Idul Fitri, kembali ke Fitrah

Tuesday, September 30, 2008

Besok, 1 Syawal 1429 H atau bertepatan dengan Rabu 1 Oktober 2008, umat Islam kembali merayakan hari raya Idul Fitri, setelah sebulan menunaikan ibadah puasa ramadhan. Bagi umat Islam, Idul Fitri merupakan hari kemenangan setelah sebelumnya bertarung dengan Syaithan untuk menggapai predikat taqwa, sebagaimana dijanjikan Allah, dalam surat Al Baqarah ayat 183.


Idul Fitri, sering disebut sebagai kembalinya manusia ke kesucian atau fitrah. Manusia ibarat seperti bayi yang lahir tanpa noda. Sebab, satu bulan sebelumnya, manusia sudah membakar dosanya melalui berbagai serangkaian ibadah puasa ramadhan. Memasuki Idul Fitir, proses kehidupan manusia, dimulai lagi dari nol.

Namun, selama ini, Idul Fitri sering diidentikkan dengan pakaian baru, kain sarung baru, peci baru, dan semua perkakas rumah baru. Pokoknya, semua serba baru. Akibatnya, praktik pamer pakaian dan perhiasan mewah tak dapat kita hindari, dan dapat kita saksikan saat manusia menunaikan shalat sunat Idul Fitri. Manusia mengagungkan yang namanya materialisme atau kebendaan.

Padahal, selama sebulan penuh, melalui kewajiban puasa ramadhan, manusia dididik menjadi manusia sederhana, melalui perintah makan seperlunya, dan mengutamakan ibadah. Sebab, melalui ibadah puasa, Allah mengetuk hati manusia bahwa ada ciptaan-Nya yang tidak beruntung dalam hidupnya, makan sehari semalam satu kali, atau malah tanpa makan sama sekali. Karenanya, selama bulan puasa, manusia diperlakukan sama oleh Allah, bahwa manusia kaya juga dibatasi makan, terutama pada siang hari.

Melalui pelajaran seperti demikian, Allah melatih dan mengajarkan manusia untuk peduli kepada sesame, tak hanya melalui kewajiban menahan diri agar tidak terkontaminasi dengan perilaku materialis dan konsumeris, melainkan juga melalui ujian selanjutnya, bahwa Allah ingin menyaksikan jiwa kemanusiaan manusia. Allah hendak menyaksikan, apakah manusia benar-benar peduli satu sama lain atau tidak, melalui kewajiban membayar zakat fitrah.

Kewajiban membayar zakat fitrah, merupakan ujian, apakah selama sebulan penuh manusia mampu mendidiknya menjadi manusia yang peduli kepada sesame atau tidak. Karena, kewajiban membayar zakat fitrah merupakan manifestasi dari kemauan merasakan kepedihan hidup sebagaimana dirasakan oleh manusia yang kurang beruntung dalam hidup. Bukankah, selama sebulan penuh, semua manusia sudah dilarang makan pada siang hari, atau jadwal makan manusia sudah diatur sedemikian rupa, agar manusia tidak menjadi rakus?

Karena itu, jika sifat materialism yang melekat pada diri manusia yang tidak pernah mengenal kata puas, belum juga berubah, maka esensi puasa ramadhan sudah gagal dilaluinya. Manusia seperti ini belum layak merayakan hari kemenangan, karena ibadah puasanya belum memberikan pengaruh apapun.

Jika demikian halnya, maka sebenarnya kita tidak berhak merayakan hari kemenangan, karena ternyata kita telah kalah dalam pertarungan selama sebulan penuh. Sebab, puasa ternyata telah gagal mendidik kita menjadi manusia yang peduli pada sesama. Apalagi, jika selepas puasa, tak terlihat sama sekali perubahan sebagai modal melewati hari-hari mendatang menjadi lebih baik, tidak ada dendam, tidak ada permusuhan, tidak ada sifat dengki.

Pun begitu, terlepas berbagai kelebihan dan kekurangan kita selama sebulan penuh menunaikan ibadah puasa ramadhan, tak salahnya jika menatap hari kemenangan dengan dengan penuh optimisme, karena kita kembali lagi ke kesucian atau fitrah. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, Minal Aidzin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan bathin. (HA 300908)


Read More......

Download Video Mesum

Monday, September 29, 2008

Tahun 2007 lalu, Aceh dihebohkan beredarnya sejumlah video mesum, 3gp, yang diperankan oleh warga lokal, mulai dari Maria Eva dari Abdya yang melibatkan seorang pejabat di sana dengan karyawannya, pemaksaan aksi mesum oleh sejumlah pemuda di Pantai Lhoknga terhadap pasangan yang ditemukan sedang berbuat, hingga hebohnya video aksi ML sepasang kekasih di sebuah kamar hotel di kawasan Neusu.

Kasus-kasus itu diblow-up media, bahkan jadi laporan utama sebuah Tabloid terbitan Aceh. Hingga beberapa hari, beredarnya video tersebut menjadi berita hangat di media. Tanpa ada maksud apa-apa, video mesum itupun beredar di media, entah untuk apa dan apa benar ada yang benar-benar ulah warga lokal, tak ada yang tahu pasti.

Berikut ini ada video yang beredar tersebut, dan satu video tentang mahasiswa UGM (entah benar atau tidak).

Download Video Mesum
Video Wulan Guritno

Read More......

HT

Thursday, September 25, 2008

Dulu, saat duduk di kelas II MTs (Madrasah Tsanawiyah), saya sama sekali tak mengerti ketika orang-orang di Gampong menyebutkan pengikut HT dengan sebutan awak ateuh atau AM. Mereka mewakili kelompok minoritas yang memperjuangkan hak dan martabat orang Aceh. Mereka sangat misterius, tertutup, dan tidak seramai sekarang. Jika sesekali turun ke Gampong, mereka jadi pembicaraan masyarakat, selepas mereka pergi, secepat itu pula cerita menghilang.


Sebab, mengenal awak ateuh mendatangkan duka dan bala. Potret mereka ditempel di mana-mana, di sekolah, di kantor camat, polsek, koramil, dan di pos jaga. Mereka laksana Hero, bagi warga yang simpati pada perjuangannya, sementara bagi kelompok lain, yang berseberangan, mereka adalah racun kehidupan, yang perlu ditumpas sampai tuntas. Di mana-mana spanduk yang mengutuk mereka dipajang, dan jadi bacaan sehari-hari, terutama bagi kami anak-anak sekolah yang selalu ingin mengetahui apa saja.

Saya sendiri tidak pernah tahu, kenapa untuk pengikut HT disebut awak ateuh. Belakangan saya baru tahu, ternyata mereka mendiami Gle yang ada di Aceh. Jumlahnya sedikit, dan jarang turun ke Gampong, kecuali jika ada keperluan. Itu pun secara sembunyi-sembunyi. Keterangan dari orang-orang tua, juga jarang saya dapatkan. Kecuali dari bisik-bisik. Itu pun jika orang yang berbicara tersebut tidak mengetahui jika pembicaraan mereka ada yang mengintip.

Dan di bangku kelas II MTs saya jadi tahu, saat seorang guru sejarah mengupas tentang peristiwa DI/TII, karena memang ada di kurikulum. Perkataan dia yang sempat saya ingat adalah, Daud Beureueh memiliki seorang pengikut dan murid yang cerdas dan berani yaitu HT. Saat itu, kami, tentu saja penasaran, sebab dari keterangan ‘resmi’ dan dari foto-foto yang banyak ditempel di pos jaga Gampong kami, HT merupakan musuh pemerintah. Kami mencoba menanyakan, apakah HT masih hidup? Jika masih, di mana sekarang? Sebab, seperti penjelasan guru saya, jika HT masih hidup, nasib Aceh tidak seperti ini.

Sejak itu, saya tak lagi penasaran, kenapa di setiap foto-foto yang ditempel di Gampong kami itu selalu tercetak tulisan, ‘Dicari hidup atau mati’. Kepada penduduk diminta untuk melaporkan keberadaan pengikut HT jika bersembunyi di Gampong-gampong, karena keberadaan mereka membuat masyarakat sengsara. Yang saya fikirkan saat itu, bagaimana figur seorang HT sampai dia begitu dicari dan ramai dibicarakan. Dari beberapa tulisan yang sempat saya baca, HT juga sampai diisukan meninggal dunia, meski beberapa hari kemudian berita tersebut diralat sendiri oleh media yang memuat berita meninggalnya tersebut.

Bermula dari bangku kelas II MTs tersebut, ide-ide radikal membuncah, hingga melahirkan peryataan kritis, “Jika HT masih hidup, Aceh yang kaya raya dengan hasil melimpah, dapat berdiri sendiri.” Guru kami yang mendengarkan tak mampu mengucapkan apa-apa, selain berpesan, bahwa diskusi seperti ini hanya sampai di ruangan ini saja, tak boleh dibawa keluar. Kekaguman pada sosok kharismatik itu bertambah saat DOM (Daerah Operasi Militer) dicabut, di mana dari satu Gampong ke Gampong lain, ceramah-ceramah radikal yang mengobarkan perjuangan HT dikumandangkan. Pemuda Gampong satu persatu merapatkan barisan, dan menjadi tentara HT.

Sejak itu, saya mengerti betapa besar pengaruh seorang HT, sampai-sampai banyak ulama memberi dukungan pada perjuangannya. Meski, dukungan itu tak lebih sebagai bentuk euphoria pencabutan DOM. Namun, ideology yang ditanamkan HT benar-benar kuat, mengakar, terutama terkait nasionalime Aceh. “Dalam perkara nasionalisme, orang tidak bisa berpura-pura,” tulisnya dalam sebuah buku. Akibatnya, ribuan pemuda Aceh rela menggadaikan nyawa demi sebuah cita-cita, meski sekarang cita-cita tersebut bagaikan sebuah ilusi.

Tapi hal itu tak membuat kekaguman kita pada sosok keturunan dinasti Tiro itu berkurang, malah makin bertambah. Keteguhan dan konsisten merupakan sikap yang perlu dijaga oleh seorang pejuang. Sikap konsisten dan teguh, meski salah, akan dikenang dan dihormati orang sepanjang zaman. Tak heran jika HT, hingga kini masih memiliki kharisma dan dihormati oleh segenap orang.

Apalagi, HT sudah membuat mata orang Aceh teubluet, terutama tentang sejarah negerinya sendiri. Saya ingin mengutip satu paragraf saja, bagaiman HT mendidik orang Aceh dengan pertanyaan kunci, “pakriban geutanjoë atjèh tangiëng droëteuh? Njoë keuh saboh sueuë njang rajek that keu geutanjoë bansa Atjèh bak masa njoë, njang wadjéb tapham uroë dan malam. Sabab bak djeunaweuëb geutanjoë ateuëh sueuë njoë meugantung nasib bandum geutanjoë bak masa njoë, nasib keuturônan bak masa ukeuë, dan nasib Nanggroë Atjèh njoë ateuëh rhuëng dônja."

Dari sana terlihat jelas bawah HT bukan berjuang untuk suatu kelompok dan menjadi milik kelompok tertentu, dan tak bisa dimonopoli oleh suatu golongan, karena HT milik seluruh rakyat Aceh. Karenanya, jika tanggal 11 Oktober 2008, HT jadi pulang ke Aceh setelah 30 tahun lamanya, hendaknya membawa perubahan di Aceh dan mempersatukan anak bangsa yang sedang bersiap-siap menumpahkan darah sesamanya pada Pemilu 2009 nanti. Sebab, meski tidak ada agenda politik, jika kepulangannya ke Aceh dipolitisir dan dimonopoli oleh kelompok tertentu, maka kepulangan tersebut menjadi tidak bermakna, karena kepulangan itu bukan keinginan HT. Semoga Allah merahmati perjuangannya. (HA 250908)

Read More......

Safari

Wednesday, September 24, 2008

Selama Ramadhan, para pejabat, tokoh, atau orang-orang penting ramai-ramai melakukan Safari Ramadhan. Seolah-olah safari ramadhan jadi kegiatan rutin yang mesti dilakukan dan menjadi trend baru selama bulan ramadhan.


Karena tidak ingin latah seperti halnya para politisi atau tokoh tersebut, saya mencoba membuka kamus Bahasa Indonesia untuk melihat arti safari. Ternyata, di dalam kamus tersebut disebutkan safari adalah perjalanan jauh. Jadi, safari Ramadhan dapat diartikan perjalanan jauh selama bulan Ramadhan.

Lalu, apakah safari ramadhan yang selama ini dilakukan dapat disebut perjalanan jauh? Soalnya, sering juga pelaku safari ramadhan, yang umumnya dari kalangan pemerintahan melakukan safari ke masjid-masjid terdekat, dan tak bisa digolongkan jauh jika dihitung dari tempat tinggal pelaku safari. Padahal dulunya, ketika tiba bulan ramadhan, ‘pelaku safari’ pergi ke tempat jauh untuk menimba ilmu, mencari ketenangan beribadah sambil melihat kebesaran Allah, atau memilih menyendiri di goa-goa atau tempat-tempat yang dianggap bertuah. Safari ramadhan benar-benar dimaknai sebagai perjalanan jauh, atau menjauh dari keramaian orang atau manusia, dengan memilih mendekati Tuhan, sang pencipta.

Namun sekarang, safari pada momen ramadhan, akhirnya tak ubah hanya sekedar rutinitas kunjungan dari satu desa ke desa lainnya, dari satu masjid ke masjid lainnya. Senyum sana-senyum sini. Berbicara dari satu panggung ke panggung lain, tanpa memberikan makna apapun, selain kepuasan untuk pelaku safari sendiri.

Jika kita pernah menyimak dakwah atau petuah agama dari para pelaku safari ramadhan, pesan-pesan agama mereka kerap diselilingi dengan haba cet langet yang membuat masyarakat pendengar seperti hidup di dalam bayang-bayang ilusi. Padahal, rakyat tak pernah kenyang hanya dengan memakan haba cet langet tersebut. Bukankah itu sama artinya para pelaku safari sudah menawarkan kebohongan demi kebohongan, karena dalam ceramah banyak diselilingi dengan janji-janji ‘kita akan melakukan ini, kita akan melakukan itu, tak lama lagi rakyat ‘mungkin’ akan menikmati kesejahteraan, dan ucapan-ucapan ‘akan’ dan ‘mungkin’ yang tak mampu kita hitung dari sebuah pembicaraan pelaku safari.

Saya sering membaca di media, bahwa di tempat lain, di daerah yang jauh, banyak politisi juga melakukan safari, sowan, atau silaturrahmi, tetapi, sering disebut dengan safari atau silaturrahmi politik. Kok, masalah politik selalu dibawa-bawa?

Di tempat kita ini juga tak ubahnya dengan di tempat lain, di mana safari ramadhan juga kental warna politiknya. Di sela-sela kegiatan sangat sering kita menemui orang-orang yang berbicara untuk kepentingan kelompoknya sendiri, dengan memanfaatkan medium dakwah. Pesan-pesan keagamaan sangat kurang ditemui, kecuali pesan politik, yang meminta dukungan para jamaah agar memilihnya saat Pemilu nanti. Hom hai.

Saya sendiri heran memahami kecenderungan masyarakat kita ini, seolah-olah kegiatan safari itu hanya ‘wajib’ dan ‘harus’ pada bulan Ramadhan saja. Akibatnya, keikhlasan menjadi sebuah pertanyaan, karena safari lebih dimaksudkan untuk mendapatkan pengakuan bahwa seseorang itu peduli pada nasib rakyat. Sementara di bulan lain, jangankan mengunjungi seperti halnya kegiatan safari, diundang saja untuk melihat kondisi masyarakat, banyak yang enggan melakukannya. Sebab, sekali kunjungan puluhan juta uang harus dikeluarkan dari kas negara—di mana kadang-kadang ikut disunat—dengan dalih biaya operasional.

Lalu, karena ada kegiatan safari, dalam hal pakaian juga mengikuti trend safari, seperti sering disebut ‘baju safari’ yang kesannya elitis, necis dan sok berwibawa. Kita jadi bertanya, apakah baju safari seperti itu merupakan pakaian ‘wajib’ dalam kegiatan safari? Entahlah.

Namun, selama ramadhan juga, kita mendengar kecenderungan safari para pejabat, diikuti oleh alat peledak yang disebut granat. Alat mematikan tersebut jadi ikut-ikutan melakukan safari. Seperti kita baca dari media, granat meledak dari tempat lalu menyebar, dan melakukan safari ke tempat lain. di mulai kantor Partai Aceh (PA) tingkat kecamatan yang digranat orang tak dikenal, setelah itu kantor PA di Bireuen, dan beberapa kantor PA di tempat lain. Beberapa hari kemudian, Partai SIRA Bireuen juga dibakar, entah oleh siapa dan untuk tujuan apa. Granat dan api sepertinya juga melakukan safari, safari politik. (HA 240908)

Read More......

KOMPAS, Tidak Tahu atau Sengaja?

Tuesday, September 23, 2008

Hari ini, Senin (22/9), seperti biasa saya membaca Koran KOMPAS. Halaman demi halaman saya buka, sambil mencari berita dan tulisan yang harus saya baca. Sebab, tidak semua berita atau tulisan di KOMPAS saya baca, hanya yang penting-penting saja. Terus terang, jika belum membaca KOMPAS belum lengkap rasanya, dan seperti ada yang tertinggal.


Setelah membuka halaman pertama, dan membacanya, terutama analisis politik atau tulisan analisis teknologi, saya baca sampai habis, halaman selanjutnya yang saya buka adalah halaman Opini. Namun, tidak semua opini saya baca, biasanya satu atau dua opini saja, serta Tajuk Rencana. Langkah selanjutnya, sudah pasti saya buka halaman Olahraga dan membaca berita bola, setelah itu baru saya baca berita ringan yaitu halaman Nama dan Peristiwa, sambil melihat berita iklan.

Namun, halaman dua KOMPAS edisi Senin (22/9), saya pandangi lama-lama, entah kenapa? Sepertinya ada yang aneh dengan berita foto yang diturunkan oleh KOMPAS hari itu. Pikiran saya terbayang pada sebuah lambang yang bisa jadi ada dalam pikiran semua orang, khususnya orang Islam, yaitu lambang Bintang/Perisai Daud. Apa hubungannya antara berita foto KOMPAS dengan lambang Negara Israel tersebut? Sebenarnya tidak ada hal luar biasa. Hanya saja, jika kita pandangi lama-lama, pasti ada yang terasa aneh. Soalnya, pada berita foto berjudul Pesona Mesjid Agung Jawa Tengah, si photographer KOMPAS mengambil gambar mesjid tersebut melalui sebuah celah yang menyerupai Bintang/Perisai Daud. Bedanya, jika Bintang Daud hanya enam sudut, sementara frame yang membingkai Masjid berjumlah delapan sudut. Tetapi sekilas memang mirip. Apakah ini bentuk kesengajaan KOMPAS atau apa, tidak ada yang tahu. Sejauh ini, kita belum membaca ada berita bernada protes dari pemuatan berita foto tersebut.

Sebab, jika benar itu disengaja, yaitu memotret Masjid dari celah yang menyerupai Bintang Daud, berarti muncul kesan penghinaan, bahwa gambar Masjid dilindungi oleh Bintang Daud. Entahlah, itu mungkin hanya cara pandang saya saja. Namun, bagaimana jadi ada maksud lain di balik pemuatan foto tersebut? Saya bukan mencari sensasi, cuma mencoba melihat sesuatu secara mendalam saja. Soalnya, KOMPAS menjadi media yang setiap saat say abaca, baik versi cetak maupun versi online. Jadi, agar tidak menimbulkan macam-macam, saya mencoba mengomentari sedikit saja, mudah-mudahan KOMPAS tetap menjunjung tinggi pluralism dan tidak melakukan penghinaan terhadap penganut suatu agama. Kita tahu KOMPAS sudah sangat professional dalam menyajikan sebuah berita, sehingga menjadi bacaan sehari-hari masyarakat di sini, termasuk saya. Terima kasih.

Read More......

Lampoh Soh

Saturday, September 20, 2008

Menyimak Aceh hari ini, saya langsung terbayang teori Lampoh Soh, yang dipopulerkan oleh Sosiolog Dr Ahmad Humam Hamid. Semua kita tahu lampoh soh, sebuah lahan kosong, yang bisa jadi semua tempat memilikinya, apalagi di Gampong kita yang katanya besar ini. Lampoh soh bukan tanpa pemilik, tetapi pemiliknya kehabisan ide untuk menggarapnya. Jadi, dibiarkan saja jadi lampoh soh, tanpa ditanami apa-apa.


Saat kecil, semua kita—khususnya anak-anak kampung—sangat senang jika ada lampoh soh. Sebab, biasanya, lampoh soh bisa kita jadikan sebagai tempat bermain, main perang-perangan, jadi arena sepak bola, atau main bola voli. Tak sedikit juga, pemuda-pemuda kampung memanfaatkannya untuk sekedar tempat paling aman untuk main batu atau main kartu. Sebab, jika bermain di lahan kosong seperti itu, tak mengganggu lingkungan.

Dan jangan berharap di lampoh soh itu cuma jadi arena bermain bagi manusia saja, sebab, binatang juga, terutama lembu dan kambing ikut meurot di dalamnya jika ada rumput hijau. Dengan meurot di sana, tak ada orang yang marah, dan lembu merasa aman dari keunong parang atawa geulawa. Sebab, rumput yang tumbuh di sini, bukan rumput yang sengaja dipelihara, melainkan tumbuh sendiri secara alamiah.

Tak hanya itu, jika ada pohon berbuah tumbuh di lampoh soh, semua orang boleh memetiknya. Karena di lampoh soh, tak berlaku aturan apapun. Tak seorang pun bisa mengklaim, bahwa buah di pohon di lampoh soh tak bisa dipetik. Karena, seperti sudah jadi ‘kesepakatan umum’ bahwa yang ada di dalam lampoh soh sudah merupakan milik bersama. Meski seperti sudah kita tulis di atas, lampoh soh ada pemiliknya.

Ada juga warga Gampong yang letak WC-nya jauh dari rumah, lebih senang membuang hajat di sana. Apalagi jika letak lampoh soh agak ke pinggiran sedikit, jauh dari rumah warga, dan banyak ditumbuhi pohon, sehingga nyaman jika buang hajat. Orang pasti tidak akan melihat saat kita buang hajat, dan tak ada orang yang marah. Sebab, semua orang juga kadang-kadang lebih suka buang hajat di sana. Jika ada yang malu, dan takut dilihat orang, maka cukup aman jika pakai WC terbang atau hasil berak di sebuah kantong plastik dibuang di sana. Tapi hati-hati, jika sudah ada orang yang duluan buang hajat di sana, dalam melempar WC terbang yang berisi berak di dalam plastik, harus sangat hati-hati. Jangan sampai terkena orang. Jika sampai kena orang, yang terjadi pasti perang dunia ketiga.

Nah, bagaimana dengan konteks Aceh sekarang? Saya percaya Aceh sudah ibarat lampoh soh, yang tan soe pakoe. Pascatsunami dan MoU Helsinki, Aceh sangat terbuka, seperti ruang kosong yang ditinggal pemiliknya. Siapa saja boleh menciptakan kekacauan di sini, seperti ada aturan yang membolehkannya. Bom kembali meledak di sana-sini, tanpa kita tahu siapa pelakunya. Selain itu, semua partai—beragam ideologi dan kepentingan—didirikan di Aceh. Ada yang benar-benar berjuang mengembalikan martabat orang Aceh, tapi banyak juga yang mencoba menipu orang Aceh. Yang lebih parah, pertarungan sesama partai—terutama partai lokal—menunjukkan tensi yang meningkat. Jika salah-salah dimenej, Aceh bakal berujung pada perang saudara. Sebab, isyarat seperti itu sudah mulai disulut, yang dimulai dengan penggranatan kantor Partai Aceh (PA).

Namun, seperti halnya lampoh soh, yang tak dihiraukan lagi, meski masih ada pemiliknya, Aceh juga seperti itu. Karena itu, kita perlu mempertegas, bahwa Aceh bukan lampoh soh, yang bebas dijadikan arena membuat kekacauan, bebas jadi tempat buang hajat atau jadi tempat binatang ternat meurot, karena Aceh masih memiliki pemilik, yaitu kita-kita ini orang Aceh. Kita tentu tidak mau Aceh yang kita cintai ini dinodai, oleh dan dengan apapun, sebab kita masih mancintai Aceh. Kita masih ingin menggarap Aceh agar bermanfaat untuk semua orang Aceh, bukan cuma segelintir orang saja. (HA 200908)

Read More......

Taubat Politik

Thursday, September 18, 2008

Setiap saya ketemu kawan lama, baik yang saya kenal dalam politik maupun dalam gerakan, mereka selalu memberondong saya dengan sejumlah pertanyaan. Kadang-kadang saya malas diberondong dengan pertanyaan umum seperti itu. Semua orang bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Meurumpok lumboi padum untuk caleg, atau Eik dari DP toh?” Karena bukan ditanyakan dalam sebuah forum, atau saat berkumpul ramai-ramai, maka setiap saat saya harus mempersiapkan jawaban. Umumnya, jawaban saya sama, meski pada kawan yang berbeda.


Saya cukup enjoy menjawab begini, “Jangankan dapat nomor, partai saja saya tak punya!” Biasanya, begitu mendengar jawaban tersebut, ada kawan langsung diam, tidak tahu harus bertanya apalagi. Namun, ada juga kawan yang sudah cukup lama saya kenal, bukan dalam politik, mereka mencoba mencari tahu, kenapa saya tidak naik jadi calon, sebab menurut mereka, banyak dari kawan saya yang sedang bersemangatnya ingin menikmati empuknya kursi dewan. Malah, sebagian sudah mencoba mencari tahu di mana letak rumahnya di komplek dewan di kawasan Jalan Kebun Raja, Ulee Kareng, jika jadi anggota dewan nantinya.

Mendapat pertanyaan selidik seperti itu, saya cukup puas menjawab begini, “Apa sih hebatnya jadi anggota dewan?” tanya saya. Saya juga sering mengatakan bahwa saya tidak berminat, karena itu kenapa saya mengambil cuti dari dunia politik. Singkatnya, saya sekarang sudah taubat berpolitik. Saya pribadi belum siap berpolitik sesama kawan. Itu saja. Syukur jika mereka menghargai keputusan saya, dan memaklumi langkah yang saya tempuh.

Sebab, seperti saya dengar, entah benar atau tidak, saya tidak tahu pasti, bahwa ada sebagian kawan-kawan saya hampir berantam gara-gara penentuan nomor urut caleg. Malah, ada yang memilih mengundurkan diri dari caleg. Dalam sosialisasi di daerah pemilihan (DP), ada kawan-kawan yang sudah saling menjatuhkan satu sama lain, meski mereka satu partai. Saya hanya bisa mengurut dada mendengarnya. Sebab, seharusnya, bukankah caleg dari partai lain yang harus dianggap sebagai lawan, bukan caleg sesama partai? Semakin lama mengamati fenomena seperti ini, saya semakin maklum, bahwa dalam politik butuh kedewasaan. Dalam politik dibutuhkan kesabaran, dan juga kadang-kadang akal busuk. Saya sendiri belum siap seperti itu.

Saya percaya, bahwa dalam politik berlaku rumus menghalalkan segala cara. Dalam politik berlaku pertanyaan umum, siapa mendapatkan apa, dan bagaimana mendapatkannya? Jarang kita mendengar dalam politik berlaku rumus, siapa memberikan apa, dan bagaimana memberikannya. Sebab, yang kita tahu, untuk mendapatkan sesuatu, semua cara jadi halal dilakukan. Apalagi dalam politik asas moral jarang berlaku.

Jika fenomena persaingan sesama caleg satu partai dan saling melakukan pembusukan, bukankah fatwa Machievalli selalu aktual untuk dikutip bahwa ‘tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada adalah kepentingan sejati’.

Makanya, kepada kawan-kawan yang mendakwa saya, saya selalu bilang, bahwa di partai politik sekarang itu lebih banyak bercokol orang-orang pecundang. Meski mereka berlagak sudah jadi orang sukses, sebab sudah terdaftar sebagai caleg, tetapi sebenarnya adalah mereka tetap sebagai pecundang. Kesuksesan mereka tak lebih karena berlindung di balik baju nama partai yang sudah dikenal sebelumnnya. Jadi, mereka bukanlah orang-orang sukses, seperti diperlihatkan dalam setiap kesempatan. Sebab, seperti pernah disampaikan oleh Brian Tracy, pakar motivasi, orang yang sukses selalu mencari kesempatan untuk menolong orang lain, sedangkan seorang pecundang akan selalu berkata, "Apakah itu untuk saya?"

Karena itu, wajar jika saya merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan kawan-kawan, sebab pertanyaan mereka itu sudah salah alamat. Di samping saya tidak punya partai, saya juga belum berminat jadi anggota dewan. Saya masih puas menikmati profesi yang saya idam-idamkan sejak dulu sebagai penulis. Ya…saya lebih puas menikmati kemerdekaan sebagai penulis. Jika pun saya menulis, sama sekali tidak memiliki beban, sebab saya tidak punya kepentingan apa-apa. Jadi, kepada pembaca yang merasa terganggu dengan tulisan saya, karena dianggap memojokkan seseorang atau sebuah partai, itu sama sekali bukan karena saya punya keinginan menghancurkan partai tersebut. Sebab, sikap saya sudah bulat, saya tidak memiliki pilihan pada Pemilu 2009. Itu saja. (HA 190908)

Read More......

Entahlah

Saya ingin bercerita tentang negeri antah-berantah, sebuah negeri yang dulunya dilanda perang. Dahsyat, lama, dan melelahkan. Meski setiap saat penduduk negeri itu berdoa menolak bala, dan meminta permusuhan diakhiri, namun gejolak tak juga berhenti. Malaikat seperti lupa menyampaikan doa dari penduduk negeri antah-berantah tersebut kepada Tuhan. Tapi, seperti kita yakini bersama, Tuhan tak pernah tidur. Melalui air bah, setinggi pohon kelapa dikirim untuk membenamkan negeri yang tak pernah berhenti bergejolak tersebut. Saat itulah penduduk itu sadar, bahwa Tuhan sudah sangat murka. Sambil berlari menyelamatkan diri dari air yang berwarna sangat hitam, beracun, dan ganas, tak henti-hentinya penduduk negeri antah-berantah mengumandangkan doa, puja-puji pada Tuhan, serta memohon dijauhkan dari bala, barulah air bah itu surut ke laut, diserap oleh pohon dan kembali ke tanah. Selamatlah negeri itu.


Masalahnya, perang tak juga diakhiri. Sebab, di tengah kebimbangan penduduk mencari sanak saudaranya, senjata masih menyalak, orang masih ada yang mati. Masyarakat dari benua lain yang coba membantu, tidak bisa mengirimkan bantuannya, karena negeri antah-berantah telah diisolasi, dan dihapuskan dari ‘peta’ dunia oleh saudaranya yang iri-hati.

Lalu, sebuah konsensus politik ditandatangani, tanda perang harus diakhiri. Bantuan warga dunia kemudian mengalir tak henti-hentinya. Meski sebagian tak jelas alamatnya, apakah sampai kepada korban atau tidak. Tak ada audit resmi. Hanya saja, semua penduduk negeri itu maklum, ada bantuan yang dikorupsi dan diselewengkan. Pun begitu, mereka tak juga memprotes.

Kini, setelah suasana damai dirasakan oleh penduduk negeri, sebagian pecinta perang malah mencoba mengobarkan perang kembali. Menurut mereka, lebih gampang mencari uang saat kondisi lagi perang, ketimbang sekarang. Sekarang, mencari uang susah. Jika tidak punya skil, panjang lidah, dan tak berani memukul serta membunuh, sulit bisa mendapatkan uang. Akibatnya, aksi kriminalitas meningkat, pembunuhan semakin sering terjadi.

Hal itu kemudian berpengaruh terhadap kondisi politik, di mana kekacauan politik semakin sering terjadi. Terakhir, dilaporkan, kantor sebuah partai yang memonopoli suara rakyat dibakar di mana-mana. Padahal dulunya, para pengurus partai tersebut merupakan orang-orang yang diharapkan mampu mengembalikan kedaulatan negeri antah-berantah. Namun, saat damai, mereka malah berubah, dan menjadi tirani mayoritas. Hidup sudah dibuat berkelompok-kelompok. Yang bukan bagian dari mereka, adalah pengkhianat, dengan risiko harus dihapuskan dari negeri antah-berantah.

Tak hanya itu, ketidakpuasan pada suasana damai kemudian dilampiaskan dengan mencoba mengembalikan negeri antah-berantah sebagai wilayah perang. Perdamaian, seolah-olah belum memberi arti untuk mereka. Mereka pun berharap, negerinya kembali dipancing jadi arena perang. Menurut mereka, jika ingin damai, maka harus berperang, seperti punyi pepatah yang menghinggapi Jerman pada perang dunia dulu, si vis pacem para bellum (Jika menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang). Pepatah itu muncul saat masyarakat Jerman begitu antusias dan menggebu-gebu menyambut perang.

Rakyat semakin sering dikorbankan. Petinggi negeri itu, yang sebelumnya orang-orang terasing karena hidup dari satu hutan ke hutan lain, menjadi penguasa baru. Mereka sama sekali tidak mengindahkan amaran, bahwa rakyat perlu diselamatkan. Mereka tak lagi mendengarkan petuah Mao Tse Tung, bahwa, rakyat ikut memainkan peran yang luar biasa dalam sebuah revolusi atau dalam perang gerilya. “Rakyat mirip dengar air,” demikian Mao Tse Tung memberi nasehat untuk pasukannya. “Kita harus berenang di dalamnya seperti ikan. Pertama kali kita harus belajar dari massa dan kemudian mengajari mereka.”

Mereka lupa, bahwa pengorbanan rakyat sudah cukup banyak. Meski saat itu, rakyat hanyalah penonton dari sebuah kekalutan politik, namun merekalah korban potensial. Sebagiannya, malah, tak jelas di mana letak kuburan. Jika ada yang coba bertanya, untuk siapa sebenarnya rakyat berkorban atau dikorbankan, kita tak dapat jawaban pasti. Namun, secara samar-samar bisa kita ketahui bahwa mereka berkorban dan dikorbankan untuk sebuah cita-cita. Meski pada akhirnya, cita-cita hanyalah ilusi belaka.

Jika dulu, ada rakyat di negeri antah-berantah tersebut berdoa, yang meminta agar diberi kekuatan untuk mengalahkan sang garuda (simbol pembawa luka), maka sekarang, mereka sudah lupa dengan doa tersebut. Malah, banyak yang lupa pada doa tersebut. Anehnya, meski secara diam-diam, ada juga yang berdoa, dan meminta diberikan kekuatan agar mereka bisa melihat gerakan kacamata gelap phang-phoe.

Entahlah…saya tidak habis pikir suasana di negeri antah berantah, karena di Gampongku juga terjadi hal seperti itu. Saya hanya mampu bertanya, bagaimana mungkin, perdamaian yang dulu begitu didamba, kini malah dikoyaknya?

Apakah mereka sudah dihinggapi ‘penyakit’ seperti ditulis Erich Fromm saat menggambarkan perlombaan senjata nuklir dulunya, antara blok barat dan blok timur, bahwa manusia hancur karena konsensus kebodohan. “Jika kita akan binasa dalam perang Nuklir, hal itu bukan karena manusia tidak mampu menjadi manusia, atau karena manusia pada dasarnya memang jahat; tetapi karena konsensus kebodohan telah mencegahnya untuk melihat realitas dan bertindak atas dasar kebenaran.” Entahlah! (HA 180908)

Read More......

Urueng Aceh

Wednesday, September 17, 2008

Orang Aceh dikenal berwatak keras, teguh memegang pendirian, gemar berperang dan lain-lain. Setidaknya, begitulah kesimpulan beberapa penulis Belanda. Jika kita coba dalami dan telusuri kehidupan dan sejarah orang Aceh, memang begitu adanya. Tetapi, meski sudah identik berwatak keras, sebenarnya orang Aceh sangat lembut, ramah, terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja. Orang Aceh tahu kapan harus menampilkan watak keras, dan kapan pula berlemah-lembut.


Kesimpulan demikian, sangat mudah ditemui, terutama pada pepatah-pepatah yang sering kita dengar. Misalnya, “Ureung Aceh misue ka teupeh, bu lubeh han geupeutaba, tetapi misue hana teupeh—maaf—boh kreh juet taraba.” Pepatah ini tak hanya berlaku untuk orang luar saja yang ingin membangun hubungan dengan orang Aceh, melainkan untuk sesama orang Aceh. Bagi orang Aceh, siapa pun yang membuat luka, mengganggu, dan menyakiti mereka akan diperlakukan sebagai musuh.

Jika ada waktu coba perhatikan cara bicara orang Aceh dewasa ini, sebab, di sinilah kita mengetahui bagaimana watak orang Aceh sebenarnya. Saya sempat merekam beberapa kata, yang menurut saya bisa menjadi kesimpulan bagaimana orang Aceh membuat sekat, mana yang disebut musuh dan mana yang tidak. Untuk kelompok mereka sendiri, orang Aceh cukup menyebutnya dengan “awak tanyoe atawa awak geutanyoe”, sementara pihak yang diperlakukan sebagai musuh, orang Aceh mengatakan, “nyan awak jeh atawa awak nyan.” Jika sudah dilabeli dengan awak ‘nyan’ (sebuah kata penunjuk yang objeknya tidak jelas, bisa bermacam-cama, tergantung arah pembicaraan), maka orang tersebut sudah diposisikan bukan lagi sebagai kawan. Label ‘nyan’ dilekatkan kepada orang atau kelompok tertentu, di mana secara tidak langsung orang Aceh sudah menjaga jarak dengan mereka, dan cenderung menganggap mereka sebagai musuh.

Label itu sering diberikan oleh orang Aceh untuk mereka-mereka yang sudah memonopoli kebenaran, dan menganggap kebenaran ditentukan oleh mereka. Artinya, label itu diberikan untuk orang-orang seperti disebutkan oleh ‘fatwa’ Nietzsche, “kekuatan adalah sejati, dan kebenaran adalah milik mereka yang punya kekuatan.” Bagi orang seperti ini, kebenaran dan ketidakbenaran menjadi tidak jelas lagi. Sebab, yang menentukan ukuran benar atau tidak bukan lagi kesepakatan umum, melainkan kuasa. Ya…mereka yang punya kuasa yang berhak mendefinisikan kebenaran.

Dulu saat konflik, jika kita pernah memperhatikan obrolan orang Aceh di Balee Jaga atau di Warong Kopi, kita pasti banyak mendapati ucapan-ucapan sebagai bentuk pembedaan antara musuh dan teman. Ketika mobil berkaca gelap lewat di suatu Gampong, orang Aceh langsung menyebut, ”Na lewat awak nyan saknyoe (ada lewat orang ’itu’ barusan).” Awak nyan di sini berarti anggota TNI atau Polri. Namun, ketika ada beberapa pemuda ’asing’ shalat Shubuh di sebuah Meunasah Gampong, di mana senjata AK-47 diletakkan di dekatnya, orang Aceh langsung menyebutnya, ”Nyan awak geutanyoe (Itu orang kita)”. Awak geutanyoe tersebut merujuk kepada anggota GAM.

Pertanyaan kita, bagaimana sekarang? Apakah sudah muncul perubahan paradigma di dalam masyarakat Aceh, dalam menggunakan kata ’awak nyan’ atau belum? Namun, di beberapa tempat, saya mendapati dan merasakan munculnya perubahan paradigma tersebut. Saat duduk di sebuah warung kopi dan di Balee Jaga, di suatu Gampong, saya menangkap kesan, bahwa kata ”awak nyan” bukan lagi merujuk kepada TNI/Polri seperti saat konflik, melainkan untuk mantan GAM. Saya sendiri heran, kenapa paradigma orang Aceh begitu cepat berubah. ’Awak nyan’ sekarang merujuk kepada mantan GAM. Pertanyaan saya, apakah GAM sekarang mudah berubah menjadi musuh orang Aceh? Saya sedikit ragu menjawab pertanyaan ini.

Pun begitu, saya mencoba mengaitkan perubahan paradigma orang Aceh dengan sifat orang Aceh yang punya perasaan halus, khusus dalam memandang sesuatu, seperti halnya indra penciuman mereka, dalam hal pemberian sebutan untuk bau. Sebuah bau, mampu diterjemahkan oleh orang Aceh lewat kata-kata seperti khieng, khop, khie, khoh, phong, banga, khep, syung, muhong, dan bee masam. Kata-kata itu menunjukkan kehalusan orang Aceh dalam mencium sesuatu. Penggunaaan kata-kata itu disesuaikan dengan sifat bau dan sumber bau. Karena masing-masing bau bagi orang Aceh punya ciri khas tersendiri, dan sulit didefinisikan oleh orang-orang yang tidak memiliki indra penciuman yang halus dan tajam.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah kehalusan indra penciuman orang Aceh, memiliki hubungan dengan kemampuan mereka mengenali musuh, atau menempatkan suatu kelompok jadi musuh mereka? Saya tak tahu pasti. Namun, yang jelas, orang yang mengkhianati, menzalimi, menyakiti orang Aceh, maka orang tersebut akan langsung dilabeli oleh orang Aceh dengan sebutan ’awak nyan’. Jika sudah diberi label seperti itu, maka orang tersebut sudah diperlakukan musuh oleh orang Aceh. Entahlah! (HA 170908)

Read More......

Fascinatio

Tuesday, September 16, 2008

Perubahan yang terjadi di Aceh sangat luar biasa, seperti halnya kehancuran. Aceh perlahan-lahan, merangkak, menjadi daerah yang terbuka, jadi panutan, dan incaran orang-orang dari belahan dunia, dengan bermacam tujuan dan keinginan.
Kondisi seperti ini sangat terasa pascatsunami dan terhentinya konflik. Aceh yang semula ditutup rapat dan rapi, tiba-tiba jadi begitu liar, menerima bermacam pengaruh. Dari wilayah terisolasi, menjadi sangat terbuka dan kosmopolit. Dampaknya, dirasakan oleh orang-orang Aceh di kampung.


Melihat lalu-lalang orang-orang kulit putih, bukan lagi pemandangan asing bagi orang Aceh. Padahal, sepuluh tahun lalu, kehadiran orang dengan wajah asing, jadi tontotan menarik bagi orang Aceh. Wajah orang asing itu akan dilihat dengan seksama dan lama. Namun sekarang, hal seperti itu sudah jarang kita lihat—untuk tidak menyebutkan tidak ada lagi.

Lalu, ketika kondisi Aceh menjadi begitu dewasa, puaskah kita sekarang? Saat tinta tanda damai dibubuhi di lembaran-demi-lembaran MoU Helsinki, empat tahun silam, kondisi seperti inikah yang kita harapkan? Atau kalau boleh dipertajam, Aceh seperti sekarang inikah yang dulu kita harapkan bersama-sama?
Saya pikir, pertanyaan pesimis tersebut kini mengendap di kepala kita: ada yang berani mengeluarkannya dan berkembang jadi wacana, ada yang mendiamkan saja. Tetapi, yang pasti, Aceh jadi seperti hari ini, banyak orang yang ‘han ek kupike, kee!’

Saya ingat, pada malam Minggu, saat mengantarkan teman ke Lueng Bata, saya melewati jalan Tgk Panglima Nyak Makam, Lampineung. Malam itu bukan balapan cross yang saya melihat, melainkan adegan kekerasan. Beberapa personil tentara dengan pakaian seragam, ditambah topi baja, laiknya seperti saat konflik. Sementara di sisi satu lagi, beberapa personil polisi juga memakai seragam, ditambah baju antipeluru. Apakah kedua institusi yang dipisahkan pascareformasi itu sedang berperang? Ternyata bukan. Sebab, di tengah-tengah sedang berlangsung adegan kekerasan. Siapa yang dipukul dan memukul, tak ada informasi resmi. Koran-koran juga tidak memuatnya.

Sebelumnya, adegan kekerasan juga terjadi di kawasan Keudah, pascapemukulan anggota TNI yang ditangkap warga saat berada di sebuah salon. Setelah itu, giliran aksi balas dendam terjadi. Beberapa warga dilaporkan terpaksa dirawat secara intensif di rumah sakit. Lalu, kita pun jadi bertanya, apakah cerita konflik sudah mulai ditulis lagi?
Deretan aksi kekerasan masih bisa kita perpanjang lagi, di mana banyak berbuntuk pada kematian. Padahal, pasca MoU, angka kekerasan menurun drastis, dan warga yang meninggal karena aksi kekerasan sangat sedikit. Namun, sekarang, setiap hari kita disuguhkan korban meninggal karena tembakan atau aksi pembunuhan. Kita tentu saja terenyuh mendengarnya. Karena, ternyata kita tidak bisa merawat perdamaian.

Hal itu, belum lagi gesekan sesama partai lokal. Meski banyak pihak tak berani mengungkapkan ke public, tetapi praktik kekerasan atau intimidasi oleh ‘partai tentu’ (saya tidak terlalu menyukai sebutan ini), sering terjadi. Mendekati Pemilu, intensitasnya bakal meningkat tajam. Pertanyaan kita, Aceh damai seperti ini yang coba kita rajut? Di mana Aceh sudah dimaklumkan sebagai kawasan damai, tetapi tetap saja ada masyarakat yang meninggal.

Jangan-jangan, perdamaian Aceh hanyalah euphoria sesaat, sebab yang terjadi sebenarnya adalah kondisi Fascinatio—meminjam istilah Daniel Dhakidea (2003)— saat menggambarkan tentang cendekiawan, yaitu sesuatu yang menarik perhatian, pada gilirannya dalam makna asli justru mengandung dua arti sekaligus yaitu, selain dari sekedar menarik perhatian karena sangat memukau, akan tetapi juga mengandung arti kedua: hantu! Ya…perdamaian Aceh sekarang ini ibarat hantu. Menakutkan. (HA 160908)


Read More......

Cut Endang Puspa Sari
Kamarnya Jadi Lokasi Syuting KCB di Mesir

Saturday, September 13, 2008

Saat ibunya berpulang, umurnya masih 18 tahun. Malangnya, dia juga tak sempat melihat wajah ayu ibunya untuk terakhir kali, sebab kejadiannya sangat mendadak, dan di luar keinginannya. Ibunya meninggal dalam amukan tsunami yang melanda daratan Aceh tahun 2004, empat tahun silam.



Sebelumnya, dia juga jarang melihat ibunya, kecuali pas lebaran atau saat ibunya menjenguk dia di pesantren. Maklum, sejak SMP, Icut, demikian gadis bernama lengkap Cut Endang Puspa Sari ini biasa disapa, tinggal di Pesantren Jeumala Amal, Lueng Putu, Pidie Jaya. Tamat dari Jeumala tahun 2002, Icut melanjutkan ke Madrasah Aliyah Darunnajah, Jakarta. Waktu untuk bertemu ibunya juga sangat terbatas, karena ketatnya peraturan di pesantren. Baru saat liburan atau pada hari besar Islam saja, Icut bisa berkumpul dengan keluarganya, terutama ibunya. Itu pun jika ibunya tidak sibuk. Sebab, tahun 2002, aktivitas ibunya sebagai seorang aktivis dan pejuang sangat padat. Banyak waktunya dihabiskan dalam kancah perjuangan.

Ketika menempuh pendidikan di Jakarta, tak banyak kesempatan bagi gadis berkaca mata ini bertemu ibunya. Sebab, begitu Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) gagal pada medio 2003, ibunya dijebloskan ke dalam penjara, setelah ditangkap saat penggerebekan di Hotel Rajawali, tahun 2003. Sejak itu, ibunya resmi menjadi tahanan Polresta (sekarang Poltabes Banda Aceh), sebelum dipindahkan ke rumah tahanan di Lhoknga.

Sejak dipindahkan ke rumah tahanan tersebut, hari-hari indah Ibu Cut, laksana berhenti, digantikan dengan hari-hari suram. Kondisi ini yang dirasakan oleh keluarga, famili dan orang-orang yang satu perjuangannya dengannya.

“Andai waktu bisa berputar,” hanya kalimat lirih ini yang mampu dia ucapkan untuk mengingat almarhumah ibunya. Kalimat indah itu, kini terlukis indah di potret ibunya yang sedang tersenyum. Kata Cut, berita meninggal bundanya diketahui setelah 2 Minggu kejadian, melalui warga Lhoknga. Icut langsung pulang ke Aceh, setelah seminggu tsunami berlalu.

Kini, putri dari “Singa Referendum Aceh” Cut Nur Asikin ini sedang menimba ilmu di Mesir, tepatnya di Universitas Al-Azhar. Gadis yang menyukai bacaan Al Quran ini, sudah menduduki tingkat 4, atau tingkat akhir kuliah. Icut bercerita, perjuangannya kuliah ke Mesir termasuk berat. Pasalnya, saat berangkat tahun 2005 lalu, tak ada keluarganya yang setuju. Gadis berjilbab ini mengaku lari ke Mesir karena ingin menimba ilmu agama di sana.

“Lon Plueng,” jawab alumni Dayah Jeumala Amal, Lueng Putu tahun 2002 ini. Di sana, Icut ingin menenangkan jiwanya, yang sedang perih selepas ditinggal ibu tercinta. Dan, katanya, ketenangan itu hanya bisa didapatnya di Mesir, tanah kelahiran para ulama besar. Makanya, setamat dari Madrasah Aliyah Darunnajah, Jakarta tahun 2005, dirinya langsung terbang ke Mesir, bukan memilih kembali ke Aceh.

Di Mesir, Cut tinggal di Masakin Utsman Nasr City, Cairo. Jika pernah membaca novel Ketika Cinta Bertasbih (KCB) karya Habiburrahman El Shirazy, anda pasti tahu tentang Masakin Utsman. Sebab, di novel yang hendak diangkat ke layar lebar tersebut, Masakin Utsman disebut tempat tinggalnya Anna (tokoh utama wanita) dan Cut Mala, seorang wanita kelahiran Aceh.

Jika tak ada aral melintang, karya penulis Ayat-ayat Cinta ini juga akan mengikuti kesuksesan film Ayat-ayat Cinta yang fenomenal tersebut. Kini, film tersebut lagi proses audisi yang memilih figur yang tepat memerankan sosok Azzam dan Anna, serta pemain pendukung lainnya. Selain itu, para kru film tersebut sedang memilih tempat untuk lokasi syuting, yang menggambarkan kondisi seperti di dalam novel. Dan salah satu tempat yang bakal dipilih tersebut adalah Masakin Utsman.

“Bukan di dekat, tapi di rumah ini,” jawabnya saat ditanya, apa benar lokasi syuting Film Ketika Cinta Bertasbih tersebut dilakukan di dekat tempat tinggalnya sekarang.
Cewek berkacamata ini menuturkan, informasi bakal digunakan tempat tinggalnya sebagai lokasi syuting langsung dari sutradara film KCB, Chaerul Umam. Chaerul, kata Icut, sudah dua kali ke sana (Mesir). Saat itu, cerita Icut, si sutradara cuma bilang bahwa rumahnya nanti akan direnovasi agar cocok dengan nuansa di dalam novel. Pun begitu, lanjut Icut, ada teman-temannya yang nggak setuju rumahnya yang berbentuk Flat (sejenis apartemen) itu dipakai untuk lokasi syuting.

“Kalau rumahnya dipakai, kan harus dicat ulang, bikin ribet,” ujar Icut tentang alasan kenapa teman-temannya tidak setuju rumah mereka dipakai. Padahal, seperti dituturkan sang Sutradara kepadanya, yang dipakai cuma kamar sama ruang tamunya. Mereka (tim dari KCB) rencana akan menggunakan lokasi tersebut selama dua hari, untuk mengambil gambar 4 skets. “Mungkin setelah lebaran, mereka mulai melakukan syuting,” jelas gadis kelahiran Banda Aceh, 29 September 1987 silam menirukan perkataan Chaerul.

Menurut anak keempat dari pasangan H. Bahrumsyah dan Cut Nur Asikin ini, pemotretan di rumah tersebut dilakukan saat adegan Anna menerima telepon, adegan Anna dilamar, dan saat ngobrol bareng teman-temannya. “Begitu ceritanya kalau tidak salah,” kata gadis cantik berusia 21 tahun ini.

Cut yang sebentar lagi tamat kuliah, mengaku belum tahu ingin jadi apa ketika selesai kuliah nanti. Tapi, gadis yang menguasai Bahasa Arab dan Inggris ini akan mengikuti jejak ibunya, Cut Nur Asikin, jadi pengusaha sukses. “Ingin bikin hotel,” katanya singkat. Tak hanya itu, Cut ingin mengembangkan Yayasan Srikandi Aceh yang didirikan mamanya. Menurutnya, itulah yang bisa dilakukan untuk mengenang ibunya, yang terakhir ditemuinya di penjara, saat Idul Fitri tahun 2004, sebelum dipanggil oleh Allah dalam musibah tsunami, 26 Desember 2004.fik (HA 130908)

Read More......

Politik Tahu Diri

Tak ada hujan, tak ada angin. Nama Bukhari Daud, Bupati Aceh Besar, tiba-tiba begitu populer, dan jadi topik diskusi dari satu warung kopi ke warung kopi yang lain, di kantor pemerintahan, di redaksi media massa, sampai jadi bahan pembicaraan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto. Malah, berita mundurnya Bupati Aceh Besar itu, mampu mengalihkan perhatian masyarakat Aceh yang penasaran dengan nasib Gubernur Irwandi Yusuf. Sampai-sampai seorang kawan saya menyelutuk, “Ini juga bagian dari propaganda Irwandi,” ujar kawan saya, sebut saja namanya Apa Suman.



Hah…saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan saya. Bukankah, jika benar ini bagian dari propaganda Irwandi, untuk menyembunyikan kondisi kesehatannya yang membuat rakyat bertanya-tanya, sebenarnya justru mendatangkan teka-teki lain, yang membuat rakyat tambah penasaran, khususnya rakyat dan politisi di Aceh Besar?

“Jangan berkelakar yang tidak penting begitu dong,” pinta saya. Sebab, belakangan ini, saya selalu disuguhkan adegan-adegan kekerasan, meski di bulan Ramadhan, di mana sebenarnya, semua praktik kekerasan harus diakhiri. Tapi, seperti diyakini semua orang, ‘birahi’ berperang orang Aceh belum benar-benar mendapat orgasme yang memuaskan. Akibatnya, libido berperang ingin selalu dilakukan. Lakap “ureung Aceh galak meuprang,” seperti ingin dipelihara. Kalau bisa, selamanya.

Pun begitu, saya tak hendak mengutuk pelaku kekerasan, dan upaya-upaya mengacaukan Aceh, meski perbuatan tersebut, siapapun pelakunya, pantas dikutuk. Saya justru ingin mengomentari sedikit—meski terlambat—di balik pengunduran diri Bukhari yang masih dibalut misteri.

Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Bukhari merupakan sebuah sikap berani di tengah kegilaan orang Aceh pada jabatan dan tahta. Meski di balik itu, saya justru menangkap, ada yang tidak benar dari pengunduran diri tersebut. Rasa penasaran saya, kenapa Bukhari mundur begitu mendadak, serta kenapa surat tersebut justru ditulis tangan. “Apakah materai 6000 yang ditempel di surat yang ditulis tangan tersebut, sudah jauh hari disiapkan, atau sudah disediakan oleh ‘oknum berkelompok’ yang menghendaki dia meletakkan jabatan?” begitu rasa penasaran saya.

Yang lebih membuat saya penasaran justru, kenapa Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengusungnya saat Pilkada 2006 lalu, mengeluarkan pernyataan menolak Bukhari mundur ketika dukungan publik lebih memihak Bukhari. Padahal, sebagai partai pendukung, jauh hari PAN harus mengeluarkan pernyataan, bahwa PAN bersama Bukhari dan tidak ingin Bukhari mundur. Sebab, ketika pernyataan dukungan baru dilontarkan sekarang, setelah lebih seminggu polemik di masyarakat bergulir, banyak pihak pasti bertanya-tanya, ada apa dengan cinta Bukhari-PAN? “Bukankah, lakon politik yang terjadi di Aceh Besar, hampir mirip dengan kasus yang menimpa Abdullah Puteh saat digeser dari kursi Gubernur dengan menggunakan kekuatan militer saat itu?” tanya kawan saya. Saya makin penasaran, bahwa sikap Bukhari bisa jadi tak berdiri sendiri. Pasti ada yang tidak beres.

Meski, sebenarnya, saya tak perlu bingung, sebab, seperti diceritakan oleh seorang teman, sikap yang diambil Bukhari dengan mundur dari jabatannya sebagai Bupati dilakukan setelah tujuh malam berturut-turut melaksanakan Shalat Istikharah—shalat minta petunjuk.

Tapi, satu yang perlu dicatat, sikap yang ditunjukkan Bukhari, sudah melambungkan namanya, seperti Nelson Mandela, yang memilih berhenti jadi presiden, ketika tidak punya pesaing berarti. Padahal, jika dia gila kekuasaan, dia bisa menduduki kursi presiden Afrika Selatan, selama yang dia inginkan. Namun, seperti kita tahu, Nelson Mandela, tahu diri, dan lebih memilih merawat keberlangsungan demokratisasi di Afrika Selatan, yang diperjuangkannya bertahun-tahun.

Sikap yang ditempuh Nelson Mandela, dikomentari secara bagus oleh Eep Saifullah Fattah, bahwa ‘demokrasi kerap tak butuh pemimpin besar, melainkan cukup orang tahu diri,” tulisnya. Eep dengan mengutip Cak Nur, membandingkan langkah Nelson tersebut dengan sikap yang diambil Richard Nixon, seorang presiden AS, yang memilih mundur sebelum di-impeach Kongres AS, atas skandal Watergate.

Walaupun masyarakat masih bertanya-tanya, atas alasan apa Bukhari mundur, setidaknya langkah yang ditempuh Bukhari dapat disebut sebagai sikap seorang pejabat yang tahu diri. Sebab, dia tidak mau terjebak dalam politik mafia, yang demikian akrab dilakoni pejabat Aceh dewasa ini. (HA 130908)



Read More......

Jelaskan Soal Bupati Aceh Besar
Siang Ini Wagub Temui Mendagri

Wednesday, September 10, 2008

Banda Aceh | Harian Aceh

Siang nanti, Rabu (10/9), Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, akan menemui Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Mardiyanto, di kantornya untuk menjelaskan soal pengunduran diri Bupati Aceh Dr Bukhari Daud.


Dalam pertemuan tersebut, kata Wagub, Pemerintah Aceh akan menjelaskan duduk perkara mengenai status Bupati Aceh besar. Wagub juga akan ‘membeberkan’ alasan Bukhari mundur. Kedatangan Wagub ke Jakarta termasuk mendadak. Sumber Harian Aceh, menyebutkan, diundangnya Wagub oleh Mendagri terkait rumors yang berkembang bahwa DPRK Aceh Besar menolak mengabulkan permintaan Bupati mundur.

“Memberi laporan details tentang pernyataan mundur Bukhari dengan alasan-alasan yang tidak diungkapkan ke publik,” katanya. Kepada Mendagri, Wagub akan menjelaskan harapan masyarakat daerah setempat, DPRK dan Pemerintah Aceh, yang berharap agar Bukhari tetap bertugas dan tidak jadi mundur.

“Tapi apabila dia (Bukhari Duad, red) tetap bersikeras mundur, tentu haruslah ada alasan yang jelas dan harus disampaikan ke publik karena Bukhari dipilih langsung dan diharapkan oleh masyarakat,” jelas Wagub.

Selain mengenai status Bupati Aceh Besar, kata Wagub, pertemuan dengan Mendagri juga membahas persoalan pemilihan Wakil Bupati Simeulue, yang dituding sarat kolusi tersebut. Wagub akan melaporkan tentang hasil pemilihan Wabup dan isu-isu terkait dengannya yang beredar di masyarakat Simeulue.

“Kita minta pendapat Mendagri, bisa atau tidak pejabat terpilih itu dilantik jadi Wabup Simeulue,” jelas Wagub.

Persoalan PP
Kepada Harian Aceh, Wagub juga menjelaskan, dalam pertemuan tersebut, pihaknya akan mengingatkan Mendagri untuk secepatnya mengeluarkan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden turunan dari UU PA.

“Kita ingatkan Mendagri supaya PP dan Perpres turunan dari UU PA segera selesai dan mengakomodir draft yang diajukan Pemerintah Aceh,” jelas Wagub dalam pesan singkat kepada Harian Aceh, Selasa (9/9). Menurut Wagub peraturan tersebut sangat dibutuhkan dalam pembangunan di Aceh.

Terkait isi pembicaraan yang akan dibahas dengan Mendagri, kata Wagub, pihaknya sudah menjelaskan mengenai segala persoalan politik, hukum, pemerintahan, dan keamanan di kantor Gubernur kepada Suryono, Deputi Infokom Kementrian Polhukam, tadi siang (kemarin, red).

Sementara itu, terkait pertemuan tersebut, Mendagri Mardiyanto, kepada pers menjelaskan, bahwa pemerintah pusat belum mengetahui alasan mundurnya Bukhari Daud dari jabatan Bupati Aceh Besar.

“Beliau (Bukhri) telah menyatakan mundur dengan alasan yang belum jelas. Besok sore (sore ini, red) saya akan bertemu dengan Wagub Aceh untuk menanyakan hal tersebut,” kata Mendagri usai bertemu Presiden SBY di Istana, Selasa (9/9).fik




Read More......

Investasi

Saturday, September 6, 2008

Saat awal-awal Pemerintahan Irwandi-Nazar sangat gencar menggaet investor untuk menanamkan modalnya di Aceh. Berbagai upaya lobi dilakukan, seperti kunjungan ke luar negeri dan mengundang investor untuk melakukan survey di Aceh. Namun, seiring waktu, tak banyak investor yang mau berinvestasi di Aceh. Gagalkah pemerintah Aceh? Jawabannya, hanya rakyat dan kita-kita saja yang tahu.


Tapi, saya selalu membayangkan begini, bagaimana jika Pemerintah Aceh saja yang berinvestasi di luar negeri, dan keuntungannya nanti bisa mengalir ke Aceh. Ide ini bisa saja mengundang tawa. Namun, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Sebut saja misalnya, daripada mengurusi investor yang ‘masih’ berencana menanamkan modalnya di Aceh, lebih baik saatnya Pemerintah Aceh melakukan ekspansi investasi di luar negeri. Soalnya, hal ini dimungkinkan, karena Aceh bebas melakukan kerjasama ekonomi dan investasi dengan luar negeri, seperti disebutkan dalam UU PA, yaitu “Penduduk di Aceh dapat melakukan perdagangan dan
investasi secara internal dan internasional sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.” (pasal 165 ayat (1))

Selama ini, seperti kita tahu, banyak anggaran yang dimiliki oleh Pemerintah Aceh, tapi tak mampu dihabiskan. Tahun lalu saja, ada sekitar Rp2 triliun yang harus dikembalikan ke pusat. Semantara tahun ini, diramalkan ada sekitar Rp5 triliun dana yang harus dikembalikan, karena tidak semuanya terserap. Seperti pemberitaan beberapa waktu lalu, dari dana Rp8,5 triliun baru terserap sekitar 10 persen atau Rp850 miliar. Ada sekitar Rp7,6 triliun dana yang tersisa. Dengan masa anggaran yang tinggal beberapa bulan lagi, bakal banyak dana yang tidak terpakai dan hangus.

Nah, bagaimana jika dana yang diperkirakan bakal tak mampu dihabiskan digunakan untuk berinvestasi dengan membeli sebuah klub Sepakbola di Inggris, misalnya. Bukankah itu lahan bisnis yang menggiurkan. Membeli klub sepakbola dewasa ini menjadi investasi jangka panjang. Tak hanya keuntungan ekonomis yang bakal didapatkan, melainkan ketenaran. Dan Aceh akan selalu disebut-sebut setiap pemberitaan tentang pemilik klub sepakbola tersebut. Apalagi jika icon Aceh selalu disorot kamera saat berlangsungnya pertandingan.

Saya percaya, jika seluruh rakyat Aceh bersepakat menggunakan sebagian dana APBA untuk membeli klub sepakbola, rencana ‘gila’ ini akan terlaksana. DPRA juga harus bekerjasama, dengan memberi peluang agar anggaran tersebut digunakan untuk membeli sebuah klub bola. Anggap saja, rencana ini untuk mempromosikan pesona Aceh yang mulai pudar, seiring gagalnya beberapa proyek BRR, dan berhentinya konflik.

Pemerintah Aceh, dengan dana yang cukup besar tersebut, saya yakin mampu membeli klub besar. Seperti saya baca di media, harga sebuah klub sepakbola, tidak terlalu ‘mahal’ karena dengan dana yang dimiliki Aceh mampu membeli klub tersebut. Sebut saja, misalnya, Manchester City, yang berharga 200 juta poundsterling (Rp3,4 triliun ), seperti dibeli pengusaha kaya-raya Uni Emirat Arab yang tergabung dalam Abu Dhabi United Group for Development and Investment (ADUGDI) yang diwakili Sulaiman Al Fahim dari pemilik sebelumnya Thaksin Sinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand.

Coba, jika langkah itu diikuti oleh Pemerintah Aceh, dengan membeli salah satu klub sepakbola di Inggris, pasti rakyat Aceh akan sangat bangga, karena dana yang mengalir ke Aceh tidak kembali lagi ke pusat, tapi menjadi aset berharga untuk masa depan. Hal itu juga akan berpengaruh terhadap dunia persepakbolaan Aceh, di mana bakal munculnya pesepakbola handal dari Aceh. Jadi, upaya Pemerintah Aceh mengirimkan pesepakbola anak-anak Aceh ke Paraguay tidak akan sia-sia, karena punya tim yang akan menampung nantinya dan berpartisipasi dalam event internasional. Apalagi Pemerintah Aceh dapat berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan seni, budaya, dan olah raga internasional (baca UU PA pasal 9 ayat (2)). Jika suatu saat Aceh bisa ikut Piala Dunia, bukankah itu sudah sangat luar biasa? Itu baru self government.

Read More......

Wakil Gubernur:
“Mendagri Belum Tahu Bupati Mundur”

Banda Aceh | Harian Aceh
Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, mengatakan, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto belum mengetahui tentang surat pengunduran diri Bupati Aceh Besar, Dr H Bukhari Daud. “Mendagri tidak menanyakan apa-apa tentang mundurnya Bupati,” jelas Wagub saat berbicara dengan Mendagri melalui telepon.


Mendagri, kata Wagub, hanya menanyakan bagaimana jalannya Pemerintahan Aceh. Pun begitu, kata Wagub, Mendagri memintanya untuk melacak kenapa Bupati mundur. “Mendagri minta kita melacak alasan Pak Bupati mengajukan surat pengunduran diri,” ujar Wagub tentang permintaan Mendagri setelah diberitahu tentang surat pengunduran diri Bupati.

Wagub sendiri saat menanggapi informasi mundurnya Bupati Aceh Besar, pada Jumat (5/9), menjelaskan bahwa maju mundurnya pejabat pemerintahan harus dilakukan sesuai dengan peraturan berlaku. “Tolong lihat aturannya di UU PA bagaimana,” kata Wagub yang mengaku dirinya tidak berhak memberikan pernyataan, karena sebagai pejabat pemerintahan. Namun, jelasnya, dalam Undang-undang Pemerintah Aceh (UU PA), pasal 48 tentang pemberhentian, sudah dijelaskankan, bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur, bupati dan wakil bupati,serta walikota dan wakil walikota berhenti karena: meninggal dunia; permintaan sendiri; atau diberhentikan.

Menurutnya, mundur dengan permintaan sendiri juga harus sesuai aturan, yaitu harus diputuskan dalam rapat paripurna DPRK, diterima atau tidak. “Maju mundur harus sesuai peraturan. Bagaimana dulunya ketika naik mencalonkan diri, juga berlaku ketika berkeinginan mundur,” jelasnya.

Kepada Harian Aceh, Wagub mengaku mengetahui informasi mundurnya Bupati dari SMS yang dikirim kepadanya. “Pak Wagub, apa benar Bupati Aceh Besar mundur?” ceritanya tentang SMS yang banyak diterimanya. Mendapat SMS begitu, Wagub langsung mencoba menghubungi Bupati, tetapi selalu gagal. Namun, katanya, kepastian berita mundurnya Bupati, didapatkannya setelah menghubungi pejabat Aceh Besar. Menyangkut surat pengunduran diri Bupati, kata Wagub, diterima satu jam kemudian, saat masuk kantor.

“Setelah saya membaca hasil faks tersebut, saya mencoba menghubungi Pak Bukhari, tetapi tidak pernah terhubung,” kata Wagub.(HA 060908)


Read More......

Buluet

Wednesday, September 3, 2008

Saat menulis status di facebook—situs jaringan sosial yang sedang ngetrend sekarang ini—bahwa saya sedang Buluet, seorang kawan iseng bertanya, buluet itu apa? Mendapat pertanyaan itu, saya sempat juga tersentak. Ini pertanyaan kritis namanya. Namun, ketersentakan saya tak bertahan lama, sebab, dengan modal ‘olah’ yang ada, saya mencoba menjelaskannya, laiknya seorang guru. Tapi, saya yakin dia percaya dengan penjelasan saya.


Buluet itu, kata saya, sebuah istilah untuk menyebutkan orang yang sedang kehujanan, di mana pakaiannya basah kuyub. Namun, ada tapi-nya. Nah, mengucapkan kata ‘tapi’ berarti gaya ‘olah’ sedang saya jalankan. Di Aceh, kata saya sok tahu—tapi jujur cuma di Aceh kata buluet dikenal—istilah buluet sering diberikan untuk orang yang rada-rada gila/pungo. Istilah buluet ini hampir sama juga dengan kata ‘hana katupue reudok’, atau ‘klo prip’. Sebuh istilah yang kadang-kadang kita sendiri geli mendengarnya, karena ada istilah yang tidak memiliki hubungan sedikit pun. Tapi, itulah letak daya khayal dan betapa kreatifnya orang Aceh dalam menciptakan sebuah istilah. Saya yakin, istilah ini bisa jadi lahir di bale jaga atau di warung-warung kopi.

Saya mencoba memahami kata buluet menurut perspektif saya sendiri. Mohon maaf, jika penjelasan saya sedikit menggurui, tapi ini murni untuk ‘peuteupat’ sebuah istilah yang telah hidup ratusan tahun. Saya sudah mencoba mencari tahu sama Google arti kata Buluet, tapi ada penjelasan yang memuaskan saya. Karena tak ada penjelasan dari Om Google, saya mencoba mengingat kejadian masa lalu.

Dulu, saat masih kecil, ketika sedang belajar di ruang sekolah, kami yang masih polos, dan punya keinginan untuk tahu setiap kejadian, dikejutkan oleh sebuah penampilan menarik, yang menurut guru saya, penampilan dari ureung pungo. Kami anak kecil, saat itu percaya saja yang disampaikan oleh sang guru. Sebab, dalam pikiran kami, guru itu lebih pintar dari kami, dan mereka serba tahu—meski ada juga guru yang marah jika ada pertanyaan aneh dari murid karena tak tahu bagaimana menjawabnya. Kami tak berani membantahnya.

Penampilan aneh yang saya lihat adalah ureung pungo tersebut berlari di jalan tanpa menggunakan celana dan baju. Telanjang bulat. Tanpa malu, ureung pungo itu, menenteng-nenteng ‘alat penakluk’ ke arah guru kami yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan. “Biet-biet ureung pungo hana male,” mungkin pernyataan itu yang akan keluar, jika pemandangan itu saya lihat sekarang.

Saya jadi tahu, kalau bawaan ureung pungo memang seperti itu. Jalan ke sana kemari tak memakai pakaian, di mana setiap saat dibakar matahari, dan kalau hujan disiram oleh air yang jatuh dari langit. Mereka tak pernah berhenti atau berteduh jika kehujanan, dan membiarkan tubuhnya buluet (basah). Nasib mereka tak ubahnya seperti dalam bunyi lagu Naseb Pejuang karya Imum John, “tuboh ujuen rah, mata uroe tot”. Hanya saja, mereka dibapot di jalan-jalan Gampong, bukan di rimba.Jadi, wajar jika ureung pungo disebut juga ureung buluet. Soalnya, kehidupan mereka sudah superbebas, tak lagi terikat aturan.

Mereka layak disebut freeman, orang bebas. Ya…karena mereka tak lagi terikat dengan aturan hukum. Sebab, kepada mereka tidak wajib lagi shalat, puasa, haji, membayar zakat atau ketentuan agama lainnya. Ureung pungo sudah terputus dengan kewajiban-kewajiban agama, karena mereka sudah dianggap jasad yang masih berjalan. Jika mereka melempari orang di jalan, polisi pasti tidak akan menghukumnya, paling-paling dirujuk ke Jalan Kakap (lokasi Rumah Sakit Jiwa—RSJ).

Jika sudah dirujuk ke Jalan Kakap juga belum berubah, dan masih suka berulah yang membahayakan jiwa ureung pungo lain yang ada di Jalan Kakap, mereka akan diambil oleh keluarga untuk di-noek (dipasung).

Nah, bisa jadi istilah buluet diberikan karena ureung pungo, sering jalan ke sana kemari di jalan-jalan tanpa peduli hujan dan sengatan matahari. Mereka sering buluet, dan tak pernah berniat berteduh jika lagi hujan. (HA 030908)





Read More......

Alasan

Monday, September 1, 2008

“Hanya dengan memiliki alasan saja kita bisa hidup.” Pepatah rakitan ini yang langsung saya ingat begitu seorang teman saya yang bekerja di sebuah Koran lokal bercerita tentang wartawannya yang selalu memiliki alasan. Sang teman saya bercerita, dirinya memegang sebuah halaman daerah. Setiap malam, dia selalu ngomel, karena wartawannya terkenal paling telat mengirimkan berita. Jika deadline berita daerah jam 4 sore, maka wartawannya sampai jam 9 malam belum juga mengirimkan berita. Setiap diminta agar berita dikirim cepat, selalu memiliki alasan, macam-maca, dan ada juga yang dibuat-buat.


Tetapi, alasan-alasan dari wartawannya, jadi hiburan tersendiri bagi dia, karena bisa membuatnya tersenyum. Soalnya, setiap hari harus mengedit berita yang super hancur. Kadang-kadang merepet, sumpah serapah, kenapa wartawannya begitu bodoh. “Apa wartawan nggak pernah membaca berita yang sudah dimuat?” tanyanya suatu hari ketika sedang minum kopi, karena berita wartawannya tak pernah bagus-bagus.

Saya diam saja, dan berpikir, capek juga jadi redaktur, nggak punya waktu untuk bernafas. Belum lagi, jika benar berita yang dikirim sang wartawan begitu hancur. Bisa dibayangkan betapa pening kepala sang redaktur. “Itu kan yang kamu inginkan dulu,” jawab saya. Kini, giliran dia yang diam. Menurutnya, dia sama sekali tak membayangkan bahwa kerjanya bisa seribet seperti itu.

Kemarin dia terlihat begitu senang, saat ketemu sedang membeli makanan berbuka puasa. “Eh tau nggak,” katanya putus. “Ya…kalau kamu nggak cerita, mana saya tahu. Apa saya ini malaikat pencatat yang serba tahu,” jawab saya sekenanya. Saya bilang begitu, dia langsung cerita, bahwa si wartawannya mengirim pesan untuknya, plus beritanya. Agar tak hilang makna, saya kutip utuh. “Ass. Hari ini perjuangan saya sangat berat karena di waktu orang sedang melakukan ibadah shalat tarawih saya harus ke…[edited] untuk mengirim berita "Demi adanya berita…[edited] dan merupakan anggung jawab saya" sebab jaringan telkomnet instan dan spedy untuk…[edited] rusak. Trims”

Sang teman bercerita, pesan ini merupakan yang teraneh, yang dia terima. Pesan itu, katanya, sampai membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Padahal, lanjutnya, sebelumnya, si wartawannya cukup enjoy dengan alasan klasik, “di tempat saya mati lampu”, “di sini lagi hujan”, “internet saya macet”, dan sejumlah alasan lainnya. “Saya heran, setiap mengirim berita, dia selalu menyertakan alasannya,” kata teman saya itu. Menurutnya, baru kali ini dia tahu, ada orang yang tidak pernah tidak memiliki alasan. “Mungkin dia nggak bisa hidup kalau nggak punya alasan,” jawab saya tak lupa mengutip pepatah rakitan seperti sudah ditulis di atas, “Hanya dengan memiliki alasan saja kita bisa hidup.”

Dan, yang membuat teman saya tertawa, kiriman beritanya esoknya lagi. “Dia memang benar-benar orang aneh yang saya temui,” katanya. Coba, dia mengirim berita foto, sangat aneh dan tak biasa dengan judul, Sapi Mau ke Masjid. “Saya harus menghela nafas panjang, membacanya,” kata teman saya. Menurut wartawannya, sapi ke masjid tersebut, karena pemerintah kecamatan…(edited) tidak menerapkan tertib ternak.

Saya yang mendengarnya, tak bisa menyembunyikan senyum kecil. Gila. Tapi, saya hanya bilang ke teman saya begini: “Tak usah heran, ini kan bulan puasa. Manusia saja berbondong-bondong ke masjid untuk beribadah, dan mendapatkan kemuliaan ramadhan, serta berharap dapat Lailatul Qadar. Binatang juga perlu beribadah, dan bertaubat dari dosa-dosa binatang yang telah dilakukan,” kata saya. Binatang juga mau taubat pada bulan Ramadhan! (HA 020908)


Read More......

Sucikan Hati Selama Ramadhan

Mulai hari ini, Senin (1/9), umat Islam kembali menunaikan salah satu rukun Islam yaitu ibadah puasa Ramadhan 1429 H, sebagaimana ketetapan pemerintah dalam sidang isbat di kantor Departemen Agama (Depag), Minggu (31/8).


Penetapan ibadah puasa secara serentak mulai hari ini, hendaknya menghapus perbedaan-perbedaan tentang jadwal berpuasa yang selalu berbeda, dari tahun ke tahun, terutama antara Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU). Dengan adanya penetapan ini, umat Islam tidak terpecah-pecah dan bertengkar menyangkut perbedaan jadwal tersebut.

Dalam bulan puasa, soal perbedaan menjadi perdebatan sepanjang sejarah, terutama menyangkut jumlah rakaat Shalat Tarawih. Soal khilafiyah ini, sudah terjadi sejak dulu, di mana masing-masing pihak beranggapan, bahwa keyakinannyalah yang paling benar, dengan dukungan dalil-dalil yang ada. Seperti misalnya, ada yang berkeyakinan shalat tarawih 20 rakaat, ada juga yang berpegang pada 8 rakaat. Namun, kita berharap soal perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih ini tidak menggiring umat Islam untuk bercerai-berai.

Selain itu, dalam bulan ramadhan ini, momentum perdamaian harus tetap dijaga. Wakil Gubernur Muhammad Nazar, dalam ceramah singkatnya di Masjid Raya Baiturrahman mengajak umat Islam di Aceh untuk meningkatkan iman. Sebab dengan iman yang melekat pada diri kaum muslimim, mampu menjaga perdamaian yang dicapai dengan susah payah ini. Sehingga dengan perdamaian, kehidupan masyarakat Aceh dapat kembali tenteram.

Pesan Wagub ini harus benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sebab, selama ini, perdamaian yang dirajut di Helsinki tiga tahun silam mulai dikacaukan dengan insiden-insiden kekerasan, seperti pembunuhan, penembakan, intimidasi, dan tindakan-tindakan kriminal lainnya, yang dapat mengancam keberlangsungan perdamaian.

Momentum ramadhan ini juga hendaknya dapat menjadi media perenungan bagi kita, tentang hal-hal yang telah kita lakukan. Kita perlu mengintrospeksi diri, seraya membuka peluang bagi kita untuk menciptakan perubahan. Inilah kesempatan bagi kita untuk memperbaiki kebijakan-kebijakan yang salah sebelumnya.

Bulan ramadhan juga merupakan bulan yang mengajari kita tentang kedisiplinan. Hal itu terlihat dari jadwal berbuka puasa. Sebelum jadwal berbuka, umat Islam dengan sabar menunggu, tanpa sedikitpun tergoda untuk mendahulukan menikmati hidangan makanan. Kita berharap, pesan disiplin dipraktekkan oleh para pegawai pemerintahan, untuk masuk kantor tepat waktu. Sebab, sudah jadi kebiasaan, selama ramadhan, soal kedisiplinan sering diabaikan, dengan alasan yang dibuat-buat.

Dalam bulan Ramadhan, umat Islam tak hanya diajak untuk memperbanyak amal yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang, melainkan juga mendidik kita menahan diri. Sebab, menahan diri adalah subtansi dari ibadah puasa yang sebenarnya. Kita ingin menyarankan, agar partai bisa menahan diri tidak mengumbar-umbar spanduk, bendera, atau umbul-umbul partai di sembarang tempat. Sebab, seperti kita tahu, ada warga yang alergi melihat umbul-umbul partai, yang over-meriah. Selain itu, dalam ceramah-ceramah ramadhan, kita berharap diisi dengan pesan-pesan damai, tidak memprovokasi masyarakat. Kita harus sepakat bahwa bulan ramadhan adalah momen bagi kita mensucikan hati, seraya memperbanyak amal. (HA 010908)

Read More......