. Ruang di tempat yang seharusnya ditandatangani, dibiarkan kosong. Saya jadi berpikir, jangan-jangan ini sertifikat kawe-kawean.

Hanya satu komentar yang keluar dari mulut saya: Mojok.co benar-benar sedikit nakal banyak akal. Tapi, saya berterima kasih banget untuk kru MOJOK.co atas penghargaan dan hadiah yang luar biasa tersebut. Mudah-mudahan, buku kirimannya segera selesai saya baca. [] 

Saturday, January 31, 2015

Boleh Tak Merdeka Asal Bermartabat!

Bicara tentang Aceh terasa hambar kalau tak melibatkan sosok Teungku Hasan di Tiro, nama yang begitu menggemparkan Aceh (dan Indonesia) suatu masa. Ya, dia adalah ideolog Aceh Merdeka paling populer, mungkin melebihi gurunya, Teungku Muhammad Daud Beureu’eh. Terlepas bagaimana sosok dia di mata orang, dia tetaplah orang yang memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah Aceh. Apa yang terjadi di Aceh hari-hari ini tak terlepas dari peran dia. Pengikut-pengikutnya yang kini memegang tampuk pemerintahan di Aceh merupakan kader-kader yang dulunya bersama-sama berjuang bersama dia maupun yang terpengaruh dengan perjuangannya.

Orang boleh saja memiliki pandangan negatif tentang sosok Hasan Tiro, meski banyak dari mereka mengagumi konsistensi dan pengorbanan dia, terutama dalam mewujudkan mimpi Aceh Merdeka. Sampai ajal menjemputnya, sosok yang pernah dianggap ‘pembual’ oleh Jakarta (dan oleh orang-orang yang tidak senang dengan perjuangannya) ini tak mampu mewujudkan mimpi yang dulu begitu sering dia sampaikan ke pengikutnya: di hutan, di pengasingan, maupun dalam karya-karya yang sempat kita baca sampai hari ini.

Saya sendiri sudah sejak lama mengakrabi karya-karya dia seperti Price of Freedom, Perkara dan Alasan, Aceh bak Mata Donya, Masa Depan Dunia Melayu dan lain-lain. Tulisan-tulisan itu plus pidato-pidato yang dulu begitu sering diputar dalam ceramah-ceramah Aceh Merdeka secara terbatas, kita seperti diajak untuk ikut serta berjuang bersama-sama dalam barisannya. Sekali pun saya tak pernah berjumpa secara langsung dengan penulis Demokrasi untuk Indonesia ini, saya bisa merasakan bagaimana berpengaruhnya dia bagi masyarakat Aceh, termasuk yang tak mendukungnya sekali pun.

Bahkan, kalau mau bicara jujur, orang yang menyebutnya pembual sekali pun, hari-hari ini begitu menikmati hasil perjuangan dia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ya, memang seorang tokoh selalu dan selalu memiliki sisi yang berbeda. Secara sempit, orang-orang memandang seorang tokoh dengan dua sudut berbeda: menganggapnya pahlawan, dan tak sedikit juga yang menganggapnya pecundang bahkan pembual, seperti yang kita saksikan hari-hari ini di Aceh. Kita pun menjadi sulit membedakan mana pahlawan dan mana pecundang, karena mereka selalu hadir secara bersamaan. Bahkan orang yang menyebut Hasan Tiro seorang pembual pun kini menyadari bualannya keliru.

Tapi, terlepas apapun pandangan orang, Hasan Tiro telah meletakkan fondasi kokoh bagi Aceh, sekali pun dia merumuskannya hingga selesai. Kenapa? Seandainya Aceh jadi merdeka, kita pasti akan bertengkar satu sama lain tentang bentuk negara, lagu kebangsaan atau pun sistem pemerintahan, persis seperti debat soal bendera yang tak selesai-selesai. Namun, kita tak boleh kehilangan harapan, sebab para pengikutnya yang kini memegang tampuk pemerintahan di Aceh dan di kabupaten kota punya beban berat mewujudkan Aceh yang bermartabat, sekali pun tak merdeka. Sebab, sudah cukup banyak pengorbanan rakyat Aceh untuk sebuah mimpi merdeka. Rakyat Aceh hanya ingin memastikan, bagaimana nasib tujuh neudeuk/meuneumat bansa Aceh yang dulu begitu sering kita dengar dalam ceramah-ceramah Aceh Merdeka maupun dalam buku-buku Hasan Tiro yang sempat kita baca.

Pemimpin-pemimpin di Aceh, saya kira, jangan lagi menargetkan sesuatu yang muluk-muluk apalagi sampai menginginkan Aceh seperti Singapura, Hongkong, Swedia atau negara Skandinavia lain yang selama ini menjadi tempat bermukin para pengikut Hasan Tiro. Karena, kalau ingin realistis, dengan mewujudkan tujuh meuneumat bansa Aceh seperti pernah digariskan Hasan Tiro saja sudah lebih dari cukup. Jika mereka lupa dengan tujuh meuneumat itu, saya ingin mengingatkan lagi. Saya maklumi, masing-masing kita punya ingatan pendek sehingga muda lupa, tapi selalu ada dokumen yang tercatat rapi. Kita hanya perlu membukanya lagi.

Inilah Tujuh Neuduk/Meuneumat Bansa Aceh
1. Peudong Deelat Allah
2. Peuseulamat bansa Aceh donja akhirat
3. Peudong Adat bak Poeteumeureuhom, Hukom bak Sjiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Panglima, Bintara dan Laksamana
4. Seutot rauh indatu
5. Peu-ek bendera jang meutanoh mirah bintang buleuen di teungoh/ Peu-ek bendera bintang buleun meutanoh mirah
6. Han tateurimong peurintah seulaen bansa droe teuh bansa Atjeh
7. Peugoet hubungan lua Neugara lagee ka geupeugoet le endatu awai.

Saya percaya, jika tujuh meuneumat itu benar-benar dapat diwujudkan di Aceh, maka Aceh akan kembali memperoleh martabat sekali pun Aceh tak merdeka. Sebab, dengan meuneumat itu pula sebenarnya Aceh sudah benar-benar berdaulat. Tapi, siapa yang peduli dengan meuneumat usang itu ketika uang dengan derasnya mengalir ke Aceh. Maka benarlah kata kawan saya, “merdeka ka ie raya ba.” []

Catatan:
Neuduek/Meuneumat: Ideologi/Pegangan

Tuesday, January 27, 2015

Nelayan Kampung Jawa dan Doa Kematian

Belakangan, saya rutin menghabiskan waktu berjam-jam melihat orang tarik pukat dan para pemancing di pantai Kampung Jawa, Kutaraja, Banda Aceh. Ada kesenangan melihat tingkah polah mereka. Sesekali saya mengabadikan momen tarik pukat dan para pemancing itu dengan kamera handphone (maklum bukan photographer). Pikiran saya seperti terbuka, layaknya hamparan lautan luas yang terhidang di hadapan saya.

Seringnya saya menyambangi pantai Kampung Jawa itu, saya pun jadi hafal seperti apa tingkah polah para nelayan maupun pemancing yang sering mencari ikan di sana. Para nelayan, misalnya, di sela mengisi kekosongan waktu, mereka kerap bermain batu domino di rangkang yang mereka buat untuk berteduh. Saya yakin, mereka secara sengaja menyiapkan batu domino untuk mereka bermain demi mengusir suntuk. Sebab, tak selalu ada kawanan ikan terkurung dalam pukat mereka, sekali pun mereka sudah menunggu kawanan ikan itu di tengah terik matahari yang membakar kulit. Dapat dibayangkan betapa lelahnya mereka.

Ketika menyambangi rangkang tempat mereka biasanya berteduh, saya dapati sosok yang rata-rata memang dapat dibilang berumur (untuk tidak menyebut sudah tua). Tapi, jangan ragukan kekuatan fisik mereka. Tubuh mereka berotot dengan warna kulit hitam legam terbakar terik matahari. Dari tampilan fisik saja, kita langsung sepakat kalau mereka adalah pribadi-pribadi kuat. Hanya dua-tiga orang saja yang masih tergolong muda. Tapi, umur tak menghalangi mereka saling bercanda, dan kadang-kadang di luar batas kewajaran. Mereka memang tak begitu peduli wibawa atau tata krama, karena hubungan mereka sudah selayaknya sebuah keluarga. Mereka pun sering berbicara satu sama lain dengan volume suara besar dan cenderung kasar, khas masyarakat pesisir.

Di atas rangkang, empat lelaki berumur, duduk melingkar, mengelilingi papan tebal seluas meja di cafe. Di atas papan itu, batu domino tersusun rapi, mengikuti angka serupa yang tercetak di atasnya. Saya lihat, ada dua nelayan memasang tali besar (tali kapal) di leher mereka yang diikat beberapa barang bekas, seperti pelampung, botol aqua dan jaring bekas seukuran jambul pengantin wanita. Mereka tidak sedang bermain sandiwara, melainkan begitulah hukuman karena kalah bermain. Semakin sering mereka kalah, jumlah tali yang melingkari leher mereka makin banyak plus barang bekas yang diikat di tali itu. Mereka pun sering mengejek satu sama lain. Para pengunjung yang menyambangi rangkang itu sering tak dapat menahan senyum mereka. Benar-benar hiburan gratis di tengah terik matahari.

Hari itu, saya lupa persisnya hari apa, saya memilih duduk di rangkang itu, bukan di warkop di ujung persimpangan jalan. Saya ingin menikmati canda-canda mereka, sekaligus melihat bagaimana mereka memastikan keberadaan kawanan ikan di lautan.

“Itu, burung camar mendekat. Mereka menukik ke air menangkap ikan,” teriak lelaki hitam legam berusia 55 tahun. Di kalangan mereka, lelaki yang dipanggil ayah itu berposisi pawang.

Para nelayan pun memandang ke tengah lautan, mengikuti arah telunjuk sang pawang.

“Ya, ada beberapa kawanan ikan. Mungkin ada ikan besar,” sahut salah satu di antara mereka yang berpakaian tentara.

Sekali pun bukan kali itu saja saya melihat orang tarik pukat, tapi saya sendiri masih bingung bagaimana mereka memastikan ada kawanan ikan di dalam air bergelombang. Memang, keberadaan camar menjadi salah satu petunjuk bahwa di lokasi itu ada ikannya. Kalau burung camar silih berganti menukik ke air menangkap ikan, itu sudah cukup menjelaskan bahwa ikan-ikan sedang berkumpul dalam jumlah banyak (kawanan).

Namun, tingkah polah camar bukan satu-satunya petunjuk keberadaan ikan. Para nelayan itu juga menggunakan perubahan air laut di lokasi yang ada ikannya. Warnanya berubah menghitam dan berbeda dengan warna air di sekitarnya. Pasalnya, kata mereka, jika ada kawanan ikan warna air berubah mengikuti warna sisik ikan. Kalau warna kulit ikan kuning, airnya berubah menguning, begitu kalau sisik ikan berwarna putih perak maka ada kilauan di dalam air yang berbeda dengan kilauan karena pantulan cahaya matahari atau gelombang laut.

Jika petunjuk-petunjuk itu terlihat, mereka pun mulai bersiap-siap dekat perahu. Kita pun akan mendengar teriakan kelompok nelayan saling memanggil temannya agar merapat. Para nelayan yang asik bermain domino atau minum kopi di warkop, akan berlarian ke arah boat dan siap-siap mendorongnya ke dalam air. Dua atau tiga orang kemudian loncat ke dalam perahu dan mengayuhnya mengurung kawanan ikan yang terlihat tadi. Kalau tiba-tiba kawanan ikan itu menghilang, mereka memilih berhenti sejenak dan menunggu informasi dari nelayan yang ada di darat. Begitulah mereka bermain ‘petak-umpet’ dengan ikan. Banyak yang sukses dengan hasil tangkapan melimpah-ruah, tapi tak jarang pula mereka mendapati pukat kosong karena tak ada ikan yang ‘nyangkut’.

Hari itu, kebetulan saya mengajak Fauzan Matang, seorang developer website cum blogger melihat aktivitas para nelayan di Kampung Jawa. Fauzan senang bukan kepalang. Dia seperti baru melihat pemandangan aneh dan lucu dalam hidupnya. Maklum, kepada pawang yang berada di rangkang itu, Fauzan mengaku sudah setahun tak pergi ke laut. Saya sendiri meragukan keterangan Fauzan. Ketika pawang dan beberapa nelayan sibuk menunjuk-nunjuk ke tengah laut, mengabarkan bahwa ada kawanan ikan, Fauzan tercengang tak percaya.

“Bagaimana mereka tahu ada ikan di dalam air? Saya kok tak bisa melihatnya?” Fauzan penasaran. Saya yang berada di samping Fauzan memberi tahu, bahwa jika ada kawanan camar yang mendekat dan menukik ke dalam air, itu tandanya sedang ada kawanan ikan.

Sang pawang yang duduk di pojok rangkang juga mencoba memberi tahu Fauzan, bahwa kalau ada kawanan ikan, warna air menjadi hitam atau mengikuti warna sisik ikan. Dia pun menunjuk ke tengah laut. Tapi, lelaki Matang berkaca-mata itu mengaku tak bisa melihatnya. “Kok tidak kelihatan ada ikannya?” Fauzan bersikap lugu.

“Kalau tidak bisa melihat, coba ambil ikan dan letakkan persis di depan mata, pasti kelihatan,” kata pawang sambil berlalu. Ada senyum mengembang dari wajahnya. Kami pun tertawa. Sebuah tawa yang tak dipaksa. Hehehe.

Saking asiknya melihat para nelayan bercengkrama sesama dan ikan hasil tangkapan, hari itu, saya jadi telat menyambangi warung kopi langganan. Online di warkop dan melihat orang tarik pukat memang hobi sampingan saya belakangan ini. Hari-hari saya terasa kosong kalau tidak sempat mengakses internet untuk satu jam saja.

Setelah memarkir sepmor, seperti biasa, saya mencari posisi duduk yang membelakangi dinding. Dalam hal online saya harus sedikit menjaga privacy. Selama online, saya tak selamanya cuma membalas tweet yang masuk, karena sesekali kalau suntuk saya membuka youtube dan nonton lagu. Tidak semua lagu dengan video klip sopan yang saya buka. Sering pula saya menonton lagu barat, kadang-kadang ada klip erotisnya. Pun begitu, saya juga senang menonton video klip lagu jadul. Dengan membelakangi dinding, saya berharap dapat menghindari tuduhan orang kalau saya 'gagal move on' karena masih saja menyukai lagu jadul semisal Asmara Novia Kolopaking atau Gambaran Cinta Inka Christie.

Saya yakin, kalian pasti menduga alasan itu cuma karangan saya belaka. Hati kecil kalian pasti mengatakan kalau saya sengaja memilih meja di sudut yang membelakangi dinding karena ingin menonton film esek-esek. Iya, kan? Hehehe, dasar piktor memang kalian. Tapi, jujur saya akui, saya duduk sengaja membelakangi dinding agar orang-orang tidak tahu apa yang sedang saya tulis. Kalau ada yang coba mengintip takutnya saya tak lagi fokus menulis. Selain itu, saya tak nyaman kalau misal ada intel melayu lewat saat saya menulis sesuatu yang kritis, atau orang-orang yang berseberangan pandangan dengan saya. Biarlah di dunia nyata saya jadi orang misterius, meski di dunia maya saya termasuk paling terbuka.

Jadi, setiba di warung kawasan Peunayong itu, saya langsung menuju kursi tempat biasa saya duduk yang kebetulan sedang kosong. Lega rasanya mendapati meja yang boleh dibilang sudah hak pakai saya. Tak jauh dari situ, di dekat meja sudut itu, saya lihat ada beberapa anak muda, seperti biasanya. Mereka asik menonton Youtube dan sebagian lagi ada yang bermain game. Mereka sudah terlalu sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan bermain game sepakbola.
Tapi, beberapa menit setelah saya membuka macbook, sayup-sayup saya mendengar obrolan mereka yang layak dibilang cang-panah itu, menyinggung soal Megawati, Surya Paloh dan Jokowi. Apa gerangan? Oh, rupanya sambil melihat rekan-rekannya bermain game, sebagian dari mereka lagi diskusi politik. Saya tangkap, mereka lagi kesal sama Megawati, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Pasalnya, menurut mereka, Mega terlalu mencampuri pemerintahan Jokowi, termasuk soal penetapan Budi Gunawan sebagai Calon Kapolri.

“Jokowi akan lebih aman dan bebas mewujudkan program-program pro rakyat kalau tidak ada Mega atau Paloh. Entah kapan dua orang ini mendapat surat dari Malaikat Izrail,” ucap lelaki kurus berambut gondrong, sambil tak lepas jari-jarinya dari layar smartphone besutan pabrik asal Korea.

“Chop, mana boleh berdoa tidak baik untuk orang. Kalau pun Tuhan mencabut nyawa Mega dan Paloh, kita harus mendoakan agar Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka. Selain itu, kita harus bersyukur karena salah satu 'penyakit' di seputar Jokowi menghilang,” timpal lelaki tambun berkaca-mata dengan mimik serius.

Mau tak mau, saya harus menoleh ke arah mereka. Pikiran saya tiba-tiba dipenuhi awan gelap. Au ah!

Friday, December 26, 2014

Arah Pembangunan Aceh Pascatsunami

Saya yakin bahwa tak semua masyarakat Aceh tahu bahwa daerah mereka merupakan salah satu provinsi dengan penerimaan pemerintah perkapita tertinggi di Indonesia. Mereka juga tidak tahu bahwa Pemerintah Aceh plus Kabupaten/Kota menerima dana Rp25,5 triliun pada tahun 2013. Mereka bahkan tidak peduli jika sejak tahun 2008 hingga akhir 2013 lalu, daerah mereka menerima lebih dari Rp100 triliun dana. Mereka pun tak tertarik membicarakan keberadaan Aceh yang menduduki peringkat ke-5 terkaya dari sisi penerimaan pemerintah sebesar Rp5,5 juta, padahal penerimaan rata-rata daerah lain hanya sebesar Rp4,2 juta.

Apa pentingnya angka-angka di atas ketika dihadapkan pada kondisi terkini, terutama perkembangan ‘sosial’ yang terjadi di kantor Gubernur Aceh tiap musim meugang tiba atau saat menagih bantuan proposal seperti terjadi 2013 lalu? Bayangkan ratusan orang rela berdesak-desakan, ‘mengemis’ serta menunggu berjam-jam untuk mendapatkan ‘bantuan proposal’ dari Pemerintah Aceh. Entah siapa yang ‘memprovokasi’ masyarakat untuk menagih ‘dana’ dari Pemerintah Aceh, kita tidak tahu pasti. Tapi fenomena tersebut menunjukkan ada yang salah dari visi pembangunan Aceh selama ini. Jelas bukan, bahwa angka-angka di atas menjadi tak bermakna!

Aceh boleh saja kaya dengan mengelola dana yang cukup besar, terutama setelah tsunami dan damai tercipta. Namun, di balik dana yang besar itu justru melahirkan masyarakat yang ‘sakit’ (secara sosial). Kejadian di kantor Gubernur, misalnya (termasuk juga fenomena tiap menjelang Meugang, Idul Fitri, dan Idul Adha), menunjukkan gejala ‘sakit’ kini mengidap di sebagian besar masyarakat Aceh. Budaya royal dengan membagi-bagi uang, yang sebelumnya dilakukan politisi menjelang Pemilu, kini dilakoni oleh Pemerintah, sekalipun itu tak dapat disebut kebijakan. Budaya ini jelas membuat masyarakat jadi ‘manja’ serta membuat mereka lupa bekerja, karena uang begitu mudahnya didapat: cukup bawa KTP atau proposal, mereka sudah bisa membawa pulang uang jutaan rupiah.

Lalu, bagaimana kita harus menjawab andai ada orang iseng-iseng bertanya: apa yang sudah berubah setelah 9 tahun usia perdamaian Aceh dan 10 tahun tsunami berlalu? Saya sendiri, terus-terang, akan menggelengkan kepala. Padahal, sekilas, ini hanya pertanyaan sederhana yang tak membutuhkan waktu berjam-jam memikirkan jawabannya. Tapi, saya yakin tak mudah menjawab pertanyaan ini, terutama setelah dihadapkan pada sejumlah fenomena seperti di atas. Soalnya, ada beragam soal yang harus kita bedah, mulai dari aspek politik, ekonomi, hukum, sosial, kesehatan, pendidikan, sumber daya alam, infrastruktur dan sebagainya. Masing-masing aspek itu tak dapat diurai secara terpisah, melainkan saling terkait satu-sama lain.

Kita boleh saja mengatakan bahwa kebebasan dalam bidang politik sudah jauh lebih baik di banding sebelumnya, tetapi tetap saja meninggalkan banyak pertanyaan susulan. Kita juga boleh menyebutkan bahwa akses ekonomi sekarang ini lebih mudah, tapi kembali dihadapkan pada pertanyaan lain: akses oleh dan untuk siapa? Begitu juga soal hukum, sosial, kesehatan, pendidikan, dan seterusnya. Tak ada jawaban paripurna untuk pertanyaan di atas. Artinya, memang tak mudah menjawab apalagi sekadar mengatakan sudah banyak hal yang sudah berubah setelah usia perdamaian menginjak 9 tahun atau setelah 10 tahun tsunami berlalu. Sebab, fakta sering menunjukkan keadaan sebaliknya, bukan?

Tak percaya? Silakan simak analisis Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP) tentang hasil analisis belanja hibah/bansos Aceh tahun 2013, di mana ternyata belanja hibah/bansos yang bertujuan untuk pemerataan dan azas persamaan ekonomi termasuk untuk meredam potensi konflik, belum mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Aceh secara riil. Padahal, kata peneliti PECAPP Renaldi Safriansyah, belanja tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007, misalnya, dana hibah/bansos Aceh hanya Rp159 miliar dan menjadi Rp1,3 triliun pada tahun 2011.  Sementara Tahun 2013, kata dia, menjadi Rp1,8 triliun, tujuh kali lipat dibanding 2007.

Kita boleh saja mendebat hasil analisis tersebut, terutama membandingkan kondisi ekonomi masyarakat (khususnya di perkotaan) yang lebih menggeliat di banding sebelumnya. Belum lagi jika kita menggunakan tolak ukur daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi, jumlah kendaraan bermotor maupun kondisi warung kopi yang selalu penuh. Tapi, apakah benar demikian? Bukankah itu hanya ‘kemewahan’ yang cuma dinikmati segelintir orang saja.

Namun, tunggu dulu. Kita tak boleh mendasarkan penilaian hanya berdasarkan fenomena semata, yang kerap sering menyembunyikan keadaan sebenarnya. Sebab, dari data terbaru Badan Pusat Statistik Aceh per 2 Juli 2012, misalnya, tentu membuat kita terkejut. Bayangkan, penduduk miskin di Aceh mencapai 909.040 jiwa pada Maret 2012 (19,5 persen), meningkat dibandingkan data per Maret 2011 sejumlah 894 ribu jiwa (acehkita, 2/7). Artinya, pemerintahan Aceh yang lahir pasca-perdamaian (juga tsunami) ternyata belum mampu mengurangi angka kemiskinan secara signifikan.

Tak berlebihan, kalau peneliti PECAPP mengatakan, bahwa belanja hibah dan bantuan sosial yang terus meningkat sama sekali tak berpengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan (belanjapublikaceh.org). Angka kemiskinan di Aceh yang sebesar 19,5 persen (2012) itu ternyata menempatkan Aceh di peringkat kelima secara nasional, yang memiliki rata-rata sebesar 11,9 persen. Sementara di tahun sebelumnya (2011), peringkat kemiskinan Aceh berada di posisi keenam secara nasional. Mencengangkan, bukan?

Lebih memiriskan lagi, ternyata, selain upaya percepatan kesejahteraan yang masih jalan di tempat, kita juga dihadapkan pada masalah sosial yang tak kalah penting: jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa di Aceh juga tinggi. Data dari Dinas Kesehatan Aceh tahun 2012, misalnya, menunjukkan bahwa jumlah penduduk Aceh yang mengalami gangguan jiwa mencapai 14,1 persen (dihitung dari total jumlah golongan usia 15 tahun ke atas). Bahkan, angka gangguan jiwa di Aceh ini berada di atas rata-rata nasional, yang hanya 11,6 persen. Kita tidak tahu apakah ada hubungannya antara tingkat kesejahteraan masyarakat yang rendah, dengan peningkatan jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa. Untuk yang satu ini perlu penelitian yang lebih mendalam lagi.

Apa yang harus dilakukan Aceh?
Kondisi seperti disinggung di atas jelas menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera mendapat perhatian dari Pemerintahan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf. Sisa dua tahun lebih masa pemerintahan perlu ‘dihibahkan’ untuk menuntaskan masalah tersebut, terutama pengentasan kemiskinan, pelayanan kesehatan yang lebih baik serta menjamin terpenuhinya hak anak atas pendidikan. Ini sejalan dengan target Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals atau MDGs) yang musti dicapai pada tahun 2015, di mana pemerintah Indonesia ikut menandangani Deklarasi Milenium tersebut pada Pertemuan Puncak di New York tahun 2000 silam.

Dari delapan target MDGs: menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, pendidikan dasar untuk semua; kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan; penurunan angka kematian anak; meningkatkan kesehatan ibu; memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan, saya kira Aceh cukup menuntaskan empat tujuan saja (target minimal), yaitu penurunan angka kemiskinan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu serta pendidikan.

Dengan dana Aceh yang cukup besar, saya kira target tersebut tak sulit digapai, asal saja pemerintah melakukan semua upaya-upaya tersebut secara terukur serta terkonsep jelas. Budaya bagi-bagi uang seperti tiap musim meugang dan Idul Fitri tiba sudah selayaknya dihindari. Pemerintah perlu menghidupkan sektor produktif masyarakat dengan mengembangkan konsep ekonomi kerakyatan, termasuk membenahi infrastruktur yang masih buruk.

Sementara penurunan angka kematian bayi menjadi mendesak, setelah kita disodorkan fakta yang menohok kita semua bahwa angka kematian bayi di Aceh selama 2013 lalu mencapai 1.034 bayi, lebih tinggi di banding tahun 2012 yang hanya 985 bayi. Anehnya, kematian tersebut rata-rata disebabkan oleh kekurangan gizi, baik saat janin masih di dalam kandungan maupun ketika bayi masih di bawah satu tahun. Angka ini sebenarnya tak mengherankan, karena ternyata berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2010, sebanyak 23,7 persen anak Aceh mengalami gizi buruk dan kurang gizi.

Di atas segalanya, kita harus selalu saling mengingatkan, bahwa perdamaian Aceh tak diraih dengan modal kosong, melainkan melibatkan nyawa dan darah, ditambah dengan penderitaan akibat gempa dan tsunami. Kejadian-kejadian memilukan hati tersebut harus menjadi ‘cambuk’ memajukan Aceh menjadi lebih baik. Rasa-rasanya penderitaan masyarakat Aceh di masa lalu tak perlu ditambah lagi dengan kesalahan mengurus Aceh, dalam arti Pemerintah Aceh tak memiliki visi mewujudkan kesejahteraan secara menyeluruh untuk aneuk nanggroe Aceh ini. Jika itu terjadi, kita semua memiliki ‘saham’ yang tak kecil menghancurkan kembali Aceh kesekian kalinya.

Jadi, setelah 10 tahun tsunami berlalu, masih cukup banyak pekerjaan rumah yang mesti dibenahi, dan pemerintah tidak boleh berpangku tangan! Wassalam
Note: tulisan ini pernah memenangkan juara III lomba penulisan PECAPP

Sulih.com

Blog Archive

Pojok Gampong

DMCA.com Protection Status

Google+ Followers