25 September 2013

Andai Diponegoro jadi Hasan Tiro

+ Gila, mana mungkin Diponegoro jadi Hasan Tiro
- Ingat, tak ada yang tidak mungkin.

+ Diponegoro itu orang Jawa! Tiro orang Aceh. Itu saja sudah berbeda
- Iya, saya tahu. Sekedar berandai-andai kan boleh?

+ Janganlah berandai-andai sesuatu yang tak mungkin
- Karena tak mungkin, makanya kita berandai-andai

Debat itu bisa panjang, tak akan menemukan ujung. Itu jelas kita akui sulit untuk mengubah sesuatu yang tidak mungkin lagi. Apalagi, kedua orang itu pun sudah tiada. Membicarakan mereka saja sebenarnya sudah tidak pantas. Tapi karena mereka orang hebat, wajar jika kita terus membicarakannya. Membicarakan mereka itu juga bagian dari mengingat sejarah dan membesarkan mereka dalam memori kita, dan memori anak cucu kelak.

Keduanya, memang lahir dari bangsa berbeda. Satu dari bangsa Jawa, dan satu lagi Bangsa Aceh. Seperti kita tahu, entitas bangsa itu melekat sejak lahir hingga mati. Entitas itu jelas tak bisa berubah. Seseorang yang lahir sebagai bangsa Jawa jelas tak bisa seenaknya menjadi bangsa Aceh, begitu pula sebaliknya. Inilah mungkin yang disebut nasionalisme, yang oleh Hasan Tiro, diterangkan, bahwa dalam urusan nasionalisme orang tidak boleh berpura-pura. Lihatlah bagaimana orang yang lahir sebagai Yahudi atau Persia. Identitas itu melekat dalam diri mereka, hingga mereka mati.

Maka begitulah ceritanya, identitas terbentuk. Kita pun harus memahaminya. Dan dalam perkara itu, hal-hal lain biasanya mengikut. Sebut saja, bagaimana orang Bali (laki-laki) marah jika disebut ‘Mas’ karena ucapan yang pantas dan lazim bagi mereka adalah ‘Bli’. Orang Padang lebih senang disapa ‘Uda’ ketimbang Abang. Orang Aceh lebih suka dipanggil ‘Bang’ ketimbang ‘Mas’, dan sebagainya, sebagainya.

Nah, kembali lagi ke pertanyaan semula: Bagaimana seandainya Diponegoro menjadi Hasan Tiro? Kita akan langsung menjawab, itu sesuatu yang tidak mungkin. Iya, memang. Itu karena kita masih berpikir dalam sekat-sekat identitas sempit. Itu terjadi karena kita melulu memakai kerangka nasionalisme yang menuhankan identitas kultural dan lokal. Akan berbeda halnya jika kita menggunakan kerangka lain: untuk kemaslahatan bersama dan menghormati sosok lokal. Ini memang konteksnya berbeda. Yah, dalam memandang sesuatu, kita selayaknya menjadi lebih kreatif dan produktif. Jangan pernah batasi pikiran kita dengan sesuatu yang lebih sempit. Pikiran kita harus terbuka...

Sebab, yang sedang kita bicarakan ini bukan soal identitas lokal: Jawa vis a vis Aceh. Kita sekarang sedang bahas bagaimana Jalan Diponegoro yang terletak di pusat Pasar Aceh itu kita ubah menjadi Jalan Hasan Tiro; jalan KH Ahmad Dahlan kita ubah menjadi Jalan Teungku Abdullah Syafie. Alasan saya sederhana saja. Beberapa ruas jalan yang berdekatan dengan jalan-jalan tersebut menggunakan nama tokoh Aceh, seperti Jalan Muhammad Jam, Jalan Teungku Syik Pante Kulu, Jalan T. Cut Ali, Jalan Teungku Chik Di Tiro dan beberapa nama lain yang tak bisa kita ingat.

Kenapa tiba-tiba saya bicara tentang perubahan nama jalan? Karena tak ada jalan lain untuk mengingat seseorang yang telah tiada (dan kita yakin mereka memiliki andil yang besar dalam hidupnya untuk Aceh ini) kecuali menabalkan nama mereka pada nama jalan. Sehingga nama mereka selalu hidup dalam ingatan kita.

Di Jakarta juga sudah lama muncul wacana untuk mengubah nama jalan. Usulan perubahan nama jalan tersebut mencakup Jalan Merdeka Utara menjadi Jalan Soekarno, Jalan Merdeka Selatan menjadi Jalan Hatta, Jalan Merdeka Timur menjadi Jalan Soeharto, dan Jalan Merdeka Barat menjadi Jalan Ali Sadikin.

Nah, karena Aceh sudah ada MoU dan UUPA alias sudah menganut self government (Saya ragu menulis self government, karena yang benar adalah Otonomi Khusus), Gubernur Zaini Abdullah dan Wagub Muzakkir Manaf perlu segera mengeluarkan Pergub untuk mengubah nama jalan di Banda Aceh dengan nama tokoh-tokoh pejuang, seperti yang sudah kita sebutkan di atas: Hasan Tiro dan Abdullah Syafie. Saya yakin keduanya berjasa terhadap apa yang kita nikmati sekarang ini. Selemah-lemah cara menghormati mereka adalah menggunakan nama mereka sebagai nama jalan! []

Artikel Terkait

Seorang blogger yang aktif menulis isu Aceh, jurnalisme, blogging dan artikel motivasi. Bisa disapa di twitter @almubarak

1 comments so far