01 August 2013

Ramadhan di Tahun Politik

Tahun 2013 ini dikenal sebagai tahun politik. Semua tingkah-polah elite politik, baik di tingkat pusat maupun daerah, selalu dikaitkan dengan politik. Bahkan, perbuatan baik para politisi selama ramadhan pun akan dipandang sebagai 'kesalehan politis'.  

Ramadan adalah sebuah jembatan, jika boleh diibaratkan demikian. Allah menjadikan satu bulan penuh ini agar manusia membersihkan diri, memperbanyak amalan dan berjiwa sosial. Inilah medium bagi manusia menjadi saleh secara personal sekaligus saleh sosial.

Bagaimana caranya manusia mampu mencapai kesalehan personal dan juga secara sosial? Ada beberapa tahapan yang harus dilalui manusia, yang oleh kaum sufi disebut sebagai jalan tarekat, terutama dipelopori Al Hallaj. Pertama, takhalli atau tahap pengosongan. Pada tahap ini semua sifat-sifat tercela dibuang dari diri manusia. Manusia kembali menjadi suci (fitrah) tanpa dosa. Kedua, tahalli atau tahap pengisian. Diri yang sudah suci dari sifat-sifat tercela tadi kemudian diisi dengan sifat-sifat Tuhan, sifat terpuji. Manusia menjadi makhluk yang terpelihara. Ketiga, tajalli atau tahap terakhir dalam aliran sufi Al Hallaj, yaitu penjelmaan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. 

Tahapan-tahapan ini mampu dilewati manusia jika mereka berpuasa secara sungguh-sungguh dengan pemaknaan mendalam. Ini sesuai dengan Hadist Nabi, bahwa barangsiapa yang berpuasa ramadhan dengan penuh iman dan mengharapkan ridha Allah, akan dihapuskan segala dosanya yang telah lewat. Bagi manusia seperti ini, puasa bukan sekadar ibadah rutinitas sekali dalam setahun, melainkan menjadi sarana penyucian jiwa.

Ketika manusia sudah mencapai tahap tertinggi ini, mereka tak lagi memberlakukan Tuhan semata-mata objek pujaan dalam kata-kata, frasa dan doktrin. Tak lagi menggunakan nama Tuhan secara sia-sia. Tak lagi menggunakan nama Tuhan untuk merampok, korupsi dan menindas manusia lain.

Menjadi peduli
Memasuki puasa tahun ini, kita langsung dihadapkan pada kenaikan harga Bahan Bakan Minyak (BBM) yang diikuti kenaikan harga sembako, transportasi dan kebutuhan lainnya. Kegetiran rakyat meruyak di mana-mana. Rakyat kecil terjepit di tengah himpitan ekonomi, dan terjadi saat rakyat bersiap-siap menyambut puasa ramadhan.

Jurang pemisah antara kelompok kaya dan miskin begitu kontras pasca-kenaikan BBM tersebut. Perhatikan bagaimana masyarakat kecil begitu menggantungkan hidup pada Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Mereka harap-harap cemas jika namanya tak masuk daftar penerima bantuan. Sementara di sisi lain, kita menyaksikan bagaimana perilaku tersangka korupsi melempar senyum lebar sehabis diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau selepas mengikuti persidangan. Kita juga tercengang dengan pengungkapan nilai harta negara yang dikorupsi, tapi mereka masih terus berkilah, tanpa merasa bersalah.

Selama ramadhan, para politisi bakal memanfaatkan momentum kenaikan BBM itu untuk menaikkan citra positif. Mereka menjadikan kegetiran hidup rakyat sebagai jualan dan modal merengkuh kuasa. Ini menunjukkan bahwa kita masih tak mampu menahan diri dari godaan duniawi. Selain itu, kita masih terus mengumpulkan harta secara berlebihan, memproduksi dusta dan menyebarkan fitnah di mana-mana. 

Konstitusi kita secara gamblang menegaskan bahwa anak yatim, fakir miskin dan anak telantar menjadi tanggung jawab Negara. Realitasnya, nasib mereka sering diabaikan. Kenapa bisa demikian? Karena kita belum sepenuhnya menanamkan nilai-nilai puasa dalam diri kita. Kita belum sepenuhnya menjadi pribadi-pribadi yang saleh secara sosial. Padahal, ketika kesadaran ‘ketuhanan’ kita paripurna, kita tentu akan tergerak mengubah persentase masyarakat miskin menjadi semakin berkurang, sesuatu yang abai dilakukan Negara.

Hendaknya, melalui ibadah puasa tahun ini, kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang peduli sasama, dengan mendorong agar distribusi ekonomi menjadi lebih merata, serta bagaimana agar kesejahteraan tak menjadi milik segelintir orang saja.

Kemanusiaan
Selama ramadhan ini, kita yakini agenda politik bakal cukup massif, mulai dari dalih mengontrol pembagian bantuan BLSM hingga safari politik berkedok safari ramadhan. Para calon anggota legislatif pun akan intens turun ke daerah pemilihan masing-masing. Mendadak menjadi merakyat dan dekat dengan masyarakat.

Pertanyaannya, apakah mentalitas politisi sudah berubah? Ternyata jawabannya, bukan. Kesalehan itu hanya sekedar jualan di musim politik, seperti sebelum-sebelumnya. Ini jelas terlihat pada puasa tahun sebelumnya di daerah yang sedang menggelar hajatan politik berupa pemilihan kepala daerah. Para kandidat memanfaatkan momen ramadhan untuk mendekatkan diri dengan rakyat. Namun, setelah terpilih mereka kembali melupakan rakyat, menjadi penjagal dan tukang korup.

Padahal, tahapan tertinggi dari ibadah puasa adalah bagaimana menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa. Dengan kata lain, meminjam bahasa sufistik, penjelmaan (tajalli) sifat-sifat tuhan dalam diri manusia: pemurah dan penyayang. Karena lewat ritual menahan lapar, Tuhan menyentuh hati kita agar menjadi manusia tak tamak pada harta serta bagaimana kita peduli dengan manusia lain yang tak seberuntung kita.


Sebagai penutup, marilah kita menjadikan ramadhan tahun ini sebagai momentum perubahan. Mengoreksi kesalahan-kesalahan yang kita perbuat selama ini, sembari mencari solusi bagaimana mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga!

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak