Siang ini, aku masuk ke warung kopi tempat di mana aku sering menghabiskan waktu untuk online, dan mengambil tempat di sudut, seperti biasanya. Dan seperti biasanya pula, tukang parkir yang kutaksir berumur 60-an dengan baju bertuliskan 'petugas parkir' di belakang bajunya masuk ke warkop, dan berteriak seperti orang yang ditinggal pergi pengendara yang tak bayar uang parkir, "Calon Gubernur Aceh sudah dibunuh! Calon Gubernur Aceh sudah dibunuh!".
Orang-orang di dalam warkop menoleh ke arah pria tua yang dipenuhi peluh di wajahnya itu. Aku yakin mereka terkejut, tak percaya, dan menganggap si pria sedang kambuh penyakit gilanya. Seorang di antara pengunjung warkop berseragam PNS mencoba bertanya, yang aku duga dia pun tak berniat sungguh-sungguh, "Siapa yang membunuhnya, pak Tua?"
Si tukang parkir tua itu, menoleh persisnya melotot ke arah datangnya suara, ke muka si PNS. Aku lihat si pria berbaju PNS itu agak kecut nyalinya, meski tak mencoba menundukkan wajah seperti orang kalah debat.
"Siapa pembunuhnya?" ulangnya lagi.
"Ah kau rupanya, orang gajian. Jangan membodohi dirimu dengan pertanyaan tak penting itu." Aku lihat beberapa pengunjung tak kuasa menyembunyikan tawanya.
"Hai, tukang parkir, beritahu kami siapa yang membunuh para calon gubernur kita?" Seseorang dari meja sudut ikut nimbrung, dan orang-orang kembali menoleh ke arahnya. "Ya, pak tua, kau harus beritahu kami semua, jika tidak kami akan membunuhmu juga, biar besok muncul di berita "tukang parkir dibunuh" seperti kabar yang kau bawa," timpal pria yang sehari-harinya bekerja di sebuah lembaga asuransi dan langganan di warkop itu.
Si tukang parkir pun mengalah. "Ah, masak kalian tidak tahu pada dongeng tiap musim politik tiba. Calon-calon gubernur itu dibunuh oleh tim sukses mereka, perlahan-lahan." Dia pun berlalu dengan meniup peluit, seperti biasanya. ‪#‎efekkalahpoker‬

*status facebook
Jujur, awalnya saya sama sekali tak pernah terpikir bertemu dengan sosok yang pernah begitu diburu aparat keamanan dan para wartawan itu. Hingga suatu ketika, saat pulang ke kampung halaman, saya dapat kabar, Teungku Abdullah Syafie, demikian koran menulis nama panglima jempolan itu, sedang beristirahat di kampung saya. Berbekal rasa penasaran seorang murid sekolah menengah atas, saya beranikan diri mengunjungi sebuah rumah tempat panglima dan puluhan pasukannya menginap. Di sanalah pertama kali saya melihat Teungku Abdullah Syafie dengan kaos oblong putih sedang santai bersama pasukannya.

Saat itu saya tak langsung bisa bertemu Teungku Lah, karena beliau sedang tidur siang. Saya pun terlibat obrolan serius dengan beberapa anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), di antaranya Teungku Hasan Umar Tiro, satu dari beberapa nama yang masih saya ingat. Diskusinya seputar perjuangan dan ideologi GAM serta keberadaan Majelis Permusyawaratan Gerakan Aceh Merdeka (MP GAM). Nama MP GAM menyeruak tak lain karena terlintas nama Pasi Lhok, Kembang Tanjong, disebut. Saya yang masih duduk di bangku MAN, lebih banyak menyimak. Pun, sesekali saya ikut melemparkan pertanyaan, karena rasa penasaran.

Setelah Teungku Lah terbangun, saya pun segera berpindah ke serambi depan rumah, di mana Teungku beristirahat. Saya lihat beliau duduk di atas tempat tidurnya, dan sedang berbicara dengan seseorang melalui Hp satelit. Di situ saya juga melihat ada beberapa pengawalnya, beberapa di antaranya sedang membersihkan senjata, rata-rata AK-47. Tak ada tatapan curiga dari mata mereka. Bisa saja, karena saya hanya seorang anak kecil, ketika itu.

Tak lama, Teungku Lah selesai bicara. Dia tiba-tiba menoleh ke arah saya, dengan mimik ramah melemparkan pertanyaan ringan. Karena tak tahu nama, beliau memanggil saya dengan ucapan ‘Aneuk Muda’. “Aneuk muda pat rumoh?” Saya pun menjawab, bahwa rumah saya tak jauh, hanya berselang beberapa rumah saja. “Rumoh lon blah rot teunong rumoh nyoe, Teungku.”

“Aneuk muda mantong jak sikula?” tanyanya.
“Mantong Teungku, lon sikula bak MAN 1 Sigli jinoe. Nyoe kebetulan teungoh pre, lon woe u gampong.”
“Aneuk Aceh harus jak sikula mandum, bah carong-carong aneuk Aceh.”

Selepas mengatakan itu, Teungku Lah meminta saya mengambil segelas air putih di lantai bawah. Saya pun turun ke bawah melalui tangga, dan meminta segelas air putih untuk Teungku Lah pada empunya rumah, masih famili dekat dengan keluarga saya.

Rupanya, Teungku Lah hendak minum obat. “Ubat nyoe ata dijok le wartawan Jepang. Dipeugah get keu vitamin,” katanya saat mengambil obat dari dalam kantong kresek putih. Obat itu, katanya, dikasih saat wartawan itu mewancarainya, beberapa hari yang lalu. Tak lupa dia menyerahkan sebutir vitamin itu untuk saya. Dia meminumnya duluan, dan menyisakan sedikit air putih, dan menyerahkan gelas itu untuk saya. Saya pun ikut meminumnya.

Pengalaman itu sudah lama sekali, di tahun 1999. Ketika itu, saya belum begitu mengenal sosok beliau, kecuali melalui pemberitaan di media. Itulah satu-satunya pertemuan saya dengan Teungku Lah. Sampai Teungku Lah menghembuskan nafas terakhir dalam sebuah kontak senjata di Alue Mon, Cubo, Bandar Baru, saya tak pernah lagi bertemu dengannya.

Sejak itu, saya pun memendam keinginan untuk menulis kisah hidup beliau. Menurut saya, sosok Teungku Lah penting ditulis, tak hanya karena beliau pernah memimpin Gerakan Aceh Merdeka, melainkan karena sosoknya penuh kharisma. Keinginan itu pun kian memuncak ketika saya mengunjungi Desa Kayee Jatoe dan Blang Sukon, Cubo, pada Oktober tahun lalu. Selama dua hari di Mukim Cubo, saya cukup banyak menyerap informasi seputar sepak-terjang Panglima yang sangat dikagumi anak muda itu.

***
Gampong Seuneubok Rawa, Peusangan, Bireuen berjarak sekitar empat kilometer dari Jalan Medan-Banda Aceh, Kawasan Matang Glumpang Dua, Bireuen. Jalan penghubung menuju ke gampong itu hanya tiga kilometer saja yang teraspal bagus, sementara sekitar satu kilometer lagi penuh kerikil dan berdebu. Di beberapa bagian masih terlihat bekas aspal yang mengelupas. Di kiri kanan jalan, ada bentangan areal persawahan yang luas, bersambung kawasan perbukitan yang teduh dan asri.

Di gampong itulah, Teungku Abdullah Syafie lahir. Jika merujuk keterangan yang tertulis di makam Blang Sukon, Cubo, Pidie Jaya, beliau lahir pada 17 Oktober 1947. Sementara dalam banyak informasi di media, beliau ditulis lahir pada tahun 1952. Tidak ada yang tahu, versi mana yang benar. Tapi, adiknya, Fatimah, memiliki keterangan berbeda. Menurut dia, abangnya lahir sekitar tahun 1955.

“Lon lahe thon 1958, kakak lon thon 1952. Teungku lahe thon 1955,” katanya, awal Desember 2015 lalu. Tahun yang tertulis di makam, lanjutnya, tidak benar. “Thon 1947 dituleh. Pane mungken ka tuha Teungku ngon guree.” Sosok yang disapa Guree itu adalah guru ngaji masa kecil Teungku Lah. Namanya, Muhammad Husein. Adik Teungku Lah menyapanya Guree atau guru.

Beberapa kali ulang tahun mengenang syahidnya Teungku Lah, Fatimah sering ditanya soal tahun lahir. “Lon peugah, thon yang meutuleh nyan salah rayeuk. Kon thon nyan. Gobnyan lahe thon 1955,” cerita Fatimah. Tapi, tahun itu, sudah terlanjur tercetak di makam, dan tak mungkin diubah lagi. Pun begitu, Fatimah berharap suatu saat ada upaya untuk mengubah, sehingga sejarah lahir Teungku bisa diluruskan.

Fatimah adalah adik kandung seibu dan seayah dengan Teungku Lah. Mereka tiga bersaudara. Satu lelaki, dua perempuan. Teungku Lah anak nomor dua. Yang paling tua, kakak perempuannya. Tapi Teungku Lah memiliki seorang abang tiri, seibu dan lain ayah. Namanya Zakaria Suud atau akrab disapa Pak Zack. Pak Zack pernah dijemput oleh aparat seusai Teungku Lah tertembak di Cubo. Beliau dibawa dengan helikopter ke Cubo, untuk memastikan mayat yang ditembak itu adalah adiknya.

Meskipun Teungku Lah lahir di Seuneubok Rawa, Peusangan, tapi sebenarnya ibu kandung Teungku Lah, Ti Hawa, berasal dari Gampong Tumpuen, Kembang Tanjong, Pidie. Sementara ayahnya, Teungku Syafie, orang Banda Aceh.

Sejak tahun 1981, Teungku Lah meninggalkan kampungnya di Seuneubok Rawa. Dia pun berpamitan pada keluarganya. Fatimah mengenang, saat itu 15 Syakban sekitar tahun 1981. Sehari sebelumnya, Teungku Lah mendapat kabar Habib Arbi di Bireuen ditangkap oleh tentara. “Pue buet Habib Arbi nyan, hana lon tupue,” katanya. Habib Arbi dikenal karena sebagai pembuat jamu ‘cap tupe’ yang terkenal ketika itu. Yang pasti, setelah Habib ditangkap, Teungku Lah merasa tidak lagi aman berada di kampung.

“Soe nyang tanyong, peugah lon ka kujak meukat ubat,” kata Fatimah menirukan ucapan abangnya. Sejak itu, Fatimah tak pernah lagi mendengar kabar abangnya. “Thon 1989 na geuwoe sigo teuk,” kenangnya.

Lalu, bagaimana kisah awal Teungku Lah masuk dalam barisan Aceh Merdeka? Teungku Lah yang lahir dua tahun setelah meletus pemberontakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh pimpinan Daud Beureueh, sangat mengidolakan Teungku Hasan di Tiro. Cucu Teungku Syik di Tiro itu banyak memberikan inspirasi baginya. Di beberapa kesempatan, Teungku Lah selalu mengutip kata-kata yang pernah disampaikan Hasan Tiro itu.

"Almukaram Wali Neugara pernah berkata: While man powerless to change his past, he still the master of his future. Because his future is largely determined by his present intention and action. Seseorang masih tetap sebagai pemilik masa depannya, sekalipun dia gagal dalam meraih dan menggenggam masa lalu. Karena masa depannya itu ditentukan oleh aksi dan intensinya hari ini.” Kata-kata itu begitu membekas dalam ingatannya.

Sebelum mulai menceburkan diri dalam gerakan yang diproklamirkan Teungku Hasan di Tiro, Teungku Abdullah Syafie lebih dulu terlibat dalam pasukan, yang oleh adiknya disebut memakai pakaian serba hitam. “Teungku lebih dulu terlibat dalam gerakan jubah hitam,” kata Fatimah.

Dalam banyak pemberitaan, Teungku Lah disebut terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka sehari sebelum Hasan Tiro memproklamirkan gerakan itu di Gunung Halimon. Adiknya, Fatimah meyakini, Teungku Lah sudah terlibat di masa-masa awal persiapan. “Tapi thon 1976 Teungku kana di dalam barisan,” sebut Fatimah. Memang, sepak terjangnya tak ada yang tahu ketika itu.

Di masa-masa itu, Teungku Lah lebih banyak menyampaikan soal Aceh Merdeka dari mulut ke mulut. Apalagi, dia berprofesi sebagai pedagang obat keliling. Syarifuddin, warga Seuneubok Rawa, yang kerap mengantar Teungku Lah saat pulang kampung, masih mengingat bentuk tas yang dibawa Teungku Lah.

“Warna tas Teungku agak merah. Bentuknya persegi empat dengan ketebalan sekitar sejengkal jari tangan orang dewasa,” kenangnya. Di dalam tas itu bisa muat beberapa botol obat. Cara buka kuncinya harus ditekan secara bersama-sama di kedua sisi. Jamu yang sering dijual Teungku Lah adalah jamu Cap Tupe.

Hal lain yang diingat Syarifuddin adalah Teungku Lah memiliki kemampuan karate. Di Alue Kuyuen, Peusangan, Teungku Lah sering mengajari anak-anak bermain silat. “Teungku Lah belajar karate dari Muhammad Nur dari Paya Reuhat,” katanya.

Sosok yang cukup populer di Aceh sepanjang 1999-2002 itu sempat diisukan seorang desertir Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Isu itu awalnya dilansir sebuah media terbitan Jakarta, yang menyebut Teungku Lah ‘binaan’ seorang jenderal di Jakarta.

Suatu ketika, seperti ditulis oleh TEMPO, Abdullah Syafi'ie tampak geram ketika ditanyakan soal isu yang dilansir salah satu media di Jakarta yang menyebut dirinya desertir RPKAD tahun 1976. "Ayah saya sangat anti-TNI. Sejak kecil saya sudah dilatih bermain dengan parang. Usia 23 saya gabung dengan Wali Negara Aceh, Dr Teungku Muhammad Hasan di Tiro," ujar suami Pocut Fatimah itu.

Ia membantah kabar tersebut. Menurutnya, TNI sengaja melansir isu ini untuk memecah-belah rakyat Aceh. Apalagi RPKAD yang kemudian berubah menjadi Kopassus, sangat dibenci rakyat akibat kebiadabannya di Aceh selama masa DOM (daerah operasi militer) antara tahun 1989-1998.

Sekitar tahun 1980-an, Teungku Lah menikahi seorang wanita dari Cubo, namanya Cut Fatimah. Wanita yang disapa Pocut Fatimah itu masih memiliki hubungan famili dengan Teungku Lah. “Keluarga ureueng inong, nyan saudara ayah,” cerita Fatimah. Teungku Lah datang ke Blang Sukon untuk berjualan obat sambil mencari sanak-keluarganya di sana. “Teungku jak seutot taloe wareh watee nyan,” kata Fatimah, adiknya.

Sang istri, Cut Fatimah, selalu setia mendampingi Teungku Lah, bahkan hingga ajal menjemput. Di masa Daerah Operasi Militer (DOM), dia pernah ditangkap dan dianiaya oleh TNI. Ketika mereka syahid pada 22 Januari 2002, Pocut Fatimah sedang hamil enam bulan. Sudah cukup lama mereka mendambakan seorang anak, tapi Allah belum juga memberi keturunan untuk mereka. Tiga bulan saat menanti kelahiran bayi pertama mereka, TNI merenggutnya di sebuah subuh buta, di Alue Mon, Cubo, 22 Januari 2002. Pocut Fatimah berikut bayi yang dikandungnya meninggal setelah peluru aparat menembus tubuhnya. Dalam kejadian itu, Teungku Lah dan lima pengawalnya ikut syahid.


NOTE: penggalan tulisan ini dikutip dari buku Abdullah Syafie, Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka, terbitan Aceh Citizen, cet 1, Desember 2015. Dilarang keras mengutip posting ini. Terima kasih.
Ketenangan dan kerukunan antar-masyarakat di Singkil tiba-tiba terkoyak. Satu unit rumah ibadah (gereja) umat Nasrani di Desa Sukamakmur, Kecamatan Gunung Meriah, Singkil dibakar massa pada 13 Oktober lalu. Satu orang tewas dan empat lainnya luka-luka.  

Kasus Singkil itu segera menyita perhatian media lokal, nasional dan internasional. Alhasil, Aceh berada dalam posisi tersudut: Aceh dianggap tidak toleran terhadap kaum minoritas. Pendapat ini lebih banyak diwakili oleh kalangan yang melihat Aceh hanya dari pemberitaan di media.

Di media sosial, kasus pembakaran gereja itu menyebar cepat, dan memunculkan respon beragam. Ada pihak (terutama publik luar Aceh) mengaitkan kasus pembakaran gereja itu dengan posisi Aceh sebagai wilayah penerapan Syariat Islam. Kutub debat pun lalu diarahkan dengan menyalahkan hukum Syariat Islam sebagai pemicu masalah di Singkil dan di Aceh pada umumnya.

Padahal, mengaitkan kasus Singkil dengan Syariat Islam Aceh sama sekali tidak memiliki relevansi. Apa yang terjadi di Singkil, saya kira, sebuah gumpalan gunung es dari dari persoalan besar di negeri ini: tidak tegasnya aturan pendirian rumah ibadah. Kasus Singkil membuka mata kita, bahwa ada problem besar yang perlu segera diselesaikan. Jika tidak, kasus serupa akan terus terulang dan menjalar.

***
Jika didalami, kasus Singkil sebenarnya sangat sederhana: soal interaksi dan komunikasi. Bagaimana cara kelompok minoritas membawa diri di satu sisi, dan kewajiban kelompok mayoritas melindungi minoritas di sisi yang lain. Ketika dua hal ini macet pasti muncul persoalan. Hal serupa bisa juga dilacak dalam kasus pembakaran masjid di Karabuga, Tolikara, Papua pada 17 Juli 2015 silam. Kasus ini terjadi karena kelompok minoritas gagal membawa diri di tengah kelompok mayoritas.  

Dalam kedua kasus itu, kita perlu belajar dari kearifan lokal masyarakat Aceh. Di luar pemerintahan resmi, Aceh memiliki satuan pemerintahan lokal atau wilayah adat terkecil  (gampong), yang berada di bawah Mukim. Gampong (Bahasa Indonesia: kampung atau desa) merupakan bagian dari masa lalu Aceh, sebagai modal sosial dalam membangun Aceh secara lebih luas.

Keberadaan Gampong dan Mukim itu diatur dalam Undang-undang dan diakui secara resmi oleh pemerintah. Ciri-ciri yang melekat pada sebuah Gampong adalah keberadaan sebuah Meunasah (surau), sebagai pusat kegiatan sosial dan keagamaan (terutama Salat lima waktu). Pendirian Meunasah diatur dengan kebijaksanaan perangkat Gampong dan kearifan lokal yang berlaku di tempat itu. Peraturan tak tertulis itu dipegang cukup ketat.

Jadi, jika ada sebagian anggota masyarakat hendak membangun Meunasah baru di gampong tersebut, tak boleh dilakukan secara sembarangan. Selain harus melalui persetujuan anggota dan petua Gampong (perangkat desa), juga ada faktor lain yang perlu diperhatikan. Misalnya, keberadaan meunasah yang cukup jauh bagi sebagian masyarakat dan tak muat lagi menampung jamaah salat.

Begitu juga yang berlaku di sebuah Mukim, sebuah persekutuan atau federasi beberapa gampong (minimal tiga gampong) yang dipimpin oleh Imum Mukim. Di masa Orde Baru, keberadaan Mukim sempat dibonsai dan ditiadakan, tapi di beberapa daerah masyarakat masih mempertahankan strukturnya. Sebagai sebuah pemerintahan adat, Mukim (dan juga gampong) punya kuasa penuh atas wilayahnya, dan menerapkan aturan tersendiri yang wajib dipatuhi oleh siapa pun. Salah satu ciri yang melekat dari sebuah Mukim adalah keberadaan sebuah Masjid Jamik sebagai tempat melaksanakan Salat Jumat.

Di beberapa Kabupaten di Aceh, Mukim-mukim masih mempertahankan tradisi Salat Jumat di Masjid Jamik demi menjaga kohesi sosial dan persatuan masyarakat. Tak ada gampong di dalam Mukim itu yang berencana membangun Masjid sendiri, karena dianggap tak kompak. Pun demikian, bukan tidak ada dalam satu Mukim berdiri lebih dari satu masjid. Di Mane, Pidie, misalnya. Kecamatan yang memiliki empat Gampong dan satu Mukim tersebut punya 8 masjid dan 24 meunasah. Ini dimungkinkan setelah mempertimbangkan faktor geografis (letak satu kampung dengan kampung lain berjauhan) dan ukuran masjid yang tak lagi mampu menampung jamaah.

Penting dipahami di sini adalah, di Aceh, di luar pemerintahan resmi ada struktur pemerintahan adat yang memiliki kuasa penuh atas wilayahnya. Keberadaan lembaga adat ini tak boleh dinafikan, terutama dalam hal apapun yang melibatkan masyarakat gampong dan mukim. Mereka kadang-kadang memiliki aturan tersendiri yang harus dipatahui siapa pun di dalam wilayah itu. Publik luar Aceh kadang-kadang jarang memahami hal ini, dan cenderung mengabaikannya.

***
Sesaat setelah kasus Singkil meledak, pernyataan yang muncul di media massa dan media sosial, nyaris seragam. Sepanjang yang saya amati, kata kuncinya adalah ‘intoleransi’. Umat Islam Aceh dianggap tidak toleran serta tak melindungi kaum minoritas. Sebagian menyalahkan Syariat Islam yang diterapkan di Aceh, tak lupa dibumbuhi dengan sejumlah kebijakan kontrovesi yang pernah muncul di Aceh.

Ada ungkapan yang hidup di masyarakat Aceh yaitu peumulia Jamee adat geutanyoe (memuliakan tamu adalah adat orang kita). Adat memuliakan tamu itu sudah dipegang secara turun-temurun. Siapa pun yang datang ke Aceh diterima dengan lapang dada. Lihat saja dalam acara penyambutan tamu, orang Aceh sering menyuguhkan tari Ranup Lampuan yang diikuti penyajian ranub (tradisi makan sirih) kepada tamu yang datang. Pemberian ranub sebagai simbol penghormatan dan penerimaan sebagai saudara.

Simbol pemberian ranub atau sirih itu punya makna filosofi yang mendalam. Pertama, sirih memiliki rasa yang pedas. Ini semacam pesan halus kepada sang tamu agar berhati-hati dalam berbicara. Sebab, kata-kata orang Aceh (tuan rumah) bisa lebih pedas dari rasa sirih.

Kedua, sirih kalau dikunyah akan mengeluarkan warna merah. Secara simbolik, ini pesan kepada tamu untuk berbicara secara jelas, tidak bertele-tele dan tidak ambigu. Dia harus bicara sejelas warna merah di bibir dan mulut mereka saat mengunyah sirih.

Selama tamu menghormati adat dan budaya masyarakat Aceh, mereka akan diterima dengan baik dan bahkan dianggap saudara. Jarang muncul konflik. Keliru kalau ada anggapan orang Islam di Aceh tidak toleran. Kasus pembakaran gereja di Singkil tak dapat dijadikan justifikasi.

Sepanjang ingatan saya, saat Aceh masih dibalut konflik hampir tak ada kasus pembakaran gereja, vihara dan rumah ibadah pemeluk agama lain. Kasus pembakaran gereka di Singkil benar-benar kejadian langka. Aparat keamanan perlu mengungkap aktor intelektual dan provokator yang memicu retaknya kohesi sosial masyarakat di Singkil yang dikenal sangat majemuk dan heterogen.

Banyak pihak tak senang dengan perdamaian Aceh yang sudah lebih 10 tahun. Upaya-upaya menggiring Aceh kembali ke masa konflik terus diupayakan. Caranya macam-macam, seperti mengadu domba antara masyarakat Aceh pesisir dengan masyarakat dataran tinggi, meniupkan isu terorisme, pertentangan Sunni dengan Syiah dan Wahabi hingga yang terakhir, pembakaran gereja.

Apa yang terjadi di Singkil mudah-mudahan tidak sampai merusak nilai-nilai keberagaman di masyarakat. Tidak ada sentimen anti-Islam atau anti-Kristen di Singkil. Mari merajut kembali benang persaudaraan. Selalu bangun interaksi sosial dan komunikasi dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Di atas segalanya, apa yang terjadi di Singkil dan Tolikara menjadi catatan berharga untuk bangsa ini. Ada pekerjaan rumah yang perlu segera dituntaskan, terutama bagaimana menjaga nilai-nilai keberagaman sebagai modal sosial. Jika tidak, semangat pendiri bangsa yang merangkul semua kelompok saat mendirikan negara ini menjadi sia-sia sana. 

[Sudah dimuat di Majalah Sindoweekly, 4 November 2015]
Lebih sebulan saya menahan diri untuk menulis tema ini. Tentu saja bukan soal apakah enak atau tidak, tapi murni karena pertimbangan pribadi: saya tak punya cukup waktu buat menulis. Ada tugas yang mesti saya selesaikan.

Ide cerita ini, untuk kalian tahu, berawal saat membaca sebuah postingan di jejaring facebook tentang cerita Mualem, sapaan akrab Muzakkir Manaf, yang bermimpi ketemu Teungku Muhammad Hasan di Tiro, deklarator Aceh Merdeka. Sialnya, ketika menulis cerita ini, saya tak tahu lagi di mana harus baca postingan tersebut. Bagi saya, cerita itu menarik, tak hanya karena melibatkan dua sosok paling dikenal di Aceh, Hasan Tiro dan Muzakkir Manaf, melainkan juga terkait soal mimpi.

Ya, ketertarikan saya memang pada hal-ihwal mimpi. Bukan sembarang mimpi, loh. Ini mimpi Muzakkir Manaf, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini menduduki kursi Wakil Gubernur Aceh. Apa istimewanya mimpi sosok yang kerap disapa Mualem itu? Bukannya, semua mimpi sama saja, hanya konstruksi alam bawah sadar yang ketika terbagun jadi lupa-lupa ingat!

Muzakkir Manaf | foto fb rakan mualem
Hei, jangan kalian remehkan mimpi Mualem. Sudah hampir enam tahun Hasan Tiro meninggal, belum pernah saya dengar ada mantan kombatan GAM mimpi bertemu dengan orang paling dibenci serdadu Indonesia itu. Memang, saban tahun ada yang berkunjung ke makam beliau di Meureu, Indrapuri, tapi itu semata-mata ziarah biasa atau karena ingin dianggap masih setia pada perjuangan. Di luar itu, hubungan komunikasi dengan sang Wali itu sudah terputus.

Tapi, kita patut berbangga, karena Mualem hadir menyelamatkan kita semua justru di saat yang tepat. Lewat Mualem, Hasan Tiro ‘membangunkan’ kita dari lena panjang dan perilaku ‘si puntong ban meurumpok jaroe’. Pasalnya, masing-masing kita sudah larut dalam godaan kekuasaan, buah dari perjuangan panjang dan melelahkan, sekaligus perjuangan yang tak selesai itu. Dan, Wali menyindir kita semua melalui mimpi Mualem. Mimpi yang terlalu penting untuk dilewatkan.

Dalam rapat koordinasi DPA Partai Aceh, Jumat, 7 Agustus 2015 pagi, Mualem membeberkan kisah mimpinya itu. “Nyoe jeut neupateh jeut han, lon beuklam meulumpoe meureumpok ngon Wali (Ini bisa dipercaya atau tidak, semalam saya bermimpi ketemu wali),” kata Mualem.

Dalam mimpinya, Hasan Tiro bertanya, “Oh na ka perjuangan?” sama Mualem. Ingat, hanya kepada Mualem, bukan kepada dr Zaini Abdullah, Malek Mahmud atau Zakaria Saman. Boleh jadi, Wali tak pernah hadir dalam mimpi-mimpi mereka. Alasannya, bisa macam-macam.

Jangan lupa, seseorang akan hadir dalam mimpi-mimpi kita kalau kita sering memikirkannya, dan hal itu akan terbawa ke alam mimpi. Tapi, saya tak berani mengatakan, bahwa selain Mualem, orang-orang tua kita itu tak pernah memikirkan Wali. Saya tak bernyali menduga-duga.

Lalu, apa jawab Mualem mendengar pertanyaan yang sangat menohok itu? Sembari meminta maaf sama Wali, Mualem mengatakan bahwa perjuangan masih dalam proses dan belum sesuai dengan harapan Wali. Kita tidak tahu, apa reaksi Wali ketika mendengar jawaban itu, karena Mualem tak menceritakannya.

Selanjutnya, cerita Mualem, Wali menanyakan apakah Karim di Tiro (putra semata wayangnya) pernah pulang ke Aceh? “Lon jaweub golom Wali, karena mak gobnyan saket,” kata Mualem. Mendengar itu, seperti saya baca di facebook, sebagian besar tokoh yang hadir berlinang air mata, di antaranya Abu Razak.

Di akhir mimpinya itu, kata Mualem, Hasan Tiro meminta agar mereka sering mengunjungi dirinya. “Wali neu wasiet yue saweu droe. Seweub gobnyan hanjeut geusaweue geutanyoe le,” kata Muelam dengan linangan air mata.

Percaya atau tidak, saat menulis kembali kisah ini, saya sudah memaksakan diri untuk menangis, tapi air mata tak kunjung keluar. Sekali pun tak kenal dekat Hasan Tiro, kecuali melalui buku yang ditulisnya, saya merasa ikut tersindir. Belum sekali pun saya berkunjung ke makamnya di Meureu, tempat di mana saya pernah menghabiskan banyak malam di sana.

Ketika pertama kali membaca cerita mimpi Mualem itu, pikiran saya langsung melayang pada sosok Eugene Ionesco. Dari namanya, dia jelas bukan orang Aceh. Eugene Ionesco lahir di Rumania tahun 1912, dari seorang ibu berkebangsaan Perancis. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di Perancis dan Inggris. Dia dikenal sebagai penulis drama dan pelukis yang sangat disegani, tergabung dalam kelompok “the theatre of absurd”. Drama pertama yang ditulisnya di tahun 1950 berjudul La Cantatrice Chauve (The Bald Soprano) membuatnya terkenal.

Kalian pasti bertanya-tanya (dalam hati), kenapa saya membandingkan Muzakkir Manaf dengan Eugene Ionesco, kan? Apa yang membuat kedua orang ini terasa dekat? Ya, titik-temu keduanya ada pada mimpi. Hanya, bedanya, Ionesco menuliskan setiap mimpi-mimpinya menjadi drama, cerita pendek atau membuat lukisan, sementara Mualem tidak. Mualem memilih menceritakan mimpi-mimpinya, entah untuk kepentingan apa, kita tak pernah tahu.

Bagi Ionesco, mimpi adalah drama! Katanya, “bila kita bermimpi, kita selalu menjadi tokoh, menjadi sebuah karakter.” Dalam setiap mimpi, kita kadang menjadi orang lain, menjadi aktor, penonton atau sosok hebat yang bisa terbang. “Tapi, mimpi lebih mendalam ketimbang apa yang kita sebut realitas,” katanya.

Hebatnya, dari bermimpi, Ionesco sukses menghasilkan beberapa karya drama seperti The Killer, Journeys among the Dead atau The Bald Soprano. Bahkan, drama Amandee merupakan mimpinya tentang mayat di sebuah lorong besar dan gelap di apartemen tempatnya tinggal. Saya membayangkan saja sudah ngeri, dan pasti tak berani lagi tinggal di situ kalau sempat mengalami mimpi buruk begitu.

Saya membayangkan, Mualem akan menjadi penulis drama atau cerita pendek yang hebat sekiranya mampu memperlakukan mimpi seperti dilakukan Eugene Ionesco. Pasalnya, Mualem punya kemampuan mendongeng yang mumpuni. Buktinya, Abu Razak dan peserta rapat Partai Aceh sampai terisak-isak mendengar cerita mimpinya. Atas alasan itulah, saya jadi berandai-andai, sekiranya Mualem berjumpa dengan Eugene Ionesco, pasti hasilnya lebih luar biasa lagi. Namun, saya sadar, itu sebuah harapan yang mustahil!
Tujuan pendidikan tidak semata-mata berurusan bagaimana meningkatkan kualitas kecerdasan anak didik, mampu menjawab soal-soal ujian nasional atau ahli di setiap mata pelajaran sekolah. Melalui pendidikan pula, kita perlu melahirkan generasi yang memiliki karakter, kepribadian dan sikap mental yang kuat. Singkatnya, pembentukan akhlak peserta didik juga tak kalah pentingnya dibanding menghasilkan generasi cerdas dan berkualitas.

Ke depan, pemerintah dan guru tak hanya menuntut peserta didik untuk menjadi anak cerdas, meraih rangking satu serta mampu menjawab soal ujian dengan benar. Pemerintah dan guru juga tak membebani siswa untuk semata giat belajar agar memperoleh hasil Ujian Nasional tertinggi. Sudah saatnya kita memikirkan pendidikan karakter dan akhlak anak-anak. Sebab, anak yang cerdas dan pintar belum tentu punya karakter dan kepribadian yang baik. Anak yang cerdas dan pintar belum tentu punya akhlak mulia. Mereka perlu dididik dan dibentuk sejak kecil, melalui pendidikan karakter dan juga dengan kearifan lokal. Dengan demikian, kita boleh berbangga jika kelak mampu melahirkan generasi hebat!

Pendidikan karakter
Bicara pendidikan karakter, saya pikir, perlu dimulai sejak pendidikan usia dini. Usia antara 4-6 tahun adalah masa-masa ketika mereka mulai belajar apapun dari lingkungan atau apa yang dilihatnya. Di usia tersebut, mereka dapat diarahkan untuk menjadi dan belajar apa saja. Keberadaan orang tua dan pendidik, sangat membantu mereka dalam hal pembentukan karakter dan mental.

Hal inilah menjadi dasar kenapa pemerintah dan lembaga penyelenggara pendidikan mulai menganggap penting Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan pendidikan Tingkat Kanak-kanak (TK). Anak-anak perlu pemandu dan sosok panutan. Tak dapat kita bayangkan, bagaimana jadinya masa depan mereka jika sejak mulai mengenal lingkungan, mereka menyerap hal-hal negatif yang kemudian mempengaruhi perilaku mereka.

Mengenai betapa pentingnya pembentukan karakter anak usia dini tersebut, seorang pendidik dan ahli konseling keluarga, Dorothy Law Nolte, Ph.D, menulis sebuah puisi bagus, “Children Learn What They Live” (Anak-anak belajar dari kehidupannya). Puisi tersebut sudah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan selalu dikutip di setiap pembicaraan tentang pendidikan karakter anak.

Bahkan, para guru yang punya mental pendidik (ingat, tak semua guru adalah pendidik), saya yakin pernah membaca dan sangat paham dengan puisi Nolte tersebut. Para mahasiswa yang belajar di jurusan keguruan pun sering memperoleh puisi ini dari para dosennya. Sebab, mereka dididik menjadi guru dan pendidik, dan harus mengerti bagaimana mendidik dan mengajari anak-anak sejak mulai di tingkatan pendidikan paling kecil.

Biar menjadi pengetahuan bersama, saya ingin kutip utuh puisi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr Jalaluddin Rahmat (baca Islam Aktual; Refleksi-sosial Seorang Cendekiawan Muslim, Mizan, Cet X, 1998). Inilah bunyinya:

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan


Membaca puisi tersebut, kita tak lagi terkejut mendengar kasus banyak anak sekolah terlibat tawuran, mencontek jawaban, gemar berkelahi, tak menghormati guru dan sebagainya. Jawabannya, karena begitulah mereka dibesarkan. Tak ada anak didik yang salah, melainkan para gurulah yang salah mendidik mereka. Masih ingat pepatah, “kalau guru kencing berdiri, maka anak-anak kencing sambil berlari.”

Karena itu sangat penting menciptakan lingkungan masyarakat yang ramah terhadap pendidikan karakter anak-anak. Bayangkan, bagaimana jadinya anak-anak jika masyarakat di lingkungan mereka tinggal saling mencela, hidup bermusuhan, saling menghina dan mencemooh satu-sama lain dan sebagainya. Maka generasi yang dihasilkan masyarakat tersebut tak jauh-jauh dari generasi gemar memaki, gemar berkelahi, dan rendah diri.

Kearifan lokal
Salah satu cara membentuk karakter dan akhlak siswa yang paling penting adalah kita mengadopsi kembali kearifan lokal Aceh. Kearifan lokal bisa digunakan sebagai medium pendidikan. Hal ini sudah lama dipraktikkan oleh orang-orang tua kita di kampung, tetapi jarang mendapat tempat dalam ruang sekolah. Boleh jadi, karena para guru sudah dididik dengan metode moderen, sehingga tak menganggap penting kearifan lokal dan juga ajaran agama.

Aceh melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh (UUPA) sebenarnya memuat tentang pentingnya pendidikan karakter yang disesuaikan dengan karakteristik daerah dan juga ajaran Islam, agama yang dianut oleh mayoritas rakyat Aceh. Pasal 215 Ayat 1 (BAB XXX tentang Pendidikan) menyebutkan, “Pendidikan yang diselenggarakan di Aceh merupakan satu kesatuan dengan sistem pendidikan nasional yang disesuaikan dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat setempat.”

Selanjutnya, diperkuat lagi di Pasal 216 Ayat 1, “Setiap penduduk Aceh berhak mendapat pendidikan yang bermutu dan Islami sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi” dan Ayat 2, “Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diselenggarakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai Islam, budaya, dan kemajemukan bangsa.”

Jadi, pembentukan karakter dan akhlak siswa sebenarnya tak semata-mata menjadi kewajiban guru/pendidikan melainkan juga masyarakat dan pemerintah. Para guru/pendidik memberikan pendidikan karakter dan akhlak di dalam ruang dan lingkungan sekolah, masyarakat melalui penyelenggaraan pendidikan usia dini dan lingkungan sosial, sementara pemerintah melalui kebijakan pendidikan.

Bagi kita di Aceh, dengan mengadopsi kembali kearifan lokal, kita sebenarnya sedang menyiapkan para generasi hebat, yang tak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tapi juga punya karakter dan akhlak yang baik. Coba perhatikan, bagaimana orang Aceh mengajari anak-anak mereka untuk menjadi pribadi yang jujur. Mereka dididik dengan pengetahuan agama yang kuat, bahwa mengambil hak orang lain itu dosa dan harus dipotong tangan.

Kejujuran anak-anak yang tak mau mengaku mencuri diancam dengan cara memasukkan tangan ke dalam kuali minyak sedang mendidih. Menurut orang tua, jika mereka benar-benar tidak mencuri maka minyak panas tersebut tak jadi panas saat tangan dicelupkan. Tapi, jika mereka mencuri, maka minyak tersebut akan mengelupaskan kulit dan daging mereka.

Untuk melatih anak-anak gemar memberi dan bersedekah, orang tua mengutip pepatah lama Aceh bahwa, “ureueng kriet juwiet ate, soe nyang kriet bagah mate (orang pelit itu hatinya lemah, siapa yang pelit cepat mati)”. Inilah salah satu senjata kenapa orang Aceh dulu gemar bersedekah dan membantu orang lain. Untuk contoh, bagaimana orang Aceh bahu-membahu membantu menyumbangkan padi, beras dan telur untuk membeli pesawat saat Indonesia baru merdeka atau ketika Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1997. Bantuan orang Aceh untuk etnis Rohingya yang terdampar di Aceh juga tak terlepas dari adanya pendidikan karakter bahwa “ureueng kriet bagah mate”.

Sementara untuk mendidik anak-anak tidak merokok saat kecil, orang tua menakuti mereka dengan mengatakan bahwa siapa pun yang merokok, nantinya saat sunnah rasul kulit ujung (maaf) penis mereka tak mempan dipotong dengan gunting, melainkan harus pakai gergaji. Dengan pendidikan karakter seperti itu, hampir tak ada anak-anak yang berani mencoba-coba merokok. Jika pun ada satu-dua yang merokok, mereka lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi dan jauh dari pemukiman penduduk.

Di atas segalanya, para pendidik, masyarakat dan pemerintah Aceh perlu menggali lagi kearifan lokal Aceh sebagai salah satu alat pendidikan karakter anak didik. Dengan demikian, tak ada lagi lulusan sekolah/perguruan tinggi yang jadi koruptor ketika berkuasa. Saya pikir, di usia 3 tahun pemerintahannya, Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf (Zikir) perlu memperhatikan hal ini. Semoga. []