05 December 2009

Hujan dan Mobil

Kotaku diguyur hujan. Cukup deras. Bergemuruh. Saat itu, Aku baru saja membuka kembali buku "Masa Depan Kebebasan" Fareed Zakaria dan membaca cerita tentang Siren, di halaman awal. Membuka buku dan membacanya sekilas adalah kegiatan rutin yang sering kulakukan, baik saat pulang kerja dan mau tidur, maupun ketika baru bangun sebelum benar-benar beranjak mandi.

Kini, aku terjebak hujan. Tak bisa keluar lagi. Jika nekad keluar, maka siap-siaplah berbasah-basahan dan menggigil kedinginan begitu tiba di kantor (sering juga jatuh sakit). Melihat derasnya hujan, sulit menentukan apakah akan secepatnya reda atau tidak. Tapi, yang namanya hujan pasti akan reda. Bosan juga terus-terusan hujan membasahi bumi, karena tetap juga dibuat panas. Para pihak yang sedang berperang juga dihinggapi penyakit bosan dan memilih tak melanjutkan perang.

Sambil menikmati membaca buku, tiba-tiba Hp berbunyi. Muncul nama yang sudah cukup kukenal. Sudah sering dan biasa ada kawan menelepon saat hujan sekadar berkelakar dan menanyakan apakah aku sudah ke kantor atau belum. Pertanyaan itu tak dimaksudkan sebagai bentuk peduli, melainkan memprovokasi. Pasalnya, kawan-kawanku pada punya mobil semua, sementara aku belum. Makanya aku dikompori segera membeli mobil. (Dalam hati aku ketawa, duit darimana beli mobil, ada-ada aja mereka).


Temanku itu (dan beberapa kawan lagi) mau ke rumah minta ditemani untuk membeli Laptop. Aku juga beruntung karena nanti tinggal singgah di kantor sehabis mengantar mereka membeli Laptop.

Oya, aku hendak membagi cerita sedikit, yang aku baca di bukunya Fareed Zakaria, yaitu tentang Siren. Entah sudah berapa kali aku ulang membaca cerita tersebut, tetapi selalu terangsang untuk membacanya lagi saat membuka-buka buku editor Newsweek Internasional dan kolumnis aktif ini. Setiap membuka buku tersebut, kata-kata Siren, selalu ter-eja, dan jadilah aku membacanya sampai habis. Di samping pendek, karya yang dikutip Fareed dari Thomas Bulfinch dalam The Age of Fable or Stories of Gods and Heroes enak dibaca, meski tak lucu.

Disebutkan, Siren adalah bidadari-bidadari laut yang memiliki kemampuan untuk menggoda siapapun yang mendengar lagu mereka, sehingga para awak kapal yang sedang gundah tak kuasa terdorong untuk menceburkan diri mereka ke dalam laut hingga mereka menemui kematiannya. Circe memerintahkan Ulysses untuk menyumbat telinga para awak kapalnya dengan lilin, supaya mereka tidak bisa mendengar alunan music tersebut dan meminta dirinya diikat di tiang kapal, dan para awaknya dilarang, apa pun yang ia katakana atau lakukan, untuk melepaskan dirinya hingga mereka telah melewati pulau Siren. 
Ulysses mematuhi perintah ini. Ia menyumbat telinga para awaknya dengan lilin, dan membolehkan mereka mengikatnya dengan tali begitu kuat di tiang kapal. Ketika mereka mendekati pulau Siren, laut tenang, dan di atas air laut terdengar nada music yang begitu mempesona dan menarik sehingga Ulysses berusaha melepaskan diri dan dengan berteriak dan aba-aba kepada para anak buahnya meminta untuk dilepaskan; namun mereka, patuh pada perintah yang diberikan sebelumnya, terus maju dan mengencangkan ikatannya lebih kuat. Mereka tetap mengikuti arah tujuan kapal, dan suara alunan music mulai mengecil hingga benar-benar tak terdengar, ketika dengan senang hati Ulysses memberikan aba-aba kepada awak kapalnya untuk mencabut sumbat telinga mereka, dan mereka membuka ikatannya.”

Setelah menunggu lama, mereka tiba di rumah, dengan BMW silver. Aku sendiri karena terlalu lama menunggu, masih sempat mengingat beberapa paragraf dari buku Fareed, terutama soal lagu kebangsaan Amerika, “America the Beautiful”: America, America / God mend thine every flaw (Tuhan memperbaiki setiap kesalahan kalian) / Confirm thy soul in self-control (Memperbaiki jiwa kalian dalam mengendalikan diri) / Thy liberty in law (kebebasan kalian dalam hukum)”.

Saya terdiam lama. Teringat saudara kita di Irak, Afghanistan, Somalia, Sudan, dan di sejumlah tempat lainnya. Mereka sama sekali tak berdaya. Jika mereka melawan tentara Amerika dianggap sebagai kelompok teroris, sementara tentara Amerika menyerbu dan menginjak-injak harkat dan martabat mereka dianggap untuk menegakkan demokrasi dan membawa kemakmuran.

Dan, di Amerika, orang-orang selalu mendoakan meminta setiap kesalahan tentara Amerika tersebut diampuni karena ‘tuhan’ akan memperbaiki kesalahan mereka.

-----aku posting sambil melihat angka Paypal Wishlist yang tak juga bertambah. Hah!

Artikel Terkait

2 comments