09 April 2011

Jadi Penulis Jangan Arogan

Diakui atau tidak, kita sering kali berhadapan dengan penulis kejam dan arogan. Mereka kadang-kadang asyik menulis untuk kepuasan diri sendiri, tanpa memerdulikan kita para pembaca: paham atau tidak atas apa yang ditulis. Para penulis arogan dan kejam ini sering cukup puas saat menghasilkan tulisan yang dipenuhi dengan istilah-istilah asing atau istilah-istilah dalam bidang pengetahuan yang ditekuninya saja. Mereka lupa, bahwa tak semua pembaca memiliki background pengetahuan atau peduli pada bidang yang ditekuni penulis. Akibatnya, sering kali pembaca harus melupakan kepuasan saat membaca tulisan tersebut.

Apakah tulisan yang baik itu dipenuhi dengan istilah-istilah asing yang sulit dimengerti? Atau cukup dengan bahasa yang mudah dipahami? Saya yakin tak ada perdebatan soal ini. Semua penulis, baik pemula atau pakar, ingin pembaca paham dan mengerti apa yang ditulisnya. Penulis akan merasa senang jika pesan yang disampaikannya sampai kepada pembaca.

Nah, Sabtu (9/4) malam ini, seusai menonton laga Manchester United (MU) versus Fulham (2-0), saya membaca-baca kembali tulisan di internet yang saya simpan di bookmark. Tulisan yang saya baca—saya lupa entah yang ke berapa kali—ditulis oleh seorang wartawan senior yang sudah cukup banyak makan asam garam. Pernah memegang posisi penting di media nasional, di antaranya pernah menjabat Redaktur Pelaksana Majalah TEMPO. Selain itu, sering meliput bahkan hingga ke luar negeri. 

Kini, dia berhenti bekerja di media, tetapi aktivitas menulis masih diteruskan sambil mengembangkan lembaga Yayasan Khatulistiwa. Dia Farid Gaban, yang di antara tulisan-tulisannya menggugah saya untuk belajar menjadi penulis, di antaranya melalui tulisan ‘Menulis Essay dengan Gaya’.

Dalam tulisan ‘Kezaliman Penulis’ yang dipublikasikan di Ruang Baca Tempo, edisi 3 Oktober 2007, Farid Gaban menceritakan hal-hal yang paling dibenci dari penulis. Pertama, jika penulisnya terlalu sibuk mempertontonkan kepintaran dengan memakai bahasa sulit. Farid memiliki cukup contoh yang membuatnya memiliki alasan kenapa penulis demikian patut dibenci. Di antaranya, berita yang dibacanya dari Kantor Berita Antara edisi 16 Juni 2007 ’78 Ribu HA Hutan Sultra Terdegradasi Tiap Tahun’ dan di Republika (Farid pernah bekerja di media ini), edisi 6 Juli 2007, “Bulog Indramayu Siapkan Move Regional Beras’. 

“Penulis berita itu memakai kata yang tidak pernah kita dengar dalam perbincangan di pasar atau warung kopi, karenanya sulit dipahami. Coba dengar, dia menulis “hutan terdegradasi”, sementara di warung kopi orang mengatakan “hutan rusak atau hilang”. Dan apa pula yang bisa kita pahami dari “move regional beras”?” gugatnya.

Kedua, jika penulisnya membiarkan jargon berkeliaran. Farid membenci penulis seperti ini karena menurutnya, jargon adalah istilah (kata atau frasa) yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Setiap lingkungan ilmuwan dan profesional, katanya, memiliki jargon-jargonnya sendiri. “Ahli hukum punya istilah tertentu yang sulit dipahami para dokter, dan sebaliknya. Tiap kementerian atau departemen kita juga memiliki jargon yang hanya dipahami oleh staf atau pegawai departemen bersangkutan,” tulisnya.

Menurut Farid, tak semestinya jargon dipakai dalam berita koran. Ini sama statusnya dengan dialek atau bahasa lokal, yang sebaiknya hanya dipakai sebagai pengecualian dalam komunikasi Bahasa Indonesia.

Ketiga, jika penulisnya kecanduan memakai akronim dan singkatan. Tak bisa dipungkiri singkatan dan akronim banyak kita jumpai di Koran-koran atau dalam tulisan-tulisan pakar, kadang-kadang tak begitu penting. Belum lagi di Negara kita, urusan singkatan sering tak konsisten. Salah contoh yang dulu akrab kita jumpai adalah singkatan AMD (ABRI Masuk Desa). Pasalnya, ABRI sendiri juga sebuh singkatan dari Angkata Bersenjata Republik Indonesia.

Semua hal-hal di atas, kata sulit, jargon, akronim, sering mempersulit pembaca. “Penulis yang masih menikmati memakai bahasa sulit dan jargon (biar tampak keren) cenderung menjadi penulis yang tidak punya empati kepada pembaca. Mereka tidak menghargai uang dan waktu pembaca. Mereka zalim!” simpulnya.

Nah, kita semua terpulang kepada kita, apakah kita akan menjadi penulis yang arogan dan zalim atau tidak. Kita memiliki pilihan-pilihan. Salam.[]

Artikel Terkait

2 comments