14 September 2011

Andai Hasan Tiro Masih Bisa Marah

Andai saya boleh berandai-andai, ya…andai boleh berandai, Saya lebih suka berandai jika Wali Neugara Teungku Hasan di Tiro masih hidup. Sebab, jika dia masih hidup tentu akan marah dan sangat kecewa. Apa pasal?


Ceritanya dimulai sejak lima bulan lalu. Sudah kebiasaan jika sedang mengakses internet, saya selalu mencari-cari informasi atau sesuatu terkait dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sesekali saya membuka situs organisasi perlawanan itu http://asnlf.net meski saya tahu pasca penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005 silam makin jarang ada posting terbaru. Malah, belakangan saat riuh politik Pilkada 2006 dan Pemilu Legislatif 2009 menghangat, praktis tak ada lagi posting terbaru.


Padahal, untuk ukuran organisasi sebesar GAM, memiliki website yang sering terupdate dengan informasi up to date sangatlah penting. Dia menjadi corong komunikasi dengan pihak lain. Melalui website pula, orang jadi tahu apa dan bagaimana organisasi tersebut, apa yang sedang dilakukan dan bagaimana pandangannya terkait perkembangan terbaru.

Awalnya, ketika perdamaian belum tercipta, website yang dikelola Teuku Hadi (Perwakilan GAM di Jerman) dan Teungku Yusra Habib Abdul Gani (GAM di Denmark) saat itu cukup aktif, terutama dalam menyuarakan aspirasi GAM, termasuk melaporkan kejadian di lapangan (laporan dari medan perang). Website itu pula jadi rujukan bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan mengenal lebih dekat dengan GAM.

Trafik kunjungan ke website tersebut sering membludak saat menjelang Milad (peringatan ulang tahun GAM 4 Desember). Dulu, wartawan (lokal, nasional maupun asing) rela menunggu hanya untuk mendapatkan amanat Wali Neugara Hasan Tiro setiap perayaan 4 Desember, biasanya dalam dua bahasa: Aceh dan Inggris. Dalam amanat itu, sering berisi kecaman terhadap tindakan refresih militer Indonesia serta seruan kepada masyarakat internasional untuk memediasi perdamaian.

Bagi orang GAM di lapangan, amanat tersebut biasanya sudah diterima 2-3 hari sebelum pelaksanaan Milad. Mereka biasanya mendapatkannya dari perwakilan GAM di Kuala Tripa (awal 2000 GAM terlibat perundingan dengan RI dalam bentuk joint of understanding for humanitarian pause dan punya perwakilan yang berkantor di Hotel Kuala Tripa). Saya pernah membaca amanat Wali pada saat Milad GAM tahun 2002 dua hari sebelum acara tersebut digelar. Saat itu seorang perwakilan GAM, Teungku Amni Ahmad Marzuki meminta saya membaca pidato tersebut  yang baru diterimanya dari Stockholm. Saya sering bertemu dengan beliau dan beberapa tokoh GAM lainnya.

Itu dulu, saat kondisi Aceh tak menentu. Saat GAM masih kuat dan berwibawa (secara ideologis). Melalui sebuah website mereka mengampanyekan ide merdeka ke seluruh dunia. Selain itu, GAM juga masih disiplin soal menjaga arsip dan risalah nanggroe. Orang yang ingin membaca pemikiran Hasan Tiro bisa mendownloadnya di website ASNLF (Acheh Sumatera National Liberation Front) tersebut. 

Bagi GAM di lapangan saat itu, keberadaan website tersebut juga menjadi penjaga semangat. Soalnya, mereka bisa mengetahui apa yang terjadi dengan diplomasi mereka di luar negeri, apa yang dikerjakan para petinggi, dan aktivitas GAM di belahan dunia. Mereka pun tak ragu mengobar perang karena sangat yakin hal itu membantu bargaining GAM di mata internasional dan Indonesia.

Tapi apa yang terjadi kini? Sangat menyedihkan. Satu persatu hal terkait Aceh yang bernilai sejarah hilang. Dulu, rumah kediaman Wali Nanggroe di Stockholm dijual. Kita pun tak tahu dimana arsip-arsip yang disimpan cukup rapi oleh beliau semasa hidup. Sekarang, kita juga kehilangan website http://asnlf.net dan http://asnlf.com serta semua arsip di dalamnya entah di mana (Sebagian dokumen itu kini bisa dilihat di SINI). Jika di alam nyata keberadaan GAM perlahan-lahan dilemahkan dan bakal menghilang, maka di dunia maya GAM sudah hilang sama sekali.

Tak percaya? Coba buka situs http://asnlf.net, kita tak lagi disapa dengan simbol Bouraq-Singa dan bendera Bintang Buluen, dan tak ada lagi gambar pemimpin GAM Teungku Hasan Tiro. Kita juga tak lagi melihat title ‘Welcome to Acheh Sumatera National Liberation Front website". Pasalnya, website tersebut kini sudah dimiliki sebuah perusahaan developer rumah; Meridian Greenfield. LLC. Di menu about us kita dapat membaca dengan jelas: 
We are a group of young, energetic individuals who each share a passion for building homes and low impact communities of unparalleled quality, value and distinction.  We improve people’s lives by building homes deeply rooted in, and respectful of, their natural surroundings and designed to withstand the test of time.
 Uncommon attention to detail, superior sustainable materials and handcrafted custom accents are the foundation of every home we build.

Karena itu, kalau seandainya Teungku Hasan Tiro masih hidup, dia akan panggil Malik Mahmud, Zaini Abdullah atau para petinggi GAM dan tentu saja memarahi mereka. Pasalnya, meski GAM kini punya akses terhadap ekonomi Aceh dan sebagian petingginya sudah sejahtera tapi sebuah website yang harga domain dan hostingnya tak lebih Rp1 juta tersebut tak mampu dijaga dan pelihara. Sepertinya menjadi benar kata kawan saya, “Merdeka ka ie raya ba.”[]

Artikel Terkait

5 comments