06 September 2008

Investasi

Saat awal-awal Pemerintahan Irwandi-Nazar sangat gencar menggaet investor untuk menanamkan modalnya di Aceh. Berbagai upaya lobi dilakukan, seperti kunjungan ke luar negeri dan mengundang investor untuk melakukan survey di Aceh. Namun, seiring waktu, tak banyak investor yang mau berinvestasi di Aceh. Gagalkah pemerintah Aceh? Jawabannya, hanya rakyat dan kita-kita saja yang tahu.


Tapi, saya selalu membayangkan begini, bagaimana jika Pemerintah Aceh saja yang berinvestasi di luar negeri, dan keuntungannya nanti bisa mengalir ke Aceh. Ide ini bisa saja mengundang tawa. Namun, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Sebut saja misalnya, daripada mengurusi investor yang ‘masih’ berencana menanamkan modalnya di Aceh, lebih baik saatnya Pemerintah Aceh melakukan ekspansi investasi di luar negeri. Soalnya, hal ini dimungkinkan, karena Aceh bebas melakukan kerjasama ekonomi dan investasi dengan luar negeri, seperti disebutkan dalam UU PA, yaitu “Penduduk di Aceh dapat melakukan perdagangan dan
investasi secara internal dan internasional sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.” (pasal 165 ayat (1))

Selama ini, seperti kita tahu, banyak anggaran yang dimiliki oleh Pemerintah Aceh, tapi tak mampu dihabiskan. Tahun lalu saja, ada sekitar Rp2 triliun yang harus dikembalikan ke pusat. Semantara tahun ini, diramalkan ada sekitar Rp5 triliun dana yang harus dikembalikan, karena tidak semuanya terserap. Seperti pemberitaan beberapa waktu lalu, dari dana Rp8,5 triliun baru terserap sekitar 10 persen atau Rp850 miliar. Ada sekitar Rp7,6 triliun dana yang tersisa. Dengan masa anggaran yang tinggal beberapa bulan lagi, bakal banyak dana yang tidak terpakai dan hangus.

Nah, bagaimana jika dana yang diperkirakan bakal tak mampu dihabiskan digunakan untuk berinvestasi dengan membeli sebuah klub Sepakbola di Inggris, misalnya. Bukankah itu lahan bisnis yang menggiurkan. Membeli klub sepakbola dewasa ini menjadi investasi jangka panjang. Tak hanya keuntungan ekonomis yang bakal didapatkan, melainkan ketenaran. Dan Aceh akan selalu disebut-sebut setiap pemberitaan tentang pemilik klub sepakbola tersebut. Apalagi jika icon Aceh selalu disorot kamera saat berlangsungnya pertandingan.

Saya percaya, jika seluruh rakyat Aceh bersepakat menggunakan sebagian dana APBA untuk membeli klub sepakbola, rencana ‘gila’ ini akan terlaksana. DPRA juga harus bekerjasama, dengan memberi peluang agar anggaran tersebut digunakan untuk membeli sebuah klub bola. Anggap saja, rencana ini untuk mempromosikan pesona Aceh yang mulai pudar, seiring gagalnya beberapa proyek BRR, dan berhentinya konflik.

Pemerintah Aceh, dengan dana yang cukup besar tersebut, saya yakin mampu membeli klub besar. Seperti saya baca di media, harga sebuah klub sepakbola, tidak terlalu ‘mahal’ karena dengan dana yang dimiliki Aceh mampu membeli klub tersebut. Sebut saja, misalnya, Manchester City, yang berharga 200 juta poundsterling (Rp3,4 triliun ), seperti dibeli pengusaha kaya-raya Uni Emirat Arab yang tergabung dalam Abu Dhabi United Group for Development and Investment (ADUGDI) yang diwakili Sulaiman Al Fahim dari pemilik sebelumnya Thaksin Sinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand.

Coba, jika langkah itu diikuti oleh Pemerintah Aceh, dengan membeli salah satu klub sepakbola di Inggris, pasti rakyat Aceh akan sangat bangga, karena dana yang mengalir ke Aceh tidak kembali lagi ke pusat, tapi menjadi aset berharga untuk masa depan. Hal itu juga akan berpengaruh terhadap dunia persepakbolaan Aceh, di mana bakal munculnya pesepakbola handal dari Aceh. Jadi, upaya Pemerintah Aceh mengirimkan pesepakbola anak-anak Aceh ke Paraguay tidak akan sia-sia, karena punya tim yang akan menampung nantinya dan berpartisipasi dalam event internasional. Apalagi Pemerintah Aceh dapat berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan seni, budaya, dan olah raga internasional (baca UU PA pasal 9 ayat (2)). Jika suatu saat Aceh bisa ikut Piala Dunia, bukankah itu sudah sangat luar biasa? Itu baru self government.

Artikel Terkait

3 comments

kalo menurut aku gini bang, masalah pengalihan anggaran ke keperluan lain kayanya sangat ga dimungkinkan walopun dengan alasan karena udah ga ada waktu untuk menghabiskan, karena setau aku mekanisme anggaran tu, pada dasarnya sampe habis anggaran tu udah ada rencana2 proyek yang harus dikerjakan sama pemda yang udah diplotkan saat perancangan anggaran jadi mau gamau ya uangnya harus dihabiskan sesuai rancangan, masalah sekarang tu yang bikin selalu ga habis ya karena molornya pelaksanaan proyek2nya dari mulai tender, kontrak, implementasi, sampe serah terima sehingga anggaran yang belum sempat terpakai karena molornya proyek tu terpaksa diplot ke anggaran tahun depan, molornya tu ya karena perancangan anggaran yang ga sigap jadinya waktu untuk melaksanakan proyek2 juga makin sedikit, dan juga kekurang mampuan dalam menangani banyak proyek secara paralel. kalo dipaksakan dialihkan ke sektor lain mereka bisa repot pas evaluasi dan laporannya bisa2 ga diterima oleh menteri keuangan.

kalo masalah investasi diluar, kayanya tetap aja lebih baik investasi di dalam negeri, disamping dapat keuntungan investasinya, uangnya pun berputar dan terserap oleh SDM lokal, tapi kalo investasi keluar kita cuma dapat keuntungan investasi aja sehingga bisnis2 lokal ga akan tumbuh. Kalo memang mau investasi keluar menurut aku bisa memanfaatkan (contohnya) dana abadi pendidikan, atau kalo memang sangat berniat investasi diluar setelah pemikiran yang matang ya mau gamau harus diplotkan pada anggaran tahun depan khusus untuk invetasi keluar tu.

Tapi kalo untuk ke depan aku rasa pemda udah jera dan malu jadi juru kunci penyelesaian perancangan anggaran tahun ini, sehingga udah keliatan ancang2 pembuatan draft anggaran tahun depan dari skr dengan target januari udah disahkan supaya proyek2 bisa langsung mulai dikerjakan dari awal tahun

iya sich sama juga dengan di sini.. banyak investor yang "berencana" menanamkan investasinya disini.. ada sich emang sebagian yang udah jadi.. tapi banyakan ga jadinya..padahal dah digembor2kan...
hmmm.. apa alangkah baeknya sebelum terjadi, jangan dipublikasikan dulu... kan rakyat jadinya yang berharap duluan...

rencana gila itu kurang seksi, bagusnya pemerintah aceh beli sun (surat Utang Negara) saja seperti yang dilakukan oleh BPD Aceh dan Bank-bank yang ada di dunia ini, bunga tinggi resiko tan. soal mengundang para investor untuk berinvestasi di aceh, itu sama saja Irwandi Nazar hana melihat tingkat pendidikan masyarakat aceh yang masih kolot dan sulit melihat seorang tampil beda. ketahuilah bawa masyarakat aceh belum siap untuk maju, saya harap Irwandi Nazar mulailah berfikir untuk mempersiapkan sumber daya manusia saja dulu, tapi ingat yang bermoral. dan jangan pakai cara boros.
1. Hilangkan dulu subsidi penerbangan pesawat kecil yang kedaerah itu.
2. jangan ada kredit yang di biayai oleh pemerintah.
3. jangan tentukan harga beras lagi, dan tolak hasil bumi dari daerah lain, beli dan nikmati hasil bumi dari petani sendiri.

saran ini saya harap di baca oleh Irwandi. kalo tidak mohon yang punya blog sampaikan pesan saya ini.
demikian


EmoticonEmoticon