15 May 2008

Kriminal

Akhir-akhir ini banyak sekali muncul aksi kriminal, seperti perampokan, pembunuhan, penculikan dan atau korupsi (kalau korupsi boleh disebut juga sebagai aksi criminal). Motifnya macam-macam. Kebanyakan karena faktor ekonomi. Lalu, apakah pelaku kriminal memang dilahirkan khusus untuk menjadi kriminal? Atau memang, pada dasarnya mereka semua dilahirkan untuk menjadi baik tapi faktor keadaan membuat mereka jadi jahat?

Kalau pertanyaan ini diajukan kepada Erich Fromm, sang tokoh humanis kelahiran Frankfurt, Jerman akan langsung menjawab: “Banyak orang yang melakukan kejahatan karena mereka diperintahkan oleh orang lain yang memiliki kekuasaan.” Meskipun Erich percaya bahwa sangat sedikit manusia yang dilahirkan sebagai orang suci atau sebagai penjahat tulen.

Menurutnya, takdir menjadi baik atau jahat sangat ditentukan oleh pengaruh-pengaruh yang dibawa dari luar. Persoalan baik dan buruk itu hanya soal pengaturan: sesuatu disebut baik dengan alasan ini, ini, dan ini. Sementara sesuatu yang buruk, alasannya itu, itu, dan itu.

“Tidak ada yang baik ataupun buruk, tetapi pemikiran kitalah yang menjadikannya demikian,” demikian Shakespeare berkhutbah. Artinya, persoalan baik dan buruk itu hanyalah soal kesepakatan saja.
Kenapa banyak orang akhir-akhir cenderung menjadi kriminal? Apakah kondisi yang membuatnya demikian atau ada pengaruh-pengaruh lain, katakanlah seperti disebut oleh Erich Fromm?

Kita heran saja, orang semakin gampang membunuh, hanya karena ingin merampok satu sepeda motor; atau orang rela menculik, karena berharap ada uang tebusan ratusan juta rupiah. Ada juga aksi criminal yang lebih terhormat, seperti korupsi yang dilakukan oleh para pejabat. Mereka hanya mengutak-atik angka di ruang kerja yang mewah, tapi ribuan rakyat kemudian jadi korbannya.

Lalu, jika orang menjadi kriminal karena diperintah oleh kekuasaan, bagaimana kekuasaan melakukannya? Salah satunya, ya melalui korupsi. Banyak hak rakyat yang hilang karena korupsi, sebab kebanyakan anggaran yang dikorupsi diperuntukkan untuk rakyat. Cara lainnya, memperlambat pengesahan APBA. Akibatnya, hak rakyat setiap hari berjumlah milyaran rupiah tak dapat dinikmati. Lalu, karena dapur harus berasap, ada yang menempuh jalan pintas: merampok atau menculik. Dalam hal ini berarti pemerintah layak dipersalahkan.(HA 150508)


Artikel Terkait

1 comments so far