09 July 2008

Para

Pernahkah anda mendengar kata para sekarang ini? Bagi masyarakat kota, bisa jadi hampir tak pernah lagi mendengar kata tersebut. Kata para bisa jadi sudah terkikis oleh modernisasi, sehingga jarang disebutkan atau diucapkan. Tapi, kata tersebut sampai sekarang masih digunakan di Gampong-gampong.


Kata para punya sinonim aneh, sandeng. Orang yang masih mampu mengucapkan sandeng atau para, langsung dilakabkan dengan ureung gampong. Iya sih, karena di Gampong-gampong, kata itu masih populer.

Kawan saya bilang, para atau sandeng adalah tempat tinggalnya pa’e (tokek). Di coeng para di ateuh sandeng. Ureung Syik kita dulu sering menaruh Al Quran di ateuh para atau di ateuh sandeng. Sampai-sampai jika ada orang malas mengaji dan bodoh, disindir dengan istilah: “Al ilmu fil kitab, al kitab alas-sandeng, qaraktuhu tikoh teng.” Artinya, ada Al Quran, tapi jarang dibaca.

Para, kata kawan saya tadi, khusus hanya ada di Rumoh Aceh, tempat meletakkan barang-barang jamuen, atau biji-bijian. Ada juga yang menyimpan azimat, boh labu tanoh atau saduep. Tapi, katanya, para identik dengan dapu. Sementara dapu identik dengan ureung inoeng, tapi bukan dapu ureung inoeng yang konotasinya negatif.

Yang tahu seluk-beluk sejak dari dapu sampai para dan ateuh sandeng adalah perempuan. Sebab, perempuanlah yang lebih interaksinya lebih lama di dapur. Karena itu, perempuan punya tempat mulia, khususnya bagi masyarakat Aceh.

Ada kabar menggembirakan sebenarnya ketika kaum perempuan mendirikan Partai Aliansi Perempuan Peduli Aceh (PARA), dan ingin keluar dari dapu menuju ruang lain, tapi, ternyata KIP menghambatnya. Masalahnya, bisakah perempuan menuju ruang lain tanpa meninggalkan dapur? Agak sulit.

Kawan saya juga bilang, saat perang dulunya, banyak pejuang Aceh menyimpan pedang keramat di ateuh sandeng. Karena, sandeng atau para adalah tempat khusus, tempat yang dimuliakan, dan tak bisa dijangkau oleh anak-anak. “Secara tipologi rumoh Aceh tidak bisa dimasuki oleh pencuri secara sembarangan, kecuali tikoh (tikus) dan pa’e (tokek),” ujarnya.

Itulah kelebihan Rumoh Aceh. Jikapun ada pencuri ingin masuk ke dalam Rumoh Aceh, dia harus melalui banyak ruang seperti seuramoe keu, seuramoe inoeng, rambat, ulee gajah, dan dapu. Makanya, tak heran ketika kaum perempuan ingin berpolitik, banyak halangan di depannya. Tapi kaum perempuan tak perlu sedih, karena seperti halnya para di rumoh Aceh yang sangat dimuliakan, tanpa berpolitik pun perempuan tetap punya kedudukan mulia. (HA 090708)


Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak