03 November 2013

Ini Kampungku, Mana Kampungmu?

Saya lahir di Trung Campli (seharusnya Trueng Campli) seperti tertulis di KTP. Trueng Campli itu sebuah Kemukiman di kecamatan Glumpang Baro. Jangan tanya kenapa nama kampung saya aneh begitu ya. Saya sendiri tidak tahu bagaimana sejarah pemberian nama tersebut. Tapi, sebagai informasi saja, tiap selesai musim panen, warga biasanya menanam cabai (campli, bahasa Aceh). Di lahan yang ditanami cabai tersebut, sering diselip dengan menanami beberapa tumbuhan terong (Trueng, bahasa Aceh). Anggap saja, di kampungku banyak tanaman terong dan cabai.

Tiap berada di kampung, ingatan saya selalu kembali ke beberapa tahun silam. Saya sama sekali tak menduga bahwa kampungku bisa damai. Padahal, dulu kata damai sesuatu yang haram jadi sebuah pengharapan. Tak seorang pun yakin damai akan bersemi di kampung yang selalu menjadi arena pertumpahan darah. Sang penguasa di kampung sering berganti tergantung musim. Kalau lagi perang, yang berkuasa pastilah aparat TNI/Polri, sementara kalau lagi damai maka awak ateuh (sebutan untuk anggota Gerakan Aceh Merdeka) yang pegang kendali.

Sepanjang ingatan saya, saat berstatus Daerah Operasi Militer (DOM) hampir di semua kampung di Kemukiman Trueng Campli berlaku sistem keamanan lingkungan (siskamling) alias jaga malam. Di kampung-kampung lain juga demikian. Meski disebut jaga malam, sebenarnya warga yang berjaga malam di pos-pos jaga itu menjaga kehadiran aparat TNI/Polri dari Kecamatan. Kalau aparat datang dan para penjaga malam itu tertidur, maka siap-siaplah direndam di parit atau disuruh merayap di sawah yang basah.

Kalau dihitung-hitung, hampir semua warga pernah merasakan direndam di sungai (lueng, bahasa Aceh) atau merayap di sawah di malam buta. Kalau sedang sial, ada yang harus menerima bogem mentah, tendangan sepatu lars atau ayunan popor senjata. Akibatnya, warga lebih takut kepada aparat ketimbang kepada hantu. Jangan ditanya bagaimana kehidupan malam di kampung. Jawabannya sudah pasti: mencekam.

Kadang-kadang aparat mengumpulkan warga di  halaman sekolah, di dalam masjid atau di halaman meunasah. Kalau kondisi sedang baik, warga diceramahi nasehat-nasehat agama. Biasanya, tiap anggota TNI yang ditempatkan di kampung pasti ada satu orang yang cukup paham agama. Dialah yang bertindak memberikan ceramah, tentu saja dengan mengutip ayat-ayat Al Quran. Isinya macam-macam, seperti tak boleh melawan negara, tak boleh memberontak dan membuat keonaran.

Selepas reformasi, ketika orang-orang GAM yang lama di luar negeri pulang atau menampakkan batang hidungnya, suasana di kampung pun berubah. Kita menjadi sering melihat lalu lalang orang asing di kampung. Asing karena sebelumnya kita tak pernah mengenal mereka. Sama seperti TNI, mereka juga tiap malam mengumpulkan warga untuk rapat perjuangan. Ceramahnya sembunyi-sembunyi dan nyaris tak ada pengumuman seperti pemberitahuan ada ceramah yang sering dilakukan selama ini. Warga yang hadir sangat banyak. Sering tak menggunakan mic atau pengeras suara. Itu dulu. Saat Aceh sedang mabuk dalam euphoria perjuangan. Semua ingin terlibat. Menjadi anggota GAM atau ada famili yang jadi anggota GAM bisa menaikkan gengsi keluarga.

Kini kondisi kampungku benar-benar berubah. Tak lagi mencekam seperti dulu. Malam hari kembali bergeliat dan ramai. Warung kopi buka hingga Subuh. Tak ada lagi sistem keamanan lingkungan (Siskamling) alias jaga malam. Warga bebas berkumpul secara bergerombol di pos jaga tanpa harus menghadapi banyak pertanyaan aparat. Tak ada lagi sistem wajib lapor bagi warga, meski hanya sekadar setor muka ke kantor Koramil atau Polsek di kecamatan. Warga menikmati damai yang sesungguhnya. Kedamaian inilah yang kini dinikmati segenap warga.

Dulu, ibukota kecamatan nyaris lumpuh. Karena warga enggan ke pasar, selain takut juga karena bosan harus menghadapi pertanyaan yang selalu sama dari aparat keamaan, seperti ‘apakah ada orang GAM di kampung?’, ‘Siapa yang memilihi hubungan keluarga dengan anggota GAM’ dan lain sebagainya. Kalau tak ada kewajiban Salat Jumat, saya yakin tak ada warga yang sudi melewati pasar ibukota kecamatan. Sebelum dimekarkan menjadi kecamatan tersendiri waktu Darurat Militer, pasar itu masih dikenal dengan pasar kemukiman Trueng Campli. Kami biasa menyebutnya keude lueng (pemberian nama ini mungkin saja karena di sisi pasar itu ada sungai). Hari pekan di pasar itu jatuh tiap Selasa, sehingga sering pula disebut Keude Lasa (Lasa artinya Selasa dalam Bahasa Aceh).

Sepanjang tahun 1989-1998, tiap desa ditempatkan 12 personil TNI. Mereka kebanyakan dari satuan Kopassus. Keberadaan mereka untuk mencari sisa-sisa anggota GAM yang masih berkeliaran di kampung. Di satu sisi keberadaan mereka membuat kampung aman, tetapi sama sekali tidak damai. Karena tak sedikit pula masyarakat yang merasa terintimidasi, tidak bisa berbuat apa-apa. Kemana-mana harus melapor. Di sisi lain, kehadiran mereka menciptakan rasa takut. Sebab, jika ada anaknya pulang dari perantauan, sang ayah harus menghadapi banyak pertanyaan, kadang-kala diselingi dengan perlakuan kasar. Kehidupan masyarakat benar-benar diawasi secara ketat.

Saat itu, aparat TNI biasanya menempati salah satu sudut dalam pekarangan meunasah (surau). Mereka kadang menggunakan gudang meunasah. Keberadaan mereka membuat shalat berjamaah berhenti total, kecuali Magrib. Sementara Isya dan Subuh sama sekali tidak ada. Sebab, tak ada warga yang berani lagi keluar rumah. Padahal jam malam tidak diberlakukan secara resmi. Tapi, sangat besar risiko keluar rumah dalam rentang waktu menjadi jam malam itu. Akhirnya, warga memilih Salat di rumah masing-masing.


Itu dulu, saat damai belum bersemi di sini, di kampung saya ini. Kampung yang jauh di pelosok, dan nyaris tak tertulis di dalam peta. Sekarang, kehidupan warga semakin bergeliat. Tak lagi gelap (kecuali sesekali saat orang PLN usil) dan mencekam. Inilah berkah dari perdamaian yang selayaknya dinikmati bersama, tak boleh lagi ada pihak-pihak yang mencoba menyulut bara konflik, yang sebenarnya tak sepenuhnya padam itu. Saya beruntung, tiap berada di kampung selalu mengingat masa-masa lalu, dan membandingkannya dengan kondisi sekarang. Ada yang perlu disyukuri, memang. Begitulah kampungku, bagaimana dengan kampungmu? []

Artikel Terkait

7 comments