13 November 2018

Mengapa Owner Produk Perlu Coba Sosiago Influencer Marketing?

Mengapa owner sebuah produk atau advertiser perlu coba Sosiago influencer marketing? Jawabannya segera kita temukan saat mengakses laman depan (landing page) Sosiago, di mana kita dihadapkan pada kalimat khas pemasaran, "Tingkatkan Awareness Bisnis Anda Melalui Pemilihan Influencer yang Tepat."

Dari segi nama, memang Sosiago tampak seperti pemain baru tapi tidak benar-benar baru. Sosiago adalah re-branding dari situs iBlogMarket yang sejak tiga tahun lalu menjadi tempat mempertemukan para pemasang iklan/advertiser dengan influencer. Advertiser atau pemilik brand membutuhkan para influencer (blogger, selebgram, buzzer atau youtubers), demikian juga sebaliknya. Sebuah kolaborasi yang sama-sama menguntungkan dari sisi bisnis.

coba sosiago influencer marketingSebenarnya owner brand/advertiser dapat memilih langsung memasarkan produk-nya ke sekelompok besar konsumen, tapi pengaruhnya kecil sekali pada peningkatan awarenes bisnis Anda. Lebih baik Anda membayar para influencer untuk mempromosikan produk dan menyampaikan pesan bisnis Anda.

Sebagai platform influencer marketing, Sosiago kini memiliki total 19219 influencer: dari jumlah tersebut, ada 1829 blogger; 195 buzzer di twitter; 414 selebgram; dan 195 youtubers. Anda dapat memilih ingin menjangkau audiens yang mana dalam mempromosikan bisnis Anda. Para influencer-influencer itu akan membantu menyampaikan pesan bisnis Anda ke pasar yang lebih luas dengan cara organik.

Siapakah sebenarnya para influencer marketing itu? Dia bisa siapa saja, mulai dari artis yang baru naik daun hingga pesohor yang namanya saban hari dikutip media. Selain memiliki ratusan ribu hingga jutaan pengikut di dunia maya, mereka mampu mempengaruhi pandangan para pengikutnya itu. Apa yang mereka pakai, kalimat yang mereka lontarkan atau film yang mereka tonton, diikuti dengan patuh oleh penggemarnya. Secara tidak sadar, apa pun yang mereka pakai dan lakukan segera menjadi trendsetter di kalangan masyarakat.

Mengapa mereka memiliki pengaruh demikian besar? Jawabannya adalah karena mereka memiliki ratusan ribu bahkan jutaan pengikut di dunia maya. Melibatkan mereka untuk memasarkan sebuah produk merupakan pilihan yang tepat, karena akan membantu meningkatkan "awareness bisnis Anda." Dan, dengan memanfaatkan Sosiago influencer marketing, Anda tidak perlu bersusah-payah mencari influencer yang tetap untuk bisnis Anda, karena semuanya akan dilakukan oleh Sosiago Indonesia.

Kenapa harus coba sosiago influencer marketing? Karena Sosiago dapat menghemat waktu dan tenaga Anda. Sosiago mempermudah Anda menemukan influencer yang tepat, dan hanya membutuhkan waktu kurang dari 60 detik. Melalui Sosiago, Anda (pemilik brand/advertiser) hanya perlu melakukan tiga langkah mudah untuk melakukan promosi bisnis.

1. Buat Campaign
Buat bahan promosi atau kampanye baru dengan beberapa pilihan tipe sosial media yang bisa disesuaikan.

2. Pilih Influencer
Setelah bahan promosi dibuat, pilih sarana promosi yang cocok dari influencer yang terdaftar di Sosiago, dan segera komunikasikan langsung brief/pengenalan bisnis Anda.

3. Dapatkan hasil
Anda langsung bisa memantau performa awareness bisnis Anda melalui laman dashboard.

Dari sini sudah jelas, bahwa Sosiago menjadi tempat terbaik mempertemukan para advertiser dan pemilik brand dengan influencer. Anda bisa menyesuaikan platform media promosi yang benar-benar cocok dengan bisnis Anda: blog, instagram, twitter dan youtube.

Testimonial dari influencer individu seperti jurnalis, akademis, atau youTuber selama ini telah berperan mendorong pembelian sebuah produk. Kalian tentu masih ingat, bagaimana pembelian jaket bomber meningkat tajam setelah dipakai oleh Presiden Joko Widodo, atau buku Noam Chomsky "Hegemony or Survival" yang banyak diburu orang setelah dipegang oleh mendiang Presiden Venezuela, Hugo Chavez.

Pemilik brand tentu saja tidak perlu jasa seorang presiden demi mendongkrak citra produk mereka. Mereka hanya perlu coba sosiago influencer marketing saja, dan sebagai gantinya, awareness brand Anda akan meningkat. Oh ya, satu lagi, #cobasosiago itu gratis, loh!

16 September 2018

Seribu Cara untuk Mati di Aceh

Menyimak banyaknya orang meninggal di Aceh akhir-akhir ini, saya jadi teringat film "A Million Ways to Die in the West (Sejuta Cara untuk Mati di Barat)". Kematian adalah misteri ilahi - status facebook.

Bayangkan saja, malam ini pada 142 tahun yang silam. Kalau saat itu ada Facebook atau Twitter, kira-kira, apakah kita sempat menulis status dan berkicau? Atau kalau kita lagi makan di sebuah cafe, apakah makanan itu bakal kita kunyah dengan tenang? Atau kebetulan kita lagi nongkrong di warkop dan berha-hi-hu dan lalu tahu-tahu besok negeri kita dilanda perang, apakah kita masih sempat tertawa lebar? Saya ragu menjawab semua pertanyaan remeh-temeh itu dengan 'Ya'.



Orang-orang di Belanda pasti berdoa di gereja dan berharap anggota keluarganya yang pergi berperang ke Aceh bisa pulang dengan selamat. Di Batavia, pasukan marsose yang berasal dari pelosok-pelosok Jawa, Kalimantan dan Sulawesi pasti tak bisa tidur nyenyak karena mereka tak bisa memastikan apakah dapat kembali dengan selamat atau tidak.

Sementara di Aceh, sekali pun orang Aceh menggemari perang, pasti mereka tak menyambutnya dengan suka-cita walaupun agama mereka memberi garansi surga untuk siapa saja yang dengan gagah berani maju ke medan perang dan mati berlumuran darah.

Para pejuang Aceh yang sudah bersiap maju berperang, mereka pasti menggali 'kurok-kurok' (bungker tradisional) di dalam rumah untuk keluarga mereka yang tak bisa ikut berperang. Orang-orang inilah yang nanti akan jadi penuntut balas jika keluarganya yang berperang mati syahid.

Kasak-kusuk tak hanya terjadi di negeri Belanda, Batavia atau Kutaraja. Orang-orang di tempat lain juga sama sibuknya. Semua harap-harap cemas, soalnya, Belanda sudah mengambil keputusan menyerang Aceh. Belanda jelas kesal dengan Aceh, kerajaan di ujung Sumatera yang dianggapnya genit itu [ah, terlalu mengada-ada saya ini]. Apa pasal?

Permintaan-permintaan untuk penyerahan diri Aceh ditolak dengan tegas. Malah, dalam satu riwayat yang berkembang, permintaan menyerah dijawab oleh orang Aceh dengan membalikkan badan berlagak orang kentut sambil berteriak, 'Bek lei takheun nanggroe, manok nyang tan gigoe lam bumoe Aceh nyoe bek ka coba-coba raba!'. Nah, genit, kan?

Jadilah, Aceh dan Belanda terlibat perang berkepanjangan. Kedua belah pihak sama-sama menderita kerugian. Kalau dipikir-pikir, Aceh-lah yang lebih merugi. Sebab, setelah Belanda resmi keluar dari Aceh tahun 1942, Aceh kehilangan kedaulatannya. Kalau soal korban, tak perlu ditanya. Namanya saja perang, pasti ada yang meninggal, ada yang cedera dan ada yang sakit jiwa. Makanya, orang bijak sering memberi saran, “jika kita tidak menghentikan perang, maka perang-lah yang akan menghentikan kita”.

By the way, malam ini, setelah 142 tahun silam, rupanya masih ada orang yang mati di Aceh. Orang-orang cemas bukan main. Sebab, betapa gampangnya orang mati di Aceh. Setelah dua intel TNI yang diculik ditemukan tewas di Nisam, Aceh Utara, secara beruntun kita menerima kabar kematian seorang janda yang dibunuh di rumahnya di kawasan Darul Imarah, Aceh Besar, lalu ada anggota Polres Pidie yang ditembak hingga tewas di Tangse, Pidie. Sebelum-sebelumnya, ada yang meninggal diinjak gajah, diterkam harimau atau meninggal ketika mencari batu giok dan tertimbun longsor. Ada banyak jalan cara mati di Aceh.

Saya tak habis pikir, kenapa orang-orang luar biasa ributnya merespon kematian dua anggota intel TNI itu? Memang, kematian adalah perkara serius dan kejadian luar biasa. Tapi, lupakah kita, bahwa kematian selalu akrab dengan Aceh: tidak saja TNI, Polisi, dan GAM, karena mereka memang memilihnya begitu. Yang kita sesali, ada masyarakat tak berdosa jadi korban. Dulu, bukan satu-dua orang Aceh meninggal, tapi ribuan.

Respon publik di Aceh dan Jakarta biasa-biasa saja. Mereka diam seribu bahasa. Ada sih yang memprotes, tapi suara mereka tak cukup gemanya untuk memberitahu khalayak. Sementara orang-orang di Aceh sudah menganggap hal biasa soal kematian, dan sudah lumrah. Karena, perkara mati di Aceh bukan lagi soal siapanya, tapi soal kapan? Hari ini orang lain yang mati, besok kita sendiri yang mati. Begitu siklusnya.

Pun begitu, kita tak bisa menolerir para pelaku yang begitu mudahnya menghilangkan nyawa orang, apalagi hanya karena alasan sepele. Selayaknya, siapa pun pelaku, kita pantas mengutuknya. Sebab, mereka sama saja memprovokasi perdamaian Aceh dan sedang berupaya menulis ulang kitab konflik yang sudah ‘dibakar’ di Helsinki hampir sepuluh tahun silam.

Perdamaian memang membuat kita dapat hidup tenang, sesuatu yang tak bisa kita dapatkan dalam suasana konflik. Perdamaian tak pernah dapat memberi garansi dengan pasti bahwa begitu damai tercipta, sesuatunya akan berjalan normal, apalagi garansi kesejahteraan. Lazim terjadi dalam setiap perdamaian tercipta di Aceh, ada yang menikmati ‘boh manok mirah’, dan ada pula yang kebagian ‘boh manok kom’. Semua sangat tergantung pada usaha masing-masing.

Sekali pun saya mencoba tegar menulis posting ini, ada yang membuat saya sedih. Anak teman saya, berumur 7,5 tahun dan masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar, sepulang ke rumah dari sekolah, sembari memberi tahu orang tuanya, “Ayah, ada orang tua teman saya meninggal karena ditembak.” Bayangkan, seorang murid sekolah tahu soal penembakan. Secara tidak langsung, mereka sudah diajari kembali soal pembunuhan, perang, dan penembakan menggunakan senjata.

Wahai...siapa pun yang sedang punya agenda mengobok-obok Aceh, janganlah memancing kembali Aceh ke pusara konflik, karena korban-korban sebelumnya, belum sepenuhnya disantuni! Luka-luka belum seutuhnya sembuh. Ingatlah, betapa besar duka orang Aceh pada 142 tahun silam ketika Belanda secara pongah dan congkak memaklumkan perang terhadap Aceh. Duka itu belum benar-benar pulih sekarang. []

Note: tulisan ini pertama kali tayang di website sulih.com pada 26 Maret 2015.

26 May 2018

Azhari dan Novel Kura-kura Berjanggut

Kamis (3/8/2017) sore, penulis novel Kura-kura Berjanggut, Azhari Aiyub sedang ngopi bersama Reza Idria dan Muhajir Pemulung di Cek Yuke, sebuah warung kopi di pinggiran Krueng Aceh, Banda Aceh. Azhari sengaja memilih warung kopi yang tak jauh dari Masjid Raya itu sebagai tempatnya nongkrong sekaligus lokasi untuk menulis. Dia merasa nyaman dengan suasananya.



Dia selalu memilih duduk di kursi yang berada di bagian depan. "Di sini kita bisa melihat markas Kodam lebih jelas," katanya saat saya tanya mengapa memilih duduk di luar. Saya tak yakin dia bermaksud serius dengan jawabannya, dan hal itulah yang membuat saya tidak percaya. Selepas itu, kami tertawa lepas.



Di jagat kepenulisan Aceh (mungkin juga Indonesia), nama Azhari menjadi garansi jika bicara soal mutu dan kualitas sebuah karya. Dia menekuni bidang ini sejak masih belia. Ketika cerpen pertamanya, Karnaval, dimuat di koran lokal, dia masih duduk di kelas 1 SMU. Itu terjadi tahun 1998, ketika kekuasaan Orde Baru menuju senja kala. Saat itu, dia memang sedang intens berhubungan dengan para seniman yang berhimpun di Dewan Kesenian Aceh (DKA), sebuah lembaga yang kini ingin dijauhinya. 

Azhari ikut merasakan gemuruh reformasi, ketika ia terlibat dalam demo melawan Soeharto di Aceh. Dia masih berbaju sekolah menengah atas kala itu. Namun, tak seperti anak muda Aceh lainnya memilih jalan perang, Azhari lebih memilih cara berjuang yang lebih elegan. Pena lebih dia pilih tinimbang memanggul senjata. "Aku ingin menyumpal mulut senapan dengan puisi," kata lelaki kelahiran Lamjame, Banda Aceh pada 5 Oktober 1981, seperti ditulis oleh koran Kompas, tahun 2006 silam. 

 

Saya pertama kali bertemu Azhari di warung Bulungan, Jakarta Selatan tahun 2004. Saya hadir saat peluncuran buku kumpulan cerpennya, Perempuan Pala. Ketika itu saya tidak tahu apa-apa tentang sosok Azhari, dan hanya sekilas saja mendengar kisahnya dari seorang teman. 

Di acara itu, terus terang, saya tidak begitu antusias menyimak saat bukunya dibedah, melainkan lebih tertarik pada seorang seniman Aceh, Fauzan Santa, membaca cerpen Pedagang Kacang dari Berenun (Beureuneuen, pen) Ramsat Rangkuti serta bertemu teman-teman Aceh lainnya. Lalu, seorang kawan berseru, "Penulis Perempuan Pala lagi sendiri, suruh teken bukunya," sementara saya masih asyik melihat gaya Fauzan Santa membaca cerpen. "Azhari akan jadi penulis hebat, dan tekenan di bukumu akan bersejarah," sambung kawan saya lagi. 

Saya pun bergegas, dan dengan sedikit canggung menyedorkan buku yang baru saya beli untuk diteken oleh Azhari. Hingga tiba di kost tengah malam, saya tidak tahu apa-apa tentang Azhari. Saya termasuk telat mengenalnya, dan itu baru terjadi sekitar tahun 2006. Ya, tahun 2006. 

Sedikit-demi-sedikit saya mengenalnya, bahkan kami menjadi akrab hingga sekarang. Saya bisa menerima alasannya tidak mengunjungi Museum Tsunami untuk alasan yang sangat personal (dan masuk akal). Tsunami pada 26 Desember 2004 merenggut bapak dan ibunya, serta adiknya Wardiati (22). 

Kompas menulis cerita Azhari ini sedikit dramatis, "... Dia tiba di Banda Aceh, tetapi hanya menemukan cangkul bapak dan selembar kain ibu di antara puing rumahnya yang telah hancur..." Azhari tidak bisa menerima alasan bahwa pembangunan museum tsunami yang menghabiskan banyak dana itu lebih penting tinimbang membereskan masalah rumah untuk korban tsunami. Dia pun kecewa dengan klaim keberhasilan program rehab-rekon ketika soal rumah untuk korban tsunami tak kunjung usai. Bahkan hingga kini ada korban yang sama sekali tidak mendapatkan rumah.

   

Belakangan ini saban sore saya ngopi dengannya, dan kadang-kadang duduk persis di sampingnya sementara dia asyik merampungkan novelnya, Kura-kura Berjenggot, yang sudah mulai ditulisnya sejak 2006. "Novel ini sudah 10 tahun tidak selesai-selesai," katanya. Saya pikir, dia tidak main-main menggarap novel yang sebagian fragmen-nya sudah dimuat di media, terutama Koran Tempo. Awalnya dia mengaku tidak memiliki gambaran dan bagaimana bentuk novelnya, "tapi plot-nya sudah ada di kepala saya," lanjutnya. 

Cukup lama draf novel itu dia simpan di hard-disk, dan tidak dipegangnya sama sekali. Bahkan pernah selama dua tahun sama sekali tidak dijamahnya. Hal ini dilakukannya ketika pikirannya sedang buntu atau lagi sibuk dengan pekerjaannya sebagai Direktur Tikar Pandan. Kadang-kadang untuk menulis sebuah adegan dalam novelnya mengenai dunia perompak, dia membenamkan dirinya bermain game tentang perompak di Facebook. Dia menghabiskan waktu berbulan-bulan bermain game ini hingga lupa untuk merampungkan novelnya. 

Dua tahun belakangan ini dia mulai benar-benar serius merampungkan novelnya itu. Saya sering melihatnya menulis di warung kopi Cek Yuke, membaca draf yang sudah ditulis sebelumnnya atau mengembangkan cerita yang idenya sudah diberi tanda dengan warna berbeda-beda. Hal itu saya tahu karena sering-kali mengintip ke layar notebook Appel miliknya, dan sering pula saya ikut membacanya. Setiap kali dia mau menulis beberapa kalimat, matanya seringkali menyapu ke sana kemari sementara mulutnya komat-kamit persis seperti orang lagi baca mantra. Ketika saya memperhatikannya agak lama, dia pasti menyodorkan tangan yang kedua jarinya saling mengaitkan dan saya memasukkan jari saya di antara celah itu, lalu kami tertawa lepas.

   

Dia sudah sering memberitahu saya bahwa novelnya akan terbit tahun ini. Draftnya pun sudah dia kirimkan ke penerbit. Dia mengaku proses penerbitan novelnya sedikit lama dari yang diharapkannya. Pasalnya, dia seringkali tidak puas dengan apa yang sudah ditulisnya, dan kemudian terpaksa membongkarnya lagi. Apalagi, jika tokoh dalam novelnya bertemu dengan tokoh baru lagi, dia harus menulis lebih panjang lagi, dan itu bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan. "Yang paling capek itu ketika tokoh yang sudah ada bertemu dengan tokoh baru," jelasnya. "Saya pun harus menceritakannya agar ceritanya terus berkait," lanjutnya. 

Saya sangat yakin novelnya akan menjadi sebuah karya yang hebat, bukan hanya karena dia menggarapnya lebih 10 tahun melainkan dia benar-benar melakukan riset untuk novelnya itu. Benar seperti kata kawan saya, bahwa Azhari akan menjadi penulis hebat dan berpengaruh di Aceh. Penerima Free World Award dari Poets of All Nation (PAN) Belanda tahun 2005 itu pantas mendapatkan reputasi demikian. [] 


NOTE: Novel KURA-KURA BERJANGGUT sudah terbit pada Mei 2018. Silakan berburu di toko-toko buku kesayangan Anda.

18 August 2017

Game of Thrones 7 Episode 6: Terbunuhnya Naga Viserion Daenerys

Apa kabar para penggemar film kolosal Game of Thrones (GoT)? Saya yakin kalian semua sudah menonton film Game of Thrones Musim ke-7 mulai dari episode 1-5. Film yang diadopsi dari novel laris A Song of Ice and Fire tayang setiap Senin di HBO. Awalnya saya merencanakan menulis ulasan setiap episodenya. Namun, karena satu dan lain hal, saya hanya sempat menulis ulasan untuk episode 1-2. Sementara untuk episode 3-5, saya tidak lagi menulis ulasannya. Saya percaya, masing-masing kita sudah melihat bagaimana jalannya cerita di setiap episode dari film epik terlaris itu. 

Kali ini, saya akan menulis ulasan untuk episode 6 yang bakal tayang pada Senin (21/8/2017). Kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya berani menulis ulasan sementara filmnya saja belum tayang. Tenang, kalian tidak perlu panik. Ulasan ini saya tulis setelah menonton episode ke-6 dari Game of Thrones Session 7. Saya beruntung mendapatkan bocorannya dari sebuah akun pengguna facebook. Saya menontonnya hingga selesai, dan saya sangat puas dengan setiap detil adegannya. Inilah yang akan saya bagikan kepada pembaca semua. Saya harap meskipun sudah membaca ulasan ini, tak membuat kalian tidak antusias lagi menonton episode ke-6 yang tayang pada Senin lusa.

Night's King (wikia.com)
Oh ya, untuk Anda penggemar karakter Cersei Lannister saya harap tidak berkecil hati. Sebab, di episode ke-6 ini ratu di King's Landing itu sama sekali tidak muncul, begitu juga pasangan incest-nya, Jamie Lannister. Sementara Arya Stark dan Sansa Stark termasuk karakter yang paling sering muncul selain Daenerys Targaryen atau Jon Snow tentu saja.

Ada sejumlah adegan di episode ke-6 ini yang tidak membuat jantung kita berdegup, yaitu adegan Sansa Stark berdebat dengan Littlefinger; Sansa Stark dengan Arya Stark; atau Sansa Stark dengan Brienna. Namun, dialog antara Tryion Lannister dan Daenerys ketika akan terbang dengan Drogo sedikit bisa mengaduk-aduk perasaan kita. Selebihnya tidak ada terlalu menarik.

Bagi saya ada beberapa adegan yang benar-benar membuat jantung kita berdegup di qepisode ke-6 ini. Yaitu adegan yang memang paling ditunggu-tunggu pecinta film kolosal Game of Thrones. Ini dia di antaranya:

Perang dengan White Walkers
Gendry, anak haram dari Raja Robert Baratheon ikut bersama Jon Snow dan kawan-kawan keluar dari The Wall. Dia seorang pandai besi yang tidak pantai bertarung. Mereka berencana membawa pulang salah satu pasukan White Walkers untuk menyakinkan Carsei Lannister agar setuju gencatan senjata. Sebelum episode 6 dirilis banyak spekulasi yang terjadi, misalnya ada komentator film memprediksikan Gendri akan mati pada episode 6 ini. Nyatanya, Gendri berhasil kembali dengan selamat ke The Wall, dan kemudian mengirimkan kabar kepada Daenerys Targaryen.

Night's King dan Viserion
The Wall, sebuah tembok pembatas yang dibangun untuk perlindungan dari pasukan mayat berjalan. Tembok besar ini sendiri dibangun setelah perang yang dikenal dengan War for the Dawn, sebuah perang besar yang melibatkan banyak kerajaan dari benua fantasi Westeros. Dalam perang itu, manusia mampu mengalahkan pasukan white walkers, dan mengusir mereka kembali ke tempat asal mereka di wilayah Utara yang beku. Untuk mengantisipasi kembalinya pasukan mayat berjalan yang dipimpin Night's King, dibangunlah The Wall serta pasukan yang menjaganya yang dikenal dengan Night's Watch.

Jon Snow dan teman-temannya menembus tebalnya kabut dan salju di luar The Wall. Keberadaan mereka di luar The Wall diketahui oleh pasukan White Walkers. Dimulai ketika Jon Snow dan kawan-kawannya diserang oleh beruang yang sudah menjadi Wights, hewan yang sudah mati dan dihidupkan kembali oleh Night's King sebagai pasukannya. Perang dengan Wights itu pun tak terhindarkan. Kelompok Jon Snow mampu mengalahkan hewan mati tersebut.

Beberapa pasukan White Walkers yang melakukan patroli menemukan sisa api unggun yang dibakar Jon Snow dan kawan-kawannya. Pasukan mayat berjalan itu berada tidak jauh dari kelompok Jon Snow, yang sudah mengintai lokasi para White Walkers itu. Lalu, pasukan White Walkers disergap dan perang pun terjadi. Dalam adegan ini kita menemukan beberapa kejadian penting. Misalnya, kita dapat melihat bagaimana Lightbringer, pedang api milik Azos Ahai begitu ampuh menghancurkan pasukan White Walkers, atau kekuatan pedang Longclaw milik Jon Snow ketika menebas komandan pasukan White Walkers dan hancur menjadi pecahan es. Pedang yang ditempa dari baja Valyrian dikenal sangat ampuh untuk membunuh White Walkers. Hal itu terlihat saat Jon Snow membunuh pimpinan pasukan itu, lalu anggota lainnya juga hancur dan mati seketika. Namun, ada satu yang selamat, yang kemudian ditangkap. Dia menjerit keras seperti memanggil pasukan yang lalu. Kepalanya kemudian ditutup dengan kain.

Perang sesungguhnya terjadi tidak lama setelah itu. Pasukan White Walkers dalam jumlah besar mengepung Jon Snow dan kawan-kawan. Mereka dikepung dari segala arah, lalu lari di atas es yang membeku mencari tempat perlindungan. Sebelum mereka mencapai mencapai tempat yang sedikit lebih tinggi, mereka terlibat duel dengan pasukan White Walkers. Jon Snow bisa selamat dari kepungan itu setelah es mencair dan banyak pasukan White Walkers tenggelam saat mengejar kelompok Jon Snow. Pasukan White Walkers yang menyadari bahaya di hadapan mereka memilih tidak jadi mengejar lagi. Namun, mereka dalam posisi mengepung kelompok Jon Snow yang terjebak di atas bongkahan es yang sedikit lebih tinggi.

Ulah iseng Sandor "the Hound" Clegane melempar ke arah pasukan White Walkers yang kemudian memicu perang babak kedua. Awalnya lemparan itu mengenai wajah seorang pasukan mayat hidup itu. Namun, lemparan kedua tidak sempurna lemparan pertama bahkan tidak mencapai jangkauan target. Batu yang dilempar itu jatuh tepat di depan pasukan White Walkers. Menyadari bahwa es kembali membeku, mereka pun mulai maju ke arah kelompok Jon Snow, dan terjadilah perang. Dari segi jumlah, kelompok Jon Snow jelas akan kalah dalam perang antara hidup dan mati itu. Jon Snow dan kawan-kawan dalam posisi terjepit, dan nyaris kalah.

Ketika mereka hampir binasa, datanglah Daenerys Targaryen yang mengendarai Drogon serta dua naga lainnya: Viserion dan Rhaegal. Naga-naga milik Mother of Dragon itu menyemburkan api ke arah pasukan White Walkers dan membuat mereka terbakar. White Walkers ini kebal terhadap senjata kecuali api. Satu persatu anggota kelompok Jon Snow diminta naik ke atas naga. Sial bagi Jon Snow, saat dia meraih tangan Daenerys yang akan menariknya ke atas naga, beberapa anggota White Walkers maju ke arahnya. Jon Snow pun terlibat duel sengit dengan mereka.

Terbunuhnya Viserion
Kejadian yang tidak diduga-duga terjadi pada episode 6 ini. Naga Viserion terbunuh dalam perang dengan pasukan White Walkers itu. Night's King, pimpinan pasukan White Walkers yang diketahui memiliki kemampuan membangkitkan manusia dan hewan yang telah mati serta mengubahnya menjadi prajurit mayat hidup bernama Wights, berhasil membunuh naga Viserion. Night's King ini tidak seperti pasukannya, dia kebal terhadap apapun termasuk api.

Saat Viserion hendak menyerang pasukan White Walkers, Night's King mengambil senjatanya berupa tombak es, dan melemparkannya ke arah Viserion dan mengenai badannya. Naga itu pun berdarah dan jatuh ke dalam es yang sudah mencair. Dia tenggelam. Daenarys dan teman-teman Jon Snow yang berada di atas naga tidak menduga bahwa tombak Night's King bisa mengenai Viserion. Menyadari keadaan itu, Daenerys meminta Drogon terbang. Sekali lagi, Night's King melempar tombak es-nya, tapi tidak sampai mengenai naga yang ditunggangi Mother of Dragon. Mereka pun selamat, kecuali Jon Snow. Raja Utara itu terlibat duel maut dengan pasukan White Walkers dan keduanya kemudian tenggelam di dalam air.

Mata Viserion setelah dihidupkan Night's King
Ketika perang mereda, tiba-tiba Jon Snow keluar dari air dalam kondisi lemah. Dia mencari tempat perlindungan dan berusaha menjauh dari pasukan White Walkers yang masih berada di sana. Pada saat itu, datang pamannya, Benjen, dengan berkuda dan menyerang pasukan White Walkers dengan cambuk api. Dia memberikan kudanya kepada Jon Snow dan membawanya kembali ke The Wall, di mana Daenerys menunggunya dengan perasaan cemas. Sementara pasukan White Walkers mengerubungi Viserion yang terbujur kaku. Night's King yang punya kemampuan menghidupkan orang dan binatang yang sudah mati, mendekati Viserion, naga dengan sisik berwarna kream keemasan dan sayap berwarna merah oranye. Dia menyentuh Viserion yang sedang terbujur kaku. Tiba-tiba, naga itu membuka matanya, dan matanya menjadi biru, seperti mata pasukan White Walkers. Naga Viserion pun kini menjadi Wights. []

31 July 2017

Mereka Memilih Berdamai dengan Alam

Ada dua kisah yang ingin saya bagikan melalui tulisan singkat ini. Boleh jadi, ini hanya kisah biasa-biasa saja dan tidak akan mendapat perhatian luar biasa dari selebriti kita yang wara-wiri di televisi. Tidak juga menjadi viral di media sosial yang dibahas berhari-hari atau pun menjadi bahan diskusi di rapat-rapat kabinet. Tidak! Bahkan, kisah ini pun saya yakin tidak ‘menarik’ untuk ditulis sebagai berita di koran pagi.

Namun, kisah ini selalu saya simpan rapi, dan beberapa kali coba saya bagikan kepada teman-teman dalam diskusi terbatas. Bagi saya, apa yang dilakukan oleh orang-orang ini (saya menyebutnya masyarakat adat) memiliki pesan yang sangat jelas: menjaga bumi sebagai tempat yang nyaman untuk ditempati. Ya, mereka adalah orang-orang yang memilih berdamai dengan alam, alih-alih merusaknya.

***
Jembatan di perbatasan Mane-Tangse. Di sungai ini
terdapat banyak populasi ikan keureuling
M. Amin Djalil adalah seorang mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Kabupaten Pidie. Dia bergabung dengan GAM, sebuah gerakan yang berjuang memerdekakan Aceh dari Indonesia, pada tahun 1988. Bang Min, demikian pria yang sebagian rambutnya sudah memutih itu disapa, pernah bergerilya di hutan-hutan Tangse dan Geumpang bersama Pawang Rasjid, seorang tokoh GAM yang sangat disegani di wilayah itu.

Bang Min tidak seperti mantan kombatan GAM yang lain, yang memilih banting setir menjadi kontraktor atau agen proyek. Perokok berat yang di jari manisnya tak pernah lepas dari cincin berwarna hitam itu memang aktif di Partai Aceh. Pernah tergoda menjadi anggota dewan dari Partai Aceh pada Pemilu 2014 lalu, tapi tidak terpilih. “Mungkin bukan tempat saya bekerja di ruangan ber-AC,” kata dia saat saya jumpai di Kampung Mane, beberapa waktu silam. Sebagai orang yang lama berada di hutan, dia merasa senang ketika diserahi tugas menjaga dan mengelola hutan desa. “Saya lama di hutan. Tidak enak badan kalau saya tidak main ke hutan,” kata pria berkulit hitam manis itu.

Banyak rekan-rekannya yang dulu bersama-sama berjuang di hutan memilih bekerja di tambang emas yang ada di Geumpang. Ada sebagian yang membuka lobang,  semacam sumur yang digali secara tradisional dan ada juga secara modern untuk mendapatkan logam mulia. “Banyak yang meminta saya menjaga sumur emas, tapi saya tidak mau,” katanya. “Aktivitas penambangan emas itu sama dengan merusak lingkungan.”

Ya, kesadaran menjaga hutan dan lingkungan di Mane tergolong tinggi. Bayangkan, seorang pria yang ingin menikah tak hanya mampu menyiapkan sejumlah mas kawin, melainkan juga sudah menanam lima ratus batang pohon kopi. Aturan itu bukan dibuat-buat atau sekadar untuk cari sensasi saja. Dalam Qanun Nomor 1 Tahun 2012 tentang Mukim Lutueng yang disahkan pada 11 Juli 2012, kewajiban seorang calon linto baro (mempelai pria) menanam 500 batang kopi bisa ditemui pada pasal 32 (ayat 2). “Setiap pemuda baru layak dinikahkan setelah memiliki minimal 500 batang pohon kopi,” demikian tertulis di qanun.

Awalnya saya tidak yakin ada aturan demikian. Imum Mukim Lutueng, Sulaiman SE, menjelaskan, aturan tentang kewajiban menanam 500 pohon kopi memang disebutkan dalam qanun. Aturan itu, katanya, sudah sejak lama berlaku di dalam masyarakat Mane, dan dipertegas kembali dalam Qanun Mukim. “Jika belum mampu menanam lima ratus batang pohon kopi, seorang pemuda belum saatnya menikah,” kata Sulaiman, SE, ketika saya jumpai di Kampung Turue Cut, Mane.

Tak hanya itu, di dalam Qanun Mukim juga diatur tentang pemanfaatan hasil sungai dan cara melestarikan sumber mata air.  Usaha pertambangan yang membahayakan dan mencemarkan sungai sebagai sumber air dan habitat ikan secara tegas dilarang. Sejumlah usaha penambangan emas di Mane ditutup, karena dipandang merusak lingkungan.

Kawasan Tangse, Mane dan Geumpang selain dikenal sebagai sentra produksi durian, juga terkenal dengan ikan keureuling-nya. Ketika pertambangan emas masih massif serta perburuan ikan secara membabi-buta, kata Sulaiman, populasi ikan keureuling sempat menurun di Mane. Sebelum adanya qanun, masyarakat sering mengambil ikan dengan menggunakan racun, kontak/strum bahkan dengan amunisi. Kini, masyarakat hanya dibolehkan dengan menggunakan alat-alat yang tidak membahayakan seperti jala, dawo atau jaring pancing. Di beberapa lokasi, menjala ikan bahkan dilarang. Menjala ikan dianggap dapat mengurangi populasi ikan di sungai.

“Siapa pun yang mengambil ikan dengan cara meracun, alatnya disita dan harus bayar denda sebesar 5 juta rupiah,” katanya.

Bang Min menuturkan, penerapan aturan itu tidak pandang bulu. Seingatnya, ketika qanun itu berlaku, anggota TNI dari Yonif 113 Kompi Senapan E pernah kedapatan menangkap ikan dengan cara meracun. “Peralatannya kita sita,” katanya. Sesuai aturan, si anggota TNI pun terpaksa membayar sejumlah denda seperti tercantum dalam qanun.

Sejak aturan tersebut diterapkan, populasi ikan keureuling sudah mulai meningkat lagi. Para pemancing tidak lagi harus pulang dengan tangan kosong, karena hasil tangkapan yang minim. Dulunya, jangankan ikan dalam ukuran besar, benih pun tak bisa didapat. Semua mati karena diracun.

Mukim Mane juga sangat tegas terhadap pembukaan lahan untuk penanaman kelapa sawit. Mereka menolak pembukaan lahan kelapa sawit selain merusak hutan, juga karena dapat mengganggu sumber air. “Lahan sawit boleh dibuka di Mane, tapi dengan syarat, masyarakat juga dibolehkan menanam ganja,” kata Imum Mukim Mane, Sulaiman, SE ketika saya menemuinya akhir 2015 silam. Langkah ini dilakukan pihaknya sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan untuk generasi mendatang. Sebagai informasi, hingga kini tidak ada lahan sawit di Mane.

***
Sebuah jembatan gantung membentang di atas sungai Meurabo.  Hujan deras yang baru saja mengguyur Aceh Barat itu terlihat jelas jelas dari debit air sungai yang meningkat. Sekretaris Mukim Lango, M Idrus, sudah menunggu di sebuah kios di dekat jembatan gantung, menyambut kami dengan hangat. Dia memberitahu saya bahwa jembatan yang berada di kampung Lawet itu, salah satu dari dua jembatan, yang menghubungkan Mukim Manjeng dengan Mukim Lango. Kedua Mukim ini berada di Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat. Satu jembatan lagi berada di Sikundo, kampung terjauh yang ada di Mukim Lango, sebuah mukim tertua di Bumi Teuku Umar itu.

Jembatan di Lawet itu panjangnya hampir 500 meter dengan lebar tak lebih 1,5 meter, dan hanya bisa dilewati dengan sepeda motor saja. Itu pun jika ada sepeda motor dari arah berlawanan, pengendara sepeda motor dari arah sebaliknya harus sabar menunggu di tepi ujung jembatan, begitu juga sebaliknya. Dengan lembar 1,5 meter, badan jembatan hanya muat dilalui satu sepeda motor.

Karena akses yang sangat terbatas itu, saya tak pernah melihat mobil berseliweran di jalan atau terparkir di rumah warga. Masyarakat di sana menggunakan sepeda motor atau sepeda dalam beraktivitas dan bepergian. “Hanya ada dua mobil di kampung ini,” kata Ibnu Umar, Imum Mukim Lango, kepada saya. “Satu jenis L300 dan satu lagi mobil pick-up.” Saya hanya sempat melihat satu unit mobil sedang teronggok di tepi sawah. Mobil itu, kata Ibnu Umar, hanya bisa dikendarai di kawasan kampung itu saja, tak bisa dibawa keluar karena tidak ada akses untuk lalu lintas mobil. “Dulu ketika dibawa masuk ke sini menggunakan rakit saat air sungai sedang dangkal,” katanya.

Meski berada di pedalaman Aceh Barat, masyarakat di Mukim Lango tergolong aktif peduli dan aktif menjaga hutan. Mereka membuat aturan khusus dalam bentuk qanun yang mengatur tentang pengelolaan hutan adat. Salah satunya terlihat dari pembentukan Qanun Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penguasaan dan Pengelolaan Hutan Adat Mukim. Qanun yang disahkan pada 13 November 2014 ini mengatur secara rinci tentang tata kelola dan pemanfaatan hutan adat. Qanun itu dibuat untuk melindungi hutan sebagai kawasan tangkapan air dan kelestarian fungsi lingkungan; melindungi hak warga mukim terhadap kawasan hutan; memberikan kemanfaatan kepada masyarakat mukim setempat; serta memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.

Di dalam qanun juga diatur tentang kewajiban masyarakat untuk melindungi kawasan hutan adat yang berfungsi sebagai hutan lindung. Perlindungan hutan adat, misalnya, dilakukan dengan cara larangan membuka lahan, berburu satwa langka dan satwa yang dilindungi, menebang pohon, usaha tambang, meracun ikan dan membakar hutan.

Masyarakat adat diperbolehkan memungut hasil hutan yang berupa hasil hutan non kayu (rotan, damar, madu, ikan, gaharu dan ramuan obat-obatan); memburu kijang, rusa dan kancil dengan alat tradisional pada waktu-waktu tertentu yang dibenarkan adat; meneliti keadaan hutan, satwa dan tumbuhan. Ibnu Umar menuturkan, rotan hanya boleh dipotong yang berada jauh dari aliran sungai, sementara rotan yang berada di dekat aliran sungai sangat dilarang. “Di dalam qanun, pemotongan rotan harus dilakukan dengan cara tidak memanjat, tidak boleh asal tebang,” katanya sembari memperlihatkan isi qanun kepada saya. Itu pun, yang dibolehkan dipotong harus di atas ukuran sepuluh meter. “Di bawah sepuluh meter dilarang.”

M. Idrus, sekretaris Mukim, menambahkan, qanun juga memuat aturan tentang penebangan pohon di hutan produksi. Warga mukim yang ingin menebang kayu harus memperoleh persetujuan dari Pawang Uteun selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap hutan. Sebelum izin diberikan, katanya, Pawang Uteun akan memeriksa jenis kayu, diameter kayu dan letak tumbuhnya kayu tersebut.
 
Asam kendis, salah satu hasil dari hutan Lango
“Kayu yang diboleh ditebang memiliki diameter minimal 50 centimeter, dengan jarak 50 meter dari bibir sungai,” kata M. Idrus, yang dulunya anggota GAM itu. Penebangan pohon yang berada di dekat aliran sungai, katanya, dilarang keras karena akan mengganggu sumber air.

Tak hanya itu, dalam qanun juga memuat larangan meracun ikan di sungai. Siapa pun yang kedapatan meracun ikan, peralatannya disita dan diharuskan membersihkan halaman masjid selama tiga kali Jumat. “Hukuman ini untuk membuat pelaku malu mengulangi perbuatannya, karena setiap hari Jumat masyarakat melihat mereka membersihkan halaman masjid,” pungkas Idrus. [] 

16 March 2017

Saat Dirawat di Rumah Sakit, Ada HOOQ yang Menemani

Pekan lalu, saya divonis terkena demam berdarah dengue (DBD) dan Tifus. Dua penyakit ini membuat kondisi fisik saya drop dan trombosit turun drastis. Selera makan saya berkurang, karena semua makanan rasanya pahit. Saya pun harus menjalani perawatan di rumah sakit. Selama 5 hari saya harus beristirahat di rumah sakit untuk mengembalikan kebugaran dan kondisi fisik yang melemah. Bagi yang sering menjalani perawatan di rumah, tentu tak perlu saya ceritakan lagi bagaimana suntuknya berada di rumah sakit, bukan?

tampilan hooq
Saya tak begitu senang dengan aroma obat dan suasana rumah sakit. Itu pula alasan saya malas untuk dirawat di rumah sakit. Tapi, terkena DBD dan Tifus tentu saja mengharuskan saya untuk dirawat. Suka atau tidak suka. Bayangkan, kita tidak bisa tidur nyenyak seperti di rumah. Selain ada tamu yang menjenguk, kondisi di rumah sakit tak serta merta membuat kita nyaman seperti di rumah sendiri. Pagi-pagi sudah ada perawat yang memasukkan jarum suntik ke tubuh kita, dan membuat kita lantas terbangun. Mereka sudah punya jadwal kapan kita harus disuntik, kapan ganti cairan impus, dan kapan kita harus minum obat. Kita tak bisa beristirahat seenaknya, seperti di rumah.

Pergerakan kita pun terbatas. Bolak-balik kamar mandi, melihat pemandangan dari jendela atau pura-pura berjalan di areal tempat tidur. Dunia seperti terbatas, dan kita jadi galau karenanya. Waktu lebih sering kita habiskan dengan rebahan di atas tempat tidur. Kita begitu bersyukur jika ada tamu yang menjenguk, karena pasti ada cerita yang bisa kita dengarkan. Selebihnya, kita berkutat di tempat tidur dan tidak tahu harus melakukan apa. Itulah salah satu alasan kenapa saya tidak begitu suka dirawat di rumah sakit.

Namun, bukan tak ada hal yang bisa disyukuri selama dirawat di rumah sakit. Tentu ada. Untuk menghilangkan suntuk, saya sering menghabiskan waktu dengan berselancar di internet melalui smartphone. Kebetulan, sebelum sakit saya sudah beli paket kuota internet yang cukup, bahkan ada bonus untuk menonton HOOQ hingga 5 GB. Ayo, nikmat manalagi yang harus kita dustakan dengan kuota sebesar itu? Meski sakit dan menjalani perawatan, dengan jumlah kuota internet yang cukup kita tidak akan galau.

HOOQ adalah sebuah aplikasi streaming movie untuk menonton film atau tv show besutan Telkomsel. Kita bisa berlangganan paket untuk perminggu, per bulan dan pertahun dengan harga yang relatif murah. Aplikasi ini bisa diinstall dengan mudah melalui Play Store untuk pengguna Android atau Apps Store untuk pengguna IOS. Caranya gampang, cari saja "hooq" di menu penginstalan aplikasi itu, dan langsung install. Tidak lama dan tak pake ribet.

Untuk membunuh suntuk, saya sering luangkan waktu menonton film atau TV Show di HOOQ. Jika biasanya saya menonton HOOQ ketika sedang menyeruput kopi di warkop, atau sedang bersantai di rumah, maka kini saya menontonnya di kala sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Itulah enaknya HOOQ, kita bisa menonton di mana saja, dan kapan saja. Persis seperti tagline HOOQ: HOOQ Time. Anytime. Kualitas gambarnya pun sangat bagus karena full-HD. Artinya, kita benar-benar dimanjakan dengan adanya aplikasi HOOQ. Pengalaman menonton film jadi berbeda sekali: langsung di genggaman. Navigasinya sangat sederhana, dan kita pun bisa mencari judul film di menu pencarian. Selain itu, kita bisa juga menonton film pilihan editor. Untuk setting bahasa kita bisa klik di icon gear dan memilih bahasa Indonesia.

Akhirnya, waktu perawatan lima hari menjadi tak begitu terasa. Karena saya menghabiskannya dengan menonton film. Kebetulan yang saya tonton adalah Supergirl yang berjumlah dua session itu. Saya suka serial ini karena ceritanya terkait dengan film Man of Steel. Selain itu, saya juga menonton lagi film Davinci Code. Padahal, film ini sudah saya tonton beberapa kali. Kemudian, film remaja: Ada Apa dengan Cinta. Hahaha.

Bagi saya kehadiran HOOQ itu sangat bagus, terutama bagi penikmat film di Aceh. Sebagai informasi, di Aceh tak ada bioskop (padahal dulunya ada). Kami harus selalu mengurut dada tiap ada rilis film terbaru. Bagi yang berkantong tebal, bisa menonton ke Medan atau Jakarta. Bagi yang kondisi keuangan pas-pasan, lebih memilih membaca sinopsis atau resensi film di media cetak atau online. Kami di Aceh selalu telat menikmati sebuah film baru karena ketiadaan bioskop. Bayangkan, betapa tidak enaknya hidup kami di Aceh. Untuk menonton film bagus, kadang kami melakukan cara instant: menonton film bajakan yang banyak tersedia di internet.

tampilan hooq
Tapi, bioskop bukan lagi satu-satunya sarana menonton dan menikmati film. Kehadiran HOOQ membuat kita bisa menonton film dengan kualitas gambar bagus. Ke depan, pihak HOOQ hendaknya menambah koleksi filmnya, jika perlu film yang baru dirilis. Ini akan menjadi nilai tambah, dan menarik minat penikmat film pada aplikasi HOOQ. Biaya berlangganan tak akan menjadi masalah, asal layanannya memuaskan.

Pada akhirnya, kehadiran HOOQ membuat pengalaman menonton film semudah membaca berita di dalam genggaman. Hebatnya, kita bisa lakukan di mana saja, dan kapan saja. Seperti saya, menonton HOOQ selagi dirawat di rumah sakit. []