24 May 2008

Bola

Bola. Ya…Bola. Semua orang menyukai bola. Malam kemarin (23/05/08), pertandingan Liga Champions antara Manchester United dan Chelsea berlangsung menegangkan. Pada akhirnya, melalui pertarungan sengit, MU keluar sebagai juara.

Tapi, itulah permainan bola. Dalam waktu beberapa menit, semua bisa terjadi. Klub yang tak diunggulkan bisa langsung menang, begitu juga sebaliknya. Dalam waktu per menit juga, air mata bisa bercucuran karena tim favorit kalah. Tim yang sudah memastikan menang, namun karena salah sedikit saja harus pulang dengan wajah tertunduk. Sekali lagi, itulah bola.

Negara besar atau klub besar yang identik dengan kampium sepak bola, tak langsung menang atau menjadi juara. Anda pasti tahu Brazil, negara yang punya tradisi sepak bola dan favorit juara Piala Dunia 2006 dua tahu lalu di Jerman. Apa yang terjadi? Brazil rontok di tangan Perancis yang sama sekali tidak difavoritkan. Perancis kemudian kalah dari Italia.

Demikian juga Inggris, Negara tempat permainan bola pertama kali diperkenalkan. Tapi, apa yang terjadi, Inggris harus absen di Piala Eropa yang berlangsung pada Juni-Juli nanti. Publik tentu kecewa, karena bagaimanapun Inggris tetap memberi pesona bagi siapa saja. Malah, Liga Inggris dikenal sebagai kompetisi terbaik dan sekaligus termahal di dunia.

Dalam permainan bola, semua bisa terjadi dan tak bisa diprediksi. Kalkulasi di atas kertas tak selalu sama di lapangan. Bola itu bulat, kata orang. Tim populer, pemain termahal, dan negara superpower tak jadi jaminan akan langsung menjadi raksasa sepak bola. Karena, popularitas dan nama besar tak selamanya berarti bisa menang.

Dalam permainan, hanya klub yang memiliki taktik dan teknik jitulah yang bisa menang. Ada strategi-strategi yang dimainkan. Tahu di mana kelemahan dan kelebihan lawan. Kemudian tahu cara mengatasinya. Di sini sebuah klub harus sangat pandai mempelajari teknik lawan. Karena klub yang memiliki teknik terbaiklah yang selalu bisa menang.

Lalu, apakah dunia politik sama seperti dalam permainan bola? Sama, malah dalam politik lebih abu-abu. Kita tak bisa menerka siapa lawan atau kawan kita. Dalam politik, umum berlaku teori Machievalli: “tak ada kawan atau lawan sejati, yang ada hanya kepentingan.” Sangat abu-abu.

Lalu, apakah dalam politik dibutuhkan analisis seperti dalam sepakbola? Tak selalu harus. Analisis itu kadang-kadang menciptakan “maop” bagi diri sendiri, dan mengakrabkan kita pada sikap kalah sebelum bertanding.

Tahun depan, di Aceh akan berlangsung pesta demokrasi yang berbeda di tempat lain di Indonesia. Karena di Aceh diwarnai dengan kehadiran partai politik lokal. Partai-partai lokal ini akan bertarung dengan partai nasional dan juga sesama partai lokal. Kita akan menyaksikan elemen-elemen perjuangan akan saling mengalahkan, dengan cara apapun.

Tapi, kita harus mengingatkan, bahwa ini politik. Klaim politik harus diuji di arena publik. Biarlah rakyat yang menentukan pilihan tanpa dipaksa untuk memilih salah satu partai. Karena, seperti disampaikan Mao Tse Tung, “politik adalah perang yang tidak menumpahkan darah, sementara perang adalah politik yang berdarah-darah.” Sebab, kita sudah lama meninggalkan perang. Ini politik bos! (HA 240508)

Artikel Terkait