16 April 2010

Alkaf dan Dakwaan Kolonial

JIKA Snouck Hurgronje atau Christian Snouck Hurgronje (1857-1936) masih hidup, saya yakin dia akan tersenyum pahit membaca tulisan Muhammad Alkaf, Dari Kaphe ke Modernitas. Alkaf, seperti terbaca dalam tulisannya, mengesankan diri sebagai Aceh tulen. Baginya, sesuatu yang melekat dengan Aceh, patut dibanggakan. Aceh, ditampilkan begitu sempurna, tanpa cacat. Saya tidak tahu, apakah Alkaf nantinya akan membuat kesimpulan bahwa Aceh adalah kesempurnaan itu sendiri. Saya tidak tahu.


Jika pun Alkaf akan membuat kesimpulan seperti itu (entah kapan), orang luar Aceh akan menganggap Alkaf sebagai penganut paham nasionalisme chauvinis. Jika itu yang terjadi, Alkaf akan disejajarkan dengan Hitler atau pun penganut Zionisme orthodok. Hitler, misalnya, menganggap bangsa Aria, rasnya, sebagai sesuatu yang agung. Secara ekstrem dia membuat kesimpulan bahwa rasnya ditakdirkan untuk memimpin dunia. Begitu juga halnya dengan keyakinan kaum zionis, yang mensakralkan bangsanya sebagai yang teragung, karena selalu dimanjakan Tuhan.

Meski tak seekstrem dua pandangan di atas, setidaknya Alkaf sudah memasuki ranah yang bisa mendekatkannya dengan pemikir kedua pandangan tersebut. Dari tulisannya terbaca, Alkaf mencoba melawan dominasi pengaruh Belanda sekuat yang dia bisa. Sikap ini membuatnya cukup bertolak belakang dengan Snouck.

Jika Snouck mewakili sikap fanatisme dan pembelaan buta terhadap bangsanya (Belanda), maka Alkaf sebaliknya. Dia adalah pria berdarah Aceh, cukup marah terhadap sesuatu yang berbau Belanda. Sehingga dalam tulisannya, tak ada pembelaan sama sekali kepada Belanda.

Malah, sikapnya yang terlalu fanatik pada ke-Acehan, hampir menjerumuskannya pada fanatisme buta dan rasialis. Kesimpulan ini terbaca, misalnya, dalam kalimat-kalimat yang mengalir begitu dahsyat, “Belanda itu Kaphe, karena itu orang Aceh tidak pernah bisa menjadi Belanda, sehingga kita tidak pernah mendengar ada perempuan Aceh yang menjadi Nyai-Nyai (perempuan pribumi yang menjadi gundik perwira Belanda)…” dan seterusnya, menampilkan pembelaan identitas ke-Acehan secara total.

Sikap fanatik ini, seperti membawa Alkaf ke masa-masa awal kolonial, saat pribumi begitu membenci sesuatu yang berbau penjajahan. Alkaf mewakili kelompok Timur, jika kita mencoba memperlawankannya dengan Barat. Meski tak membuat kesimpulan seradikal yang pernah dilakukan Aime Cesaire seperti dikutip Ania Loomba dalam Discourse on Colonialism  (2000), namun nadanya tak jauh berbeda.

Aime, misalnya, membuka bukunya seperti dikutip Ania Loomba dengan caci maki dan dakwaan terhadap kolonialisme: ‘Suatu peradaban yang ternyata tak mampu menyelesaikan masalah-masalah yang diciptakannya adalah peradaban dekaden; Suatu peradaban yang menutup matanya terhadap masalah-masalah yang paling penting adalah peradaban lumpuh; Suatu peradaban yang menggunakan asas-asasnya untuk menipu dan mengelabui adalah peradaban yang sekarat…’ Setelah mendakwa, Aime membuat kesimpulan tegas: Eropa tak bisa dipertahankan!

Sementara Alkaf sekadar menampakkan kesinisannya. Kemenangan Van Daelen menaklukkan Aceh yang disambutnya secara suka cita, menurut Alkaf, sebuah kekeliruan, karena Belanda sebenarnya membuka jalan terlibat dalam perang berkepanjangan. Untuk memperkuat argumentasinya, tak lupa Alkaf mengutip Paul Van’t Veer, yang menulis Aceh Oorlog (Perang Aceh).

Dari pembelaannya di sepanjang tulisan terhadap Aceh, serta menyinggung-nyinggung soal Nyai-nyai, bisa menggiring Alkaf menjadi seorang yang rasis. Alkaf hendak mempertegas kembali kesimpulan Pramoedya Ananta Toer dalam buku Bumi Manusia—salah satu dari Tetralogi Pulau Buru—tentang Nyai yang disebut Pram, sebagai gundik (tak pernah dinikahi) perwira Belanda. Pram menulis itu, didorong oleh kebenciannya terhadap sesuatu yang berbau Jawa, meski dia sendiri adalah seorang Jawa tulen.

Alkaf yang bukan orang Jawa (beda dengan Pram), dianggap tidak wajar membuat kesimpulan: “sehingga kita tidak pernah mendengar ada perempuan Aceh yang menjadi Nyai-Nyai (perempuan pribumi yang menjadi gundik perwira Belanda)…” Kesimpulan itu bisa menggiringnya untuk dicap membenci suku lain, meski sebenarnya yang dilakukan Alkaf adalah sebuah dakwaan terhadap kolonial.

Dakwaan terhadap Kolonial

Pun demikian, kita patut memberi apresiasi kepada Alkaf atas kegigihannya melawan wacana kolonial. Apa yang dilakukannya tak jauh berbeda dengan yang pernah dilakukan Ania Loomba, Aime Cesare, ataupun Edward Said. Mereka ini cukup gigih melawan wacana hasil  produksi kolonial.

Perspektif Eropa khususnya pada masa kolonialisme, menganggap bahwa Eropalah ras paling sempurna, dan berkuasa atas ras lainnya. Sehingga selalu muncul kesimpulan bahwa sejarah Eropa berkuasa dari semua sejarah yang ada.


Dalam wacana kolonial, Eropa selalu dipandang baik, sementara Asia, Afrika dan Amerika Latin adalah buruk. Eropa dianggap mewakili ras yang unggul dan tanpa cacat, selainnya adalah ras yang rendah. Anggapan demikian bukan tidak memiliki dampak. Salah satu alasan kolonialisme dan invasi bangsa Eropa ke Asia, Afrika dan Amerika Latin adalah disebabkan oleh anggapan demikian.
Dalam Orientalism, Edward Said, mengkaji hal itu secara mendalam. Said kemudian berkesimpulan bahwa kolonialisme dilandasi oleh anggapan yang keliru, khususnya dalam memandang dunia selain Barat.

Muncul dikotomi di mana satu pihak lebih unggul dari pihak yang lain, seperti "Kita" (Eropa) dan "Mereka" (Asia, Afrika dan Amerika Latin) dalam persepsi Barat. Persepsi ini kemudian menyihir bangsa Eropa berlomba-lomba datang ke Asia, Afrika dan Amerika Latin, untuk tujuan penjajahan. Meski saat itu yang didengungkan adalah membuat ‘Mereka’ (dalam definisi Eropa) menjadi berperadaban seperti peradaban Eropa.

Konstruksi-konstruksi pemikiran terhadap pihak lain ini, menurut Said, muncul pada abad kedua belas dan tiga belas. Said mencontohkan penggambaran Eropa terhadap Islam seperti biadab, tidak bermoral, tirani dan mengumbar nafsu.


Eropa memosisikan diri sangat agung, over confident, ketika diperlawankan dengan Asia, Afrika dan Amerika Latin. Dalam konsepsi-diri Eropa, tulis Said, jika rakyat terjajah itu irasional, maka orang Eropa rasional. Jika yang pertama tidak beradab, sensual dan malas, Eropa adalah peradaban itu sendiri.

Dikotomi demikian sengaja dibuat oleh Eropa untuk tujuan pembedaan, antara yang dikenal (Eropa, Barat dan Kita), dengan yang asing (Orient, Timur, Mereka). Timur itu disebut statis, sementara Eropa dilihat berkembang dan maju ke depan; Timur harus feminim agar Eropa bisa menjadi maskulin. (Ania Loomba, 2000)
.

Penggambaran demikian menjadi penting bagi Eropa untuk menentukan strategi-strategi dan cara mengendalikan mereka (orang timur). Stereotype demikian lumayan berhasil, karena tak sedikit kemudian warga pribumi (Non Eropa) merasa dirinya rendah, dan tidak berani melakukan perlawanan. Pikiran mereka telah dihegemoni oleh Eropa.

Beruntung kita masih memiliki Alkaf, yang mencoba bangun dari mimpi buruk merasa rendah diri di hadapan kaum kolonial. Alkaf tentu saja tidak sendiri, sebelumnya sudah muncul sosok Cut Nyak Dhien, Tgk Chik Di Tiro dan lain-lain, yang melawan hegemoni Eropa (Belanda) dengan semangat membara. Sesudahnya muncul Tgk Hasan Di Tiro, yang mencoba membangkitkan romantisme Aceh tempo doeloe, sebagai jembatan menuju Aceh masa depan, atau Aceh yang modern seperti keinginan Alkaf. Namun, kita hanya berharap, nasib Aceh hari ini, semoga tak seperti sering dilafalkan dengan fasih oleh orang kita, Talet kaphe, tacok peurangui.[] Taufik Al Mubarak | Penulis Buku Aceh Pungo.

Note: Tulisan ini sudah dimuat di Website Aceh Institute

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

8 comments