26 Maret

Bangsa pelupa akan terus jadi bahan tertawaan dan tak pernah menikmati kebahagiaan meski dalam suasana damai.


Mari sejenak kita kembali ke masa silam. Ke masa ketika pada 26 Maret 1873, di atas sebuah kapal perang yang bernama Citadel van Anwerpen, saat Nieuwenhuyzen, komisaris Gubernemen Belanda dan bertindak atas nama Kerajaan Belanda memaklumkan perang atas kerajaan Aceh.

Nieuwenhuyzen, dengan mimik serius ditopang kumis yang kasar, dengan liur berbuih-buih mendakwa kerajaan Aceh telah melakukan perompakan dan sabotase atas kapal-kapal dagang Belanda di Selat Malaka. Tak hanya itu, dengan wajah murka dan berlagak tuan meminta Aceh melepaskan kewenangannya mengontrol Selat Malaka serta memutuskan hubungan diplomatik dengan kerajaan Turki, Perancis, Italia dan Amerika.

Pernyataan perang itu, menurut beberapa buku sejarah (baca: Hasan Tiro; Aceh, Kelahiran Kemerdekaan Baru, 1992) juga karena kerajaan Aceh tak mau tunduk di bawah dominasi Belanda. Sikap congkak Belanda yang datang dari seberang dijawab tak kalah keras oleh pemangku kuasa di Aceh. Malah, seperti beredar dalam cerita-cerita di kalangan masyarakat Aceh, permintaan menyerah yang diajukan Belanda mendapatkan sindiran dari Majelis Negara Aceh, “Bek lei takheun nanggroe, manok nyang tan gigoe nyang na lam nanggroe Aceh han ka teumueng raba, (Jangankan merebut negeri, ayam yang tanpa gigi pun yang ada di bumi Aceh tidak bisa kamu sentuh)”.

Tak usah bertanya, apa yang terjadi di bumi Aceh pasca-maklumat perang itu? Aceh terjebak dalam perang yang berkepanjangan. Sekitar 70 ribu pejuang Aceh menjadi korban, sementara di pihak Belanda sebanyak 35 ribu jiwa ikut menjadi korban di samping kerugian material yang cukup besar. Bahkan seorang perwira Belanda, Jenderal Kohler, yang memiliki kecakapan perang tewas di tangan pejuang Aceh dalam suatu peperangan di depan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Kematian Jenderal Kohler berpengaruh besar terhadap keruntuhan mental para serdadu Belanda. Kerajaan Belanda terpaksa menarik pasukannya dari Aceh dan mempersiapkan rencana peperangan kedua secara besar-besaran.

Itulah Aceh, meskipun sering disebut sebagai keturunan raja-raja talo (kalah) perang, tak pernah gentar jika digertak. Tak salah jika dalam sebuah pepatah disebutkan: Ureueng Aceh galak meuprang, ureueng padang galak meuniaga. Ureueng Batak galak duek di ganto, nyang meu-ato syit ureueng Jawa.

Dulu, ketika awal-awal reformasi, soal maklumat perang Belanda itu kembali disinggung dan minta dicabut. Maklumat itu disebut sebagai punca segala masalah terutama soal status Aceh. Saban tahun, setiap tanggal 26 Maret, rakyat Aceh turun ke jalan-jalan meminta maklumat perang Belanda itu dicabut, sehingga Aceh kembali berdaulat sebelum perang dengan Belanda. Persyarikatan Rakyat Aceh (PRA) yang dipimpin T. Kamaruzzaman (Ampon Man), beberapa kali menggelar demo di depan kedutaan besar (Kedubes) Belanda pada tahun 1999. Mereka bahkan sampai menginap segala di depan pintu gerbang Kedubes itu.

Sebagai bangsa yang congkak, Belanda tentu saja tak berniat mencabut maklumat perang itu, sebab mencabut pertanda kalah. Pemerintah Belanda sama sekali tidak mau kehilangan muka di mata rakyatnya, di mata internasional, dan tentu saja di mata rakyat Aceh, apalagi jika harus membayar segala kerugian yang disebabkan oleh perang berkepanjangan tersebut.

Tetapi dunia terlanjur mencatat, bahwa Kerkhoff di Banda Aceh menjadi bukti betapa Belanda tak mampu berkutik jika berhadapan dengan rakyat Aceh.

Kemarin, saya sama sekali tak mendengar ada perayaan atau meminta pencabutan maklumat perang yang sudah berumur 136 tahun itu. Saya jadi bertanya, sudah lupakah orang Aceh terhadap sejarah kelam yang diakibatkan oleh maklumat perang itu? Para jurkam partai politik juga saya percaya tak sekalipun menyinggungnya. Mereka lebih suka mempromosikan diri agar dipilih oleh rakyat pada 9 April nanti. Apakah ini yang disebut sebagai penyakit amnesia? Kita tak perlu mencari kambing hitam lagi, bahwa nasib kita begini karena endatu kita malas menulis sejarah. Toh hari ini, sejarah yang tertulis saja begitu mudah kita lupakan. Melalui warkah ini, saya ingin mengingatkan saja dengan pepatah rakitan yang saya kutip di atas, bahwa
“Bangsa pelupa akan terus jadi bahan tertawaan dan tak pernah menikmati kebahagiaan meski dalam suasana damai”. Hom hai!(HA 270309)

Post a Comment

Previous Post Next Post