18 November 2008

Catok

Banyak hal menarik yang patut kita simak. Catok (cangkul), misalnya, tak semata-mata sebuah benda dan alat yang akrab dengan petani. Catok, bisa menceritakan banyak hal, seperti kerja keras, kemandirian, kehidupan orang kecil dan juga keikhlasan berbuat. Meskipun sekarang ini alat produksi berupa cangkul tergusur setelah hadirnya traktor, tak membuat cangkul dilupakan. Cangkul tetap tak tergantikan, meskipun banyak alat canggih lainnya terus bermunculan.

Saya jadi ingat epigram Heraklitus, seorang filsuf Yunani yang hidup sezaman dengan pemikir China Laozi dan Confusius, petapa India Sidharta Gautama, dan lebih muda dari Zarathustra, nama Nabi orang Persia. “Bila tidak ada matahari, kita bisa melihat bintang-bintang petang.” Demikian petuah kebijaksaan Heraklitus. Petuah yang penuh teka-teki, dan butuh energi untuk mengerti maknanya.

Seperti ditulis Roger von Oech dalam buku “Expectect the Unexpectect (Harapkan yang tak terduga!)”, matahari yang dimaksudkan itu hanya perumpamaan saja, yang melambangkan sifat dominan dari situasi hal atau suatu situasi. Sebut saja, seseorang yang membayang-bayangi sebuah kelompok, suatu bunyi yang menenggelamkan bunyi-bunyi yang lain, bumbu tertentu yang menenggelamkan cita rasa lain dalam sebuah hidangan, atau suatu kegiatan yang tidak menyisakan waktu untuk melakukan apa pun yang lain. Sementara bintang-bintang petang, melambangkan segi-segi yang kurang jelas dari sebuah situasi. Bintang-bintang petang itu tak terlihat karena mataharinya begitu cemerlang. Jika matahari tak ada, ‘bintang-bintang’ ini dapat dilihat.

Catok, dewasa ini sudah diperlakukan sebagai ‘bintang-bintang’ petang yang tak terlihat itu. Sementara mesin produksi modern seperti traktor, laksana matahari. Perannya begitu dominan. Orang-orang kemudian meremehkan para petani yang masih menggunakan catok, dan menyebut mereka tidak modern. Kita begitu mudah melupakan sesuatu, setelah memiliki yang lain. Seolah-olah sesuatu itu tak pernah hadir dalam kehidupan kita dan kita tak pernah mengetahuinya. Tapi, apakah orang-orang akan berfikir bagaimana membuat traktor jika sebelumnya tidak ada petani yang membajak sawah menggunakan cangkul?

Namun, itulah dunia kita sekarang. Kita selalu lupa pada apapun, setelah memiliki sesuatu yang lebih sempurna. “Seperti kacang lupa pada kulitnya,” demikian orang-orang menyebutnya. Tapi, tahukah kita, bahwa hasil dari keringat mereka ternyata tak semata-mata hanya dinikmati oleh mereka saja. Banyak orang yang mampu tersenyum, berkat jerih petani. Namun, adakah kita menghargai pengorbanan mereka? Apakah kita pernah merasa bahwa satu biji padi begitu berharga dan sangat menentukan satu biji padi yang lain? Coba kita renungkan, pernah tidak dalam kehidupan kita tak membuang sisa makanan? Tidak pernahkah kita menjatuhkan satu beras yang sudah jadi nasi saat kita makan? Saya yakin, semua orang pernah melakukannya.

Terakhir, saya ingin mengatakan, tak semua dari filosofi catok harus ditiru. Sebab, ada juga sifat-sifat dari catok yang tidak terpuji. Catok, misalnya, selalu mementingkan diri sendiri. Lihat saja, setiap kali catok digunakan petani mencangkul, selalu hasilnya ditarik ke belakang, untuk dirinya. Hal ini menyerupai salah satu tabiat manusia, yang mengumpulkan sesuatu untuk memperkaya diri. Sebagai perilaku, filosofi catok tak seharusnya kita tiru. Tapi, bukankah sekarang banyak dari kita yang mempraktikkan filosofi catok dengan tujuan memperkaya diri? (HA 181108)

Artikel Terkait

4 comments

bernas...mang nah meunyoe ka careng teumuleh, catok pih jeut keu bahan.... peu beda catok ngen langai atau catok watee tanyoe meuen bola ??? hehehe

terima kasih atas komentarnya...gohlom carong hai, mantong meurunoe teumuleh nyoe...

catok alias pacul...sering kupakai jika minggu berkebun di belakang rumah. Macam tu lah begawe jika tak sedang mencatok eh mencangkul data di komputer


EmoticonEmoticon