Tuesday, February 17, 2015

Tips: Belajar Retorika dari Cicero

Sudah tak terhitung lagi, berapa kali saya menyampaikan pidato, memberi pelatihan atau berbicara di depan banyak orang. Namun, tetap saja ada tekanan yang saya rasakan saat menerima undangan memberi pelatihan. Saya selalu takut bahwa saya akan gagal dalam memberikan materi pelatihan. Ini sudah sering-kali saya alami, dan biasanya selalu berhasil saya lewati. Apa trik yang biasa saya lakukan?

Saya berlatih? Itu sudah pasti. Berlatih dapat meningkatkan kemampuan kita berbicara. Tapi biasanya yang saya lakukan adalah mempersiapkan diri memberi pidato pembuka atau menyampaikan materi untuk lima menit pertama. Saya biasanya mensiasatinya dengan sebuah cerita atau humor inspiratif. Pasalnya, jika waktu lima menit itu berhasil saya lewati, maka rasa percaya diri saya meningkat dan ujungnya penyampaian materi saya berakhir manis. Begitulah saya menguasai diri dan forum di mana saya memberikan ceramah atau pidato. Sederhana, bukan?

Apa yang saya rasakan ini sesuatu yang lumrah, bahkan pembicara berpengalaman sekali pun pernah mengalaminya. Dalam kajian retorika atau speech communication, hal ini disebut dengan kecemasan berkomunikasi (communication apprehension). Begitu mengalami kecemasan berkomunikasi, anda akan kehilangan kepercayaan diri dan menurunkan kredibilitas kita di mata audiens.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Retorika Modern (Februari, 2006) menyebutkan, untuk menyampaikan pidato yang lebih efektif, kita tidak hanya memerlukan kepercayaan diri dan kredibilitas, melainkan juga ketrampilan. Seorang penulis besar, cerita Kang Jalal, pernah diundang memberikan ceramah di depan mahasiswa. Di depan mimbar, dengan tenang dia memasang kacamata dan membuka makalahnya. Sesudah itu, ia terus-menerus membaca makalah. Ketika ia mengangkat kepalanya, sebagian besar hadirin sudah meninggalkan ruangan, tanpa sepengetahuan dia. “Penulis itu memiliki kepercayaan diri dan kredibilitas, tetapi tidak memiliki ketrampilan menyampaikan,” tulisnya. Menurutnya, ketrampilan berbicara akan kita dapatkan dengan berlatih terus-menerus.

Dulu, di zaman Romawi dan Yunani kuno, orang-orang yang ingin berlatih pidato atau retorika, biasanya mengasingkan diri ke gua, di pinggir laut atau di puncak gunung. Mereka berlatih berbicara dan melatih vocal dengan berbagai cara. Tak ada orang yang mendengarkan. Mereka dapat berbicara dengan bebas, mengatur irama dan kekuatan suara. Kalau hal ini dilakukan sekarang pasti akan dianggap gila. Kita bisa mensiasatinya dengan berlatih bicara di depan cermin [kalau mengganggu tetangga, juga akan dianggap orang gila].

Dewasa ini, sudah cukup banyak media untuk belajar berbicara dan retorika. Ada banyak lembaga pendidikan (sekolah) atau kursus yang fokus pada peningkatan kemampuan berbicara. Kita bisa belajar di sana. Kita pun bisa mempelajari gaya berbicara atau cara memberikan presentasi yang efektif di Youtube. Kita dapat mempelajari teknik berbicara Steve Jobs atau Larry King. Kita bisa meniru cara mereka menyampaikan pidato atau teknik mereka berbicara. Saya termasuk rutin membuka situs Youtube untuk belajar cara presentasi yang efektif atau bagaimana kita bersikap dan beraksi di atas panggung.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi tips bagaimana Marcus Tullius Cicero berlatih menjadi seorang orator yang dihormati di masa Romawi Kuno. Cicero ini dikenal sebagai ahli retorika terbaik yang pernah dimiliki Romawi, memiliki kemampuan di atas Quintus Hortensius Hortalus atau Julius Ceasar. Hortensius, misalnya, dikenal sebagai penganut aliran retorika terkemuka masa itu dengan menguasasi metode Asiatik: gaya rumit dan berbunga-bunga, penuh frase angkuh dan irama berdenting, penyampaiannya disertai dengan mengayun-ayunkan tubuh dan berjalan mondar-mandir. Dalam novel Imperium karya Robert Harris disebutkan, Cicero mencari semua guru Hortensius untuk mempelajari kiat-kiat retorika yang digunakan Maestro Menari itu, seperti Menippus dari Stratonikeia, Dionysius dari Magnesia, Aeschylus dari Knidos, Xenocles dari Adramyttium.

Setelah merasa cukup menguasai metode Asiatik, Cicero pun ingin belajar lebih mendalam lagi tentang retorika di sekolah Apollonius Molon. Dalam novel Imperium, disebutkan, Molon adalah seorang pengacara bertubuh gempal yang berasal dari Alabanda, kerap membela para terdakwa di pengadilan-pengadilan Romawi dan pernah diundang berbicara di senat dalam bahasa Yunani, dan kemudian memilih pensiun ke pulau Rhodus dengan membuka sekolah retorika.

Metode retorika yang diajarkan di sekolah milik Molon ini berbeda dengan metode Asiatik. Teori retorika Molon sederhana saja: jangan terlalu banyak bergerak, tegakkan kepala, jangan menyimpang dari inti pembicaraan, buat mereka tertawa, buat mereka menangis, dan setelah kau memperoleh simpati mereka, duduklah cepat-cepat. “Tak ada yang mengering lebih cepat daripada air mata,” kata Molon. [Imperium: 18]

Hal pertama yang dilakukan oleh Molon untuk meningkatkan kemampuan berbicara Cicero adalah memberikan asupan gizi makanan yang cukup: semangkuk telur rebus dengan saus ikan bilis, lalu sepotong daging merah bakar plus susu kambing. “Buluh lemah tak mungkin bisa menyuarakan nada yang perkasa,” kata Molon. Selanjutnya, Molon memberi latihan fisik untuk Cicero. Menurutnya, berbicara di dalam forum itu sebanding dengan berlomba lari.

Setelah semua selesai, barulah Molon mengajari teknik latihan berpidato sesungguhnya. Dia mengajak Cicero keluar dari halaman yang teduh, memasuki terik siang hari, dan menyuruhnya membacakan bacaan latihan sambil berjalan mendaki bukit terjal tanpa jeda. Latihan ini bagus untuk melatih memperkuat paru-paru. Dari teknik ini, Cicero mempelajari cara mengucapkan jumlah kata maksimum dalam satu tarikan nafas. “Atur nada penyampaianmu di rentang tengah, di situlah letak kekuatan. Jangan terlalu tinggi atau terlalu rendah,” begitu Molon mengajarkan.

Selanjutnya, Molon membawa Cicero ke pantai berkerikil, dengan mengatur jarak tujuh puluh meter (jangkauan maksimum suara manusia). Molon meminta Cicero berpidato melawan debur dan desis lautan. Menurut Molon, suara tersebut yang paling mendekati gumam tiga ribu orang di ruang terbuka atau dengung latar beberapa ratus orang yang bercakap-cakap dalam senat. “Bagaimana dengan isi pidatoku?” tanya Cicero. “Aku tak peduli soal isi. Ingat Demosthenes: ‘hanya ada tiga hal yang penting dalam oratoria. Penyampaian, penyampaian, dan sekali lagi penyampaian,’” jawabnya.

Lalu bagaimana dengan gagap? Menurut Molon, gagap tidak pernah mengganggu dirinya berbicara. “Sungguh kegagapan malah menambah daya tarik dan kesan jujur yang menguntungkan,” katanya. Demosthenes sendiri, kata Molon, bahkan sedikit cadel kalau berbicara, namun hal itu justru membuat pendengar akrab dengannya. “Yang membosankan hanyalah kesempurnaan,” jelasnya.

Begitulah, Cicero berlatih berpidato dan retorika. Di kemudian hari, Cicero dikenal sebagai ahli retorika. Kita pun bisa belajar teknik seperti yang dipelajari dari gurunya, Molon. Kemampuan bicara akan memberi banyak keuntungan untuk kita. Kita hanya cukup jago menulis, melainkan juga berbicara. Kedua kemampuan ini harus seimbang jika ingin menjadi pembicara dan penulis sukses. Sebab, keduanya saling terkait satu-sama lain. Jangan sampai kita bernasib seperti penulis besar seperti dalam contoh di atas yang gagal dalam penyampaian. Ini tentu memalukan.

Yang perlu kita lakukan hanya berlatih dan mengamalkan setiap pengetahuan baru yang kita peroleh. Berlatih terus-menerus membuat kita semakin matang dan bijaksana. Nabi sendiri dalam sebuah hadist pernah bersabda, Barang siapa mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan mengajarkan ia apa yang tidak ia ketahui. Mudah-mudahan posting sederhana ini menginspirasi kita semua. [dari berbagai sumber]

Friday, February 13, 2015

Mojok dan Sertifikat Nakalnya

Sudah cukup lama saya menulis di blog ini. Setidaknya, sudah lebih 600-an artikel saya posting di sini. Tulisan-tulisan tersebut ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang terlampau serius. Saya menulisnya di kala senang maupun di kala susah. Ada yang memenangkan lomba menulis, banyak juga yang tidak memenangkan apa-apa. Tapi ada banyak tulisan yang saya tulis bukan karena lomba, melainkan murni panggilan jiwa. Apapun keuntungan yang saya terima, semuanya saya anggap bonus. Dan, pada tahun 2015 ini, blog JUMPUENG mendapat predikat 10 blog paling Mojok banget: sedikit nakal banyak akal. Saya bersyukur kalau tulisan-tulisan saya di blog ini bisa menginspirasi orang lain, karena untuk tujuan itulah saya menulis. Memang, tak selamanya tulisan kita mampu menginspirasi orang, karena ada juga tulisan-tulisan kita yang justru membuat orang marah. Kita harus selalu siap menerima apapun penilaian orang.

Banyak orang pasti bertanya-tanya, kenapa saya selalu konsisten menulis blog? Padahal, banyak orang mengeluh, menulis blog sama sekali tidak memiliki prospek dan terkesan hanya buang-buang waktu. Semua terpulang pada kita. Saya selalu percaya bahwa tak ada hal sia-sia jika kita mengerjakannya dengan segenap jiwa. Orang bijak pernah berkata, "kesuksesan sangat ditentukan oleh seberapa seriusnya kita melakukan sesuatu." Di luar itu, saya memang sudah sejak dulu senang menulis (apa saja), sekali pun saya tidak mendapatkan bayaran untuk itu. Ada kepuasan yang saya dapatkan begitu tulisan sudah mulai tayang di blog, di mana kepuasan itu tak bisa ditukar dengan uang. Saya pikir kepuasan itu hanya bisa dinikmati oleh para blogger yang sudah sampai pada taraf 'makrifat' [ini terlalu berlebihan mungkin]

Banyak blogger pemula ketika menggeluti dunia blogging memasang target muluk-muluk dengan menjadi blogger sukses dalam semalam. Apalagi, blogger sudah menjadi semacam profesi. Tapi, banyak dari blogger pemula itu berakhir kecewa, karena apa yang dibayangkan itu tak selalu sesuai dengan kenyataan. Memang banyak blogger sukses yang mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan juta rupiah dari hasil menulis blog, tapi tak sedikit pula yang tidak mendapatkan apa-apa. Semua sangat tergantung pada tujuan awal kita menulis blog. Saya sendiri belum boleh dibilang sebagai blogger sukses, karena belum mampu menghasilkan uang dari blog ini, kecuali uang recehan: dari iklan per klik atau hasil memenangkan lomba. Kalau dipikir-pikir, jumlah tersebut tak seberapa. Kalau tujuan awal saya menulis blog untuk mendapatkan uang, pasti saya sudah menyerah sekarang ketika mendapati fakta bahwa blog saya belum mampu menjadi tambang uang. Tapi, saya menulis blog semata-mata untuk merawat ingatan, dan blog menjadi tempat saya menyimpan pikiran-pikiran saya.

Kalau boleh jujur, sudah banyak keuntungan yang saya peroleh dari blog JUMPUENG ini: ada dalam bentuk uang, ada dalam bentuk barang. Dalam bentuk uang, misalnya, saya menerima pembayaran dari pemasangan iklan per klik, dari jobs review, dari uang hadiah lomba menulis. Dalam bentuk barang, misalnya, saya menerima gadget, baju dan buku. Tapi, di luar itu, ada sesuatu yang saya peroleh dan sama sekali tak bisa diukur dengan uang maupun barang. Apakah itu? Orang sering menyebutnya: personal branding. Saya selalu meyakini nama kita adalah sebuah merek. Baik-buruk nama kita sangat tergantung bagaimana kita melakukan pemasaran. Dan melalui blog inilah saya menjual nama saya. Inilah yang sudah saya dapatkan, sekali pun belum maksimal.

Oh ya, setelah blog JUMPUENG ini masuk dalam 10 besar blog paling MOJOK banget, saya menerima kiriman dua buku bagus: What the Dog Saw karya Malcolm Gladwell dan Mengantar dari Luar karya Puthut EA. Selain buku, saya juga dikirim sticker Mojok dan satu sertifikat. Saya senang bukan main. Sebelumnya saya tak begitu peduli dengan sertifikat. Tapi karena ada rencana ingin mendaftar beasiswa, saya jadi senang mengumpulkan sertifikat. Pasalnya, sertifikat atau penghargaan jadi semacam portofolio untuk menaikkan nilai-tambah kita. Saya begitu sedih mendapati diri saya tak punya penghargaan apapun, sekali pun sering menerima penghargaan dalam bentuk sertifikat.

Jadi, dengan kiriman sertifikat dari MOJOK.co, sebuah situs yang belakangan sangat digandrungi pembaca karena isinya menggelitik, nyeleneh dan usil atau sesuai tagline-nya: sedikit nakal banyak akal. Saya sampai berpikir, kalau nanti jadi memasukkan aplikasi beasiswa, saya akan memasukkan sertifikat dari MOJOK.co, sebagai sebuah penghargaan yang pernah saya terima. Tapi, sialnya, begitu saya memandang lagi sertifikat yang saya taruh di atas kulkas, saya terkejut bukan main. Pasalnya, sertifikat itu lahir prematur: tanggal yang tertera di sertifikat masih jauh, 27 Desember 2015. Padahal, penghargaan itu diberikan akhir 2014 atau awal 2015. Selain itu, tak seperti sertifikat lain yang ada tanda-tangan si pemberi, sertifikat yang diberikan oleh MOJOK.co tak ada tanda-tangan pemimpin redaksinya, sekali pun ada namanya. Ruang di tempat yang seharusnya ditandatangani, dibiarkan kosong. Saya jadi berpikir, jangan-jangan ini sertifikat kawe-kawean.

Hanya satu komentar yang keluar dari mulut saya: Mojok.co benar-benar sedikit nakal banyak akal. Tapi, saya berterima kasih banget untuk kru MOJOK.co atas penghargaan dan hadiah yang luar biasa tersebut. Mudah-mudahan, buku kirimannya segera selesai saya baca. [] 

Saturday, January 31, 2015

Boleh Tak Merdeka Asal Bermartabat!

Bicara tentang Aceh terasa hambar kalau tak melibatkan sosok Teungku Hasan di Tiro, nama yang begitu menggemparkan Aceh (dan Indonesia) suatu masa. Ya, dia adalah ideolog Aceh Merdeka paling populer, mungkin melebihi gurunya, Teungku Muhammad Daud Beureu’eh. Terlepas bagaimana sosok dia di mata orang, dia tetaplah orang yang memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah Aceh. Apa yang terjadi di Aceh hari-hari ini tak terlepas dari peran dia. Pengikut-pengikutnya yang kini memegang tampuk pemerintahan di Aceh merupakan kader-kader yang dulunya bersama-sama berjuang bersama dia maupun yang terpengaruh dengan perjuangannya.

Orang boleh saja memiliki pandangan negatif tentang sosok Hasan Tiro, meski banyak dari mereka mengagumi konsistensi dan pengorbanan dia, terutama dalam mewujudkan mimpi Aceh Merdeka. Sampai ajal menjemputnya, sosok yang pernah dianggap ‘pembual’ oleh Jakarta (dan oleh orang-orang yang tidak senang dengan perjuangannya) ini tak mampu mewujudkan mimpi yang dulu begitu sering dia sampaikan ke pengikutnya: di hutan, di pengasingan, maupun dalam karya-karya yang sempat kita baca sampai hari ini.

Saya sendiri sudah sejak lama mengakrabi karya-karya dia seperti Price of Freedom, Perkara dan Alasan, Aceh bak Mata Donya, Masa Depan Dunia Melayu dan lain-lain. Tulisan-tulisan itu plus pidato-pidato yang dulu begitu sering diputar dalam ceramah-ceramah Aceh Merdeka secara terbatas, kita seperti diajak untuk ikut serta berjuang bersama-sama dalam barisannya. Sekali pun saya tak pernah berjumpa secara langsung dengan penulis Demokrasi untuk Indonesia ini, saya bisa merasakan bagaimana berpengaruhnya dia bagi masyarakat Aceh, termasuk yang tak mendukungnya sekali pun.

Bahkan, kalau mau bicara jujur, orang yang menyebutnya pembual sekali pun, hari-hari ini begitu menikmati hasil perjuangan dia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ya, memang seorang tokoh selalu dan selalu memiliki sisi yang berbeda. Secara sempit, orang-orang memandang seorang tokoh dengan dua sudut berbeda: menganggapnya pahlawan, dan tak sedikit juga yang menganggapnya pecundang bahkan pembual, seperti yang kita saksikan hari-hari ini di Aceh. Kita pun menjadi sulit membedakan mana pahlawan dan mana pecundang, karena mereka selalu hadir secara bersamaan. Bahkan orang yang menyebut Hasan Tiro seorang pembual pun kini menyadari bualannya keliru.

Tapi, terlepas apapun pandangan orang, Hasan Tiro telah meletakkan fondasi kokoh bagi Aceh, sekali pun dia merumuskannya hingga selesai. Kenapa? Seandainya Aceh jadi merdeka, kita pasti akan bertengkar satu sama lain tentang bentuk negara, lagu kebangsaan atau pun sistem pemerintahan, persis seperti debat soal bendera yang tak selesai-selesai. Namun, kita tak boleh kehilangan harapan, sebab para pengikutnya yang kini memegang tampuk pemerintahan di Aceh dan di kabupaten kota punya beban berat mewujudkan Aceh yang bermartabat, sekali pun tak merdeka. Sebab, sudah cukup banyak pengorbanan rakyat Aceh untuk sebuah mimpi merdeka. Rakyat Aceh hanya ingin memastikan, bagaimana nasib tujuh neudeuk/meuneumat bansa Aceh yang dulu begitu sering kita dengar dalam ceramah-ceramah Aceh Merdeka maupun dalam buku-buku Hasan Tiro yang sempat kita baca.

Pemimpin-pemimpin di Aceh, saya kira, jangan lagi menargetkan sesuatu yang muluk-muluk apalagi sampai menginginkan Aceh seperti Singapura, Hongkong, Swedia atau negara Skandinavia lain yang selama ini menjadi tempat bermukin para pengikut Hasan Tiro. Karena, kalau ingin realistis, dengan mewujudkan tujuh meuneumat bansa Aceh seperti pernah digariskan Hasan Tiro saja sudah lebih dari cukup. Jika mereka lupa dengan tujuh meuneumat itu, saya ingin mengingatkan lagi. Saya maklumi, masing-masing kita punya ingatan pendek sehingga muda lupa, tapi selalu ada dokumen yang tercatat rapi. Kita hanya perlu membukanya lagi.

Inilah Tujuh Neuduk/Meuneumat Bansa Aceh
1. Peudong Deelat Allah
2. Peuseulamat bansa Aceh donja akhirat
3. Peudong Adat bak Poeteumeureuhom, Hukom bak Sjiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Panglima, Bintara dan Laksamana
4. Seutot rauh indatu
5. Peu-ek bendera jang meutanoh mirah bintang buleuen di teungoh/ Peu-ek bendera bintang buleun meutanoh mirah
6. Han tateurimong peurintah seulaen bansa droe teuh bansa Atjeh
7. Peugoet hubungan lua Neugara lagee ka geupeugoet le endatu awai.

Saya percaya, jika tujuh meuneumat itu benar-benar dapat diwujudkan di Aceh, maka Aceh akan kembali memperoleh martabat sekali pun Aceh tak merdeka. Sebab, dengan meuneumat itu pula sebenarnya Aceh sudah benar-benar berdaulat. Tapi, siapa yang peduli dengan meuneumat usang itu ketika uang dengan derasnya mengalir ke Aceh. Maka benarlah kata kawan saya, “merdeka ka ie raya ba.” []

Catatan:
Neuduek/Meuneumat: Ideologi/Pegangan

Tuesday, January 27, 2015

Nelayan Kampung Jawa dan Doa Kematian

Belakangan, saya rutin menghabiskan waktu berjam-jam melihat orang tarik pukat dan para pemancing di pantai Kampung Jawa, Kutaraja, Banda Aceh. Ada kesenangan melihat tingkah polah mereka. Sesekali saya mengabadikan momen tarik pukat dan para pemancing itu dengan kamera handphone (maklum bukan photographer). Pikiran saya seperti terbuka, layaknya hamparan lautan luas yang terhidang di hadapan saya.

Seringnya saya menyambangi pantai Kampung Jawa itu, saya pun jadi hafal seperti apa tingkah polah para nelayan maupun pemancing yang sering mencari ikan di sana. Para nelayan, misalnya, di sela mengisi kekosongan waktu, mereka kerap bermain batu domino di rangkang yang mereka buat untuk berteduh. Saya yakin, mereka secara sengaja menyiapkan batu domino untuk mereka bermain demi mengusir suntuk. Sebab, tak selalu ada kawanan ikan terkurung dalam pukat mereka, sekali pun mereka sudah menunggu kawanan ikan itu di tengah terik matahari yang membakar kulit. Dapat dibayangkan betapa lelahnya mereka.

Ketika menyambangi rangkang tempat mereka biasanya berteduh, saya dapati sosok yang rata-rata memang dapat dibilang berumur (untuk tidak menyebut sudah tua). Tapi, jangan ragukan kekuatan fisik mereka. Tubuh mereka berotot dengan warna kulit hitam legam terbakar terik matahari. Dari tampilan fisik saja, kita langsung sepakat kalau mereka adalah pribadi-pribadi kuat. Hanya dua-tiga orang saja yang masih tergolong muda. Tapi, umur tak menghalangi mereka saling bercanda, dan kadang-kadang di luar batas kewajaran. Mereka memang tak begitu peduli wibawa atau tata krama, karena hubungan mereka sudah selayaknya sebuah keluarga. Mereka pun sering berbicara satu sama lain dengan volume suara besar dan cenderung kasar, khas masyarakat pesisir.

Di atas rangkang, empat lelaki berumur, duduk melingkar, mengelilingi papan tebal seluas meja di cafe. Di atas papan itu, batu domino tersusun rapi, mengikuti angka serupa yang tercetak di atasnya. Saya lihat, ada dua nelayan memasang tali besar (tali kapal) di leher mereka yang diikat beberapa barang bekas, seperti pelampung, botol aqua dan jaring bekas seukuran jambul pengantin wanita. Mereka tidak sedang bermain sandiwara, melainkan begitulah hukuman karena kalah bermain. Semakin sering mereka kalah, jumlah tali yang melingkari leher mereka makin banyak plus barang bekas yang diikat di tali itu. Mereka pun sering mengejek satu sama lain. Para pengunjung yang menyambangi rangkang itu sering tak dapat menahan senyum mereka. Benar-benar hiburan gratis di tengah terik matahari.

Hari itu, saya lupa persisnya hari apa, saya memilih duduk di rangkang itu, bukan di warkop di ujung persimpangan jalan. Saya ingin menikmati canda-canda mereka, sekaligus melihat bagaimana mereka memastikan keberadaan kawanan ikan di lautan.

“Itu, burung camar mendekat. Mereka menukik ke air menangkap ikan,” teriak lelaki hitam legam berusia 55 tahun. Di kalangan mereka, lelaki yang dipanggil ayah itu berposisi pawang.

Para nelayan pun memandang ke tengah lautan, mengikuti arah telunjuk sang pawang.

“Ya, ada beberapa kawanan ikan. Mungkin ada ikan besar,” sahut salah satu di antara mereka yang berpakaian tentara.

Sekali pun bukan kali itu saja saya melihat orang tarik pukat, tapi saya sendiri masih bingung bagaimana mereka memastikan ada kawanan ikan di dalam air bergelombang. Memang, keberadaan camar menjadi salah satu petunjuk bahwa di lokasi itu ada ikannya. Kalau burung camar silih berganti menukik ke air menangkap ikan, itu sudah cukup menjelaskan bahwa ikan-ikan sedang berkumpul dalam jumlah banyak (kawanan).

Namun, tingkah polah camar bukan satu-satunya petunjuk keberadaan ikan. Para nelayan itu juga menggunakan perubahan air laut di lokasi yang ada ikannya. Warnanya berubah menghitam dan berbeda dengan warna air di sekitarnya. Pasalnya, kata mereka, jika ada kawanan ikan warna air berubah mengikuti warna sisik ikan. Kalau warna kulit ikan kuning, airnya berubah menguning, begitu kalau sisik ikan berwarna putih perak maka ada kilauan di dalam air yang berbeda dengan kilauan karena pantulan cahaya matahari atau gelombang laut.

Jika petunjuk-petunjuk itu terlihat, mereka pun mulai bersiap-siap dekat perahu. Kita pun akan mendengar teriakan kelompok nelayan saling memanggil temannya agar merapat. Para nelayan yang asik bermain domino atau minum kopi di warkop, akan berlarian ke arah boat dan siap-siap mendorongnya ke dalam air. Dua atau tiga orang kemudian loncat ke dalam perahu dan mengayuhnya mengurung kawanan ikan yang terlihat tadi. Kalau tiba-tiba kawanan ikan itu menghilang, mereka memilih berhenti sejenak dan menunggu informasi dari nelayan yang ada di darat. Begitulah mereka bermain ‘petak-umpet’ dengan ikan. Banyak yang sukses dengan hasil tangkapan melimpah-ruah, tapi tak jarang pula mereka mendapati pukat kosong karena tak ada ikan yang ‘nyangkut’.

Hari itu, kebetulan saya mengajak Fauzan Matang, seorang developer website cum blogger melihat aktivitas para nelayan di Kampung Jawa. Fauzan senang bukan kepalang. Dia seperti baru melihat pemandangan aneh dan lucu dalam hidupnya. Maklum, kepada pawang yang berada di rangkang itu, Fauzan mengaku sudah setahun tak pergi ke laut. Saya sendiri meragukan keterangan Fauzan. Ketika pawang dan beberapa nelayan sibuk menunjuk-nunjuk ke tengah laut, mengabarkan bahwa ada kawanan ikan, Fauzan tercengang tak percaya.

“Bagaimana mereka tahu ada ikan di dalam air? Saya kok tak bisa melihatnya?” Fauzan penasaran. Saya yang berada di samping Fauzan memberi tahu, bahwa jika ada kawanan camar yang mendekat dan menukik ke dalam air, itu tandanya sedang ada kawanan ikan.

Sang pawang yang duduk di pojok rangkang juga mencoba memberi tahu Fauzan, bahwa kalau ada kawanan ikan, warna air menjadi hitam atau mengikuti warna sisik ikan. Dia pun menunjuk ke tengah laut. Tapi, lelaki Matang berkaca-mata itu mengaku tak bisa melihatnya. “Kok tidak kelihatan ada ikannya?” Fauzan bersikap lugu.

“Kalau tidak bisa melihat, coba ambil ikan dan letakkan persis di depan mata, pasti kelihatan,” kata pawang sambil berlalu. Ada senyum mengembang dari wajahnya. Kami pun tertawa. Sebuah tawa yang tak dipaksa. Hehehe.

Saking asiknya melihat para nelayan bercengkrama sesama dan ikan hasil tangkapan, hari itu, saya jadi telat menyambangi warung kopi langganan. Online di warkop dan melihat orang tarik pukat memang hobi sampingan saya belakangan ini. Hari-hari saya terasa kosong kalau tidak sempat mengakses internet untuk satu jam saja.

Setelah memarkir sepmor, seperti biasa, saya mencari posisi duduk yang membelakangi dinding. Dalam hal online saya harus sedikit menjaga privacy. Selama online, saya tak selamanya cuma membalas tweet yang masuk, karena sesekali kalau suntuk saya membuka youtube dan nonton lagu. Tidak semua lagu dengan video klip sopan yang saya buka. Sering pula saya menonton lagu barat, kadang-kadang ada klip erotisnya. Pun begitu, saya juga senang menonton video klip lagu jadul. Dengan membelakangi dinding, saya berharap dapat menghindari tuduhan orang kalau saya 'gagal move on' karena masih saja menyukai lagu jadul semisal Asmara Novia Kolopaking atau Gambaran Cinta Inka Christie.

Saya yakin, kalian pasti menduga alasan itu cuma karangan saya belaka. Hati kecil kalian pasti mengatakan kalau saya sengaja memilih meja di sudut yang membelakangi dinding karena ingin menonton film esek-esek. Iya, kan? Hehehe, dasar piktor memang kalian. Tapi, jujur saya akui, saya duduk sengaja membelakangi dinding agar orang-orang tidak tahu apa yang sedang saya tulis. Kalau ada yang coba mengintip takutnya saya tak lagi fokus menulis. Selain itu, saya tak nyaman kalau misal ada intel melayu lewat saat saya menulis sesuatu yang kritis, atau orang-orang yang berseberangan pandangan dengan saya. Biarlah di dunia nyata saya jadi orang misterius, meski di dunia maya saya termasuk paling terbuka.

Jadi, setiba di warung kawasan Peunayong itu, saya langsung menuju kursi tempat biasa saya duduk yang kebetulan sedang kosong. Lega rasanya mendapati meja yang boleh dibilang sudah hak pakai saya. Tak jauh dari situ, di dekat meja sudut itu, saya lihat ada beberapa anak muda, seperti biasanya. Mereka asik menonton Youtube dan sebagian lagi ada yang bermain game. Mereka sudah terlalu sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan bermain game sepakbola.
Tapi, beberapa menit setelah saya membuka macbook, sayup-sayup saya mendengar obrolan mereka yang layak dibilang cang-panah itu, menyinggung soal Megawati, Surya Paloh dan Jokowi. Apa gerangan? Oh, rupanya sambil melihat rekan-rekannya bermain game, sebagian dari mereka lagi diskusi politik. Saya tangkap, mereka lagi kesal sama Megawati, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Pasalnya, menurut mereka, Mega terlalu mencampuri pemerintahan Jokowi, termasuk soal penetapan Budi Gunawan sebagai Calon Kapolri.

“Jokowi akan lebih aman dan bebas mewujudkan program-program pro rakyat kalau tidak ada Mega atau Paloh. Entah kapan dua orang ini mendapat surat dari Malaikat Izrail,” ucap lelaki kurus berambut gondrong, sambil tak lepas jari-jarinya dari layar smartphone besutan pabrik asal Korea.

“Chop, mana boleh berdoa tidak baik untuk orang. Kalau pun Tuhan mencabut nyawa Mega dan Paloh, kita harus mendoakan agar Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka. Selain itu, kita harus bersyukur karena salah satu 'penyakit' di seputar Jokowi menghilang,” timpal lelaki tambun berkaca-mata dengan mimik serius.

Mau tak mau, saya harus menoleh ke arah mereka. Pikiran saya tiba-tiba dipenuhi awan gelap. Au ah!

Friday, December 26, 2014

Arah Pembangunan Aceh Pascatsunami

Saya yakin bahwa tak semua masyarakat Aceh tahu bahwa daerah mereka merupakan salah satu provinsi dengan penerimaan pemerintah perkapita tertinggi di Indonesia. Mereka juga tidak tahu bahwa Pemerintah Aceh plus Kabupaten/Kota menerima dana Rp25,5 triliun pada tahun 2013. Mereka bahkan tidak peduli jika sejak tahun 2008 hingga akhir 2013 lalu, daerah mereka menerima lebih dari Rp100 triliun dana. Mereka pun tak tertarik membicarakan keberadaan Aceh yang menduduki peringkat ke-5 terkaya dari sisi penerimaan pemerintah sebesar Rp5,5 juta, padahal penerimaan rata-rata daerah lain hanya sebesar Rp4,2 juta.

Apa pentingnya angka-angka di atas ketika dihadapkan pada kondisi terkini, terutama perkembangan ‘sosial’ yang terjadi di kantor Gubernur Aceh tiap musim meugang tiba atau saat menagih bantuan proposal seperti terjadi 2013 lalu? Bayangkan ratusan orang rela berdesak-desakan, ‘mengemis’ serta menunggu berjam-jam untuk mendapatkan ‘bantuan proposal’ dari Pemerintah Aceh. Entah siapa yang ‘memprovokasi’ masyarakat untuk menagih ‘dana’ dari Pemerintah Aceh, kita tidak tahu pasti. Tapi fenomena tersebut menunjukkan ada yang salah dari visi pembangunan Aceh selama ini. Jelas bukan, bahwa angka-angka di atas menjadi tak bermakna!

Aceh boleh saja kaya dengan mengelola dana yang cukup besar, terutama setelah tsunami dan damai tercipta. Namun, di balik dana yang besar itu justru melahirkan masyarakat yang ‘sakit’ (secara sosial). Kejadian di kantor Gubernur, misalnya (termasuk juga fenomena tiap menjelang Meugang, Idul Fitri, dan Idul Adha), menunjukkan gejala ‘sakit’ kini mengidap di sebagian besar masyarakat Aceh. Budaya royal dengan membagi-bagi uang, yang sebelumnya dilakukan politisi menjelang Pemilu, kini dilakoni oleh Pemerintah, sekalipun itu tak dapat disebut kebijakan. Budaya ini jelas membuat masyarakat jadi ‘manja’ serta membuat mereka lupa bekerja, karena uang begitu mudahnya didapat: cukup bawa KTP atau proposal, mereka sudah bisa membawa pulang uang jutaan rupiah.

Lalu, bagaimana kita harus menjawab andai ada orang iseng-iseng bertanya: apa yang sudah berubah setelah 9 tahun usia perdamaian Aceh dan 10 tahun tsunami berlalu? Saya sendiri, terus-terang, akan menggelengkan kepala. Padahal, sekilas, ini hanya pertanyaan sederhana yang tak membutuhkan waktu berjam-jam memikirkan jawabannya. Tapi, saya yakin tak mudah menjawab pertanyaan ini, terutama setelah dihadapkan pada sejumlah fenomena seperti di atas. Soalnya, ada beragam soal yang harus kita bedah, mulai dari aspek politik, ekonomi, hukum, sosial, kesehatan, pendidikan, sumber daya alam, infrastruktur dan sebagainya. Masing-masing aspek itu tak dapat diurai secara terpisah, melainkan saling terkait satu-sama lain.

Kita boleh saja mengatakan bahwa kebebasan dalam bidang politik sudah jauh lebih baik di banding sebelumnya, tetapi tetap saja meninggalkan banyak pertanyaan susulan. Kita juga boleh menyebutkan bahwa akses ekonomi sekarang ini lebih mudah, tapi kembali dihadapkan pada pertanyaan lain: akses oleh dan untuk siapa? Begitu juga soal hukum, sosial, kesehatan, pendidikan, dan seterusnya. Tak ada jawaban paripurna untuk pertanyaan di atas. Artinya, memang tak mudah menjawab apalagi sekadar mengatakan sudah banyak hal yang sudah berubah setelah usia perdamaian menginjak 9 tahun atau setelah 10 tahun tsunami berlalu. Sebab, fakta sering menunjukkan keadaan sebaliknya, bukan?

Tak percaya? Silakan simak analisis Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP) tentang hasil analisis belanja hibah/bansos Aceh tahun 2013, di mana ternyata belanja hibah/bansos yang bertujuan untuk pemerataan dan azas persamaan ekonomi termasuk untuk meredam potensi konflik, belum mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Aceh secara riil. Padahal, kata peneliti PECAPP Renaldi Safriansyah, belanja tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007, misalnya, dana hibah/bansos Aceh hanya Rp159 miliar dan menjadi Rp1,3 triliun pada tahun 2011.  Sementara Tahun 2013, kata dia, menjadi Rp1,8 triliun, tujuh kali lipat dibanding 2007.

Kita boleh saja mendebat hasil analisis tersebut, terutama membandingkan kondisi ekonomi masyarakat (khususnya di perkotaan) yang lebih menggeliat di banding sebelumnya. Belum lagi jika kita menggunakan tolak ukur daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi, jumlah kendaraan bermotor maupun kondisi warung kopi yang selalu penuh. Tapi, apakah benar demikian? Bukankah itu hanya ‘kemewahan’ yang cuma dinikmati segelintir orang saja.

Namun, tunggu dulu. Kita tak boleh mendasarkan penilaian hanya berdasarkan fenomena semata, yang kerap sering menyembunyikan keadaan sebenarnya. Sebab, dari data terbaru Badan Pusat Statistik Aceh per 2 Juli 2012, misalnya, tentu membuat kita terkejut. Bayangkan, penduduk miskin di Aceh mencapai 909.040 jiwa pada Maret 2012 (19,5 persen), meningkat dibandingkan data per Maret 2011 sejumlah 894 ribu jiwa (acehkita, 2/7). Artinya, pemerintahan Aceh yang lahir pasca-perdamaian (juga tsunami) ternyata belum mampu mengurangi angka kemiskinan secara signifikan.

Tak berlebihan, kalau peneliti PECAPP mengatakan, bahwa belanja hibah dan bantuan sosial yang terus meningkat sama sekali tak berpengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan (belanjapublikaceh.org). Angka kemiskinan di Aceh yang sebesar 19,5 persen (2012) itu ternyata menempatkan Aceh di peringkat kelima secara nasional, yang memiliki rata-rata sebesar 11,9 persen. Sementara di tahun sebelumnya (2011), peringkat kemiskinan Aceh berada di posisi keenam secara nasional. Mencengangkan, bukan?

Lebih memiriskan lagi, ternyata, selain upaya percepatan kesejahteraan yang masih jalan di tempat, kita juga dihadapkan pada masalah sosial yang tak kalah penting: jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa di Aceh juga tinggi. Data dari Dinas Kesehatan Aceh tahun 2012, misalnya, menunjukkan bahwa jumlah penduduk Aceh yang mengalami gangguan jiwa mencapai 14,1 persen (dihitung dari total jumlah golongan usia 15 tahun ke atas). Bahkan, angka gangguan jiwa di Aceh ini berada di atas rata-rata nasional, yang hanya 11,6 persen. Kita tidak tahu apakah ada hubungannya antara tingkat kesejahteraan masyarakat yang rendah, dengan peningkatan jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa. Untuk yang satu ini perlu penelitian yang lebih mendalam lagi.

Apa yang harus dilakukan Aceh?
Kondisi seperti disinggung di atas jelas menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera mendapat perhatian dari Pemerintahan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf. Sisa dua tahun lebih masa pemerintahan perlu ‘dihibahkan’ untuk menuntaskan masalah tersebut, terutama pengentasan kemiskinan, pelayanan kesehatan yang lebih baik serta menjamin terpenuhinya hak anak atas pendidikan. Ini sejalan dengan target Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals atau MDGs) yang musti dicapai pada tahun 2015, di mana pemerintah Indonesia ikut menandangani Deklarasi Milenium tersebut pada Pertemuan Puncak di New York tahun 2000 silam.

Dari delapan target MDGs: menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, pendidikan dasar untuk semua; kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan; penurunan angka kematian anak; meningkatkan kesehatan ibu; memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan, saya kira Aceh cukup menuntaskan empat tujuan saja (target minimal), yaitu penurunan angka kemiskinan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu serta pendidikan.

Dengan dana Aceh yang cukup besar, saya kira target tersebut tak sulit digapai, asal saja pemerintah melakukan semua upaya-upaya tersebut secara terukur serta terkonsep jelas. Budaya bagi-bagi uang seperti tiap musim meugang dan Idul Fitri tiba sudah selayaknya dihindari. Pemerintah perlu menghidupkan sektor produktif masyarakat dengan mengembangkan konsep ekonomi kerakyatan, termasuk membenahi infrastruktur yang masih buruk.

Sementara penurunan angka kematian bayi menjadi mendesak, setelah kita disodorkan fakta yang menohok kita semua bahwa angka kematian bayi di Aceh selama 2013 lalu mencapai 1.034 bayi, lebih tinggi di banding tahun 2012 yang hanya 985 bayi. Anehnya, kematian tersebut rata-rata disebabkan oleh kekurangan gizi, baik saat janin masih di dalam kandungan maupun ketika bayi masih di bawah satu tahun. Angka ini sebenarnya tak mengherankan, karena ternyata berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2010, sebanyak 23,7 persen anak Aceh mengalami gizi buruk dan kurang gizi.

Di atas segalanya, kita harus selalu saling mengingatkan, bahwa perdamaian Aceh tak diraih dengan modal kosong, melainkan melibatkan nyawa dan darah, ditambah dengan penderitaan akibat gempa dan tsunami. Kejadian-kejadian memilukan hati tersebut harus menjadi ‘cambuk’ memajukan Aceh menjadi lebih baik. Rasa-rasanya penderitaan masyarakat Aceh di masa lalu tak perlu ditambah lagi dengan kesalahan mengurus Aceh, dalam arti Pemerintah Aceh tak memiliki visi mewujudkan kesejahteraan secara menyeluruh untuk aneuk nanggroe Aceh ini. Jika itu terjadi, kita semua memiliki ‘saham’ yang tak kecil menghancurkan kembali Aceh kesekian kalinya.

Jadi, setelah 10 tahun tsunami berlalu, masih cukup banyak pekerjaan rumah yang mesti dibenahi, dan pemerintah tidak boleh berpangku tangan! Wassalam
Note: tulisan ini pernah memenangkan juara III lomba penulisan PECAPP

Thursday, December 18, 2014

Sabtu-Minggu, Baca Buku ‘Gratis’

Sebenarnya cukup banyak pengalaman unik dan menarik yang saya alami selama 2,5 tahun menjalani hidup di Jakarta. Kalau diceritakan satu per satu melalui tulisan singkat ini tentu tak bakal lengkap. Tapi, di antara cerita unik dan menarik itu, ada satu kejadian yang sampai sekarang masih membuat saya senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya.

Sewaktu di Jakarta, aktivitas yang paling banyak menyita waktu saya adalah membaca dan menulis. Saat itu saya benar-benar ingin melatih diri menjadi penulis produktif serta ingin memiliki wawasan luas. Keinginan ini sangat wajar, karena saya meninggalkan bangku kuliah saat duduk semester enam (sekali pun pada akhirnya saya bisa menyelesaikannya dan jadi sarjana). Jadi, waktu luang itu benar-benar saya manfaatkan dengan membaca buku, minimal saya tak ketinggalan dengan teman-teman saya yang masih kuliah.

Nah, tiap Sabtu-Minggu saya banyak menghabiskan waktu di toko buku, di antaranya di Gramedia Atriun Senen, Gramedia di Pondok Indah Mall, Gramedia di kawasan Blok M, atau di toko buku Pasaraya Manggarai. Hanya sesekali saya pilih Gramedia Matraman. Saya hafal di deretan mana buku politik-sosial, novel-fiksi atau buku-buku umum berada di toko-toko buku ini.

Di toko-toko buku inilah saya membaca novel atau kumpulan cerpen secara gratis. Biasanya, ada beberapa buku yang sampul kertasnya sudah dibuka. Buku itu saya baca sambil berdiri, tak boleh duduk di lantai atau bangku yang ada. Jika kedapatan duduk, petugas toko akan langsung menegur. Terus terang, saya tak sendiri dalam urusan membaca buku secara gratis ini. Karena banyak juga ABG yang berperilaku sama dengan saya.

Untuk buku kumpulan cerpen, biasanya saya tamatkan dengan sekali baca. Sementara untuk novel kategori tebal, saya memilih tak menamatkannya dalam sekali baca. Soalnya, tak kuat untuk berdiri berlama-lama. Biasanya saya balik lagi esok untuk menuntaskannya, dengan cara mencatat di handphone halaman yang sudah saya baca.

Jadwal saya mengunjungi toko buku mulai pukul 11.00 hingga pukul 16.00 sore. Siang hari, jika buku yang saya baca tidak tamat, saya memilih mencari makanan dulu, selesai makan baru saya balik lagi ke toko. Bagi saya, begitulah cara menyiasati kondisi kantong yang tak mendukung untuk membeli buku bagus.

Begitulah, saya pun sering berpindah-pindah toko buku. Tak enak juga tiap keluar tak pernah beli buku, padahal termasuk pengunjung yang sangat rajin. Itulah manfaat toko buku di kota-kota besar, kita bisa membaca tanpa harus membelinya. Itu pengalaman saya 5-6 tahun silam. Sekarang tidak tahu, apakah masih ada buku-buku yang dilepas sampulnya dan bebas dibaca. Karena sudah dua tahun tak ke Jakarta. []
Note: tulisan ini sudah pernah saya posting di Kompasiana, 17 Juni 2013

Tuesday, December 16, 2014

Munarman Pungo

Temanku, sebut saja namanya Pozan, pulang ke Takengon. Dia mengantar istrinya pulang kampung. Tak lama dia di sana, hanya dua hari saja. Saat kembali, sang istri berpesan, agar tak lupa menyiram bunga Adenium di rumah sekembali nanti.

“Bang, bunganya disiram ya, jangan sampai kering tuh bunga,” begitu kata istrinya.

Kembali ke Banda Aceh. Si temanku ini asik dengan kesibukan lain. Kerja kantoran, update blog, desain baju, desain spanduk dan baliho. Pokoknya desain segala desain lah. Dia pun lupa pada pesan istrinya.

Hingga suatu sore yang dingin itu, di sela-sela update blog, dia membuka facebook, mainan lamanya. Dia pun tertegun dan kaget. Apa pasal? Rupanya, hari itu, dari pagi hingga sore (bahkan malam), rata-rata status facebook teman-temannya soal siram-disiram-menyiram. Teman-temannya sedang berbicara soal aksi tak patut juru bicara Laskar Jihad, Munarman, SH. Dalam dialog di sebuah stasiun TV, Munarman yang pernah aktif di beberapa lembaga bantuan hukum itu menyiram muka sosiolog Universitas Indonesia (UI) Tamrin Amal Tomagola. Mereka berdebat sengit sebelum aksi siram itu terjadi.

“Itu bentuk visualisasi aksi premanisme.” Begitu komentar beberapa orang yang berkomentar di jejaring sosial menyusul aksi mantan aktivis itu.

Nah, status teman-temannya itu seperti ilham plus warning bagi Pozan. Gara-gara membaca kata siram, dia pun langsung teringat pada pesan istrinya untuk menyiram bunga. Dia pun bergegas melakukannya. Dia menyiram bunga dalam pot itu yang mulai kering-kerontang. Satu pekerja ringan tuntas sudah.

Cerita siram bunga itu muncul saat saya sampaikan bahwa saya mau menulis posting Munarman Pungo.

Oh ya, ada cerita lain yang mau saya ceritakan, sebenarnya. Begini ceritanya:

Di kota saya ada sebuah masjid yang ramai dikunjungi. Tiap sore, warga yang datang membludak, terutama pas weekend. Di depan masjid kebanggaan tersebut terdapat sebuah kolam. Anak-anak (bahkan orang dewasa) sering menghabiskan waktu bercengkrama dengan ikan mas. Tapi, sejak beberapa minggu terakhir, ada pemandangan aneh di sekitar kolam itu.

Dibilang aneh, karena tiap sore seorang remaja, berpakaian sedikit kumal, selalu kencing di kolam itu. Dia sama sekali tak risih dengan para pengunjung. Padahal, orang yang mengelilingi kolam itu sangat ramai. Dia cuek saja. Beberapa pengunjung pernah menegur si remaja itu, namun kelakuannya tak juga berubah. Pengunjung kemudian melaporkan kejadian aneh itu kepada petugas Satpam masjid. Remaja itu dipanggil dan dinasehati agar tak boleh kencing di kolam masjid. Toilet untuk pengunjung sudah tersedia di sebelah utara dan selatan masjid.

Bukannya mereda. Malah, tiap sore si remaja itu masih kencing di kolam. Sehingga kian meresahkan. Para orang tua makin takut jika anak-anaknya duduk terlalu dekat dengan si remaja itu. Takut terjadi sesuatu.

Satpam masjid juga sudah hilang kesabaran. Mereka berniat menangkapnya lagi. Tapi beberapa kali dicoba, remaja itu selalu bisa meloloskan diri dengan  meloncat pagar masjid. Hingga, Satpam mencari cara bagaimana menangkap si remaja. Mereka pun atur siasat. Kali ini tak boleh lagi remaja itu bisa meloloskan diri. Pengunjung pun diajak bekerja sama.

Tibalah pada hari strategi itu dilaksanakan. Seperti biasa, si remaja itu kencing di kolam masjid. Dia tak punya firasat apa-apa. Beberapa orang pengunjung seperti tak peduli lagi sama remaja itu. Sehingga si remaja ini tak merasa takut ditangkap seperti yang sudah-sudah. Beberapa pengunjung mendekat, duduk di dekat remaja itu. Mereka pura-pura memberi makan ikan mas di kolam. Begitu si remaja hendak kencing untuk kedua kali, pengunjung dari sisi satu lagi mendekat. Mereka sudah bersiap-siap menangkap. Remaja itu tak berkutik.

Satpam juga sudah ada di dekat mereka. Remaja itu dibawa ke pos Satpam dekat pintu masuk. Di sana, si remaja ini diinterogasi. Ditanya orang mana, tinggal di mana, siapa orang tuanya. Dia juga ditanya sekolah di mana, namanya siapa? Awalnya, pertanyaan itu tak satupun mau dijawabnya. Tetapi setelah didesak berkali-kali, di bawah ancaman, barulah dia mau buka suara. Dia ternyata mengalami gangguan jiwa.

“Nama saya Munarman, pak!” Jawab dia singkat. Orang-orang di pos Satpam itu pun saling berpandangan. Tak tahu harus bilang apa.

“Alahai Munarman Pungo!” umpat beberapa orang yang hadir. []

Sumber gambar di SINI

Sunday, December 14, 2014

BBM Pungo

BBM naik daun. Di mana-mana orang bicara soal kenaikan BBM (bahan bakar minyak). Tak kecuali di warung kopi di seputaran Ulee Kareng, Banda Aceh. Di warung kopi yang terkenal dengan tempat update (memperbaharui) fitnah itu, pembicaraan soal BBM cukup hangat dan fresh. Hal ini wajar, karena pengunjung warung ini rata-rata politisi, aktivis LSM, wartawan, kontraktor, pengacara dan orang-orang HTW lainnya. (HTW=han troh wa/tak sampai dipeluk).

Terjadilah pembicaraan lintas profesi.

Politisi: kenaikan harga BBM memang tak dapat dielak. Selama ini yang menikmati sumsidi BBM kan orang-orang kaya yang punya mobil mewah. Bayangkan biaya produksi BBM Premium itu sekitar Rp10.000, dan dijual Rp4.500 (di tempat eceran Rp5.000). Pemerintah memberikan subsidi Rp5.500 per liter. Nah, siapa yang menikmati subsidi paling banyak?

Tak ada yang menjawab. Masing-masing orang di warung itu asyik sendiri, ada yang pura-pura berhitung. Banyak juga yang lebih senang memelototi layar Blackberry (BB)-nya. Yang pura-pura berhitung, langsung menjawab. Orang ini ternyata aktif di sebuah LSM di Banda Aceh.

Aktivis LSM: Benar, memang subsidi itu lebih banyak dinikmati oleh orang kaya yang punya banyak mobil. Misalkan saja mereka mengisi tangki yang kapasitasnya 35 liter, berarti mereka menikmati subsidi Rp150.000 sekali isi. Bandingkan dengan pemilik sepeda motor, sekali isi 3 liter berarti mereka hanya menikmati subsidi Rp15.000 per sekali isi.

Diskusi sangat menarik sebenarnya. Tapi, fokus teman-teman yang mengerubungi meja itu pada layar BB masing-masing. Mereka kadang-kadang senyum sendiri, kadang tertawa lepas. Tak sedikit pula yang memasang wajah cemberut. Bisa jadi pesan yang dikirimnya tak mendapat balasan.

Lain lagi teman wartawan. Mereka tak terlalu memikirkan soal kenaikan BBM. Mereka lebih peduli pada nasib teman mereka di Jambi dan Pontianak yang terkena tembakan polisi saat membubarkan massa yang berunjuk-rasa menolak kenaikan BBM.

Wartawan: jurnalis yang bekerja di lapangan sangat minim perlindungan. Pihak kantor mereka tak menyediakan fasilitas yang bisa melindungi karyawannya dalam meliput di medan yang terlalu berisiko. Pemilik makin kapitalis, hanya memikirkan keuntungan semata. Mereka bukannya memikirkan kesejahteraan jurnalis, tapi asyik bikin Forum Pemred hanya mengampanyekan merek kondom Meoong! Tahi buah lah semua!

Si wartawan ini kebetulan hanya seorang koresponden yang bekerja untuk sebuah media di Jakarta. Wajar jika dia emosi. Tak hanya gaji yang kecil, tapi kadang-kadang laporan yang dikirim belum tentu mendapat prioritas untuk tayang, karena kantornya memilih big-news dengan dampak besar.

Hari makin sore. Pembicaraan makin tak jelas lagi juntrungannya. Masing-masing sibuk cang-panah sendiri. Tak tahu lagi, siapa mendengarkan siapa. Karena, meski berkelompok, ternyata topik yang dibicarakan di meja itu berbeda-beda. Pembicaraan sangat tergantung micro-phone siapa yang paling besar terdengar, maka omongan dialah yang paling dominan.

Si kontraktor yang dari tadi hanya asik dengan BB sendiri, tiba-tiba berjingkrak. Dia tertawa lebar. Rupanya, sebuah pesan broadcast (Blackberry Messenger/BBM) yang menjadi penyebabnya. Tak ingin tertawa sendiri, dia pun membaca keras-keras isi pesan yang baru diterimanya. Kali ini, yang lain tekun menyimak. Begini isi BBM-nya:

Sari mengadu pada Ibunya tentang hal buruk yang menimpanya.

Sari: (dalam kondisi ketakutan). Ibu, bapak kemana?

Ibu: ke luar kota. Ada apa tanya bapak?

Sari: (dengan nada pelan). Sari minta maaf bu, sepertinya Sari hamil.

Ibu: (setengah kaget). Apa..!!? Apa kamu bilang?

Sari: (gemetaran). Iya, saya hamil bu! Ini…(sambil mengelus-elus perut)

Ibu: Aaah…nggak mungkin. Kamu mungkin sakit. Istirahat saja, nanti sembuh sendiri.

Sari: Tapi akhir-akhir ini, saya sering muntah-muntah, bu!

Ibu: (rada cuek). Aah…mana ada, paling kamu masuk angin. Ke sana, gih beli minyak angin sana, biar cepat sembuh.

Sari: (tersedu)…hiks…hiks. Kenapa ibu tak percaya, saya sekarang tuh doyan makanan yang asam-asam, bu!

Ibu: (dengan kesal sambil teriak). Berhentilah kamu berkhayal SARIFUDDIN! Ibu tempeleng kamu nanti, baru tahu rasa. Bencong mana pula ada rahim. (Rupanya, Sarifuddin ini seorang waria. Dia lebih senang dipanggil Sari)

Semua yang duduk di meja itu tertawa lepas. Mereka pun sepakat untuk bubar. “Mudah-mudahan dana kompensasi Rp155 miliar untuk korban lumpur Lapindo biar nyasar ke Sarifuddin yang jauh di Aceh,” celetuk pengacara seperti menyindir Golkar yang setuju BBM naik. Suaranya cuku jelas. Sekali lagi mereka tertawa. Benar-benar BBM Pungo. [] 
Note: tulisan lama, awalnya diposting di acehpungo.com

Dewan Pungo

Dua hari sebelum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menggelar Sidang Paripurna tentang kenaikan BBM (Bukan Blackberry Messenger, red), beberapa anggota dewan terhormat yang pulang ke dapil buru-buru balik ke Jakarta. Mereka yang sedang membangun citra tak mau rusak gara-gara tak ikut sidang. Mereka pun cepat-cepat memesan tiket agar segera tiba di Jakarta.

Nah, ketika tiba di ruang tunggu pesawat. Si anggota dewan ini, sebutlah namanya Si Pulan (SP), bertemu dengan Apa Pungo (AP). Terjadilah percapakan seperti ini:

SP: Waduh, kenapa pesawatnya telat datang, ya?
AP: Bapak bicara dengan saya? (saking lugunya)
SP: Yah, dengan siapa lagi, kan cuma kamu yang duduk di samping saya.
AP: Hehe, bapak pintar dan kritis. Wah, pasti wakil rakyat, ya?
SP: Hehe juga. Kok tahu?
AP: Tahu donk, kan saya rakyat! Lagi pula, ada gambar pin kebanggaan DPR di kantong bapak.

Obrolan berhenti ketika terdengar pengumuman bahwa pesawat jurusan Jakarta sudah tiba dan kepada penumpang segera naik ke pesawat. Satu-per-satu calon penumpang itu bangkit dari tempat duduk. Ramai bukan main. Mungkin di antara mereka ada juga wakil rakyat, seperti Si Pulan itu. Mereka pun antri di pintu keluar ruang tunggu. Masing-masing pegang tikat di tangan. Tak ada yang diperlakukan istimewa. Semua harus antri, termasuk Si Pulan yang kebagian antrian agak ke belakang.

Tak lama, semua calon penumpang itu sudah keluar dari ruang tunggu dan menuju ke pesawat. Masing-masing menuju ke tempat duduk seperti tertera pada tiket. Si Pulan dengan tergopoh-gopoh menaiki tangga pesawat dari pintu belakang. Sampai di pesawat, di lorong itu sudah cukup banyak orang yang mencari tempat duduk. Si Pulan pun memilih duduk di kursi belakang.

“Duh, senang rasanya bisa beristirahat,” gumam dia dalam hati.

Saat berniat memejamkan mata, si Pramugari  datang menghampiri. Pasalnya, kursi yang diduduki Si Pulan itu jatah orang lain. Dengan sopan, si Pramugari meminta lihat tiket Si Pulan.

“Bapak, tempat duduk anda bukan di sini. Ini tempat duduk orang lain,” kata si Pramugari sembari menunjuk ke penumpang yang sedang kebingungan.

“Kenapa saya tak boleh duduk di sini? Saya kan memiliki tiket,” jawab Si Pulan seperti tak merasa bersalah.

“Tempat duduk Bapak ada di depan, di kelas Eksekutif,” si Pramugari memberi alasan sembari menunjukkan nomor kursi yang tertera di tiket.

Bapak itu marah-marah, tapi tak sampai memukuli si Pramugari dengan Koran yang dipegangnya. Sambil berdiri, dia mengomel bahwa si Pramugari tidak tahu siapa dirinya.

“Saya ini bukan Eksekutif. Saya Legislatif!” katanya sembari memperlihatkan lencana ke muka Pramugari yang tak habis pikir.

Dari jauh, Si Pungo, tersenyum sendiri melihat adegan itu. Dalam hatinya bergumam, “Dasar Dewan Pungo.” []
Note: tulisan ini awalnya diposting di blog acehpungo.com