24 November 2013

Ketangguhan Terios di Surga Tersembunyi

Satu unit jam dinding, posisinya tepat di bawah jendela kamar, dengan kondisi memprihatinkan. Jarumnya menunjuk pada angka 12 lewat 5 menit. Sepertinya, sejak itulah jarum tersebut tak lagi bergerak, hingga hari ini. Keberadaannya diapit dua bekas tulang rahang binatang, di sisi kiri dan kanan. Melihat kondisi jam itu bikin hati siapa pun bergetar, sekaligus menakutkan. Jam yang sudah tua sekali.

Di atas jam itu tertulis, ‘Bukti Jam Erupsi Merapi’ dengan tulisan putih plus merah, berhuruf besar (capital) semua. Sementara di bawahnya ada tulisan: Hari Jum’at. 5 November 2010. Mungkin inilah satu-satunya penanda waktu yang masih tersisa, kapan terjadinya erupsi Merapi yang menewaskan Mbah Maridjan, si juru kunci Merapi itu.

Foto dari blog ini 
Saya sendiri terpana begitu melihat foto jam dinding itu. Bagi siapa pun yang ingin melihat jam tersebut bisa datang ke Museum Sisa Hartaku, di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, seperti dilakukan tim Terios 7 Wonders . Waktu menuju ke lokasi itu bisa dicapai sekitar 5 menit perjalanan dengan mobil dari Desa Kinahrejo. Museum itu dulunya adalah rumah milik Pak Riyanto dan keluarga.

“Ketika memasuki halaman depan, saya langsung disambut dengan rangka besi motor Suzuki yang sudah berkarat dan tulang belulang sapi,” tulis Luciana, salah seorang blogger yang mengikuti tim Terios 7 Wonders di blognya.

Saat di museum itu, lanjut Luciana, mereka ditemani Widodo, adik pak Riyanto. Widodo bertindak sebagai guide saat berada di museum itu. Dari dialah para blogger Terios 7 Wonder memperoleh informasi bahwa sapi yang dipajang di depan rumah itu mempunyai arti penting.

Foto dari blog ini 
 “Dari sapi itulah Pak Riyanto bisa membangun rumah dan menghidupi keluarganya,” jelas Widodo. Seru, bukan?

Tapi, erupsi Merapi tak melulu berisi kisah miris. Ada juga kisah tentang titik balik bagaimana masyarakat berubah setelah musibah itu. Sumijo, misalnya. Seandainya Sumijo mengikuti jejak Mbah Marijan saat Merapi mengeluarkan isi perutnya, ia tak akan bisa tampil sebagai penari Jathilan, saat acara penanaman 10.000 pohon oleh Daihatsu Indonesia.

Desa itu memang tak boleh lagi jadi tempat pemukiman. Sangat berbahaya jika warga masih tinggal di situ. Karenanya, Sumijo bersama seluruh warga desa terpaksa melakukan bedol desa, pindah ke kampung lain di Karang Kendal, kira-kira 3 kilometer dari Kinahrejo.

Wira Nurmansyah, blogger lain yang tergabung dalam tim Terios 7 Wonders menyaksikan sendiri bagaimana desa yang luluh lantak oleh abu Merapi itu disulap menjadi objek wisata. Warga tak membuang puing-puing bekas erupsi, melainkan dikumpulkan satu per satu dan ditata secara rapi. Semua barang-barang itu kini bisa dilihat di museum Sisa Hartaku. “Warga berharap siapa pun yang datang ke Kinahrejo dapat melihat sisa-sisa keganasan salah satu puncak abadi di pulau Jawa ini,” tulis Wira.

Sumijo yang selamat dari erupsi Merapi, kini hidup dengan menjadi supir jeep lava tour. Padahal, dulu sebelum Merapi mengamuk dan menghancurkan apapun yang berada di sekitarnya, Sumijo adalah peternak dan petani. Namun, kita dia menjadi salah satu pemandu wisata untuk siapa pun yang ingin melihat keganasan Merapi.

Foto dari blog ini 
Setelah dua tahun musibah berlalu, kondisi alam dan masyarakat Kinahrejo terus berbenah. Pasir dan bebatuan hasil muntahan Merapi kini menjadi sumber rezeki baru bagi masyarakat dan para penambang. Apalagi pasir-pasir dan bebatuan itu diketahui berkualitas tinggi. Tak heran jika kawasan itu kini dipenuhi para penambang.

“Rumah saya hancur lebur, mas. Ternak juga semuanya mati. Alhamdullilah, saja dan keluarga masih diberikan hidup oleh gusti Allah,” kata mas Sumijo seperti dikutip Wira dalam blog miliknya.

Sahabat Petualang
Saya terus terang ‘iri’ dengan pengalaman kawan-kawan blogger yang tergabung dalam tim Terios 7 Wonders. Tapi, apa boleh buat, saya tak seberuntung mereka. Padahal, salah satu motivasi saya mengikuti lomba Terios 7 Wonders karena tertarik ingin jalan-jalan menggunakan Terios. Apalagi, destinasi yang dipilih membuat siapa pun akan ‘menelan ludah’, dan ternyata memang benar. Apa yang dilihat dan ditulis mereka dalam blog merupakan sesuatu yang bikin ‘ngiler’ siapa pun, termasuk yang tak punya jiwa petualang sekalipun.

Bayangkan, ke-7 destinasi yang dipilih di sepanjang Pulau Jawa, Lombok, Sumbawa dan terakhir di Pulau Komodo menawarkan aneka ragam keindahan, kearifan lokal, dan kisah yang tak akan pernah tuntas ditulis. Selain itu, tema yang dipilih, Hidden Paradise, pun sangat tepat. Ini seperti mewakili kekaguman orang-orang pada keindahan alam Indonesia, yang bak surga tersembunyi.

Pengalaman Luci, misalnya. Awalnya dia hampir menyerah dan tak mau melanjutkan petualangan melihat surga yang tersembunyi itu. Baru dua hari duduk di mobil dengan waktu perjalanan lebih dari sepuluh jam membuat dia menangis dan ingin segera pulang.

“Tubuh saya belum bisa beradaptasi. Beberapa kali saya merasakan eneg yang luar biasa dan akhirnya jackpot satu kali dalam lima belas jam perjalanan menuju Jogja,” tulis dalam posting blog miliknya. Baginya, apa yang dialami tersebut sangat menyiksa. Apalagi dia mengaku termasuk tipe orang yang jarang muntah.

Luci mengaku perjalanan sepanjang 840 kilometer lebih, sejak start dari Sentul, selama dua hari benar-benar membunuh raga dan mentalnya. Dia baru merasa lega setelah tiba di Hotel Amaris, Yogyakarta. “Saya langsung pingsan di kamar hotel. Sempat terbersit di otak saya ‘apa beli tiket pulang ke Jakarta dari Jogja besok ya?’” sambungnya.

Baru pada hari ke-3 Luci sudah tenang. Tak ada lagi niat untuk pulang dan menyudahi perjalanan ke tujuh destinasi surga tersembunyi tersebut. Hari-hari selanjutnya, dia begitu menikmati perjalanan menantang sekaligus pengalaman indah yang tak terlupakan.

Selain untuk melihat surga tersembunyi yang selama ini belum begitu familiar di benar para pelancong, Terios 7 Wonders sebenarnya adalah program promosi Daihatsu, kali ini melibatkan para blogger Indonesia. Daihatsu Indonesia ingin memperkenalkan keunggulan New Daihatsu Terios sebagai 7 seater SUV tangguh yang layak menjadi Sahabat Petualang, terutama untuk menguji ketahanan mobil tersebut di daerah-daerah wisata di Indonesia.

Ketangguhan Terios pun diuji di medan yang sangat menantang, mulai dari Pantai Sawarna di Banten, Desa Kinarejo di DIY, Suku Tengger di Ranu Pane Jawa Timur, Taman Nasional Baluran di Jawa Timur, Desa Sade Rambitan di Lombok NTB, Desa Dompu di Pulau Sumbawa NTB, dan ditutup dengan Taman Nasional Komodo di NTT.

Di Desa Kinahrejo, misalnya. Daerah yang bekas terkena erupsi Merapi itu penuh pasir dan bebatuan. Ini jelas medan yang sulit untuk mobil biasa. Tapi bagi Terios TX, tanpa menggunakan penggerak 4 roda pun sanggup menjelajahi trek yang ekstrim dan berpasir itu. Itulah yang membuat Wira yakin bahwa Terios memang layak menyandang gelar ‘Sahabat Petualang’.

Wira Nurmansyah punya empat alasan, kenapa Terios layak disebut Sahabat Petualang. Pertama, bodynya kecil tapi macho. Sekilas Terios lebih mirip mobil SUV untuk keluarga. “Namun, kalau diperhatikan lekukannya dari sisi belakang, baru keliatan walaupun bodynya cenderung kecil, sangat terlihat kekar namun elegan,” kata Blogger yang senang berpetualang ini.

Kedua, super tangguh di segala medan. Menurut Wira, Terios mampu menembus segala medan, dari pantai Suwarna yang berbatu, jalur lava Kinahrejo yang berpasir, dan tanjakan menuju Ranupane yang menukik itu dapat dilakukan Terios. Jalur lintas Sumbawa tepi pantai yang penuh kurva panjang dan beraspal mulus tetap nyaman digunakan. “Mesin 1500 cc ini pun untuk jalan lurus tak goyang bagian ‘bokong’-nya,” tulisnya.

Ketiga, ruang kaki lega. Bagi siapa pun yang berkendara, kenyamanan adalah hal nomor satu yang harus diperhatikan. Di dalam Terios, kata Wira, walaupun kursi depan sudah ditarik ke posisi full belakang, penumpang di belakangnya masih lumayan nyaman ruang kakinya. Hal ini, penting sekali untuk perjalanan jarak jauh.

Terakhir, bulit in GPS & Airbag. Terios yang mengusung tagline sahabat petualang, tentu saja tak akan lupa menaruh GPS dan Airbag yang terintegrasi di dalam dashboardnya. "Ini merupakan kebutuhan wajib yang harus dimiliki para petualang," kata sang blogger ini.

Pengalaman menjelajahi tujuh destinasi selama 14 hari sudah cukup bagi Wira untuk membuat kesimpulan demikian. Tertarik mencoba, bukan?







Referensi:
1. http://www.wiranurmansyah.com/terios-7-wonders-dari-bawah-kaki-merapi
2. http://backpackology.me/2013/10/04/terios-7-wonders-inspirasi-di-balik-tema/
3. http://lucianancy.com/2013/10/19/terios7wonders-museum-sisa-hartaku-saksi-erupsi-merapi/
4. http://simplyindonesia.wordpress.com/2013/10/18/terios-7-wonders-museum-sisa-hartaku/
5. http://maulanaharris.blogdetik.com/2013/10/05/terios7wonders-hari-ke-3-menjajal-ketangguhan-terios-di-kaki-merapi/
6. http://lucianancy.com/2013/10/18/terios7wonders-7-tips-hadapi-road-trip-panjang/
7. http://www.wiranurmansyah.com/terios-7-wonders-4-alasan-mengapa-terios-layak-disebut-sahabat-petualang
8. http://lucianancy.com/2013/10/11/terios7wonders-diajak-road-trip-2-minggu/
9. http://www.daihatsu.co.id/

Artikel Terkait

4 comments