13 July 2013

Meminta Lebih dari yang Diharapkan

Selama bulan Ramadan, dan lebih-lebih nanti mendekati lebaran, harga-harga di pasaran, seperti pakaian dan kebutuhan lebaran akan melonjak naik. Jika tak pandai-pandai melakukan penawaran, kita akan jadi bahan mainan penjual.

Lihat saja para penjual pakaian. Di setiap sudut kota sudah mulai membuka lapak. Kota menjadi sesak dengan para penjual musiman itu. Hampir tak ada ruang tersisa. Semua dipenuhi penjual pakaian. Ya, inilah momen untuk mendonkrak penjualan dan mencari rezeki secara halal. Mendekati lebaran, permintaan akan pakaian dan kebutuhan rumah tangga meningkat-tajam.

Sebagai pembeli, apa yang harus kita lakukan? Jika meminjam saran Roger Dawson, penulis buku Secrets of Power Negotiating (Rahasia Negosiator Ulung), yang perlu kita lakukan adalah ‘meminta lebih dari yang kita harapkan’. Misalnya, saat membeli sebuah baju, sang penjual menyatakan bahwa harga baju tersebut Rp270.000,’ sementara kita tahu bahwa baju serupa yang banyak dijual di pasaran itu harganya berkisar Rp210.000. Yang perlu kita lakukan adalah menawar baju tersebut seharga Rp180.000 dengan asumsi pasti sang penjual tak akan melepaskan baju itu dengan harga demikian. Sang penjual pasti akan mempertahankan harga seperti harga pasaran yaitu Rp210.000.

Masih ingat dengan perundingan di Helsinki, antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 2005 silam. Jika boleh berasumsi, para perunding GAM saat itu mungkin saja sudah menetapkan batas minimal tuntutan yang bakal dipenuhi oleh pemerintah RI adalah otonomi khusus dengan beberapa hak istimewa. Mereka yakin Pemerintah RI tak mungkin memenuhi tuntutan kemerdekaan yang diinginkan mereka. Bisa jadi, dalam perundingan, perunding GAM meminta tuntutan kemerdekaan (tuntutan maksimal) sementara yang mereka harapkan hanya otonomi khusus seperti yang dinikmati selama ini.

Terkait ‘mintalah lebih dari yang Anda harapkan’ ada satu contoh yang sepertinya menarik kita simak. Oleh Roger Dawson, cerita sengaja disisipkan agar kita lebih mudah memahami prinsip awal dalam negosiasi yang dibahas dalam buku karyanya tersebut. Begini ceritanya:

Dahulu kala, di sebuah pulau di Kepulauan Fasifik, ada sepasang suami-istri yang sudah tua renta yang tinggal dalam sebuah gubuk reyot beratapkan jerami. Suatu hari angin ribut melanda desa dan memorak-porandakan rumah mereka. Karena mereka sudah terlalu tua dan miskin untuk membangun kembali gubuk itu, pasangan itu pindah ke rumah anak perempuannya yang sudah menikah.

Masuknya pasangan tua renta ini membuat keadaan keluarga anak perempuan itu menjadi tidak nyaman karena pondok itu sempit dan rasa-rasanya hanya cukup untuk keluarga sendiri—untuk dirinya, suami, dan keempat anak mereka, apalagi dengan adanya saudara-saudara ipar.

Perempuan itu lalu pergi ke seorang bijak di desa itu, menjelaskan masalah yang dihadapinya dan memohon, “Apa yang seharusnya kami lakukan?”

Orang bijak tersebut menghisap perlahan-lahan pipa rokoknya lalu menghembuskan asapnya sambil menjawab, “Kamu punya ayam, iya kan?”

“Ya,” jawabnya, “kami memiliki 10 ekor ayam.”

“Kalau begitu masukan ayam-ayam tersebut ke dalam pondokmu.”

Ini menggelikan atau aneh menurut perempuan itu, namun dia melaksanakan nasehat orang bijak tersebut. Pindahnya ayam-ayam ke dalam pondok semakin memperparah masalah dan situasi segera saja menjadi tak karuan, karena bulu-bulu ayam juga kata-kata umpatan berhamburan di dalam pondok itu. Perempuan itu kembali ke orang bijak itu lagi, memohon nasihat lagi.

“Kamu punya piaraan kambing, bukan?”
“Ya, kami punya tiga ekor kambing.”
“Jika demikian masukkan juga kambing-kambing tersebut ke dalam pondokmu.”

Lagi-lagi nasehat itu aneh menurutnya, namun rasanya tidak pantas jika ia bertanya kepada orang bijak tersebut, maka ia membawa serta ketiga ekor kambingnya masuk ke dalam pondok. Akibatnya, pondok sudah tidak layak huni lagi dengan penghuni delapan orang, sepuluh ekor ayam dan tiga ekor kambing, yang sama-sama berebut tempat apalagi ditambah suara berisik tak terkira. Suami anak perempuan itu mengeluh bahwa ia tidak dapat lagi mendengarkan radio dengan segala kegaduhan yang terjadi dalam pondok itu.

Keesokan harinya perempuan itu, cemas akan kesehatan psikologis keluarganya, datang menghadap orang bijak itu lagi dengan permohonan terakhir yang memelas. “Tolonglah,” ratapnya, “kami tidak bisa hidup seperti ini. Katakan apa yang harus saya lakukan dan saya akan melakukannya, tapi tolonglah saya.”

Kali ini jawaban orang bijak tersebut mengandung teka-teki, namun mudah dilaksanakan. “Keluarkan ayam-ayam dan kambing-kambing dari pondokmu.” Ia dengan cepat mengeluarkan binatang-binatang tersebut dan, akhirnya seluruh keluarga yang tinggal di dalam pondok itu hidup bahagia bersama-sama setelahnya.

Apa pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas? Bahwa sebuah perundingan atau negosiasi akan selalu terlihat lebih baik setelah sesuatu yang mengganjal dibuang atau diabaikan.


Bagaimana, menginspirasi bukan?

Artikel Terkait