15 June 2016

Mudahnya Gadai Emas di Pegadaian

AWALNYA, saya tak pernah berurusan dengan kantor Pegadaian. Tapi saya tahu banyak teman-teman saya sering berurusan dengan kantor yang memiliki motto “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah” itu tiap kali memiliki masalah dengan keuangan. Ada saja barang atau bahkan emas yang digadaikan.

Pun begitu, saya terbiasa melihat orang keluar-masuk kantor Pegadaian, setiap kali melewatinya jika hendak menyeruput segelas sanger di warung kopi. Kebetulan, kantor itu sejalur dengan warung kopi tempat saya sering menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Pegadaian Emas
Logo pegadaian
Banyak orang yang sedang kesulitan, terutama menjelang hari-hari besar, menjadikan kantor yang identik dengan warna hijau itu sebagai pilihan terakhir. Ada yang menggadaikan emas, sepeda motor, barang elektronik dan sebagainya. Menurut mereka, Pegadaian benar-benar bisa menyelesaikan masalah mereka. Proses transaksinya pun tidak berbelit-belit dan ngak pake ribet seperti, misalnya, di banyak kantor lainnya.

Saya ingat betul, suatu hari bersama istri dan anak, akhirnya memilih menyambangi kantor Pegadaian Syariah di dekat lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Kami datang menjelang siang, karena biasanya itu lagi tidak ramai: tak banyak nasabah, dan kita pun tak perlu antri lama. Kesulitan hidup seperti apa sampai kami memutuskan memilih Pegadaian sebagai solusi terakhir?

Ada kebutuhan mendesak yang memaksa kami ke kantor itu: anak sudah mulai masuk Taman Kanak-kanak (TK). Biaya pendaftaran dan biaya masuk TK si anak tentu saja di luar pengeluaran rutin kami selama ini. Sementara simpanan dalam bentuk uang di bank tidak mencukupi, dan perlu dana tambahan. Pasalnya, istri lebih senang membeli emas daripada simpan uang di bank. Saya pun menyarankan agar sang istri menjual saja emas untuk menutupi kekurangan biaya sekolah anak.

“Nanti kalau ada rezeki, kita bisa beli lagi,” kata saya. Ia keberatan. Emas berupa cincin itu selalu melingkar di jari manisnya. Di cincin itu pun sudah ada ukiran namanya.

“Sayang kalau harus dijual. Sudah capek-capek minta ukir nama, masak akhirnya harus dijual.” Dia tetap tidak rela kalau cincin itu dijual.

Kan tidak lama, begitu honor bulan ini cair kita beli lain. Soal ukiran gampang, nanti minta diukir lagi.” Saya meyakinkan dia dengan halus. Lagi pula hanya dua minggu berselang, honor sudah cair, dan bisa beli lagi cincin emasnya. Dia bergeming, tetap tak setuju kalau cincin itu harus dijual.

“Harga emas lagi turun,” katanya. “Rugi kalau jual sekarang.” Dia tetap ngotot. Saya pun sebenarnya tidak ingin cincin itu dijual, tapi kebutuhan uang sekolah anak jauh lebih penting dari emas itu. Ini tahun pertama si anak masuk sekolah, dan biaya masuk di TK perkotaan tidaklah sedikit. Beda dengan biaya sekolah di kampung.

Tiba-tiba, muncul ide bagaimana kalau emas itu digadaikan saja. “Dua minggu lagi saat honor cair, cincin itu kita ambil kembali,” kata saya. Istri setuju, karena cincinnya tidak dijual, hanya disimpan sementara waktu. Akhirnya, kami pun sepakat menyambangi kantor Pegadaian. Kami memilih Pegadaian Syariah, soalnya dekat dari tempat tinggal. Karena baru pertama kali  berurusan dengan pegadaian, saya tidak membawa apa-apa, cuma cincin emas itu saja. Yang kami lakukan hanya Pegadaian Emas. Itu saja.

SAYA ingat, hari itu, setelah memarkir sepeda motor, saya masuk ke dalam kantor Pegadaian, yang pintunya dibuka seorang Satpam. Dia tanya dengan ramah keperluan saya. “Mau gadai emas,” jawab saya singkat. Dia lalu meminta saya menghampiri sebuah meja, di sana sudah ada dua petugas. Keduanya lebih muda dari saya. Saya duga mereka adalah mahasiswa yang sedang magang, itu terlihat dari baju seragam yang dipakainya, berbeda dengan pakaian pegawai Pegadaian.

“Ada yang bisa dibantu?” tanya salah seorang mahasiswa magang itu.
“Mau gadai emas,” jawab saya.
“Bawa foto copy KTP?” tanya dia lagi.
“Tidak bawa. Kalau KTPnya ada.”
“Nanti kalau ke sini lagi bawa foto copy KTP ya. Kalau nggak tidak akan dilayani,” katanya sembari menunjuk ke papan pengumuman yang tak jauh dari tempat kami duduk. Di pengumuman itu jelas tertulis, untuk bertransaksi di Pegadaian harus membawa foto copy KTP.

Dia meminta KTP saya, lalu mengambil form dan mulai mengisi data sesuai dengan keterangan di KTP saya. Setelah selesai, dia mengambil nomor antrian berwarna biru, dan menyerahkan ke saya. “Silakan ditunggu, nanti akan dipanggil,” katanya. Saya lihat ada dua warna kertas berisi nomor antrian: kuning dan biru. Kertas antrian berwarna kuning untuk nasabah yang mau menebus barang gadaian, sementara yang warna biru untuk orang yang mau gadai.

Tak lama, saya dipanggil ke loket pegadaian. Petugas cewek di loket meminta nomor antrian dan formulir yang sudah diisi oleh si mahasiswa magang tadi, serta KTP asli saya. Tak lupa, dia juga minta emas yang hendak saya gadaikan. Saya pun menyerahkan semua yang diminta. “Kami timbang dulu ya emasnya?” kata petugas cewek berjilbab hijau muda. Sejenak dia menghilang dari hadapan saya, tapi tidak lama kemudian, sudah muncul lagi.

“Emasnya kami taksir senilai Rp2.920.000,” katanya. “Berapa pinjaman yang mau diambil?” 

Emas yang saya gadai memang berjumlah dua mayam atau setara dengan 6,6 gram, dan harganya tak jauh dari nilai taksiran itu.
“Satu juta saja,” jawab saya.
Dia pun mengingatkan, bahwa saya bisa ambil uang sesuai dengan harga taksiran. Tapi, saya bilang cukup satu juta saja. Dia cuma tersenyum, dan menyiapkan transaksi untuk saya. Selanjutnya, saya dikasih secarik kertas hasil print-out dan menyodorkan ke saya. “Silakan ditunggu, nanti dipanggil sama kasir,” katanya setelah saya menerima kertas itu darinya. Saya kembali ke tempat duduk dan menunggu antrian dipanggil menghadap kasir.

Karena saya datangnya jelang siang hari, tidak banyak nasabah jam segitu di Pegadaian, dan saya tak perlu menunggu lama. Saya melihat cuma satu orang yang sedang dilayani kasir, sedangkan di loket kasir sebelahnya, seorang nasabah sedang menghitung duit yang baru diserahkan kasir. Berarti tak lama lagi Dia akan berlalu dari loket itu. Benar saja, setelah merasa uang yang dipegangnya cukup seperti jumlah yang dipinjamnya, Dia pun berlalu dari situ. Sekarang giliran saya yang dipanggil. Saya lekas menghadap ke loket kasir. Si kasir meminta kertas bukti transaksi yang diserahkan petugas cewek tadi.

“Biaya administrasinya Rp15.000 ya, pak,” katanya sembari menanyakan apakah biaya itu sekalian dipotong dari uang yang saya pinjam. “Tidak usah.” Lalu saya menyodorkan uang senilai Rp15 ribu untuk biaya administrasi. Uang Rp15 ribu itu segera berpindah tangan. Si kasir selanjutnya meminta saya menandatangi surat perjanjian gadai. Seingat saya, ada empat tempat di surat itu yang harus saya tandatangani. Surat yang asli diserahkan ke saya, berikut jumlah uang yang saya pinjam. Saya tidak menghitung lagi uang itu, karena tadi sempat memperhatikan saat si kasir menghitungnya, dan ada sepuluh lembar uang seratus-ribuan. Sebelum berlalu, si kasir mengingatkan soal biaya penyimpanan per 10 hari, yang tertera di surat perjanjian.

Sesaat saya perhatikan surat perjanjian gadai itu, lalu melipatnya. Selanjutnya uang dan surat gadai emas saya masukkan ke dalam dompet, dan berlalu dari loket itu. Ketika hendak keluar, Satpam dengan senyum ramahnya membuka pintu. Di luar, istri saya dan anak menunggu di sepeda motor. Prosesnya benar-benar cepat dan tidak pake ribet. Tiga minggu kemudian saya menyambangi lagi kantor Pegadaian dan menebus emas yang saya gadaikan itu. Uang penyimpanannya dihitung per 10 hari sejumlah Rp19 ribu, dan saya membayarnya tidak lebih dari Rp60 ribu saja untuk tiga minggu. Tidak mahal, kan?

SEJAK itu, setiap kali perlu uang mendadak, saya memilih menggadaikan emas di Pegadaian daripada menjualnya.  Seingat saya, setelah kali pertama datang ke Pegadaian, saya sempat beberapa kali datang ke kantor “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah” itu. Sekali waktu, saya perlu uang mendadak karena lagi-lagi honor telat cair, dan kebetulan sama istri saya ada kalung emas sebanyak 10 mayam emas murni (atau setara dengan 33 gram). Emas itu pun saya gadaikan. Petugas loket Pegadaian sampai terkejut ketika saya bilang uang yang ingin saya ambil Rp1 juta. “Taksirannya Rp12 juta lebih, pak!” katanya. “Nggak. Saya ambil satu juta saja.” Dia senyum-senyum, seperti tahu kalau saya cuma ingin menitipkan emas itu di pegadaian sebentar saja. Benar saja, dua minggu kemudian saya kembali ke kantor itu lagi dan mengambil emas yang saya gadaikan.

Gadai Emas
Surat Gadai Emas
Di lain waktu, saya kembali menggadaikan salah satu cincin istri saya, tapi bukan yang ada ukiran namanya. Saya tidak ingat alasan kami menggadaikan cincin itu,  bisa jadi mau bayar sewa rumah atau hendak pulang ke kampung. Kali ini, uang yang saya ambil sejumlah Rp2.500.000. Namun, dua minggu kemudian, kami yang sedang butuh uang berencana menjual cincin itu. Masalahnya, cincin yang mau dijual itu sedang di pegadaian, bagaimana bisa dijual. Cincin itu harus ditebus dulu. Tapi, kami tidak punya uang untuk menebusnya. “Coba kita tukarkan saja dengan cincin ini,” kata istri saya merujuk pada cincin yang melingkar di jari manisnya. “Mana bisa ditukar, kan barangnya beda,” kata saya.

Mencoba tidak ada salahnya. Saya pun mendatangi kantor Pegadaian Syariah, dan seperti biasa mengikuti prosedur pelayanan di kantor itu. Kepada petugas pendataan administrasi, saya utarakan niat saya untuk menukar benda gadaian. Dia tidak bisa memberi jawaban, dan meminta saya bertanya langsung ke pegawai di loket penaksir. 

“Kalau tukar barang gadaian tidak bisa,” kata pegawai perempuan. “Kecuali, barang itu ditebus dulu.”
“Berat dan jumlah gramnya kan sama, tidak apa-apa ditukar.”
“Tetap tidak bisa, pak. Administrasinya sudah beda.” Dia menyarankan saya untuk menggadaikan cincin berukiran nama di bagian dalamnya, baru selanjutnya menebus cincin berpasir. “Jumlah ambilannya masih sama, kan?” tanya. “Ya,” saya jawab singkat. Dia kemudian menghitung berapa biaya simpanan (ujrah) yang totalnya tidak sampai Rp70 ribu. Mereka pun memproses administrasinya, dan saya diminta menunggu. Tidak berapa lama, prosesnya selesai. Proses penggantian barang gadaian dengan cara tebus pun beres. Kini, cincin berpasir yang mau dijual sudah saya kantongin, dan cincin satu lagi (yang berukiran nama) sudah diambil alih pihak Pegadaian.

Itulah, pengalaman saya berhubungan dengan Pegadaian, dengan cara gadai emas atau pegadaian emas. Saya pun merasakan manfaatnya berurusan dengan Pegadaian, seperti mottonya, “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah”.  Saya benar-benar mendapatkan solusi atas tiap masalah yang saya hadapi. Tapi, sebenarnya, banyak layanan yang bisa kita akses di Pegadaian. Cobalah, teman-teman menjadi sahabat pegadaian, dan mencoba Pegadaian Apps, di mana sahabat bisa mendapatkan poin hanya dengan mengajak teman-teman lain bergabung, dan poin itu bisa ditukar dengan merchandise menarik. Jika teman-teman ingin berinvestasi dalam bentuk pegadaian emas bisa mencoba Investasi Logam Mulia Pegadaian, atau bisa juga Tabungan Emas Pegadaian. Tidak mahal dan tidak ribet. Tak percaya, silakan cek di pegadaian.co.id.

Itu pengalamanku dengan pegadaian, mana cerita pengalamanmu? 

13 June 2016

Live Streaming UEFA Euro 2016

Selama perhelatan UEFA Euro 2016 France (11 Juni-12 Juli 2016) banyak penggemar si kulit bundar mencari link Live Streaming UEFA Euro 2016 Perancis untuk menonton Piala Eropa secara langsung. Soalnya, tak semua penggila bola dapat menyaksikan pertandingan secara langsung. Untuk menonton secara nyaman, kita harus membeli antenna UHF atau receiver khusus. Harganya pun gila-gilaan.

Tapi, jangan sedih. Banyak cara untuk menonton laga sepak bola Piala Eropa 2016 di Perancis. Bagi Anda pengguna laptop atau tablet, Anda bisa menonton secara Live Streaming. Kualitas gambar nonton secara live streaming juga tak kalah bagus dengan Anda menonton di Televisi. Selain itu, tak banyak muncul link iklan dan harus klik ini itu, sehingga membuat Anda dialihkan ke banyak situs. Pada akhirnya, Anda juga belum tentu dapat menonton bola.

Nah, sekarang tersedia link Live Streaming UEFA Euro 2016 Perancis di mana Anda dapat menyaksikan pertandingan demi pertandingan. Anda hanya perlu memiliki koneksi internet yang kencang, sehingga tayangan tidak tersendat-sendat (buffering). Di link berikut ini, Anda bisa mencari sendiri laga yang mau ditonton sesuai jadwal. Syaratnya, sebelum menonton Anda harus tahu pukul berapa jadwal sebuah pertandingan mulai kick-off dan negara mana yang sedang bertanding. Sehingga Anda tidak keliru dalam mencari link live streaming tiap laga yang sedang live.

Oh ya, link Live Streaming UEFA Euro 2016 Perancis ini bukan produk lokal, melainkan produk sebuah negara di Uni Eropa. Karena ini gratis, tentu Anda harus bersabar, karena banyak muncul link popups. Sabar adalah kunci menonton bola secara live streaming. Tunggu sampai satu-dua iklan popups muncul. Saya sendiri sebelumnya suka menonton Liga-liga Eropa seperti La Liga Spanyol, Serie A, Bundesliga hingga Premier League masih bergulir secara Live Streaming. Namun, untuk Piala Eropa 2016, saya memilih menonton langsung di Televisi.

Nah, bagi Anda yang ingin menonton Piala Eropa Perancis secara Live Streaming. Ini caranya:

1. Buka LINK INI atau http://www.feed2all.eu/type/football.html di browser anda.

2. Click pertandingan yang mau ditonton, perhatikan yang ada gambar Piala Eropa (Ada logo UEFA Euro 2016 Perancis.

Nonton Live Streaming

3. Click link tersebut untuk membuka link-link yang tersedia. [lihat gambar]

Nonton Live Streaming

4. Selanjutnya keluar link. Pilih salah satu. Tunggu sampai iklan berdurasi 32 detik selesai. Lalu click X untuk menutup iklan. [lihat gambar]

Live Streaming UEFA Euro 2016 Perancis
5. Selamat menonton. Anda bisa menonton dengan ukuran layar kecil atau bisa diperbesar, seperti menonton YouTube. []

31 May 2016

Google AdGrants untuk Organisasi Non Profit Indonesia

Google AdGrants untuk Organisasi Non Profit Indonesia – Jika Google, perusahaan mesin pencari populer dunia memberi $10.000 USD dari layanan periklanan mereka, AdWords, secara cuma-cuma setiap bulan untuk organisasi Anda, kira-kira apa yang akan Anda lakukan?

Google memberi gambaran, Anda dapat merekrut lebih banyak relawan, menarik lebih banyak donasi dan Anda dapat berbagi cerita kepada banyak orang di seluruh dunia. Apakah bantuan cuma-cuma alias gratis itu hanya bualan Google semata? Jawabannya adalah TIDAK! Google akan membantu kampanya dan promosi lembaga non profit melalui program Google Ad Grants.

Sejak tahun 2003, sebenarnya Google sudah memulai program sosial ini. Sejak pertama kali diluncurkan, program Google AdGrants sudah ada di lebih dari 50 negara dan wilayah, serta diterjemahkan ke dalam 48 bahasa. Untuk diketahui, lebih dari 20 ribu organisasi non profit di seluruh dunia sudah menikmati kemurahan hati dari perusahaan yang di Indonesia sering disebut si Mbah itu. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Seperti pengalaman-pengalaman sebelumnnya, kita selalu terlambat dilirik oleh Google, sama seperti program Google Adsense yang digandrungi para blogger untuk mencari dollar, yang baru tersedia untuk Bahasa Indonesia tahun 2011 itu.

Google AdGrants untuk Organisasi Non Profit Indonesia
Google AdGrants untuk Organisasi Non Profit Indonesia
Hari ini, 31 Mai 2016 atau bertepatan dengan Hari Anti Tembakau Internasional, Google Google resmi mengumumkan kehadiran program Google AdGrants di Indonesia. Apa sebenarnya program Google AdGrants itu? Sebagai informasi, Google AdGrants adalah sebuah layanan periklanan cuma-cuma untuk tujuan memberdayakan organisasi-organisasi non profit. Nilai yang diberikan oleh Google setiap bulan tentu saja tak bisa dibilang sedikit. Tapi jika dibandingkan dengan kapitalisasi keuntungan dan kekayaan Google setiap tahun ya jumlah yang diberikan itu memang sedikit.

Melalui program Google AdGrants, Google memberikan bantuan untuk organisasi nirlaba sebesar USS$10.000 atau sekitar Rp136 juta per bulan. Tapi, bantuan ini tidak dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk pengiklanan AdWords. Google berharap dengan bantuan dana periklanan gratis ini, lembaga-lembaga nirlaba dapat mempromosikan misi dan inisiatif mereka di Google.co.id.

Bagaimana Google AdGrants untuk Organisasi Non Profit Indonesia bekerja? Dengan program ini, penerima AdGrants membangun dan mengatur akun AdWords mereka sendiri seperti membayar pengiklan, tapi berpartisipasi dengan ketentuan, yaitu anggaran harian di atur ke US$329, batas maksimum biaya-per-klik (BPK) sebesar US$2.00 dan hanya menjalankan kampanye bertarget kata kunci dengan iklan teks yang muncul di Google.com.

Syarat dan Kelayakan Penerima Grants
Syarat pertama, calon lembaga atau organisasi penerima Google AdGrants harus terdaftar di negara yang tersedia program ini. Jadi, untuk mendaftar program ini, organisasi Anda harus terdaftar di salah satu dari negara berikut ini. [Lihat di sini]. Google memiliki harapan agar dengan lembaga non profit  dapat “mengubah dunia dan negara sekaligus.”

Syarat kedua, calon lembaga penerima harus memenuhi kriteria tertentu yang ditetapkan Google agar masuk dalam kualifikasi Google Ad Grants, dan tetap menjaga agar kualifikasinya aktif. Berikut adalah cara agar lembaga nonprofit Anda masuk kualifikasi:

- Memiliki badan amal dengan status yang valid. Lihat situs GoogleUntuk Lembaga Nonprofit untuk definisi status badan amal di negara Anda.
- Pahami dan setujui sertifikasi yang diwajibkan Google terkait nondiskriminasi serta tanda terima dan penggunaan donasi.
- Memiliki situs web aktif yang berisi materi substansial.

[Entitas pemerintahan dan organisasi, rumah sakit dan grup medis, sekolah, pusat penitipan anak, institusi akademik dan universitas tidak memenuhi syarat untuk Google Ad Grants, namun badan amal dari organisasi pendidikan memenuhi syarat]

Kemudian, bagaimana cara menjaga agar organisasi penerima tetap memenuhi syarat? Ini yang perlu dilakukan lembaga Anda:

- Menautkan iklan ke satu (dan hanya satu) domain situs web, dan harus sama dengan iklan yang disetujui dalam pengajuan awal.
- Selalu mengelola akun AdWords dengan masuk ke akun paling tidak sebulan sekali dan membuat setidaknya satu perubahan ke akun setiap 90 hari.
- Iklan dan kata kunci harus cocok dengan layanan dan program organisasi Anda.
- Iklan komersial sama sekali tidak diperbolehkan. Jika Anda mempromosikan produk atau layanan, maka prosesnya harus 100% mendukung program Anda secara langsung.
- Iklan tidak boleh ditautkan ke laman yang berisi tautan menuju situs web lain.
- Iklan tidak boleh menawarkan produk finansial (seperti hipotek dan kartu kredit), atau meminta donasi berupa mobil, kapal, dan properti lain.
- Situs tidak boleh menampilkan iklan Google AdSense maupun berafiliasi dengan tautan iklan.

Jika lembaga penerima melanggar satu saja dari pedoman yang ditetapkan oleh Google tersebut, akan dikeluarkan dari program ini. Jadi berhati-hatilah memanfaatkan kemurahaan hati si mbah. Karena untuk melamar lagi akan susah, apalagi seleksi dilakukan sepenuhnya atas kebijaksanaan Google dan tidak tunduk pada tinjauan eksternal.

Bagaimana? Apakah tertarik mendaftar organisasi Anda ke Google AdGrants untuk Organisasi Non Profit Indonesia? Caranya bisa Anda temukan di Cara mengajukan permohonan ke GoogleAd Grants. Demikian posting sederhana dari BLOG JUMPUENG yang sudah jarang update. Mudah-mudahan, informasi ini bermanfaat untuk kita semua. [diolah dari berbagai sumber]


15 March 2016

Si Tukang Parkir Tua dan Peluitnya

Siang ini, aku masuk ke warung kopi tempat di mana aku sering menghabiskan waktu untuk online, dan mengambil tempat di sudut, seperti biasanya. Dan seperti biasanya pula, tukang parkir yang kutaksir berumur 60-an dengan baju bertuliskan 'petugas parkir' di belakang bajunya masuk ke warkop, dan berteriak seperti orang yang ditinggal pergi pengendara yang tak bayar uang parkir, "Calon Gubernur Aceh sudah dibunuh! Calon Gubernur Aceh sudah dibunuh!".
Orang-orang di dalam warkop menoleh ke arah pria tua yang dipenuhi peluh di wajahnya itu. Aku yakin mereka terkejut, tak percaya, dan menganggap si pria sedang kambuh penyakit gilanya. Seorang di antara pengunjung warkop berseragam PNS mencoba bertanya, yang aku duga dia pun tak berniat sungguh-sungguh, "Siapa yang membunuhnya, pak Tua?"
Si tukang parkir tua itu, menoleh persisnya melotot ke arah datangnya suara, ke muka si PNS. Aku lihat si pria berbaju PNS itu agak kecut nyalinya, meski tak mencoba menundukkan wajah seperti orang kalah debat.
"Siapa pembunuhnya?" ulangnya lagi.
"Ah kau rupanya, orang gajian. Jangan membodohi dirimu dengan pertanyaan tak penting itu." Aku lihat beberapa pengunjung tak kuasa menyembunyikan tawanya.
"Hai, tukang parkir, beritahu kami siapa yang membunuh para calon gubernur kita?" Seseorang dari meja sudut ikut nimbrung, dan orang-orang kembali menoleh ke arahnya. "Ya, pak tua, kau harus beritahu kami semua, jika tidak kami akan membunuhmu juga, biar besok muncul di berita "tukang parkir dibunuh" seperti kabar yang kau bawa," timpal pria yang sehari-harinya bekerja di sebuah lembaga asuransi dan langganan di warkop itu.
Si tukang parkir pun mengalah. "Ah, masak kalian tidak tahu pada dongeng tiap musim politik tiba. Calon-calon gubernur itu dibunuh oleh tim sukses mereka, perlahan-lahan." Dia pun berlalu dengan meniup peluit, seperti biasanya. ‪#‎efekkalahpoker‬

*status facebook

20 January 2016

Kisah Hidup Teungku Abdullah Syafie

Jujur, awalnya saya sama sekali tak pernah terpikir bertemu dengan sosok yang pernah begitu diburu aparat keamanan dan para wartawan itu. Hingga suatu ketika, saat pulang ke kampung halaman, saya dapat kabar, Teungku Abdullah Syafie, demikian koran menulis nama panglima jempolan itu, sedang beristirahat di kampung saya. Berbekal rasa penasaran seorang murid sekolah menengah atas, saya beranikan diri mengunjungi sebuah rumah tempat panglima dan puluhan pasukannya menginap. Di sanalah pertama kali saya melihat Teungku Abdullah Syafie dengan kaos oblong putih sedang santai bersama pasukannya.

Saat itu saya tak langsung bisa bertemu Teungku Lah, karena beliau sedang tidur siang. Saya pun terlibat obrolan serius dengan beberapa anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), di antaranya Teungku Hasan Umar Tiro, satu dari beberapa nama yang masih saya ingat. Diskusinya seputar perjuangan dan ideologi GAM serta keberadaan Majelis Permusyawaratan Gerakan Aceh Merdeka (MP GAM). Nama MP GAM menyeruak tak lain karena terlintas nama Pasi Lhok, Kembang Tanjong, disebut. Saya yang masih duduk di bangku MAN, lebih banyak menyimak. Pun, sesekali saya ikut melemparkan pertanyaan, karena rasa penasaran.

Setelah Teungku Lah terbangun, saya pun segera berpindah ke serambi depan rumah, di mana Teungku beristirahat. Saya lihat beliau duduk di atas tempat tidurnya, dan sedang berbicara dengan seseorang melalui Hp satelit. Di situ saya juga melihat ada beberapa pengawalnya, beberapa di antaranya sedang membersihkan senjata, rata-rata AK-47. Tak ada tatapan curiga dari mata mereka. Bisa saja, karena saya hanya seorang anak kecil, ketika itu.

Tak lama, Teungku Lah selesai bicara. Dia tiba-tiba menoleh ke arah saya, dengan mimik ramah melemparkan pertanyaan ringan. Karena tak tahu nama, beliau memanggil saya dengan ucapan ‘Aneuk Muda’. “Aneuk muda pat rumoh?” Saya pun menjawab, bahwa rumah saya tak jauh, hanya berselang beberapa rumah saja. “Rumoh lon blah rot teunong rumoh nyoe, Teungku.”

“Aneuk muda mantong jak sikula?” tanyanya.
“Mantong Teungku, lon sikula bak MAN 1 Sigli jinoe. Nyoe kebetulan teungoh pre, lon woe u gampong.”
“Aneuk Aceh harus jak sikula mandum, bah carong-carong aneuk Aceh.”

Selepas mengatakan itu, Teungku Lah meminta saya mengambil segelas air putih di lantai bawah. Saya pun turun ke bawah melalui tangga, dan meminta segelas air putih untuk Teungku Lah pada empunya rumah, masih famili dekat dengan keluarga saya.

Rupanya, Teungku Lah hendak minum obat. “Ubat nyoe ata dijok le wartawan Jepang. Dipeugah get keu vitamin,” katanya saat mengambil obat dari dalam kantong kresek putih. Obat itu, katanya, dikasih saat wartawan itu mewancarainya, beberapa hari yang lalu. Tak lupa dia menyerahkan sebutir vitamin itu untuk saya. Dia meminumnya duluan, dan menyisakan sedikit air putih, dan menyerahkan gelas itu untuk saya. Saya pun ikut meminumnya.

Pengalaman itu sudah lama sekali, di tahun 1999. Ketika itu, saya belum begitu mengenal sosok beliau, kecuali melalui pemberitaan di media. Itulah satu-satunya pertemuan saya dengan Teungku Lah. Sampai Teungku Lah menghembuskan nafas terakhir dalam sebuah kontak senjata di Alue Mon, Cubo, Bandar Baru, saya tak pernah lagi bertemu dengannya.

Sejak itu, saya pun memendam keinginan untuk menulis kisah hidup beliau. Menurut saya, sosok Teungku Lah penting ditulis, tak hanya karena beliau pernah memimpin Gerakan Aceh Merdeka, melainkan karena sosoknya penuh kharisma. Keinginan itu pun kian memuncak ketika saya mengunjungi Desa Kayee Jatoe dan Blang Sukon, Cubo, pada Oktober tahun lalu. Selama dua hari di Mukim Cubo, saya cukup banyak menyerap informasi seputar sepak-terjang Panglima yang sangat dikagumi anak muda itu.

***
Gampong Seuneubok Rawa, Peusangan, Bireuen berjarak sekitar empat kilometer dari Jalan Medan-Banda Aceh, Kawasan Matang Glumpang Dua, Bireuen. Jalan penghubung menuju ke gampong itu hanya tiga kilometer saja yang teraspal bagus, sementara sekitar satu kilometer lagi penuh kerikil dan berdebu. Di beberapa bagian masih terlihat bekas aspal yang mengelupas. Di kiri kanan jalan, ada bentangan areal persawahan yang luas, bersambung kawasan perbukitan yang teduh dan asri.

Di gampong itulah, Teungku Abdullah Syafie lahir. Jika merujuk keterangan yang tertulis di makam Blang Sukon, Cubo, Pidie Jaya, beliau lahir pada 17 Oktober 1947. Sementara dalam banyak informasi di media, beliau ditulis lahir pada tahun 1952. Tidak ada yang tahu, versi mana yang benar. Tapi, adiknya, Fatimah, memiliki keterangan berbeda. Menurut dia, abangnya lahir sekitar tahun 1955.

“Lon lahe thon 1958, kakak lon thon 1952. Teungku lahe thon 1955,” katanya, awal Desember 2015 lalu. Tahun yang tertulis di makam, lanjutnya, tidak benar. “Thon 1947 dituleh. Pane mungken ka tuha Teungku ngon guree.” Sosok yang disapa Guree itu adalah guru ngaji masa kecil Teungku Lah. Namanya, Muhammad Husein. Adik Teungku Lah menyapanya Guree atau guru.

Beberapa kali ulang tahun mengenang syahidnya Teungku Lah, Fatimah sering ditanya soal tahun lahir. “Lon peugah, thon yang meutuleh nyan salah rayeuk. Kon thon nyan. Gobnyan lahe thon 1955,” cerita Fatimah. Tapi, tahun itu, sudah terlanjur tercetak di makam, dan tak mungkin diubah lagi. Pun begitu, Fatimah berharap suatu saat ada upaya untuk mengubah, sehingga sejarah lahir Teungku bisa diluruskan.

Fatimah adalah adik kandung seibu dan seayah dengan Teungku Lah. Mereka tiga bersaudara. Satu lelaki, dua perempuan. Teungku Lah anak nomor dua. Yang paling tua, kakak perempuannya. Tapi Teungku Lah memiliki seorang abang tiri, seibu dan lain ayah. Namanya Zakaria Suud atau akrab disapa Pak Zack. Pak Zack pernah dijemput oleh aparat seusai Teungku Lah tertembak di Cubo. Beliau dibawa dengan helikopter ke Cubo, untuk memastikan mayat yang ditembak itu adalah adiknya.

Meskipun Teungku Lah lahir di Seuneubok Rawa, Peusangan, tapi sebenarnya ibu kandung Teungku Lah, Ti Hawa, berasal dari Gampong Tumpuen, Kembang Tanjong, Pidie. Sementara ayahnya, Teungku Syafie, orang Banda Aceh.

Sejak tahun 1981, Teungku Lah meninggalkan kampungnya di Seuneubok Rawa. Dia pun berpamitan pada keluarganya. Fatimah mengenang, saat itu 15 Syakban sekitar tahun 1981. Sehari sebelumnya, Teungku Lah mendapat kabar Habib Arbi di Bireuen ditangkap oleh tentara. “Pue buet Habib Arbi nyan, hana lon tupue,” katanya. Habib Arbi dikenal karena sebagai pembuat jamu ‘cap tupe’ yang terkenal ketika itu. Yang pasti, setelah Habib ditangkap, Teungku Lah merasa tidak lagi aman berada di kampung.

“Soe nyang tanyong, peugah lon ka kujak meukat ubat,” kata Fatimah menirukan ucapan abangnya. Sejak itu, Fatimah tak pernah lagi mendengar kabar abangnya. “Thon 1989 na geuwoe sigo teuk,” kenangnya.

Lalu, bagaimana kisah awal Teungku Lah masuk dalam barisan Aceh Merdeka? Teungku Lah yang lahir dua tahun setelah meletus pemberontakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh pimpinan Daud Beureueh, sangat mengidolakan Teungku Hasan di Tiro. Cucu Teungku Syik di Tiro itu banyak memberikan inspirasi baginya. Di beberapa kesempatan, Teungku Lah selalu mengutip kata-kata yang pernah disampaikan Hasan Tiro itu.

"Almukaram Wali Neugara pernah berkata: While man powerless to change his past, he still the master of his future. Because his future is largely determined by his present intention and action. Seseorang masih tetap sebagai pemilik masa depannya, sekalipun dia gagal dalam meraih dan menggenggam masa lalu. Karena masa depannya itu ditentukan oleh aksi dan intensinya hari ini.” Kata-kata itu begitu membekas dalam ingatannya.

Sebelum mulai menceburkan diri dalam gerakan yang diproklamirkan Teungku Hasan di Tiro, Teungku Abdullah Syafie lebih dulu terlibat dalam pasukan, yang oleh adiknya disebut memakai pakaian serba hitam. “Teungku lebih dulu terlibat dalam gerakan jubah hitam,” kata Fatimah.

Dalam banyak pemberitaan, Teungku Lah disebut terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka sehari sebelum Hasan Tiro memproklamirkan gerakan itu di Gunung Halimon. Adiknya, Fatimah meyakini, Teungku Lah sudah terlibat di masa-masa awal persiapan. “Tapi thon 1976 Teungku kana di dalam barisan,” sebut Fatimah. Memang, sepak terjangnya tak ada yang tahu ketika itu.

Di masa-masa itu, Teungku Lah lebih banyak menyampaikan soal Aceh Merdeka dari mulut ke mulut. Apalagi, dia berprofesi sebagai pedagang obat keliling. Syarifuddin, warga Seuneubok Rawa, yang kerap mengantar Teungku Lah saat pulang kampung, masih mengingat bentuk tas yang dibawa Teungku Lah.

“Warna tas Teungku agak merah. Bentuknya persegi empat dengan ketebalan sekitar sejengkal jari tangan orang dewasa,” kenangnya. Di dalam tas itu bisa muat beberapa botol obat. Cara buka kuncinya harus ditekan secara bersama-sama di kedua sisi. Jamu yang sering dijual Teungku Lah adalah jamu Cap Tupe.

Hal lain yang diingat Syarifuddin adalah Teungku Lah memiliki kemampuan karate. Di Alue Kuyuen, Peusangan, Teungku Lah sering mengajari anak-anak bermain silat. “Teungku Lah belajar karate dari Muhammad Nur dari Paya Reuhat,” katanya.

Sosok yang cukup populer di Aceh sepanjang 1999-2002 itu sempat diisukan seorang desertir Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Isu itu awalnya dilansir sebuah media terbitan Jakarta, yang menyebut Teungku Lah ‘binaan’ seorang jenderal di Jakarta.

Suatu ketika, seperti ditulis oleh TEMPO, Abdullah Syafi'ie tampak geram ketika ditanyakan soal isu yang dilansir salah satu media di Jakarta yang menyebut dirinya desertir RPKAD tahun 1976. "Ayah saya sangat anti-TNI. Sejak kecil saya sudah dilatih bermain dengan parang. Usia 23 saya gabung dengan Wali Negara Aceh, Dr Teungku Muhammad Hasan di Tiro," ujar suami Pocut Fatimah itu.

Ia membantah kabar tersebut. Menurutnya, TNI sengaja melansir isu ini untuk memecah-belah rakyat Aceh. Apalagi RPKAD yang kemudian berubah menjadi Kopassus, sangat dibenci rakyat akibat kebiadabannya di Aceh selama masa DOM (daerah operasi militer) antara tahun 1989-1998.

Sekitar tahun 1980-an, Teungku Lah menikahi seorang wanita dari Cubo, namanya Cut Fatimah. Wanita yang disapa Pocut Fatimah itu masih memiliki hubungan famili dengan Teungku Lah. “Keluarga ureueng inong, nyan saudara ayah,” cerita Fatimah. Teungku Lah datang ke Blang Sukon untuk berjualan obat sambil mencari sanak-keluarganya di sana. “Teungku jak seutot taloe wareh watee nyan,” kata Fatimah, adiknya.

Sang istri, Cut Fatimah, selalu setia mendampingi Teungku Lah, bahkan hingga ajal menjemput. Di masa Daerah Operasi Militer (DOM), dia pernah ditangkap dan dianiaya oleh TNI. Ketika mereka syahid pada 22 Januari 2002, Pocut Fatimah sedang hamil enam bulan. Sudah cukup lama mereka mendambakan seorang anak, tapi Allah belum juga memberi keturunan untuk mereka. Tiga bulan saat menanti kelahiran bayi pertama mereka, TNI merenggutnya di sebuah subuh buta, di Alue Mon, Cubo, 22 Januari 2002. Pocut Fatimah berikut bayi yang dikandungnya meninggal setelah peluru aparat menembus tubuhnya. Dalam kejadian itu, Teungku Lah dan lima pengawalnya ikut syahid.


NOTE: penggalan tulisan ini dikutip dari buku Abdullah Syafie, Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka, terbitan Aceh Citizen, cet 1, Desember 2015. Dilarang keras mengutip posting ini. Terima kasih.

29 October 2015

Belajar dari Kasus Singkil

Ketenangan dan kerukunan antar-masyarakat di Singkil tiba-tiba terkoyak. Satu unit rumah ibadah (gereja) umat Nasrani di Desa Sukamakmur, Kecamatan Gunung Meriah, Singkil dibakar massa pada 13 Oktober lalu. Satu orang tewas dan empat lainnya luka-luka.  

Kasus Singkil itu segera menyita perhatian media lokal, nasional dan internasional. Alhasil, Aceh berada dalam posisi tersudut: Aceh dianggap tidak toleran terhadap kaum minoritas. Pendapat ini lebih banyak diwakili oleh kalangan yang melihat Aceh hanya dari pemberitaan di media.

Di media sosial, kasus pembakaran gereja itu menyebar cepat, dan memunculkan respon beragam. Ada pihak (terutama publik luar Aceh) mengaitkan kasus pembakaran gereja itu dengan posisi Aceh sebagai wilayah penerapan Syariat Islam. Kutub debat pun lalu diarahkan dengan menyalahkan hukum Syariat Islam sebagai pemicu masalah di Singkil dan di Aceh pada umumnya.

Padahal, mengaitkan kasus Singkil dengan Syariat Islam Aceh sama sekali tidak memiliki relevansi. Apa yang terjadi di Singkil, saya kira, sebuah gumpalan gunung es dari dari persoalan besar di negeri ini: tidak tegasnya aturan pendirian rumah ibadah. Kasus Singkil membuka mata kita, bahwa ada problem besar yang perlu segera diselesaikan. Jika tidak, kasus serupa akan terus terulang dan menjalar.

***
Jika didalami, kasus Singkil sebenarnya sangat sederhana: soal interaksi dan komunikasi. Bagaimana cara kelompok minoritas membawa diri di satu sisi, dan kewajiban kelompok mayoritas melindungi minoritas di sisi yang lain. Ketika dua hal ini macet pasti muncul persoalan. Hal serupa bisa juga dilacak dalam kasus pembakaran masjid di Karabuga, Tolikara, Papua pada 17 Juli 2015 silam. Kasus ini terjadi karena kelompok minoritas gagal membawa diri di tengah kelompok mayoritas.  

Dalam kedua kasus itu, kita perlu belajar dari kearifan lokal masyarakat Aceh. Di luar pemerintahan resmi, Aceh memiliki satuan pemerintahan lokal atau wilayah adat terkecil  (gampong), yang berada di bawah Mukim. Gampong (Bahasa Indonesia: kampung atau desa) merupakan bagian dari masa lalu Aceh, sebagai modal sosial dalam membangun Aceh secara lebih luas.

Keberadaan Gampong dan Mukim itu diatur dalam Undang-undang dan diakui secara resmi oleh pemerintah. Ciri-ciri yang melekat pada sebuah Gampong adalah keberadaan sebuah Meunasah (surau), sebagai pusat kegiatan sosial dan keagamaan (terutama Salat lima waktu). Pendirian Meunasah diatur dengan kebijaksanaan perangkat Gampong dan kearifan lokal yang berlaku di tempat itu. Peraturan tak tertulis itu dipegang cukup ketat.

Jadi, jika ada sebagian anggota masyarakat hendak membangun Meunasah baru di gampong tersebut, tak boleh dilakukan secara sembarangan. Selain harus melalui persetujuan anggota dan petua Gampong (perangkat desa), juga ada faktor lain yang perlu diperhatikan. Misalnya, keberadaan meunasah yang cukup jauh bagi sebagian masyarakat dan tak muat lagi menampung jamaah salat.

Begitu juga yang berlaku di sebuah Mukim, sebuah persekutuan atau federasi beberapa gampong (minimal tiga gampong) yang dipimpin oleh Imum Mukim. Di masa Orde Baru, keberadaan Mukim sempat dibonsai dan ditiadakan, tapi di beberapa daerah masyarakat masih mempertahankan strukturnya. Sebagai sebuah pemerintahan adat, Mukim (dan juga gampong) punya kuasa penuh atas wilayahnya, dan menerapkan aturan tersendiri yang wajib dipatuhi oleh siapa pun. Salah satu ciri yang melekat dari sebuah Mukim adalah keberadaan sebuah Masjid Jamik sebagai tempat melaksanakan Salat Jumat.

Di beberapa Kabupaten di Aceh, Mukim-mukim masih mempertahankan tradisi Salat Jumat di Masjid Jamik demi menjaga kohesi sosial dan persatuan masyarakat. Tak ada gampong di dalam Mukim itu yang berencana membangun Masjid sendiri, karena dianggap tak kompak. Pun demikian, bukan tidak ada dalam satu Mukim berdiri lebih dari satu masjid. Di Mane, Pidie, misalnya. Kecamatan yang memiliki empat Gampong dan satu Mukim tersebut punya 8 masjid dan 24 meunasah. Ini dimungkinkan setelah mempertimbangkan faktor geografis (letak satu kampung dengan kampung lain berjauhan) dan ukuran masjid yang tak lagi mampu menampung jamaah.

Penting dipahami di sini adalah, di Aceh, di luar pemerintahan resmi ada struktur pemerintahan adat yang memiliki kuasa penuh atas wilayahnya. Keberadaan lembaga adat ini tak boleh dinafikan, terutama dalam hal apapun yang melibatkan masyarakat gampong dan mukim. Mereka kadang-kadang memiliki aturan tersendiri yang harus dipatahui siapa pun di dalam wilayah itu. Publik luar Aceh kadang-kadang jarang memahami hal ini, dan cenderung mengabaikannya.

***
Sesaat setelah kasus Singkil meledak, pernyataan yang muncul di media massa dan media sosial, nyaris seragam. Sepanjang yang saya amati, kata kuncinya adalah ‘intoleransi’. Umat Islam Aceh dianggap tidak toleran serta tak melindungi kaum minoritas. Sebagian menyalahkan Syariat Islam yang diterapkan di Aceh, tak lupa dibumbuhi dengan sejumlah kebijakan kontrovesi yang pernah muncul di Aceh.

Ada ungkapan yang hidup di masyarakat Aceh yaitu peumulia Jamee adat geutanyoe (memuliakan tamu adalah adat orang kita). Adat memuliakan tamu itu sudah dipegang secara turun-temurun. Siapa pun yang datang ke Aceh diterima dengan lapang dada. Lihat saja dalam acara penyambutan tamu, orang Aceh sering menyuguhkan tari Ranup Lampuan yang diikuti penyajian ranub (tradisi makan sirih) kepada tamu yang datang. Pemberian ranub sebagai simbol penghormatan dan penerimaan sebagai saudara.

Simbol pemberian ranub atau sirih itu punya makna filosofi yang mendalam. Pertama, sirih memiliki rasa yang pedas. Ini semacam pesan halus kepada sang tamu agar berhati-hati dalam berbicara. Sebab, kata-kata orang Aceh (tuan rumah) bisa lebih pedas dari rasa sirih.

Kedua, sirih kalau dikunyah akan mengeluarkan warna merah. Secara simbolik, ini pesan kepada tamu untuk berbicara secara jelas, tidak bertele-tele dan tidak ambigu. Dia harus bicara sejelas warna merah di bibir dan mulut mereka saat mengunyah sirih.

Selama tamu menghormati adat dan budaya masyarakat Aceh, mereka akan diterima dengan baik dan bahkan dianggap saudara. Jarang muncul konflik. Keliru kalau ada anggapan orang Islam di Aceh tidak toleran. Kasus pembakaran gereja di Singkil tak dapat dijadikan justifikasi.

Sepanjang ingatan saya, saat Aceh masih dibalut konflik hampir tak ada kasus pembakaran gereja, vihara dan rumah ibadah pemeluk agama lain. Kasus pembakaran gereka di Singkil benar-benar kejadian langka. Aparat keamanan perlu mengungkap aktor intelektual dan provokator yang memicu retaknya kohesi sosial masyarakat di Singkil yang dikenal sangat majemuk dan heterogen.

Banyak pihak tak senang dengan perdamaian Aceh yang sudah lebih 10 tahun. Upaya-upaya menggiring Aceh kembali ke masa konflik terus diupayakan. Caranya macam-macam, seperti mengadu domba antara masyarakat Aceh pesisir dengan masyarakat dataran tinggi, meniupkan isu terorisme, pertentangan Sunni dengan Syiah dan Wahabi hingga yang terakhir, pembakaran gereja.

Apa yang terjadi di Singkil mudah-mudahan tidak sampai merusak nilai-nilai keberagaman di masyarakat. Tidak ada sentimen anti-Islam atau anti-Kristen di Singkil. Mari merajut kembali benang persaudaraan. Selalu bangun interaksi sosial dan komunikasi dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Di atas segalanya, apa yang terjadi di Singkil dan Tolikara menjadi catatan berharga untuk bangsa ini. Ada pekerjaan rumah yang perlu segera dituntaskan, terutama bagaimana menjaga nilai-nilai keberagaman sebagai modal sosial. Jika tidak, semangat pendiri bangsa yang merangkul semua kelompok saat mendirikan negara ini menjadi sia-sia sana. 

[Sudah dimuat di Majalah Sindoweekly, 4 November 2015]