23 April 2008

Seberkas Cahaya dari Tanah Seberang

Dulu ada cerita, tapi tak jelas apakah cerita itu benar atau tidak. Jika kita sempat menyeberang ke Pulau Aceh, kita disambut bak seorang raja. Sejak dari tempat pendaratan boat, kita dilayani dengan ramah, dibawa ke warung, dan ditawarin makanan apa saja, asal kita sanggup memakannya. Tapi jangan berharap kita akan dibawa-bawa jalan-jalan mengelilingi Aceh, dan menikmati pemandangan di Pulau Aceh. Begitu kita selesai makan, kita diantar ke tempat pendaratan boat untuk kembali pulang.

Kita tak perlu heran diperlakukan seperti itu. Karena penduduk pulau Aceh ramah-ramah. Tapi ada sesuatu yang mereka sembunyikan di sana. Mereka tidak ingin warga dari daratan Aceh mengetahui aktivitas mereka menanam ganja di sana. Malah, uang yang digunakan untuk menjamu kita dan membayari ongkos, semuanya berasal dari hasil penjualan ganja.

Bisa jadi cerita dibuat untuk menggambarkan betapa misteriusnya kawasan Pulau Aceh. Atau, cerita itu hanyalah humor belaka. Karena tak ada sumber tertulis yang memuat cerita seperti itu, melainkan beredar dari mulut ke mulut. Tak bisa diverifikasi, apakah kenyataannya demikian atau hanya cuma karangan belaka. Yang pasti, Pulau Aceh menyimpan banyak misteri dan potensi alam yang luar biasa.

”Munyoe intan han ek soe linteng, beuthat lam leubeung dibedoh cahya (Kalau intan tak bisa dihalang, walau di kubangan tetap bercahaya)". Rasanya ungkapan lama rakyat Aceh ini layak disematkan untuk tetangga pulau Sabang ini. Pulau itu tetap indah, meski Tsunami pada 26 Desember 2004 lalu hampir membenamkannya ke dasar lautan.

Pesonanya tak pernah hilang. Pulau yang diceritakan punya tambang emas itu, pernah beberapa kali diisukan mau dijual atau dijadikan lokasi wisata untuk bule-bule. Malah, saat darurat militer, Pulau Aceh tersebut mau disulap menjadi tempat tahanan bagi kombatan GAM. Tapi belum satu pun yang terealisasi. Kawasan yang punya dua pulau utama tersebut masih tetap seperti semula.

Dua pulau itu diberi nama Pulo Breuh (Pulau Beras) dan Pulo Nasi. Tak diceritakan, siapa yang pertama memberi nama pulau tersebut. Hanya saja, menurut cerita warga setempat, Pulo Breuh dan Pulo Nasih merupakan nama yang dinobatkan oleh masyarakat daratan, yang diambil dari letak geografis Pulo Nasi dan Pulo Breuh dengan Aceh daratan. Masyarakat Aceh daratan, ketika berkebun ke Pulau Aceh, sering membawa bekal beras, bukan nasi. Karena jika yang dibawa adalah nasi, maka begitu sampai ke kedua pulau tersebut, nasi akan basi. Makanya, warga Aceh daratan membawa beras, dan memasak di sana.

Saat tsunami tiga tahun silam, kedua pulau ini ikut tersapu gelombang maut tersebut dan Pulo Breuh termasuk yang paling parah. Di Pulau ini terdapat dua kemukiman, yakni Breuh Selatan dan Utara. Pulo Breuh selatan memiliki beberapa desa, di antaranya Lampuyang (Ibukota kecamatan Pulo Aceh), Gugob, Seurapong, Blang Situngkoh, Paloh, Ulee Paya, Teunom dan Lhoh. Sementara Pulo Breuh Utara terdiri dari Desa Lapeng, Rinon, Alu Raya dan Meulingge.

Kawasan pantai di Pulo Breuh Utara berupa kawasan ekosistem hutan pantai dan hutan manggrove ikut hancur oleh gelombang tsunami. Padahal sebelumnya begitu indah terlihat. Malah, di kawasan pantai Meulangge, yang memiliki batu-batu karang besar terdampar ke darat, begitu juga di desa lain, seperti Lapeng, Rinon dan Alue Raya banyak ditemukan pecahan-pecahan karang dan sudah terdampai ke daratan.

Hilangnya hutan manggrove dan nipah seluas dua hektar telah membuat desa Lapeng tak terbentengi lagi oleh terpaan angin dari arah lautan. “Angin yang bercampur dengan air garam menyebabkan tanaman di lahan pertanian terganggu,” jelas Fahmi Ibrahim (32), salah seorang warga desa setempat.

Menurut Keuchik Meulingge, M. Dahlan, hutan Nipah di sepanjang pesisir pantai wilayah Meulingge kira-kira sejauh 1500 m ikut punah. Selain di Meulingge, hutan Nipah seluas 1 km di desa Rinon dan Alue Raya serta 400 m di Leun Bale pun tinggal kenangan.

Tidak hanya ekosistem alam wilayah pesisir yang hancur, namun beragam fasilitas fisik lainnya juga mengalami hal yang sama, seperti dermaga, tanggul pengaman pemecah ombak sepanjang 200 meter serta bale-bale nelayan di pinggir pantai dan berbagai fasilitas lainnya.

Meski sudah hancur, bukan berarti Pulau Aceh tak seindah dulu lagi. Sekarang, sedikit demi sedikit Pulau Aceh berbenah. Tak salah, jika banyak orang ingin pergi ke sana, karena, di samping tidak lagi diantar pulang begitu selesai dijamu makan, kita bisa menikmati sisa-sisa keindahan yang masih belum pudar dari Pulau Aceh. Itulah seberkas cahaya dari tanah seberang. [fik/ra]

NB: sudah dimuat di rubrik fokus Harian Aceh, Rabu 23 April 2008 | Foto: http://www.resilience-foundation.nl

Artikel Terkait