Unjuk Taqwa di Komplek Militer

TIDAK biasanya, di ujung gang tempat saya tinggal terlihat ramai. Sebelum magrib tiba, beberapa pedagang dadakan menggelar dagangannya di badan jalan dengan alas seadanya. Penjual lain asyik memasang lapak dan payung untuk lokasi berjualan. Mereka sepertinya bukan orang yang tinggal di kawasan ini. Di kepala mereka, bertengger peci, ada yang putih, hitam dan abu-abu. Mereka rata-rata memakai baju koko dan kain sarung. Mereka juga memelihara jenggot panjang. 
Pose bersama peserta pelatihan jurnalisme narasi ke-19
di Yayasan Pantau, Jakarta
Dalam sekejab, lokasi sekitar pintu gerbang komplek Hankam Cidodol ini sudah dipenuhi para pedagang dan juga jamaah zikir. Sementara di pintu gerbang komplek, beberapa pria muda sedang memasang pengeras suara, yang lainnya mengatur kendaraan yang masuk kawasan komplek militer itu. Hampir semua pria muda itu memakai jaket warna hitam yang di belakangnya terdapat tulisan ‘Majelis Rasulullah SAW’. Meski memakai celana longgar, mereka juga menghiasnya dengan kain sarung.



Sepertinya mereka sedang menggelar hajatan. Pemandangan sekilas itu saya lihat sebentar saja, karena ingin cepat-cepat cari makan. Perut tak bisa diajak berkompromi lagi. Setelah makan, saya kembali ke kost, dan seperti melupakan suasana ramai di depan gang.

SAYA sedang asyik membaca novel sejarah “Gengis Khan Sang Penakluk” karya Sam Djang terbitan Bentang saat handphone (Hp) Nokia E90 saya berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Saya pun bangkit meraih Hp yang sudah empat tahun menemani saya ini. Hp itu saya letakkan di atas meja dalam kamar kost. Saya segera membukanya, siapa tahu ada pesan dari sang istri tercinta.

“Ada di kost, apa di luar?” begitu bunyi pesan singkat itu. Ternyata pesan itu dari Nato Moreira, teman satu kost saya. Dia berasal dari Timor Leste dan bekerja untuk CIS Timor, lembaga yang mengurusi para pengungsi Timor Timur yang ada di Attambua. Dia biasa mengirim pesan dulu sebelum pulang ke kost, saya juga sering melakukannya.

“Di kost,” saya membalasnya singkat saja. Dan Nato segera meluncur ke kost. Tak sampai 20 menit, dia sudah berdiri di pintu belakang. Sekali lagi dia mengirim pesan dan mengabarkan bahwa dia sedang di pintu belakang, saya segera keluar dan membukanya.

Setelah itu, seperti biasa, kami saling berbicara dan bercanda. Kadang-kadang, saat bicara kami tak saling melihat. Namun, saya kembali asyik membaca dan menghabiskan halaman-demi-halaman novel sejarah yang menurut penulisnya 95 persen ditulis berdasarkan fakta dan dokumen sejarah. Buku ini terdiri dua edisi, dan saya baru membaca edisi pertama. Nato sendiri langsung merebahkan badan di kasur sambil memainkan tombol Hp Nexian miliknya.

“Kamu sudah makan?” terdengar ucapannya, kemudian. “Saya sudah makan pecel lele tadi sebelum magrib,” jawab saya. “Tapi, kalau lapar lagi, saya akan keluar cari makan lagi.” Mendengar ucapan saya ini, Nato tak bisa menahan tawa. Dia pun tertawa lepas. Setelah itu, kami pun membisu. Asyik dengan aktivitas masing-masing; saya melanjutkan membaca novel, dan Nato memeluk bantal. Dia terlihat lelah.

Kira-kira lebih setengah jam, saya menyelutuk ketika Nato terbangun. “Saya lapar lagi. Yuk kita cari makan?” Nato menggeleng, dan tawanya pun lepas. “Kamu saja keluar makan, nanti ketika pulang SMS saja biar kita nongkrong di teras,” ucapnya.

Saya memberitahu Nato, bahwa ada keramaian di komplek perumahan pertahanan dan keamanan (HANKAM) Mabes TNI. Saya berharap dia tertarik. Sebagai orang yang lahir dan besar di daerah konflik, komplek militer bagi kami menjadi tempat yang menakutkan. Angker dan tak terjamah. Namun, sekarang ada massa dalam jumlah besar mendatangi komplek tersebut. Nato tetap tak tertarik dan mempersilakan saya pergi sendiri.

Saya pun mengangguk, sambil meraih baju kaos dan keluar dari kamar. Saya berjalan pelan menuju ujung gang dan mencari tempat makan.

BERDAGANG dan berjualan merupakan hak setiap penjual dan atau yang memiliki barang dagangan.Oleh sebab itu, tak seorang pun boleh melarang meski para pedagang sudah mengambil lebih satu meter badan jalan. Saya terpaksa harus memelesetkan bunyi proklamasi untuk menggambarkan suasana Kamis (7/7) malam itu begitu mencapai ujung gang.


Di pintu gerbang, pengunjung berdesak-desakan masuk ke dalam komplek. Mereka mulai menyemut sejak selepas magrib. Rata-rata pengunjung memakai peci, baju putih, jaket bertulisan ‘Majelis Rasulullah SAW, kain sarung. Namun, tak ada yel-yel seperti demo FPI. Wajah mereka tak menampakkan amarah. Dengan tertib dan khusyuk mereka masuk ke dalam komplek. Tujuan mereka ke Gedung Dalail Khairat di dalam komplek Hankam.

“Setiap malam Jumat pukul 20.30-22.00 ada pengajian dan zikir akbar. Selalu ramai kayak gini,” ujar seorang penjual minyak wangi non alcohol. Dia masih muda, memakai jeans dan jaket. Di kepalanya bertengger peci coklat tua. Pria Madura asal Bandung ini mengaku berangkat dari Pasar Rebo. “Yang jualan malam ini rame dari Kampung Rambutan dan Pondok Gede,” jelas pria yang mengaku baru setahun menekuni jualan minyak wangi. Sebelumnya dia bekerja di pabrik roti.

“Ini saya jualan kecil-kecil, tak punya modal gede mas. Tapi lumayan juga jika ada acara begini bisa laku antara Rp200 ribu-Rp300 ribu,” kata-kata dia tenggelam di tengah lantunan zikir dari pengeras suara di depan komplek militer. Di dalam komplek itu, para jamaah sedang melafalkan doa dan zikir memuji Tuhan. Mereka seperti berlomba-lomba unjuk taqwa. Saya sempat menyimak, suara mereka saling sahut-sahutan memanjatkan doa dan zikir.[]

Note: tulisan ini merupakan tugas di hari kedua pelatihan "Jurnalisme Narasi" dengan ketentuan harus memasukkan 'Saya' dalam tulisan.

Post a Comment

Previous Post Next Post