11 August 2008

RHM


Senja baru saja turun, saat engkau mengakhiri nafasmu yang terakhir. Dan nafas itu pertanda duka. Tapi, seperti katamu, kawan: perang selayaknya diakhiri. Tak ada yang menang dengan berperang. Malah, perang bakal menamatkan kita, apa saja yang kita punya. Engkau benar. Sekarang, engkau mengakhirinya, tanpa perlu tahu siapa pemenangnya. Aku pantas bersedih. Sebab, sebenarnya, sebagai kawan, aku ingin melihatmu menang dengan bendera barumu, bahwa rakyat harus dimenangkan, Aceh harus dibuat modern dan mandiri. Itu keyakinanmu, setiap saat kita berjumpa.

Kawan, sebagai kawanmu, aku pantas dicaci dan dimaki. Sebab, ke pemakamanmu saja aku tak sampai. Padahal, seperti sering aku dengar, engkau sangat ingin melihatku berhasil, khususnya sebagai penulis. Malah, segala keperluanku engkau penuhi. Tak pernah bosan engkau mengirimkan SMS yang aku baca setiap aku baru bangun tidur. “Taufik, masalah itu menarik untuk ditulis,” begitu SMS yang sering aku terima. Tak hanya itu, engkau juga mengirimkan nomor HP siapa saja yang harus aku wawancara. Kadang tak cukup SMS, engkau masih sempat mengingatkan melalui jalur Yahoo! Messenger. Aku masih mengingatnya, bahkan beberapa pembicaraan terakhir masih aku simpan. Bisa jadi, itu adalah hasil chatting kita yang terakhir.

Kawan, engkau juga berhak mencaciku, karena info berpulangnya engkau bukan aku tahu dari HP-ku sendiri atau aku dengar langsung. Sebagai kawanmu, aku mengecewakan, karena berita kematianmu aku dengar dari kawan satu kantor, saat dia menerima SMS dari kawannya. Sementara aku sendiri sibuk dengan rutinitas, dan seperti tak peduli dengan dunia luar. HP-ku mati. Padahal, seperti diceritakan sendiri oleh Thamren Ananda, dia berulang kali menelepon ke HP-ku, tapi tak pernah aktif. Kejadian ini, bisa jadi, peristiwa yang aku sesali seumur hidupku.

Kawan, engkau juga pantas kecewa padaku. Sebagai kawan, baru hari ini aku bisa menulis pojok untukmu. Untung mengenangmu. Aku tak dapat membela diri. Aku mengakui, kalau aku salah kawan. Kuharap masih ada pintu maaf untukku. Tapi, aku hanya ingin bercerita sedikit saja, bahwa sampai sekarang aku belum bisa menerima kenyataan: engkau telah berpulang. Meski Tuhan sudah memanggilmu, aku belum percaya. Menurutku, masih ada orang lain yang pantas dipanggil, dan itu bukan engkau, orang yang selama ini sudah aku anggap seperti abangku sendiri.

Kawan, baru hari ini aku mampu menulis pojok untukmu. Bukan aku sengaja. Tetapi, sebelumnya aku tak mampu menulis, tentangmu. Aku tak mampu. Setiap aku menulis kata-demi-kata, mataku sembab. Aku menangis, karena aku belum menerima kenyataan engkau telah dipanggil. Tak ada kata yang berhasil aku tulis. Inspirasiku hilang. Otakku kosong. Padahal, dulu, setiap ide yang engkau kirim mampu aku ramu dengan bagus. Tetapi, menulis tentangmu aku tak mampu. Karena itu, maafkanlah aku. Kawan, baru hari ini aku mampu melawan sifat cengengku, bahwa jadi lelaki tak perlu terus menangis, meski sesuap nasi sudah habis kita makan. Maka, tulisan inipun lahir, meski engkau tak bisa membacanya.

Tulisan ini bisa jadi sebagai permintaan maafku padamu, karena aku tak dapat menghadiri hari ketujuh berpulangnya engkau. Padahal, sebelumnya aku sudah bilang ‘iya’ sama kawan-kawan yang berangkat ke tempatmu. Tetapi, hal itu harus kubatalkan, karena aku tak akan sanggup berada di sana. Aku tak sanggup. Bukan karena aku tidak setuju dengan takdir Tuhan yang menjemputmu, tetapi menurutku, engkau terlalu pagi dipanggil, karena aku yakin engkau sedang ingin berbuat untuk negeri yang sudah serba-hancur ini.

Kawan, tapi aku yakin, kawan-kawanmu pasti akan mewujudkan keinginanmu, bahwaperang ini harus dimenangkan. Meskipun, engkau tak bisa melihat hari kemenangan itu. Aceh, katamu, harus dibuat lebih beradab. Sebab, menurutmu, Aceh sekarang miskin orang beradab. Aku juga tahu, engkau ingin membuat orang miskin berwibawa dengan kemiskinannya. Makanya, aku sering melihat engkau dengan sepeda motor, jalan ke sana-kemari, bukan karena engkau tak mampu membeli mobil, tapi engkau ingin merasakan bagaimana orang miskin menjalani hidup. Tapi, bersepeda motor sudah cukup membuatmu bahagia. Menurutmu, mengendarai sepeda motor lebih terhormat, karena tidak mengganggu orang lain, tidak membuat jalan-jalan jadi sempit. Sementara mereka yang bermobil sering parkir di sembarang tempat, dan sering merusak pemandangan kota. Jika sesekali masuk kampung, mobil membuat pejalan kaki harus minggir ke pagar, padahal itu jalan hasil gotong-royong, dan milik orang kecil.

Tapi, engkau rela hidup sederhana. Itu yang membuatku salut padamu…bahwa kesederhanaan membuat hidup lebih indah dinikmati. Aku yang berduka.(HA 110808)

Note: tulisan ini saya tulis untuk mengenang almarhum Ridwan H Mukhtar

Artikel Terkait

2 comments