04 August 2014

Orang Aceh Tukang Kawin?

Senin-Jumat, telur Medan masuk Aceh. Sabtu-Minggu, telur Aceh masuk Medan.

Awalnya, tulisan ini hanya sekadar keisengan belaka. Memang, sudah lama saya mau menulis tentang ini, tetapi tak kunjung kesampaian. Bukan hanya karena tema ini takut dipandang melabrak rambu ‘abu-abu’, melainkan juga ini lebih terkait masalah personal dan perilaku sebagian orang Aceh, tak bisa digeneralkan begitu saja. Tapi, menulis tetaplah menjadi medium pembelajaran, mencari sesuatu yang belum kita tahu, sehingga kita terpuaskan dari rasa penasaran.

Sekali pun bahasan kita sangat serius, terutama kalau diperhatikan dari judul, tapi ini murni (seperti disinggung di atas) hanya sekadar iseng-iseng saja. Saya tidak tahu persis, apakah sudah pernah ada penelitian sebelumnya yang menunjukkan orang Aceh tukang kawin atau tidak. Agar tidak terkesan men-judge, saya sengaja menambahkan tanda tanya di depan judul, bentuk kehati-hatian saya dalam membuat kesimpulan.

Sebab, soal beginian masih sangat sensitif dibahas. Memang, dalam hal isi selangkang, orang Aceh tak pernah ragu-ragu membahasnya, dan seolah-olah hal itu hanya perkara biasa saja. Bahkan dalam hadih maja (ungkapan bijak yang hidup dalam masyarakat Aceh), soal isi selangkang, sering disebutkan secara lugas dan tegas, sekali pun bukan dimaksudkan untuk mengumbar syahwat secara vulgar. Sekadar contoh, ‘ureueng Aceh munyoe hana tupeh, boh kreh juet taraba’*). Ungkapan ini menunjukkan bahwa dalam hal bersahabat dan berkawan, orang Aceh sering tak memperdulikan ukuran apapun, termasuk sesuatu yang tabu. Hal-hal yang sangat pribadi pun tak menjadi ganjalan untuk disentuh demi nilai-nilai persahabatan.

Dalam pergaulan sehari-hari, soal isi selangkang ini sering disandingkan dan terkait erat dengan keberanian. Ukuran seberapa besar isi selangkang dipandang mewakili keberanian, terutama ketika dihadapkan pada hal-hal prinsipil dan ketika menantang lawan. “Munyoe na kreh kapreh kei bak simpang,”**) demikian biasanya seorang pejantan Aceh mengajak duel orang-orang yang dipandang sebagai lawan.

Perang panjang di Aceh, baik perang melawan Portugis, Belanda, Jepang, dan bahkan perang dengan Indonesia, menjadi contoh seberapa jantan (na kreh) orang Aceh. Ini juga seakan-akan menegaskan, kejantanan tak hanya dinilai dari seberapa kuat mereka berduel di ranjang, melainkan juga saat bertempur di medan perang. Hal ini sudah menjadi filosofi hidup di Aceh, bahwa kemulian seorang suami di Aceh bukanlah mati di ranjang sambil memeluk istrinya, melainkan syahid dalam perang melawan musuh. Tentang hal ini dapat kita pelajari dari Hikayat Perang Sabi karangan Teungku Syik di Pante Kulu, bahwa sebuah aib besar dan menjadi bahan pergunjingan di Aceh jika seorang suami mati di ranjang di rumah istrinya.

Begitu mulianya kedudukan orang yang meninggal di medan perang, sehingga para istri yang ditinggal mati suaminya karena perang memilih untuk melanjutkan perjuangan sang suami. Para istri ini pula memilih menikah dengan lelaki lain yang juga pejuang, agar dapat melanjutkan tugas suaminya melawan musuh. Kisah Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan lain-lain kiranya mampu menjelaskan tentang hal ini. Bahkan, dalam perang Aceh-Jakarta, banyak istri pejuang GAM misalnya memilih menikahi anggota GAM lain agar bisa menuntut balas. Jumlah wanita seperti ini tentu tak sedikit di Aceh.

Lalu, apakah ada hubungan antara kejantanan dengan menikahi lebih satu wanita? Saya belum menemukan referensi yang memadai, setidaknya hingga tulisan ini ditulis. Tapi, dalil-dalil agama, misalnya, membolehkan seorang laki-laki mengawini empat wanita asalkan mampu berlaku adil, memberi sedikit pencerahan kepada kita bahwa Tuhan pun memandang persoalan ini begitu penting. Saya bukan ahli tafsir, sehingga tak mampu menjelaskan secara detil, makna di balik kandungan dalil tersebut. Sebagai pencipta, Tuhan tentu saja lebih mengetahui tentang seluk-beluk makhluk ciptaannya. Secara kasar, boleh kita duga-duga, jangan-jangan di balik dalil bolehnya seorang laki-laki mengawani lebih dari satu wanita menjadi tanda dan terkait erat dengan soal kejantanan. [Lelaki loyo mana berani menikahi banyak wanita, dengan satu saja sudah nyerah, kan?]

Diakui atau tidak, wanita memang menjadi penyemangat sang suami. Ada orang mengatakan, bahwa di balik kesuksesan seorang lelaki, ada wanita hebat di belakangnya. Ketika perang Badar, misalnya [saya bukan sejarawan, jadi mohon diperiksa lagi informasi ini], Rasulullah membolehkan para istri-istri kaum muslimin ikut maju ke medan perang, mendukung para suami mereka. Mereka memang tidak ditempatkan di barisan depan, melainkan sebagai tenaga support logistik dan pemberi semangat untuk suami. Bisa jadi juga, mereka melayani para suami di sela-sela rehat perang [dulu perang ada waktu jedanya] untuk memulihkan stamina.

Kita juga teringat kisah tragis Kim Bok-dong saat Perang Dunia kedua, yang waktu itu berusia 14 tahun diperintahkan tentara pendudukan Jepang di Korea Selatan bekerja di pabrik seragam militer, tapi kemudian dikirim ke rumah pelacuran yang dikelola militer Jepang. Di tempat ini, dia harus melayani lebih kurang 15 serdadu Jepang setiap hari. Kisah-kisah soal rumah bordir yang dibangun serdadu Dai Nippon bukan isapan jempol belaka, kita bisa mencarinya di internet. Kita tidak tahu, apakah penyediaan rumah bordir tersebut semata-mata untuk memuaskan nafsu bejat serdadu atau untuk memberi semangat bagi mereka dalam perang di Asia Timur Raya. Selain itu, kita juga membaca soal tragedi Nanking, ibukota Cina waktu itu, di mana ribuan perempuan dewasa dan anak-anak diperkosa, setelah dibunuh setelah organ seksualnya dirusak.

Di medan perang mana pun, perempuan sering menjadi simbol kelemahan. Seolah-olah berlaku rumus, jika ingin merusak mental lawan, maka perkosa dulu wanitanya. Seakan-akan jika perempuan di kubu lawan belum ditundukkan maka akan sulit menghancurkan perlawanan musuh. Saya kira, kenapa di medan perang, termasuk dalam perang Aceh, pemerkosaan menjadi senjata pamungkas membungkam lawan. Sebab, selama perempuan belum disentuh, mereka akan memberi energi lebih untuk para lelakinya berperang. Mudah-mudahan kesimpulan saya ini salah.

Beberapa waktu lalu, saat Piala Dunia 2014 di Brazil, sebelum laga Belanda melawan Spanyol, skuad Timnas Belanda diperbolehkan berkumpul dengan keluarganya (istri, pacar atau teman dekat) padahal dulunya hal ini termasuk tabu dilakukan karena akan menurunkan stamina. Tetapi, apa yang terjadi? Belanda secara perkasa membungkam Spanyol dengan skor 5-1! Saya tak tahu pasti apakah keperkasaan pasukan Orange tersebut punya hubungannya dengan dibolehkannya mereka bergaul dengan istri dan keluarga?

Kembali ke soal orang Aceh tukang kawin, apakah benar demikian? Dalam beberapa obrolan ringan dengan kawan-kawan di warung kopi, sekali pun secara bercanda, menyiratkan sebuah kesimpulan bahwa sebenarnya orang Aceh tukang kawin. Bahkan, si kawan tersebut [dengan mimik serius] meminta saya menulis dan meneliti masalah ini secara serius dengan memperhatikan beberapa pemimpin di Aceh yang menikahi lebih satu wanita. Bahasan itu sudah lama sekali, dan kembali teringat ketika seorang kawan berkicau di Twitter, ‘sebagian besar pemimpin Aceh hidup dengan istri kedua, Malik Raden, Abdullah Puteh dst...’ Oh ya, kawan ini bukan sembarang orang juga, dia punya posisi penting di sebuah partai politik nasional di Aceh.

Waktu membaca kicauan tersebut, saya hanya menanggapi sekadarnya saja, ‘Jangan sampai muncul mitos bang, bahwa kalau ingin jadi pemimpin di Aceh harus beristri dua LOL.’ Kawan tersebut kemudian menimpali lagi, ‘Istri dua dan hidup dengan istri kedua beda dunk!’ Bahkan, katanya, dia pernah menyarankan kepada seorang temannya, Ketua Partainya, agar menikah lagi agar jadi Gub. ‘....tapi ketakutan maka tak jadi...’

Lalu, saya pun mencoba memastikan apakah kesimpulan teman tersebut benar atau hanya bualan belaka. Saya mendapat sedikit pencerahan, bahwa  Gubernur Abdullah Puteh, hidup dengan istri kedua, Marlinda Purnomo; Irwandi Yusuf hidup dengan istri kedua, Darwati A. Gani; Bupati Mustafa A Glanggang rupanya juga memiliki istri dua; Muhammad Nazar belakangan beredar kabar di sosial media juga sudah beristri dua; Mualem (Muzakkir Manaf) konon juga memiliki istri lebih dari satu. Deretan ini saya pikir masih bisa diperpanjang.

Kalau kita amati perilaku orang-orang Aceh, kita akan mendapati banyak fakta yang mencengangkan, ternyata orang Aceh banyak juga hidup dan menikahi lebih dari satu istri. Di kalangan petinggi GAM, misalnya, dari info yang beredar banyak di antara mereka menikahi lebih satu wanita. Sebagian besar pejabat juga memiliki istri lebih dari satu. [coba cari tahu sendiri siapa saja mereka, hehehe]. Di level nasional seperti terungkap di media, beberapa petinggi partai nasional juga memiliki istri lebih dari satu, salah satunya petinggi partai yang dikenal sebagai partai dakwah.

Seolah-olah ada mitos bahwa lelaki yang menikahi lebih dari satu perempuan dipandang sebagai lelaki jantan, dan ukuran kejantanan pun dinilai dari seberapa perkasa seorang lelaki di ranjang. "Kita boleh tidak punya banyak duit, tapi selama kita kuat di ranjang, perempuan tak akan berpaling ke lain hati," kata temanku suatu ketika. Bahkan, lelaki yang menikahi lebih satu wanita dianggap memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.

Lalu, benarkah orang Aceh tukang kawin? Saya tak kuasa menjawabnya, dan lebih senang mengutip ungkapan yang cukup populer belakangan ini di Aceh, seperti dikutip di awal tulisan ini. []

*) Orang Aceh kalau tak tersakiti hatinya, [maaf] testis boleh diremas/dipegang
**) Kalau punya [maaf] penis, tunggu saya di persimpangan

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far