16 August 2008

KHA

Tulisan ini, seperti halnya RHM, aku dedikasikan untuk dia yang sudah pergi, yang tak bisa lagi kembali. Aku ingin menulis, tepatnya mengenang kata-kata ‘kha’ yang sering diucapkan dan ditulisnya. Sebab, dulu juga dia pernah memintaku menulis, tetapi sampai senja tanggal 4 Agustus, permintaannya belum sempat kupenuhi. Dan sepertinya, jika tidak aku tulis sekarang, aku pasti menyesal, padahal dia sudah memintanya jauh hari. Karena aku tahu, bukan saja dia tak bisa lagi memintaku menulis, aku juga tak tahu harus bertanya pada siapa arti ‘kha’ yang sering dia ucapkan.


Aku ragu sekarang. Sebab, sudah pasti aku tak dapat membaca lagi kata-kata ‘kha’ yang sering dia tulis. Aku masih ingat, kata-kata ‘kha’ selalu dia ulang tiga kali, diikuti dengan titik tiga kali. Aku tak tahu, apa yang dia maksudkan dengan kata ‘kha’ tersebut. Aku gamang, dan terjebak dengan kata-kata, ‘yang aku tahu adalah aku tidak tahu apa-apa’ seperti sering diucapkan Sokrates, pertanda rendah hati. Tapi, jujur, aku tak mengerti maksudnya, saat dia bilang ‘kha’. Ingin rasanya bertanya, namun, apa boleh buat, dia telah tiada sekarang.

Pun begitu, aku mencoba mencari sendiri arti dari kata-kata ‘kha’ yang selalu dia tulis, setiap saat menyapaku. ‘Kha’ merujuk kepada keberanian. Berani namun perhitungan. Nekat namun tak konyol. Aku tahu, saat DM dulu, dia memilih bertahan, daripada pergi mengungsikan diri keluar Aceh. Menurutnya, itulah bentuk pertanggung-jawaban sudah memilih jalan berseberangan dengan pemerintah. Aku juga tahu, dia kemudian merasakan sebagian fisiknya jadi arena latihan tinju dan taekwondo para serdadu. Tapi, dia tetap tegar. Itukah ‘kha’ yang dia maksudkan?

Aku juga tahu, saat minum di Solong atau ketika chatting, dengan lantang dia mengatakan bahwa Pilkada Aceh cacat, setidaknya bagi dia pribadi dan orang-orang senasib dengannya. Aku yang tidak mengerti hukum, hanya diam saja saat itu. Aku jelas tak pernah menang berdebat dengannya. Aku tak menjawab. Tapi, dia tak pernah memvonisku bodoh. Seperti sering aku bilang padanya, bahwa aku diam hanya karena tak ingin memotong pembicaraannya. Aku diam karena ingin mengetahui detail apa yang hendak dia ucapkan. Dan dugaanku memang benar. Karena, secara panjang lebar dia bercerita, bahwa Pilkada Aceh 2006 cacat, bukan karena cacat menurut tinjauan hukum, melainkan menurut ukuran kemanusiaan.

Dia tak sekedar menuding saat itu, karena dari alur pembicaraannya, aku tahu dia punya argumen yang cukup kuat mengatakan Pilkada Aceh cacat. Menurutnya, Pilkada Aceh perlu dipertanyakan, sebab KIP—selaku penyelenggara Pilkada—berkantor di tempat di mana saat DM dijadikan arena membunuh. Dia bukan sedang melancarkan propaganda murahan. Sebab, dia sendiri pernah mengalami dan merasakannya, bagaimana manusia dibuat tidak beradab. Menurutnya, karena KIP berkantor di situ, dia menganggap Pilkada cacat menurut ukuran kemanusiaan.

Tapi, aku tahu, meski dia menolak Pilkada (aku tak tahu apakah dia ikut mencoblos atau tidak), hasil yang dicapai Pilkada, katanya, bisa menuntun Aceh ke arah yang lebih baik. Itulah gerbang menuju Aceh yang modern dan kosmopolit, namun tak lupa pada nilai-nilai ke-Acehan.

Belakangan, bisa jadi dia kecewa, karena optimisme yang memuncak di dadanya tak juga berbuah manis. Di sana-sini kekecewaan mulai disebar. Lalu, karena ingin menghadirkan Aceh yang berbeda, dia terjun langsung. Aceh mesti diubah, katanya, tapi bukan melalui senjata. Dia begitu yakin bahwa “real power does not hit hard, but straight to the point (Kekuatan yang sesungguhnya tidak memukul dengan keras , tetapi tepat sasaran). Makanya, belakangan dia mendedikasikan dirinya berjuang melalui sebuah partai, agar tujuan yang hendak diraih mampu diperjuangkannya. Ada optimisme di sana. Tetapi, lagi-lagi, kematian tak dapat ditebak, karena impiannya sudah tak mampu digapai melalui perjuangan lembutnya.

Dari situlah, meski tak sempat lagi bertanya, aku ingin membuat kesimpulan saja, bahwa ‘kha’ adalah seperti yang telah dijalani sepanjang nafasnya. “Anda harus tahan terhadap ulat jika ingin dapat melihat kupu-kupu,” begitu Antoine De Saint berkhutbah, seperti membenarkan jalan yang ditempuhnya.(HA 160808)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak