05 November 2012

Semalam di Singapore (4)

Kami membeli minuman ringan di sebuah kios di pinggir taman, masih dalam kawasan Esplanade. Sama sekali bukan kami sengaja membeli Coca-cola, minuman yang biasa diminum Wali Nanggroe Hasan Tiro, melainkan hanya minuman itu yang kami lihat. Coca Cola yang dikasih pun dalam botol senang. Sebenarnya kami mau membeli dalam bentuk kaleng, namun miss komunikasi dengan penjual, akhirnya kami hanya mengiyakan saja minuman yang dikasih tersebut. Maklum saja, kami berdua sudah duluan mati guru bahasa Inggris sehingga tak sempat belajar. Hehehe.


Sebelumnya Semalam di Singapore (3)

Selesai membeli minuman, kami terus berjalan, dan mencari tempat istirahat di kawasan pinggir pantai, masih di kawasan Marina, sambil minum dan menghisap rokok. Kami juga berlagak sudah biasa main di kawasan itu, dan berbicara panjang lebar. Rencana selanjutnya kami atur sambil menghabiskan rokok yang kami bawa dari Aceh. Terus terang, kami sama sekali tak akrab dengan tempat yang kami singgahi. Jadi kami buat enjoy aja. Kami terus mengisap rokok sambil berbicara dan sesekali ketawa karena senang sudah tiba di Singapore. Rokok sudah setengahnya kami hisap. Setelah membuang puting ke danau itu, kami baru tahu kalau posisi kami duduk dengan patung Singa, yang dikenal Merlion atau Harimau laut, tak begitu jauh. Kami berdua terlihat cukup bersemangat, meski tak segera beranjak dari tempat itu...

Maklum, malam-malam kami jalan kaki, meski tak sempat kami hitung berapa jauh kami sudah berjalan. Akhirnya, kami bisa melihat dengan dekat patung Singa yang jadi icon Singapura.

Merlion atau Harimau laut, merupakan patung yang berkepala Singa dan berbadan seperti ikan. Namanya, menurut informasi yang saya baca, merupakan gabungan dari ikan duyung dan singa. Merlion sendiri dirancang oleh Fraser Brunner untuk Badan Pariwisata Singapura (STB) tahun 1964 dan dipergunakan sebagai logonya hingga 1997. Perdana Menteri Singapore saat itu, Lee Kuan Yew, meresmikan upacara pemasangan Merlion di Singapore pada 15 September 1972. Merlion tetap menjadi lambang merek dagangnya hingga sekarang.

Sebagai informasi, patung asli Merlion berdiri di mulut Sungai Singapura, sementara sebuah replika yang lebih tinggi dapat ditemukan di Pulau Sentosa. Tinggi Merlion sendiri 8,6 meter dan beratnya 70 ton, dan dibangun dari campuran semen oleh seniman Singapore Lim Nang Seng.

Dalam sejumlah kampanye pariwisata Singapore, disebutkan, makhluk berkepala singa dan bertubuh ikan itu untuk mengingatkan kisah tentang Sang Nila Utama, yang katanya legendaris. Menurut cerita, Sang Nila melihat seekor singa selagi berburu di sebuah pulau dalam perjalanannya ke Malaka, Malaysia. Pulau itu belakangan dikenal sebagai pelabuhan Temasek, yang kemudian menjadi Singapura.

Selama 15 menit kami duduk di taman, kami baru menyadari, bahwa di tempat itu hanya kami berdua yang duduk cowok+cowok. Pengunjung yang berada di samping, di depan maupun yang agak jauhan dari kami, semuanya berpasangan, cowok dan cewek. Ada juga cewek berwajah China bercengkerama dengan Bule, entah dari mana. Di depan kami lalu-lalang pasangan yang jalan sambil berpelukan, bahkan sesekali berciuman. Mata kami berdua tak lepas dari setiap momen ‘mesum’ yang kami lihat. Saat menyadarinya, kami pun jadi malu.

“Jangan-jangan mereka beranggapan kalau kita pasangan gay,” kata saya memecahkan konsentrasi Teuku Irwani yang tak pernah lepas melihat pasangan mesra yang duduk di sebelah kirinya.

“Hehehe…sepertinya kita harus segera berpisah, dan mencari pasangan masing-masing,” jawab T. Irwani bersemangat.

Kami berdua kemudian tertawa. “Tak ada yang mau sama kita, mereka jalan sama cowoknya masing-masing. Salah-salah kita kena gebuk,” saya bicara sekenanya.

“Lebih baik kita segera pindah, kita perlu foto-foto di patung Singa, biar orang yakin kita sudah ke Singapura,” jawab Irwani, sambil membuang puntung rokok ke air.

Kami pun berjalan menuju Patung Merlion, sambil mata tak pernah berkedip melihat pasangan yang asyik bercumbu di sepanjang taman yang kami lewat. Singapore benar-benar bebas, dan jadi tempat yang nyaman untuk berbuat mesum. Kalau pemandangan seperti itu di Aceh, anggota WH pasti sudah bermandi keringat menangkap mereka, maupun mengejar siapa saja yang mencoba melarikan diri.

Karena taman yang harus kami lewati cukup jauh, kami kemudian memilih beristirahat sambil mengamati orang-orang di depan kami yang juga berjalan menuju patung Merlion. Maklum, kami sama sekali tak tahu jalan menuju ke sana. Daripada sok tahu, dan juga tak berani bertanya sama orang-orang, maklum bahasa Inggris yang patah-patah, kami memilih mengamati orang.

Tak jauh dari tempat kami duduk, ada satu pasangan, yang cowoknya sudah berumur sementara yang cewek masih cukup muda, antara 24-26 tahun. Mereka seperti pasangan yang baru kenal, tak henti-hentinya memamerkan ciuman. Sesekali sambil berpeluk-pelukan. Cukup hot. Tak puas sambil duduk, si cewek pun tidur dalam pangkuan lelaki. Mata kami tak pernah lepas. Jarang-jarang dapat pemandangan seperti itu. Hp kamera yang saya pegang hendak mengabadikan momen itu, tapi takut mengganggu privacy orang. Saya menyimpannya kembali.

Mereka makin berani, apalagi si cewek memakai baju minim, dan sebagian belahan dadanya terlihat jelas. Tangan si lelaki tak pernah lepas dari dada si cewek. Duh, mereka benar-benar merasa dunia hanya milik mereka berdua. Mereka sama sekali tak tahu, bahwa kami jadi ikut terpancing. Namun, adegan itu tak lama. Karena kemudian mereka memilih tempat di dalam taman yang dikelilingi bunga-bunga setinggi pinggang orang dewasa. Tanpa alas, mereka berdua berbaring. Hal itu kami tahu, karena setelah mereka berada di sana, keduanya tak terlihat lagi. Sesekali kepala si cowok yang kelihatan, bisa jadi sedang memantau kondisi. -->Bersambung

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak