Thursday, October 16, 2008

Mie Aceh

Seorang kawan yang baru tiba dari Jakarta, sebut saja namanya DoKaHa, mengaku kecewa setelah melihat Aceh dari dekat. Menurutnya, apa yang dia dengar dan kenyataan yang dia lihat, sangat jauh berbeda. Katanya, Aceh tak seperti yang sering diceritakan orang. Karena penasaran, saya mencoba bertanya, apa yang membuatnya kecewa?


"Di Jakarta atau di Medan, saya begitu gampang menemukan orang yang menjual Mie Aceh, tapi di Aceh sendiri saya sulit menemukannya," begitu jawaban DoKaHa. Saya cuma tersenyum kecil mendengar jawabannya.

Bukan apa-apa, yang dipersoalkan oleh saya kawan benar-benar persoalan sepele , dan mungkin sangat tidak layak jadi obrolan serius, yang menyita lebih banyak waktu. Sebab, banyak hal lain yang lebih penting yang mesti diperdebatkan atau dipersoalkan. Katakanlah, soal kepulangan pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Hasan Tiro, yang menyita hampir semua halaman depan Koran lokal. Bukankah sosok Tgk Hasan Tiro (HT) masih banyak dibalut misteri, sama seperti cerita puluhan tahun lalu?

Soalnya, hampir di setiap kesempatan, Wali cuma mengucapkan beberapa kata yang sangat mudah diingat, dan diprediksikan, seperti ulon ka troh u Aceh, thank you atau lon ka meugilho tanoh Pidie. Menyimak ucapan tersebut, jelas sekali berbeda dengan HT yang kita kenal selama ini, seorang orator dan ideolog yang membuat pendengar ‘bergetar hatinya’ atau ‘terpikat dengan ajakannya’.

Selain itu, kawan saya juga bisa mendiskusikan kenapa ada sejumlah pengikut Wali yang tidak tampak batang hidungnya, padahal mereka dulu bersama-sama dengan Wali dan menjadi pendukung setia Wali. Apakah ini suatu isyarat bahwa sudah terjadi lagi keretakan di tubuh GAM? Soalnya, sejak gerakan ini dibangun, pernah beberapa kali diisukan retak, dan ada sejumlah pengikut yang dipecat. “Apakah hal itu sudah terjadi lagi sekarang?” Saya mencoba bertanya.

“Kemana Tgk Bakhtiar Abdullah dan Tgk Sofyan Dawood?” tanya Apa Maun yang duduk di samping saya, setelah bergabung bersama kami untuk sebuah obrolan ringan yang ‘tidak’ terlalu penting. Saya yang dari tadi penasaran dengan pernyataan DoKaHa menjadi bertambah bingung. DoKaHa juga bingung, dan memandang lama ke arah saya, seperti menunggu pernyataan apa yang bakal keluar dari mulut saya. Padahal, saya sendiri juga bungkam, tak tahu harus berkata apa.

“Iya, kemana Bakhtiar Abdullah dan Sofyan Dawood?” saya mengulang pertanyaan Apa Maun. Soalnya, sejak Wali tiba di Malaysia, wajah Bakhtiar Abdullah dan Sofyan Dawood sama sekali tak terekam di Media. Hal yang sama juga terjadi di depan Masjid Raya Banda Aceh, di Kuburan Tgk Syik Di Tiro atau di Pendopo Gubernur. Kemana mereka?

Padahal dulu, setiap ada Wali, sosok Bakhtiar Abdullah selalu di samping Wali. Banyak media di luar negeri juga sering mengutip pernyataan Bakhtiar seputar perjuangan GAM. Bukan hanya karena posisi Bakhtiar Abdullah saat itu sebagai Juru Bicara GAM di Sweden, melainkan juga orang yang dididik oleh Wali secara langsung. Sementara Sofyan Dawood, kita kenal sebagai sosok militer GAM yang sangat disegani dan ditakuti saat Darurat Militer. Setiap hari pernyataannya kita baca di Koran. Sekarang, ketika Aceh damai, dan Wali pulang ke Aceh, kenapa mereka tidak bersama Wali? Apa yang terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat kami penasaran, dan tak tahu harus bertanya kemana? Sama seperti rasa penasaran saya terhadap DoKaHa yang bertanya kenapa di Aceh tidak ada Mie Aceh?

Untuk pertanyaan ini, saya bisa mereka-reka jawabannya, dan (mungkin) masuk akal. “Di Aceh bukan tidak ada Mie Aceh, tapi malah sangat banyak. Di setiap warung kopi ada penjual Mie Aceh. Masalahnya, di sini orang Aceh tak perlu menulis Mie Aceh di rak Mie-nya, karena orang sudah tahu kalau itu Mie Aceh,” jawab saya sekenanya. Sementara di Jawa, atau di mana saja di luar Aceh, orang Aceh perlu menampakkan identitasnya, agar orang-orang tahu bahwa itu Mie Aceh. “Coba jika tak ditulis Mie Aceh, apakah orang akan tahu kalau yang dijual itu adalah Mie Aceh?” tanya saya. DoKaHa hanya mengangguk-angguk saja. Saya yakin dia menerima argumentasi konyol saya.

“Kok bisa begitu ya? Lalu, kenapa di sini ada orang menggunakan nama partai dengan Partai Aceh? Padahal ini kan di Aceh?” tanya DoKaHa lagi. Sekarang giliran saya yang bertambah bingung, dan tak selera menjawabnya.(HA 161008)