07 July 2008

Big Lie

Judul pojok hari ini termasuk aneh, Big Lie. Bukan maksud sok modern karena menggunakan bahasa Inggris, tapi memang judul ini yang cocok. Kalau diterjemahkan bebas berarti “kebohongan besar”. Saya sengaja menulis ini, karena sekarang banyak orang atau katakanlah para pejabat membohongi rakyat. Apa yang disampaikan mereka sering hanya sebagai suatu kebohongan, tetapi karena diulang terus menerus, orang jadi percaya bahwa itu adalah benar.
Istilah Big Lie atau dalam bahasa Jerman, Argentum ad nausem, ini sebenarnya teknik yang digunakan Paul Joseph Goebbels (29 Oktober 1897-1 Mei 1945), orang kepercayaan Adolf Hitler, yang diberi posisi kunci sebagai Menteri Propaganda Nazi. Goebbels menjadi orang ketiga yang paling populer di Jerman setelah sang Fuehrer dan Martin Bormann. Tetapi kematiannya termasuk tragis, karena saat Jerman kalah perang, Goebbels bunuh diri bersama anak-istrinya.

Prinsip Big Lie sederhana saja, “Sebarkan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran.” Cukup sederhana, tapi mematikan. Menurut Goebbels, kebohongan yang paling besar adalah kebenaran yang diubah sedikit saja.

Dulu, ketika Aceh masih dibalut konflik, setiap kejadian, si wartawan pasti mengonfirmasi kejadian tersebut kepada aparat yang berwenang. Misalnya, seorang wartawan melihat langsung suatu kejadian, di mana aparat menembak anggota masyarakat.
Tetapi, karena ingin berita berimbang, si wartawan mengonfirmasi sama pejabat aparat berwenang. Si pejabat lalu mengatakan, yang menembak itu bukan anggotanya, karena aparat keamanan kan tugasnya menjaga dan mengayomi masyarakat. Si wartawan, meski sudah jelas-jelas melihat dengan mata kepala bahwa yang menembak adalah aparat, tetapi tidak berani menulisnya, dan lebih senang mengutip ucapan pejabat berwenang, bahwa aparat tidak mungkin menembak masyarakat.

Si pejabat otomatis sudah melakukan “pelintir” atas suatu peristiwa dan fakta, dan menyebarkannya melalui media. Berita tersebut kemudian jadi propaganda dan mempengaruhi opini publik. Publik yang awam tentu saja percaya begitu saja dengan berita tersebut, karena tidak mengetahui masalah tersebut dengan detail. Jadi, berita berubah menjadi dusta. (HA 070708)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon