Welcome to JUMPUENG

Blog Aceh ini menyediakan tulisan tentang politik Aceh kontemporer.
Mintalah dengan harapan diberi. Jangan lagi meminta ketika tahu tidak diberi, tapi belajarlah merampas - kutipan

Smiley face

Tuesday, November 25, 2014

Winston Churchill dan Seorang Sopir Taxi


Kesuksesan bukan akhir, kegagalan bukan bencana - Winston Churchill.

Saya tidak ingat lagi di mana cerita berikut ini saya baca. Saya tidak tahu apakah cerita ini benar adanya atau hanya humor belaka. [kalau ada di antara pembaca yang tahu di mana cerita ini ditulis, saya mohon sudi kiranya membagi referensi tersebut dengan saya]. Tapi, itu sama sekali tak penting, karena pelajaran dari cerita ini saya kira yang penting direnungkan, bagaimana sosok paling populer di Inggris [juga dunia] sewaktu Perang Dunia II begitu rendah diri, dan mau bernegosiasi dengan seorang sopir. Saya pikir, beginilah seharusnya seorang pemimpin, tanpa membanggakan lakab jabatan demi memenuhi ambisinya.

Nama lengkapnya Winston Spencer Churchill. Pria flamboyant kelahiran 30 November 1874 di Istana Blenhiem, Oxfordshire, Inggris ini adalah pahlawan Inggris yang mengalahkan fasisme Eropa di Perang Dunia II. Sosok yang disapa Winnie oleh pengikutnya ini merupakan tokoh yang mengalahkan ambisi besar Hitler menguasai seluruh daratan Eropa. Namanya begitu dielu-elukan oleh rakyat Inggris. Pidato-pidatonya mampu membakar semangat massa untuk berperang mempertahankan tanah Inggris dari invasi tentara Hitler.

Suatu hari, dia keluar dari rumahnya. Dia hendak ke kantor untuk memberikan sebuah pidato. Pidato yang begitu ditunggu. Tapi kondisi saat itu lagi hujan. Dia tak yakin bakal tiba cepat di kantor. Seperti biasanya, selalu ada taxi yang lewat di jalan depan rumahnya, bahkan beberapa di antaranya sering mangkal tak jauh dari situ. Winston lebih sering menggunakan taxi untuk bepergian. Selain nyaman juga dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa diganggu dengan obrolan politik. Kesempatan di dalam taxi digunakan untuk membaca dan melupakan politik sejenak.

Winston menghampiri taxi yang berhenti tak jauh dari tempat tinggalnya. Wajahnya belum begitu familiar waktu itu, bisa jadi karena penampilannya yang sederhana. Sehingga tak ada kehebohan begitu dia mendekati sopir taxi. Si sopir pun tidak sadar bahwa yang mengajaknya bicara adalah Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill.

"Saya tidak mengantar penumpang hari ini," kata si Sopir seperti tahu keinginan Winnie.
"Saya butuh taxi untuk mengantar saya ke Street Downing," jawab Churchill.
"Saya sudah bilang tidak mengantar penumpang," si Sopir masih bersikap cuek.
"Kenapa?" Churchill penasaran.
"Sebentar lagi Winston Churchill akan menyampaikan pidato," jawabnya.
"Kita bisa mendengarnya di perjalanan," Churchill memberi saran.
"Tidak fokus kalau mendengar sambil mengendarai taxi," sopir mencoba berkilah.

Winston tak kehabisan akal. Tawar-menawar pun terjadi.

"Bagaimana kalau saya membayar dua kali lipat dari biasanya?"
"Hari ini, berapa pun mau anda bayar saya tak peduli. Saya tak mau kehilangan kesempatan mendengar pidato Winston Churchill," sopir masih mencoba menolak.
"Kalau saya bayar 20 Pound, bagaimana?" Churchill coba melipatgandakan bayaran.
"Tidak bisa," jawabnya singkat.

Si Sopir masih tetap pada pendiriannya, tidak mau mengantar. Dia masih menganggap lebih bagus mendengar pidato Churchill daripada mengantar penumpang. Tawar-menawar pun hampir gagal mencapai kesepakatan. Churchill bahkan hampir menyerah. Tapi karena dia buru-buru ingin tiba di tempat dia akan menyampaikan pidato, dia tak peduli berapa pun harus membayar ongkos taxi.

"Bagaimana kalau saya bayar 50 pound? Saya pikir ini bayaran paling besar yang anda terima dengan jarak sekian." Sekali lagi Churchill merayu si Sopir. Si sopir sempat berpikir sejenak. Ada senyum di wajahnya. Dia pun meminta Churchill bergegas masuk ke dalam taxinya.

"Persetan dengan pidato Winston Churchill! Saya tak bisa mendapatkan Pound hanya dengan mendengar pidatonya. Ayo kita berangkat!" Taxi pun melaju kencang. Churchill duduk terdiam di dalamnya.

Kisah hidup bangsawan Inggris ini sangat menarik ditelusuri. Pada 1895 dia pergi ke Perang Kuba dalam perjuangan melepaskan diri dari Spanyol. Ketika bertugas di Kuba, dia bekerja sebagai reporter untuk Harian London Graphic. Ya, dia memang menyukai dunia tulis menulis. Bahkan ketika kehilangan posisi di pemerintahan ketika partainya, Partai Konservatif kalah dia memilih kembali ke dunia tulis-menulis sembari memantau situasi Jerman di bawah Adolf Hitler. Dia mampu menyelesaikan menulis buku sejarah berjudul A History of the English-Speaking Peoples. Buku yang mengungkapkan banyak kisah di balik kehidupannya.

Winston Churchill | BBC
Melihat sepakterjangnya dalam "The Battle of Britain" tak berlebihan jika Majalah TIME dua kali menobatkannya sebagai tokoh tahun ini: tahun 1940 dan 1949. Pada 10 Mei ketika ditunjuk sebagai Perdana Menteri pemerintahan perang koalisi untuk pertama kalinya, dia menyatakan dengan optimis akan meraih kemenangan dalam setiap perang yang diikutinya. "Tak ada yang bisa kutawarkan kecuali darah, kerja keras, air mata, dan keringat," katanya dalam pidato pertamanya sebagai Perdana Menteri.

Dia pun memimpin perang melawan Jerman dengan mengandalkan pasukan Royal Air Force (RAF) yang dia bentuk pada 1935 untuk Perjuangan Inggris (The Battle of Britain). Sekali pun memiliki jumlah terbatas, pasukan berani mati RAF terus menerus menghujani Jerman dengan bom dan berhasil memaksa Hitler menunda "Operasi Sealion" atau invasi terhadap Inggris melalui laut.

"Dia benar-benar telah memberikan janjinya kepada negara: darah, kerja keras, air mata, keringat dan satu lagi: keberanian yang tak terhingga," tulis Majalah TIME ketika menobatkannya sebagai tokoh tahun 1940.

Dunia memang berhutang budi kepada sosok yang dinobatkan sebagai 'the Greatest Living Briton' oleh Ratu Elizabeth dan Parlemen Inggris, sebab "jika pasukan Inggris dan Winston tak meraih 'waktu terbaik' di bulan terakhir tahun 1940 melawan invasi Adolf Hitler, dunia akan menjadi berbeda.

Tapi, kita juga tak boleh melupakan sisi gelap Winston Churchill, terutama soal kebijakannya terhadap India, pengeboman di kota-kota Jerman dalam Perang Dunia II yang menewaskan ribuan rakyat tak berdosa, kudeta di Iran, kontribusinya terhadap pengembangan persenjataan nuklir serta dukungannya terhadap negara Israel.

Saya kembali teringat pada sosok ini saat menonton film Free Fall. Ada satu kata-kata dia dikutip film tersebut seperti saya kutip di awal tulisan: Kesuksesan bukan akhir, kegagalan bukan bencana. [diolah dari beberapa sumber]
Continue Reading...

Monday, November 17, 2014

Kangkung, Kelinci dan Orang Kaya


Sewaktu masih tinggal di Peurada, suatu kali saya berbelanja ke Pasar Ulee Kareng. Saya mau membeli ikan dan beberapa ikat daun kangkung. Soalnya, saya suka memasak kangkung. Setelah membayar, saat mengambil daun kangkung, saya berpapasan dengan seorang ibu. Dia kebetulan juga tinggal di Peurada, tapi dia di rumah milik sendiri, sementara aku hanya anak kost.

"Belanja apa, dik?" dia coba bertanya, ramah.

"Ini bu, ikan dan beberapa ikat kangkung," saya jawab.

"Oh, adik pelihara kelinci di rumah ya?" dia tanya lagi.

"Nggak kok, bu. Kangkung ini untuk dimasak," saya jawab lagi, raut muka sudah saya buat seramah mungkin.

"Oh, kirain untuk makanan kelinci," dia pun berlalu, tapi tatapannya seperti sinis.

Saya maklumi, dia orang kaya mungkin jarang makan kangkung. Dia pun memandang rendah untuk anak kost seperti saya yang suka mengonsumsi sayur kangkung. [Dia mungkin tak sempat mendengar bahwa di tangan koki dan di restoran terkenal, satu ikat kangkung yang sudah dimasak akan berharga Rp80 ribu]

Beberapa waktu kemudian, saya kebetulan berpapasan lagi dengannya di sebuah warung makan. Saya mau membeli ayam bakar. Dia pun menyapa ramah, dan dengan basa-basi mengajak saya bergabung dengannya. Saya lihat ada beberapa anggota keluarga dan teman-temannya ikut makan bersamanya.

"Maaf, bu. Saya cuma mau membeli ayam bakar saja. Terima kasih," saya berusaha menolak dengan halus. Setelah mengambil pesanan, saya berlalu dari warung itu, dan menghampiri meja si ibu.

"Saya pulang dulu ya bu?" saya pamit.

"Ya, dik." jawabnya.

Saya lihat dia sudah memesan banyak makanan di meja mereka, dan saya juga lihat ibu itu sudah hampir menghabiskan cah kangkung di depannya.

"Oh, rupanya ibu suka juga makan makanan kelinci, ya?" saya bilang itu dengan tersenyum. Teman-temannya menoleh ke arah saya. Saya lihat muka ibu itu mencoba tersenyum. Tapi saya yakin, senyumnya kali ini coba dipaksa-paksakan. [status di facebook saya]
Continue Reading...

Tuesday, November 11, 2014

Singa Referendum Aceh


SEPANJANG 1999-2000, nama dia sering menghiasi halaman koran, media online, dan majalah. Tak hanya media lokal dan nasional, tapi juga media-media luar negeri. Para wartawan saling berebutan mendapatkan wawancara darinya. Terakhir dia berkantor di bilangan T. Panglima Polem No 62 Peunayong, Banda Aceh. Kantor ini tak pernah sepi. Siang maupun malam. Siapa saja yang datang ke kantor itu, dilayaninya dengan baik. Tak peduli, apakah dia wartawan atau rakyat biasa.

Kantor itu, sebenarnya, hanya sebuah rumah. Ada 6 kamar dengan ruang tamu yang cukup luas. Rumah itu tersambung hingga ke belakang. Di sinilah kantor Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) berada. Ruang di bagian belakang dipakai sebagai markas Tabloid SUWA SIRA. Tabloid jadi corong sosialisasi perjuangan Referendum Aceh, saat itu.

Di beberapa bagian dindingnya, tercetak jelas tulisan referendum dengan huruf kapital. Warnanya biru. Sementara di dinding lain, terdapat tulisan SIRA plus lambang kupiah meukeutop dengan dua rencong tertusuk ke bawah.

“Rencong tertusuk ke bawah sebagai simbol SIRA lebih memilih berjuang secara damai, tanpa menggunakan kekerasan,” kata pria itu suatu ketika.

Dia sering melayani wartawan berlatar tulisan Referendum atau SIRA. Wawancara tak hanya dengan wartawan nasional, tapi juga jurnalis internasional dari The New York Times, The Guardian, The Telegraph atau Washington Post, termasuk dengan wartawan Aljazeera. Dia cukup pasih berbicara bahasa Inggris atau bahasa Arab.

Kemampuan berbahasa tersebut diperolehnya selama empat tahun kuliah di Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Ar Raniry dan Lembaga Bahasa dan Pengembangan Tenaga Pengajar IAIN Ar Raniry, khusus untuk bahasa Inggris. Dia pun tak memerlukan jasa penerjemah saat itu.

Kejadian itu sudah berlalu lebih 10 tahun yang lalu (tulisan ini dibuat tahun 2011). Sepanjang itu pula, dia dua kali masuk penjara dan sering berurusan dengan polisi dan militer Indonesia. Pertama dia ditangkap seusai menggelar Sidang Raya Rakyat Aceh untuk Keadilan (SIRA Rakan), 14 November 2000. Dia dituduh menyebarkan kebencian terhadap Pemerintah Indonesia. Namun, dia hanya sempat menghirup pengapnya udara penjara selama 10 bulan. Setelah itu, dia kembali bebas.

Kedua, alumni IAIN Ar Rarniry ini ditangkap di penghujung berakhirnya Cessation of Hostilities Agreement (CoHA), sebuah perjanjian penghentian permusuhan antara RI dan GAM. Dia dianggap melawan pemerintah Indonesia dengan ceramah propaganda di sejumlah daerah di Aceh. Ironisnya, penangkapan salah satu tokoh yang cukup populer di Aceh tahun 1999 bersama Teungku Abdullah Syafie (Panglima GAM) terjadi pada Rabu (12/02/2003) malam lebaran Idul Adha. Ketika orang sedang larut dalam alunan takbir, dia dijemput paksa malam itu oleh aparat keamanan dari Polresta Banda Aceh (sekarang Poltabes) di rumahnya di kawasan Lampulo, Kuta Alam, Banda Aceh.

Nazar dan Irwandi saat pelantikan
Sejak saat itu, Ayah dari Muhammad Assad ini tak pernah lagi menghirup udara bebas. Ketika Pemrintah Indonesia di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri memberlakukan Darurat Militer di Aceh, dia bersama tahanan politik GAM dibuang ke Pulau Jawa, tepatnya di Penjara Lowokwaru, Malang, Jawa Timur. Pengadilan Negeri Banda Aceh memvonisnya 5 tahun penjara.

Pria itu, Muhammad Nazar. Dia lahir 1 Juli 1973 di Ulim, Pidie Jaya atau 38 tahun silam. Dia baru menghirup udara bebas setelah Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menandatangai perjanjian damai (MoU) Helsinki yang mengakhiri pertikaian 30 tahun lamanya.

Tahun 2006, dalam suasana Pilkada 2006, Juru Bicara GAM di Swedia Tgk Bakhtiar Abdullah terkagum-kagum dengan sosok Muhammad Nazar. Menurutnya, Muhammad Nazar adalah sosok pemuda yang kharismatik, yang dikenali bukan saja oleh golongan intelektual, melainkan juga golongan politik atas prinsip memperjuangkan demokrasi di Aceh.

“Walaupun beberapa kali ditangkap dan dipenjarakan, beliau tak pernah bergeser dari prinsip perjuangan demokrasi untuk mengubah nasib Aceh,” kata Bakhtiar Abdullah, Biro Penerangan GAM di Swedia, seperti dikutip Tabloid SUWA.

Bakhtiar mengagumi gaya kepemimpinan Nazar. Menurut dia, Nazar bukan saja paham bidang politik, melainkan juga dalam hal agama. “Kemampuan ilmu agamanya sudah tak bisa diragukan lagi. Nazar juga seorang publik figur yang sering tersenyum, sederhana dalam hidupnya.” sebutnya.

***
SIAPA sebenarnya Muhammad Nazar? Namanya nyari tak dikenal publik Aceh, nasional dan internasional sebelum Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau (KOMPAS) yang digelar pada 31 Januari-4 Februari 1999. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kampus, dengan mengajar. Tapi, KOMPAS mengubah jalan hidupnya.

Kongres itu terselenggara setelah aksi demonstrasi di kota-kota besar di Aceh, Medan, Jakarta dan luar negeri yang difasilitasi Koalisi Aksi Reformasi Mahasiswa Aceh (KARMA) dan Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh Nusantara (KMPAN). Menurut panitia, KOMPAS diikuti tak kurang dari 116 lembaga mahasiswa, santri, pemuda, pelajar, district organization, pressure groups dan lembaga solidaritas masyarakat Aceh baik di Aceh maupun di luar negeri.

Kongres ini secara resmi merekomendasikan dua hal penting: Pertama, referendum dengan dua opsi, merdeka atau bergabung dengan Republik Indonesia. Kedua, mendirikan Sentral Informasi Referendum Acheh (SIRA) sebagai lembaga independen yang bertugas mengorganisir informasi dan perjuangan penentuan nasib sendiri melalui referendum damai.

Sesuai mandat KOMPAS, Muhammad Nazar diserahi tanggung jawab sebagai Koordinator Pusat Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA). Dia dibantu sejumlah anggota presidium SIRA. Tugas SIRA saat itu adalah mengorganisir dan sosialisasi perjuangan referendum hingga ke kampung-kampung. Hasilnya, tak lebih dari tiga bulan, histeria referendum bergema di seluruh Aceh. Sepanjang jalan Banda Aceh-Media, dipenuhi grafiti, spanduk, dan baliho referendum. Spanduk referendum juga dipasang di setiap simpang masuk ke perkampungan penduduk.

Kampanye referendum yang dilakukan Muhammad Nazar dari SIRA dan aktivis dari berbagai elemen gerakan mahasiswa cukup efektif. Dukungan pun mengalir, tak hanya dari masyarakat biasa, melainkan dari ulama, akademisi, anggota dewan dan pemerintahan kabupaten/kota.

DPRD Aceh Selatan, misalnya, mengeluarkan pernyataan secara terbuka mendukung gerakan referendum yang disuarakan para mahasiswa. (Serambi Indonesia, 1 November 1999). Sementara Bupati Aceh Tengah, H. Mustafa Tamy juga menyatakan dukungannya terhadap perjuangan mahasiswa dan masyarakat. Tapi Mustafa meminta agar aksi atau gerakan yang dilakukan masyarakat tidak menjurus kepada aksi-aksi makar yang menimbulkan keresahan.

“Kita serahkan yang terbaik bagi rakyat,” katanya seperti dikutip Serambi Indonesia, 2 November 1999.

Dukungan referendum terus mengalir menjelang pelaksanaan Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU MPR) Aceh. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh dan DPRD Aceh menyatakan dukungan terhadap acara yang digelar oleh SIRA tersebut dan meminta masyarakat Aceh Berdoa agar SU MPR berlangsung rukun, aman dan damai. (Serambi, 8 November 1999). Dukungan yang diberikan MUI dan DPRA seperti spirit bagi masyarakat dan mahasiswa karena saat pelaksanaan SU MPR, dua juta masyarakat Aceh menggelorakan referendum di Masjid Rayat Banda Aceh.

Kehadiran massa yang begitu besar juga membuat presiden Gus Dur menyatakan persetujuannya terhadap referendum yang sedang melakukan kunjungan luar negeri ke Kamboja. Malah, Gus Dur menjanjikan pelaksanaan referendum Aceh akan digelar 7 bulan lagi. (Serambi, 17 November 1999).

Gerakan yang dilakukan SIRA juga mendapat dukungan dari Gerakan Aceh Merdeka. Pemimpin GAM Teungku Hasan Tiro (kini Alm) bahkan mendesak Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) segera menggelar referendum di Aceh untuk menentukan nasib rakyat Aceh, bergabung dengan Indonesia atau merdeka. Dukungan pendiri GAM ini sebenarnya sudah pernah dinyatakan oleh Panglima GAM Tgk Abdullah Syafie. “Yang pasti seluruh rakyat Aceh menuntut merdeka. Namun, caranya yang berbeda-beda,” kata Panglima GAM paling karismatik ini seperti dikutip Serambi, 10 November 1999.

***
Awal Mei 2011 lalu, saya menemui Muhammad Nazar di rumahnya di kawasan Blang Padang, Banda Aceh. Dia banyak bercerita soal perkembangan mutakhir Aceh, dari kisruh calon independen hingga soal investor. Dia juga bercerita kenapa mau kembali bertarung memperebutkan kursi nomor satu Aceh, berpisah dengan Irwandi Yusuf. Tak hanya itu, suami Dewi Meutia ini menceritakan pengalamannya saat bertemu pertama kali dengan Teungku Hasan Tiro di Stockholm, Sweden, awal 2000.

“Wali sering berbicara bahasa Inggris dengan saya,” katanya. Wali, lanjut dia, senang bertemu dengan anak muda yang gigih memperjuangkan nasib Aceh. Saat itu, hubungan antara SIRA dan GAM masih akur. Hubungan tersebut memburuk setelah Pilkada 2006. Penyebabnya, karena dia dan Irwandi Yusuf maju sendiri sebagai calon gubernur/wakil gubernur dan tak mau mendukung Humam Hamid-Hasbi Abdullah.

Muhammad Nazar mengakut, apa yang dilakukan mereka tidak salah. Menurutnya, dia dan Irwandi Yusuf mengikuti peunutoh Wali Neugara Hasan Tiro.

“Hareum ikot peunutoh yang salah meski nyan diteubit dari babah pimpinan.”  Kalimat itu, katanya, tercetak di pintu rumah Wali Neugara Hasan Tiro di Sweden. Nazar masing mengingat kalimat magis ini sampai sekarang. Padahal, dia membacanya hampir 10 tahun yang lalu, ketika berkesempatan bertemu Hasan Tiro di Swedia.

Menurut Nazar, Wali, begitu anggota GAM di lapangan menyapa Hasan Tiro, tak ingin peristiwa saat Sultan Aceh menyerah ke Belanda terulang kembali. “Sekali pun seorang pimpinan sudah ditawan atau menyerah, kita tak harus mengikuti perintahnnya lagi apalagi jika perintah itu tidak benar,” ujarnya, memberi argumen.

***
Begitulah sepak terjang Muhammad Nazar. Namanya cukup tenar, seperti kata referendum sendiri. Dia dianggap mampu mengembalikan martabat dan marwah rakyat Aceh. Kekuatan itu pula yang mendongkrak karirnya di kemudian hari. Tuahnya sebagai pejuang referendum mengantarkan dia menduduki posisi Wakil Gubernur Aceh berpasangan dengan Irwandi Yusuf, periode 2006-2011.

Di Pilkada 2012, Muhammad Nazar menguji keberuntungan dengan mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh, tak lagi berpasangan dengan Irwandi. Mantan Gubernur Aceh itu lebih memilih Mahyan Yunan, Kadis PU Aceh. Sementara Nazar menggandeng Nova Iriansyah, politisi dari Partai Demokrat. Keduanya terpental, dikalahkan calon dari Partai Aceh, Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf. []
Note: tulisan ini ditulis tahun 2011 silam memenuhi permintaan pengurus MNC (Muhammad Nazar Center). Saya posting kembali di blog ini sebagai arsip serta mengenang 15 tahun perjuangan Referendum Aceh (8 November 1999-8 November 2014).
Continue Reading...

Saturday, October 25, 2014

Karena Aku Bukan Anak Presiden


Untuk jadi anak presiden, kita harus punya Ayah seorang presiden (baca kepala negara dan kepala pemerintahan). Kalau orang tua kita seorang presiden, kita sebagai anaknya otomatis akan jadi anak presiden! Jadi, tak sembarang orang bisa menjadi anak presiden. Di Indonesia saja, baru 7 keluarga yang jadi presiden. Artinya baru anak ketujuh orang itu saja yang menyandang status anak presiden. Yang lain, paling banter jadi anak wakil presiden atau presiden di perusahaan besar dan perusahaan milik negara.

Banyak keistimewaan menyandang status sebagai anak presiden. Kemana-mana ada pengawalnya. Pelayanan pasti sering didahulukan. Fasilitas lebih wah di banding anak lain. Kalau kemana-mana pasti ramai yang antri minta foto bareng. Bisa kuliah di perguruan tinggi elit. Pokoknya, sesuatu yang wah akan diterima olehnya karena dia anak presiden.

Dulu, saat Presiden SBY masih menjabat presiden, dan mulai akrab dengan sosial media, sewaktu membuat akun twitter, cukup ramai orang mengikutinya di situs 140 karakter itu. Status akun sang presiden pun langsung verified. Presiden gitu, loh! Ini wajar. Beberapa hari kemudian, anak-anaknya seperti Agus, Ibas, juga kecipratan tuah sebagai sebagai anak presiden. Akun mereka ini juga verified. Kita tak tahu apakah proses verified tersebut alamiah atau ada kekuatan 'gaib' di baliknya.

Kenapa kita (saya deh) berkesimpulan demikian? Karena, saya juga sudah lama bikin akun twitter tapi tak diverified juga sama twitter. Padahal, akun saya bukan anonim. Saya pakai nama asli sesuai dengan nama si KTP. Saya bukan orang jahat, bukan spammer. Saya real human bukan boots. Lalu kenapa tak juga status akun saya verified, ya karena saya bukan anak presiden.

Sebenarnya, kita tak perlu jadi anak presiden kalau untuk sekadar ingin akun twitter verified. Jadi artis terkenal pun pasti akun kita akan verified, banyak follower dan setiap kicauan (tweet) sekali pun singkat seperti ‘selamat pagi’ pasti banyak yang balas dan RT (retweet). Tapi, tak mudah juga jadi artis terkenal, karena masuk tv pun jarang (malah tidak ada sama sekali). Boro-boro jadi artis dan masuk TV, masuk koran saja belum tentu setahun sekali. Wajah kita pun kampungan banget. Ya sudah, kita terima saja nasib apa adanya. Jadi diri sendiri itu luar biasa, loh!

Kamarin, jagat blog kembali heboh dengan keberadaan blog seorang anak presiden: misterkacang.blogspot.com. Blog ini milik Kaesang Pangarep, anak Presiden ketujuh RI, Joko Widodo. Media  (terutama media online) pun cukup ramai mengulasnya. Dia sebenarnya sudah lama jadi blogger, tapi baru kemarin-kemarin itu blognya jadi perhatian banyak blogger dan pembaca (plus media). Trafik pun banjir. Semua orang penasaran ingin membukanya dan sebagian malah berkomentar di blog tersebut, berharap dapat cipratan trafik. Nebeng populer di blog anak presiden.

Ya, Kaesang Pangarep sebenarnya sudah sejak September 2011 lalu membuat blog di blogger, layanan blog gratis milik google. Hasil penelusuran saya di blog miliknya, posting pertama berjudul Hari yang Menyedihkan yang diposting pada 22 September 2011. Di posting pertama itu, saya lihat cuma ada enam pengunjung yang memberikan komentar. Ini jelas sangat sedikit. Sepanjang tahun 2011, saya lihat setiap tulisan yang diposting Kaesang sangat sedikit yang memberi komentar, paling banyak 10 komentar.

Tapi lihatlah beberapa posting terakhir dia, terutama saat pelantikan Joko Widodo (Presiden Jokowi) pada 20 Oktober 2014. Tulisan berjudul Tanggal 20 Oktober 2014, misalnya, terakhir kali saya buka memiliki 313 komentar. Sementara dua posting sebelumnya, di bulan Agustus (Kaesang tidak memposting satu tulisan pun di bulan September) masing-masing berjudul Perjalanan Menuju Tanah Suci Part 4 dan Tahun ke-4 di Singapore memiliki 99 dan 133 komentar. Artinya, jumlah komentar di blog Kaesang meningkat drastis sejak masa-masa kampanye hingga pelantikan Presiden. Kita menduga-duga ini pasti ada kaitannya dengan kencangnya pemberitaan media serta setelah blog tersebut diketahui sebagai milik anak Jokowi.

blog Kaesang Pangarep
Secara umum, tulisan-tulisan Kaesang di blognya enak dibaca, bahasanya kocak dan gaul (khas anak muda), dan tema yang ditulisnya pun terkait kehidupan dia sehari-hari. Saya terus terang cukup menikmati juga saat membacanya pertama kali. Dia memang sama seperti para blogger kebanyakan. Kita berharap, sekali pun kini sudah menyandang status sebagai anak presiden, Kaesang terus menulis terutama pengalaman-pengalaman dia di istana atau menjalani hari-hari sebagai anak presiden. Teruslah jadi blogger yang otentik!

Sebagai blogger yang termasuk sudah lama ngeblog, kita pantas iri (dalam arti positif tentunya) sama Kaesang. Pasalnya, blog dia kini diulas di mana-mana, pengunjungnya banyak dan jumlah komentar pun melimpah. Alangkah kerennya kalau komentar-komentar di blog tersebut dibalas, biar selalu interaktif. Karena hakikat ngeblog sebenarnya adalah saling berbagi dan menjadi medium berinteraksi dengan orang lain.

Pada akhirnya, kalau kita ingin menjadi seperti Kaesang, di mana blognya dibanjiri pengunjung dan komentar serta dibicarakan oleh para blogger dan media online, mari berharap orang tua kita menjadi presiden. Tapi jika orang tua kita tak mungkin jadi presiden, maka tugas kita sebagai blogger adalah selalu update blog secara teratur, menulis topik menarik yang dibutuhkan pembaca, dan aktif di sosial media, Insya Allah tanpa harus jadi anak presiden, blog kita pun akan berlimpah trafik dan komentar. Beberapa blogger sudah membuktikannya. Salam 
Continue Reading...

Saturday, October 11, 2014

Aceh dan Syair Kepahlawanan


Jika pada suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah SWT agar mensyahidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apapun apabila negeri ini (Aceh) merdeka—Teungku Abdullah Syafie (Panglima Gerakan Aceh Merdeka).

SEPANJANG 1998-2005, Aceh hanyut dalam euforia ‘kemerdekaan’. Orang Aceh mendesain ulang nasionalisme baru (baca: nasionalisme Aceh) secara kasar dan radikal, dengan menolak semua konsep keindonesiaan. Mereka bahkan memiliki definisi berbeda terkait kepahlawanan dan patriotisme.

Di pelosok-pelosok gampong (kampung) di Aceh, kita akan lebih sering mendengar nama Teungku Abdullah Syafie, Ishak Daud, Muzakkir Manaf, Sofyan Dawood, Abu Razak, Abrar Muda, dan Darwis Djeunieb dari mulut anak-anak muda Aceh. Mereka-mereka ini memiliki posisi terhormat dalam ingatan mereka. Ya, mereka dianggap sebagai pejuang yang akan membebaskan Aceh dari situasi keterjajahan.

Sebaliknya, nama-nama semacam Prabowo Subianto, Wiranto, Johny Wahab, Syarifuddin Tippe, Gerhard Lentara, Sjafrie Syamsuddin, Kiki Syahnakri, dan petinggi militer Indonesia lain di Jakarta adalah sosok musuh yang mengirimkan ribuan mesin pembunuh ke Aceh, menghancurkan Aceh, dan membunuh siapa pun yang menolak konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang oleh orang Aceh saat itu dieja sebagai Neo Kolonialis Republik Indonesia.

Pada tahun-tahun penuh gejolak tersebut, tak sulit menemukan orang-orang yang berbicara pentingnya Aceh berdiri sendiri. Di kampung-kampung, terutama yang jauh di pelosok, suara-suara ‘separatisme’ menghentak dari meunasah ke meunasah (surau), bergerak secara diam-diam. Sekalipun tanpa pengumuman, ceramah ‘Aceh Merdeka’ di meunasah selalu dipenuhi pengunjung. Ceramah tersebut lebih sering berlangsung dalam gelap dan tanpa menggunakan pengeras suara.

Penetrasi ideologi Aceh Merdeka awalnya memang berjalan secara diam-diam. Tokoh-tokoh Aceh Merdeka keluar-masuk dari satu kampung ke kampung lain. Di setiap kampung yang didatangi, mereka kerap diperlakukan sebagai ‘penyelamat’ dan sangat dihormati. Kehadiran mereka ke kampung pun seperti memburu waktu. Ini cukup wajar karena sejak keruntuhan rezim Soeharto, Aceh ibarat lampoh soh (lahan kosong) yang boleh didatangi siapa pun. Semua pihak mulai menanamkan pengaruhnya di Aceh selepas militer ditarik dari Aceh.

Pun begitu, militer tak pernah benar-benar meninggalkan Aceh. Mereka menunggu dan menunggu, kapan momentum yang tepat menggempur kembali Aceh. Sebab, selagi euforia perjuangan kemerdekaan Aceh memuncak, militer kembali menyambangi Aceh. Operasi militer dengan beragam nama sandi operasi mulai mencengkeram Aceh kembali: baik secara rahasia maupun terang-terangan. Hasilnya, darah kembali tumpah di Aceh dalam bentuk tragedi pembantaian seperti di Simpang KKA,[1] Alue Ie Nireh,[2] Jembatan Arakundo,[3] pembantaian Teungku Bantaqiah,[4] Bumi Flora,[5] tragedi Gedung KNPI,[6] dan banyak lagi. Dalam tiap insiden tersebut, puluhan nyawa orang Aceh melayang. Jangan pernah kau tanya nasib pelaku, sebab sebagian mereka bebas dari jerat hukum, sebagian menghilang, dan sebagian lagi mendapatkan bonus ‘kenaikan pangkat’ sepulang ke Jakarta.

Kejadian-kejadian berdarah tersebut sama sekali tak mengendorkan semangat orang Aceh melawan Jakarta. Bahkan, orang Aceh semakin terbuka menyuarakan ‘talak-tiga’ untuk Indonesia. Saya beruntung hidup dalam suasana seperti itu: ketika orang Aceh menarik garis tegas  antara Indonesia dan Aceh sepanjang tahun-tahun tersebut.

Bagi orang Aceh, syahid dalam berjuang untuk memisahkan Aceh dari Indonesia akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Tuhan. Mereka cukup yakin para bidadari menanti mereka yang berperang dan menuntunnya ke surga.

Nyang meubahgia sijahtra syahid dalam prang
Allah pulang dendayang beudiadari
Hoka siwa sirawa syahid dalam prang dan seunang
Dipeurap rijang peutamong syuruga tinggi

(Yang bergembira dan sejahtera syahid dalam perang
Allah membalasnya dengan para dayang dan bidadari
Siapa saja yang syahid dalam perang dan senang
Akan segera dimasukkan ke dalam surga tinggi)

Begitulah ‘bius’ Hikayat Prang Sabi (Perang Sabil di Jalan Allah) yang senantiasa dikumandangkan dalam setiap ceramah-ceramah Gerakan Aceh Merdeka. Para mahasiswa dan pemuda pun tersihir oleh Hikayat yang dikarang oleh ulama Aceh, Teungku Syik di Pante Kulu. Sekalipun memilih cara berjuang secara damai dengan menawarkan solusi referendum, sebenarnya anak-anak muda Aceh ini juga menginginkan Aceh pisah dari NKRI. Mereka tak takut mati, tak takut berdarah-darah. Karena bau darah tersebut akan diganti dengan bau dari surga.

Darah nyang hanyi lah hanyi gadoh di badan
Geuboh le Tuhan ya Allah dengan kasturi
Dikamoe Aceh lah Aceh darah peujuang-peujuang
Neubri beu meunang ya Allah Aceh Merdeka.

(Darah yang bau amis hilang di badan
Allah menggantinya dengan minyak kasturi
Kami orang Aceh adalah keturunan darah pejuang
Berikanlah ya Allah Aceh Merdeka.)

***
SPIRIT Hikayat Prang Sabi, yang dulu menjadi senjata ampuh untuk membangkitkan semangat perang orang Aceh melawan Belanda, seperti menemukan konteksnya dalam perang Aceh dan Indonesia. Anak-anak kecil pun cukup fasih melafalkannya. Mereka memang tak dapat terlibat dalam perang secara langsung, tetapi mereka merasakan akibatnya. Mereka amat sangat menyukai permainan perang-perangan.

Saya masih ingat ketika kekuatan GAM memuncak pada awal 1999 hingga akhir 2000, suasana lebaran kerap dimanfaatkan anak Aceh untuk ajang latihan peran-perangan. Mereka membeli senjata mainan, model AK-47 (senjata yang banyak digunakan tentara GAM) dan M16 (senjata standar TNI). Di antara mereka ada yang berlagak anggota TNI dan GAM. Mereka kerap menggelar ‘perang’ di gampong-gampong hingga jalan raya.

Tak sedikit di antara mereka yang meniru perangai para pihak bertikai (TNI dan GAM). Misalnya, ada yang menyetop mobil di jalan dan meminta uang dari pengguna jalan (persis seperti pungutan liar yang dilakukan anggota TNI/Polri di pos-pos mereka), serta ada yang menghadang mobil di jalan (sekilas mirip penghadangan GAM terhadap patroli TNI).

Teungku Abdullah Syafie
Sebagian besar anak-anak Aceh waktu itu begitu mengidolakan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Teungku Abdullah Syafie (akrab dipanggil Teungku Lah). Koran dan tabloid yang memuat wajah panglima karismatik itu selalu laku keras. Anak-anak bahkan memajang gambar wajahnya di dinding rumah, dengan perasaan was-was; takut sewaktu-waktu TNI datang menggeledah. Selebihnya, ada rasa bangga memiliki wajah sosok yang begitu dicintai rakyat Aceh, hingga sekarang.

Saya masih ingat, sekali waktu, Maret 2000, markas Teungku Lah dikepung di Jiem-jiem, Bandar Baru (Pidie Jaya). Saya kebetulan berada di kampung. Pengepungan sudah berlangsung berhari-hari. Tak ada yang tahu bagaimana nasib Teungku. Sementara di koran-koran, pejabat TNI mengumumkan posisi Teungku Lah sedang terjepit. Masyarakat Aceh sedih bukan main. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain berdoa. Saya dapat melihat bagaimana masyarakat Aceh begitu mengkhawatirkan sosok idolanya itu. Hampir di seluruh meunasah di Pidie dan Pidie Jaya waktu digelar prosesi baca Surah Yaasin dan doa tolak bala: memohon agar Teungku Lah dan pasukannya selamat, dan TNI yang mengepungnya kalah.

Kenapa orang Aceh begitu mencintai Teungku Abdullah Syafie? Karena orang Aceh memandang yang diperjuangkan beliau adalah membebaskan Aceh dari penjajahan. Ia selalu mendidik pasukannya agar berbaik-baik dengan masyarakat. Menurutnya, tanpa dukungan masyarakat, perjuangan GAM akan sia-sia belaka. Masyarakat adalah perisai, tempat anggota GAM bersembunyi dan sumber logistik. Dalam suatu kesempatan, sosok yang bergabung dengan GAM sehari sebelum Hasan Tiro memproklamirkan Aceh Merdeka itu pernah menasihati pasukannya agar “Pulang jasa keu bangsa Aceh. Bek gata krang ceukang. Dengon bangsa droe teuh, bah that tatheun talo bacut gata hana hina. Yang bek ta tem talo ngon musoh teuh bangsa penjajah.” (Hargai jasa bangsa Aceh. Jangan kalian kasar dengan mereka. Kalau kalian mengalah dengan bangsa sendiri tak menjadikan kalian hina. Yang jangan adalah mengalah dengan musuh, bangsa penjajah)

Sebelum Teungku Lah meninggal, ia berpesan “Jika pada suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah SWT agar mensyahidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apapun apabila negeri ini (Aceh) merdeka.”

Kini, Aceh dan Indonesia sudah berdamai, tak ada lagi perang, setelah sebuah kesepakatan damai diteken sembilan tahun silam di Helsinki, Finlandia, yang jauhnya ratusan mil dari Aceh. Konflik 30 tahun menemukan akhirnya. Tapi salah besar jika Jakarta menganggap konflik Aceh selesai. Sebab, Aceh baru saja menulis ulang kitab konflik yang lebih baru: memilih berkonflik sesama sendiri, yang justru lebih parah. Dan kali ini mungkin saja tak ada lagi syair kepahlawanan yang didendangkan!

* Taufik Al Mubarak adalah blogger Aceh, sedang merampungkan buku Aceh Tapi Nyata.
______________________________________________________________

[1] Tragedi Simpang KKA Aceh Utara, 3 Mei 1999. Data Koalisi NGO HAM Aceh, dalam kejadian tersebut 46 orang meninggal, 156 luka tembak, dan 10 orang hilang.

[2] Penembakan di Alue Ie Nireh, Aceh Timur, 13 Juni 1999. Data dari Kontras, dalam kejadian tersebut

5 orang tewas, termasuk 2 anak-anak berumur 6 tahun dan seorang ibu.

[3] Tragedi Arakundo, Idi Cut, 4 Februari 1999. Dalam kejadian tersebut 7 orang tewas (mayatnya dibuang ke Sungai Arakundo), dan ratusan lainnya luka-luka.

[4] Pembantaian Teungku Bantaqiah dan 60 santrinya di Beutong Ateuh, Nagan Raya, 23 Juli 1999

[5] Pembantaian di perkebunan perusahaan Bumi Flora, Aceh Timur, 9 Agustus 2001. Sebanyak 31 orang dilaporkan tewas dan 7 lainnya luka-luka kena tembak.

[6] Penganiayaan tahanan di Gedung KNPI Aceh Utara, 9 Januari 1999. Sedikitnya 5 warga sipil meninggal, 23 orang luka berat dan 21 lainnya luka ringan.
Sumber: Indoprogress
Continue Reading...

Friday, October 10, 2014

Aku dan Kompasiana


Tulisan ini tak ada hubungannya dengan lomba Aku dan Kompasiana.

Saya menulis ini untuk mereview ke belakang, ternyata sudah lama juga saya di Kompasiana. Tepat pada 24 November nanti, berarti sudah genap enam tahun saya bergabung di Kompasiana. Bagi anak-anak, usia enam tahun itu baru mulai masuk sekolah dasar. Anak-anak, biasanya sangat bergembira sewaktu mulai masuk sekolah. Mereka inginnya bisa sekolah malam. Jadi, di usia enam tahun saya di Kompasiana, mudah-mudahan semangat saya kembali seperti anak sekolah dasar: sedang begitu semangat-semangatnya. Saya berharap, bisa kembali menulis rutin di Kompasiana seperti dulu. Amin.

Lalu, kenapa saya bergabung di Kompasiana? Saya pikir, pertanyaan ini juga pernah terlintas di pikiran semua kompasianer (sebutan untuk blogger kompasiana) saat memutuskan bergabung di Kompasiana. Kenapa ribuan orang rela mendaftar di Kompasiana, padahal kompasiana tidak memberikan apa-apa kepada penulisnya, kecuali menyediakan lapak menulis, di mana tanpa bergabung di kompasiana pun kita masih bisa membuat blog di blogger atau di wordpress. Saya yakin, kita memiliki jawaban yang beragam atas pertanyaan ini.

Tujuan itu (menjadikan kompasiana sebagai blog para wartawan kompas), bukan muncul secara spontan dan tanpa pemikiran yang matang. Dari informasi yang saya baca, Kang Pepih mengaku terinspirasi membuka Kompasiana setelah membaca buku karya Dan Gillmor, We the Media. Pemberian nama Kompasiana pun, bukan tanpa pertimbangan. Selain karena Kompasiana pernah menjadi rubrik paling digandrungi pada masanya, juga untuk menghormati mendiang PK Ojong, yang bersama-sama dengan Jacob Oetama membidani lahir majalah Intisari dan kemudian Harian Kompas.

Ya, Kompasiana adalah sebuah rubrik di Harian Kompas yang muncul antara tahun 1966-1971. Rubrik ini pertama kalinya muncul pada 4 April 1966 atau saat-saat pergolakan melawan Orde Lama Soekarno. Rubrik ini diisi secara apik oleh PK Ojong, saat itu sebagai Pemimpin Umum Harian Kompas, yang tutup usia pada 31 Mei 1981. Untuk menghormatinya, setahun setelah PK Ojong pergi, Gramedia menerbitkan kumpulan kolomnya dalam bentuk buku, berjudul sama dengan rubrik yang pernah diasuh olehnya: Kompasiana.

Dalam pengantar buku Kompasiana (PK Ojong: 1981), Jacob Oetama mengenang, koleganya itu secara teratur menulis di rubrik Kompasiana dengan beragam topik. Bentuk tulisannya pun pendek, ringkas dan padat. Gaya bahasa yang digunakan cukup lugas tetapi kuat. “Jika harus ada deskripsi, maka deskripsi itu ditampilkan tidak dalam jumlah yang berlebihan, tetapi dalam pilihan kata-kata yang tepat.”

Duh, sudah menjalar kemana-mana tulisan ini. Padahal cuma mau tulis ‘Aku dan Kompasiana’.

Aku dan Kompasiana
Oh ya, awalnya, ketika Kompasiana online, para wartawan cukup rajin mempublikasikan tulisan-tulisannya di blog kompasiana. Kemudian jadi berkurang dan jarang. Blog kompasiana jadi mirip seperti panas-panas tahi ayam. Awalnya begitu semangat menulis, kemudian menghilang satu-per-satu. Saya dulunya cukup menikmati tulisan Wisnu Nugroho. Tulisan dia bisa dikenali dengan gampang: dia jarang sekali menulis menggunakan huruf besar termasuk di awal kalimat. Tulisannya menggunakan huruf kecil semua. Sebagian tulisan-tulisan tersebut sudah dibukukan, di antaranya Pak Beye dan Istananya, dan Pak JK dan Presidennya.

Lalu, kenapa kemudian Kompasiana jadi media warga? Rupanya, wartawan jadi jarang menulis bukan karena semata-mata sibuk dengan rutinitas, melainkan juga banyak tulisan-tulisan mereka di kompasiana mendapat komentar tidak menyenangkan, sebagian malah melontarkan kritik tajam. Akibatnya, yang tak tahan, ya berhenti menulis. Akibatnya, Kang Pepih selaku penjaga gawang Kompasiana harus menulis sendiri. Duh, membosankan, bukan?

Karena faktor itu, Kang Pepih dengan dukungan media induknya, Kompas, membuka Kompasiana ke publik. Ya, sejak 22 Oktober 2008, Kompasiana resmi menjadi blog keroyokan. Dan sebulan setelah menjadi media warga, saya pun ikut mendaftar di kompasiana, tepatnya pada 24 November 2008. Tapi saya baru memposting tulisan sehari setelah mendaftar, yaitu pada 25 November dengan judul Blog Investasi Masa Depan.

Sejak bergabung dengan Kompasiana hingga sekarang, saya sudah memposting 81 tulisan (82 kalau dihitung tulisan ini) tulisan. Selama aktif di Kompasiana, saya beberapa kali sempat ikut lomba, tapi Alhamdulillah tidak ada yang menang. Satu-satunya momen yang paling membahagiakan adalah ketika satu tulisan saya ‘Bertahan Hidup di Jakarta dengan Menulis’ menjadi HL di halaman Freez yang dulu muncul setiap hari Rabu (kemudian setiap Kamis) di Kompas cetak. Senang banget rasanya, karena sudah sejak lama saya bercita-cita menjadi penulis Kompas. Apalagi, ternyata honornya juga lumayan. Hehehe.

Kalau dipikir-pikir, tulisan di Freez itu merupakan tulisan kedua saya yang muncul di Kompas cetak. Sebelumnya, satu opini saya, Aceh bukan Lahan Kosong sudah dimuat di Harian Kompas. Bayangkan, lebih 50 tulisan sudah saya kirim ke Kompas, dan baru satu tulisan yang dimuat di rubrik opini. Luar biasa, bukan? Hingga kini saya masih suka mengirim tulisan ke Kompas, kadang sebulan sekali, kadang lima bulan sekali, intinya setiap ada isu Aceh yang layak di tingkat nasional, saya tulis.

Begitulah, kisah Aku dan Kompasiana. Mana kisahmu? Saya yakin kisahmu lebih menarik!
Note: tulisan ini sudah diposting di blog Kompasiana
Continue Reading...