11 August 2008

Maop

Saya percaya, semua kita pernah mendengar tentang Maop, bahkan pernah sangat takut pada Maop. Saya juga percaya, meski kita sering mendengar tentang Maop dan sangat takut padanya, tapi kita tak pernah tahu bagaimana bentuk makhluk yang kita percaya ada tersebut. Kita tak bisa mendeskripsikan bagaimana bentuk utuh Maop, hanya yang sering kita dengar Maop itu makhluk yang menyeramkan, berwajah sangat buruk (si buruk rupa), tinggi besar, punya taring, dan serba hitam. Tapi, benarkah Maop seperti itu? Soalnya, belum ada yang melihat langsung Maop, kecuali orang tua kita yang sering mendiamkan tangis kita dengan bilang: awas nanti ada Maop!

Kita tak pernah mengetahui tentang Maop, tapi anehnya kita sangat takut pada makhluk 'tak berbentuk' itu? Bukankah itu sangat aneh, karena kita takut pada sesuatu yang tidak pernah kita tahu bagaimana wujud aslinya. Kita percaya sesuatu, tapi kita tak pernah tahu bagaimana sesuatu itu. Saya jadi ragu, jangan-jangan Maop itu hanya hayalan orang tua kita saja? “Maop beutoi na hai!” kalimat seperti ini yang acap kita dengar.

Pembicaraan selalu terputus, ketika kita coba menanyakan, “kamu pernah lihat Maop?” jawaban yang kita terima dari orang yang bilang Maop itu ada pasti: “Aku belum pernah melihat Maop, dan kuharap semoga aku tidak melihatnya.” Saya sendiri cenderung mengikuti aliran positivistik, bahwa jika kita percaya sesuatu, sesuatu itu harus bisa diverifikasi. Ada atau tidak ada Maop, harus bisa diverifikasi. Nah, bagaimana memverifikasinya? Itu pertanyaan yang sulit. Itu sama artinya, pikiran kita sudah dibentuk oleh ilusi-ilusi yang membuat kita takut terhadap sesuatu yang tidak berbentuk, seperti kepada Maop.

Nah, bagaimana jika realitas Maop kita bawa dalam realitas politik seperti sekarang? Saya yakin akan menemukan relevansinya. Soalnya, meski kita tak tahu bagaimana bentuk Maop, tetapi, Maop kerap jadi kambing hitam, atau setidaknya makhluk yang kita gunakan untuk menakuti orang, terutama anak kecil. Dan hal itu sering jadi solusi mujarab. Sebab, anak kecil pasti akan berhenti menangis.

Coba perhatikan berita-berita di media belakangan ini, bukankah ada penciptakan realitas ‘maop’ untuk merujuk sesuatu. Misalnya saja, ada pejabat publik atau petinggi militer mengatakan, ada ‘partai tertentu’ yang melakukan intimidasi, pemaksaan, dan melakukan tindak kekerasan terhadap partai lain. Jika kita coba berfikir normal, di Aceh itu hanya ada 6 partai dan 34 partai nasional (ada beberapa partai nasional yang tidak punya perwakilan di Aceh). Nah, jika ada tudingan ‘partai tertentu’ melakukan intimidasi, pertanyaannya, ‘partai tertentu’ itu yang mana? Dari 40 jumlah keseluruhan partai politik, saya tidak melihat ada yang namanya ‘partai tertentu’ yang bisa jadi berjumlah lebih dari satu.

Bukankah, masalah ‘partai tertentu’ ini hampir sama juga dengan ilusi kita tentang Maop? Bisa jadi ada yang namanya ‘partai tertentu’ tetapi tidak ada yang berani menyebutkannya. Sementara Maop bisa jadi tidak ada, tetapi pikiran kita yang merekonstruksi sehingga Maop itu ada, dan malah nyata, meski belum ada yang benar-benar pernah bertemu Maop. Lalu, bagaimana dengan ‘partai tertentu’, bukankah partai tersebut ada? Masalahnya, apakah ada orang yang berani menunjuk jari ke arah ‘partai tertentu’ itu yang selama ini melakukan intimidasi? Itu yang tidak ada.

Kita selalu latah. Seperti halnya ketika kita menyebutkan pelaku suatu tindak kekerasan adalah OTK yang bisa ditulis dengan ‘Orang Tak diKenal’. Julukan OTK, kerap kita dengar ketika Aceh masih dibalut konflik, malah sampai sekarang masih kita dengar. Pertanyaan kita, benarkah si pelaku itu dari golongan OTK? Bukankah—pasti ada—orang yang mengenal pelaku? Hanya saja kita tidak berani menunjuknya. Sebab, saat itu, jika pelakunya bukan dari GAM ya…sudah pasti dari TNI/Polri. Tetapi, karena itu menyangkut sebuah institusi besar, maka kita—terutama media—menulis pelakunya dengan OTK saja. Lebih aman.

Kita seperti dibentuk oleh sebuah hukum pengecualian. “Jika pelakunya orang kecil dan tak punya kuasa, pasti langsung bisa disebut pelaku kriminal, sementara jika pelakunya dari suatu institusi besar, pasti disebut tindakan itu sebagai upaya penegakan hukum". Ketika tindakan itu bisa mencoreng nama institusi, maka kepada pelakunya disebut OTK. Tapi, soal ‘partai tertentu’ itu, saya tak berharap partai itu adalah Maop, yang membuat orang jadi takut mendekatinya. Semoga! (HA 120808)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far