Menanti Bupati Definitif Pidie Jaya

Monday, October 27, 2008

Masyarakat Pidie Jaya sudah memberikan pilihan pada Sabtu (25/10), yaitu dengan memilih kandidat bupati/wakil bupati yang menurut mereka layak untuk dipilih. Pun begitu, hasil penghitungan sementara yang dilakukan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Pidie Jaya, belum ada kandidat yang berhasil mengantongi jumlah suara 30 persen dan berhak menjadi pemenang Pilkada. Karena itu, untuk menentukan siapa yang berhak menduduki kursi nomor satu di Pidie Jaya harus ditentukan lagi pada Pilkada Putaran kedua, seperti di Subulussalam.


Berdasarkan rekapitulasi data yang diperoleh Harian Aceh dari Komisi Independen Pemilihan (KIP) Pidie Jaya, Minggu (26/10) sekira pukul 18.00 WIB. Dari total 68.619 suara sah yang telah masuk ke KIP, pasangan Yusri “Melon” Yusuf-Muhammad AR memperoleh 16.927 (24,67%), Gade Salam-Yusuf Ibrahim memperoleh 16.452 (23,98%). Ihsanuddin. MZ, SE–Drs. Ratmi Abdullah, M.Si, 12.622 (18,39 persen), Drs. Tgk.Nasruddin–Drs. Ridwan M. Ali, 7.524 (10,96 persen), Said Muhammad–H. Irsyadullah, SE, 5.173 (7,54 persen), Munawar Ibrahim. T,SKP. MPH–H. Asim Saleh, 4.900 (7,14 persen), Ishak Syakubat, SE–H. Munirwan M. Alamy, S.Ag, 1.906 (2,78 persen), Ir. Kasai Muhammad Ali–Tgk Jamaluddin, S.Pd, 1.671 (2,44 persen), Mahdi A. Samad–Tgk. Hamdan M. Daud, 762 (1,11 persen) dan Dra. Hj. Kartini Mayelly, M.Si – Drs. Aziz Hamzah, M.Hum, 682 (0,99 persen)
Melihat perolehan suara masing-masing kandidat, tidak akan banyak terjadi perubahan pada posisi urutan pertama, kedua dan ketiga. Sebab, jumlah suara yang masuk ke KIP sudah mendekati 100 persen dari jumlah pemilih dengan total 90.662 pemilih. Dari posisi tersebut, masyarakat sudah bisa memastikan siapa yang bakal melaju ke putaran kedua.

Apapun hasil akhirnya, pilihan tersebut harus diterima dengan lapang dada, terutama oleh kandidat yang tidak mencukupi suara untuk bertarung lagi pada putaran kedua. Itulah hasil pilihan rakyat melalui mekanisme yang ‘cukup’ demokratis. Dukungan rakyat tentang siapa yang berhak dan tak berhak, mestilah harus diuji di arena publik, seperti Pilkada. Dalam Pilkada-lah terlihat, siapa yang dipercaya oleh masyarakat atau tidak. Pun begitu, yang tidak terpilih atau tidak mencukupi suara bukan berarti mereka tidak dipercaya, melainkan kepercayaan tersebut masih kurang.

Kita sedikit lega, karena hingga sekarang ini, kita belum mendengar suara-suara protes dari para kandidat yang tidak puas atas hasil penghitungan sementara. Kita berharap, sampai proses selesai, tidak ada aksi anarkis yang bisa mencederai Pilkada Damai yang sudah diikrarkan sebelumnya. Kita meminta agar komitmen tersebut harus tetap dipegang dan dilaksanakan. Sebab, kesetiaan pada janji dan komitmen bukan dinilai sebelum proses ini berlangsung atau saat kampanye saja, melainkan juga setelah hari pencoblosan berlangsung sampai penghitungan suara usai. Jika saat Kampanye masing-masing kandidat masih mampu menahan diri dan tidak memprovokasi pendukung untuk menyerang pendukung kandidat lain, maka selagi penghitungan suara dilakukan, komitmen untuk menghormati pilihan rakyat harus tetap dipegang.

Masing-masing kandidat harus kembali kepada komitmen awal, siap menang dan siap kalah. Pun begitu, kepada yang menang atau mendapatkan kesempatan bertarung kembali pada putaran selanjutnya tidak boleh mengurut dada dan menjadi tinggi hati, begitu juga untuk kandidat yang harus tersinggir dari arena, harus menerima, meski pahit. Toh, dalam sistem demokrasi yang bernama Pilkada tersebut, tidak semua kandidat harus menang dan menjadi pemimpin. Sebab, hanya satu kandidat saja yang nantinya memimpin Pidie Jaya.

Karena yang lebih penting bukanlah siapa yang memenangi Pilkada, melainkan, bagaimana janji-janji politik yang sudah disampaikan saat kampanye atau tertuang dalam visi dan misi harus dilaksanakan. Sebagai Kabupaten baru, Pidie Jaya haruslah dituntun untuk lebih maju dari Kabupaten Induk, dan masyarakatnya haruslah lebih sejahtera. Komitmen tersebut yang harus selalu ada, siapapun nantinya yang terpilih. Sebab, hingga kini, masyarakat Pidie Jaya masih harus menanti hadirnya sosok Bupati definitif. (HA 271008)


Read More......

Silang

Friday, October 24, 2008

Di setiap persimpangan | di setiap rumah | ada tanda silang berwarna merah | setelah berpaling tanda itu tak juga hilang


Puisi itu dikirim seorang kawan (kini almarhum). Semula saya tidak begitu paham akan makna dari puisi singkatnya tersebut. Namun, setelah saya coba cerna dan mengaitkan dengan situasi Aceh sebelum damai diteken, saya jadi mengerti tujuan dari puisi tersebut. Pun begitu, saya tak lekas membalasnya, bahkan hingga dia ‘kembali’.

Baiklah, saya ingin mengajak anda kembali ke tahun 2003-2005, ketika di seluruh Aceh diberlakukan keadaan darurat dengan status Darurat Militer (DM). Puluhan ribu tentara dan juga Brimob dikirim ke Aceh untuk menumpas para pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan juga para ‘penyokong’ perjuangan GAM tersebut seperti SIRA, Kontras dan SMUR. Para tentara dan Brimob tersebut tunduk di bawah Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD).

Aceh saat itu digambarkan sebagai wilayah perang yang sama sekali tidak menganut sistem perang yang beradab. Sebab, tak sedikit warga sipil (termasuk anak-anak) yang menjadi korban. Kampung atau desa yang menjadi basis GAM diseragamkan sebagai wilayah hitam. Beberapa rumah penduduk yang ada anggota keluarganya menjadi GAM diberikan tanda silang (X), sebagai penanda bahwa rumah tersebut sebagai musuh dan bisa dibumihanguskan kapan saja, jika dikendaki.

Melalui tanda X tersebut masyarakat dibuat hidup dalam bayang-bayang kematian. Sebab, dalam setiap operasi-operasi militer yang digelar, pasukan tidak perlu bertanya lagi apakah pemilik rumah tersebut pro republik atau pro GAM? Dari tanda di dinding rumah sudah bisa ditebak. Akibatnya, penghuni rumah tersebut kerap menerima perlakuan tidak wajar. Sebagiannya malah bernasib tragis, menemui ajalnya.

Memberi tanda silang sebenarnya juga akrab dan kerap dilakukan oleh masyarakat Aceh, lebih-lebih untuk orang yang bermasalah pada masa lalu. Karena bagi masyarakat Aceh, mengingat dan melupakan hampir dilakukan secara bersamaan dan sangat cepat. Secepat mengingat begitu juga halnya ketika melupakan. Orang Aceh mudah mengingat sesuatu, dan juga cepat melupakannya.

Saya teringat saat awal-awal reformasi, ketika di Aceh muncul fenomena politik yang meminta status Aceh diperjelas. Orang Aceh sangat membenci sesuatu yang berbau Jakarta. Di mana-mana demo menghujat TNI digelar, karena dalam otak orang Aceh, TNI sudah diberi tanda silang sebagai musuh. Situasi itu dimanfaatkan secara baik oleh aktivis GAM untuk menanamkan pengaruhnya di Aceh. GAM dianggap sebagai penyelamat rakyat Aceh. Kematian anggota GAM ditangisi dan berbondong-bondong orang melayat ke rumah duka. Namun, situasi tersebut tak bertahan lama, karena medio Mai 2003, Pemerintah Pusat memberlakukan status Darurat Militer di Aceh. Satu persatu pendukung GAM ditangkap, dibunuh atau ditembak.

Apa yang terjadi kemudian? Aceh mirip parade kekuasaan. Siapa yang berkuasa, dialah yang didukung. Di berbaga daerah kemudian dibentuk front perlawanan GAM, yang memobilisasi masyarakat untuk menyatakan ikrar setia NKRI. Para pengurus front perlawanan GAM tersebut sebagian malah berasal dari para simpatisan GAM atau para aktivis yang membelot. Mereka-merekalah kemudian yang menciptakan tanda untuk para pendukung GAM lainnya.

Kini setelah perdamaian tercipta, bukan tidak ada para pengurus front perlawanan GAM yang mengubah haluan dan menjadi pendukung GAM sejati. Mereka terlihat lebih GAM daripada GAM asli. Malah, mereka juga berani memberi tanda silang untuk orang lain berupa cap pengkhianat. Jika dulu mereka memberi tanda silang warna merah pada rumah-rumah penduduk, kini mereka banyak yang berlindung di bawah tanda berwarna merah.

Selain itu, memberi tanda juga kerap dilakukan orang Aceh untuk tokoh publik atau orang yang dihormati. Misalnya saja Ibrahim Hasan, mantan Gubernur Aceh. Setelah namanya tercemar karena terlibat DOM, Ibrahim Hasan hilang dari memori orang Aceh karena sudah diberi tanda silang. Kini, banyak orang mengelu-elukan Wali Nanggroe Hasan Tiro, dan disambut dengan gegap gempita, karena 30 tahun orang Aceh penasaran dengan sosok pendiri GAM tersebut. Akankah setelah Wali kembali ke Swedia, Wali akan kembali hilang dalam memori orang Aceh, karena sudah pernah melihatnya dari dekat? Jawabannya terpulang pada kita masing-masing.(HA 251008)

Read More......

Akhirnya Saya Dapat Surat dari Google

Monday, October 20, 2008

Dulu, saya hanya bisa membaca posting para blogger, jika mereka dikirimi surat oleh Google, termasuk dikirimi cek. Saya hanya bisa berharap, suatu saat saya juga mendapatkan kiriman dari situs yang oleh kawan saya disebut sebagai situs pertama masuk Syurga! (emang situs bisa masuk syurga?)

Dan, penantian saya yang cukup lama, akhirnya tiba juga. Google akhirnya mau mengirimkan surat untuk seorang blogger Aceh yang mencintai menulis, dan berharap agar bisa terus menulis.

Sabtu (18/10), selesai mandi, Handphone saya berbunyi. Saya tak begitu peduli, dan terus saja memakai baju dan celana, menyemprotkan parfum alakadarnya ke tubuh, serta merapikan tempat tidur. Semua keperluan kerja seperti charger laptop, charger handphone saya masukkan ke dalam tas, yang lebih mirip sebagai lemari berjalan. Saya merasa tidak pede seperti ada yang kurang jika sampai tidak membawa tas. Sebab, di dalamnya selalu saya sertakan buku bacaan, Koran, Al Quran mini, Laptop, dan beberapa keperluan lainnya. Di dalam tas itu sudah lengkap semua kebutuhan saya. Jika pun ada agenda mendadak ke luar kota atau diajak ke suatu tempat oleh kawan, saya sudah merasa nyaman.

Setelah semuanya selesai, saya membuka Nokia E90, dan mendapati sebuah pesan pendek yang dikirim oleh Fauzan, layouter Harian Aceh.

“Fiek, dirimu dapat surat dari google adsense, surat itu ada di lobi kantor. Cepat….” Saya penasaran. Ada apa Google mengirimkan surat untuk saya? Yang terpikir saat itu, apakah account google adsense saya kembali dibanned seperti yang terjadi tahun sebelumnya. Saya mencoba menyakinkan diri, bahwa hal itu tidak mungkin terjadi, sebab, jika google mau membanned orang, pasti dikirim langsung ke email yang bersangkutan dan mematikan accountnya. Tidak perlu pakai surat-menyurat di alam nyata.

Saya lalu membalas pesan Fauzan, dengan pesan pendek pula. “Ok!” Sambil mengendarai sepeda motor kesayangan, saya tak langsung ke kantor, tetapi memilih nongkrong dulu di warung kopi Jasa Ayah Solong, sambil bertanya-tanya dalam hati apa kira-kira isi surat google tersebut. Saya tidak terfikir, bahwa yang dikirim tersebut adalah cek, sebab bayaran untuk adsense saya belum mencapai US$100. “Apa isi surat google ya?” begitu pertanyaan yang muncul di otak saya.

Setelah puas nongkrong di Solong sambil minum teh botol Sosro dan sepiring Mie Kocok, saya pun bergegas di kantor. Tiba di kantor, saya langsung membuka laci meja di lobi, dan mendapati sebuah surat seukuran kartus pos. Di belakangnya tertulis Google dengan tulisan warna-warni. Sementara di depannya, di pojok kiri atas ada tulisan google dan alamatnya. Di pojok kanan atas terdapat bukti bebas biaya kirim, dengan tulisan warna merah. Di tengahnya agak menyamping ke kiri sedikit terdapat nama saya Taufik Al Mubarak dan alamat seperti yang saya sertakan untuk program google adsense. Di bawahnya ada tulisan ‘Important Account Information Enclosed’.

Perlahan-lahan saya buka dan mencoba memahami artinya (maklum google ngirim surat pake bahasa Inggris). Namun, meski tak bisa berbahasa Inggris, saya mengerti pesan yang terdapat di dalamnya, bahwa Google mengirimkan nomor PIN untuk saya, agar saya masukkan ke account adsense sebagai account resmi saya. Hal ini untuk menjadi pegangan bagi google dalam mengirimkan cek (jika jumlah pendapatan saya dari google adsense mencapai US$100).

Saya langsung bergegas ke lantai tiga di ruang kerja saya yang lebih mirip dengan sekat-sekat di warung internet. Saya buka Laptop ASUS dan langsung menghidupkannya. Tak lama kemudian, layar windows pun keluar, dan saya hubungkan dengan LAN (sebenarnya bisa juga pake wireless, tetapi karena nanti saya perlu mengirimkan berita ke layouter, saya lebih memilih menggunakan LAN). Laptop saya kemudian terhubung ke internet dan seperti biasa saya membuka blog saya sendiri Tinta Mirah, serta situs google. Begitu masuk ke account adsense, saya masukkan nomor PIN yang dikirim google dengan beberapa perintah seperti disertakan dalam surat tersebut.

Akhirnya, account saya resmi bisa saya gunakan untuk menerima pembayaran dari google. Tapi sayangnya, jumlah pendapatan saya hingga kini masih sangat kurang sekali dari total jumlah yang ditetapkan google agar bisa melakukan pengiriman cek. Sebab, sudah lama saya pasang iklan google, namun baru mendapatkan US$13. Pernah bosan dan hampir mo nyerah. Tapi, semangat saya muncul lagi setelah membaca tulisan teman-teman di blog, bahwa bermain bisnis internet haruslah sabar. Hal itu membuat saya tetap bertahan, dan berharap ada orang yang mampir ke blog saya, dan mengklik iklannya.
Terima kasih Om Google! Atas suratnya…
Download Tips Adsense

Read More......

Nyanyi Sunyi Tapol Aceh

Sunday, October 19, 2008

Perdamaian Aceh sudah lama dinikmati oleh penduduk Aceh dan juga para tahanan/narapidana politik (Tapol/Napol) Aceh. Namun, di luar itu, masih ada beberapa Tapol/Napol yang belum juga menghirup udara bebas. Di antara Napol tersebut adalah Tgk Ismuhadi, tokoh masyarakat Aceh di Jakarta, yang dihukum seumur hidup atas kasus pengeboman Bursa Efek Jakarta (BEJ).


Sudah tak terhitung aksi damai yang menuntut pembebasan Ismuhadi dilakukan oleh masyarakat Aceh, baik yang bermukim di Aceh maupun di Jakarta. Sudah beberapa tim pembebasan Tapol/Napol dibentuk baik oleh Pemerintah Aceh maupun oleh elemen sipil. Selain itu, sudah beberapa kali kunjungan baik resmi maupun tak resmi ke tempat Ismuhadi di Cipinang dilakukan oleh tim Pemerintah Aceh maupun anggota DPR Aceh. Hasilnya tetap nihil. Ismuhadi belum juga dibebaskan.

Sementara Ismuhadi sendiri, seperti berjuang sendirian di dalam penjara, dengan meminta pembebasan dirinya. Beberapa kali Ismuhadi mengeluarkan pernyataan di media yang meminta para petinggi GAM dan juga Pemerintah Aceh mengurus pembebasan dirinya, termasuk mengirim surat khusus yang dimuat di media. Toh, Ismuhadi tak juga bebas.

Saat berita kepulangan Wali Nanggroe Hasan Tiro ke Aceh, gencar diberitakan media, Ismuhadi sampai mengirimkan pesan khusus ke Wali, bahwa ada Tapol/Napol Aceh yang belum dibebaskan. Surat Ismuhadi tersebut dimaksudkan agar pemimpin tertinggi GAM tersebut ikut serta mendesak pembebasan dirinya. Upaya tersebut belum juga membuahkan hasil, karena dalam berbagai pidato Wali Nanggroe yang dibacakan oleh Malek Mahmud, belum ada yang menyinggung soal nasib para Tapol/Napol Aceh. Surat yang disampaikan Ismuhadi dan dimuat di Harian ini, bagai nyanyi sunyi seorang Tapol Aceh.

Sejumlah teman-teman seperjuangan Ismuhadi, ternyata tak tinggal diam. Saat Wali Nanggroe berkunjung ke Lhokseumawe, para anggota Komite Peralihan Aceh dan juga masyarakat setempat menyambut kedatangan Wali dengan membentangkan spanduk yang berisi permintaan agar Wali ikut memikirkan pembebasan Ismuhadi yang disebut-sebut sebagai eks panglima GAM Wilayah Jabotabek.

Penghadangan rombongan Hasan Tiro tersebut dengan spanduk yang meminta pembebasan Ismuhadi sampai membuat tim protokoler Wali terkejut. Sebab, baru pertama terjadi ada aksi pembentangan spanduk menyambut kedatangan Hasan Tiro dengan permintaan pembebasan Tapol/Napol Aceh. Kejadian tersebut belum pernah terjadi sebelumnnya.Harian ini kemarin, Minggu (19/10) sampai menurunkan laporan utama dengan judul “Bebaskan Ismuhadi Cs”.

Kita berharap aksi tersebut mendapat perhatian serius dari Wali Nanggroe dan juga para petinggi GAM lainnya untuk memikirkan pembebasan Ismuhadi Cs. Sebab, bagaimanapun juga, Ismuhadi pernah bersama-sama para pejuang GAM berjuang untuk rakyat Aceh. Posisi Ismuhadi di dalam GAM sama dengan para kombatan GAM lainnya yang sudah dibebaskan sejak beberapa bulan setelah MoU Helsinki ditandatangani.

Aksi yang dilakukan oleh teman-temannya di luar penjara bisa jadi pelipur lara bagi Ismuhadi yang sudah tak tahu lagi kemana harus mengadu agar dirinya juga dapat menikmati buah perdamaian. Sebab seperti kita tahu, setelah tiga usia perdamaian Aceh, nasib Ismuhadi semakin dilupakan. Pernyataan dan juga suara-suara temannya di luar penjara seperti sebuah nyanyian sunyi. Tak ada yang mendengarkan. (HA 201008)


Read More......

Pesaing Baru Situs Detik dan Kompas

Saturday, October 18, 2008

Setelah lama menunggu, akhirnya saya bisa menikmati tulisan di situs VIVAnews. Saya rela menghabiskan banyak waktu sambil membaca tulisan-tulisan yang patut dibilang sangat berbobot. Sebab, membaca situs ini, sama saja dengan membaca tulisan analisis di Majalah atau Tabloid, sangat mendalam. Informasi yang ditampilkan di situs tersebut sangat berbeda dengan situs berita yang ada. Situs ini tak hanya mengandalkan kecepatan dan akurasi berita, melainkan mengupas tuntas suatu masalah.


Sebenarnya, sejak masih bernama www.kanalone.com saya selalu setia membuka situs tersebut, dan sering kali kecewa karena hanya mendapati pidato Rupert Murdoch, konglomerat atau raja Media, yang memiliki saham di mana-mana. Saya terus terang penasaran dengan situs baru ini, yang sering ditampilkan sebagai pesaing baru situs Detik dan Kompas. Seorang teman yang bekerja di situs ini bercerita, jika situs VIVAnews secara kreatif mengawinkan teks, foto, video dan suara, dengan mempopulerkan jurnalisme masa depan. Tekad tersebut, bukan hanya omong-kosong belaka, karena ditopang oleh SDM yang berkualitas dan keluaran dari media ternama tanah air. Tak hanya itu, pemodal di belakang situs yang memiliki hubungan dengan TVOne, jaringan Star Asia juga dikabarkan memiliki uang yang tidak terbatas dan termasuk salah satu orang terkaya di tanah air. Jadi, wajar saja jika hasrat para nakhoda situs ini sangat muluk.

Sejak diluncurkan dalam bentuk edisi Beta awal Oktober ini, tampilan situs ini sudah cukup bagus karena digarap dengan sangat professional. Tampilannya juga menarik, dengan menonjolkan dua warna, putih dan merah. Rubrik-rubriknya sangat beragam, ada politik, ekonomi, teknologi, pemilu olahraga, showbiz, otomotis, kosmo, bisnis, korupsi, internasional, pokoknya seperti lazimnya sebuah situs. Tulisan-tulisannya juga sangatlah sangat enak dibaca dan tentu saja perlu. Dari tulisan-tulisannya, menunjukkan jika situs ini tak hanya menyajikan informasi secara detail melainkan juga sangat memperhatikan pada struktur penulisan. Cara penulisan beritanya hampir mirip dengan majalah tanah air yang sudah terkenal itu. Hal ini juga sangat wajar karena ada beberapa wartawan alumni media tersebut yang sudah bergabung di situs ini.

Ayo kita lihat bersama situs VIVAnews, sebuah portal yang melayani informasi dan berita dengan mengutamakan kecepatan serta kedalaman. Di situsnya, VIVAnews berupaya menerapkan standar jurnalisme berkualitas dalam meliput peristiwa nasional dan internasional.

Situs ini tak hanya hadir di layar komputer pribadi, melainkan juga bisa diakses melalui telepon genggam atau PDA. Tujuan situs ini seperti disebutkan ingin mencerdaskan bangsa melalui jurnalisme cerdas, tajam, berimbang dan menghibur.
Pertanyaan kita, mampukah situs ini menyaingi atau setidaknya mencuri pangsa pembaca yang selama ini menikmati detik, kompas atau situs berita lainnya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Read More......

Facebook

Thursday, October 16, 2008

Pecinta internet, belakangan ini, sibuk bermain-main facebook, sebuah situs jejaring sosial yang mendadak terkenal di dunia maya. Tak mau ketinggalan, para politisi juga memanfaatkan situs ini, untuk mendongkrak popularitas, atau sekedar agar tak dianggap melek internet. Jika di dunia nyata kita sulit menemui atau berbicara dengan para politisi, namun melalui facebook, mereka merupakan sosok yang mudah ditemui, dan malah terlihat sangat ramah.


Bukan tanpa sebab jika situs facebook begitu populer, sebab, seperti sudah banyak diulas media, melalui situs jejaring sosial ini (meski bukan satu-satunya), Barack Obama, kandidat presiden dari Demokrat mengalahkan rivalnya Hillary Rodham Clinton, salah satu wanita terkuat di dunia. Terinspirasi dari kisah Obama, para politisi kita di tanah air ikut-ikutan latah memanfaatkan media ini untuk mencari popularitas agar dilirik oleh rakyat pada Pemilu 2009 nanti.

Tak salah jika kecenderungan tersebut dapat kita sebut dengan istilah ‘demam facebook’. Pasalnya, kehadiran situs yang didirikan oleh Mark Zuckerberg, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes ini memiliki jumlah pengguna 34 juta orang per Juli 2007. Posisinya sebagai situs populer terus meranjak naik, dari posisi 60 pada September 2006 menjadi 7 pada September 2007. Sementara menurut Alexa, situs pembuat rangking web di dunia, facebook menempati urutan 8, dengan traffic rank 5. Sementara menurut situs ensiklopedia virtual, Wikipedia, facebook menjadi situs nomor satu untuk foto di Amerika Serika, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya.

Tak pelak, kesuksesan tersebut mendatangkan pundi-pundi uang untuk perusahaan yang mempekerjakan lebih 1000 karyawan, dengan pendapatan US$10-50 M. Wajar saja jika situs ini kemudian digandrungi sejak dari anak sekolahan sampai presiden sekalipun. Karena, melalui situs ini, popularitas begitu gampang didapat, berbeda dengan di dunia nyata.
Seorang teman saya, sampai berkomentar begini untuk facebook, ‘ ada mainan baru yang membuat lalai pada dunia dan melupakan hari yang lebih kekal di akhirat...nampaknya makin banyak orang yang lagi mentel dengan facebook. Mungkin juga ada sebagian teman saya yang lagi menjalin cerita di facebook ini’. Sebuah komentar yang sangat wajar untuk situs yang pertama muncul pada 4 Februari 2004 ini.

Lalu, apa yang menarik dari situs ini? Situs ini terdiri dari dua kata saja, dan kita pasti sudah mengerti arti dari kata-kata tersebut, yaitu face (wajah) dan book (buku). Jika diterjemahkan secara kasar, facebook berarti ‘wajah buku’, atau bisa juga ‘buku tentang wajah’. Bagi pakar psikologi, wajah sering mampu bercerita banyak hal, termasuk perilaku atau sikap seseorang. Kita bisa mengetahui sesorang sedang marah atau tidak dari wajahnya. Demikian juga dengan orang yang berniat menipu, kita bisa mengetahuinya dari mimik wajah dengan memperhatikan sedikit gerak matanya.

Bagaimana dengan buku? Seperti kita tahu, buku merupakan sumber ilmu dan juga sumber inspirasi. Sebuah persoalan dibahas secara tuntas dalam sebuah buku, tak ada yang ditutupi, kecuali disengaja oleh si penulis buku. Intinya, kita dapat mengetahui sesuatu melalui buku, baik tentang kelebihan seseorang atau kekurangannya, suatu kejadian atau malah sebuah kontroversi. Sebagai pembaca, kita tak pernah dilarang untuk mengetahui secara tuntas setiap persoalan yang dibahas dalam sebuah buku.

Nah, melalui Facebook, kita bisa mengetahui seseorang secara lengkap seperti nama, tanggal lahir, foto wajah, alamat, pekerjaan atau semua informasi seseorang yang disertakan di dalamnnya. Meskipun semua informasi yang ditampilkan di situs tersebut hanya yang baik-baik saja, dan tak jauh berbeda dengan di dunia nyata, di mana para politisi kita selalu menyertakan informasi yang baik-baik saja, seperti yang saya temukan dalam berita-berita tentang Pilkada Pidie Jaya belakangan ini. Semua kandidat yang berkampanye tak pernah mengatakan dirinya jelek. Malah, mereka mengaku sebagai kandidat pilihan yang mampu mengantarkan rakyat Pidie Jaya ke arah yang lebih baik. Perilaku mereka tak ubahnya seperti para politisi yang sedang mempopulerkan diri si situs Facebook, selalu menampilkan sisi baik.

Padahal, sekarang rakyat butuh pemimpin yang jujur, dan berani mengatakan, ‘pilihlah saya agar kalian kubuat sengsara.’ (HA 171008)

Read More......

Kepulangan Hasan Tiro dan Perdamaian Aceh

Jika tak ada aral melintang, proklamator dan pemimpin tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Hasan Tiro, yang selama ini bermukim di Swedia direncanakan akan pulang ke Aceh pada 11 Oktober 2008. Kepulangan Hasan Tiro disebut-sebut murni atas keinginannya sendiri, dan tidak ada agenda politik. Meski tidak ada agenda politik, sejatinya kepulangan tokoh kunci GAM tersebut mampu meredam memanasnya kondisi politik di Aceh menjelang Pemilu 2009.


Sebab, bagaimana pun, peran tokoh yang digelari ‘Wali Nanggroe’ oleh pasukan GAM ini diperlukan dalam mengawal dan menjaga perdamaian Aceh tetap langgeng. Apalagi belakangan ini, kondisi Aceh terus memburuk terkait meningkatnya aksi kriminalitas, berupa perampokan dan penculikan, serta penggranatan kantor Partai Aceh (PA) di beberapa wilayah dan pembakaran kantor Partai SIRA, yang notabene partai dari eks kombatan GAM dan aktivis referendum.

Makna Kepulangan Hasan Tiro
Di tingkat nasional, informasi kepulangan Hasan Tiro memunculkan polemik, khususnya terkait perlu tidaknya perlakuan istimewa terhadap tokoh yang puluhan tahun mengobarkan perlawanan terhadap Jakarta. Pun begitu, pihak TNI seperti dikutip okezone, Rabu (24/9) mengaku akan mengawasi kedatangan Hasan Tiro di Aceh. Kebijakan tersebut diambil tak terlepas dari cerita masa lalu Hasan Tiro yang dinilai membahayakan keutuhan NKRI. Sementara pengamat intelijen, Soeripto, tidak begitu mempersoalkan kepulangan Hasan Tiro, karena murni kepulangan biasa, tidak ada agenda terselubung yang perlu dicurigai.

Namun, tidak begitu halnya tanggapan dari Aceh. Berita kepulangan Hasan Tiro disambut suka-cita oleh rakyat, terutama oleh mantan GAM. Sebab kepulangan tersebut memberikan makna tersendiri, khususnya terhadap eksistensi Partai Aceh, di samping memuaskan kerinduan para pengikutnya yang kini berhimpun dalam Komite Peralihan Aceh (KPA), organisasi baru GAM. Malah, mereka akan memberikan pengamanan khusus, sebagai bentuk penghormatan bagi pemimpinnya yang puluhan tahun meninggalkan Aceh.

Sebab, sejak bertolak ke luar negeri tahun 1979 saat situasi keamanan tidak menentu, Hasan Tiro tidak pernah kembali lagi ke Aceh. Hasan Tiro menetap di Amerika dan selanjutnya mendapatkan suaka politik ke Swedia, dan mengendalikan perjuangan GAM di pengasingan. Meski sempat diberitakan meninggal dunia dan terkena stroke, serta diisukan tidak lagi mengendalikan perjuangan GAM secara total, namun Hasan Tiro tetap menjadi tokoh kunci yang memengaruhi penyelesaian konflik Aceh.

Artinya, terlepas dari sejumlah misteri tentang kondisinya, restu Hasan Tiro selalu ditunggu, khususnya terkait hal-hal prinsipil tentang perjuangan dan sikap politik GAM dalam perundingan. Bisa disebut, tanpa restu Hasan Tiro, mustahil MoU Helsinki yang mengakhiri konflik Aceh terlaksana dengan mulus.

Jadi, kepulangan Hasan Tiro ke Aceh menunjukkan kondisi keamanan Aceh sudah kondusif. Hal ini tentu saja sebuah pengakuan bahwa perdamaian Aceh bukan lagi main-main, karena tokoh penting yang selama ini begitu kuat mengobarkan api perlawanan, akhirnya dapat menikmati buah perdamaian. Untuk itu, hendaknya, semua pihak menjaga perdamaian ini dengan sepenuh hati, sambil menutup rapat-rapat peluang munculnya konflik kembali.

Agenda Perdamaian
Meskipun kepulangan Hasan Tiro dinyatakan tidak dibumbui dengan agenda politik, sejumlah pihak di Aceh tetap berharap kepulangan Hasan Tiro dapat memberikan makna positif bagi keberlangsungan perdamaian di Aceh. Sebab, keengganan Hasan Tiro kembali ke Aceh pasca-penandatanganan MoU Helsinki, 15 Agustus 2005 silam, memunculkan tanda tanya besar bahwa Hasan Tiro tidak merestui perdamaian Aceh. Jika keinginan kepulangannya ke Aceh benar-benar terwujud, kekhawatiran bahwa Hasan Tiro tidak mendukung perdamaian akan hilang dengan sendirinya.

Hal ini perlu dipertegas, agar kepulangan Hasan Tiro tidak dipolitisir dan dimanfaatkan untuk agenda tersembunyi kelompok tertentu, yang membuat kondisi Aceh bertambah panas. Apalagi belakangan, aksi-aksi kekerasan seperti penggranatan kantor Partai Aceh (PA), pembakaran kantor Partai SIRA, serta tindakan intimidasi lainnya terhadap partai-partai tertentu meningkat. Kondisi ini tak terlepas untuk kepentingan Pemilu 2009.

Banyak kekhawatiran muncul di Aceh saat Pemilu berlangsung nanti. Kekhawatiran tersebut bukan tak beralasan, sebab Pemilu di Aceh berbeda dengan di tempat lain karena hadirnya sejumlah Partai Lokal. Banyak pihak berharap agar Pemilu berlangsung aman dan damai, tanpa paksaan untuk memilih partai tertentu. Selama ini, ancaman dan intimidasi terhadap masyarakat untuk memilih suatu partai sering terjadi. Pelarangan pendirian kantor partai tertentu, yang diikuti pembakaran sejumlah umbul-umbul partai semakin menunjukkan jika Pemilu di Aceh kental warna kekerasan. Sebab, persaingan dalam merebut suara dan simpati rakyat Aceh tak hanya dilakukan melalui tawaran sejumlah program politik, melainkan juga melibatkan kekerasan.

Nah, kepulangan Hasan Tiro juga tidak tertutup kemungkinan akan dipolitisir oleh kelompok atau partai tertentu untuk mendulang simpati publik Aceh, karena akan memberi keuntungan psikologis bagi partai tersebut. Mereka akan memonopoli suara rakyat dengan memanfaatkan ketokohan Hasan Tiro, untuk mengintimidasi partai lain. Banyak pihak mewaspadai agar kepulangan Hasan Tiro tidak disusupi agenda terselubung yang memberi pengaruh pada rusaknya perdamaian. Sebab, Jika kondisi seperti ini yang terjadi, jelas kepulangan Hasan Tiro tidak memberikan pengaruh apapun.

Namun, lain halnya jika kepulangan Hasan Tiro setelah 32 tahun lamanya tidak menginjak tanah Aceh membawa pesan-pesan perdamaian, tentu akan mendatangkan keuntungan bagi rakyat Aceh. Apalagi jika kepulangan tersebut untuk meredam gejolak konflik yang bakal muncul terkait keberadaan Partai lokal pada Pemilu nanti, serta untuk mencari solusi atas agenda penyusunan Qanun Wali Nanggroe yang sedang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Maka semua pihak harus menyambut baik keinginan tersebut.

Akhirnya, kita berharap, agar kepulangan Hasan Tiro ke Aceh benar-benar murni atas keinginannya sendiri tanpa dipolitisir oleh partai tertentu, sebab jika itu yang terjadi, jelas kepulangan Hasan Tiro tidak memberi pengaruh apapun, terutama untuk keberlangsungan perdamaian Aceh.

Note: Tulisan ini ditulis sebelum kepulangan Hasan Tiro

Read More......

Mie Aceh

Seorang kawan yang baru tiba dari Jakarta, sebut saja namanya DoKaHa, mengaku kecewa setelah melihat Aceh dari dekat. Menurutnya, apa yang dia dengar dan kenyataan yang dia lihat, sangat jauh berbeda. Katanya, Aceh tak seperti yang sering diceritakan orang. Karena penasaran, saya mencoba bertanya, apa yang membuatnya kecewa?


"Di Jakarta atau di Medan, saya begitu gampang menemukan orang yang menjual Mie Aceh, tapi di Aceh sendiri saya sulit menemukannya," begitu jawaban DoKaHa. Saya cuma tersenyum kecil mendengar jawabannya.

Bukan apa-apa, yang dipersoalkan oleh saya kawan benar-benar persoalan sepele , dan mungkin sangat tidak layak jadi obrolan serius, yang menyita lebih banyak waktu. Sebab, banyak hal lain yang lebih penting yang mesti diperdebatkan atau dipersoalkan. Katakanlah, soal kepulangan pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Hasan Tiro, yang menyita hampir semua halaman depan Koran lokal. Bukankah sosok Tgk Hasan Tiro (HT) masih banyak dibalut misteri, sama seperti cerita puluhan tahun lalu?

Soalnya, hampir di setiap kesempatan, Wali cuma mengucapkan beberapa kata yang sangat mudah diingat, dan diprediksikan, seperti ulon ka troh u Aceh, thank you atau lon ka meugilho tanoh Pidie. Menyimak ucapan tersebut, jelas sekali berbeda dengan HT yang kita kenal selama ini, seorang orator dan ideolog yang membuat pendengar ‘bergetar hatinya’ atau ‘terpikat dengan ajakannya’.

Selain itu, kawan saya juga bisa mendiskusikan kenapa ada sejumlah pengikut Wali yang tidak tampak batang hidungnya, padahal mereka dulu bersama-sama dengan Wali dan menjadi pendukung setia Wali. Apakah ini suatu isyarat bahwa sudah terjadi lagi keretakan di tubuh GAM? Soalnya, sejak gerakan ini dibangun, pernah beberapa kali diisukan retak, dan ada sejumlah pengikut yang dipecat. “Apakah hal itu sudah terjadi lagi sekarang?” Saya mencoba bertanya.

“Kemana Tgk Bakhtiar Abdullah dan Tgk Sofyan Dawood?” tanya Apa Maun yang duduk di samping saya, setelah bergabung bersama kami untuk sebuah obrolan ringan yang ‘tidak’ terlalu penting. Saya yang dari tadi penasaran dengan pernyataan DoKaHa menjadi bertambah bingung. DoKaHa juga bingung, dan memandang lama ke arah saya, seperti menunggu pernyataan apa yang bakal keluar dari mulut saya. Padahal, saya sendiri juga bungkam, tak tahu harus berkata apa.

“Iya, kemana Bakhtiar Abdullah dan Sofyan Dawood?” saya mengulang pertanyaan Apa Maun. Soalnya, sejak Wali tiba di Malaysia, wajah Bakhtiar Abdullah dan Sofyan Dawood sama sekali tak terekam di Media. Hal yang sama juga terjadi di depan Masjid Raya Banda Aceh, di Kuburan Tgk Syik Di Tiro atau di Pendopo Gubernur. Kemana mereka?

Padahal dulu, setiap ada Wali, sosok Bakhtiar Abdullah selalu di samping Wali. Banyak media di luar negeri juga sering mengutip pernyataan Bakhtiar seputar perjuangan GAM. Bukan hanya karena posisi Bakhtiar Abdullah saat itu sebagai Juru Bicara GAM di Sweden, melainkan juga orang yang dididik oleh Wali secara langsung. Sementara Sofyan Dawood, kita kenal sebagai sosok militer GAM yang sangat disegani dan ditakuti saat Darurat Militer. Setiap hari pernyataannya kita baca di Koran. Sekarang, ketika Aceh damai, dan Wali pulang ke Aceh, kenapa mereka tidak bersama Wali? Apa yang terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat kami penasaran, dan tak tahu harus bertanya kemana? Sama seperti rasa penasaran saya terhadap DoKaHa yang bertanya kenapa di Aceh tidak ada Mie Aceh?

Untuk pertanyaan ini, saya bisa mereka-reka jawabannya, dan (mungkin) masuk akal. “Di Aceh bukan tidak ada Mie Aceh, tapi malah sangat banyak. Di setiap warung kopi ada penjual Mie Aceh. Masalahnya, di sini orang Aceh tak perlu menulis Mie Aceh di rak Mie-nya, karena orang sudah tahu kalau itu Mie Aceh,” jawab saya sekenanya. Sementara di Jawa, atau di mana saja di luar Aceh, orang Aceh perlu menampakkan identitasnya, agar orang-orang tahu bahwa itu Mie Aceh. “Coba jika tak ditulis Mie Aceh, apakah orang akan tahu kalau yang dijual itu adalah Mie Aceh?” tanya saya. DoKaHa hanya mengangguk-angguk saja. Saya yakin dia menerima argumentasi konyol saya.

“Kok bisa begitu ya? Lalu, kenapa di sini ada orang menggunakan nama partai dengan Partai Aceh? Padahal ini kan di Aceh?” tanya DoKaHa lagi. Sekarang giliran saya yang bertambah bingung, dan tak selera menjawabnya.(HA 161008)

Read More......

Apakah Mereka Butuh UU Pornografi?

Wednesday, October 15, 2008

Sudah lama saya ingin mengomentari tentang Rancangan Undang-undang Pornografi atau pada awalnya bernama Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Namun, baru sekarang niat itu terlaksana, setelah seorang kawan meminta dibuatkan review atas foto-foto yang sudah dimuat di blog-nya. Meski komentar ini tak mirip analisis akademik, karena hanya komentar ringan saja, tetapi mudah-mudahan bisa membuat kita merenung, tentang banyak hal yang tidak masuk akal di Negara kita yang katanya besar ini. Pembaca tak perlu membaca review ini selesai, karena saya hanya ingin memperlihatkan foto-foto hasil hunting teman saya, yang saya tampilkan di blog ini, tentu sini atas izin darinya.


Sebelum disahkan menjadi Undang-undang, RUU APP sudah marak diprotes oleh sejumlah aktivis, komunitas adat, penganut feminisme atau oleh orang-orang yang tidak setuju Negara terlalu mencampuri dan mengontrol soal moralitas kehidupan personal.

Memang, diakui atau tidak, di negeri ini, yang sering disebut Negara Bukan-bukan ini, hampir tak ada kebijakan Negara yang tidak diprotes oleh warganya. Entahlah, apakah memang daya kritis warga di sini sudah mulai muncul pasca-rontoknya kekuasaan Orde Baru, atau memang Negara yang tidak mengetahui kebutuhan fundamental masyarakat, atau tak mampu membangun sikap kompromis dengan semua warga Negara yang terkenal multi budaya dan multi etnik ini. Sehingga berbagai kebijakan membuahkan kutukan dan protes.

Apakah semua warga menolak RUU ini? Ternyata tak juga, sebab RUU ini disahkan jadi UU banyak juga pendukungnya, bahkan berasal dari lembaga yang gabthat, seperti MUI, ICMI, FPI, MMI, Hizbut Tahrir dan PKS. Malah, seperti pernah diberitakan, MUI dalam pernyataannya mengeluarkan komentar yang cukup keras, seperti ‘pakaian adat yang mempertontonkan aurat sebaiknya disimpan di Meseum’.

Saya sendiri agak ‘alergi’ juga mendengar komentar bernada memarjinalkan kelompok adat minoritas yang ada di Indonesia. Saya langsung terbayang pada chatting dengan seorang kawan, tentang kondisi suku Asmat di Papua. Menurutnya, Negara sudah berlaku sangat tidak adil jika UU ini disahkan, karena ada warga Negara yang sampai hari ini belum mengenal pakaian yang ‘sopan’ yang dikenakan para wakil rakyat di Senayan namun bermental bejat itu.

Alasannya sederhana saja, karena dalam masyarakat adat, memakai pakaian yang terbuka seperti terlihat dalam foto-foto yang saya lampirkan berikut ini, sama sekali tidak membangkitkan libido atau gairah seksual. Sebab, hal itu sudah biasa dan bukan masalah lagi.

Lalu, kita bertanya, apakah RUU Pornografi yang hendak disahkan menjadi UU Pornografi sesuai dan cocok untuk mereka? Atau apakah mereka membutuhkan UU seperti itu?






sumber foto: Cesillia Aida K

Read More......

Dia Menantangku Menulis Puisi

Monday, October 13, 2008

Kemarin, Minggu (12/10) seorang kawan, memberi PR yang menurutku cukup berat, yaitu minta dibuatkan dua buah puisi. Aku sempat terperangah dan tegang, saat pertama mendengarnya. Aku diminta menulis puisi? Apa tidak salah! Sebab, sudah sangat lama tak pernah lagi menulis puisi. Seingatku, menulis puisi adalah pekerjaan yang sering kulakukan ketika masih sekolah di MAN 1 Sigli. Saat itu, aku sering mengirimkannya ke Waspada, dan dimuat di rubrik ABAKADABRA.


Ketika kuliah, aku hampir tak pernah lagi menulis puisi atau juga cerpen. Aku merasa bangga dan puas jika sukses menulis artikel, dan dimuat di Harian Serambi Indonesia. Sebab, saat itu menulis Opini di Serambi terbilang ‘hebat’ karena tak semua orang dimuat tulisannya, sangat berbeda dengan sekarang. Ada seleksi ketat yang dilakukan, dan tak sembarang artikel masuk di rubrik opini tersebut. Beruntung, semester dua kuliah, aku sudah bisa ‘menempelkan’ nama di rubrik Opini. Sementara sekarang, jika tulisan kita dimuat, sama sekali tak membuat kita bangga, sebab sudah sangat mudah menulis opini di Serambi, selain tak ada lagi seleksi ketat dan pertimbangan aktualitas atau orisinilitas tulisan, juga dengan memiliki kedekatan dengan sang redaktur, tak sulit tulisan kita termuat. Benar-benar tanpa kompetisi.

Tapi bukan itu yang hendak aku ungkapkan. Mendapatkan PR menulis puisi, membuatku seperti ditantang. Sebab, menulis puisi bagiku jadi pekerjaan yang sulit, sama sulitnya seperti diminta memindahkan sebuah gunung ke laut. Mustahil bisa kulakukan.
Namun, karena tak ingin mengecewakannya, saya terpaksa melawan rasa kantuk yang berat, dan menulis puisi melalui tombol-tombol HP yang keras. Akhirnya, jadilah puisi ini, meski tak layak disebut puisi. Ada kepuasan batin, karena sudah menyenangkan seorang kawan.


Cinta Mati

Mencintaimu, kasih…
Seperti menemukan syurga
Menemukan impian Adam yang lama menghilang
Mendapatkan cintamu, kasih…
Laksana kafilah menemukan oase di gurun pasir
Menghapuskan dahaga yang terpendam
Hilangkan sakit yang menyiksa

Memilikimu, sayang…
Anugerah terindah dari pencipta
Tak tergantikan walau dunia menyembah pasrah
Melepaskanmu, sayang…
Dosa yang tak terampunkan
Walau bibir tak henti menggelorakan doa-doa

Sayang, bencimu adalah kutukan
Nista dan prahara
Bencimu pertanda duka

Kau boleh meragukan bulan yang menipu
Bopeng
Mentari yang merah saga
Tapi, cintaku tak boleh kau ragukan
Seperti cinta Romea pada Juliet
Cinta yang dibawa sampai mati

Kau boleh saja meragukan cinta
Atau membencinya
Sebab aku hanya memintamu tersenyum
Senyum yang menghapus dahaga

Peurada, 131008; 03.14



Oh, Malam!

Apa yang kau ragukan saat malam sepi menyendiri
Mimpi tak bertepi
Jantung berhenti berdetak
Dan nafas tak lagi mendesah?

Puaskah kau pada malam yang panjang
Mata tak terpejam
Jasad tak sempurna
Dan lafaz cinta tak lagi bermakna?

Oh, malam yang sepi…oh!
Lupakah kau pada angin yang tak berhenti bertiup
Pada bulan, pada bintang
Dan pada api yang menghanguskan kayu bakar
Api yang membakar cintaku, cintamu dan cinta mereka yang lelah bercinta?

Malam yang sepi
Angin yang menghembuskan
Api yang membakar
Dengarlah…
Cintaku tak terbalas

Peurada, 131008; 03.21


Read More......

Demam

Ada yang bilang, bila seseorang diserang demam, pasti ada yang tidak beres dengan kondisi badan atau tubuhnya. Karena demam sering diartikan dengan memanasnya suhu badan seseorang atau lebih tinggi dari biasanya, yaitu 37’C, bila diukur lewat mulut, atau 37.7’C (suhu rectum), atau lebih dari 37’C bila diukur di bawah ketiak.


Ada juga yang menyebutkan demam sebagai reaksi tubuh saat berperang melawan infeksi bakteri, virus atau parasit. Penyebab demam juga bisa melalui non infeksi, seperti terluka atau cedera. Biasanya setelah vaksinasi dan dehidrasi.

Demam yang kita kenal juga bisa bermacam-macam, dari yang berbentuk penyakit, seperti demam berdarah, atau terkait dengan kondisi mental seseorang, yang menunjukkan ketakberesan, seperti istilah demam panggung. Sering juga demam dikaitkan dengan suatu yang luar biasa dan mendatangkan respon yang tak biasanya, karena semua orang ikut membicarakannya, seperti demam Lady Diana, demam Piala Dunia, atau demam Obama yang melanda dunia, belakangan ini.

Di Amerika, khususnya pascapenyerangan menara kembar WTC, dunia juga diajak untuk ‘berdemam’ perang melawan terorisme, atau demam Al Qaeda. Sebelumnya, ada demam Saddam Husein, yang membuat beberapa masyarakat kita menamakan anak laki-lakinya dengan nama Saddam Husein. Demam tersebut selalu mengikuti trend, dan membuat orang merasa menjadi anggota komunitas dari yang didemamkannya.

Artinya, ada banyak demam di dunia. Dan seperti umumnya demam, sering menghilang, setelah masyarakat atau komunitas merasa hal tersebut menjadi sesuatu yang biasa. Menghilangnya suatu demam, biasanya, setelah digantikan dengan demam yang lain. Itulah dunia, sesuatu mendapatkan tempat tersendiri, dan juga komunitasnya sendiri. Menjadi benarlah apa yang sering diucapkan orang, ‘setiap zaman dan fase ada demamnya sendiri-sendiri. Dan setiap demam, ada masa dan pengikutnya masing-masing’. Ibarat dunia, selalu berputar, dan tak pernah stagnan.

Di tempat kita, soal demam ini—yang tak terkait dengan penyakit—sering kita saksikan dan kita alami. Saat 17 Agustus, misalnya, bocah-bocah pelajar demam dengan lagu Indonesia Raya, panjat pinang, mengibarkan bendera merah putih kecil, serta demam dengan film-film yang membangkitkan spirit perjuangan. Demam 17 Agustus juga sering tak bertahan lama, karena selepas itu masyarakat disuguhkan dengan demam yang lain.

Saya juga pernah melihat demam Darurat Militer beberapa tahun yang lalu, di mana masyarakat Aceh akrab dengan ‘demam ikrar setia’. Di berbagai tempat, orang sering membuat kegiatan ikrar setia, sebagai penanda cinta pada Negara. Tak mengadakan kegiatan ikrar setia, berarti tak berpartisipasi pada demam yang sedang melanda, dan karena itu tak menjadi komunitas dari yang sedang berdemam.

Hal yang sama juga kita saksikan saat tahun 1999 lalu, ketika orang Aceh larut dalam demam Referendum. Di mana-mana, termasuk di pelosok Gampong, kita menemukan ekspresi demam tersebut dalam bentuk lukisan grafiti referendum, penempelan spanduk referendum. Referendum seperti magnit yang mampu menarik perhatian orang untuk membicarakannya. Malah, seperti pernah diulas oleh analis, saat demam referendum melanda Aceh, sukses menghadirkan tulisan referendum di badan jalan, sejak dari Banda Aceh sampai Medan atau di lintas Tengah dan Barat. Grafiti tulisan di badan jalan tersebut disebut sebagai tulisan terpanjang di dunia. Tak hanya itu, massa yang tumpah ruah saat aksi kolosal referendum di Masjid Raya Banda Aceh pada 8 November 1999 dianggap sebagai protes sipil terbesar sepanjang sejarah, mengalahkan aksi yang pernah dibuat oleh Marthin Luther King di Amerika atau menyamai jamaah Haji di Mekkah. Hah!

Nah, seperti ditulis di atas, terjadinya demam karena ada sesuatu yang tak beres. Demam Ikrar Setia, misalnya, karena Aceh dalam ‘cengkeraman’ militer. Demam referendum, karena Aceh ingin menentukan nasib sendiri dan sudah ‘bosan’ dengan Negara Induk, sebab ingin kejelasan status.

Lalu, sekarang rakyat Aceh kembali disuguhi dengan ‘demam’ Wali Nanggroe. Pertanyaan kita, apakah demam Wali yang sekarang ini hinggap di hati orang Aceh, menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di Aceh, atau justru ada yang tidak beres dengan kepulangan Wali? Sebab, seperti disampaikan seorang temam, dulu ketika pengikutnya masih 25 orang, Wali sangat bersemangat memproklamirkan ‘Aceh Merdeka’, tapi kenapa ketika massa pendukungnya mencapai ratusan ribu orang, Wali menjadi sangat pelit bersuara! Entahlah, semoga pernyataan teman saya tadi salah.(HA 131008)

Read More......

[R]evolusi

Saturday, October 11, 2008

Dalam beberapa hari ini, Aceh kembali bergeliat dan semarak. Seperti sembilan tahun yang lalu, ribuan orang tumpah ruah ke Banda Aceh. Tapi, kehadiran massa yang diduga mencapai ratusan ribu orang tersebut bukan untuk membuat sebuah revolusi damai, atau sedang melampiaskan amarah pada negera. Massa yang datang tersebut murni untuk menyambut seorang pencetus ‘revolusi’ Tgk Hasan Muhammad Di Tiro.


Namun, kehadiran massa yang menyerupai pawai Referendum tahun 1999 lalu membuat kita merenung, apakah rakyat Aceh masih butuh sebuah revolusi? Sebab, seperti sering kita dengar dan baca, dalam revolusi, kerap meminta lebih banyak korban. Bakal ada darah yang tumpah. Harga termahal yang mesti dibayar sering berbentuk nyawa manusia. Lalu, sudah siapkah rakyat Aceh mengorbankan nyawa untuk kesekian kali, demi sebuah revolusi yang tak kunjung sampai tersebut?

Ataukah kehadiran massa dalam jumlah besar ke Aceh tersebut hanyalah ekspresi kerinduan rakyat yang mendalam akan sosok Hasan Tiro? Terpengaruhkah mereka dengan ideologi yang puluhan tahun ditanamnya tersebut, atau sekedar ingin melihat bagaimana sosok pencetus ide merdeka tersebut dari dekat? Yang pasti, massa yang hadir tersebut bukan massa liar, tanpa satu komando. Meski komando sekarang adalah memuliakan orang yang baru pulang dari jauh.

Di Gampong saja, jika ada orang pulang dari jauh, setelah puluhan tahun meninggalkan Gampong juga dimuliakan, dengan dipeusijuek, tanda kemuliaan. Jadi, bagi kita wajar jika antusiasme warga menyambut Hasan Tiro sangat luar biasa. Namun, saya melihat ada pemandangan aneh, yang diperlihatkan massa yang berjubel-jubel di atas mobil tersebut. Mereka bukan membawa bendera GAM, seperti geunareh Hasan Tiro yang dikenal Wali Nanggroe tersebut, melainkan bendera sebuah partai lokal. Lalu, apakah Wali pulang demi partai lokal tersebut?

Sebab, banyak orang berharap, Wali Nanggroe, tak menjadi monopoli satu kelompok saja. Wali adalah aset berharga rakyat Aceh, karena berjasa membuka mata orang Aceh tentang sejarah negerinya. Wali Nanggroe sudah menjadi milik rakyat Aceh, apakah dia itu GAM, PNS, Ulama, Apa Mae, Apa Suman, atau siapa saja yang tergerak hatinya setelah membaca tulisan-tulisan penuh spirit dari Wali.

Lalu, apa maksud orang ke Banda Aceh membawa hanya satu warna bendera saja. Di mana warna itu pun sudah jauh berbeda dengan lambang yang dulu dikeramatkan oleh Wali dan pengikutnya. Sebab, bendera yang dibawa oleh orang yang pergi ke Banda Aceh, warnanya saja yang menyerupai. Bukankah itu bentuk hegemoni dan upaya mengotak-kotak rakyat Aceh. Padahal, seperti kita tahu, Wali berkeinginan menyatukan rakyat Aceh, dengan menyebut ‘Bansa Aceh’. Sebab, yang disebut ‘Bansa Aceh’, bisa dari bermacam-macam golongan, ada Teungku, Teuku dan Tuanku, dan bermacam elemen lainnya. Tanpa persatuan seperti itu, cita-cita yang dulu diperjuangkan Wali sulit dicapai.

Hanya itu yang saya takutkan. Sebab, jika sampai Wali nanti bertanya, kenapa Aceh yang dicita-citakan menyatu dalam barisannya tanpa satu kelompok pun merasa paling kuasa dan berjasa kini justru terpecah, siapa yang akan menjawabnya? Jika sampai Wali bertanya, kenapa ada Partai ini dan partai itu, padahal dulu sama-sama berjuang meski dengan cara berbeda, tapi sekarang sedang bersiap-siap menumpahkah darah, siapa yang sanggup menjawabnya?

Bukankah orang yang pulang dari jauh, apalagi dalam waktu yang sangat lama, pasti ingin mendengar cerita-cerita yang baik-baik saja? Sebab, jika orang yang baru pulang dari jauh mendengar kisah-kisah yang tidak baik, niatnya untuk bertahan dan tetap tinggal pasti berkurang. Mereka pulang biasanya karena mengharapkan ada suasana baru yang membuatnya tenang. Namun, jika yang disaksikannya adalah kehancuran, apa yang akan terjadi? Apalagi jika puluhan tahun dia sudah berjuang untuk membuat rakyat negerinya bersatu, berperadaban dan bermartabat, tiba-tiba sedang terpecah dan saling meu-klok-klok satu sama lain. Apa yang akan terjadi? Karena itu, saya berharap, perlihatkanlah hal-hal baik pada Wali Nanggroe, agar beliau tidak wueh hate melihat Aceh. (HA 111008)

Read More......

Wali Nanggroe Tentang Sebuah Ingatan

Oleh Taufik Al Mubarak

Kruu…Seumangat!!!
Akhirnya, Tgk Hasan Muhammad Ditiro, atau yang populer dengan Hasan Tiro, pulang ke Aceh. Meskipun, kepulangannya tidak terkait lagi dengan perjuangan akan cita-citanya, namun peutuah Wali Nanggroe tetap ditunggu oleh rakyat Aceh. Dari beberapa tempat, ribuan orang mulai berdatangan dan sebagiannya sudah membanjiri kota Banda Aceh, untuk menyambut figur yang paling berpengaruh dalam sejarah Aceh, dan layak disandingkan seperti Sultan Iskandar Muda, Cut Nyak Dhien, Cut Meuti, Malahayati Syiah Kuala, Hamzah Fansuri atau Muhammad Daud Beureueh.


Kepulangan Wali Nanggroe ke Aceh, setelah 30 lebih bermukim di luar negeri, membenarkan sebuah pepatah yang sering dikutip orang, setinggi-tinggi punai terbang, pasti kembali ke sarangnya jua. Kerinduan yang mendalam terhadap tanah yang dicintainya tersebut, mengakhiri misteri sosok cucu Tgk Chik Ditiro ini. Aceh merupakan tanah kelahirannya, yang selama beberapa tahun diperjuangkannya agar kembali menjadi wilayah yang bermartabat. Dan kini, ketika keinginannya pulang, tercapai, sudah tentu membuatnya sangat bahagia, meski cita-citanya belum tercapai.

Kehadiran Hasan Tiro hari ini ke Aceh juga mengakhiri spekulasi tentang kesehatannya yang sering diberitakan memburuk. Sejak kemunculan di media-media di Aceh dan Nasional, sosok Hasan Tiro terlihat sangat segar bugar dan begitu bersemangat menjawab setiap pertanyaan dari wartawan. Kemunculannya tersebut membantah tentang misteri Hasan Tiro yang selama ini ditutupi dan rahasia.

Di kampung-kampung, di setiap warung kopi, atau di mana saja, orang ramai membicarakan sosok Wali Nanggroe ini. Hal ini wajar terjadi, sebab Hasan Tiro-lah yang berjasa menghidupkan kembali ingatan orang Aceh akan sejarah negerinya. Hasan Tiro menulis berbagai buku dan catatan betapa besarnya pengaruh Aceh dalam percaturan politik dunia.

Kepulangan Hasan Tiro sangat dielu-elukan oleh pengikutnya maupun oleh rakyat Aceh. Sebab, selama puluhan tahun lebih, Rakyat Aceh disuguhi berita simpang siur soal keberadaan Wali. Sering diberitakan terkena penyakit stroke dan malah pernah diisukan meninggal dunia. Meskipun, hal itu bagian dari pys war dalam sebuah peperangan untuk melemahkan mental pejuang GAM di lapangan. Namun, bagi pendukung dan pengikutnya, Hasan Tiro tak pernah tergantikan. Setiap titahnya menjadi peunutoh yang dijalankan dengan penuh pengabdian. Ceramah dan tulisan-tulisannya yang membangkitkan spirit perlawanan, selalu didengar dan menjadi bacaan wajib bagi anggota GAM. Melalui media tersebut, Hasan Tiro menanamkan pengaruhnya untuk merawat ingatan anak buahnya tentang sejarah perlawanan.

Namun, dapatkah kita membayangkan kepulangan Wali hari ini ke Aceh, seperti kisah kepulangan pemimpin revolusi Islam Iran, Ayatullah Ruhullah Khomenei dari Paris setelah bermukim 15 tahun lebih tahun 1979 dulu? Pernyataan ini layak diajukan, mengingat situasi Aceh sekarang ini sama sekali tidak mirip dengan kondisi politik di Iran, sebelum Khomenei pulang.

Seperti ditulis dalam berbagai buku sejarah, sebelum Khomeinei pulang ke Iran, situasi politik di Iran sedang memanas terkait dengan upaya penggulingan penguasa Iran, Syah Reza Fahlevi yang pro Amerika. Setiap hari, lebih dari 40 kali terjadi demonstrasi yang dilancarkan oleh berbagai kekuatan politik dan rakyat Iran yang benci pada kepemimpinan Syah, yang dituding menggadaikan negeri kepada Imperialis Barat.

Ribuan rakyat berkumpul di lapangan-lapangan terbuka untuk menentang Syah Iran. Kekuatan militer yang dianggap terbesar ke lima, tak mampu meredam amarah rakyat untuk sebuah revolusi. Tentara sama sekali tak berkutik dan mengalah di hadapan semangat rakyat yang butuh sebuah perubahan. Sebab, rakyat menanti sosok kharismatik yang bermukim di Paris.

Provokasi rezim penguasa untuk menghambat kepulangan sang Imam juga dilancarkan seperti ancaman pembunuhan. Hal ini semakin membuat kepulangan Sang Imam benar-benar sebuah perjuangan berat dan menegangkan. Sebab, ada isu pesawat yang membawanya pulang akan ditembak jatuh jika mendarat di Iran. Terkait adanya isu ini, Khomeini memilih menggunakan pesawat reguler yang dirahasiakan dan disertai puluhan wartawan internasional. Akibatnya, tentara Syah yang lumpuh semangatnya oleh antusiasme warga tak mampu berbuat apa-apa. Dan seperti ditulis di berbagai buku sejarah, 1 Februari 1979, Revolusi yang mengakhiri kekuasaan Syah Reza Fahlevi berlangsung tanpa penumpahan darah.

Meskipun jumlah masyarakat Aceh yang menanti kepulangan Wali sangatlah besar, tapi Wali pulang bukan untuk membuat revolusi, seperti halnya Imam Khomeinei. Sebab, kondisi politik di Aceh ini sangat berbeda dan tak seperti saat GAM diproklamirkan dulu. Sebab, MoU Helsinki sudah ditandatangani, dan GAM-RI sudah berdamai. GAM sudah menanggalkan tuntutan kemerdekaan yang puluhan tahun diperjuangkannya. Pun begitu, kepulangan Wali tetap akan memberikan pengaruh, khususnya terhadap perjalanan Aceh ke depan. Wali pulang untuk merawat ingatan rakyat Aceh akan sejarah dan status politik yang belum selesai.

Karena itu, kita berharap tak ada darah yang tumpah di Aceh, terkait kepulangan Wali. Meski kita yakini, berbagai provokasi mulai dilakukan, seperti penempelan spanduk yang menolak Wali pulang, atau upaya penghadangan yang dilakukan di beberapa daerah, hingga menjatuhkan korban.

Kita harus mengingatkan siapa saja yang berniat mengacaukan Aceh, bahwa Wali pulang bukan untuk menciptakan revolusi. Sebab, seperti sering disampaikannya kepada Media, Wali pulang murni karena kerinduannya akan tanah kelahiran. Jadi, tak ada revolusi, dan karena itu tak elok jika ada penumpahan darah.

Sebab, kepulangan Wali hanya untuk memberi ingatan kepada rakyat Aceh, bahwa Aceh punya sejarah. Dalam berbagai tulisannya, Wali sering menekankan betapa pentingnya sejarah, terutama bagi genarasi muda. Dalam pengantar buku Atjeh Bak Mata Donja, Wali menulis, ‘risalah Atjèh BAK MATA DÔNJA njoë ka ulôn susôn keu ureuëng muda dan aneuk dara Atjèh bak watèë njoë, sibagoë saboh tutuë njang peusambông masa njang ka u likôt deungon masa ukeuë, sibagoë seunambông taloë njang ka putôh deungon masa djameun, supaja ureuëng muda Atjèh, agam dan inong, geupham keulai pakriban dônja njang ka geupeudong Ié éndatu, pakriban keumuliaan njang ka geuteumeung, dan pakriban bak watèë njan geutanjoë Atjèh gob thèë na ban saboh dônja’.

Dalam kata pengantar bukunya tersebut, Hasan Tiro juga mendoktrin pengikutnya dengan pertanyaan-pertanyaan, yang membuat mereka merenung, tentang masalah yang diajukannya. Seperti terbaca dalam kalimat-kalimat berikut, Pakriban geutanjoë atjèh tangiëng droëteuh? Njoë keuh saboh sueuë njang rajek that keu geutanjoë bansa Atjèh bak masa njoë, njang wadjéb tapham uroë dan malam. Sabab bak djeunaweuëb geutanjoë ateuëh sueuë njoë meugantung nasib bandum geutanjoë bak masa njoë, nasib keuturônan bak masa ukeuë, dan nasib Nanggroë Atjèh njoë ateuëh rhuëng dônja.”

Perkara tersebut menjadi penting, untuk membangkitkan spirit, dan membuka front konfrontasi dengan Jakarta. Melalui doktrin inilah, nasionalisme Aceh yang puluhan tahun kehilangan tuahnya, seperti hidup kembali. Dan, di puncak Gunung Halimon, Pidie, 4 Desember 1976, ideologinya mengkhistal, saat Gerakan Aceh Merdeka diproklamirkan. Gerakan yang dibangun Hasan Tiro tersebut, jelas berbeda dengan DI/TII yang dimotori Tgk Daud Beureueh. Jika gerakan Daud Beureueh masih berpijak dalam bingkai RI, maka Gerakan Hasan Tiro mencoba mengubah Aceh menjadi sebuah Negara tersendiri yang terpisah dari Indonesia seperti sebelumnya. Bagi Hasan Tiro, Aceh tak memiliki hubungan apapun dengan Indonesia. Menurutnya, Aceh hanya memiliki permasalahan dengan Belanda. Karena itu ada tuntutan agar Belanda mencabut maklumat perang dan memulihkan kedaulatan Aceh seperti sedia kala.

Sementara Pemerintah sudah mengekalkan bahwa Aceh adalah bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Indonesia. Apapun akan dilakukan jika demi mempertahankan sejengkal tanah NKRI ini. Klaim Indonesia terhadap Aceh sudah final: Aceh merupakan bagian dari Indonesia yang harus dipertahankan. Akibatnya, banyak darah yang tumpah di Aceh, ketika pemerintah memberlakukan operasi jaring merah atau Daerah Operasi Militer.

Namun, semua itu, kini tinggal kenangan dan menjadi sejarah kelam yang tak dilupakan oleh siapa saja yang masih memiliki nurani. Apalagi, di kota Vantaa, MoU Helsinki yang mengakhiri konflik Aceh dicetuskan. Permusuhan yang puluhan tahun mengental antara RI dan GAM pun mereda.

Pun begitu, kepulangan Wali hendaknya membawa pesan-pesan penting, bahwa selayaknya sejarah tak boleh dilupakan, sekarang dan pada masa mendatang, meski suatu saat Wali sudah tiada. Sebab, seperti disampaikan warga Aceh di Sweden, dalam setiap berjumpa dengannya, Wali sering menyampaikan tentang romantisme sejarah Aceh, dan juga tekad beliau untuk format Aceh di masa mendatang. “We will Independence” ujar Wali kepadanya.

Selain itu, kita berharap, agar kepulangan Wali mampu meredam benih-benih permusuhan yang mulai tersemai seiring lahirnya partai lokal. Wali harus menjadi tokoh pemersatu bagi rakyat Aceh, dan bukan sekedar tokoh untuk satu kelompok saja. Kita tak ingin Wali yang begitu dinantikan oleh rakyat Aceh itu dimonopoli oleh suatu kelompok saja, sebab, dari dulu Wali berjuang bukan sekedar untuk kelompoknya saja, melainkan untuk kemaslahatan rakyat Aceh. Kita dapat menemukannya dalam buku sejarah Aceh yang ditulisnya, jika kita masih meragukan cita-citanya. (HA 111008)

Read More......

Download Novel Laskar Pelangi, Ayat Ayat Cinta, The Name of The Rose, A Thousand Splendid Suns, Catatan Hati Seorang Istri

Wednesday, October 1, 2008

Posting ini berisi file Novel Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, dan Novel-novel laris lainnya. Saya sengaja memposting novel-novel tersebut agar orang-orang yang belum sempat membacanya, dapat mengetahui apa isinya.

Read More......