31 March 2008

Tahu Diri

Oleh Taufik Al Mubarak

Ada dua tempat yang selalu kuperhatikan ketika aku pulang kampung. Pertama, pasar hewan di Sibreh, Aceh Besar, dan kedua pasar ayam di Simpang Pidie. Pasar Sibreh selalu ramai ketika hari pecan yaitu Rabu, sementara pasar Simpang pidie, setiap pagi ramai, setiap hari. Di pasar Sibreh, selalu saja ada hewan seperti kambing, lembu dan kerbau yang dijual. Di Simpang Pidie hanya ada bebek dan ayam.



Aku belum pernah membeli Hewan di Pasar Sibreh, hanya melihat-lihat saja dari jauh. Sementara di pasar Simpang Pidie, tepatnya di lampu merah, aku pernah berhenti dan sempat melihat-lihat bebek dan ayam yang dijual di sana. Baunya khas dan menyengat. Jika tak ada keperluan, kita tak akan membuang waktu berlama-lama di sana.

”Manok nyang toh kubri saboh,” tanya seorang penjual ayam. Jangan salah diartikan, kubri (memberi) di sini bukan bermakna memberi mentah-mentah, tapi kata halus untuk menjual. Dia memberi kita ayam, kita memberinya uang. Jadi, bukan memberi tok, semacam hadiah atau sedekah. Mendengar itu, aku hanya senyum-senyum saja, dan menjawab singkat. ”Lon ngieng-ngieng dilee jeut?”. ”Juet” jawabnya, sambil melihat-lihat ke arah pembeli yang baru datang.

Meski aku belum merasakan suasana di pasar hewan di Sibreh, tapi kondisinya pasti sama. Setiap kita ke sana, langsung ditawari kambing, lembu atau kerbau. Karena, yang datang ke sana bukan sekedar melihat-melihat tidak membeli. Di sana hanya ada penjual dan pembeli. Memang sih, kondisinya ada yang seperti kata pepatah, ”Yang datang tidak membeli, yang membeli tidak datang”. Tapi, secara umum hanya ada dua golongan manusia di sana, pembeli dan penjual hewan.

”Pue tacok (kita ambil) saboh kameng bak kamoe?” pertanyaan itu yang selalu ditanyakan kepada setiap pembeli yang dikenal maupun tidak dikenal (pembeli baru). Perhatikan tacok, yang artinya kita ambil. Kata ini sebenarnya terdiri dua kata: kita (di singkat menjadi ”ta”) dan cok (ambil). Padahal, itu kambing dia, tapi dia masih tetap bertanya, seolah-olah kalau kita ambil (beli), berarti termasuk dia di dalamnya, meskipun dia penjual. Terlihat ada penghargaan terhadap pembeli. Penjual menggunakan bahasa politik yang sangat halus mempengaruhi pembeli. Tapi, ini jelas bukan medan kampanye di mana orang berbicara dengan bahasa ’sok’ akrab penuh dengan kamuflase. Ini hanya arena jual beli hewan. Tapi, komunikasi politik tetap berjalan dan pembeli merasa dihargai.

Sudah tabiat kita, kalau sesuatu sudah ditawarkan, tetap saja barang itu tidak lagi menarik. Kita tidak langsung membelinya, melainkan tetap ingin melihat-lihat. Perilaku pembeli, di pasar mana pun selalu melihat-lihat dulu barang yang akan dibeli, seperti melihat kualitas barang, harga barang, dan membandingkan dengan harga pada penjual lain. Pembeli tidak akan membeli kambing atau ayam yang ditawarkan. Karena jika ditawarkan, konotasinya pasti ada yang tidak beres: tidak laku lagi, atau barang tersebut tidak sempurna, ayamnya keunong ta-uen, atau flu burung. Kalau kambing, mungkin kambingnya sudah ciret, sudah mau mati, atau ada penyakit yang pembeli tidak tahu.

Logikanya, jika tidak bermasalah pasti tidak ditawarkan. Pembeli yang cerdas, seperti sudah kita tulis di atas, tidak akan langsung membeli.

Dalam membeli kambing atau ayam, dia pasti melihat dulu barangnya. Meneliti dan mengamati, dan membanding-bandingkan dengan kambing/ayam sebesar itu cocok tidak dengan harga penjual yang lain. Dia pasti mau membeli kambing atau ayam yang sehat. Tanpa ditawar pun kalau kualitasnya bagus, pasti dibeli. Setiap kambing atau hewan yang dibawa itu, sang penjual pasti sudah memperhitungkannya, kambing/hewan/ayamnya laku berapa: ada yang laku per ekor Rp400 ribu untuk kambing, atau Rp15 ribu untuk ayam. Jika dia membawa banyak ayam, dia yakin tak semuanya laku. Pasti ada yang tinggal. Dia hanya menawarkan banyak pilihan kepada pembeli. Kalau baik pasti akan dibeli. Penjual tak perlu ragu.

Sementara kambing/hewan/ayam yang tidak laku, juga tahu diri. Dia rela dibawa pulang kembali ke rumah dan dimasukan ke kandang. Dia tahu diri. Penjual tahu diri kalau kambing/hewan/ayamnnya mutunya tidak bagus atau sakit-sakitan. Oleh penjual sejak dari rumah sudah bisa diprediksi, mana kambing yang bakal laku, mana ayam yang bakal laku dan mana yang tidak. Itu tergantung pada selera pembeli.

Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? Tidak ada hubungan apa-apa. Karena ketika saya menulis ini, saya tahu diri. Bahwa tulisan saya akan dimaki dan dicaci, dan dianggap tidak manfaat. Tapi, ada satu pesan yang bisa diambil di sini. Dalam politik, sangat penting politik tahu diri. Itu sangat penting. Politisi atau orang yang terjun dalam politik, harus ingat betul-betul, bahwa ”Yang naik tanpa kemampuan akan turun tanpa kehormatan”.

Begini, mungkin bahasa saya terlalu susah dipahami. Partai lokal kan sudah diverifikasi, setelah itu pasti masing-masing partai sibuk merancang dan menempatkan siapa saja yang mampu dijadikan calon legislatif (caleg). Orang-orang yang ditempatkan itu, menurut partai, pastilah kader-kader terbaik. Masalahnya, siapa yang tahu bahwa caleg itu kader yang baik? Soalnya, jika dibuat oleh partai, berarti dipaksakan dari atas (dari partai), sementara rakyat tidak pernah tahu siapa dia. Saran kita, sebelum menempatkan caleg, apakah sesuai nomor urut atau sesuai daerah pemilihan, caleg-caleg itu harus diperkenalkan dengan masyarakat. Atau biarlah masyarakat sendiri yang mengusulkan, mana yang layak dijadikan sebagai caleg. Kalau perlu, dibawa ke pasar seperti halnya hewan yang dibawa ke pasar hewan. Biarlah masyarakat yang memilih. Kalau caleg-nya bagus, masyarakat akan menerima dan mau memilihnya. Jika tidak, apa boleh buat. Nasibnya mungkin tak jauh beda dengan ayam yang keunong ta-uen atau kameng ciret (mencret). Dipoles, dirayu dan ditawar bagaimana pun tetap tidak laku.

NB: sudah dimuat di Harian Aceh, Senin 31 Maret 2008

Artikel Terkait