03 July 2008

Haree Gini Masih Ingin Kuliah!?

Oleh Taufik Al Mubarak

Pertama, mohon maaf jika tulisan saya terlalu provokatif dan mengecilkan fungsi kuliah. Saya sama sekali tak bermaksud mengecilkan dunia pendidikan. Hanya saja, saya mengajak para calon mahasiswa baru merenung, untuk apa sebenarnya kuliah? Kedua, saya ingin memberi gambaran bahwa kuliah bukanlah satu-satunya wadah bagi kita untuk belajar, karena masih banyak tempat lain yang bisa kita jadikan tempat belajar, dan menjadi pintar.


Jika keinginan kuliah karena semata-mata karena ingin pintar, masuk IAIN atau Unsyiah, atau malah kampus-kampus lain bukan jadi solusi. Saya hanya takut, keinginan anda tidak tercapai. Soalnya, apa yang ditawarkan oleh bangku kuliah hari ini, hanya biasa-biasa saja, tidak kental warna akademisnya. Belum lagi, banyak dosen-dosen senior yang terserang penyakit malas, jika harus berada di dalam ruangan, karena honor atau bayaran yang rendah. Tak heran, jika banyak dosen senior sekarang memilih bekerja di BRR, NGO atau lembaga penelitian, dengan bayaran melimpah (dua puluh kali lipat dari gaji yang dia terima dari kampus).

Jadi, ketika kenyataan kampus sekarang seperti ini, bisakah menjadi tempat yang cocok mendidik anda jadi pintar? Soalnya, dengan sekedar kuliah di Darussalam, anda tidak lantas jadi pintar. Karena banyak mahasiswa yang pernah kuliah, hanya biasa-biasa saja, malah ada yang malas menyelesaikan kuliah.

Jangan salah pengertian dulu, karena saya yakin, keinginan anda kuliah sama sekali bukan ingin pintar. Anda hanya malu sama teman-teman anda (teman SMA) yang memilih kuliah, atau anda malas berada di kampung, karena dianggap tidak modern, atau anda ingin mendapatkan suasana baru, yang berbeda dengan kampung anda sendiri. Tetapi, banyak keinginan kuliah karena didorong oleh alasan biar nanti gampang mendapatkan pekerjaan atau jadi PNS! Jika ini keinginan anda, pilihan anda kuliah sudah tepat.

Tetapi, saya sarankan, agar harapan anda tidaklah muluk-muluk. Saya yakin, anda pergi kuliah karena sekedar bisa mengantongi ijazah! Dan lalu anda dianggap sebagai orang berpendidikan. Benar kan?

Saya hanya mau sampaikan satu hal, bahwa kuliah tidak mengubah apapun, jika anda tidak punya keinginan mengubah masa depan anda. Saya ingin kasih contoh, bagaimana seorang Budi Putra, memilih berhenti bekerja di sebuah Majalah ternama di Indonesia, TEMPO, dan memilih bekerja sendirian sebagai blogger. Ya…sekarang lagi zamannya berasyik-ria blogger. Tidak dianggap gaul jika belum memiliki blog, friendster, facebook, fupei dan lain-lain.

Semua orang terperangah, saat mengetahui Budi Putra mundur dari TEMPO. Semua tahu kapasitas Majalah TEMPO, karena semua orang berharap bisa menjadi bagian dari kesuksesan TEMPO di bidang media. Tetapi, ternyata Budi Putra memilih bekerja sendiri, tanpa mau didikte oleh deadline atau hal-hal lain yang membuat dia jauh dari watak kemanusiaannya sebagai manusia yang punya keluarga, teman, dan keinginan bermain. Bekerja sendiri, seperti jadi blogger, bisa membuat dia bebas. Bebas menulis apa saja, kapan saja, dan di mana saja. Karena kerja sebagai blogger tak mengenal waktu.

Tapi, bekerja jadi blogger tidak menghasilkan duit? Mungkin itu pertanyaan yang muncul, karena di TEMPO seperti kita tahu pasti gajinya sangat besar. Siapa bilang bekerja sebagai blogger tidak menghasilkan duit? Soal duit, sangat tergantung pada diri kita masing-masing. Tanpa bekerja di TEMPO pun, kita masih bisa menghasilkan duit. Dunia sekarang, seperti disampaikan Yasraf Amir Piliang, penulis buku “Dunia yang Dilipat” sangatlah kecil. Untuk mendapatkan uang atau dolar dari Google, sebuah perusahaan mesin pencari yang paling terkenal, kita cukup hanya duduk di kamar, dan menulis di blogger dengan tema-tema menarik, sambil menunggu pecandu internet singgah ke blog kita.

Bagaimana bisa menghasilkan duit dengan hanya duduk di kamar? Jika pertanyaan ini diajukan kepada Cosaaranda (www.cosaaranda.com), seorang aktivis blogger yang pernah dimuat profilnya di Koran Tempo pasti akan tertawa. Soalnya, Cosa bisa menghasilkan duit dalama sebulan antara Rp20 juta sampai Rp40 juta. Kok bisa? Bisa saja. Blog atau website Cosa yang jumlahnya puluhan jadi media memasarkan iklan Google Adsense atau produk online lainnya. Setiap orang yang mampir dan mengklik iklan tersebut, bisa dapat duit.

Trus, apa hubungannya dengan bahasan kita ini? Ada lah. Saya ingin sampaikan bahwa internet sekarang bisa membuat kita jadi apa saja. Dosen-dosen kita juga sebelum masuk ruang, pasti bahan-bahan kuliahnya dia cari di internet. Karena di internet, semua informasi tersedia. Artinya, tak ada kebutuhan anda terhadap informasi yang dibatasi oleh internet. Mau jadi pintar, mau jadi kaya, mau jadi orang terkenal atau mau jadi orang jahat, internet bisa mewujudkan impian anda.

Mesin pencari Google, misalnya. Bagi saya, Google itu seorang professor yang tidak ada tandingan dan bandingannya. Dia sangat mengerti kebutuhan kita. Google bisa jadi berbeda dengan dosen atau guru kita. Jika guru kita lebih banyak mendikte dan mendoktrin, maka Google melakukan hal sebaliknya. Jika dosen kita biasanya tidak mampu menjawab setiap pertanyaan kita (jika menjawab pun lebih banyak ngawur, dan kita tidak puas), maka Google menjawab pertanyaan kita sampai tuntas. Google, tak hanya memberi satu perspektif kepada kita, melainkan banyak perspektif. Dia menawarkan banyak pilihan. Terserah kita mau mengambil jawaban yang mana.

Jika Google bisa melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang dosen di bangku kuliah, masihkah kita menganggap kuliah adalah segala-galanya? Jika Google lebih mampu membuat kita pintar, haruskah kuliah jadi pilihan kita? Jangan salahkan saya, ketika saya melontarkan pertanyaan usil, Haree Gini Masih Ingin Kuliah!?

Artikel Terkait

3 comments

dosen saya memang tak sehebat google, mereka semua adalah manusia2 biasa, mereka mempunyai keterbatasan dalam kehidupannya, mereka pintar, tetapi tidak sangat , ilmu mereka terbatas, mereka juga mahluk yang lemah , tetapi saya bangga kepada mereka, mereka mengajarkan saya tentang kehidupan, tentang peluang, tentang kemanusiaan , mereka mengajarkan saya untuk memahami manusia sebagai manusia, memahami manusia dengan keterbatasanya, manusia bukan mesin kata mereka, manusia itu terbatas, dan paling tidak ,manusia itu lebih pintar dari mesin kata mereka ... kamu tahu google ,kata mereka ... google itu terbatas, kamu tahu larry dan serge ? mereka itu pencipta google, google yang katanya hebat itu .... pencipta google itu juga manusia, manusia yang mempunyai keterbatasan, karena keterbatasannya itulah mereka belajar , mereka kuliah, mereka ingin merubah hidupnya, karena menurut mereka kuliah itu akan mengasah ilmu mereka sehingga membuat mereka menjadi bermamfaat ...bukan kah kuliah itu penting ???...kata dosenku .... larry dan serge saja kuliah .... bukankah mereka pencipta google yang katanya sangat pintar itu ???? ... bukankah pencipta itu selalu lebih hebat dari ciptaannya ???? .... klau pencipta google saja kuliah ..... kenapa kita tidak ....????

sesuatu itu jangan hanya dilihat dari hasil karyanya, akan tetapi yang lebih penting adalah bagai mana kita bisa memahami dan mengerti proses ciptaannya.......

karena google lahir dari TUGAS KULIAH ... begitulah pendapat dosenku , walaupun ia menyampaikannya di dalam mimpiku ....pagi tadi

In My Opinion...

Tapi, bekerja jadi blogger tidak menghasilkan duit? Mungkin itu pertanyaan yang muncul, karena di TEMPO seperti kita tahu pasti gajinya sangat besar. Siapa bilang bekerja sebagai blogger tidak menghasilkan duit? Soal duit, sangat tergantung pada diri kita masing-masing.


Ada benarnya. Bekerja sebagai blogger, ya... bisa menghasilkan duit, memang :)


Untuk mendapatkan uang atau dolar dari Google, sebuah perusahaan mesin pencari yang paling terkenal, kita cukup hanya duduk di kamar, dan menulis di blogger dengan tema-tema menarik, sambil menunggu pecandu internet singgah ke blog kita.


Ini benar, tapi menjadi salah di mata saya. Saya tidak pernah sampai ke tahap respek dengan pemikiran begini. Menulis bagi saya tetap menulis, apa lagi di blog. Sekedar mencari tema menarik dengan harapan pecandu internet datang dan mengklik pundi-pundi adsense, adalah bullshit yang dibungkus dengan dalih "Berbagi..."

Blog bukan portal seperti detik.com atau website lainnya. Blog itu ekspresi dan murni hanya catatan pribadi. Mencari tema menarik utk adsense? Yang muncul hanyalah kebusukan dengan memanfaatkan keyword yang kontroversial.

Gampang bikin tema menarik. Tulis saja judul yang memancing reaksi seperti perkara agama yang rame diributkan di blog entah untuk apa. Dari hoax sampai ke dalih kebebasan ekspresi...


Bagaimana bisa menghasilkan duit dengan hanya duduk di kamar? Jika pertanyaan ini diajukan kepada Cosaaranda (www.cosaaranda.com), seorang aktivis blogger yang pernah dimuat profilnya di Koran Tempo pasti akan tertawa. Soalnya, Cosa bisa menghasilkan duit dalama sebulan antara Rp20 juta sampai Rp40 juta. Kok bisa? Bisa saja. Blog atau website Cosa yang jumlahnya puluhan jadi media memasarkan iklan Google Adsense atau produk online lainnya. Setiap orang yang mampir dan mengklik iklan tersebut, bisa dapat duit.


Tetap saja : Sayang sekali... saya ndak pernah respek dengan model begini. Itu sebabnya saya memilih tetap di wordpress.com yang mengharamkan segala teknik SEO utk dagangan adsense. :)


Mesin pencari Google, misalnya. Bagi saya, Google itu seorang professor yang tidak ada tandingan dan bandingannya.


Mesin tetaplah mesin. Google tetaplah mesin pencari adanya. Tidak sepintar itu dia. Yang pintar adalah mereka yang mempelajari bahasa pemrograman web untuk merancang Google. Dan sayangnya... mereka tidak kuliah di Google University :D


Dia sangat mengerti kebutuhan kita. Google bisa jadi berbeda dengan dosen atau guru kita. Jika guru kita lebih banyak mendikte dan mendoktrin, maka Google melakukan hal sebaliknya. Jika dosen kita biasanya tidak mampu menjawab setiap pertanyaan kita (jika menjawab pun lebih banyak ngawur, dan kita tidak puas), maka Google menjawab pertanyaan kita sampai tuntas. Google, tak hanya memberi satu perspektif kepada kita, melainkan banyak perspektif. Dia menawarkan banyak pilihan. Terserah kita mau mengambil jawaban yang mana.


Yang saya tebalkan adalah apa yang tidak saya sepakati. Google tidak pernah memberi jawaban tuntas. Kata TUNTAS mesti didefinisikan ulang jika hanya karena memberi alternatif pilihan lalu dikatakan "tuntas".

Ya. Google memberi alternatif, saya setuju pendapat ini. Tapi masalah pembelajaran ada pada pengakses, bukan pada Google. Ia tidak tahu mood si pengakses, ia tidak tahu pasti apa yang ingin saya cari. Saya mengetik TUHAN, GOD... yang muncul adalah referensi, kumpulan opini, hipotesa yang semuanya cuma argumen belaka. Bukan jawaban...



Jika Google bisa melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang dosen di bangku kuliah, masihkah kita menganggap kuliah adalah segala-galanya? Jika Google lebih mampu membuat kita pintar, haruskah kuliah jadi pilihan kita? Jangan salahkan saya, ketika saya melontarkan pertanyaan usil, Haree Gini Masih Ingin Kuliah!?


Sekali lagi : Google tidak bisa melakukan itu semua. Ia tidak sesuper itu...

Anda tahu, ada pengakses net yang tolol dan mesum, yang cuma mengakses konten porno atau cuma cari betina dengan tautan prenster, facebook, poto-poto gadis yang dicomot... Apa peranan Google dalam hal mencerdaskan si pengakses? Apa Google mendidiknya utk efisien dan efektif memanfaatkan internet? Tidak.

Intinya :
Google bukan segala-galanya. Mesin adalah mesin, dan Google hanyalah mesin pencari yang memberikan alternatif jawaban ke penjuru net yang bisa di-crawl oleh programnya...

Saya pernah terpukau dan berpikiran sama, tapi kemudian saya sadar : dunia cuma memberi pilihan. Google juga demikian. Wikipedia juga demikian. Tidak ada yang valid di bumi. Apalagi bicara hal-hal di luar eksistensi yang eksak.

Internet cuma bentuk lain dari pustaka. Sajiannya bukan buku atau manuskrip manual, tapi digital...

Bagi saya : Kuliah dalam artian pendidikan tetap perlu, meski saya sendiri drop out dari kampus. Saya meninggalkan kampus dengan argumen yang sama, namun saya keliru kalau mengatakan kuliah tidak berguna. Karena saya pernah di kampuslah, dengan nongkrong di lab komputer dan akses net, wawasan bertambah. Kuliah juga yang memberi saya pintu awal ke pemrograman web, misalnya.

Bagi yang ingin kuliah, kuliahlah :)


*cuma opini, jangan diambil pusing* :P

zarkasy..mahasiswa fk unsyiah

maaf saya ada beberapa poin setuju dengan anda..tp ada beberapa yang saya tidak setuju...

kampus bukan hanya mengajarkan kita tentg ilmu yang update tapi bagaimanapun kampus juga menjadikan anda ilmuan yang manusiawi... kalau anda melihat situasi saat ini memang pendidikan di aceh khususnya atau indonesi pada umumnya sedang carut marut..namun apakah kita harus berpangku tangan dan mengatakan sistemlah yang salah..keadaan yang salah atau yang lainnya..namun sadarkah kita...kita adalah orang yang harus bertanggung jawab untuk masalah itu... banyak orang yang hanya dapat berkomentar,mengeluarkan kata-kata pedas...namun ketika ditelusuri dia adalah orang yang tidak pernah berbuat?

kalau ditanya..mengapa seperti ini? semua jawabannya adalah karena kita.... jangan suka mendeskriditkan sesuatu dikarenakan kita dikecewakan...bagaimana hari ini di indonesia dan di aceh harus dimunculkan orang-orang yang mau berbuat,tidak hanya berpangku tangan...

ayo kita berbuat...katanya cinta aceh...katanya cinta indonesia...katanya cinta orang tua...katanya cinta tuhan.. sekarang zamannya pembuktian..ayao kita lakukan yang terbaik.. ayo kita tuliskan dalam sejarah bahwa kita layak dikatakan pemuda-pemuda emas yang dimiliki dunia ini..jangan hanya dikatakan pemuda yang hanya berani berkata tapi hasilnya nihil.... jangan hanya menyalahkan..tapi coba berbuat.. kalau kita bisa berbuat yang terbaik ngapain ambil jalan lain yang kita harus mrngulangnya dari nol..kenapa kita tidak melanjutkan dan memperbaiki yang sudah ada

mari melakukan sesuatu..dimulai dari sekarang dan dimulai dari diri sendiri..

maaf kalau da kata-kata yang salah...

hidup aceh..jayalah selalu... cerdaslah masyarakatku..


EmoticonEmoticon