07 August 2012

Tips Menulis Narasi

Banyak orang bercita-cita menjadi penulis. Tapi banyak dari mereka yang kemudian menyerah, karena selalu gagal menjadi penulis yang baik. Memang, untuk menjadi penulis, diperlukan bakat. Namun, bakat juga bukan faktor penentu, karena sebenarnya latihan terus-meneruslah yang membuat seseorang bisa menjadi penulis.

Untuk menjadi penulis narasi, pertama-tama kita harus menguasai konsep dasar yang lazim digunakan para jurnalis dalam mencari dan meliput suatu peristiwa. Dalam jurnalistik, kita mengenal konsep dasar penulisan berita yaitu 5W+1 H atau What (apa), Who (siapa), Where (di mana), When (kapan), Why (mengapa), dan How (bagaimana). Jika semua unsur itu sudah dimiliki, tugas kita adalah menemukan dan memastikan jalan cerita, yang dibangun dengan konsep 5W+1 H. Sebuah tulisan yang baik mutlak harus mampu menjawab keenam pertanyaan tersebut.

Seorang jurnalis (bahkan siapa pun yang senang menulis) harus senantiasa punya rasa ingin tahu yang besar tentang banyak hal dan senantiasa kritis-skeptis. Jadi, syarat itu bukan mutlak harus dipunyai wartawan, melainkan juga oleh orang-orang yang ingin menjadi penulis, terutama penulis narasi.

Apakah tulisan narasi itu? Apakah dia sama dengan tulisan in-dept (laporan mendalam). Pengetahuan yang saya peroleh dari guru Saya dalam pelatihan, menyebutkan tulisan narasi lebih dalam dari in-depth reporting, yaitu tak hanya melaporkan seseorang melakukan apa, tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu.

“Ada karakter, ada drama, ada babak, ada adegan, ada konflik,” kata guru saya.

Apakah penulis narasi perlu menguasai dan memanfaatkan unsur 5W+1 H? Iya, mutlak harus. Karena tulisan narasi itu harus benar-benar berdasarkan fakta. Tak boleh hasil rekayasa apalagi karangan penulis. Ingat, unsur 5 W+ 1 H dalam tulisan narasi merupakan pengembangan dari unsur dasar jurnalistik. Guru menulis dari Poynter Institute, Florida, Roy Peter Clark, mengembangkan konsep 5 W+1 H menjadi pendekatan narasi.

Katanya, dalam tulisan narasi, What berubah menjadi plot/alur (urutan peristiwa), Who menjadi karakter, Where menjadi setting/adegan, When menjadi kronologi, Why menjadi motivasi/motif, dan How menjadi narasi. Nah, rumus 5 W + 1 H tetap dipakai, bukan?

Tulisan narasi atau narrative journalism bermula dari kegusaran Tom Wolfe, wartawan yang pernah bekerja untuk The Washington Post, New York Herald Tribune, Springfield Union. Dia menerbitkan buku antologi The New Journalisme. Di Indonesia, narrative journalism kerap diterjemahkan sebagai Jurnalisme sastrawi. Namun, guru saya, Janet Steele tidak begitu suka dengan terjemahan ini. Dia lebih senang menyebutkan narrative journalism saja.

Tapi, sekali pun di Indonesia disebut jurnalisme sastrawi, namun jurnalisme narasi ini bukan laporan fiksi. Dalam tulisan narasi, sastra hanya diadopsi cuma untuk unsur gaya. Fakta tetap menjadi unsur yang sangat penting. Fakta tetap menjadi sangat suci untuk dikotori.

Agar bisa menjadi penulis narasi, kita mutlak harus memiliki kemampuan seorang wartawan (dalam mencari data dan fakta) dicampur dengan kemampuan novelis (urusan gaya).

Ada empat (4) unsur tulisan narasi. Yaitu:
Dalam bertutur menggunakan adegan per adegan (scene by scene contruction). Gaya bertutur di sini mirip seperti susunan skenario film, tanpa banyak penjelasan dari penulis. Melalui adegan, pembaca memahami perubahan cerita dengan sendirinya, tanpa harus dijelaskan.

Immersion Reporting (Reportase menyeluruh). Artinya, penciptaan dialog terutama kutipan yang ekspresif/mengungkapkan. Ini bisa dilakukan dengan ketekunan mencatat kata-kata berbagai narasumber. Dari dialog, pembaca tahu apa yang terjadi, bagaimana kejadiannya. Bahkan bisa menilai narasumber dari cara dia bicara: Bagaimana karakternya, sikap dan pemikirannya.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga (Third Person Point of Views). Dalam tulisan narasi, memiliki banyak perspektif, termasuk dari sang penulis. Dengan alat ini jurnalis tidak hanya menjadi si pelapor. Ia bisa menjadi orang di sekitar tokoh, pembaca diajak masuk dalam cerita. Pembaca seakan berada di tiap keinginan, tiap pikiran dan pengalaman. Kata “SAYA” dipakai untuk mengikat cerita serta untuk akses ke sumber.

Mencatat dengan detail status kehidupan karakter/tokoh: bisa gaya hidup, kebiasaan, cara bicara, karakter, pakaian, dekorasi rumah, termasuk pandangan-pandangan si karakter.

Intinya, sebagai jurnalis kita harus mewawancarai dia, segala pikiran dan segala emosinya, sepanjang berhubungan dengannya. Bagaimana dengan pemilihan tokoh? Jelas, tokoh itu haruslah menarik, karena memiliki banyak kekurangan/tidak sempurna, kemudian terlibat konflik, dan konflik mengubah dirinya menjadi orang baru.

Nah, bagaimana? Yuk kita memulai menulis narasi dengan mempraktekkan tips di atas. Semoga bermanfaat. [dari berbagai sumber]

Artikel Terkait