Semalam di Singapore (3)

Di dalam taxi, mata kami berdua tak sedetikpun terpejam. Terlalu indah untuk dilewatkan. Singapore begitu gemerlap. Bagi kami yang pertama kali berkunjung ke Singapore tentu saja apa yang kami lihat itu benar-benar menyihir. Dalam hati, saya sempat bergumam, kapan bisa kembali lagi ke sini? Kami tak menghayal yang muluk-muluk, bahwa Aceh harus seperti Singapore, meski dilihat dari letak geografis dan hasil alam, Aceh bisa dibangun melebihi Singapore.


Sebelumnya Semalam di Singapore (2)

Tak terasa, taxi yang kami tumpangi memasuki kawasan Marina. Di beberapa persimpangan yang sempat kami baca, menunjukkan bahwa kami benar-benar sudah berada di kawasan Marina. Namun, kami baru pertama kali berkunjung, kami tidak tahu harus turun di mana. Tak ada keramaian di situ. Bangunan yang kami lihat kebanyakan seperti apartemen, gedung pemerintahan dan gedung-gedung pencakar langit lainnya. Kami pun bingung. Sopir taxi kemudian memberitahukan bahwa kami sudah berada di Marina Bay.

Melihat kami hanya diam saja, si sopir pun kemudian bicara lebih keras. “Kita sudah sampai marina bay, turun di mana?” tanyanya (ini sudah saya terjemahkan, hehehe). Di tengah keterkejutan itu, kami menjawab, bahwa tujuan kami Marina Bay. Entah kesal dengan kebodohan kami atau memang wataknya yang seolah-olah superior karena berhadapan dengan kami yang dari Aceh, si sopir seperti membentak, “Many-many marina bay…” dengan gerak-gerik tangan menunjuk ke segala arah. Saya tak memperhatikannya, tapi membuka kembali pesan di Hp. Kemudian saya tunjukkan ke muka sopir. Dia geleng-geleng kepala, sambil berucap bahwa kami sudah sampai di marina bay.

Kami pun tak hilang akal, meski sudah melewati perjalanan selama delapan jam dari Kajang ke Singapore. Saya baca kembali pesan di Hp dan kemudian memberitahu bahwa kami mau diantar ke Hall City (dalam hati kami yakin bahwa Hall City pasti seperti kota kebanyakan, ada pusat perbelanjaan yang buka hingga larut malam dan ada tempat nongkrong). Si sopir kemudian memastikan apakah kami benar-benar mau ke Hall City. Kami berdua langsung mengiyakan.

Taxi pun kemudian putar haluan. Kami tak lagi mendengar suara si sopir, dia pun sepertinya sibuk sendiri (atau berpikir bahwa kami berdua yang menumpangi taxinya benar-benar orang kampung yang kesasar di Kota seperti Singapore). Di kiri-kanan kami, kelap-kelip lampu dari bangunan-bangunan megah menyilaukan mata. Sebagian sempat kami baca tulisan yang terbentuk dari lampu-lampu itu. Tapi kebanyakan kami mengabaikannya karena tulisannya dalam bahasa China. Bukan mau menyombongkan diri, jika kami benar-benar memang tak mengerti bahasa langit itu. Hehehe (logika kalimatnya nggak masuk ya).

Terus terang, sebenarnya kami berdua sudah lapar banget, tapi karena masih penasaran dengan Singapore, rasa lapar itu pun hilang. Ada satu tekad dalam hati kami masing-masing, bahwa meski kami berasal dari kampung, kami tak mau kelihatan kampungan. Ada rasa bangga dalam diri kami bahwa jika Aceh mampu diurus dengan lebih baik, tentu kita bisa mengalahkan Singapore yang kecil ini. Hehehe. Malam ini juga kami berdua harus menaklukkan Singapore (dalam pengertian bahwa kami tak terkesan bodoh berada di kota besar itu).

Taxi terus melaju. Kami berdua larut dalam pikiran masing-masing. Tak begitu lama kemudian, si sopir taxi bilang bahwa kami sudah memasuki kawasan Hall City. Kami berdua yang dari tadi asyik melihat keluar, melihat banyak ada muda yang lagi nongkrong di pinggir jalan, di pinggir lapangan dan di atas trotoar sambil bermain sepadu roda. Setelah membayar seperti yang tertulis di Argometer, kami pun turun.

Kami mencoba bergaya bahwa kami bukan berasal dari kampung. Biar tak kelihatan kaku, kami pura-pura jalan cepat dan mencoba bercanda seadanya. Mata kami berdua tak henti-hentinya melihat kawanan orang-orang yang nongkrong, apalagi terdapat cewek yang berpakain mini dan seksi. Inilah godaan pertama. Kami tak mau munafik, bahwa pemandangan ini sangat kami nikmati.

“Nyoe ho tajak pon (Sekarang mau kemana kita Pon)?” tanya saya sama T. Irwani yang sepertinya baru melihat orang bermain sepatu roda.

“Kita cari makan dulu, sudah lapar,” jawabnya singkat. Kami pun berjalan memotong lapangan yang terletak di depan gedung dewan Singapore, karena dari kejauhan kami melihat ada yang mirip mall. Benar saja, bahwa itu adalah mall, begitu kami sudah berada di dalam. Kami berjalan terus menerus, sambil tak pernah lepas memandang orang-orang yang lewat di depan kami. Terus terang, entah itu rezeki untuk kami atau memang di Singapore itu hal biasa, semua cewek yang kami temui benar-benar seksi dengan pakaian yang keliatan belahan dadanya. Kalau mereka tak pakai Bra, mungkin ‘barang’nya sudah terbang kemana-mana dan mengenai kepala orang.hehehe.

Sebelum turun lift yang menuju ke tempat karoeke, kawan saya memberitahu mau ke toilet karena di sebelah kiri lift turun itu terdapat toilet. Saya langsung turun mencoba-coba lihat keadaan di bawah. Saya terus berjalan, dan tak terasa bahwa di depan saya sudah terpampang semacam danau, di mana orang-orang ramai nongkrong di tempat santai yang khusus disediakan. Tak lama kemudian muncul kawan saya dengan nafas yang terengah-engah. Mungkin capai atau kebingungan mencari saya yang terus berjalan (meski tak tahu kemana-mana). -->Bersambung

Post a Comment

Previous Post Next Post