31 May 2008

Hobi

Dulu, saat masih duduk di bangku SD, banyak murid sekolah kalau ditanya gurunya mau jadi apa, jawabannya pasti beragam. Banyak dari mereka ingin jadi pilot. Ada juga yang ingin jadi dokter, dan tak sedikit yang ingin jadi presiden. Jarang kita mendengar ada anak yang mau jadi Bupati, Walikota atau camat. Bisa jadi, karena anak-anak saat itu tidak begitu tahu tentang posisi Bupati, Walikota atau camat.


Yang aneh, cita-cita tersebut lahir dari anak-anak yang sekolah di pedalaman, ujung kampung atau di kawasan yang sama sekali tidak masuk dalam peta. Meski demikian, kita patut berbangga, karena sejak anak-anak, walaupun tinggal di pelosok, sudah menggantung cita-citanya setinggi langit. Itu sebuah pertanda, bahwa naluri manusia sudah sejak kecil sudah punya keinginan untuk maju.

Keinginan atau cita-cita setinggi langit tersebut bukan sebuah kesalahan. Karena, ketika manusia tidak punya cita-cita dan keinginan, mereka hanyalah mayat hidup. Manusia seperti itu tak pernah mampu merancang masa depannya sendiri, karena mereka menjadi produk gagal dari sejarah kelahiran.

Tapi, keberhasilan dan kesuksesan tidak pernah ditentukan oleh dari mana kita berasal, dan anak siapa? Karena kesuksesan tersebut sama sekali bukan produk rekayasa lingkungan atau dibentuk khusus oleh orang tua kita.

Kesuksesan sangat ditentukan oleh konsistensi kita mencintai apa yang kita cita-citakan dan selalu beristiqamah menggapainya. Saya jadi ingat, seorang pakar yang banyak terlibat dalam training-training kepemimpinan , motivasi dan manajemen perusahaan, Dale Carnegie, pernah mengungkapkan: Orang jarang mencapai kesuksesan, kecuali orang tersebut mencintai apa yang mereka lakukan.

Kita sepakat dengan Carnegie, soalnya dia sendiri memulai kesuksesannya dengan kegagalan demi kegagalan. Konon, menurut cerita, Carnegie dibesarkan dalam kemiskinan. Sejak remaja sudah bercita-cita bisa berpidato di depan publik, namun berkali-kali gagal. Bukan hanya itu, ia juga gagal dalam lulus ujian latin. Tak puas dengan nasibnya, ia pindah ke New York, dan menekui bidang penjualan. Di bidang ini, nasibnya juga tidak beruntung. Kemudian ia melamar pekerjaan di sebuah lembaga untuk mengajar berpidato, dengan gaji 2 dollar setiap sesianya. Meski sudah gagal terus menerus, dunia kini mengenalnya sebagai motivator besar abad 20. Bahkan dia mendirikan lembaga atas namanya, Dale Carnegie Institute for Effective Speaking & Human Relation, dan telah melatih orang-orang di seluruh dunia.

Yang ingin saya sampaikan, banyak sekarang pejabat memberi motivasi kepada orang lain ketika berhasil, dengan membanggakan diri bahwa dulunya dia termasuk orang yang sukses. Padahal, kesuksesan tersebut didapatkan secara instan, tanpa melalui perjuangan berat.

Pokoknya, macam-macam jenis manusia. Ketika berhasil, banyak hal yang ingin dilakukan, dan punya hobby macam-macam. Padahal, dulunya kita mengenal dia tidak seperti itu. Ketika sudah jadi pejabat, belajar main golf dan menyanyi. Dulu, bidang tersebut sama sekali bukan bidangnya. Ada-ada saja. (HA 310508)

Artikel Terkait