Thursday, December 18, 2014

Sabtu-Minggu, Baca Buku ‘Gratis’

Sebenarnya cukup banyak pengalaman unik dan menarik yang saya alami selama 2,5 tahun menjalani hidup di Jakarta. Kalau diceritakan satu per satu melalui tulisan singkat ini tentu tak bakal lengkap. Tapi, di antara cerita unik dan menarik itu, ada satu kejadian yang sampai sekarang masih membuat saya senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya.

Sewaktu di Jakarta, aktivitas yang paling banyak menyita waktu saya adalah membaca dan menulis. Saat itu saya benar-benar ingin melatih diri menjadi penulis produktif serta ingin memiliki wawasan luas. Keinginan ini sangat wajar, karena saya meninggalkan bangku kuliah saat duduk semester enam (sekali pun pada akhirnya saya bisa menyelesaikannya dan jadi sarjana). Jadi, waktu luang itu benar-benar saya manfaatkan dengan membaca buku, minimal saya tak ketinggalan dengan teman-teman saya yang masih kuliah.

Nah, tiap Sabtu-Minggu saya banyak menghabiskan waktu di toko buku, di antaranya di Gramedia Atriun Senen, Gramedia di Pondok Indah Mall, Gramedia di kawasan Blok M, atau di toko buku Pasaraya Manggarai. Hanya sesekali saya pilih Gramedia Matraman. Saya hafal di deretan mana buku politik-sosial, novel-fiksi atau buku-buku umum berada di toko-toko buku ini.

Di toko-toko buku inilah saya membaca novel atau kumpulan cerpen secara gratis. Biasanya, ada beberapa buku yang sampul kertasnya sudah dibuka. Buku itu saya baca sambil berdiri, tak boleh duduk di lantai atau bangku yang ada. Jika kedapatan duduk, petugas toko akan langsung menegur. Terus terang, saya tak sendiri dalam urusan membaca buku secara gratis ini. Karena banyak juga ABG yang berperilaku sama dengan saya.

Untuk buku kumpulan cerpen, biasanya saya tamatkan dengan sekali baca. Sementara untuk novel kategori tebal, saya memilih tak menamatkannya dalam sekali baca. Soalnya, tak kuat untuk berdiri berlama-lama. Biasanya saya balik lagi esok untuk menuntaskannya, dengan cara mencatat di handphone halaman yang sudah saya baca.

Jadwal saya mengunjungi toko buku mulai pukul 11.00 hingga pukul 16.00 sore. Siang hari, jika buku yang saya baca tidak tamat, saya memilih mencari makanan dulu, selesai makan baru saya balik lagi ke toko. Bagi saya, begitulah cara menyiasati kondisi kantong yang tak mendukung untuk membeli buku bagus.

Begitulah, saya pun sering berpindah-pindah toko buku. Tak enak juga tiap keluar tak pernah beli buku, padahal termasuk pengunjung yang sangat rajin. Itulah manfaat toko buku di kota-kota besar, kita bisa membaca tanpa harus membelinya. Itu pengalaman saya 5-6 tahun silam. Sekarang tidak tahu, apakah masih ada buku-buku yang dilepas sampulnya dan bebas dibaca. Karena sudah dua tahun tak ke Jakarta. []
Note: tulisan ini sudah pernah saya posting di Kompasiana, 17 Juni 2013

Tuesday, December 16, 2014

Munarman Pungo

Temanku, sebut saja namanya Pozan, pulang ke Takengon. Dia mengantar istrinya pulang kampung. Tak lama dia di sana, hanya dua hari saja. Saat kembali, sang istri berpesan, agar tak lupa menyiram bunga Adenium di rumah sekembali nanti.

“Bang, bunganya disiram ya, jangan sampai kering tuh bunga,” begitu kata istrinya.

Kembali ke Banda Aceh. Si temanku ini asik dengan kesibukan lain. Kerja kantoran, update blog, desain baju, desain spanduk dan baliho. Pokoknya desain segala desain lah. Dia pun lupa pada pesan istrinya.

Hingga suatu sore yang dingin itu, di sela-sela update blog, dia membuka facebook, mainan lamanya. Dia pun tertegun dan kaget. Apa pasal? Rupanya, hari itu, dari pagi hingga sore (bahkan malam), rata-rata status facebook teman-temannya soal siram-disiram-menyiram. Teman-temannya sedang berbicara soal aksi tak patut juru bicara Laskar Jihad, Munarman, SH. Dalam dialog di sebuah stasiun TV, Munarman yang pernah aktif di beberapa lembaga bantuan hukum itu menyiram muka sosiolog Universitas Indonesia (UI) Tamrin Amal Tomagola. Mereka berdebat sengit sebelum aksi siram itu terjadi.

“Itu bentuk visualisasi aksi premanisme.” Begitu komentar beberapa orang yang berkomentar di jejaring sosial menyusul aksi mantan aktivis itu.

Nah, status teman-temannya itu seperti ilham plus warning bagi Pozan. Gara-gara membaca kata siram, dia pun langsung teringat pada pesan istrinya untuk menyiram bunga. Dia pun bergegas melakukannya. Dia menyiram bunga dalam pot itu yang mulai kering-kerontang. Satu pekerja ringan tuntas sudah.

Cerita siram bunga itu muncul saat saya sampaikan bahwa saya mau menulis posting Munarman Pungo.

Oh ya, ada cerita lain yang mau saya ceritakan, sebenarnya. Begini ceritanya:

Di kota saya ada sebuah masjid yang ramai dikunjungi. Tiap sore, warga yang datang membludak, terutama pas weekend. Di depan masjid kebanggaan tersebut terdapat sebuah kolam. Anak-anak (bahkan orang dewasa) sering menghabiskan waktu bercengkrama dengan ikan mas. Tapi, sejak beberapa minggu terakhir, ada pemandangan aneh di sekitar kolam itu.

Dibilang aneh, karena tiap sore seorang remaja, berpakaian sedikit kumal, selalu kencing di kolam itu. Dia sama sekali tak risih dengan para pengunjung. Padahal, orang yang mengelilingi kolam itu sangat ramai. Dia cuek saja. Beberapa pengunjung pernah menegur si remaja itu, namun kelakuannya tak juga berubah. Pengunjung kemudian melaporkan kejadian aneh itu kepada petugas Satpam masjid. Remaja itu dipanggil dan dinasehati agar tak boleh kencing di kolam masjid. Toilet untuk pengunjung sudah tersedia di sebelah utara dan selatan masjid.

Bukannya mereda. Malah, tiap sore si remaja itu masih kencing di kolam. Sehingga kian meresahkan. Para orang tua makin takut jika anak-anaknya duduk terlalu dekat dengan si remaja itu. Takut terjadi sesuatu.

Satpam masjid juga sudah hilang kesabaran. Mereka berniat menangkapnya lagi. Tapi beberapa kali dicoba, remaja itu selalu bisa meloloskan diri dengan  meloncat pagar masjid. Hingga, Satpam mencari cara bagaimana menangkap si remaja. Mereka pun atur siasat. Kali ini tak boleh lagi remaja itu bisa meloloskan diri. Pengunjung pun diajak bekerja sama.

Tibalah pada hari strategi itu dilaksanakan. Seperti biasa, si remaja itu kencing di kolam masjid. Dia tak punya firasat apa-apa. Beberapa orang pengunjung seperti tak peduli lagi sama remaja itu. Sehingga si remaja ini tak merasa takut ditangkap seperti yang sudah-sudah. Beberapa pengunjung mendekat, duduk di dekat remaja itu. Mereka pura-pura memberi makan ikan mas di kolam. Begitu si remaja hendak kencing untuk kedua kali, pengunjung dari sisi satu lagi mendekat. Mereka sudah bersiap-siap menangkap. Remaja itu tak berkutik.

Satpam juga sudah ada di dekat mereka. Remaja itu dibawa ke pos Satpam dekat pintu masuk. Di sana, si remaja ini diinterogasi. Ditanya orang mana, tinggal di mana, siapa orang tuanya. Dia juga ditanya sekolah di mana, namanya siapa? Awalnya, pertanyaan itu tak satupun mau dijawabnya. Tetapi setelah didesak berkali-kali, di bawah ancaman, barulah dia mau buka suara. Dia ternyata mengalami gangguan jiwa.

“Nama saya Munarman, pak!” Jawab dia singkat. Orang-orang di pos Satpam itu pun saling berpandangan. Tak tahu harus bilang apa.

“Alahai Munarman Pungo!” umpat beberapa orang yang hadir. []

Sumber gambar di SINI

Sunday, December 14, 2014

BBM Pungo

BBM naik daun. Di mana-mana orang bicara soal kenaikan BBM (bahan bakar minyak). Tak kecuali di warung kopi di seputaran Ulee Kareng, Banda Aceh. Di warung kopi yang terkenal dengan tempat update (memperbaharui) fitnah itu, pembicaraan soal BBM cukup hangat dan fresh. Hal ini wajar, karena pengunjung warung ini rata-rata politisi, aktivis LSM, wartawan, kontraktor, pengacara dan orang-orang HTW lainnya. (HTW=han troh wa/tak sampai dipeluk).

Terjadilah pembicaraan lintas profesi.

Politisi: kenaikan harga BBM memang tak dapat dielak. Selama ini yang menikmati sumsidi BBM kan orang-orang kaya yang punya mobil mewah. Bayangkan biaya produksi BBM Premium itu sekitar Rp10.000, dan dijual Rp4.500 (di tempat eceran Rp5.000). Pemerintah memberikan subsidi Rp5.500 per liter. Nah, siapa yang menikmati subsidi paling banyak?

Tak ada yang menjawab. Masing-masing orang di warung itu asyik sendiri, ada yang pura-pura berhitung. Banyak juga yang lebih senang memelototi layar Blackberry (BB)-nya. Yang pura-pura berhitung, langsung menjawab. Orang ini ternyata aktif di sebuah LSM di Banda Aceh.

Aktivis LSM: Benar, memang subsidi itu lebih banyak dinikmati oleh orang kaya yang punya banyak mobil. Misalkan saja mereka mengisi tangki yang kapasitasnya 35 liter, berarti mereka menikmati subsidi Rp150.000 sekali isi. Bandingkan dengan pemilik sepeda motor, sekali isi 3 liter berarti mereka hanya menikmati subsidi Rp15.000 per sekali isi.

Diskusi sangat menarik sebenarnya. Tapi, fokus teman-teman yang mengerubungi meja itu pada layar BB masing-masing. Mereka kadang-kadang senyum sendiri, kadang tertawa lepas. Tak sedikit pula yang memasang wajah cemberut. Bisa jadi pesan yang dikirimnya tak mendapat balasan.

Lain lagi teman wartawan. Mereka tak terlalu memikirkan soal kenaikan BBM. Mereka lebih peduli pada nasib teman mereka di Jambi dan Pontianak yang terkena tembakan polisi saat membubarkan massa yang berunjuk-rasa menolak kenaikan BBM.

Wartawan: jurnalis yang bekerja di lapangan sangat minim perlindungan. Pihak kantor mereka tak menyediakan fasilitas yang bisa melindungi karyawannya dalam meliput di medan yang terlalu berisiko. Pemilik makin kapitalis, hanya memikirkan keuntungan semata. Mereka bukannya memikirkan kesejahteraan jurnalis, tapi asyik bikin Forum Pemred hanya mengampanyekan merek kondom Meoong! Tahi buah lah semua!

Si wartawan ini kebetulan hanya seorang koresponden yang bekerja untuk sebuah media di Jakarta. Wajar jika dia emosi. Tak hanya gaji yang kecil, tapi kadang-kadang laporan yang dikirim belum tentu mendapat prioritas untuk tayang, karena kantornya memilih big-news dengan dampak besar.

Hari makin sore. Pembicaraan makin tak jelas lagi juntrungannya. Masing-masing sibuk cang-panah sendiri. Tak tahu lagi, siapa mendengarkan siapa. Karena, meski berkelompok, ternyata topik yang dibicarakan di meja itu berbeda-beda. Pembicaraan sangat tergantung micro-phone siapa yang paling besar terdengar, maka omongan dialah yang paling dominan.

Si kontraktor yang dari tadi hanya asik dengan BB sendiri, tiba-tiba berjingkrak. Dia tertawa lebar. Rupanya, sebuah pesan broadcast (Blackberry Messenger/BBM) yang menjadi penyebabnya. Tak ingin tertawa sendiri, dia pun membaca keras-keras isi pesan yang baru diterimanya. Kali ini, yang lain tekun menyimak. Begini isi BBM-nya:

Sari mengadu pada Ibunya tentang hal buruk yang menimpanya.

Sari: (dalam kondisi ketakutan). Ibu, bapak kemana?

Ibu: ke luar kota. Ada apa tanya bapak?

Sari: (dengan nada pelan). Sari minta maaf bu, sepertinya Sari hamil.

Ibu: (setengah kaget). Apa..!!? Apa kamu bilang?

Sari: (gemetaran). Iya, saya hamil bu! Ini…(sambil mengelus-elus perut)

Ibu: Aaah…nggak mungkin. Kamu mungkin sakit. Istirahat saja, nanti sembuh sendiri.

Sari: Tapi akhir-akhir ini, saya sering muntah-muntah, bu!

Ibu: (rada cuek). Aah…mana ada, paling kamu masuk angin. Ke sana, gih beli minyak angin sana, biar cepat sembuh.

Sari: (tersedu)…hiks…hiks. Kenapa ibu tak percaya, saya sekarang tuh doyan makanan yang asam-asam, bu!

Ibu: (dengan kesal sambil teriak). Berhentilah kamu berkhayal SARIFUDDIN! Ibu tempeleng kamu nanti, baru tahu rasa. Bencong mana pula ada rahim. (Rupanya, Sarifuddin ini seorang waria. Dia lebih senang dipanggil Sari)

Semua yang duduk di meja itu tertawa lepas. Mereka pun sepakat untuk bubar. “Mudah-mudahan dana kompensasi Rp155 miliar untuk korban lumpur Lapindo biar nyasar ke Sarifuddin yang jauh di Aceh,” celetuk pengacara seperti menyindir Golkar yang setuju BBM naik. Suaranya cuku jelas. Sekali lagi mereka tertawa. Benar-benar BBM Pungo. [] 
Note: tulisan lama, awalnya diposting di acehpungo.com

Dewan Pungo

Dua hari sebelum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menggelar Sidang Paripurna tentang kenaikan BBM (Bukan Blackberry Messenger, red), beberapa anggota dewan terhormat yang pulang ke dapil buru-buru balik ke Jakarta. Mereka yang sedang membangun citra tak mau rusak gara-gara tak ikut sidang. Mereka pun cepat-cepat memesan tiket agar segera tiba di Jakarta.

Nah, ketika tiba di ruang tunggu pesawat. Si anggota dewan ini, sebutlah namanya Si Pulan (SP), bertemu dengan Apa Pungo (AP). Terjadilah percapakan seperti ini:

SP: Waduh, kenapa pesawatnya telat datang, ya?
AP: Bapak bicara dengan saya? (saking lugunya)
SP: Yah, dengan siapa lagi, kan cuma kamu yang duduk di samping saya.
AP: Hehe, bapak pintar dan kritis. Wah, pasti wakil rakyat, ya?
SP: Hehe juga. Kok tahu?
AP: Tahu donk, kan saya rakyat! Lagi pula, ada gambar pin kebanggaan DPR di kantong bapak.

Obrolan berhenti ketika terdengar pengumuman bahwa pesawat jurusan Jakarta sudah tiba dan kepada penumpang segera naik ke pesawat. Satu-per-satu calon penumpang itu bangkit dari tempat duduk. Ramai bukan main. Mungkin di antara mereka ada juga wakil rakyat, seperti Si Pulan itu. Mereka pun antri di pintu keluar ruang tunggu. Masing-masing pegang tikat di tangan. Tak ada yang diperlakukan istimewa. Semua harus antri, termasuk Si Pulan yang kebagian antrian agak ke belakang.

Tak lama, semua calon penumpang itu sudah keluar dari ruang tunggu dan menuju ke pesawat. Masing-masing menuju ke tempat duduk seperti tertera pada tiket. Si Pulan dengan tergopoh-gopoh menaiki tangga pesawat dari pintu belakang. Sampai di pesawat, di lorong itu sudah cukup banyak orang yang mencari tempat duduk. Si Pulan pun memilih duduk di kursi belakang.

“Duh, senang rasanya bisa beristirahat,” gumam dia dalam hati.

Saat berniat memejamkan mata, si Pramugari  datang menghampiri. Pasalnya, kursi yang diduduki Si Pulan itu jatah orang lain. Dengan sopan, si Pramugari meminta lihat tiket Si Pulan.

“Bapak, tempat duduk anda bukan di sini. Ini tempat duduk orang lain,” kata si Pramugari sembari menunjuk ke penumpang yang sedang kebingungan.

“Kenapa saya tak boleh duduk di sini? Saya kan memiliki tiket,” jawab Si Pulan seperti tak merasa bersalah.

“Tempat duduk Bapak ada di depan, di kelas Eksekutif,” si Pramugari memberi alasan sembari menunjukkan nomor kursi yang tertera di tiket.

Bapak itu marah-marah, tapi tak sampai memukuli si Pramugari dengan Koran yang dipegangnya. Sambil berdiri, dia mengomel bahwa si Pramugari tidak tahu siapa dirinya.

“Saya ini bukan Eksekutif. Saya Legislatif!” katanya sembari memperlihatkan lencana ke muka Pramugari yang tak habis pikir.

Dari jauh, Si Pungo, tersenyum sendiri melihat adegan itu. Dalam hatinya bergumam, “Dasar Dewan Pungo.” []
Note: tulisan ini awalnya diposting di blog acehpungo.com

Sunday, November 30, 2014

Bonus Demografi dan Kesiapan Kita

Dalam sejumlah kesempatan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok sering mengingatkan kita tentang bonus demografi. Awalnya, saya tak begitu memandang penting masalah ini, dan menganggap apa yang disampaikan Ahok itu klise. Tapi, karena terlalu sering disampaikan, saya pun mencoba cari tahu tentang bonus demografi, termasuk membuka buku lawas. Saya pun sadar, bahwa yang disampaikan itu bukan klise.

Saya pun setuju dengan pandangan Ahok yang menganggap penting masalah bonus demografi dan dampaknya bagi Indonesia. Sebab, jika tak pandai-pandai mempersiapkan diri, Indonesia akan mengalami masalah besar di masa-masa mendatang. Bonus demografi merupakan masalah serius yang perlu segera dipecahkan dan dicari solusi oleh Pemerintah sebelum semuanya terlambat.

Tulisan sederhana ini akan mencoba mengulas apa yang terjadi dengan Bonus Demografi? Apa dampaknya bagi Indonesia serta langkah apa yang harus dilakukan menghadapi bonus demografi?

Bonus Demografi dan Dampaknya
Saat ini, Indonesia memiliki jumlah penduduk 253,60 juta jiwa. Jumlah ini menempatkan Indonesia berada di posisi empat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, setelah Cina (1,3 miliar), India (1,2 miliar) dan Amerika (318 juta). Indonesia hanya berselisih sekitar 51 juta jiwa dengan jumlah penduduk Brazil yang berada di peringkat kelima (202 juta).

Dari 253 juta jumlah tersebut, Indonesia memiliki penduduk dengan usia produktif (penduduk berusia 15-64 tahun) sekitar 44,98 persen. Diperkirakan, jumlah penduduk usia produktif ini akan terus meningkat, hingga tahun 2025-2035, di mana Indonesia akan menikmati bonus demografi, yaitu jumlah penduduk usia produktif lebih besar dari jumlah penduduk nonproduktif.

Di satu sisi, besarnya jumlah penduduk usia produktif ini sebagai berkah dan potensi bagi pembangunan bangsa. Tapi, di sisi lain, jika tak pandai dikelola dan diantisipasi, kondisi ini justru menjadi musibah dan membawa dampak sosial yang lebih hebat. Karena, tingkat penduduk usia produktif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah, 44 per 100 penduduk produktif. Sementara kemampuan pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan juga masih rendah, belum lagi dari sisi kualitas penduduk usia produktif yang sangat buruk.

Dari data UNDP (2011) seperti dikutip situs BKKBN, rata-rata lama sekolah di Indonesia hanya 5,8 tahun, yang berarti rata-rata penduduk Indonesia tidak sampai menyelesaikan jenjang pendidikan SD. Kondisi ini cukup memiriskan hati, karena angkatan kerja di Indonesia masih didominasi oleh lulusan SD. Padahal pada 2015 nanti, kita akan menghadapi zona perdagangan bebas ASEAN (ASEAN Fre Trade Area- AFTA). Kondisi Indonesia tidak akan sama lagi seperti sekarang. Indonesia akan kebanjiran para pekerja dari luar negeri, yang tentu saja memiliki talenta dan ketrampilan yang jauh di atas rata-rata penduduk kita, yang kebanyakan didominasi lulusan SD itu. Tenaga kerja kita jelas tak akan siap bersaing dengan mereka yang memiliki skil di atas rata-rata.

Apalagi, seperti selama ini, tenaga kerja kita di luar negeri paling banter hanya jadi pembantu. Kita belum mampu menyediakan tenaga kerja yang profesional dan memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan negara setempat. Jadinya, kita hanya mampu ‘mengekspor’ pembantu. Hal ini pun masih menjadi masalah besar, karena sebagian mereka tak mendapatkan upah yang layak, serta banyak dari mereka diperlakukan secara tidak senonoh.

Sudah sepatutnya kita belajar pada nasib dinosaurus, yang sering kita tonton di film Jurasic Park. Dalam banyak literatur yang kita baca, dinosaurus pernah menguasai bumi ini. Lalu, kenapa bisa punah? Karena mereka lambat melakukan evolusi dan tak mampu beradaptasi ketika terjadi perubahan yang begitu cepat bahkan radikal. Akibatnya, mereka digantikan oleh makhluk yang lebih besar atau kecil, yang lebih gesit, lebih bisa beradaptasi, lebih mampu bertahan dan lebih inovatif.

grafik bonus demografi | net
Dalam waktu dekat, saat memasuki AFTA, kita tak menyiapkan diri dengan lebih baik, nasib kita juga akan sama seperti dinosaurus. Pasalnya, begitu masuk era perdagangan bebas itu, tak ada yang dapat kita lakukan kecuali harus bertahan, gesit, dan adaptif. Jika kita tak siap, maka bersiap-siaplah digilas oleh zaman yang kian berubah ini.

James Canton dalam bukunya The Extreme Future (2010) mengingatkan skenario runtuhnya sebuah bangsa. Katanya, sebuah bangsa akan runtuh dan hancur jika angka pengangguran melonjak secara tajam, terjadi chaos di beberapa sektor, banyak talenta berbakat hengkang ke luar negeri (brain-drain), rendahnya investasi di bidang riset dan pengembangan, kerjasama yang buruk antara dunia bisnis dan pemerintah, tidak adanya katalisator bagi penegakan demokrasi, pelarian modal ke luar negeri, rendahnya dukungan pendidikan, dan pertahanan yang lemah sehingga amat tergantung kekuatan asing (sekutu).

Apa yang harus dilakukan?
Menghadapi kondisi dan dampak dari bonus demografi di atas, muncul pertanyaan, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah?

1. Perbaiki sektor pendidikan
Pendidikan selalu menjadi sektor penting menghadapi perubahan zaman. Pemerintah perlu terus-menerus memperbaiki kurikulum pendidikan yang up to date terutama dengan memasukkan mata pelajaran sains terbaru di sekolah menengah dan kejuruan. Sehingga lulusan kita mampu bersaing dengan lulusan dari negara lain.

2. Perbanyak program insentif.
Pemerintah perlu memperbanyak program insentif baru untuk mendorong generasi muda menjadi ilmuwan, insinyur, wirausahawan yang melek teknologi. Dunia nantinya akan semakin canggih, jika kita tidak terus-menerus memperbaharui diri dengan pengetahuan terbaru, kita akan ketinggalan zaman. Pemerintah perlu memperhatikan kelompok muda seperti ini dengan memberikan penghargaan dan imbalan yang setimpal. Hal ini juga untuk menghindari larinya talenta-talenta muda kita ke negara lain yang lebih menghargai karya mereka.

3. Generasi inovatif dan bermental enterpreneur
Karena kita akan menghadapi perdagangan bebas, di mana dunia menjadi begitu sempit, maka yang perlu dilakukan adalah memperbanyak pengajaran di bidang inovasi dan menggalakkan mental enterpreneurship bagi setiap orang. Hal ini sangat mudah dilakukan karena generasi muda kita sangat menyukai inovasi. Mereka sudah mulai akrab dengan dunia enterpreneurship. Hal ini sangat gampang diketahui dengan menjamurnya situs e-comerse dan blog-blog yang menjajakan berbagai produk anak negeri. Yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan memperluas jangkauan internet hingga ke pelosok desa, yang hingga kini belum merata seluruhnya.

4. Perlunya perlindungan hak kekayaan intelektual
Kita akui cukup banyak produk dan hasil penelitian anak negeri yang bernilai pengetahuan tinggi. Pemerintah perlu melindunginya dengan mempermudah akses bagi pengurusan hak atas kekayaan intelektual, serta penegakan hukum secara tegas terhadap pencurian atas hak kekayaan intelektual ini.

5. Perkecil angka pemuda putus asa
Salah satu dampak dari bonus demografi adalah besarnya beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif terhadap kelompok usia tidak produktif. Jika pemerintah tak mensiasatinya dengan memperbanyak lapangan kerja, mereka-mereka ini akan berubah menjadi penduduk yang berputus asa: tidak punya kerja tetap, tidak kreatif serta bermasalah dengan keuangan. Pemerintah perlu membuka peluang dan kesempatan bagi mereka mengembangkan diri agar memiliki kebebasan finansial. Jika tidak, maka ini juga akan mendatangkan dampak sosial yang lebih serius: generasi yang berputus asa. Kalau kondisi ini yang terjadi, jelas mereka bukanlah generasi yang siap menghadapi masa depan yang lebih bebas.

Di atas segalanya, dalam menghadapi bonus demografi, pemerintah perlu memperbanyak program pelatihan dan memperluas akses pendidikan (termasuk untuk masyarakat kurang mampu) untuk menciptakan tenaga kerja bertalenta dan memiliki ketrampilan. Dengan demikian, kita bukan hanya menikmati berkah dari bonus demografi melainkan juga siap menghadapi dunia yang kian berubah!
Note: tulisan ini sudah diposting di Kompasiana pada 9 Oktober 2014

Tuesday, November 25, 2014

Winston Churchill dan Seorang Sopir Taxi

Kesuksesan bukan akhir, kegagalan bukan bencana - Winston Churchill.

Saya tidak ingat lagi di mana cerita berikut ini saya baca. Saya tidak tahu apakah cerita ini benar adanya atau hanya humor belaka. [kalau ada di antara pembaca yang tahu di mana cerita ini ditulis, saya mohon sudi kiranya membagi referensi tersebut dengan saya]. Tapi, itu sama sekali tak penting, karena pelajaran dari cerita ini saya kira yang penting direnungkan, bagaimana sosok paling populer di Inggris [juga dunia] sewaktu Perang Dunia II begitu rendah diri, dan mau bernegosiasi dengan seorang sopir. Saya pikir, beginilah seharusnya seorang pemimpin, tanpa membanggakan lakab jabatan demi memenuhi ambisinya.

Nama lengkapnya Winston Spencer Churchill. Pria flamboyant kelahiran 30 November 1874 di Istana Blenhiem, Oxfordshire, Inggris ini adalah pahlawan Inggris yang mengalahkan fasisme Eropa di Perang Dunia II. Sosok yang disapa Winnie oleh pengikutnya ini merupakan tokoh yang mengalahkan ambisi besar Hitler menguasai seluruh daratan Eropa. Namanya begitu dielu-elukan oleh rakyat Inggris. Pidato-pidatonya mampu membakar semangat massa untuk berperang mempertahankan tanah Inggris dari invasi tentara Hitler.

Suatu hari, dia keluar dari rumahnya. Dia hendak ke kantor untuk memberikan sebuah pidato. Pidato yang begitu ditunggu. Tapi kondisi saat itu lagi hujan. Dia tak yakin bakal tiba cepat di kantor. Seperti biasanya, selalu ada taxi yang lewat di jalan depan rumahnya, bahkan beberapa di antaranya sering mangkal tak jauh dari situ. Winston lebih sering menggunakan taxi untuk bepergian. Selain nyaman juga dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa diganggu dengan obrolan politik. Kesempatan di dalam taxi digunakan untuk membaca dan melupakan politik sejenak.

Winston menghampiri taxi yang berhenti tak jauh dari tempat tinggalnya. Wajahnya belum begitu familiar waktu itu, bisa jadi karena penampilannya yang sederhana. Sehingga tak ada kehebohan begitu dia mendekati sopir taxi. Si sopir pun tidak sadar bahwa yang mengajaknya bicara adalah Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill.

"Saya tidak mengantar penumpang hari ini," kata si Sopir seperti tahu keinginan Winnie.
"Saya butuh taxi untuk mengantar saya ke Street Downing," jawab Churchill.
"Saya sudah bilang tidak mengantar penumpang," si Sopir masih bersikap cuek.
"Kenapa?" Churchill penasaran.
"Sebentar lagi Winston Churchill akan menyampaikan pidato," jawabnya.
"Kita bisa mendengarnya di perjalanan," Churchill memberi saran.
"Tidak fokus kalau mendengar sambil mengendarai taxi," sopir mencoba berkilah.

Winston tak kehabisan akal. Tawar-menawar pun terjadi.

"Bagaimana kalau saya membayar dua kali lipat dari biasanya?"
"Hari ini, berapa pun mau anda bayar saya tak peduli. Saya tak mau kehilangan kesempatan mendengar pidato Winston Churchill," sopir masih mencoba menolak.
"Kalau saya bayar 20 Pound, bagaimana?" Churchill coba melipatgandakan bayaran.
"Tidak bisa," jawabnya singkat.

Si Sopir masih tetap pada pendiriannya, tidak mau mengantar. Dia masih menganggap lebih bagus mendengar pidato Churchill daripada mengantar penumpang. Tawar-menawar pun hampir gagal mencapai kesepakatan. Churchill bahkan hampir menyerah. Tapi karena dia buru-buru ingin tiba di tempat dia akan menyampaikan pidato, dia tak peduli berapa pun harus membayar ongkos taxi.

"Bagaimana kalau saya bayar 50 pound? Saya pikir ini bayaran paling besar yang anda terima dengan jarak sekian." Sekali lagi Churchill merayu si Sopir. Si sopir sempat berpikir sejenak. Ada senyum di wajahnya. Dia pun meminta Churchill bergegas masuk ke dalam taxinya.

"Persetan dengan pidato Winston Churchill! Saya tak bisa mendapatkan Pound hanya dengan mendengar pidatonya. Ayo kita berangkat!" Taxi pun melaju kencang. Churchill duduk terdiam di dalamnya.

Kisah hidup bangsawan Inggris ini sangat menarik ditelusuri. Pada 1895 dia pergi ke Perang Kuba dalam perjuangan melepaskan diri dari Spanyol. Ketika bertugas di Kuba, dia bekerja sebagai reporter untuk Harian London Graphic. Ya, dia memang menyukai dunia tulis menulis. Bahkan ketika kehilangan posisi di pemerintahan ketika partainya, Partai Konservatif kalah dia memilih kembali ke dunia tulis-menulis sembari memantau situasi Jerman di bawah Adolf Hitler. Dia mampu menyelesaikan menulis buku sejarah berjudul A History of the English-Speaking Peoples. Buku yang mengungkapkan banyak kisah di balik kehidupannya.

Winston Churchill | BBC
Melihat sepakterjangnya dalam "The Battle of Britain" tak berlebihan jika Majalah TIME dua kali menobatkannya sebagai tokoh tahun ini: tahun 1940 dan 1949. Pada 10 Mei ketika ditunjuk sebagai Perdana Menteri pemerintahan perang koalisi untuk pertama kalinya, dia menyatakan dengan optimis akan meraih kemenangan dalam setiap perang yang diikutinya. "Tak ada yang bisa kutawarkan kecuali darah, kerja keras, air mata, dan keringat," katanya dalam pidato pertamanya sebagai Perdana Menteri.

Dia pun memimpin perang melawan Jerman dengan mengandalkan pasukan Royal Air Force (RAF) yang dia bentuk pada 1935 untuk Perjuangan Inggris (The Battle of Britain). Sekali pun memiliki jumlah terbatas, pasukan berani mati RAF terus menerus menghujani Jerman dengan bom dan berhasil memaksa Hitler menunda "Operasi Sealion" atau invasi terhadap Inggris melalui laut.

"Dia benar-benar telah memberikan janjinya kepada negara: darah, kerja keras, air mata, keringat dan satu lagi: keberanian yang tak terhingga," tulis Majalah TIME ketika menobatkannya sebagai tokoh tahun 1940.

Dunia memang berhutang budi kepada sosok yang dinobatkan sebagai 'the Greatest Living Briton' oleh Ratu Elizabeth dan Parlemen Inggris, sebab "jika pasukan Inggris dan Winston tak meraih 'waktu terbaik' di bulan terakhir tahun 1940 melawan invasi Adolf Hitler, dunia akan menjadi berbeda.

Tapi, kita juga tak boleh melupakan sisi gelap Winston Churchill, terutama soal kebijakannya terhadap India, pengeboman di kota-kota Jerman dalam Perang Dunia II yang menewaskan ribuan rakyat tak berdosa, kudeta di Iran, kontribusinya terhadap pengembangan persenjataan nuklir serta dukungannya terhadap negara Israel.

Saya kembali teringat pada sosok ini saat menonton film Free Fall. Ada satu kata-kata dia dikutip film tersebut seperti saya kutip di awal tulisan: Kesuksesan bukan akhir, kegagalan bukan bencana. [diolah dari beberapa sumber]

Monday, November 17, 2014

Kangkung, Kelinci dan Orang Kaya

Sewaktu masih tinggal di Peurada, suatu kali saya berbelanja ke Pasar Ulee Kareng. Saya mau membeli ikan dan beberapa ikat daun kangkung. Soalnya, saya suka memasak kangkung. Setelah membayar, saat mengambil daun kangkung, saya berpapasan dengan seorang ibu. Dia kebetulan juga tinggal di Peurada, tapi dia di rumah milik sendiri, sementara aku hanya anak kost.

"Belanja apa, dik?" dia coba bertanya, ramah.

"Ini bu, ikan dan beberapa ikat kangkung," saya jawab.

"Oh, adik pelihara kelinci di rumah ya?" dia tanya lagi.

"Nggak kok, bu. Kangkung ini untuk dimasak," saya jawab lagi, raut muka sudah saya buat seramah mungkin.

"Oh, kirain untuk makanan kelinci," dia pun berlalu, tapi tatapannya seperti sinis.

Saya maklumi, dia orang kaya mungkin jarang makan kangkung. Dia pun memandang rendah untuk anak kost seperti saya yang suka mengonsumsi sayur kangkung. [Dia mungkin tak sempat mendengar bahwa di tangan koki dan di restoran terkenal, satu ikat kangkung yang sudah dimasak akan berharga Rp80 ribu]

Beberapa waktu kemudian, saya kebetulan berpapasan lagi dengannya di sebuah warung makan. Saya mau membeli ayam bakar. Dia pun menyapa ramah, dan dengan basa-basi mengajak saya bergabung dengannya. Saya lihat ada beberapa anggota keluarga dan teman-temannya ikut makan bersamanya.

"Maaf, bu. Saya cuma mau membeli ayam bakar saja. Terima kasih," saya berusaha menolak dengan halus. Setelah mengambil pesanan, saya berlalu dari warung itu, dan menghampiri meja si ibu.

"Saya pulang dulu ya bu?" saya pamit.

"Ya, dik." jawabnya.

Saya lihat dia sudah memesan banyak makanan di meja mereka, dan saya juga lihat ibu itu sudah hampir menghabiskan cah kangkung di depannya.

"Oh, rupanya ibu suka juga makan makanan kelinci, ya?" saya bilang itu dengan tersenyum. Teman-temannya menoleh ke arah saya. Saya lihat muka ibu itu mencoba tersenyum. Tapi saya yakin, senyumnya kali ini coba dipaksa-paksakan. [status di facebook saya]

Tuesday, November 11, 2014

Singa Referendum Aceh

SEPANJANG 1999-2000, nama dia sering menghiasi halaman koran, media online, dan majalah. Tak hanya media lokal dan nasional, tapi juga media-media luar negeri. Para wartawan saling berebutan mendapatkan wawancara darinya. Terakhir dia berkantor di bilangan T. Panglima Polem No 62 Peunayong, Banda Aceh. Kantor ini tak pernah sepi. Siang maupun malam. Siapa saja yang datang ke kantor itu, dilayaninya dengan baik. Tak peduli, apakah dia wartawan atau rakyat biasa.

Kantor itu, sebenarnya, hanya sebuah rumah. Ada 6 kamar dengan ruang tamu yang cukup luas. Rumah itu tersambung hingga ke belakang. Di sinilah kantor Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) berada. Ruang di bagian belakang dipakai sebagai markas Tabloid SUWA SIRA. Tabloid jadi corong sosialisasi perjuangan Referendum Aceh, saat itu.

Di beberapa bagian dindingnya, tercetak jelas tulisan referendum dengan huruf kapital. Warnanya biru. Sementara di dinding lain, terdapat tulisan SIRA plus lambang kupiah meukeutop dengan dua rencong tertusuk ke bawah.

“Rencong tertusuk ke bawah sebagai simbol SIRA lebih memilih berjuang secara damai, tanpa menggunakan kekerasan,” kata pria itu suatu ketika.

Dia sering melayani wartawan berlatar tulisan Referendum atau SIRA. Wawancara tak hanya dengan wartawan nasional, tapi juga jurnalis internasional dari The New York Times, The Guardian, The Telegraph atau Washington Post, termasuk dengan wartawan Aljazeera. Dia cukup pasih berbicara bahasa Inggris atau bahasa Arab.

Kemampuan berbahasa tersebut diperolehnya selama empat tahun kuliah di Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Ar Raniry dan Lembaga Bahasa dan Pengembangan Tenaga Pengajar IAIN Ar Raniry, khusus untuk bahasa Inggris. Dia pun tak memerlukan jasa penerjemah saat itu.

Kejadian itu sudah berlalu lebih 10 tahun yang lalu (tulisan ini dibuat tahun 2011). Sepanjang itu pula, dia dua kali masuk penjara dan sering berurusan dengan polisi dan militer Indonesia. Pertama dia ditangkap seusai menggelar Sidang Raya Rakyat Aceh untuk Keadilan (SIRA Rakan), 14 November 2000. Dia dituduh menyebarkan kebencian terhadap Pemerintah Indonesia. Namun, dia hanya sempat menghirup pengapnya udara penjara selama 10 bulan. Setelah itu, dia kembali bebas.

Kedua, alumni IAIN Ar Rarniry ini ditangkap di penghujung berakhirnya Cessation of Hostilities Agreement (CoHA), sebuah perjanjian penghentian permusuhan antara RI dan GAM. Dia dianggap melawan pemerintah Indonesia dengan ceramah propaganda di sejumlah daerah di Aceh. Ironisnya, penangkapan salah satu tokoh yang cukup populer di Aceh tahun 1999 bersama Teungku Abdullah Syafie (Panglima GAM) terjadi pada Rabu (12/02/2003) malam lebaran Idul Adha. Ketika orang sedang larut dalam alunan takbir, dia dijemput paksa malam itu oleh aparat keamanan dari Polresta Banda Aceh (sekarang Poltabes) di rumahnya di kawasan Lampulo, Kuta Alam, Banda Aceh.

Nazar dan Irwandi saat pelantikan
Sejak saat itu, Ayah dari Muhammad Assad ini tak pernah lagi menghirup udara bebas. Ketika Pemrintah Indonesia di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri memberlakukan Darurat Militer di Aceh, dia bersama tahanan politik GAM dibuang ke Pulau Jawa, tepatnya di Penjara Lowokwaru, Malang, Jawa Timur. Pengadilan Negeri Banda Aceh memvonisnya 5 tahun penjara.

Pria itu, Muhammad Nazar. Dia lahir 1 Juli 1973 di Ulim, Pidie Jaya atau 38 tahun silam. Dia baru menghirup udara bebas setelah Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menandatangai perjanjian damai (MoU) Helsinki yang mengakhiri pertikaian 30 tahun lamanya.

Tahun 2006, dalam suasana Pilkada 2006, Juru Bicara GAM di Swedia Tgk Bakhtiar Abdullah terkagum-kagum dengan sosok Muhammad Nazar. Menurutnya, Muhammad Nazar adalah sosok pemuda yang kharismatik, yang dikenali bukan saja oleh golongan intelektual, melainkan juga golongan politik atas prinsip memperjuangkan demokrasi di Aceh.

“Walaupun beberapa kali ditangkap dan dipenjarakan, beliau tak pernah bergeser dari prinsip perjuangan demokrasi untuk mengubah nasib Aceh,” kata Bakhtiar Abdullah, Biro Penerangan GAM di Swedia, seperti dikutip Tabloid SUWA.

Bakhtiar mengagumi gaya kepemimpinan Nazar. Menurut dia, Nazar bukan saja paham bidang politik, melainkan juga dalam hal agama. “Kemampuan ilmu agamanya sudah tak bisa diragukan lagi. Nazar juga seorang publik figur yang sering tersenyum, sederhana dalam hidupnya.” sebutnya.

***
SIAPA sebenarnya Muhammad Nazar? Namanya nyari tak dikenal publik Aceh, nasional dan internasional sebelum Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau (KOMPAS) yang digelar pada 31 Januari-4 Februari 1999. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kampus, dengan mengajar. Tapi, KOMPAS mengubah jalan hidupnya.

Kongres itu terselenggara setelah aksi demonstrasi di kota-kota besar di Aceh, Medan, Jakarta dan luar negeri yang difasilitasi Koalisi Aksi Reformasi Mahasiswa Aceh (KARMA) dan Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh Nusantara (KMPAN). Menurut panitia, KOMPAS diikuti tak kurang dari 116 lembaga mahasiswa, santri, pemuda, pelajar, district organization, pressure groups dan lembaga solidaritas masyarakat Aceh baik di Aceh maupun di luar negeri.

Kongres ini secara resmi merekomendasikan dua hal penting: Pertama, referendum dengan dua opsi, merdeka atau bergabung dengan Republik Indonesia. Kedua, mendirikan Sentral Informasi Referendum Acheh (SIRA) sebagai lembaga independen yang bertugas mengorganisir informasi dan perjuangan penentuan nasib sendiri melalui referendum damai.

Sesuai mandat KOMPAS, Muhammad Nazar diserahi tanggung jawab sebagai Koordinator Pusat Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA). Dia dibantu sejumlah anggota presidium SIRA. Tugas SIRA saat itu adalah mengorganisir dan sosialisasi perjuangan referendum hingga ke kampung-kampung. Hasilnya, tak lebih dari tiga bulan, histeria referendum bergema di seluruh Aceh. Sepanjang jalan Banda Aceh-Media, dipenuhi grafiti, spanduk, dan baliho referendum. Spanduk referendum juga dipasang di setiap simpang masuk ke perkampungan penduduk.

Kampanye referendum yang dilakukan Muhammad Nazar dari SIRA dan aktivis dari berbagai elemen gerakan mahasiswa cukup efektif. Dukungan pun mengalir, tak hanya dari masyarakat biasa, melainkan dari ulama, akademisi, anggota dewan dan pemerintahan kabupaten/kota.

DPRD Aceh Selatan, misalnya, mengeluarkan pernyataan secara terbuka mendukung gerakan referendum yang disuarakan para mahasiswa. (Serambi Indonesia, 1 November 1999). Sementara Bupati Aceh Tengah, H. Mustafa Tamy juga menyatakan dukungannya terhadap perjuangan mahasiswa dan masyarakat. Tapi Mustafa meminta agar aksi atau gerakan yang dilakukan masyarakat tidak menjurus kepada aksi-aksi makar yang menimbulkan keresahan.

“Kita serahkan yang terbaik bagi rakyat,” katanya seperti dikutip Serambi Indonesia, 2 November 1999.

Dukungan referendum terus mengalir menjelang pelaksanaan Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU MPR) Aceh. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh dan DPRD Aceh menyatakan dukungan terhadap acara yang digelar oleh SIRA tersebut dan meminta masyarakat Aceh Berdoa agar SU MPR berlangsung rukun, aman dan damai. (Serambi, 8 November 1999). Dukungan yang diberikan MUI dan DPRA seperti spirit bagi masyarakat dan mahasiswa karena saat pelaksanaan SU MPR, dua juta masyarakat Aceh menggelorakan referendum di Masjid Rayat Banda Aceh.

Kehadiran massa yang begitu besar juga membuat presiden Gus Dur menyatakan persetujuannya terhadap referendum yang sedang melakukan kunjungan luar negeri ke Kamboja. Malah, Gus Dur menjanjikan pelaksanaan referendum Aceh akan digelar 7 bulan lagi. (Serambi, 17 November 1999).

Gerakan yang dilakukan SIRA juga mendapat dukungan dari Gerakan Aceh Merdeka. Pemimpin GAM Teungku Hasan Tiro (kini Alm) bahkan mendesak Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) segera menggelar referendum di Aceh untuk menentukan nasib rakyat Aceh, bergabung dengan Indonesia atau merdeka. Dukungan pendiri GAM ini sebenarnya sudah pernah dinyatakan oleh Panglima GAM Tgk Abdullah Syafie. “Yang pasti seluruh rakyat Aceh menuntut merdeka. Namun, caranya yang berbeda-beda,” kata Panglima GAM paling karismatik ini seperti dikutip Serambi, 10 November 1999.

***
Awal Mei 2011 lalu, saya menemui Muhammad Nazar di rumahnya di kawasan Blang Padang, Banda Aceh. Dia banyak bercerita soal perkembangan mutakhir Aceh, dari kisruh calon independen hingga soal investor. Dia juga bercerita kenapa mau kembali bertarung memperebutkan kursi nomor satu Aceh, berpisah dengan Irwandi Yusuf. Tak hanya itu, suami Dewi Meutia ini menceritakan pengalamannya saat bertemu pertama kali dengan Teungku Hasan Tiro di Stockholm, Sweden, awal 2000.

“Wali sering berbicara bahasa Inggris dengan saya,” katanya. Wali, lanjut dia, senang bertemu dengan anak muda yang gigih memperjuangkan nasib Aceh. Saat itu, hubungan antara SIRA dan GAM masih akur. Hubungan tersebut memburuk setelah Pilkada 2006. Penyebabnya, karena dia dan Irwandi Yusuf maju sendiri sebagai calon gubernur/wakil gubernur dan tak mau mendukung Humam Hamid-Hasbi Abdullah.

Muhammad Nazar mengakut, apa yang dilakukan mereka tidak salah. Menurutnya, dia dan Irwandi Yusuf mengikuti peunutoh Wali Neugara Hasan Tiro.

“Hareum ikot peunutoh yang salah meski nyan diteubit dari babah pimpinan.”  Kalimat itu, katanya, tercetak di pintu rumah Wali Neugara Hasan Tiro di Sweden. Nazar masing mengingat kalimat magis ini sampai sekarang. Padahal, dia membacanya hampir 10 tahun yang lalu, ketika berkesempatan bertemu Hasan Tiro di Swedia.

Menurut Nazar, Wali, begitu anggota GAM di lapangan menyapa Hasan Tiro, tak ingin peristiwa saat Sultan Aceh menyerah ke Belanda terulang kembali. “Sekali pun seorang pimpinan sudah ditawan atau menyerah, kita tak harus mengikuti perintahnnya lagi apalagi jika perintah itu tidak benar,” ujarnya, memberi argumen.

***
Begitulah sepak terjang Muhammad Nazar. Namanya cukup tenar, seperti kata referendum sendiri. Dia dianggap mampu mengembalikan martabat dan marwah rakyat Aceh. Kekuatan itu pula yang mendongkrak karirnya di kemudian hari. Tuahnya sebagai pejuang referendum mengantarkan dia menduduki posisi Wakil Gubernur Aceh berpasangan dengan Irwandi Yusuf, periode 2006-2011.

Di Pilkada 2012, Muhammad Nazar menguji keberuntungan dengan mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh, tak lagi berpasangan dengan Irwandi. Mantan Gubernur Aceh itu lebih memilih Mahyan Yunan, Kadis PU Aceh. Sementara Nazar menggandeng Nova Iriansyah, politisi dari Partai Demokrat. Keduanya terpental, dikalahkan calon dari Partai Aceh, Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf. []
Note: tulisan ini ditulis tahun 2011 silam memenuhi permintaan pengurus MNC (Muhammad Nazar Center). Saya posting kembali di blog ini sebagai arsip serta mengenang 15 tahun perjuangan Referendum Aceh (8 November 1999-8 November 2014).

Saturday, October 25, 2014

Karena Aku Bukan Anak Presiden

Untuk jadi anak presiden, kita harus punya Ayah seorang presiden (baca kepala negara dan kepala pemerintahan). Kalau orang tua kita seorang presiden, kita sebagai anaknya otomatis akan jadi anak presiden! Jadi, tak sembarang orang bisa menjadi anak presiden. Di Indonesia saja, baru 7 keluarga yang jadi presiden. Artinya baru anak ketujuh orang itu saja yang menyandang status anak presiden. Yang lain, paling banter jadi anak wakil presiden atau presiden di perusahaan besar dan perusahaan milik negara.

Banyak keistimewaan menyandang status sebagai anak presiden. Kemana-mana ada pengawalnya. Pelayanan pasti sering didahulukan. Fasilitas lebih wah di banding anak lain. Kalau kemana-mana pasti ramai yang antri minta foto bareng. Bisa kuliah di perguruan tinggi elit. Pokoknya, sesuatu yang wah akan diterima olehnya karena dia anak presiden.

Dulu, saat Presiden SBY masih menjabat presiden, dan mulai akrab dengan sosial media, sewaktu membuat akun twitter, cukup ramai orang mengikutinya di situs 140 karakter itu. Status akun sang presiden pun langsung verified. Presiden gitu, loh! Ini wajar. Beberapa hari kemudian, anak-anaknya seperti Agus, Ibas, juga kecipratan tuah sebagai sebagai anak presiden. Akun mereka ini juga verified. Kita tak tahu apakah proses verified tersebut alamiah atau ada kekuatan 'gaib' di baliknya.

Kenapa kita (saya deh) berkesimpulan demikian? Karena, saya juga sudah lama bikin akun twitter tapi tak diverified juga sama twitter. Padahal, akun saya bukan anonim. Saya pakai nama asli sesuai dengan nama si KTP. Saya bukan orang jahat, bukan spammer. Saya real human bukan boots. Lalu kenapa tak juga status akun saya verified, ya karena saya bukan anak presiden.

Sebenarnya, kita tak perlu jadi anak presiden kalau untuk sekadar ingin akun twitter verified. Jadi artis terkenal pun pasti akun kita akan verified, banyak follower dan setiap kicauan (tweet) sekali pun singkat seperti ‘selamat pagi’ pasti banyak yang balas dan RT (retweet). Tapi, tak mudah juga jadi artis terkenal, karena masuk tv pun jarang (malah tidak ada sama sekali). Boro-boro jadi artis dan masuk TV, masuk koran saja belum tentu setahun sekali. Wajah kita pun kampungan banget. Ya sudah, kita terima saja nasib apa adanya. Jadi diri sendiri itu luar biasa, loh!

Kamarin, jagat blog kembali heboh dengan keberadaan blog seorang anak presiden: misterkacang.blogspot.com. Blog ini milik Kaesang Pangarep, anak Presiden ketujuh RI, Joko Widodo. Media  (terutama media online) pun cukup ramai mengulasnya. Dia sebenarnya sudah lama jadi blogger, tapi baru kemarin-kemarin itu blognya jadi perhatian banyak blogger dan pembaca (plus media). Trafik pun banjir. Semua orang penasaran ingin membukanya dan sebagian malah berkomentar di blog tersebut, berharap dapat cipratan trafik. Nebeng populer di blog anak presiden.

Ya, Kaesang Pangarep sebenarnya sudah sejak September 2011 lalu membuat blog di blogger, layanan blog gratis milik google. Hasil penelusuran saya di blog miliknya, posting pertama berjudul Hari yang Menyedihkan yang diposting pada 22 September 2011. Di posting pertama itu, saya lihat cuma ada enam pengunjung yang memberikan komentar. Ini jelas sangat sedikit. Sepanjang tahun 2011, saya lihat setiap tulisan yang diposting Kaesang sangat sedikit yang memberi komentar, paling banyak 10 komentar.

Tapi lihatlah beberapa posting terakhir dia, terutama saat pelantikan Joko Widodo (Presiden Jokowi) pada 20 Oktober 2014. Tulisan berjudul Tanggal 20 Oktober 2014, misalnya, terakhir kali saya buka memiliki 313 komentar. Sementara dua posting sebelumnya, di bulan Agustus (Kaesang tidak memposting satu tulisan pun di bulan September) masing-masing berjudul Perjalanan Menuju Tanah Suci Part 4 dan Tahun ke-4 di Singapore memiliki 99 dan 133 komentar. Artinya, jumlah komentar di blog Kaesang meningkat drastis sejak masa-masa kampanye hingga pelantikan Presiden. Kita menduga-duga ini pasti ada kaitannya dengan kencangnya pemberitaan media serta setelah blog tersebut diketahui sebagai milik anak Jokowi.

blog Kaesang Pangarep
Secara umum, tulisan-tulisan Kaesang di blognya enak dibaca, bahasanya kocak dan gaul (khas anak muda), dan tema yang ditulisnya pun terkait kehidupan dia sehari-hari. Saya terus terang cukup menikmati juga saat membacanya pertama kali. Dia memang sama seperti para blogger kebanyakan. Kita berharap, sekali pun kini sudah menyandang status sebagai anak presiden, Kaesang terus menulis terutama pengalaman-pengalaman dia di istana atau menjalani hari-hari sebagai anak presiden. Teruslah jadi blogger yang otentik!

Sebagai blogger yang termasuk sudah lama ngeblog, kita pantas iri (dalam arti positif tentunya) sama Kaesang. Pasalnya, blog dia kini diulas di mana-mana, pengunjungnya banyak dan jumlah komentar pun melimpah. Alangkah kerennya kalau komentar-komentar di blog tersebut dibalas, biar selalu interaktif. Karena hakikat ngeblog sebenarnya adalah saling berbagi dan menjadi medium berinteraksi dengan orang lain.

Pada akhirnya, kalau kita ingin menjadi seperti Kaesang, di mana blognya dibanjiri pengunjung dan komentar serta dibicarakan oleh para blogger dan media online, mari berharap orang tua kita menjadi presiden. Tapi jika orang tua kita tak mungkin jadi presiden, maka tugas kita sebagai blogger adalah selalu update blog secara teratur, menulis topik menarik yang dibutuhkan pembaca, dan aktif di sosial media, Insya Allah tanpa harus jadi anak presiden, blog kita pun akan berlimpah trafik dan komentar. Beberapa blogger sudah membuktikannya. Salam