13 September 2008

Politik Tahu Diri

Tak ada hujan, tak ada angin. Nama Bukhari Daud, Bupati Aceh Besar, tiba-tiba begitu populer, dan jadi topik diskusi dari satu warung kopi ke warung kopi yang lain, di kantor pemerintahan, di redaksi media massa, sampai jadi bahan pembicaraan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto. Malah, berita mundurnya Bupati Aceh Besar itu, mampu mengalihkan perhatian masyarakat Aceh yang penasaran dengan nasib Gubernur Irwandi Yusuf. Sampai-sampai seorang kawan saya menyelutuk, “Ini juga bagian dari propaganda Irwandi,” ujar kawan saya, sebut saja namanya Apa Suman.



Hah…saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan saya. Bukankah, jika benar ini bagian dari propaganda Irwandi, untuk menyembunyikan kondisi kesehatannya yang membuat rakyat bertanya-tanya, sebenarnya justru mendatangkan teka-teki lain, yang membuat rakyat tambah penasaran, khususnya rakyat dan politisi di Aceh Besar?

“Jangan berkelakar yang tidak penting begitu dong,” pinta saya. Sebab, belakangan ini, saya selalu disuguhkan adegan-adegan kekerasan, meski di bulan Ramadhan, di mana sebenarnya, semua praktik kekerasan harus diakhiri. Tapi, seperti diyakini semua orang, ‘birahi’ berperang orang Aceh belum benar-benar mendapat orgasme yang memuaskan. Akibatnya, libido berperang ingin selalu dilakukan. Lakap “ureung Aceh galak meuprang,” seperti ingin dipelihara. Kalau bisa, selamanya.

Pun begitu, saya tak hendak mengutuk pelaku kekerasan, dan upaya-upaya mengacaukan Aceh, meski perbuatan tersebut, siapapun pelakunya, pantas dikutuk. Saya justru ingin mengomentari sedikit—meski terlambat—di balik pengunduran diri Bukhari yang masih dibalut misteri.

Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Bukhari merupakan sebuah sikap berani di tengah kegilaan orang Aceh pada jabatan dan tahta. Meski di balik itu, saya justru menangkap, ada yang tidak benar dari pengunduran diri tersebut. Rasa penasaran saya, kenapa Bukhari mundur begitu mendadak, serta kenapa surat tersebut justru ditulis tangan. “Apakah materai 6000 yang ditempel di surat yang ditulis tangan tersebut, sudah jauh hari disiapkan, atau sudah disediakan oleh ‘oknum berkelompok’ yang menghendaki dia meletakkan jabatan?” begitu rasa penasaran saya.

Yang lebih membuat saya penasaran justru, kenapa Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengusungnya saat Pilkada 2006 lalu, mengeluarkan pernyataan menolak Bukhari mundur ketika dukungan publik lebih memihak Bukhari. Padahal, sebagai partai pendukung, jauh hari PAN harus mengeluarkan pernyataan, bahwa PAN bersama Bukhari dan tidak ingin Bukhari mundur. Sebab, ketika pernyataan dukungan baru dilontarkan sekarang, setelah lebih seminggu polemik di masyarakat bergulir, banyak pihak pasti bertanya-tanya, ada apa dengan cinta Bukhari-PAN? “Bukankah, lakon politik yang terjadi di Aceh Besar, hampir mirip dengan kasus yang menimpa Abdullah Puteh saat digeser dari kursi Gubernur dengan menggunakan kekuatan militer saat itu?” tanya kawan saya. Saya makin penasaran, bahwa sikap Bukhari bisa jadi tak berdiri sendiri. Pasti ada yang tidak beres.

Meski, sebenarnya, saya tak perlu bingung, sebab, seperti diceritakan oleh seorang teman, sikap yang diambil Bukhari dengan mundur dari jabatannya sebagai Bupati dilakukan setelah tujuh malam berturut-turut melaksanakan Shalat Istikharah—shalat minta petunjuk.

Tapi, satu yang perlu dicatat, sikap yang ditunjukkan Bukhari, sudah melambungkan namanya, seperti Nelson Mandela, yang memilih berhenti jadi presiden, ketika tidak punya pesaing berarti. Padahal, jika dia gila kekuasaan, dia bisa menduduki kursi presiden Afrika Selatan, selama yang dia inginkan. Namun, seperti kita tahu, Nelson Mandela, tahu diri, dan lebih memilih merawat keberlangsungan demokratisasi di Afrika Selatan, yang diperjuangkannya bertahun-tahun.

Sikap yang ditempuh Nelson Mandela, dikomentari secara bagus oleh Eep Saifullah Fattah, bahwa ‘demokrasi kerap tak butuh pemimpin besar, melainkan cukup orang tahu diri,” tulisnya. Eep dengan mengutip Cak Nur, membandingkan langkah Nelson tersebut dengan sikap yang diambil Richard Nixon, seorang presiden AS, yang memilih mundur sebelum di-impeach Kongres AS, atas skandal Watergate.

Walaupun masyarakat masih bertanya-tanya, atas alasan apa Bukhari mundur, setidaknya langkah yang ditempuh Bukhari dapat disebut sebagai sikap seorang pejabat yang tahu diri. Sebab, dia tidak mau terjebak dalam politik mafia, yang demikian akrab dilakoni pejabat Aceh dewasa ini. (HA 130908)



Artikel Terkait