Makna Bendera dan Lambang GAM

Euphoria bendera dan lambang Aceh menjalar di seluruh Aceh. Beberapa pengguna BB memasang lambang atau bendera GAM sebagai display picture (DP), begitu juga pengguna twitter mengganti dengan gambar bendera atau lambang, termasuk juga pengguna facebook.

Di Beberapa daerah, warga mulai berkonvoi mengarak bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Apakah Aceh sudah merdeka sehingga rakyat berani mengarak bendera yang pernah ‘diharamkan’ pemerintah pusat dikibarkan di Aceh?

Euphoria itu merupakan buntut dari pengesahan Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh oleh DPRA pada Jumat (22/3/2013). Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan duet mantan GAM, Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf, mulai Senin (25/3/2013) resmi menetapkan bendera dan lambang Gerakan Aceh Merdeka tersebut sebagai bendera dan lambang resmi propinsi Aceh. Qanun tersebut sudah diundangkan dan ditempatkan dalam Lembaran Aceh tahun 2013 Nomor 3 dan tambahan Lembaran Aceh Nomor 49.

Dalam Qanun Bendera dan Lambang Aceh itu, bendera Aceh berbentuk segi empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 dari panjang, 2 buah garis lurus putih di bagian atas, 2 buah garus lurus putih di bagian bawah, 1 garis hitam di bagian atas, 1 garis hitam di bagian bawah. Pada bagian tengah bendera terdapat gambar bulan bintang dengan warna dasar merah, putih, dan hitam.

Untuk lambang terdiri atas gambar singa, buraq, rencong, gliwang, perisai, rangkaian bunga, daun padi, jangkar, huruf ta tulisan Arab, kemudi dan bulan bintang dengan semboyan Hudep Beu Sare Mate Beu Sajan.

Lalu, apa makna bendera dan lambang tersebut? Begitulah kata kunci (keyword) yang dicari beberapa pengguna internet, dan kebetulan menjadi kata kunci yang paling banyak dicari di blog saya. Baiklah, saya akan bahas singkat saja, berdasarkan pengetahuan dan literature yang saya tahu.

Apa yang saya tulis ini berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh dari dua kali mengikuti Acehnese Education, pertama di Alue Dua, Nisam, Aceh Utara, dan kedua pengajian rutin di Kantor Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) saat bulan ramadhan. Di kedua kesempatan tersebut, hadir Teungku Yahya Muaz, yang sebelumnya dikenal sebagai Juru Penerangan ASNLF Komando Pusat Tiro.
Bendera dan lambang GAM

BENDERA
Garis hitam memiliki makna bahwa kerajaan Aceh sempat vakum (kekosongan kekuasaan) sekaligus sebagai tanda mengingat para syuhada.

Garis putih memiliki makna bahwa perang mencapai kemerdekaan merupakan perang suci, dan yang gugur dalam perang tersebut mendapat pahala syahid.

Dasar (tanah) berwarna merah memiliki makna bahwa Bangsa Aceh wajib mempertahankan dan membela yang hak serta menghancurkan yang bathil.


Bintang lima memiliki makna representasi rukun Islam lima, sementara bulan berarti sebagai cahaya iman.

Singkatnya, makna umum bendera GAM tersebut adalah bangsa Aceh rela berkubang darah untuk membela yang hak dan menghancurkan yang bathil, menjalankan rukun islam di bawah lindungan cahaya Iman (Bansa Atjheh neutem meuro darah untuk peudong njang hak dan peu hantjoe njang bateu neupeudjak rukon Islam dimijueb lindungan tjahaja iman.)

Pengibaran bendera GAM sering dilakukan berbarengan dengan lantunan suara adzan. Kenapa harus adzan? Dasar hukumnya adalah, ketika Rasulullah menaklukkan kota Mekkah, Rasulullah meminta Bilal bin Rabbah mengundangkan adzan sekaligus pengibaran bendera kemenangan. Ini sesuai dengan salah satu lafaz adzan, haiya-alal-falah (mari menuju kemenangan).

LAMBANG
SINGA merupakan sebagai simbol kedaulatan Aceh (The Lion crowned: Symbol of sovereignty of the state of Aceh). Artinya, Aceh merupakan Negara berdaulat dan independen di Pulau Sumatera, memiliki territorial, rakyat, memiliki kepala Negara dan konstitusi, dan berlaku Adat bak Po Teumeureuhom.

BURAQ merupakan binatang yang berlari secepat kilat dalam mitologi Islam (Buraq: Islamic mythology). Buraq di sini berarti cahaya. Dalam mitologi Islam, buraq berarti adalah kenderaan yang digunakan Nabi Muhammad SAW selama Isra’ dan Mi’raj (Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Jerusalem, dan dari sana sampai ke Sidratul Muntaha, dan kembali lagi ke Mekkah). Filosofinya, ini adalah simbol komunikasi yang sangat cepat, keindahan, loyalitas, dan global. Artinya, orang Aceh harus berpikir global dan bertindak lokal. Selain itu, Buraq berarti hukom bak Syiah Kuala.

BULAN SABIT dan BINTANG (Crescent & Star). Bulan dan Bintang lazim disebut sebagai simbol Islam. Islam adalah konstitusi negara dan cara hidup orang Aceh (The Symbol of Islam. Islam is the constitution of the state and the way of life of the Achehnese). Artinya, bintang berarti rukun Islam yang lima, sementara bulan merupakan cahaya iman.

RENCONG, PERISAI, dan GLIWANG adalah simbol reusam Negara Aceh (Reusam adalah alat untung menegakkan adat dan hukum, dalam hal ini dilakukan oleh laksamana dan bintara). Rencong merupakan senjata khas Aceh yang merupakan simbol pertahanan. Rencong dibuat dengan desain khusus dari kata Arab: "Bismillah" artinya dengan nama Allah (The Symbol of defence, Rincong is made with special design from the Arabic word: "Bismillah" means with the name of Allah)

Padi merupakan lambang kemakmuran. Pade peunadjoh phon bansa Aceh (Padi merupakan makanan sehari-hari orang Aceh). Simbol rantai (renek-renek) merupakan Qanun Neugara Aceh. Lambang Sauh merupakan tempat tersangkut pulau Aceh, dua garis di atas sauh melambangkan majelis tuha peut Neugara Aceh, dan empat garis silang melambangkan Majelis Tuha Lapan Neugara Aceh.

Teks di bawah lambang “hudep beusare mate beu sajan” merupakan rakyat Aceh harus hidup secara jantan dan mati bersama-sama ("Tiger in life, together in death"). Simbol ini juga bermakna loyalitas nasional (Symbol of national loyality).

Dalam lambang tersebut juga ada roda kemudi yang memiliki huruf T dalam roda. Huruf "T" adalah simbol dari kata pertama dari abjad gelar kebangsawanan Aceh. Yaitu Tuanku, Tengku dan Teuku. Ini adalah simbol persatuan dari penguasa Aceh.

Kenapa lambang itu dieja Lambang Buraq-Singa? Padahal kalau diperhatikan lambang, kita harus mengejanya dengan Lambang Singa-Buraq (gambar Singa lebih duluan). Dalam bukunya, Buraq vs Garuda, Indra J Piliang yang meneliti khusus pengaruh lambang dalam perang Aceh-Jakarta menyimpulkan, sistem membaca orang Aceh mengikuti ejaan Arab, dari kanan ke kiri. Jadilah, lambang itu disebut duluan Buraq (berada di sisi kanan).

Lambang tersebut merupakan hasil ciptaan pendiri Gerakan Aceh Merdeka, Teungku Hasan di Tiro. Deskripsi lambang dalam bahasa Inggris dilakukan oleh dr Husaini Hasan. Sekilas lambang itu mirip dengan lambang kerajaan Turki. []

---- note: tulisan ini saya tulis karena banyak sekali pengguna internet mencari kata kunci “Makna Lambang Buraq-Singa” yang didirect ke blog saya ini. Mudah-mudahan ini bisa menjawab keingintahuan kita bersama.

Post a Comment

Previous Post Next Post