25 April 2014

Isi Selangkang Orang Aceh

Judul ini mungkin sedikit ‘genit’ dan ‘cabul’. Ya, saya sendiri menganggapnya demikian. Tapi kalau ada di antara pembaca menganggap judul tulisan ini terlalu vulgar sama sekali bukan urusan saya.

Sekarang, mari sejenak kita memperhatikan bentuk peta Aceh baik-baik. Jika di dekat pembaca tak ada peta Aceh, bayangkan saja bagaimana peta pulau Sumatera, yang di ujungnya tersebut berada provinsi Aceh. Atau, kalau mau lebih gampang, buka saja Google Maps dan lihat baik-baik peta Aceh. Sudah punya gambaran, bukan?

Snouck Hurgronje dalam buku Aceh di Mata Kolonialis menulis, orang Aceh suka menggambarkan bentuk daerah Aceh (peta Aceh) menyerupai bentuk jeu'èe (tampah atau tampi dalam Bahasa Indonesia), sejenis alat tradisional yang digunakan untuk menampi atau mengayak beras. Tapi, kalau mau melihat lebih ‘bebas’, bentuk peta Aceh bagian ujungnya ‘hampir’ mirip dengan bentuk alat vital laki-laki.

Bentuk ini sekaligus melambangkan, para penghuni peta ujung Sumatera itu terkenal dengan kelelakiannya atau jantan. Tak percaya? Baca saja sejarah perjuangan Aceh, kita akan mendapati betapa kejantanan orang Aceh sejak dulu sampai sekarang membuat kagum siapa pun. Jadi, bentuk peta itu menemukan relevansinya. Bisa jadi, anggapan ini salah.

Begini saja, biar tak salah paham, Saya mau cerita-cerita sedikit beberapa kejadian di kampung kita. Perhatikan anak-anak yang bermain sepakbola. Mereka, kadang-kadang bermain di tanah lapang yang tak terurus, atau di sawah yang berlumpur. Mereka tak peduli terik mentari atau hujan deras. Bermain adalah dambaan setiap anak-anak. Permainan bola dianggap sebagai olahraga yang lelaki banget.

Dalam setiap pertandingan bola, sering kali permainannya tak berjalan mulus, apalagi jika pertandingan bola itu melibatkan dua kelompok anak dari kampung berbeda. Tak jarang, pertandingan bola berakhir dengan adu fisik, karena permainan salah satu pihak yang menjurus kasar atau tak menerima kekalahan. Maka, berkelahi adalah santapan terakhir di akhir pertandingan. Sebagian penonton cukup menikmati adegan terakhir ini. Saya pikir, permainan bola di tempat kita hingga hari ini pun demikian: permainan sekaligus juga perkelahian.

Lalu, apa hubungannya dengan isi selangkang? Begini, anak-anak dari suatu kampung yang merasa sudah cukup mahir bermain bola, biasanya mereka akan mengundang anak-anak dari kampung tetangga atau kampung di kecamatan lain untuk bertanding. Jika anak dari kampung tetangga tersebut tak mau menerima tantangan bertanding, mereka langsung dicap (maaf) ‘hana kreh’. Secara tidak langsung, anak kampung tetangga itu dipandang tidak jantan.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang Aceh paling melibatkan isi selangkang. Pasalnya, bagi orang Aceh kejantanan dan keberanian kerap terkait dengan isi selangkang. Kedengarannya memang vulgar, tapi begitulah faktanya. Siapa yang punya isi selangkang lebih besar dianggap lebih berani dan jantan, dan mampu menguasai dan menghegemoni pihak lain, yang dianggap isi selangkangnya lebih kecil.

Tak percaya? Saya mau kasih bukti lain. Sebelum Pemilu 9 April 2014, tempo hari, kita sering disuguhi berita kekerasan: pembakaran kantor partai, penembakan posko caleg, dan perusakan alat peraga kampanye. Kasus-kasus tersebut, misalnya, kerap melibatkan kader dua partai: Partai Aceh dan Partai Nasional Aceh. Sesekali, kader di luar dua partai itu ada juga yang jadi korban. Kalau diperhatikan persaingan di antara mereka-mereka ini sering kali lebih dimaksudkan untuk membuktikan pihak mana yang paling jantan atau dengan kata lain ‘pihak mana yang raya kreh’, dan pihak mana pula yang hana kreh, tidak jantan.

Tiap salah satu pihak mendapatkan teror, misalnya, sering diikuti dengan pembalasan oleh pihak lain. Ini seakan-akan ingin menunjukkan, bahwa mereka juga aneuk agam (laki banget) yang tidak akan diam saja jika diteror. Jika tidak ikut membalas dianggap tidak jantan (atau tidak ada kreh). Masyarakat pun akan menganggap pihak yang diteror namun tidak membalas sebagai ‘awak hana kreh’. Tapi, begitu mendapat teror, perusakan baliho ataupun penembakan kader, pihak partai yang jadi korban akan langsung membalas. Masyarakat akan bilang, “na kreh awak nyan”.

Kalau ditelusuri lebih jauh, persaingan atau kompetisi yang menjurus kekerasan itu sebenarnya lebih menunjukkan bahwa di Aceh ada pihak yang tak ingin ada manok agam (ayam jantan/ayam jago) lain. Seolah-olah, jika bukan manok agam itu yang berkokok, kehadiran pagi kehilangan tuahnya. Pagi menjadi hambar karena yang berkokok adalah manok agam lain. Padahal, tanpa ada manok agam yang berkokok pun, pagi tetap hadir seperti biasa.

Kejantanan orang Aceh sudah dithei le kaphe (sudah dikenal orang). Sejak masa perang dengan Portugis, Belanda maupun dengan Jepang. Dalam Hikayat Prang Sabi, misalnya, disebutkan lelaki Aceh pantang meninggal di atas kasur bersama istrinya. Mereka lebih memilih mati secara terhormat, berkubang dengan darah dalam memerangi kaphe Belanda. Bahkan dalam setiap fase konflik dengan Indonesia pun, orang Aceh dikenal sebagai pihak yang sangat jantan. Ketika masih berperang dengan Jakarta, orang Aceh juga sangat jantan. Mereka rela berkubang dengan darah hanya untuk membuktikan bahwa pejuang Aceh adalah aneuk agam!

Di Aceh pembuktian sebagai aneuk agam atau na kreh itu sangat penting. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita seringkali bersinggungan soal kreh ini. Misalnya, jika ada dua orang Aceh yang terlibat pertengkaran, kita akan sering mendengar kalimat percakapan yang berhubungan dengan kreh ini.

+ Munyoe na kreh ka preh kei bak simpang, munyoe kah aneuk agam!
-  Munyoe ka peubloe kubloe! Kah aneuk agam, kei aneuk agam

Jadi, wajar kalau dalam masyarakat Aceh muncul ungkapan ‘Bangsa Aceh bangsa raya kreh ateuh rhueng donja’ yang dipelesetkan dari ungkapan ‘Bangsa Aceh bangsa teuleubeh ateuh rhueng donja’. Ini menunjukkan bahwa orang Aceh adalah pemberani dan jantan!

Catatan:
Aneuk agam: anak laki
Manok agam: ayam jantan/jago
Awak hana kreh: orang  yang tak punya pelir/testis atau banci
Na kreh awak nyan: sangat jantan
Dithei le kaphe: sangat terkenal
Munyoe na kreh ka preh kei bak simpang, munyoe kah aneuk agam!: kalau berani tunggu saya di persimpangan, jika kamu laki

Munyoe ka peubloe kubloe! Kah aneuk agam, kei aneuk agam: kalau kamu jual saya beli, kamu laki, saya juga laki

Artikel Terkait