Sosial

Orang Aceh dikenal sangat sosial. Sejak zaman dulu, orang Aceh sudah terkenal murah hati dan suka menolong orang lain yang lagi membutuhkan. Sejarah mencatat, ketika masa perjuangan kemerdekaan, orang Aceh rela menggadaikan nyawa dengan berperang sampai ke Medan, yang dikenal dengan perang Medan Area.

Pascakemerdekaan atau ketika Indonesia yang baru diproklamirkan Soekarno butuh bantuan, orang Aceh di kampung-kampung menjual apa saja, termasuk perhiasan yang paling berharga untuk disumbangkan membeli pesawat terbang. Bukti nyata, dapat dilihat di Blang Padang, pesawat replika yang dibeli dari sumbangan masyarakat Aceh. Saat Indonesia dilanda krisis moneter pada tahun 1997, masyarakat Aceh juga tergerak hati menolong Negara.

Jadi, kalau berbicara nasionalis, orang Aceh sebenarnya sangat nasionalis. Sangat aneh, ketika muncul pernyataan yang meminta orang Aceh menjadi nasionalis. Soalnya, meski orang Aceh berjuang memisahkan diri dari Indonesia, itu tetap karena orang Aceh sangat nasionalis. Artinya, orang Aceh tidak mau pemerintah RI terlalu memikirkan Aceh sementara lupa pada pembangunan di kawasan lain yang lebih membutuhkan.

Karena suka menolong dan murah hati tersebut, muncul pepatah yang terkenal di kalangan masyarakat Aceh: “Ureung Aceh munyoe hana teupeh pade bijeh geupeutaba, tapi munyoe ka teupeh, bu leubeh han geupeutaba.” Jika orang sudah memahami pepatah ini, sangat mengerti kenapa Aceh sering bergolak. Hal itu tak lain, karena orang Aceh selalu disakiti.

Bukti murah hati orang Aceh, dapat dilihat juga dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kampung-kampung bahwa ikatan sosial orang Aceh masih sangat kuat. “Po minah, lon cok boh limeng dua boh beh?” (Kak Minah, saya ambil belimbing dua buah ya?) Jangan berfikir bahwa boh limeng yang diambil itu hanya dua buah.

Kemudian, di kampung juga masih berlaku adat saling intat makanan. Jika satu keluarga memasak Kuah Pliek U, pasti para tetangga di sekeliling rumah dibagi Kuah Pliek U satu mangkok. Keluarga yang dikasih Kuah Pliek U juga tahu diri, karena ketika dia mengembalikan mangkok tersebut, sering di dalam mangkok ada isinya. Yang pasti ketika dikembalikan, mangkok tersebut tidak kosong.

Dalam hal Seumula (menanam padi), juga berlaku hal yang sama. Jika satu keluarga menanam padi, biasanya orang sekeliling rumah membantu. Besoknya, ketika orang di sekeliling rumah itu Seumula, juga dibantu oleh orang yang pernah ditolong. Tradisi seperti ini sudah berlangsung turun temurun, hanya saja sekarang sudah mulai terkikis, dan diganti dengan tradisi saling membayar.(HA 270508)

Post a Comment

Previous Post Next Post