22 August 2013

Dai, Profesi yang Menggiurkan

Hadih keu tungkat, Ayat keu belanja (Pepatah Aceh)

Setahun lalu, tepatnya pada 16 Agustus 2012, tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla berkicau di akun twitter miliknya, @ulil. Kicauannya selalu kritis dan sering mengundang kontroversi. Ini memang khas Ulil, sosok yang dikenal sebagai pemikir keislaman yang bebas serta kerap melabrak pemahaman umum umat Islam. Namun, kali ini kicauannya berbuntut panjang dan mendapat tanggapan dari seorang ustadz yang sering tampil di televisi.

“Ada yg bilang, saya hanya (mencari, red) keuntungan sj lewat Islam liberal. Lucu. Kalau mau nyari untung, mending jadi da'i konvensional aja. :)”

Menurut Ulil, menjadi Dai konvensional lebih menguntungkan. “Jadi da'i konvensional spt Aa Gym, Arifin ilham, Yusuf Mansur lbh menguntungkan. Pesan sederhana, undangan banyak, honor berlimpah.”

Tak pelak, kicauannya yang membawa-bawa nama kondang itu menuai masalah. Ada yang tidak menerima kesimpulan yang dibuat aktivis muda NU tersebut, terutama Yusuf Mansur yang wajahnya sering kita lihat di TV. Yusuf Mansur jelas terganggu dengan tweet Ulil itu, terutama soal tuduhan menerima honor berlimpah.

“Lah koq bisa Mas @ulil yg mengedepankan data obyektif bisa mentweet ttg honor berlimpah? Itu udah tuduhan loh... *kalem,” tulis Yusuf Mansur melalui akun twitternya, @Yusuf_Mansur. Ustadz bersuara lemah lembut ini mencoba bersikap tenang dan tak terbawa emosi.

Meski sudah menulis kata ‘kalem’ di akhir tweetnya, Yusuf Mansur tetap tegas menegur Ulil. Ini bisa terbaca dari tweet-tweet berikutnya. “Lain kali hati2 ya bicara. Apalagi sampe nyebut nama. Ga baik. Saya banyak duit, iya. Sbb saya usaha/dagang + konsep sedekah,” sambungnya.

Menurut Yusuf Mansur, meski sudah bertahun-tahun berceramah di TV, dia sama sekali tak menerima honor, termasuk penampilannya di ANTV.  “Bertahun2 saya di tv, honornya saya ga terima loh. Antv tak berhonor sama sekali. Juga ceramah. Apalagi. Malah bagi2 duit Mas,” jelasnya.

Ke depan, Ia pun memperingatkan Ulil agar tak menyebut nama. “Besok2 baiknya jgn nyebut nama. Sekelas mas ulil kurang elok rasanya nyebut nama tanpa data. Khususnya ttg saya,” tulisnya mengingatkan.

Ulil pun bergeming dengan pendapatnya. Ia memuji ustadz Yusuf Mansur jika tak menerima honor, meski tak merasa bahwa tweetnya salah. “Kalau antum tak ambil honor dari dakwah di TV bagus. :) Tp poin twit saya bukan di sana. Antum pasti paham maksud saya,” jawab Ulil.

Yusuf Mansur juga Komplain dengan istilah ‘dai konvensional’ yang digunakan Ulil. “Oh ya, lupa. Tidak ada istilah, dan jgn sampe ada istilah dai konvensional. Yg ada dai lillaahi ta'aalaa. Semua krn Allah,” tulis Yusuf Mansur seperti memperingatkan Ulil agar berhati-hati menggunakan istilah ‘dai konvensional’.

Pun demikian, Ulil tetap menggunakan istilah da’i konvensional. Ulil yakin gagasannya benar, dan tak akan menghapus tweet tersebut.

“Twit saya soal dai konvensional tadi benar isinya. Tidak saya cabut. Tp menyebut perorangan mmg tidak etis. Mohon maaf. :)” tulis Ulil lagi.

Mereka pun saling berbalas tweet. Baik Ulil maupun Yusuf Mansur punya pendukung masing-masing, yang memberi support maupun me-RT tweet mereka. Namun, keduanya seperti tak ingin mempertajam perdebatan dan memilih berdamai, biar tak berkepanjangan. Belum lagi debat keduanya tak luput dari pantauan media. Mereka pun saling memahami posisi masing-masing.

***
Beberapa waktu lalu, nama Ustadz Yusuf Mansur kembali menghiasi pemberitaan. Kali ini bukan lagi perdebatannya dengan Ulil Abshar Abdalla, melainkan terbongkarnya bisnis investasi yang dijalaninya. Ya…sejak pertengahan 2012 lalu, Yusuf mengembangkan usaha investasi Patungan Usaha dan Patungan Aset. Ia mengajak masyarakat luas untuk berinvestasi lewat bisnisnya itu.

Kedua bisnis tersebut, kata Yusuf Mansur, memiliki prinsip mengumpulkan dana dari masyarakat yang kemudian dikelolanya melalui dua skema investasi. "Patungan Usaha bayarnya (investasinya) Rp 12 juta per orang, sedangkan untuk Patungan Aset Rp2 juta per orang," ujar Yusuf seperti dikutip Kontan, Kamis (19/4/2013).

Menurutnya, dana investasi dari Patungan Usaha digunakan untuk mengakuisisi sebuah hotel dan apartemen di dekat Bandara Soekarno-Hatta. Sedangkan Program Patungan Aset, pihaknya membelikan sebuah tanah kosong, dan untuk tahap pertama, Yusuf telah menggunakan dana masyarakat untuk membeli tanah seluas 4,7 hektar (ha) yang berlokasi di dekat Bandara Soekarno-Hatta, tidak jauh dari Hotel Topas.

"Saya sudah akuisisi Hotel Topas senilai Rp 180 miliar," jelasnya. Rencananya,
Yusuf akan mengembangkan hotel itu menjadi hotel untuk para peserta haji dan umrah tiap tahunnya.

Tak pelak, model bisnis ustadz itu memunculkan polemik luas, dianggap tidak lazim serta tak sesuai dengan aturan yang ada. Karena mendapat sorotan tajam, Yusuf Mansur pun menghentikan bisnisnya untuk sementara waktu sambil menunggu izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia umumkan penghentikan bisnisnya itu melalui akun twitternya, @Yusuf_Mansur dan juga melalui situsnya www.patunganusaha.com

Tak pelak, munculnya pemberitaan tentang bisnis investasinya ini membuat kita kembali terkenang pada perdebatannya dengan Ulil. Wajar jika Yusuf tak begitu memperhatikan honor karena punya penghasilan lain dari bisnisnya. Pun demikian, tak sedikit masyarakat yang mencibir praktik bisnis sang Ustadz. Mereka berpendapat, seharusnya ustadz tak terlalu berambisi mengejar kehidupan duniawi, apalagi secara berlebihan.

***
Lain Yusuf Mansur, lain pula Ustadz Soleh Mahmud alias Solmed. Suami dari Aprilia ini yang juga kerap memberi ceramah di TV tersandung masalah honor dengan TKW Hong Kong. Masalah ini mencuat ke permukaan dan diketahui publik setelah muncul pemberitaan di sebuah surat kabar lokal Hong Kong berbahasa Indonesia, Kindo. Solmed diberitakan membatalkan sepihak jadwal ceramahnya untuk tenaga kerja wanita (TKW) di Hong Kong gara-gara tak cocok dengan jumlah honor. Ketidakcocokan itu terjadi setelah pihak Solmed meminta kenaikan honor dari yang sudah disepakati.

Disebutkan, awalnya Solmed setuju dengan jumlah honor sebesar Rp6 juta, namun kemudian pihak Solmed meminta Rp10 juta. Ketua Thariqul Jannah (organisasi pengajian TKW Hong Kong) Lifah Khalifah pun menyebut Solmed seorang ustadz matre. Bahkan, kata Lifah, Solmed juga meminta 10 persen dari penjualan tiket dan 50 persen dari dana infak lewat surban keliling.

Tak hanya itu, pihak Solmed juga meminta beberapa fasilitas lain seperti penginapan berbintang dan mobil jemputan pribadi selama berada di Hong Kong. Informasi yang dilansir media berbahasa Indonesia juga menjadi ramai di Indonesia. Kontroversi honor ustadz pun dibedah di stasiun-stasiun televisi dan juga menjadi topik hangat di twitter. Istilah ustaz matre pun mencuat. Banyak yang menuding profesi ustadz sudah dikomersialkan.

Lalu, bagaimana tanggapan Solmed atas pemberitaan miring ini? Dia pun mengaku tak mau jika dakwah yang dilakukannya dicampur aduk dengan unsur bisnis. Menurut Solmed, dirinya tak pernah meminta bayaran. “Saya dakwah, saya tidak pernah minta bayaran, tapi jangan dibisnisin. Tapi yang di Hong Kong itu pengunjung disuruh bayar, saya nggak mau, saya yang protes. Saya bilang kalau Anda masih bayar, saya nggak mau datang,” ujarnya seperti dikutip situs alqolam, Senin (12/8/2013).

Terlepas benar-tidaknya polemik tersebut, saya teringat satu pepatah di Aceh, “Hadih keu tungkat, Ayat keu belanja (hadist untuk tongkat, Ayat untuk mendapatkan belanja/uang)”. Ungkapan ini cukup terkenal dan mengingatkan para ustadz, Dai atau politisi agar tak menjual ayat-ayat Al Quran untuk mendapatkan keuntungan materi semata.

***
Fenomena Dai seleb ini mungkin bukan hal baru bagi kita. Sebelumnya sudah pernah muncul nama-nama seperti Ustadz Aaa Gym yang namanya tenggelam setelah menikah lagi. Jika dulu hampir tiap hari kita mendengar tausiahnya yang menyejukkan hati di TV, maka kini kita hampir tak lagi mendengar kabar dari pimpinan pondok pesantren Darut-Tauhid ini.

Sebelum Aaa Gym kita juga mengenal nama KH Zainuddin MZ. Kemampuan olah-vokalnya didukung dengan pemahaman agama yang luas tak pelak membuat kiay asli Betawi ini laris diundang berdakwah kemana-mana. Wajahnya begitu mudah dilihat di layar TV. Gaya pidatonya juga menginspirasi banyak dai. Di Aceh, pidatonya bisa kita simak tiap menjelang adzan Magrib dari pengeras suara yang dipasang di setiap masjid atau meunasah (surau). Kaset pidatonya memang lahir manis dan menjadi koleksi ‘wajib’ pengurus Masjid atau Meunasah.

Lalu, kita pun jadi bertanya-tanya, apakah profesi dai yang menggiurkan dan layak dilirik siapa pun? Berapa sebenarnya honor dai? Tak mudah memang menjawab pertanyaan ini, apalagi soal tarif honor. Tapi, kita bisa menerka-nerka. Di Aceh, misalnya, setiap dai yang diundang untuk memberi ceramah di suatu kampung biasanya mendapatkan bayaran Rp1,5 juta untuk sekali tampil, kadang-kadang jumlah ini belum termasuk ongkos transportasi. Dan profesi Dai ini kian populer jika sedang musim maulid.

Di Aceh, perayaan maulid itu berlangsung lama, hingga tiga bulan. Sehingga lahir istilah ‘Mulot, adoe mulot dan kumuen mulot’. Dai-dai pun lahir manis dan harus berceramah dari satu kampung ke kampung lain, tergantung undangan. Bisa saja malam ini berceramah di pedalaman Pidie, malam besoknya harus sudah hadir di pelosok Aceh Utara. Untuk Dai yang sedang populer (karena ceramahnya lucu dan kocak) jadwalnya bisa sudah penuh untuk tiga bulan lamanya. Dia pun tak bisa lagi menerima tawaran ceramah karena jadwalnya penuh.

Coba bayangkan, jika sekali ceramah saja sang Dai mendapatkan Rp1,5 juta, berapa yang akan diterima jika misalnya tiap bulan (selama bulan Maulid) dia menerima undangan 20 hari penuh. Total ada 60 kali dia menerima jadwal ceramah. Hitung sendiri berapa honor ceramah yang diterima jika Rp1,5 juta dikali 60 kali. Lumayan, bukan? Bagaimana, tertarik jadi Dai?

Baca juga Ulil Abshar dan Yusuf Mansur Berantam di Twitter

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon