06 November 2008

Belajar dari Kemenangan Obama

Fantastis. Itulah kata yang tepat menggambarkan kemenangan Barack Obama atas John McCain dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, Selasa (4/11). Selisih suara kemenangan Obama juga telak, 349 lawan 147. Dunia pun menyambut kemenangan Obama dengan rasa suka cita. Ucapan selamat dari pemimpin dunia kepada Obama bermunculan. Obama dianggap akan mengubah citra Amerika yang keras sejak dipimpin Presiden Bush.

Bagi Indonesia, kemenangan Obama memiliki arti penting. Sebab, selama empat tahun, Obama pernah menghabiskan waktunya di Indonesia, dan bersekolah di sebuah SD di Menteng, Jakarta. Kemenangan Obama tersebut, diharapkan hubungan Indonesia dan Amerika lebih dipererat lagi.


Presiden SBY, secara khusus mengomentari kemenangan Obama, mampu menciptakan perdamaian dunia. “Amerika Serikat (AS) kini telah memiliki presiden baru yakni Barack Obama. Dengan adanya pemimpin baru ini, diharapkan ke depan AS dapat meningkatkan peranannya membangun perdamaian dan kedamaian dunia,” kata SBY kepada wartawan atas terpilihnya Obama sebagai Presiden AS ke-44.

Banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari Pemilu Amerika dan kemenangan Obama. Bukan hanya karena Amerika sudah menerima kulit hitam menjadi seorang presiden. Bukan pula karena Obama pernah mencicipi pendidikan di Indonesia. Hal yang perlu dicatat adalah ekpektasi masyarakat menyongsong perubahan, seperti janji Obama dalam setiap kampanyenya. Obama seperti membangkitkan gairah politik masyarakat untuk peduli pada masa depan Negara. Seperti diberitakan, tampilnya Obama telah mendorong warga Amerika yang sebelumnya tidak begitu peduli dengan pemilihan presiden, rela berantrian panjang, untuk memberikan suara kepada Obama, yang berharap datang perubahan di Amerika.

Selain itu, kemenangan Obama juga memunculkan optimisme baru, bahwa usia bukan menjadi faktor yang menghambat seseorang untuk memimpin Negara, apalagi Negara sebesar Amerika. Hal itu hendaknya menjadi contoh bagi Negara kita yang selama ini masih terkesan, yang muda belum boleh bicara. Sebab, menjadi presiden, usia tidaklah menentukan makmur-tidaknya sebuah Negara. Karena, hal yang terpenting adalah visi sang pemimpin dalam membawa perubahan, dan merangkul segala elemen dan kelompok untuk bersama-sama menciptakan perubahan. Menjadi presiden, apalagi untuk Negara sebesar Amerika, haruslah memiliki visi dan konsep yang matang, untuk ditawarkan dan dilakukan jika terpilih nanti.

Menjadi pemimpin juga tidak cukup bermodalkan uang dan popularitas. Sebab, seperti sosok Obama, kecerdasan dan kepintaran, khususnya dalam merespon sebuah persoalan dan mampu menawarkan solusi itu yang lebih penting. Kecerdasan dan kepintaran yang akan membuat seseorang populer atau tidak. Sementara modal, akan datang sendirinya, begitu sang kandidat diyakini mampu dan layak untuk memimpin. Seperti kita tahu, sebagian besar dana kampanye Obama berasal dari sumbangan personal yang bersimpati padanya, yang dihimpun dari situs pribadinya.

Pesta politik Amerika juga dianggap sebagai pesta yang paling meriah dari pemilihan presiden AS yang pernah ada. Karena, baru kemarin warga Amerika merasa begitu penting satu buah suara untuk perubahan. Nah, apakah pesta demokrasi di negeri kita sama seperti Pilpres di Amerika? Sangat jauh dari harapan, sebab di sini, dalam setiap pemilihan, apakah pemiliu Bupati/Walikota, Gubernur, Presiden atau anggota DPR, yang selalu menang adalah Golput. Kenapa bisa terjadi, karena warga di sini tidak yakin dengan kemampuan kandidat yang maju dan bertarung, apalagi membawa sebuah perubahan. (HA 061108)

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

2 comments