16 March 2017

Saat Dirawat di Rumah Sakit, Ada HOOQ yang Menemani

Pekan lalu, saya divonis terkena demam berdarah dengue (DBD) dan Tifus. Dua penyakit ini membuat kondisi fisik saya drop dan trombosit turun drastis. Selera makan saya berkurang, karena semua makanan rasanya pahit. Saya pun harus menjalani perawatan di rumah sakit. Selama 5 hari saya harus beristirahat di rumah sakit untuk mengembalikan kebugaran dan kondisi fisik yang melemah. Bagi yang sering menjalani perawatan di rumah, tentu tak perlu saya ceritakan lagi bagaimana suntuknya berada di rumah sakit, bukan?

tampilan hooq
Saya tak begitu senang dengan aroma obat dan suasana rumah sakit. Itu pula alasan saya malas untuk dirawat di rumah sakit. Tapi, terkena DBD dan Tifus tentu saja mengharuskan saya untuk dirawat. Suka atau tidak suka. Bayangkan, kita tidak bisa tidur nyenyak seperti di rumah. Selain ada tamu yang menjenguk, kondisi di rumah sakit tak serta merta membuat kita nyaman seperti di rumah sendiri. Pagi-pagi sudah ada perawat yang memasukkan jarum suntik ke tubuh kita, dan membuat kita lantas terbangun. Mereka sudah punya jadwal kapan kita harus disuntik, kapan ganti cairan impus, dan kapan kita harus minum obat. Kita tak bisa beristirahat seenaknya, seperti di rumah.

Pergerakan kita pun terbatas. Bolak-balik kamar mandi, melihat pemandangan dari jendela atau pura-pura berjalan di areal tempat tidur. Dunia seperti terbatas, dan kita jadi galau karenanya. Waktu lebih sering kita habiskan dengan rebahan di atas tempat tidur. Kita begitu bersyukur jika ada tamu yang menjenguk, karena pasti ada cerita yang bisa kita dengarkan. Selebihnya, kita berkutat di tempat tidur dan tidak tahu harus melakukan apa. Itulah salah satu alasan kenapa saya tidak begitu suka dirawat di rumah sakit.

Namun, bukan tak ada hal yang bisa disyukuri selama dirawat di rumah sakit. Tentu ada. Untuk menghilangkan suntuk, saya sering menghabiskan waktu dengan berselancar di internet melalui smartphone. Kebetulan, sebelum sakit saya sudah beli paket kuota internet yang cukup, bahkan ada bonus untuk menonton HOOQ hingga 5 GB. Ayo, nikmat manalagi yang harus kita dustakan dengan kuota sebesar itu? Meski sakit dan menjalani perawatan, dengan jumlah kuota internet yang cukup kita tidak akan galau.

HOOQ adalah sebuah aplikasi streaming movie untuk menonton film atau tv show besutan Telkomsel. Kita bisa berlangganan paket untuk perminggu, per bulan dan pertahun dengan harga yang relatif murah. Aplikasi ini bisa diinstall dengan mudah melalui Play Store untuk pengguna Android atau Apps Store untuk pengguna IOS. Caranya gampang, cari saja "hooq" di menu penginstalan aplikasi itu, dan langsung install. Tidak lama dan tak pake ribet.

Untuk membunuh suntuk, saya sering luangkan waktu menonton film atau TV Show di HOOQ. Jika biasanya saya menonton HOOQ ketika sedang menyeruput kopi di warkop, atau sedang bersantai di rumah, maka kini saya menontonnya di kala sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Itulah enaknya HOOQ, kita bisa menonton di mana saja, dan kapan saja. Persis seperti tagline HOOQ: HOOQ Time. Anytime. Kualitas gambarnya pun sangat bagus karena full-HD. Artinya, kita benar-benar dimanjakan dengan adanya aplikasi HOOQ. Pengalaman menonton film jadi berbeda sekali: langsung di genggaman. Navigasinya sangat sederhana, dan kita pun bisa mencari judul film di menu pencarian. Selain itu, kita bisa juga menonton film pilihan editor. Untuk setting bahasa kita bisa klik di icon gear dan memilih bahasa Indonesia.

Akhirnya, waktu perawatan lima hari menjadi tak begitu terasa. Karena saya menghabiskannya dengan menonton film. Kebetulan yang saya tonton adalah Supergirl yang berjumlah dua session itu. Saya suka serial ini karena ceritanya terkait dengan film Man of Steel. Selain itu, saya juga menonton lagi film Davinci Code. Padahal, film ini sudah saya tonton beberapa kali. Kemudian, film remaja: Ada Apa dengan Cinta. Hahaha.

Bagi saya kehadiran HOOQ itu sangat bagus, terutama bagi penikmat film di Aceh. Sebagai informasi, di Aceh tak ada bioskop (padahal dulunya ada). Kami harus selalu mengurut dada tiap ada rilis film terbaru. Bagi yang berkantong tebal, bisa menonton ke Medan atau Jakarta. Bagi yang kondisi keuangan pas-pasan, lebih memilih membaca sinopsis atau resensi film di media cetak atau online. Kami di Aceh selalu telat menikmati sebuah film baru karena ketiadaan bioskop. Bayangkan, betapa tidak enaknya hidup kami di Aceh. Untuk menonton film bagus, kadang kami melakukan cara instant: menonton film bajakan yang banyak tersedia di internet.

tampilan hooq
Tapi, bioskop bukan lagi satu-satunya sarana menonton dan menikmati film. Kehadiran HOOQ membuat kita bisa menonton film dengan kualitas gambar bagus. Ke depan, pihak HOOQ hendaknya menambah koleksi filmnya, jika perlu film yang baru dirilis. Ini akan menjadi nilai tambah, dan menarik minat penikmat film pada aplikasi HOOQ. Biaya berlangganan tak akan menjadi masalah, asal layanannya memuaskan.

Pada akhirnya, kehadiran HOOQ membuat pengalaman menonton film semudah membaca berita di dalam genggaman. Hebatnya, kita bisa lakukan di mana saja, dan kapan saja. Seperti saya, menonton HOOQ selagi dirawat di rumah sakit. []

Artikel Terkait