10 July 2012

Menulis itu Belajar dari Kesalahan

Awalnya, posting ini hanya berbentuk penggalan tweet melalui akun twitter milik saya. Namun, takut ide yang muncul tersebut hilang tak tahu rimba, tak ada salahnya saya kutip kembali di blog ini. Saya yakin, pembaca punya tips dan triks yang lebih menarik lagi. Saya senang sekali jika pembaca bersedia membaginya di kolom komentar.

Ini beberapa tips dari saya, dan sudah saya praktikkan. Tips ini memang berdasarkan pengalaman yang saya alami sendiri. Tapi jangan salah paham dulu. Saya bukan penulis hebat dan terkenal, saya juga belum menghasilkan ribuan tulisan dan ratusan judul buku. Saya hanya masih belajar, dan posting ini juga bagian dari proses pembelajaran. Yuk kita sama-sama belajar tips berikut:

1. Ingat! Menulis paragraf pertama yang menyentak minat pembaca dan menghipnotis redaktur itu memang sulit. Tapi, jika tantangan pertama ini bisa dilewati, yakinlah kita mampu menulis kalimat-kalimat dahsyat berikutnya. Jadi, saat anda menulis, satu hal yang perlu anda lakukan: Selesaikan!

2. Untuk menemukan kalimat pembuka yang bagus dan membuat redaktur media seperti terbang ke awan memang tidak gampang. Karena itu kita perlu merenung sejenak dan fokus pada sasaran (tujuan) tulisan yang ingin kita capai!

3. Ketika memulai menulis, saya sudah punya bayangan ke media mana tulisan itu akan saya kirim. Menentukan sasaran media ini penting, karena akan berpengaruh pada gaya kita dalam menulis. Ingat! Beberapa media punya segmen dan style tulisan yang berbeda-beda. Kita harus jeli, karena jika tidak menjadi sia-sialah tulisan yang kita kirim: tak dimuat!

4. Jangan jadikan menulis itu sebagai beban pribadi! Ini bahaya, karena anda akan terus dihantui perasaan bersalah jika tulisan tidak kunjung selesai. Jadi, perlakukan kegiatan menulis itu sebagai kebutuhan, karena anda selalu butuh, dan nikmati setiap pengalaman menulis yang anda dapatkan. Semakin anda menikmati, menulis itu menjadi sarana anda berpetualang dengan ide-ide kreatif anda. Hingga pada saatnya, anda akan merasa sakit jika dalam sehari saja tidak menulis apapun.

5. Menulis itu adalah pekerjaan yang dilakukan dalam suasana santai meski tema yang kita tulis kadang-kadang cukup serius. Jadi, sering-seringlah berkontemplasi. Ini penting untuk memberi warna dan gaya pada tulisan kita. Suatu saat orang-orang akan mengenal karakter tulisan anda, meski anda menggunakan nama samaran.

6. Ini pengalaman saya. Dalam kondisi terbaik, saya bisa menyelesaikan tulisan dalam hitungan jam, tapi ketika giliran angin-anginan, tiga hari kadang-kadang satu tulisan tidak siap-siap. Karena itu, penting mempertahankan stamina. Jikaperlu, anda sesekali harus pergi menyendiri, bisa ke pantai, ke perkampungan, atau ke tempat yang asing. Karena ini akan mengembalikan kesegaran pikiran anda.

7. Penyakit saya: jika satu tulisan dibiarkan tak selesai, maka tulisan itu tak akan selesai lagi. Akibatnya, banyak tulisan di laptop saya kadang hanya berisi beberapa paragraf saja. Tapi, jangan pernah hapus tulisan sepotong itu, karena suatu saat anda akan memerlukannya.

8. Yang tahu tulisan kita bagus atau tidak itu bukan editor! Tapi kita sendiri, sang pemilik tulisan. Karena saat menulis kita tahu mana kalimat asal-asalan atau ide sampah! Jadi, jangan pernah menyalahkan editor jika tulisan anda tidak dimuat. Belajarlah menulis yang baik, periksa setiap bagian kecil kesalahan, apakah itu kalimat yang tak nyambung, logika bahasa yang salah atau ejaan salah ketik.

9. Pesan saya: bacalah kembali baik-baik tulisan yang sudah anda selesaikan. Jika perlu mintalah pacar anda, teman anda atau orang-orang yang anda anggap teliti untuk membacanya. Ingat, kita sering sulit menemukan kesalahan pada tulisan sendiri, karena kita membacanya secara cepat.

10. Penulis yang baik itu adalah juga seorang penulis ulang yang baik. Jangan pernah lakukan kesalahan dengan tidak membaca dan memperbaiki tulisan yang sudah anda buat. Jika sejak awal kita sudah teliti, yakinlah makin hari tulisan kita makin minim kesalahan. Ingat, kadang-kadang redaktur tidak mau memuat tulisan bukan karena tidak layak, tapi mereka malas jika harus mengedit kesalahan kata (ejaan) dari awal sampai akhir.

Mudah-mudahan beberapa pengalaman ini bisa membuat kita dapat belajar menjadi penulis yang baik. Sebab, banyak penulis yang sekarang hebat-hebat itu, pastilah mereka banyak belajar dari kesalahan penulis sebelum mereka. Jadi, mari kita belajar bersama-sama sehingga semua kita menjadi penulis yang baik!
posting ini awalnya berupa penggalan tweet melalui account @almubarak <---follow ya. 

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far