25 June 2013

Wesel yang Tak Terambil

Masa-masa produktif saya menulis berantakan. Hal ini terjadi saat Pemerintah Republik Indonesia (Negara kita) memaklumkan perang, Darurat Militer, terhadap Aceh, pada 19 Mei 2003. Bukan hanya petaka bagi masyarakat Aceh, Gerakan Aceh Merdeka, dan para aktivis melainkan juga bagi penulis kritis. Media-media juga dituntut untuk bersikap patriotik dan nasionalis. Dalam bahasa sederhana, siapa pun saat itu diberi dua pilihan: ikut kami atau mereka. Ikut kami berarti akan selamat, sementara jika memilih ikut mereka (Gerakan Aceh Merdeka, GAM) risikonya akan diburu, ditangkap, dan dibunuh! Semua orang, baik di Aceh maupun luar Aceh harus memilih satu dari dua pilihan itu.

Saat itu, sebenarnya, produktivitas saya menulis sedang meningkat. Meski belum ada laptop seperti sekarang, kegiatan menulis sangat berkembang. Karena saya memanfaatkan komputer di kantor Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) untuk menulis. Lagi pula, kantor itu tiap hari langganan Serambi Indonesia, Waspada, Kompas atau Koran Tempo. Benar-benar sangat mendukung aktivitas saya menulis dan menambah pengetahuan. Tapi, Darurat Militer pula yang membuat kantor itu harus tutup. Kosong. Sepi. Tak lagi berdenyut seperti sebelumnya.

Tanda-tanda kantor perjuangan referendum itu mencekam sebenarnya sudah terlihat sejak penangkapan Muhammad Nazar (Ketua Presidium SIRA) beberapa waktu sebelumnya. Pasalnya, selepas penangkapan itu, orang-orang asing dengan gelagat mencurigakan sering pura-pura salah jalan, mondar-mandir di simpang jalan masuk. Sampai ada orang yang tiap hari duduk di toko depan seperti sedang menunggu sesuatu. Saya dan beberapa teman kemudian lebih sering menginap di kampus. Sesekali bolak-balik Darussalam-Kota.

Tapi, hanya beberapa hari kami menikmati hidup pasca DM diumumkan. Karena pada hari kelima DM, kami berpencar-pencar. Apalagi pasca-penangkapan beberapa orang teman di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN Ar Raniry, di antaranya M Rizal Falevi. Selepas itu, saya tak pernah muncul lagi ke kampus. Berpindah dari satu tempat-ke-tempat lain. Menginap di tempat saudara di Jln Diponegoro, di kantor Pemraka Kp Laksana, dan akhirnya terdampar di ISKADA Masjid Raya Banda Aceh.

Saya pun memulai hidup baru dengan gaya berbeda. Saya seperti kembali ke habitat. Lebih alim. Shalat berjamaah jarang tinggal. Waktu lebih banyak saya habiskan di ruang pustaka Masjid Raya. Dari pagi sampai menjelang dhuhur. Selepas dhuhur hingga menjelang ashar. Begitu siklus setiap hari. Sesekali saya menghabiskan waktu dengan bermain internet di Jalan Mohd Jam (nama warnetnya Metropolis). Untuk menulis, saya biasa memanfaatkan komputer di Iskada. Kadang-kadang pakai komputer Tabloid Gema Baiturrahman. Kedua komputer ini tak ada yang terhubung ke internet. Sehingga, tiap selesai menulis tak bisa langsung kita kirim ke media. Jadi, disket (ada yang menyebut floppy disk) memegang perang amat penting ketika itu. Tiap selesai mengetik, saya pasti menyimpannya ke disket. Termasuk tulisan yang tak selesai.

Meski hidup berantakan, saya tetap menulis. Beberapa tulisan yang sedang aktual dan menarik saya sempatkan mengirim ke Serambi dan media-media lain. Sejak itu pula saya mencoba mengirim tulisan ke Kompas. Selain untuk melawan wacana pemerintah tentang propaganda negative terhadap perjuangan Aceh, juga dilandasi oleh honor. Ini wajar karena hidup sangat pedih waktu itu: tinggal di masjid! Beberapa tulisan saya sempat dimuat di Serambi. Satu tulisan yang saya ingat berjudul ‘Di Balik Penangkapan William Nessen’. Tulisan ini kalau tidak salah dimuat antara 11 atau 12 Juni 2003.

Tulisan-tulisan yang dimuat di Serambi itu punya peran penting: cara berkomunikasi dengan teman, keluarga dan sahabat. Sebab, saat itu Handphone masih menjadi barang mewah. Hanya beberapa orang saja yang memilikinya. Jadi, untuk komunikasi jika tak lewat email (chatting di YM) ya harus bertemu langsung. Melalui tulisan saya mengabarkan pada teman-teman (termasuk keluarga) bahwa saya masih hidup dan dalam kondisi sehat. Tulisan saya itu kadang mendapat ‘protes’ dari teman.

“Ka peugah bak si Mubarak, bek that kabri teumuleh dile bak Serambi. Nan jih sep brat ditanyong,” pesan Falevi pada teman yang menjenguknya. Ini sangat wajar, karena dalam pemeriksaan, dia mengaku sudah putus komunikasi dengan saya, dan dia sama sekali tidak tahu di mana posisi saya. Malah, dia pernah bilang saya dan beberapa teman lain sudah meninggal. Hahaha.

Apakah tulisan-tulisan yang dimuat itu saya ambil honor? Sama sekali tidak. Menurut teman-teman, ada beberapa wesel yang dikirim ke kampus (Fakultas Dakwah IAIN Ar Raniry). Wesel itu digantungkan di papan pengumuman kampus. Teman-teman tak ada yang berani ambil. Mereka berpikir itu jebakan, karena aparat sama sekali tidak tahu posisi saya.

“Kita tak ambil wesel itu karena takutnya itu jebakan untuk menangkap kamu,” cerita seorang teman, Junaidi Hanafiah, suatu waktu. Jadilah wesel itu kadaluarsa sendiri tanpa ada yang mengambil. Kalau pun ada yang ambil tak bisa juga dicairkan, karena harus ada KTP yang punya.

Pun juga, ketika sudah hijrah ke Jakarta pada medio Juli 2003, saya masih sering mengirim tulisan ke Serambi Indonesia. Saya tahu dari teman-teman beberapa tulisan saya dimuat. Wesel juga masih dikirim ke kampus. Tapi tak ada yang berani mengambil. Kalau dihitung-hitung banyak juga honor tulisan saya yang tak saya ambil. Bahkan pasca-damai pun saya tak pernah mengambil honor tulisan saya di Serambi. Untuk soal honor ini, mungkin boleh dibilang saya goblok! [bersambung] ---> sebelumnya Honor dari Serambi Indonesia

Artikel Terkait