19 October 2012

Newsweek dan Tesis Meyer

Salah satu majalah terkemuka, Newsweek, sudah mengumumkan menghentikan edisi cetak pada akhir Desember 2012. Mereka memantapkan diri akan terbit versi online, mulai awal tahun depan, dengan nama Newsweek Global. "Kami mengalihkan Newsweek, tidak menyatakan selamat tinggal," seperti tertulis dalam pernyataan Tina Brown, pemimpin redaksi dan pendiri situs internet Newsweek Daily Beast Company seperti dilansir BBC.

Kenapa pemilik majalah yang sudah berusia 80 tahun mengambil keputusan radikal tersebut? Alasannya, terjadi penurunan pendapatan dari iklan dan pelanggan mulai menyusut. Majalah tersebut dikabarkan terus merugi sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2008, Newsweek mengalami kerugian operasional US$15,4 juta, lalu pada 2009 nilai kerugian meningkat lagi menjadi US$28,1 juta. Pada tahun 2010, Majalah tersebut tetap merugi.

Bagi saya, informasi ini sama sekali tidak mengejutkan. Kenapa? Di Amerika Serikat, jumlah koran terus menurun sejak tahun 1959. Sebanyak 300 ribu lebih koran sudah tutup sejak itu. Direktur online broadcast di Committee of Concerned Journalistics (CCJ), Wally Dean, menyebutkan, oplah koran terus menurun sebesar 1 persen setiap tahunnya dalam 20 tahun terakhir ini.

Penyebabnya tak hanya karena media online tumbuh pesat, melainkan pendapatan dari iklan mulai berkurang, oplah merosot, pemasang iklan juga mulai beralih ke media online, sementara harga kertas melambung. Bayangkan, Tribune Company yang memiliki Koran-koran besar seperti Los Angeles Times, Chicago Tribune, dan lain-lain mengajukan diri bangkrut, setelah pemasukan mereka turun cukup tajam, dan juga menanggung hutang 13 miliar dollar AS.

me & newsweek
Sebenarnya, sejak 6 tahun lalu, penulis buku The Vanishing Newspaper, Philip Meyer, sudah memprediksikan hal ini. Bahwa media cetak akan banyak ditinggalkan, kecuali di Negara-negara yang perkembangan teknologi informasi berjalan lambat serta masyarakat masih mengandalkan informasi dari Koran cetak.

Namun, kata Meyer, pembaca koran terakhir akan menghilang pada September 2043 (The last daily reader will disappear in September 2043). Malah, sebutnya, pada April 2043 hanya tersisa satu orang kiri yang masih membaca koran. Pertanyaannya, apakah begitu tragisnya nasib media cetak sampai ditinggalkan oleh pembaca setianya? Tak juga. Jika media mau berbenah, masih ada harapan untuk tetap menjaga eksistensi media cetak. Caranya, memperkuat konten dengan tulisan-tulisan mendalam menggunakan gaya narasi yang memikat. Saya kira ini yang mulai dilakukan media-media cetak di luar negeri, meski ini juga tidak begitu menolong.

Setidaknya ini alasan yang diberikan oleh pemilik Newsweek. "Keputusan ini bukan tentang kualitas merek atau jurnalistik, karena masih akan tetap kuat selamanya. Ini merupakan tantangan ekonomi dalam percetakan dan distribusi."

Saya yakin, Newsweek bukan media terakhir yang mengambil keputusan demikian!

Artikel Terkait

1 comments so far