Ganti KTP

Setiap datang musim pemilu, kawan saya, sebut saja namanya Apa Suman, selalu bimbang. Selaku orang rantau, dia tidak memilih di Gampong kelahirannya, melainkan di tempat tinggalnya yang baru. Namun, kejadian terakhir membuatnya bimbang. Di Gampong, namanya terdata sebagai seorang pemilih, padahal sudah puluhan tahun merantau (pulang jika ada momen atau hajatan). Sementara di tempat tinggal barunya, namanya belum terdata sebagai pemilih, meski KTP-nya sudah keluar.


Yang sangat aneh, katanya, pihak PPK mengantarkan kartu pemilih ke rumahnya bukan atas namanya, melainkan orang yang sebelumnya pernah tinggal di sana dan kini sudah beristirahat dengan tenang. Tentu saja kawan saya merasa ada yang janggal, kenapa kartu pemilih itu bukan untuk dirinya. Karena tak ingin dianggap tidak berpartisipasi dalam pesta demokrasi, kawan saya mendatangi kantor lurah setempat, dan melaporkan kejadian yang baru saja dialaminya. Jawaban yang diterimanya sangat tidak memuaskan. “Bapak orang yang kesekian melaporkan hal ini, dan saya tidak tahu harus mengatakan apa,” begitu jawab pak Lurah.

Informasi yang diterimanya, data yang digunakan sebagai pemilih masih data lama, padahal orang sudah banyak yang tidak tinggal lagi di tempat itu, termasuk sebagian sudah meninggal.

Kejadian seperti itu, ternyata tak hanya dialami dia saja. Kawan-kawannya juga banyak yang tidak terdaftar sebagai pemilih. Entah kenapa? Atau ketika datang petugas pendataan, dia tidak ada di rumah atau sang petugas yang tak pernah mendata. Semuanya menjadi serba mungkin.

“Saya akan golput pada Pemilu ini,” ucap rekan saya yang berprofesi sebagai saudagar dan distributor. Kawan saya mengaku kecewa, karena sebagai warga Negara yang baik dia ingin sekali berpartisipasi dalam Pemilu.
“Apakah golput menjadi solusi?” tanya saya. Dia tersenyum kecil. “Jika pun saya tidak golput, apakah saya bisa memilih?” tanyanya. Kini giliran saya yang diam.

Kita bisa menambah daftar lebih banyak lagi, betapa carut-marutnya Pemilu kali ini. Belum lagi, setiap ketemu kawan selalu dikasih kartu nama serta rayuan agar memilihnya pada Pemilu. Jika kita punya ratusan teman, tentu kita akan banyak menerima kartu nama dan permintaan untuk memilihnya. Masalahnya, apakah kita bisa memilih mereka semuanya? Belum lagi, banyak kawan yang tersebar di beberapa Daerah Pemilihan, bagaimana memilih mereka dalam waktu bersamaan? Duh, betapa bingungnya kita.

Kebingungan itu tak hanya soal pertemanan saja, melainkan juga administrasi. Jika ada teman yang sangat akrab dengan kita berada di daerah A, otomatis kita harus memiliki KTP di situ dan terdaftar sebagai pemilih. Lalu, bagaimana dengan teman-teman lain yang juga harus kita dukung, agar dia dapat kursi. Tentu masalahnya menjadi semakin rumit.

Pengalaman saya sendiri, setiap bertemu kawan yang mencalonkan diri sebagai caleg, mereka selalu meminta sebuah dukungan. Satu suara kita seperti sangat menentukan untuk masa depannya. Kawan-kawan yang lain juga menuntut hal serupa. Mereka juga mengaku berhak mendapat dukungan kita sebagai temannya. Saya menjadi semakin bingung. Karena tak tahan terus menerus diminta membantu, saya cukup puas menjawab bahwa saya memilih tidak memilih saja. Di samping karena tak mau mengganti KTP, juga biar tidak ada kawan yang tersakiti gara-gara satu suara saya. (HA010409)

Post a Comment

Previous Post Next Post