The Enemy, Film Pelarian Aceh

By Taufik Al Mubarak | At 5/18/2013 | Label : | 0 Comments
Pada 18 April 2011 silam, The Enemy, resmi dirilis ke publik melalui website www.dayfc.net. Film ini digarap oleh anak-anak muda Aceh yang kini bermukim di Denmark. Mereka tinggal di salah satu Negara di Skandanavia itu dalam status sebagai pengungsi politik. Sebagian ada yang sudah kembali ke Aceh pasca-damai, namun banyak juga yang masih bertahan.

The Enemy merupakan film perdana hasil produksi Danes Acehnese Youth Film Club (DAYFC). DAYFC adalah sebuah klub film anak muda yang berbasis di Denmark. DAYFC didirikan oleh beberapa pemuda yang meminati dunia perfilman, seperti Makmur Habib, Tarmizi Busu, Husaini Aziz, Ishak Yusuf dan beberapa kawan lainnya.

“Kita bentuk klub ini untuk mengasah bakat pemuda Aceh di luar negeri dalam dunia perfilman,” kata Tarmizi Busu. Tarmizi berharap melalui DAYFC nantinya akan lahir aktor maupun sutradara profesional dari anak-anak Aceh di luar negeri, terutama Denmark.

Tarmizi, pria Busu, Pidie sudah 7 lebih bermukim di Denmark. Dia mendapatkan suaka politik ke Denmark ketika masih berada di Malaysia. Menurutnya, semenjak didirikan pada 4 April 2010, DAYFC  telah memproduksi film The Enemy sebagai film perdana. “Kita berharap nanti bisa terus memproduksi film-film ini, terutama soal kehidupan orang Aceh di luar negeri,” lanjutnya.

Membuat film diakui Tarmizi sangat sulit, apalagi dukungan peralatan yang sangat terbatas. Pun demikian, berkat kegigihan dan kesabaran dari kru, mereka berhasil juga menyelesaikan film pertama. “Kita akui film pertama ini sangat banyak kekurangan, tapi ke depan kita akan terus meningkatkan kualitas,” katanya.

Lalu, tentang apa film The Enemy? Tarmizi menceritakan, The Enemy mengisahkan tentang pembunuhan Zaki, anak bos mafia, Don John (yang diperankan Makmor Habib). Film ini juga bercerita tentang jaringan pengedaran narkoba.

“Persaingan sesama pengikut Don John dalam merebut pengaruh dan kekuasaan menjadikan film ini sedikit menegangkan,” katanya.

Oh ya, pemain di film ini tak hanya anak Aceh, tetapi juga ada dari Denmark, Brian dan Nicole. Hal ini menambah daya tarik film ini. Selain itu, kata-kata Aceh yang keluar dari pemain film ini sangat khas dan fasih. Ada beberapa kalimat yang membuat kita tersenyum. Penasaran? Download di website www.dayfc.net  atau di YouTube. []

Aceh, Willem III, dan Bronbeek

By Taufik Al Mubarak | At 5/12/2013 | Label : | 0 Comments
Saya beruntung bisa melihat negeri Belanda dari dekat. Pengalaman berkunjung ke negeri Kincir Angin pada 27 Juli 2010 silam itu masih membekas hingga kini. Sebab, itulah pertama kalinya saya menginjak kaki di negeri yang dulu pernah berperang dengan bangsa Aceh (1873-1942).

Bagi orang Aceh, Belanda bukan negeri asing. Sebab, puluhan tahun kedua negeri ini terlibat perang paling berdarah di Nusantara. Ribuan pasukan dari kedua belah pihak itu gugur dalam medan tempur. Ingatan sejarah itu pula yang mengiringi saya ketika berkunjung ke Museum Bronbeek di Arhem, Belanda pada 27 Juli 2010 silam.

Tapi, itu dulu. Belanda hari ini tentu berbeda dengan yang dulu. Kini, Belanda dikenal sebagai salah satu Negara Eropa yang elok, eksotis dan modern. Negeri berpenduduk lebih kurang 8 juta orang itu mulai diperhitungkan sebagai kiblat kemajuan dan pusat pendidikan.

Universitas-universitas di Belanda termasuk dalam peringkat 10 di antara 200 perguruan terbaik di dunia. Beberapa universitas yang layak dicatat di antaranya, Leiden University, Utrecht University, University of Amsterdam, University of Groningen (untuk universitas riset); Amsterdam School of the Arts, Business School of Amsterdam (untuk universitas terapan), dan sebagainya.

Museum-museum di Belanda juga jadi rujukan dan tempat para ilmuan menggali rujukan sejarah, di antaranya museum Leiden dan Bronbeek.

Sebelum tiba di Bronbeek, saya membayangkan museum ini pastilah seperti kebanyakan museum lain di tempat kita: tak terurus, pengap, berantakan dan sangat tak nyaman dikunjungi. Namun, begitu memasuki areal museum, kita pun terkagum-kagum; betapa luar biasanya museum ini.

Halaman depannya cukup luas, penuh dengan taman bunga. Beberapa prasasti, ukiran batu, beberapa patung tentara Belanda di depan museum—mulai dari patung perwira sampai patung prajurit KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) langsung terhidang di depan mata. Gedung-gedung di kawasan Museum itu sekilas seperti bangunan peninggalan Belanda di tempat kita: kokoh, kuat dan sangat artistik. Di museum inilah kita jadi takjub bagaimana rapinya Belanda merawat ingatan bangsanya dengan nilai-nilai sejarah: melalui benda-benda perang (meriam) dan literatur.

Meriam dari berbegai jenis itu dipajang mengelilingi dinding museum. Benda-benda perang ini dibawa dari sejumlah wilayah taklukan di Nusantara. Hal itu sebagai bukti yang menunjukkan betapa seriusnya bangsa Belanda merawat peninggalan sejarahnya.

Bronbeek
Museum Bronbeek ini termasuk salah satu museum tertua di Belanda. Pengelola atau conservator museum, Drs. Hans van den Akker yang saya wawancarai menyebutkan, usia museum yang sering disebut Museum Perang ini sudah 150 tahun, sejak pertama kali dibangun oleh Raja Willem III tahun 1863. Willem sendiri lahir dengan nama Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk van Oranje-Nassau, lahir di Brussels, Belgia, 17 Februari 1817 merupakan Raja Belanda dan Grand-Ducal House of Luxembourg. Pada 23 November 1890, dia meninggal (pada umur 73 tahun) dan mewariskan tahta kepada putrinya, Wilhelmina yang ketika itu baru berumur 10 tahun.

Menurut Hans, dulunya Raja Willem III membangun museum ini untuk mengenang pasukan setianya, KNIL sebagai penghormatan atas jasa mereka. Patung gelap pasukan KNIL memegang pedang dan senjata di prasasti depan museum dapat menjelaskan hal ini.

Kenapa museum ini diberi nama Bronbeek? “Di lokasi dibangun museum ini dulunya terdapat sungai kecil asli (bukan sungai buatan),” kata Hans.

Berpose ria di depan patung KNIL
Dalam bahasa Belanda, Bronbeek berarti aliran air/sungai kecil. Kami sempat melihat bekas sumber aliran sungai itu di belakang museum.

Meskipun Bronbeek sebagai destinasi wisata untuk umum, namun museum ini juga menjadi tempat untuk anak-anak sekolah di Belanda mengenal sejarah bangsanya dari dekat. Ini tak terlepas dari terobosan sistem pembelajaran yang dianut Belanda. Sistem ini melatih siswa untuk menganalisis dan memecahkan masalah dengan praktis dan mandiri melalui penekanan pada cara belajar mandiri dan kedisiplinan.

Tarmizi Busu, pengungsi Aceh di Denmark saat di Bronbekk
Bahkan, seperti disinggung di atas, museum Bronbeek ini jadi pilihan para peneliti yang ingin mempelajari sejarah Belanda dan bangsa-bangsa taklukannya. Mereka dapat mengakses semua dokumen, benda atau prasasti yang ada di sini untuk keperluan akademiki/studi. Apalagi, banyak benda-benda penting tersimpan di museum ini yaitu meriam, seragam tentara, pedang, pangkat dan medali penghargaan militer, poster proganda masa konflik, patung, senjata ringan, gambar dan beberapa catatan dan koleksi buku.

Bagaimana dengan anggaran pengelolaan museum? Menurut Hans, dananya semua subsidi dari kerajaaan. Segela keperluan untuk museum itu memang menjadi tanggung jawab pihak Kerajaan. Mereka hanya mengurus dan merawatnya.

Hans ini masih muda. Dia cukup lancar berbahasa Indonesia. Dia bawa kami berkeliling semua sudut museum. Kami juga diajak melihat-lihat sudut khusus tempat menyimpan semua benda dan arsip perang Aceh. Kami sedikit kecewa, karena hasrat kami untuk melihat langsung bendera perang Aceh, tak kesampaian. Menurut Hans, tahun depan jika kami berkunjung lagi, kami bisa melihatnya. Pasalnya, ruangan tempat menyimpan benda-benda itu sedang direhab. Kami sempat melihat beberapa pekerja yang bongkar pasang di situ.

Saya dan Drs. Hans van den Akker
Sementara W.M Adrians, pengelola perpustakaan di museum itu, menceritakan, sebagian kebutuhan buku (termasuk buku klasik) mereka beli dari penerbit lain melalui dana subsidi kerajaan. “Banyak juga penerbit yang menyumbang buku. Jumlahnya mencapai ribuan,” kata Adrian, yang pasih berbahasa Indonesia. Adrian pernah lama tinggal di Indonesia, di kawasan Maluku.

Tak hanya Hans dan Adrian yang bisa berbahasa Indonesia. Sejumlah orang yang kami temui semua mampu berbicara bahasa Indonesia. Mereka rupanya bagian dari 43 veteran perang masa penjajahan Belanda. Kesan mereka kepada kami cukup baik. Mereka cukup bangga pada kami yang dari Aceh.

Saya dan W.M Adrians
“Orang Aceh kuat-kuat, dan sangat gagah berani,” ujar seorang kakek yang usianya sudah 90 lebih. Setiap hari dia bersama-sama temanya menyapa orang yang berkunjung, membersihkan halaman, dan menyapu. Mereka cukup senang, hal itu kami tahu dari raut wajah mereka yang selalu mengangkat tangan dan menyapa kami, termasuk ketika kami berpamit pulang. Dari mereka pula kita bisa memperoleh cerita-cerita seputar perang di Nusantara. Mereka dengan senang hati mau berbagi kisah hidup serta pengalaman perang yang mereka alami sewaktu menjadi tentara kolonial dulunya.

Adrian juga menceritakan, sebagian buku-buku di pustaka Bronbeek yang dikelolanya dikirim ke Aceh. “Tapi sebagian dari buku itu sudah hilang karena tsunami,” katanya, pelan. Kini, sebagian dari buku-buku itu masih bisa diakses dan didownload di www.acehbooks.org secara gratis. Situs ini disedikan dan dibiayai oleh Menteri Pendidikan Belanda, yang dikelola oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde) di Leiden.

KITLV tersebut menyedikan sebagian besar literatur tentang Aceh secara digital untuk diserahkan kepada masyarakat Aceh. Proyek tersebut terutama untuk proses digitalisasi sejumlah literatur tentang Aceh diawasi oleh Perpustakaan Kerajaan di Den Haag.

Di website ini terdapat lebih kurang seribuan lebih file buku Aceh secara digital dalam format pdf yang bisa didownloads. Informasi dalam website Aceh Books menyebutkan bahwa judul-judul lain yang berhubungan dengan Aceh akan ditambahkan seiring waktu. Buku-buku dalam website ini terdapat dalam sejumlah bahasa seperti Indonesia, Aceh, Inggris, Belanda dan juga dalam bahasa-bahasa Eropa lainnya yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit, baik yang ada di Indonesia maupun di Eropa. Buku-buku tersebut tertanggal mulai abad 17 hingga hari ini.

Seperti Museum Aceh
Menurut saya, museum Bronbeek itu cukup istimewa. Setelah puas berkeliling, kita hampir selalu berpapasan dengan benda-benda perang yang berhubungan dengan Aceh. Kita akan langsung terbayang pada heroisme pejuang Aceh dulunya. Bayangkan, meriam-meriam eks perang Aceh dalam ukuran yang berbeda menempati sisi-sisi utama ruangan berkaca dan melintangi sudut-sudut museum. Kemana saja kita berjalan dalam museum itu, meriam-meriam itu menjadi pemandangan utama yang cukup kontras, seperti meriam berukiran keemasan buatan Turki sampai meriam Inggris yang dihadiahkan kepada Sultan Aceh dahulu.

Selepas pintu masuk utama, tepatnya di dinding sebelah kita, kita akan langsung disapa dengan wajah gambar-gambar Gubernur Militer Belanda di Aceh, mulai dari Mayor Jendral Kohler yang mati terbunuh sampai Van Heutz yang buta sebelah sebagai ‘hadiah’ dari pejuang Mujahidin Aceh.

Apa yang saya lihat ini hanyalah sedikit dari bentuk kepedulian Belanda pada pengembangan pendidikan serta upaya merawat peninggalan sejarah untuk anak cucu. []

Referensi:

Bronbeek, Sebuah Museum Riset

By Taufik Al Mubarak | At 5/05/2013 | Label : | 0 Comments
Kepeloporan Belanda di dunia pendidikan tak perlu diragukan lagi. Universitas-universitas di Belanda termasuk dalam peringkat 10 di antara 200 perguruan terbaik di dunia. Beberapa universitas yang layak dicatat di antaranya, Leiden University, Utrecht University, University of Amsterdam, University of Groningen (untuk universitas riset); Amsterdam School of the Arts, Business School of Amsterdam (untuk universitas terapan), dan sebagainya.

Bahkan, pada tahun 2011, sebanyak 12 universitas di Belanda masuk dalam peringkat 200 besar daftar perguruan tertinggi di dunia. Daya tarik dunia pendidikan di Belanda tak terlepas dari keberadaan beberapa museum. Nama-nama museum itu sangat harum ke seluruh dunia, seperti Museum Leiden, Bronbeek, Tropen dan lain-lain. Museum-museum di Belanda menjadi destinasi dan tempat para ilmuan menggali rujukan sejarah

Saya beruntung bisa melihat negeri Belanda dari dekat, terutama bisa mengunjungi Museum Bronbeek di Arhem, Belanda pada 27 Juli 2010 silam. Selain menyimpan banyak benda-benda bersejarah, museum Bronbeek menjadi istimewa karena terdapat 43 veteran perang. Dari mereka pula kita bisa memperoleh cerita-cerita seputar perang di Nusantara. Mereka dengan senang hati mau berbagi kisah hidup serta pengalaman perang yang mereka alami sewaktu menjadi tentara kolonial dulunya.

Tak mengherankan jika negeri berpenduduk lebih kurang 8 juta orang itu mulai diperhitungkan sebagai kiblat kemajuan dan pusat pendidikan. Hal itu pula yang menyebabkan museum-museum di Belanda ramai dikunjungi para peneliti, pelajar, mahasiswa dan professor dari seluruh dunia.

Awalnya saya membayangkan museum Bronbeek pastilah seperti kebanyakan museum lain di tempat kita: tak terurus, pengap, berantakan dan sangat tak nyaman dikunjungi. Namun, begitu memasuki areal museum, kita pun terkagum-kagum. Kita dapat melihat bagaimana rapinya Belanda merawat ingatan bangsanya dengan nilai-nilai sejarah: melalui benda-benda perang (meriam) dan literatur. Meriam dari berbegai jenis itu dipajang mengelilingi dinding museum. Benda-benda perang ini dibawa dari sejumlah wilayah taklukan di Nusantara.

Museum Bronbeek ini termasuk salah satu museum tertua di Belanda. Pengelola atau conservator museum, Drs. Hans van den Akker menyebutkan, usia museum yang sering disebut Museum Perang ini sudah 150 tahun, sejak pertama kali dibangun oleh Raja Willem III tahun 1863.

Willem atau Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk van Oranje-Nassau, lahir di Brussels, Belgia, 17 Februari 1817 merupakan Raja Belanda dan Grand-Ducal House of Luxembourg. Pada 23 November 1890, dia meninggal (pada umur 73 tahun) dan mewariskan tahta kepada putrinya, Wilhelmina (ketika itu baru berumur 10 tahun).

Menurut Hans, Raja Willem III membangun museum ini untuk mengenang pasukan setianya, KNIL sebagai penghormatan atas jasa mereka. Nama Bronbeek diberikan karena “di lokasi dibangun museum ini dulunya terdapat sungai kecil asli (bukan sungai buatan),” kata Hans. Dalam bahasa Belanda, Bronbeek berarti aliran air/sungai kecil.

Meskipun Bronbeek sebagai destinasi wisata untuk umum, museum ini juga menjadi tempat untuk anak-anak sekolah di Belanda mengenal sejarah bangsanya. Ini tak terlepas dari terobosan sistem pembelajaran yang dianut Belanda, melatih siswa untuk menganalisis dan memecahkan masalah dengan praktis dan mandiri melalui penekanan pada cara belajar mandiri dan kedisiplinan.

Museum Bronbeek ini jadi pilihan para peneliti yang ingin mempelajari sejarah Belanda dan bangsa-bangsa taklukannya. Mereka dapat mengakses semua dokumen, benda atau prasasti yang ada di sini untuk keperluan akademiki/studi. []

Referensi:




http://jumpueng.blogspot.com/2011/05/belanda-yang-lain.html

----- > Tulisan ini merupakan edisi pendek (hasil revisi) untuk lomba Kompetiblog 2013 dari tulisan sebelumnya http://jumpueng.blogspot.com/2013/05/aceh-willem-iii-dan-bronbeek.html yang menurut admin kompetiblog terlalu panjang (syarat tulisan tak lebih dari 500 kata).

Bendera dan Perdamaian Aceh

By Taufik Al Mubarak | At 4/24/2013 | Label : | 0 Comments
Di Aceh na alam peudeung 
Cap sikeurueng bak jaroe raja
Phon di Aceh troh u Pahang
Tan soe teuntang Iskandar Muda
..........
(Nadham Aceh)

Halaman konflik Aceh tiba-tiba terbuka kembali. Cerita ‘bendera’ dan ‘lambang’ Aceh menjadi isu seksi sebagai santapan media. Aceh yang secara ejaan cukup singkat di lidah ternyata begitu rumit, kompleks dan sensitif. Bayangan konflik seperti di masa lalu pun terhidang di benak kita.

Pemicunya adalah pengesahan Qanun Nomor 3 tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Jumat (22/3). Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf, sejak Senin (25/3/2013) resmi menetapkan bendera dan lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu sebagai bendera dan lambang resmi Propinsi Aceh.

Pengesahan tersebut menempatkan Aceh dan Jakarta pada posisi berhadap-hadapan. Di Aceh bendera dan lambang menjadi harga mati yang tak boleh ditawar-tawar. Rakyat pun larut dalam euphoria kemenangan. Sementara Jakarta jelas tak memberi restu. Bendera dan lambang tersebut diyakini akan menghidupkan kembali semangat separatisme rakyat Aceh. Penolakan serupa juga disuarakan masyarakat Gayo dan beberapa daerah yang masih memendam keinginan membentuk propinsi tersendiri, terpisah dari Aceh.

Semua pihak hendaknya berhati-hati dan menyikapi persoalan ini dengan kepala jernih. Semua diskusi, pendapat, sikap dan kebijakan terkait isu bendera dan lambang harus ditempatkan dalam kerangka perdamaian. Bagi kita, ada dua pertanyaan penting yang perlu segera dijawab adalah, apakah bendera dan lambang Aceh itu sebagai simbol kedaulatan? Ataukah bendera itu hanya sekadar ‘obat pelelap tidur’ sambil dinina-bobo ‘dongeng’ romantisme sejarah!

Kesepakatan
Pasca-MoU Helsinki dan lahirnya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) menciptakan kondisi sosial-politik-ekonomi yang kondusif di Aceh. Aceh dapat menjalankan pemerintahan sendiri. Banyak mantan kombatan GAM berpartisipasi dalam Pemilihan Kepala Pemerintahan Daerah (Pilkada), mulai tingkat Gubernur hingga Bupati/Walikota serta Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), sesuatu yang mustahil saat Aceh masih dibalut konflik.

Kebersediaan berunding dan memilih penyelesaian Aceh secara damai berarti secara tidak langsung mengakui dan menerima apapun konsekuensi hasilnya. Hal ini sangat disadari dan dipahami oleh juru runding kedua belah pihak (RI dan GAM) saat itu. Bahwa, ada kompensasi-kompensasi yang akan diberikan kepada pihak lain. Di antaranya, kehadiran Partai Politik Lokal, pemusnahan senjata, dan distribusi ekonomi yang lebih adil. 

Kompensasi itu tentu saja tidak gratis. GAM sebagai sebagai sebuah subjek pelaku konflik bersedia menutup rapat-rapat keinginan memerdekakan Aceh untuk selamanya. MoU memuluskan jalan bagi integrasi total Aceh ke dalam konstitusi Indonesia, dan Aceh tak boleh lagi bicara referendum atau merdeka.

Rupanya, kesepahaman itu tak semulus yang dikira. Poin paling sensitif dan krusial tentu saja terkait bendera, lambang dan himne. Dalam MoU Helsinki (artikel 1.1.5) disebutkan, “Aceh memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol wilayah termasuk bendera, lambang dan himne.” Poin ini kemudian diterjemahkan dalam UUPA, pada pasal 246 ayat (2), “Selain Bendera Merah Putih sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Aceh dapat menentukan dan menetapkan bendera daerah Aceh sebagai lambang yang mencermnkan keistimewaan dan kekhususan. Artinya, penentuan dan penetapan bendera Aceh dibolehkan selama bukan dimaksudkan sebagai simbol kedaulatan dan tidak diberlakukan sebagai bendera kedaulatan di Aceh (ayat 3), serta penetapan bendera, lambang dan himne diatur bentuk Qanun yang berpedoman pada perundang-undangan (ayat 4).

Resistensi
Semua pihak mesti bijak memandang masalah krusial ini. Jangan sampai sikap resistensi yang berlebihan justru memupuk kembali semangat konfrontasi secara lebih terbuka. Hal ini menjadi penting, karena: Pertama, semangat penetapan bendera dan lambang Aceh kini sama sekali berbeda dengan saat ketika Hasan Tiro memproklamirkan Aceh Merdeka tahun 1976 serta ketika puncak konflik Aceh (1999-2002). 

Faktor Pemilu 2014 tak boleh dikesampingkan. Elit Partai Aceh yang kini mendominasi pemerintahan dan parlemen Aceh menyadari dukungan terhadap mereka pada 2014 bakal merosot tajam. Kinerja mereka sejauh ini tidak begitu menggembirakan, dan publik Aceh mulai pesimistis terhadap kinerja mereka. Untuk tetap memikat hati pemilih, mereka memerlukan jualan baru. Bendera dan lambang diyakini akan kembali memulihkan kepercayaan publik Aceh terhadap mereka. Kehadiran bendera dan lambang Aceh setidaknya akan membuat rakyat terlena dan lupa dengan kondisi ril yang terjadi.

Kedua, tak semua pihak di Aceh sepakat dengan Qanun tersebut. Penolakan muncul di mana-mana, baik secara diam-diam maupun secara terbuka. Penolakan itu dapat disimak melalui komentar tokoh-tokoh di media, obrolan di jejaraing soal (Facebook dan Twitter). Mereka beralasan bahwa bendera Aceh itu sama sekali tak bisa menggantikan beras sebagai kebutuhan riil masyarakat. Sementara penolakan secara terbuka disuarakan oleh komunitas Gayo dan masyarakat beberapa kabupaten yang memang memendam keinginan untuk menalak tiga provinsi induk, Aceh. 

Tak hanya Qanun bendera dan lambang yang mereka tolak, melainkan juga Qanun Wali Nanggroe. Mereka yang menolak beralasan bahwa Qanun Wali Nanggroe sangat diskriminatif. Yang mereka sorot tak hanya soal anggaran, melainkan beberapa point dalam Qanun seperti calon Wali Nanggroe harus mampu berbicara bahasa Aceh secara fasih. Seperti diketahui, di Aceh tak semua suku berbicara dalam bahasa Aceh, seperti misalnya masyarakat Gayo, Alas, dan Aneuk Jamee.

Semangat perdamaian
Kita berharap Pemerintah Aceh (juga Parlemen Aceh) dan Pemerintah Pusat segera menemukan jalan tengah terkait pro-kontra bendera dan lambang Aceh. Persoalan bendera dan lambang ini jangan sampai mencederai semangat perdamaian yang sedang dinikmati rakyat Aceh. 

Diakui atau tidak, secara historis bendera dan lambang Aceh yang disahkan DPR Aceh itu sangat berbau separatisme. Sehingga diyakini akan menguak lagi hasrat dan birahi Aceh untuk melawan Jakarta. Apalagi jika ditelaah makna dari bendera dan lambang, merupakan bentuk penegasan kedaulatan Aceh. Inilah yang menjadi batu sandungan dan kerikil tajam terhadap masa depan perdamaian Aceh.

Perlu segera dicari solusi alternatif, agar yang menjadi bendera dan lambang Aceh benar-benar merupakan simbol perdamaian. Sehingga mau tak mau mewajibkan semua pihak di Aceh untuk tak lagi mengungkit luka yang bisa mencederai perdamaian. 

Alam Peudeung (wikimedia.org)
Jika yang diusung adalah semangat perdamaian serta menghormati sejarah masa lalu Aceh, maka alam peudeung (Bendera Pedang) seperti termaktub dalam nadham (syair) Aceh yang memiliki warna dasar merah, pedang dan bulan bintang, jauh lebih memungkinkan. Selain tak mengusik persatuan Aceh, alam peudeung sangat cocok dengan semangat perdamaian.

Alam peudeung akan memupuk rasa bangga pada sejarah masa lalu Aceh. Ini untuk menegaskan, bahwa romantisme Aceh tak dimulai pada 1976 ketika Hasan Tiro memaklumkan perang terhadap Jakarta, melainkan pada masa keemasan Aceh ketika diperintah Sultan Iskandar Muda, seperti terlukis dalam nadham Aceh yang dikutip di awal tulisan ini. 

Penggunaan alam peudeung itu sekaligus untuk meminimalisir klaim pihak-pihak tertentu sebagai yang paling berjasa bagi terciptanya perdamaian. Buah perdamaian Aceh harus dinikmati oleh seluruh masyarakat Aceh, baik yang tergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) maupun yang tidak. Semua memiliki jasa dan saham atas lahirnya perdamaian.

Pada akhirnya, dialog merupakan kunci untuk menyelesaikan polemik bendera dan lambang secara bermartabat, tak ada pihak yang harus kehilangan muka. Bahwa perdamaian Aceh terlalu mahal untuk dinodai, untuk dan oleh alasan apapun! []

Makna Bendera dan Lambang GAM

By Taufik Al Mubarak | At 3/26/2013 | Label : | 0 Comments
Euphoria bendera dan lambang Aceh menjalar di seluruh Aceh. Beberapa pengguna BB memasang lambang atau bendera GAM sebagai display picture (DP), begitu juga pengguna twitter mengganti dengan gambar bendera atau lambang, termasuk juga pengguna facebook.

Di Beberapa daerah, warga mulai berkonvoi mengarak bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Apakah Aceh sudah merdeka sehingga rakyat berani mengarak bendera yang pernah ‘diharamkan’ pemerintah pusat dikibarkan di Aceh?

Euphoria itu merupakan buntut dari pengesahan Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh oleh DPRA pada Jumat (22/3/2013). Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan duet mantan GAM, Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf, mulai Senin (25/3/2013) resmi menetapkan bendera dan lambang Gerakan Aceh Merdeka tersebut sebagai bendera dan lambang resmi propinsi Aceh. Qanun tersebut sudah diundangkan dan ditempatkan dalam Lembaran Aceh tahun 2013 Nomor 3 dan tambahan Lembaran Aceh Nomor 49.

Dalam Qanun Bendera dan Lambang Aceh itu, bendera Aceh berbentuk segi empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 dari panjang, 2 buah garis lurus putih di bagian atas, 2 buah garus lurus putih di bagian bawah, 1 garis hitam di bagian atas, 1 garis hitam di bagian bawah. Pada bagian tengah bendera terdapat gambar bulan bintang dengan warna dasar merah, putih, dan hitam.

Untuk lambang terdiri atas gambar singa, buraq, rencong, gliwang, perisai, rangkaian bunga, daun padi, jangkar, huruf ta tulisan Arab, kemudi dan bulan bintang dengan semboyan Hudep Beu Sare Mate Beu Sajan.

Lalu, apa makna bendera dan lambang tersebut? Begitulah kata kunci (keyword) yang dicari beberapa pengguna internet, dan kebetulan menjadi kata kunci yang paling banyak dicari di blog saya. Baiklah, saya akan bahas singkat saja, berdasarkan pengetahuan dan literature yang saya tahu.

Apa yang saya tulis ini berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh dari dua kali mengikuti Acehnese Education, pertama di Alue Dua, Nisam, Aceh Utara, dan kedua pengajian rutin di Kantor Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) saat bulan ramadhan. Di kedua kesempatan tersebut, hadir Teungku Yahya Muaz, yang sebelumnya dikenal sebagai Juru Penerangan ASNLF Komando Pusat Tiro.
Bendera dan lambang GAM

BENDERA
Garis hitam memiliki makna bahwa kerajaan Aceh sempat vakum (kekosongan kekuasaan) sekaligus sebagai tanda mengingat para syuhada.

Garis putih memiliki makna bahwa perang mencapai kemerdekaan merupakan perang suci, dan yang gugur dalam perang tersebut mendapat pahala syahid.

Dasar (tanah) berwarna merah memiliki makna bahwa Bangsa Aceh wajib mempertahankan dan membela yang hak serta menghancurkan yang bathil.


Bintang lima memiliki makna representasi rukun Islam lima, sementara bulan berarti sebagai cahaya iman.

Singkatnya, makna umum bendera GAM tersebut adalah bangsa Aceh rela berkubang darah untuk membela yang hak dan menghancurkan yang bathil, menjalankan rukun islam di bawah lindungan cahaya Iman (Bansa Atjheh neutem meuro darah untuk peudong njang hak dan peu hantjoe njang bateu neupeudjak rukon Islam dimijueb lindungan tjahaja iman.)

Pengibaran bendera GAM sering dilakukan berbarengan dengan lantunan suara adzan. Kenapa harus adzan? Dasar hukumnya adalah, ketika Rasulullah menaklukkan kota Mekkah, Rasulullah meminta Bilal bin Rabbah mengundangkan adzan sekaligus pengibaran bendera kemenangan. Ini sesuai dengan salah satu lafaz adzan, haiya-alal-falah (mari menuju kemenangan).

LAMBANG
SINGA merupakan sebagai simbol kedaulatan Aceh (The Lion crowned: Symbol of sovereignty of the state of Aceh). Artinya, Aceh merupakan Negara berdaulat dan independen di Pulau Sumatera, memiliki territorial, rakyat, memiliki kepala Negara dan konstitusi, dan berlaku Adat bak Po Teumeureuhom.

BURAQ merupakan binatang yang berlari secepat kilat dalam mitologi Islam (Buraq: Islamic mythology). Buraq di sini berarti cahaya. Dalam mitologi Islam, buraq berarti adalah kenderaan yang digunakan Nabi Muhammad SAW selama Isra’ dan Mi’raj (Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Jerusalem, dan dari sana sampai ke Sidratul Muntaha, dan kembali lagi ke Mekkah). Filosofinya, ini adalah simbol komunikasi yang sangat cepat, keindahan, loyalitas, dan global. Artinya, orang Aceh harus berpikir global dan bertindak lokal. Selain itu, Buraq berarti hukom bak Syiah Kuala.

BULAN SABIT dan BINTANG (Crescent & Star). Bulan dan Bintang lazim disebut sebagai simbol Islam. Islam adalah konstitusi negara dan cara hidup orang Aceh (The Symbol of Islam. Islam is the constitution of the state and the way of life of the Achehnese). Artinya, bintang berarti rukun Islam yang lima, sementara bulan merupakan cahaya iman.

RENCONG, PERISAI, dan GLIWANG adalah simbol reusam Negara Aceh (Reusam adalah alat untung menegakkan adat dan hukum, dalam hal ini dilakukan oleh laksamana dan bintara). Rencong merupakan senjata khas Aceh yang merupakan simbol pertahanan. Rencong dibuat dengan desain khusus dari kata Arab: "Bismillah" artinya dengan nama Allah (The Symbol of defence, Rincong is made with special design from the Arabic word: "Bismillah" means with the name of Allah)

Padi merupakan lambang kemakmuran. Pade peunadjoh phon bansa Aceh (Padi merupakan makanan sehari-hari orang Aceh). Simbol rantai (renek-renek) merupakan Qanun Neugara Aceh. Lambang Sauh merupakan tempat tersangkut pulau Aceh, dua garis di atas sauh melambangkan majelis tuha peut Neugara Aceh, dan empat garis silang melambangkan Majelis Tuha Lapan Neugara Aceh.

Teks di bawah lambang “hudep beusare mate beu sajan” merupakan rakyat Aceh harus hidup secara jantan dan mati bersama-sama ("Tiger in life, together in death"). Simbol ini juga bermakna loyalitas nasional (Symbol of national loyality).

Dalam lambang tersebut juga ada roda kemudi yang memiliki huruf T dalam roda. Huruf "T" adalah simbol dari kata pertama dari abjad gelar kebangsawanan Aceh. Yaitu Tuanku, Tengku dan Teuku. Ini adalah simbol persatuan dari penguasa Aceh.

Kenapa lambang itu dieja Lambang Buraq-Singa? Padahal kalau diperhatikan lambang, kita harus mengejanya dengan Lambang Singa-Buraq (gambar Singa lebih duluan). Dalam bukunya, Buraq vs Garuda, Indra J Piliang yang meneliti khusus pengaruh lambang dalam perang Aceh-Jakarta menyimpulkan, sistem membaca orang Aceh mengikuti ejaan Arab, dari kanan ke kiri. Jadilah, lambang itu disebut duluan Buraq (berada di sisi kanan).

Lambang tersebut merupakan hasil ciptaan pendiri Gerakan Aceh Merdeka, Teungku Hasan di Tiro. Deskripsi lambang dalam bahasa Inggris dilakukan oleh dr Husaini Hasan. Sekilas lambang itu mirip dengan lambang kerajaan Turki. []

---- note: tulisan ini saya tulis karena banyak sekali pengguna internet mencari kata kunci “Makna Lambang Buraq-Singa” yang didirect ke blog saya ini. Mudah-mudahan ini bisa menjawab keingintahuan kita bersama.
Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. JUMPUENG - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz